Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH ILMU DASAR KEPERAWATAN II

INTERAKSI OBAT, CARA PEMBERIAN, DAN PERHITUNGAN DOSIS

Oleh : Kelompok 3

Kelas : Reguler A 2019

Dosen Pembimbing : Dian Wahyuni, S.Kep., Ns., M.Kes

Anggota Kelompok :
ISNAINI SAHPUTRI ANNISA PUTRI CAHAYA
(04021181924013) (04021281924025)

NYAYU AFIFA TRIANA ALIEFIA ANNISA WAHID


(04021181924016) (04021281924026)

VIONA FRACELLIA CITRA RIZKY OKTARINA


(04021181924017) (04021281924028)

INDRIAS MEITA SARI ILMA ADILLA SYAHIDA


(04021181924106) (04021281924030)

ZULFAH CHAIRUNNISAH ALMUSLIMIATI R


(04021281924020) (04021281924047)

RAHMA DIANA
(04021281924021)

Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Tahun Ajaran 2019/2020

1
MAKALAH ILMU DASAR KEPERAWATAN II

INTERAKSI OBAT, CARA PEMBERIAN, DAN PERHITUNGAN DOSIS

Oleh : Kelompok 3

Kelas : Reguler A 2019

Dosen Pembimbing : Dian Wahyuni, S.Kep., Ns., M.Kes

Anggota Kelompok :
ISNAINI SAHPUTRI ANNISA PUTRI CAHAYA
(Makalah Interaksi Obat) (Makalah Cara Pemberian Obat)

NYAYU AFIFA TRIANA ALIEFIA ANNISA WAHID


(Dubbing) (Ringkasan dan Dubbing)

VIONA FRACELLIA CITRA RIZKY OKTARINA


(Powtoon Perhitungan Dosis Obat) (Powtoon Interaksi dan Cara
Pemberian Obat)
INDRIAS MEITA SARI
(Editor dan Ringkasan) ILMA ADILLA SYAHIDA
(Powtoon Interaksi dan Cara
ZULFAH CHAIRUNNISAH Pemberian Obat)
(Powtoon Perhitungan Dosis Obat)
ALMUSLIMIATI R
RAHMA DIANA (Makalah Perhitungan Dosis)
(Powtoon Perhitungan Dosisi Obat)

Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Tahun Ajaran 2019/2020

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunianya sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini sebagai tugas kompetensi kelompok. Shalawat beriring
salam selalu tercurah kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga,
sahabat, dan pengikut-pengikutnya sampai akhir zaman.

Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan di masa mendatang.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mendapat bantuan bimbingan dan saran. Pada
kesempatan ini, kami ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada :

1. Allah SWT

2. Dosen Pembimbing Ibu Dian Wahyuni, S.Kep., Ns., M.Kes

3. Teman-teman seperjuangan PSIK UNSRI,

4. Semua pihak yang telah membantu kami.

Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang diberikan kepada
semua orang yang telah mendukung kami dan semoga makalah ini bermanfaaat bagi kita dan
perkembangan ilmu pengetahuan. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT.

Indralaya, 30 Oktober 2019

Kelompok 3

i
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................................3
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................................3
1.3 Tujuan ...............................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN .........................................................................Error! Bookmark not defined.
2.1 Pengertian Obat ............................................................................Error! Bookmark not defined.
2.2 Penggolongan Obat-obatan ...........................................................Error! Bookmark not defined.
2.3 Farmakokinetik .............................................................................Error! Bookmark not defined.
2.4 Proses Farmakokinetik ..................................................................Error! Bookmark not defined.
2.5 Farmakodinamik ...........................................................................Error! Bookmark not defined.
BAB III PENUTUP.................................................................................Error! Bookmark not defined.
3.1 Kesimpulan ...................................................................................Error! Bookmark not defined.
3.2 Saran .............................................................................................Error! Bookmark not defined.
Daftar Pustaka........................................................................................Error! Bookmark not defined.

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Interaksi obat merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi respon tubuh
terhadap pengobatan. Obat dapat berinteraksi dengan makanan atau minuman, zat
kimia atau dengan obat lain. Dikatakan terjadi interaksi apabila makanan, minuman,
zat kimia, dan obat lain tersebut mengubah efek dari suatu obat yang diberikan
bersamaan atau hampir bersamaan (Ganiswara, 2000).
Beberapa obat sering diberikan secara bersamaan pada penulisan resep, maka
mungkin terdapat obat yang kerjanya berlawanan. Obat pertama dapat memperkuat
atau memperlemah, memperpanjang atau memperpendek kerja obat kedua. Interaksi
obat harus lebih diperhatikan, karena interaksi obat pada terapi obat dapat
menyebabkan kasus yang parah dan tingkat kerusakan-kerusakan pada pasien, dengan
demikian jumlah dan tingkat keparahan kasus terjadinya interaksi obat dapat
dikurangi (Mutschler, 1991).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Interaksi Obat
a. Definisi
b. Tipe Interaksi Obat
c. Mekanisme Interaksi Obat
c.1 Interaksi Farmasetik
c.2 Interaksi Farmakokinetik
c.3 Interaksi Farmakodinamik
1.2.2 Cara Pemberian
1.2.3 Perhitungan Dosis Obat

1.3 Tujuan
1. Mengetahui Definisi Interaksi Obat
2. Mengetahui Tipe Reaksi Obat
3. Mengetahui Mekanisme Interaksi Obat
4. Mengetahui Cara Pemberian Obat
5. Mengetahui Perhitungan Dosis Obat

3
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Interaksi Obat
2.1.1 Definisi
Interaksi obat merupakan efek suatu obat yang disebabkan bila dua obat atau
lebih berinteraksi dan dapat mempengaruhi respon tubuh terhadap pengobatan.
Hasilnya berupa peningkatan atau penurunan efek yang dapat mempengaruhi outcome
terapi pasien (Yasin et al., 2005)
Interaksi obat terjadi jika efek suatu obat (index drug) berubah akibat adanya
obat lain (precipitant drug), makanan, atau minuman. Interaksi obat dapat
menghasilkan efek yang memang dikehendaki (Desirable Drug Interaction), atau efek
yang tidak dikehendaki (Undesirable/Adverse Drug Interactions = ADIs) yang
lazimnya menyebabkan efek samping obat dan/atau toksisitas karena meningkatnya
kadar obat di dalam plasma, atau sebaliknya menurunnya kadar obat dalam plasma yang
menyebabkan hasil terapi menjadi tidak optimal. Sejumlah besar obat baru yang dilepas
di pasaran setiap tahunnya menyebabkan munculnya interaksi baru antar obat akan
semakin sering terjadi. (Ament PW, Bertolino JG, Liszewski JL. Clinical
pharmacology: clinically significant drug interactions. Am Fam Physician. 2000;
61:1745-54)
Menurut Tatro (2006) interaksi obat dapat terjadi minimal melibatkan 2 jenis
obat, yaitu :
a. Obat Obyek, yaitu obat yang aksinya atau efeknya dipengaruhi atau diubah
oleh obat lain.
b. Obat Presipitan, yaitu obat yang mempengaruhi atau mengubah aksi atau
efek obat lain.

