Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) DAN


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELOMPOK ANAK SEKOLAH

Tanggal 10 Desember 2018 – 02 Februari 2019

Oleh :
M. NANDA HIDAYAT, S.Kep
NIM.1730913310051

PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2018
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN
KONSEP USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) DAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELOMPOK ANAK SEKOLAH

Tanggal 10 Desember 2018 – 02 Februari 2019

Oleh:
M. NANDA HIDAYAT, S.Kep
NIM.1730913310051

Banjarmasin, Desember 2018


Mengetahui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Kurnia Rachmawati, S.Kep., Ns., MNSc Nuzurul Emami, S.Kep, Ns.


NIK. 1990.2014.1.139 NRTK. 284 08 84
LAPORAN PENDAHULUAN
USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS)

A. Pengertian
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan
mengembangkan kebiasaan serta perilaku hidup sehat pada peserta didik usia
sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu
(integrative) melalui program pendidikan dan penyuluhan kesehatan. UKS adalah
bagian dari usaha kesehatan pokok yang sesuai beban tugas puskesmas yang di
tujukan kepada sekolah-sekolah. Optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan
dengan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. UKS ini
diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada murid sendiri
dan mampu menolong orang lain. UKS dikenal pula dengan child to child program.
Program dari anak, oleh anak, dan untuk anak agar menciptakan anak yang
berkualitas.
Pendidikan kesehatan melalui masyarakat sekolah ternyata paling efektif
diantara usaha-usaha yang ada untuk mencapai kebiasaan hidup sehat dari
masyarakat pada umumnya, karena masyarakat sekolah:
1. Presentasinya tinggi
2. Terorganisir sehingga lebih mudah dicapai
3. Peka terhadap pendidikan dan pembaharuan
4. Dapat menyebabkan modernisasi

B. Manfaat UKS
Manfaat UKS adalah :
1. Tempat pemeriksaan kesehatan umum
2. Tempat kesehatan gigi dan mulut murid melalui penyaringan kesehatan
terhadap murid sekolah dasar yang di laksanakan oleh tenaga kesehatan
bersama dengan guru UKS terlatih dan dokter kecil secara berjenjang
(penyaringan awal oleh guru dan dokter kecil, penyaringan lanjutan oleh
tenaga kesehatan).
C. Tujuan UKS
1. Tujuan umum
Meningkatkan kemampuan hidup bersih dan sehat, serta derajat kesehatan
siswa dan menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan
pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal.
2. Tujuan khusus
Memupuk kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat dan meningkatkan
derajat kesehatan siswa yang mencakup:
a) Memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip
hidup bersih dan sehat serta berpartisipasi aktif di dalam usaha peningkatan
kesehatan di sekolah, di rumah tangga maupun di lingkungan masyarakat.
b) Sehat baik dalam arti fisik, mental maupun sosial
c) Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk,
penyalahgunaan narkotika, obat dan bahan berbahaya, alkohol, rokok dan
sebagainya.

D. Landasan Hukum UKS


Landasan hukum Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai berikut:
a) UU NO. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
b) UU NO. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Daerah
c) UU NO. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
d) SKB 4 Menteri NO1/U/SKB/2003, NO.1067/MENKES/SKB/VII/2003, NO
MA/230 A/2003, NO.26 tahun 2003 tentang Pembinaan dan Pengembangan
UKS
e) SKB 4 Menteri NO.2/P/SKB/2003, NO 1068/MENKES/SKB/VII/2003, NO
4415-404 Tahun 2003 tentang Tim Pembina UKS Pusat.
E. Struktur Organisasi UKS di Sekolah Dasar
Bagan struktur organisasi UKS di Sekolah Dasar dapat diketahui tugas dan
kewajibannya masing-masing antara lain:
a) Pembina
Pembina dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh
kepala sekolah.
b) Ketua
Ketua dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh
dewan guru.
c) Sekretaris
Sekretaris dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh
dewan guru.
d) Bendahara
Bendahara dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh
dewan guru.
e) Anggota
Anggota dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas terdiri dari
siswa yang terpilih sebagai anggota UKS.