2.1.2 Tipe Interaksi Obat


Menurut Hussar (2007) tipe interaksi obat-obat dibedakan menjadi 3 macam,
yaitu :
a. Duplikasi, yaitu ketika dua obat yang sama efeknya diberikan, efek samping
mungkin dapat meningkat.
b. Opposition, yaitu ketika dua obat dengan aksi berlawanan diberikan
bersamaan dapat berinteraksi, akibatnya menurunkan efektivitas obat salah
satu atau keduanya.
c. Alteration, yaitu ketika suatu obat mungkin dirubah melalui absorbsi,
distribusi, metabolisme, dan ekskresi atau eliminasi oleh obat lain.

2.1.3 Mekanisme Interaksi Obat


Berdasarkan mekanismenya, interaksi dapat dibagi menjadi interaksi secara
farmasetik (inkompatibilitas), interaksi yang melibatkan aspek farmakokinetika obat,
dan interaksi yang mempengaruhi respon farmakodinamik obat.
Beberapa interaksi obat yang dikenal merupakan kombinasi lebih dari satu
mekanisme (Fradgley, 2013)

a. Interaksi Farmasetik

4
Interaksi farmasetik atau disebut juga inkompatibilitas farmasetik
bersifat langsung dan dapat secara fisik atau kimiawi, misalnya
terjadinya presipitasi, perubahan warna, tidak terdeteksi (invisible),
yang selanjutnya menyebabkan obat menjadi tidak aktif.
Contohnya, interaksi karbenisilin dengan gentamisin terjadi inaktivasi;
fenitoin dengan larutan dextrosa 5% terjadi presipitasi; amfoterisin B
dengan larutan NaCl fisiologik, terjadi presipitasi.

b. Interaksi Farmakokinetik
Interaksi dalam proses farmakokinetik, yaitu absorpsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi (ADME) dapat meningkatkan ataupun
menurunkan kadar plasma obat. (May RJ. In : Pharmacotherapy a
pathophysiologic approach. Adverse drug reactions and interactions.
DiPiro JT, Talbert RL, Yee GC, et al. Appleton & Lange, 1997:101-16).
Interaksi obat secara farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak
dapat diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainnya meskipun masih
dalam satu kelas terapi, disebabkan karena adanya perbedaan sifat
fisikokimia, yang menghasilkan sifat farmakokinetik yang berbeda.
Contohnya, interaksi farmakokinetik oleh simetidin tidak dimiliki oleh H2-
bloker lainnya; interaksi oleh terfenadin, aztemizole tidak dimiliki oleh
antihistamin non-sedatif lainnya.
(1) Interaksi yang terjadi pada proses absorpsi gastrointestinal
Absorpsi terjadi sejak saat medikasi memasuki tubuh hingga medikasi
masuk ke dalam sirkulasi cairan tubuh (limfa dan darah). Mekanisme
interaksi yang melibatkan absorpsi gastrointestinal dapat terjadi
melalui beberapa cara:
(1) secara langsung, sebelum absorpsi;
(2) terjadi perubahan pH cairan gastrointestinal;
(3) penghambatan transport aktif gastrointestinal;
(4) adanya perubahan flora usus dan
(5) efek makanan.

1.1 Interaksi yang terjadi secara langsung sebelum obat diabsorpsi


Contohnya adalah interaksi antibiotika (tetrasiklin, fluorokuinolon)
dengan besi (Fe) dan antasida yang mengandung Al, Ca, Mg, terbentuk
senyawa chelate yang tidak larut sehingga obat antibiotika tidak
diabsorpsi. Obat-obat seperti digoksin, siklosporin, asam valproat
menjadi inaktif jika diberikan bersama adsorben (kaolin, charcoal) atau
anionic exchange resins (kolestiramin, kolestipol).

1.2 Terjadinya perubahan pH cairan gastrointestinal


Misalnya peningkatan pH karena adanya antasida, penghambat-H2,
ataupun penghambat pompa-proton akan menurunkan absorpsi basa-
basa lemah (misal, ketokonazol, itrakonazol) dan akan meningkatkan
absorpsi obat-obat asam lemah (misal, glibenklamid, glipizid,
tolbutamid). Peningkatan pH cairan gastrointestinal akan menurunkan
absorpsi antibiotika golongan selafosporin seperti sefuroksim aksetil
dan sefpodoksim proksetil.

5
1.3 Mekanisme interaksi melalui penghambatan transport aktif
gastrointestinal
Misalnya grapefruit juice, yakni suatu inhibitor protein transporter
uptake pump di saluran cerna, akan menurunkan bioavailabilitas beta-
bloker dan beberapa antihistamin (misalnya, fexofenadin) jika
diberikan bersama-sama (S. U. Mertens-Talcott, et al.
GrapefruitDrug Interactions: Can Interactions With Drugs Be
Avoided? J. Clin. Pharmacol. 2006; 46; 1390-1416). Pemberian
digoksin bersama inhibitor transporter efflux pump Pglikoprotein (a.l.
ketokonazol, amiodarone, quinidin) akan meningkatkan kadar plasma
digoksin sebesar 60-80% dan menyebabkan intoksikasi (blokade
jantung derajat-3), menurunkan ekskresinya lewat empedu, dan
menurunkan sekresinya oleh sel-sel tubulus ginjal proksimal (Leahey
EB, Reiffel JA, Drusin RE, et al. Interaction between quinidine and
digoxin JAMA 1978;240:533-4. 9).

1.4 Adanya perubahan flora usus


Misalnya akibat penggunaan antibiotika berspektrum luas yang
mensupresi flora usus dapat menyebabkan menurunnya konversi obat
menjadi komponen aktif.

1.5 Efek makanan terhadap absorpsi


Misalnya pada penurunan absorpsi penisilin, rifampisin, INH, atau
peningkatan absorpsi HCT, fenitoin, nitrofurantoin, halofantrin, albendazol,
mebendazol karena pengaruh adanya makanan. Makanan juga dapat
menurunkan metabolisme lintas pertama dari propranolol, metoprolol, dan
hidralazine sehingga bioavailabilitas obat-obat tersebut meningkat, dan
makanan berlemak meningkatkan absorpsi obat-obat yang sukar larut dalam
air seperti griseovulvin dan danazol (May RJ. In : Pharmacotherapy a
pathophysiologic approach. Adverse drug reactions and interactions.
DiPiro JT, Talbert RL, Yee GC, et al. Appleton & Lange, 1997:101-16).

(2) Interaksi yang terjadi pada proses distribusi


Distribusi terjadi ketika medikasi diabsorpsi ke dalam cairan
tubuh. Dari sini medikasi dimulai bekerja melalui system sirkulasi.
Medikasi yang diberikan melalui intravena tidak melalui proses
absorpsi dan segera terdistribusi ke tempat yang dituju.
Mekanisme interaksi yang melibatkan proses distribusi terjadi
karena pergeseran ikatan protein plasma. Interaksi obat yang
melibatkan proses distribusi akan bermakna klinik jika:
(1) obat indeks memiliki ikatan protein sebesar > 85%, volume
distribusi (Vd) obat < 0,15 I/kg dan memiliki batas keamanan
sempit;
(2) obat presipitan berikatan dengan albumin pada tempat ikatan
(finding site) yang sama dengan obat indeks, serta kadarnya cukup
tinggi untuk menempati dan menjenuhkan binding-site nya.
Contohnya, fenilbutazon dapat menggeser warfarin (ikatan
protein 99%; Vd = 0,14 I/kg) dan tolbutamid (ikatan protein 96%,
Vd = 0,12 I/kg) sehingga kadar plasma warfarin dan tolbutamid

6
bebas meningkat. Selain itu, fenilbutazon juga menghambat
metabolisme warfarin dan tolbutamid.