F. Sasaran UKS
Sasaran pelayanan UKS adalah seluruh peserta didik dari tingkat pendidikan
Sekolah Taman Kanak-Kanak, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah,
Pendidikan Agama, Pendidikan Kejuruan, dan Pendidikan Khusus (SLB)
Usaha kesehatan sekolah untuk sekolah dasar diprioritaskan pada kelas I, III
dan kelas VI alasannya adalah:
a) Kelas I, merupakan fase penyesuaian dalam lingkungan sekolah yang baru
lepas dari pengawasan orang tua, kemungkinan kontak dengan berbagai
penyebab penyakit lebih besar karena ketidaktahuan dan ketidakmengertian
tentang kesehatan
b) Kelas III dilaksanakan dikelas 3 untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan UKS
dikelas I dahulu dan langkah-langkah selanjutnya yang akan dilakukan dalam
program pembinaan UKS
c) Kelas VI, dalam rangka mempersiapkan kesekolah peserta didik kejenjang
pendidikan selanjutnya, sehingga memerlukan pemeliharaan dan
pemeriksaan kesehatan yang cukup.

G. Peran Perawat dalam Program UKS


Peranan perawat komunitas dalam upaya kesehatan sekolah adalah:
1) Sebagai pelaksana asuhan keperawatan di sekolah
a. Mengkaji masalah kesehatan dan keperawatan peserta didik dengan
melaksanakan pengumpulan data, analisas data dan perumusan masalah serta
prioritas masalah kesehatan anak sekolah
b. Melaksanakan kegiatan UKS sesuai dengan rencana kegiatan yang disusun.
c. Penilaian dan pemantauan hasil kegiatan UKS.
d. Pencatatan dan pelaporan sesuai dengan prosedur yang diterapkan.
2) Sebagai Pengelola Kegiatan UKS
Perawat kesehatan yang bertugas di Puskesmas dapat menjadi salah satu
anggota dalam TPUKS atau dapat juga ditunjuk sebagai seorang koordinator,
maka pengelolaan pelaksanaan UKS menjadi tanggung jawabnya atau
paling tidak ikut terlibat dalam tim pengelola UKS.
3) Sebagai Penyuluh dalam Bidang Kesehatan
Peran perawat kesehatan dalam memberikan penyuluhan kesehatan dapat
dilakukan secara langsung melalui penyuluhan kesehatan yang bersifat
umum dan klasikal atau secara tidak langsung sewakktu melakukan
pemeriksaan kesehatan peserta didik secara perorangan.