(3) Interaksi yang terjadi pada proses metabolisme obat


Metabolisme merupakan proses di mana medikasi dinonaktifkan.
Liver merupakan tempat utama untuk metabolisme sehingga seseorang
yang menderita penyakit liver akan diberikan dosis medikasi lebih kecil.
Kebanyakan obat diinaktifkan oleh enzim-enzim hati dan kemudian
diubah atau ditransformasikan oleh enzim-enzim hati menjadi metabolit
inaktif atau zat yang larut dalam air untuk diekskresikan. Tetapi, beberapa
obat ditransformasikan menjadi metabolit aktif, menyebabkan
peningkatan respons farmakologik.
Mekanisme interaksi dapat berupa;
(1) penghambatan (inhibisi) metabolisme,
(2) induksi metabolisme, dan
(3) perubahan aliran darah hepatik.

3.1 Hambatan ataupun induksi enzim pada proses metabolisme obat


Berlaku terhadap obat-obat atau zat-zat yang merupakan substrat
enzim mikrosom hati sitokrom P450 (CYP). Beberapa isoenzim CYP
yang penting dalam metabolisme obat, antara lain: CYP2D6 yang
dikenal juga sebagai debrisoquin hidroksilase dan merupakan isoenzim
CYP pertama yang diketahui, aktivitasnya dihambat oleh obat-obat
seperti kuinidin, paroxetine, terbinafine; CYP3A yang memetabolisme
lebih dari 50% obat-obat yang banyak digunakan dan terdapat selain di
hati juga di usus halus dan ginjal, antara lain dihambat oleh ketokonazol,
itrakonazol, eritromisin, klaritromisin, diltiazem, nefazodon; CYP1A2
merupakan ezim pemetabolis penting di hati untuk teofilin, kofein,
klozapin dan R-warfarin, dihambat oleh obat-obat seperti siprofloksasin,
fluvoksamin.
Interaksi inhibitor CYP dengan substratnya akan menyebabkan
peningkatan kadar plasma atau peningkatan bioavailabilitas sehingga
memungkinkan aktivitas substrat meningkat sampai terjadinya efek
samping yang tidak dikehendaki.

(4) Interaksi yang terjadi pada proses ekskresi obat


Eliminasi merupakan cara bagaimana tubuh mengeluarkan gkat
eliminasi obat dari tubuh dapat berpengaruh pada seberapa sering
medikasi diberikan.Jumlah waktu untuk eliminasi 50% medikasi
dari tubuh disebut paruh hidupmedikasi.Rute utama dari eliminasi
obat adalah melalui ginjal, rute-rute lain meliputi empedu, feses,
paru-paru, saliva, keringat, dan air susu ibu.
Mekanisme interaksi obat dapat terjadi pada proses ekskresi
melalui empedu dan pada sirkulasi enterohepatik, sekresi tubuli
ginjal, dan karena terjadinya perubahan pH urin.

4.1 Gangguan dalam ekskresi melalui empedu


Terjadi akibat kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk ort
yang sama, contohnya kuinidin menurunkan ekskresi empedu digoksin,
probenesid menurunkan ekskresi empedu rifampisin. Obat-obat tersebut
memiliki sistem transporter protein yang sama, yaitu Pglikoprotein

7
(Suardi, M., Raveinal., L. O. Sari., Lailaturrahmi. 2017. Tinjauan
Akumulasi Seftriakson Pada Pasien Gangguan Fungsi Ginjal
Stadium Tiga. Jurnal Ipteks Terapan. 11(1): 43-54)
Obat-obat yang menghambat Pglikoprotein di intestin akan
meningkatkan bioavailabilitas substrat P-glikoprotein, sedangkan
hambatan β-glikoprotein di ginjal dapat menurunkan ekskresi ginjal
substrat. Contoh, itrakonazol, suatu inhibitor β-glikoprotein di ginjal,
akan menurunkan klirens ginjal digoksin (substrat β-glikoprotein) jika
diberikan bersama-sama, sehingga kadar plasma digoksin akan
meningkat (Bijie, Kulpradist, Manalaysay, Soebandrio. 2005. In
Vitro Activity, Pharmacokinetics, Clinical Efficacy, Safety and
Pharmacoeconomics of American Journal of Geriatric
Pharmacotherapy. 6(1): 33-36)

4.2 Sirkulasi enterohepatik


Dapat diputus-kan atau diganggu dengan mengikat obat yang u
dengan mensupresi flora usus yang menghidrolisis konjugat obat,
sehingga obat tidak dapat direabsorpsi. Contoh: kolestiramin,- suatu
binding agents-, akan mengikat parent drug (misalnya warfarin,
digoksin) sehingga reabsorpsinya terhambat dan klirens meningkat.
Antibiotik berspektrum luas (misalnya rifampisin, neomisin) yang
mensupresi flora usus dapat mengganggu sirkulasi enterohepatik
metabolit konjugat obat (misalnya kontrasepsi oral/hormonal) sehingga
konjugat tidak dapat dihidrolisis dan reabsorpsinya terhambat dan
berakibat efek kontrasepsi menurun.

4.3 Penghambatan sekresi di tubuli ginjal


Terjadi akibat kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk sistem
transport yang sama, terutama sistem transport untuk obat bersifat asam
dan metabolit yang juga bersifat asam. Contoh: fenilbutazon dan
indometasin menghambat sekresi ke tubuli ginjal obat-obat diuretik
tiazid dan furosemid, sehingga efek diuretiknya menurun; salisilat
menghambat sekresi probenesid ke tubuli ginjal sehingga efek
probenesid sebagai urikosurik menurun.

4.4 Perubahan pH urin


Akibat interaksi obat akan menghasilkan perubahan klirens ginjal
melalui perubahan jumlah reabsorpsi pasif di tubuli ginjal. Interaksi ini
akan bermakna klinik jika: (1) fraksi obat yang diekskresi utuh oleh
ginjal cukup besar (> 30%), dan (2) obat berupa basa lemah dengan pKa
7,5-10 atau asam lemah dengan pKa 3,0 - 7,5. Beberapa contoh antara
lain: obat bersifat basa lemah (amfetamin, efedrin, fenfluramin,
kuinidin) dengan obat yang mengasamkan urin (NH4C1)) menyebabkan
klirens ginjal obat-obat pertama meningkat sehingga efeknya menurun;
obat-obat bersifat asam (salisilat, fenobarbital) dengan obat-obat yang
membasakan urin seperti antasida (mengandung NaHCO3, A1(OH)3,
Mg(OH)2), akan meningkatkan klirens obat-obat pertama, sehingga
efeknya menurun.

8
c. Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat yang bekerja pada
sistem reseptor, tempat kerja atau sistem fisiologik yang sama sehingga
terjadi efek yang aditif, sinergistik, atau antagonistik, tanpa ada perubahan
kadar plasma ataupun profil farmakokinetik lainnya. Interaksi
farmakodinamik umumnya dapat diekstrapolasikan ke obat lain yang
segolongan dengan obat yang berinteraksi, karena klasifikasi obat adalah
berdasarkan efek farmakodinamiknya. Selain itu, umumnya kejadian
interaksi farmakodinamik dapat diramalkan sehingga dapat dihindari
sebelumnya jika diketahui mekanisme kerja obat (Lane, M. A., A.
Zeringue., and J. R McDonald. 2014. Serious Bleeding Events Due To
Warfarin and Antibiotic Co-prescription In A Cohort of Veterans. The
American Journal of Medicine. 127(7): 657-663)
Contoh interaksi obat pada reseptor yang bersifat antagonistik misalnya:
interaksi antara β-bloker dengan agonis-β2 pada penderita asma; interaksi
antara penghambat reseptor dopamin (haloperidol, metoclo-pramid) dengan
levodopa pada pasien parkinson. Beberapa contoh interaksi obat secara
fisiologik serta dampaknya antara lain sebagai berikut: interaksi antara
aminogliko-sida dengan furosemid akan meningkatkan risiko ototoksik dan
nefrotoksik dari aminoglikosida; β-bloker dengan verapamil menimbulkan
gagal jantung, blok AV, dan bradikardi berat; benzodiazepin dengan etanol
meningkatkan depresi susunan saraf pusat (SSP); kombinasi obat-obat
trombolitik, antikoagulan dan anti platelet menyebabkan perdarahan.
Penggunaan diuretik kuat (misal furosemid) yang menyebabkan
perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit seperti hipokalemia, dapat
meningkatkan toksisitas digitalis jika diberikan bersama-sama. Pemberian
furosemid bersama relaksan otot (misal, d-tubokurarin) menyebabkan
paralisis berkepanjangan. Sebaliknya, penggunaan diuretik hemat kalium
(spironolakton, amilorid) bersama dengan penghambat ACE (kaptopril)
menyebabkan hiperkalemia. Kombinasi anti hipertensi dengan obat-obat
anti inflamasi nonsteroid (NSAID) yang menyebabkan retensi garam dan
air, terutama pada penggunaan jangka lama, dapat menurunkan efek
antihipertensi.

Menurut Stockley et al (2003) kemungkinan efek yang dapat terjadi


pada interaksi farmakodinamik antara lain :
(1) Sirnegisme atau penambahan efek satu atau lebih obat.
(2) Efek antagonisme satu atau lebih obat.
(3) Penggantian efek satu atau lebih obat.

Interaksi obat yang umum terjadi adalah sirnegisme antara dua obat
pada sistem, organ, sel, atau enzim yang sama dengan efek farmakologi
yang sama. Sebaliknya antagonisme terjadi bila obat yang berinteraksi
memiliki efek farmakologi yang berlawanan. Hal ini mengakibatkan
pengurangan hasil yang diinginkan dari satu atau lebih obat (Fradgley,
2003)

2.2 Cara Pemberian

9
Keseluruhan proses atau kejadian yang dialami molekul obat mulai saat masuknya obat
ke dalam tubuh sampai keluarnya obat tersebut dari dalam tubuh, disebut proses
farmakokinetik.Jadi melalui berbagai tempat pemberian obat, misalnya pemberian obat
melalui alat cerna atau diminum (peroral), otot-otot rangka (intramuskuler), kulit (topikal),
paru-paru (inhalasi), molekul obat masuk ke dalam cairan intra vaskuler setelah melalui
beberapa dinding (barrier) dan disebarkan ke seluruh tubuh serta mengalami beberapa proses.
Pada umumnya obat baru dikeluarkan (ekskresi) dari dalam tubuh setelah mengalami
biotransformasi di hepar. Ekskresi obat dapat melalui beberapa tempat, antara lain ginjal
(urin) dan kulit (keringat).

Proses kerja obat yang dibahas dalam bidang Farmakokinetik ini secara berurutan adalah
absorpsi, distribusi, metabolism, dan ekskresi. Keterangan untuk masing-masing proses
tersebut akan diterangkan sebagai berikut:

1. Absorbsi

Rute Pemberian Obat Sebelum membahas lebih jauh tentang absorbsi obat, akan dibahas
tentang rute pemberian obat, yang terkait dengan cara masuknya obat ke dalam tubuh. Rute
pemberian obat terutama ditentukan oleh sifat dan tujuan dari penggunaan obat sehingga
dapat memberikan efek terapi yang tepat. Terdapat 2 rute pemberian obat yang utama, enteral
dan parenteral.

a. Enteral
Enteral adalah rute pemberian obat yang nantinya akan melalui saluran cerna.
1) Oral: memberikan suatu obat melalui mulut adalah cara pemberian obat yang
paling umum tetapi paling bervariasidan memerlukan jalan yang paling rumit
untuk mencapai jaringan. Beberapa obat diabsorbsi di lambung; namun, duodenum
sering merupakan jalan masuk utama ke sirkulasi sistemik karena permukaan
absorbsinya yang lebih besar. Kebanyakan obat diabsorbsi dari saluran cerna dan
masuk ke hati sebelum disebarkan ke sirkulasi umum. Metabolisme langakah
pertama oleh usus atau hati membatasi efikasi banyak obat ketika diminum per
oral. Minum obat bersamaan dengan makanan dapat mempengaruhi absorbsi.
Keberadaan makanan dalam lambung memperlambat waktu pengosongan
lambung sehingga obat yang tidak tahan asam, misalnyapenisilin menjadi rusak
atau tidak diabsorbsi. Oleh karena itu, penisilin atau obat yang tidak tahan asam
lainnya dapat dibuat sebagai salut enterik yang dapat melindungi obat dari

10
lingkungan asam dan bisa mencegah iritasi lambung. Hal ini tergantung pada
formulasi, pelepasan obat bisa diperpanjang, sehingga menghasilkan preparat
lepas lambat.

2) Sublingual: penempatan di bawah lidah memungkinkan obat tersebut berdifusi


kedalam anyaman kapiler dan karena itu secara langsung masuk ke dalam sirkulasi
sistemik. Pemberian suatu obat dengan rute ini mempunyai keuntungan obat
melakukan bypass melewati usus dan hati dan obat tidak diinaktivasi oleh
metabolisme.

3) Rektal: 50% aliran darah dari bagian rektum memintas sirkulasi portal; jadi,
biotransformasi obat oleh hati dikurangi. Rute sublingual dan rektal mempunyai
keuntungan tambahan, yaitu mencegah penghancuran obat oleh enzim usus atau
pH rendah di dalam lambung. Rute rektal tersebut juga berguna jika obat
menginduksi muntah ketika diberikan secara oral atau jika penderita sering
muntah-muntah. Bentuk sediaan obat untuk pemberian rektal umumnya adalah
suppositoria dan ovula.

b. Parenteral

11
Penggunaan parenteral digunakan untuk obat yang absorbsinya buruk melalui
saluran cerna, dan untuk obat seperti insulin yang tidak stabil dalam saluran cerna.
Pemberian parenteral juga digunakan untuk pengobatan pasien yang tidak sadar
dan dalam keadaan yang memerlukan kerja obat yang cepat. Pemberian parenteral
memberikan kontrol paling baik terhadap dosis yang sesungguhnya dimasukkan
kedalam tubuh.

1) Intravena (IV): suntikan intravena adalah cara pemberian obat parenteral yan
sering dilakukan. Untuk obat yang tidak diabsorbsi secara oral, sering tidak ada
pilihan. Dengan pemberian IV, obat menghindari saluran cerna dan oleh karena
itu menghindari metabolisme first pass oleh hati. Rute ini memberikan suatu
efek yang cepat dan kontrol yang baik sekali atas kadar obat dalam sirkulasi.
Namun, berbeda dari obat yang terdapat dalam saluran cerna, obat-obat yang
disuntukkan tidak dapat diambil kembali seperti emesis atau pengikatan
dengan activated charcoal. Suntikan intravena beberapa obat dapat
memasukkan bakteri melalui kontaminasi, menyebabkan reaksi yang tidak
diinginkan karena pemberian terlalu cepat obat konsentrasi tinggi ke dalam
plasma dan jaringan-jaringan. Oleh karena it, kecepatan infus harus dikontrol
dengan hati-hati. Perhatiab yang sama juga harus berlaku untuk obat-obat yang
disuntikkan secara intra-arteri.
2) 1) Intravena (IV): suntikan intravena adalah cara pemberian obat parenteral
yan sering dilakukan. Untuk obat yang tidak diabsorbsi secara oral, sering tidak
ada pilihan. Dengan pemberian IV, obat menghindari saluran cerna dan oleh
karena itu menghindari metabolisme first pass oleh hati. Rute ini memberikan
suatu efek yang cepat dan kontrol yang baik sekali atas kadar obat dalam
sirkulasi. Namun, berbeda dari obat yang terdapat dalam saluran cerna, obat-
obat yang disuntukkan tidak dapat diambil kembali seperti emesis atau
pengikatan dengan activated charcoal. Suntikan intravena beberapa obat dapat
memasukkan bakteri melalui kontaminasi, menyebabkan reaksi yang tidak
diinginkan karena pemberian terlalu cepat obat konsentrasi tinggi ke dalam
plasma dan jaringan-jaringan. Oleh karena it, kecepatan infus harus dikontrol
dengan hati-hati. Perhatiab yang sama juga harus berlaku untuk obat-obat yang
disuntikkan secara intra-arteri.
3) Subkutan: suntukan subkutan mengurangi resiko yang berhubungan dengan
suntikan intravaskular. Contohnya pada sejumlah kecil epinefrinkadang-
kadang dikombinasikan dengan suatu obat untuk membatasi area kerjanya.
Epinefrin bekerja sebagai vasokonstriktor lokal dan mengurangi
pembuanganobat seperti lidokain, dari tempat pemberian. Contoh-contoh lain
pemberian obat subkutan meliputi bahan-bahan padat seperti kapsul silastik
yang berisikan kontrasepsi levonergestrel yang diimplantasi unutk jangka yang
sangat panjang.

12
c.Lain-lain

1).Inhalasi: inhalasi memberikan pengiriman obat yang cepat melewati


permukaan luas dari saluran nafas dan epitel paru-paru, yang menghasilkan efek
hampir sama dengan efek yang dihasilkan oleh pemberian obat secara intravena.
Rute ini efektif dan menyenangkan penderita-penderita dengan keluhan
pernafasan seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis karena obat
diberikan langsung ke tempat kerja dan efek samping sistemis minimal.

2). Intranasal: Desmopressin diberikan secara intranasal pada pengobatan


diabetes insipidus; kalsitonin insipidus; kalsitonin salmon, suatu hormon peptida
yang digunakan dalam pengobtana osteoporosis, tersedia dalam bentuk semprot
hidung obat narkotik kokain, biasanya digunakan dengan cara mengisap.

13
3). Intratekal/intraventrikular: Kadang-kadang perlu untuk memberikan obat-obat
secara langsung ke dalam cairan serebrospinal, seperti metotreksat pada leukemia
limfostik akut.

4). Topikal: Pemberian secara topikal digunakan bila suatu efek lokal obat
diinginkan untuk pengobatan. Misalnya, klortrimazol diberikan dalam bentuk
krem secara langsung pada kulit dalam pengobatan dermatofitosis dan atropin
atropin diteteskan langsung ke dalam mata untuk mendilatasi pupil dan
memudahkan pengukuran kelainan refraksi.

5). Transdermal: Rute pemberian ini mencapai efek sistemik dengan pemakaian
obat pada kulit, biasanya melalui suatu “transdermal patch”. Kecepatan absorbsi
sangat bervariasi tergantun pada sifat-sifat fisik kulit pada tempat pemberian.
Cara pemberian obat ini paling sering digunakan untuk pengiriman obat secara
lambat, seperti obat antiangina,nitrogliserin.

Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah.
Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna (mulut
sampai rektum), kulit, paru, otot, dan lain-lain. Palingpenting untuk diperhatikan adalah
cara pemberian obat per oral, dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus halus
karena memiliki permukaan absorpsi yang sangat luas, yakni 200 meter persegi (panjang
280 cm, diameter 4 cm, disertai dengan vili dan mikrovili ) (Gunawan, 2009).

Absorpsi obat meliputi proses obat dari saat dimasukkan ke dalam tubuh, melalui
jalurnya hingga masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Pada level seluler, obat diabsorpsi
melalui beberapa metode, terutama transport aktif dan transport pasif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi absorsi obat adalah sebagai berikut.

a. Metode absorpsi
 Transport pasif.
Transport pasif tidak memerlukan energi, sebab hanya dengan proses difusi obat
dapat berpindah dari daerah dengan kadar konsentrasi tinggi ke daerah dengan
konsentrasi rendah. Transport pasif dapat terjadi selama molekulmolekul kecil
dapat berdifusi sepanjang membran dan berhenti bila konsentrasi pada kedua sisi
membran seimbang.
 Transport Aktif.

14
Transport aktif membutuhkan energi untuk menggerakkan obat dari daerah
dengan konsentrasi obat rendah ke daerah dengan konsentrasi obat tinggi.
b. Kecepatan Absorpsi.
Apabila pembatas antara obat aktif dan sirkulasi sistemik hanya sedikit sel, maka
absorpsi terjadi cepat dan obat segera mencapai level pengobatan dalam tubuh.
Waktu untuk berbagai cara absorpsi obat adalah:
 Detik s/d menit: IV, inhalasi
 Lebih lambat: oral, IM, topical kulit, lapisan intestinal, otot
 Lambat sekali, berjam-jam/berhari-hari: per rektal/sustained release.
c. Faktor yang mempengaruhi penyerapan obat adalah:
 Aliran darah ke tempat absorpsi
 Total luas permukaan yang tersedia sebagai tempat absorpsi
 Waktu kontak permukaan absorpsi
d. Kecepatan Absorpsi dapat:
 diperlambat oleh nyeri dan stress, nyeri dan stress mengurangi aliran darah,
mengurangi pergerakan saluran cerna, retensi gaster;
 makanan tinggi lemak, makanan tinggi lemak dan padat akan menghambat
pengosongan lambung dan memperlambat waktu absorpsi obat;
 faktor bentuk obat, absorpsi dipengaruhi formulasi obat seperti tablet, kapsul,
cairan, sustained release, dan lain-lain; dan
 kombinasi dengan obat lain, interaksi satu obat dengan obat lain dapat
meningkatkan atau memperlambat absorpsi tergantung jenis obat.

Obat yang diserap oleh usus halus ditransport ke hepar sebelum beredar ke seluruh
tubuh. Hepar memetabolisme banyak obat sebelum masuk ke sirkulasi. Hal ini yang disebut
dengan efek first-pass. Metabolisme hepar dapat menyebabkan obat menjadi inaktif
sehingga menurunkan jumlah obat yang sampai ke sirkulasi sistemik, jadi dosis obat yang
diberikan harus banyak.

2. Distribusi
Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke jaringan
dan cairan tubuh.Distribusi obat yang telah diabsorpsi tergantung beberapa faktor
yaitu:
a) Aliran darah. Setelah obat sampai ke aliran darah, segera terdistribusi ke organ
berdasarkan jumlah aliran darah. Organ dengan aliran darah terbesar adalah
jantung, hepar, dan ginjal. Sedangkan distribusi ke organ lain seperti kulit, lemak,
dan otot lebih lambat
b) Permeabilitas kapiler. Distribusi obat tergantung pada struktur kapiler dan
struktur obat.
c) Ikatan protein. Obat yang beredar di seluruh tubuh dan berkontak dengan
protein dapat terikat atau bebas. Obat yang terikat protein tidak aktif dan tidak dapat
bekerja. Hanya obat bebas yang dapat memberikan efek. Obat dikatakan berikatan
protein tinggi bila >80% obat terikat protein

15
3. Metabolisme

Metabolisme atau biotransformasi obat adalah proses tubuh mengubah komposisi obat
sehingga menjadi lebih larut air untuk dapat dibuang keluar tubuh. Obat dapat
dimetabolisme melalui beberapa cara yaitu: a) menjadi metabolit inaktif kemudian
diekskresikan; dan menjadi metabolit aktif, memiliki kerja farmakologi tersendiri dan
bisadimetabolisme lanjutan.

Beberapa obat diberikan dalam bentuk tidak aktif kemudian setelah dimetabolisme baru
menjadi aktif (prodrugs).Metabolisme obat terutama terjadi di hati, yakni di membran
endoplasmic reticulum (mikrosom) dan di cytosol.

Tempat metabolisme yang lain (ekstrahepatik) adalah: dinding usus, ginjal, paru, darah,
otak, dan kulit, juga di lumen kolon (oleh flora usus). Tujuan metabolisme obat adalah
mengubah obat yang nonpolar (larut lemak) menjadi polar (larut air) agar dapat diekskresi
melalui ginjal atau empedu. Dengan perubahan ini obat aktif umunya diubah menjadi
inaktif, tapi sebagian dapat berubah menjadi lebih aktif, kurang aktif, atau menjadi toksik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme adalah sebagai berikut.

a) Kondisi Khusus. Beberapa penyakit tertentu dapat mengurangi metabolisme,


antara lain penyakit hepar seperti sirosis.

b) Pengaruh Gen. Perbedaan gen individual menyebabkan beberapa orang dapat


memetabolisme obat dengan cepat, sementara yang lain lambat.

c) Pengaruh Lingkungan. Lingkungan juga dapat mempengaruhi metabolisme,


contohnya: rokok, keadaan stress, penyakit lama, operasi, dan cedera

d) Usia.Perubahan umur dapat mempengaruhi metabolisme, yaitu usiabayi


versus dewasa versus orang tua.

4.ekskresi

Ekskresi obat artinya eliminasi atau pembuangan obat dari tubuh. Sebagian besar obat
dibuang dari tubuh oleh ginjal dan melalui urin. Obat jugadapat dibuang melalui paru-
paru, eksokrin (keringat, ludah, payudara), kulit dan traktusintestinal. Organ terpenting
untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh
maupun bentuk metabolitnya. Ekskresi dalam bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan
cara eliminasi obat melalui ginjal. Ekskresi melalui ginjal melibatkan 3 (tiga) proses,
yakni filtrasi glomerulus, sekresi aktif di tubulus, dan reabsorpsi pasif di sepanjang
tubulus. Fungsi ginjal mengalami kematangan pada usia 6-12 bulan, dan setelah dewasa
menurun 1% per tahun. Organ ke dua yang berperan penting, setelah ginjal, untuk
ekskresi obat adalah melalui empedu ke dalam usus dan keluar bersama feses. Ekskresi
melalui paru terutama untuk eliminasi gas anastetik umum (Gunawan, 2009).

Hal-hal lain terkait Farmakokinetik adalah sebagai berikut.

16
a. Waktu Paruh. Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan sehingga setengah
dari obat dibuang dari tubuh. Faktor yang mempengaruhi waktu paruh adalah absorpsi,
metabolism dan ekskresi.Waktu paruh penting diketahui untuk menetapkan berapa sering
obat harus diberikan.

b. Onset, puncak, dan durasi kerja obat. Onset adalah waktu dari saat obat
diberikan hingga obat terasa kerjanya. Waktu onset ini sangat tergantung pada rute
pemberian dan farmakokinetik obat. Puncak, adalah waktu di mana obat mencapai
konsentrasi tertinggi dalam plasma. Setelah tubuh menyerap semakin banyak obat maka
konsentrasinya di dalam tubuh semakin meningkat sehingga mencapai konsentrasi
puncak respon. Durasikerjaobat adalah lama waktu obat menghasilkan suatu efek terapi
atau efek farmakologis.

c.Trough. konsentrasi minimal obat dalam serum darah yang di capai sebelum
pemberian obat berikutnya

d. PLateu. Konsentrasi obat dalam serum darah yang di capai dan di pertahankan
setelah pemberian obat beberapa kali.

Sumber:

noviani, nita dan fitri nurilawati .2017.Farmakologi.Jakarta.pusat pendidikan sumber


daya manusia kesehatan.

2.3 Perhitungan Dosis

A. Pengertian.
Dosis obat adalah jumlah obat yang diberikan kepada penderita dalam satuan
berat (gram, milli gram, mikrogram) atau satuan isi (liter, mililiter) atau unit-unit
lainnya (unit internasional). Kecuali bila dinyatakan lain maka yang dimaksud
dengan dosis obat yaitu sejumlah obat yang memberikan efek terapeutik pada
penderita dewasa, juga disebut dosis lazim atau dosis medicinalis atau dosis
terapeutik. Bila dosis obat yang diberikan melebihi dosis terapeutik terutama obat
yang tergolong racun ada kemungkinan terjadi keracunan, dinyatakan sebagai dosis
toksik. Dosis toksik ini dapat sampai mengakibatkan kematian disebut sebagai dosis
letal.
Obat-obat tertentu memerlukan dosis permulaan (inisial dose) atau dosis awal
(loading dose) yang lebih tinggi dari dosis pemeliharaan (maintenance dose).
Dengan memberikan dosis permulaan yang lebih tinggi dari dosis pemeliharaan
(misalnya dua kali), kadar obat yang dikehendaki dalam darah dapat dicapai lebih
awal. Hal ini dilakukan antara lain pada pemberian oral preparat sulfa (sulfasoxasol,
Trisulfa pyrimidin), diberikan dosis permulaan 2 gram dan diikuti dengan dosis
pemeliharaan 1 gram tiap 6 jam waktu berikutnya.
B. Macam- macam dosis obat.

17
a. Dosis Terapi adalah dosis yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat
menyembuhkan orang sakit.
b. Dosis Maksimum adalah batas dosis yang relatif masih aman yang diberikan
kepada penderita. Dosis terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk
pemakaian sekali dan sehari .
c. Dosis Toksik adalah dosis yang diberikan melebihi dosis terapeutik, sehingga
dapat menyebabkan terjadinya keracunan obat
d. Dosis Letal (Lethal dose)adalah dosis atau jumlah obat yang dapat mematikan
bila dikonsumsi. Bila mencapai dosis ini orang yang mengkonsumsi akan
mengalami kelebihan dosis (Over dose)
e. Initial Dose adalah dosis permulaan yang diberikan pada penderita dengan
konsentrasi/kadar obat dalam darah dapat dicapai lebih awal.
f. Loading Dose adalah dosis obat untuk memulai terapi, sehingga dapat mencapai
konsentrasi terapeutik dalam cairan tubuh yang menghasilkan efek klinis.
g. Maintenance Dose adalah dosis obat yang diperlukan untuk memelihara dan
mempertahankan efek klinik atau konsentrasi terapeutik obat yang sesuai dengan
regimen dosis. Diberikan dalam tiap obat untuk menggantikan jumlah obat yang
dieliminasi dari dosis sebelumnya. Penghitungan dosis pemeliharaan yang tepat
dapat mempertahankan suatu keadaan stabil konsentrasi obat di dalam tubuh.

C. Cara perhitungan dosis obat


a. Dosis Maksimum. Kecuali dinyatakan lain, dosis maksimum adalah dosis
maksimum dewasa (20-60 tahun) untuk pemakaian melalui mulut, injeksi sub
kutan dan rektal. Untuk orang lanjut usia karena keadaan fisik sudah mulai
menurun, pemberian dosis obat harus lebih kecil dari dosis maksimum.
b. Dosis maksimum gabungan ( DM sinergis ) Jika dalam satu resep terdapat dua
atau lebih zat aktif (bahan obat) yang kerjanya pada reseptor atau tempat yang
sama maka jumlah obat yang digunakan tidak boleh melampaui jumlah dosis
obat-obat yang berefek sama tersebut, baik sekali pemakaian ataupun dalam
pemberian dosis harian. Contoh obat yang memiliki efek yang sama - Atropin
sulfat dengan ekstrak belladoina - Pulvis opii dengan pulvis overi - Kofein dan
aminofilin - Arsen trioxida dan Natrii arsenas.

Sumber :

Arjana, Ketut Budiasa Anak Agung Gede. Menentukan Dosis Obat Dan Cara
Pemberiannya.Fakultas Kedokteran Hewan.Universitas Udayana. Diambil Dari
Https://Repositori.Unud.Ac.Id/Protected/Storage/Upload/Repositori/73e4067fb2da48
9fbf2677adcc3f9701.Pdf

Cara menghitung dosis obat

Perawat dapat menggunakan rumus sederhana dalam banyak tipe kalkulasi


dosis.(umus berikut dapat digunakan ketika pera)at mempersiapkan obat dalam
benuk padat atau cair

18
𝒅𝒐𝒔𝒊𝒔 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊 𝒃𝒖𝒕𝒖𝒉𝒌𝒂𝒏
x jumlah yang tersedia=jumlah yang akan di berikan
𝒅𝒐𝒔𝒊𝒔 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒔𝒆𝒅𝒊𝒂

Sumber :

Potter J Perry.2009. Fundamental Keperawatan Edisi 7. Jakarta:Salemba Medika.

Dosis obat haruslah tepat dengan tingkat keparahan serta kondisi pasien, jika dosis
berlebihan efek yang ditimbulkan obat akan berubah menjadi efek toksik, sedangkan jika
dosis terlalu kecil, obat tidak akan efektif. Oleh karena itu, perhitungan dosis harus
didasari dengan pertimbangan usia, berat badan, dan lain-lain. Berikut ini adalah
pengelompokan perhitungan dosis obat berdasarkan usia.

Dosis untuk anak diperhitungkan dari dosis orang dewasa (DD) dengan
menggunakan rumus-rumus sebagai berikut.

1) Rumus fried untuk anak <2 tahun:


𝑼𝑴𝑼𝑹 𝑨𝑵𝑨𝑲 𝑫𝑨𝑳𝑨𝑴 𝑩𝑼𝑳𝑨𝑵
Dosis anak (DA)= X DD
𝟏𝟓𝟎

2) Rumus Young untuk Anak < 12 tahun:


𝑼𝑴𝑼𝑹 𝑨𝑵𝑨𝑲 𝑫𝑨𝑳𝑨𝑴 𝑻𝑨𝑯𝑼𝑵 ( 𝒏)
Dosis anak (DA)= X DD
𝒏+𝟏𝟐

3) Rumus Dilling untuk anak < 15 tahun


𝑼𝑴𝑼𝑹 𝑨𝑵𝑨𝑲 𝑫𝑨𝑳𝑨𝑴 𝑻𝑨𝑯𝑼𝑵 ( 𝒏)
Dosis anak (DA)= X DD
𝟐𝟎

4) Rumus Clark untuk anak > 2 tahun


𝑩𝑬𝑹𝑨𝑻 𝑫𝑨𝑳𝑨𝑴 𝑼𝑲𝑼𝑹𝑨𝑵 𝑷𝑶𝑼𝑵𝑫
Dosis anak (DA)= X DD
𝟏𝟓𝟎

Selain itu perhitungan dosis anak dapat dihitung dengan menggunakan luas permukaan
tubuh dan kalkulator BSA

LUAS PERMUKAAN TUBUH

𝑳𝑼𝑨𝑺 𝑷𝑬𝑹𝑴𝑼𝑲𝑨𝑨𝑵 𝑻𝑼𝑩𝑼𝑯 ( 𝑴𝟐 )


DOSIS ANAK = X DOSIS ORANG DEWASA
𝟏,𝟕 𝑴𝟐

Luas permukaan tubuh didapatkan dari rumus :

ℎ𝑒𝑖𝑔ℎ𝑡 ( 𝑐𝑚 )𝑥 𝑤𝑒𝑖𝑔ℎ𝑡 ( 𝑘𝑔 )
𝑚2 = √ X DOSIS ORANG DEWASA
3600

Atau didapatkan dari monogram BSA (Body Surface Area), yaitu perpotongan
daritinggi (cm) dan berat badan (kg ).

19
Perhitungan dosis untuk lansia. Pasien lansia atau lanjut usia adalah pasien dengan
usia di atas 65 tahun. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika
memperhitungkan dosis obat untuk lansia antara lain adalah:
1) Tingkat sensitifitas tubuh dan organ pada lansia lebih meningkat daripada
pasien usia dewasa. Hal ini terjadi dikarenakan menurunnya kualitas dan fungsi
sirkulasi darah pada pasien dengan usia lanjut
2) Menurunnya jumlah albumin dalam darah.
3) Menurunnya fungsi hati dan ginjal sehingga sisa obat yang bersifat toksis tidak
bisa disaring dengan baik oleh ginjal dan hati.
4) Kecepatan eliminasi obat menurun, sehingga memungkinkan residu obat
terendap di tubuh.
5) Penggunaan banyak obat dapat menyebabkan interaksi obat.
6) Pada umumnya lansia memiliki berbagai penyakit.

Contoh kasus adalah jika seorang lansia diberikan obat yang mengandung
antikoagulan dan obat encok yang mengandung fenilbutazon, orang tersebut dapat
mengalami keracunan karena albumin pada darah lansia jumlahnya sedikit. Sedikitnya
albumin menyebabkan sulitnya protein mengikat obat sehingga obat bebas tersebar
dalam darah. Hati dan ginjal pada lansia mengalami penurunan fungsi sehingga tidak

20
dapat memfilter darah dengan baik. Pada akhirnya obat terendap menyebabkan
keracunan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa dosis untuk orang dengan usia
lanjut (lansia) akan lebih kecil jika dibandingkan orang dengan usia dewasa biasa.
1) Orang dengan usia 65-74 tahun akan mendapatkan dosis 90% dosis biasa
2) Orang dengan usia 75-84 tahun akan mendapatkan dosis 80% dosis biasa
3) Orang dengan usia 85 tahun keatas akan mendapatkan dosis obat 70% dari dosis
biasanya.

Selain penurunan dosis obat dapat juga dilakukan pemberian obat yang hanya
betulbetul diperlukan. Dapat juga digunakan efek plasebo, sehingga zat kimia
berbahaya yang masuk ke dalam tubuh lansia dapat diminimalisir.

Perhitungan Dosis dari Ampul atau Vial

Obat yang diberikan secara parenteral banyak yang dikemas dalam ampul atau
vialdalam bentuk cairan atau bubuk. Dosis obat biasanya ditulis dalam label, namun
seringdalam pemberian diebrikan dalam dosis yang lebih rendah daripada yang tertera
dalam label
Contoh :Berapa cc harus dihisap untuk emndapatkan penisilin 150.000 unit
dari vial yang berlabel 600.000 unit/cc?
Jawab :

600.000 𝑢𝑛𝑖𝑡 1 𝑐𝑐
=
150.000 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑥

600.000 . x =150.000
150.000 𝑢𝑛𝑖𝑡
X= = 0,25 cc
600,000

Perhitungan Tetesan Infus

Dalam tatanan klinik, banyak obat yang diberikan secara intravena


menggunakan infus.Cara ini biasanya digunakan untuk obat dalam jumlah yang
banyak dan harus diberikan secara terus menerus. Jenis cairan dan kecepatan tetesan
yang diperlukan ditentukan oleh dokter, namun perawat harus mengetahui volume
cairan dan lamanya absorpsi obat sehingga perawat dapat memonitor selama cairan
digunakan.
Peralatan infus terdiri dari botol/flabot infus, penampang (drip),selang, dan
jarum infus.Drip infus mempunyai ukuran dan jumlah tetesan untuk menyatakan 1 cc
yang bervariasi misalnya 10 tetesan = 1 cc atau 15 tetesan = 1 cc dan lain-lain.
Denganmengetahui jumlah tetesan/menit setara dengan berapa cc, maka perawat dapat
memperkirakan berapa lama obat dalam suatu kemasan flabot infus akan habis
terabsorpsi.
Rumus :

21
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑡𝑒𝑠𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑓𝑢𝑠 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑖𝑛𝑓𝑢𝑠 𝑋 𝑢𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑑𝑟𝑖𝑝
Kecepatan infus (v) = =
𝑢𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢

Satuan :
Kecepatan infus = tetes/menit
Jumlah tetesan infus = tetes
Volume infus = ml
Ukuran drip = tetes/mlWaktu = detik

Perhitungan dosis insulin

Dosis insulin dinyatakan dengan satuan unit yang pada umumnya insulin
dikemasdalam vial 10 cc. Dalam setiap vial selalu dipasang label emngenai
kandungan insulin,misalnya insulin U-40 berarti kekuatan insulin adalah 40 unit/cc

Cara paling mudah untuk menakar insulin adalah dengan menggunakan spuit
insulinyang lazimnya pada setiap spuit mempunyai kalibrasi U-40 atau U-80.
Sehingga untukmengambil obat dari vial sesuai unit yang diperlukan, cukup dengan
mengisi spuit yangdiharapkan. Apabila spuit spuit insulin tidak tersedia, dapat
digunakan spuit tuberculinyang mempunyai kapasitas volume 1 cc. Bila spuit
tuberculin diguanakn, maka dosisunit dikonversikan ke dalam cc.

Contoh : Berapa cc harus diambil untuk memenuhi order 35 unit insulin dengan
menggunakanregular insulin U-40?
35 𝑢𝑛𝑖𝑡
Jawab :X = x 1 cc
40 𝑐𝑐

Sumber :

Nuryati.2017.Farmakologi.Jakarta.pusat pendidikan sumber daya manusia


kesehatan.

D. Sistem Perhitungan berat dan volume obat


1. Sistem metric
Volume
1000 ml = 1 Liter
Berat
1000 gram (g) = 1 kilogram (kg)

2. Sistem apothecaries
Volume
60 minims (m) = 1 fluid dram
8 fl drams = 1 fluid ounce
16 fl ounces = 1 pint (0,1 atau pt)
Berat
20 grains = 1 scruple

22
3 scruples = I dram
8 drams = 1 ounce
12 ounce = 1 pound

3. Sistem takaran rumah tangga

Sistem takaran rumah tangga digunakan khususnya untuk bahan-bahan yang


tidak memerlukan sistem pengukuran yang akurat. Satuan yang lazim
digunakan adalah tetes,sendok the, sendok makan, cangkir, dan gelas

4. Perhitungan Larutan

Obat yang dikemas dalam bentuk larutan sering digunakan pada tatanan
klinik. Larutandigunakan dalam bentuk desinfektan dan antiseptic. Larutan juga
diberikan secara parenteral baik melalui intravena atau intramuskuler.Dengan
semakin majunya teknologi farmasi, banyak larutan yang dibuat oleh pabrik
farmasi dan dikemas dalam bentuk menyiapkan larutan. perawat perlu memiliki
dasar-dasar dan mengetahui prinsip-prinsipdalam menyiapkan atau membuat
larutan.Contoh :

Siapkan 300 cc larutan sabun 10% (10 % larutan setara dengan 10 g sabun
dalam 100 ccair). Sehingga perbandingannya adalah :

10% → 10 g dalam 100 cc.

Bila akan dibuat larutan 300 cc, maka :


10 𝑔
x = 100 𝑐𝑐 X 300cc= 30 g

sumber :

Husain, zulfiayu fadli.2016.modul farmakologi. Poltekkes kemenkes gorontalo.

BAB III
23
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

24
DAFTAR PUSTAKA

25