H. Ruang Lingkup Kegiatan


Kegiatan utama Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) disebut dengan Trias
UKS, yang terdiri dari :
1) Pendidikan Kesehatan
Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat tumbuh kembang
sesuai, selaras, seimbang dan sehat baik fisik, mental, sosial dan lingkungan
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang diperlukan
bagi peranannya saat ini maupun di masa yang akan datang.
Adapun tujuannya adalah:
a) Memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan, termasuk cara hidup sehat dan
teratur.
b) Memiliki nilai dan sikap yang positif terhadap prinsip hidup sehat.
c) Memiliki keterampilan dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan
pemeliharaan, pertolongan dan perawatan kesehatan.
d) Memiliki kebiasaan dalam hidup sehari-hari yang sesuai dengan syarat
kesehatan.
e) Memiliki kemampuan untuk menularkan perilaku hidup sehat dalam
kehidupan sehari-hari.
f) Memiliki pertumbuhan termasuk bertambahnya tinggi badan dan berat badan
yang seimbang.
g) Mengerti dan dapat menerapkan prinsip-prinsip pencegahan penyakit dalam
kaitannya dengan kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.
h) Memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar.
i) Memiliki tingkat kesegaran jasmani dan derajat kesehatan yang optimal serta
mempunyai daya tahan tubuh yang baik terhadap penyakit.
Pelaksanaannya dapat melalui:
 Kegiatan Kurikuler
Pelaksanaan adalah pelaksanaan pendidikan kesehatan pada jam pelajaran
sesuai dengan garis-garis besar program pengajaran mata pelajaran sains dan
ilmu pengetahuan sosial. Pelaksanaannya dilakukan melalui peningkatan
pengetahuan, penanaman nilai dan sikap positif terhadap prinsip hidup sehat
dan peningkatan keterampilan dalam melaksanakan hal yang berkaitan
dengan pemeliharaan pertolongan dan perawatan kesehatan. Kegiatan
kurikuler mencakup kebersihan dan kesehatan pribadi, makanan bergizi,
pendidikan kesehatan reproduksi dan pengukuran tingkat kesegaran jasmani.
 Kegiatan Ekstrakurikuler
Adalah kegiatan di luar jam pelajaran biasa (termasuk kegiatan pada waktu
libur) yang dilakukan di sekolah ataupun di luar sekolah dengan tujuan antara
lain memperluas pengetahuan dan keterampilan siswa serta melengkapi
upaya pembinaan manusia Indonesia seutuhnya. Kegiatan ekstrakurikuler
yang berkaitan dengan pendidikan kesehatan antara lain: kemah, ceramah dan
diskusi, apotek hidup, dan lain-lain. Kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan
dengan pelayanan kesehatan antara lain; dokter kecil, Palang Merah Remaja
(PMR), dan lain-lain. Kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan
pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat antara lain: kerja bakti
kebersihan, lomba sekolah sehat, dan lain-lain.
2) Pelayanan Kesehatan
Upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif),
pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilakukan secara
serasi dan terpadu terhadap peserta didik pada khususnya dan warga sekolah
pada umumnya. Dibawah koordinasi guru Pembina UKS dengan bimbingan
teknis dan pengawasan puskesmas setempat.
Tujuannya secara umum adalah meningkatnya derajat kesehatan peserta didik
dan seluruh warga masyarakat secara optimal. Sedangkan tujuan khususnya:
a) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan melakukan tindakan hidup
sehat dalam rangka membentuk perilaku hidup sehat.
b) Meningkatkan daya tahan tubuh peserta didik terhadap penyakit dan
mencegah terjadinya penyakit, kelainan, dan cacat.
c) Menghentikan proses penyakit dan pencegahan komplikasi akibat
penyakit/kelainan, pengembalian fungsi dan peningkatan kemampuan peserta
didik yang cedera/cacat agar dapat berfungsi optimal.
d) Meningkatkan pembinaan kesehatan baik fisik, mental, sosial maupun
lingkungan.
Pelaksanaannya sebagai berikut:
a) Kegiatan peningkatan kesehatan (Promotif)
Kegiatan promotif kesehatan tersebut berupa: latihan ketrampilan teknis
dalam rangka pemeliharaan kesehatan, dan pembentukan peran serta aktif
peserta didik dalam pelajaran kesehatan, antara lain:
 Dokter kecil
 Kader kesehatan remaja
 PMR (Palang Merah Remaja)
 Pembinaan warung sekolah sehat
 Pembinaan lingkungan sekolah yang terpelihara dan bebas dari vektor
pembawa penyakit
 Pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat

b) Kegiatan pencegahan (Preventif)


Merupakan kegiatan peningkatan daya tahan tubuh, kegiatan pemutusan
rantai penularan penyakit dan kegiatan penghentian proses penyakit pada
tahap dini sebelum timbul kelainan. Kegiatan preventif ini berupa:
 Pemeliharaan kesehatan yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus
untuk penyakit-penyakit tertentu.
 Penjaringan kesehatan anak sekolah.
 Memonitor/memantau pertumbuhan peserta didik.
 Imunisasi peserta didik.
 Usaha pencegahan penularan penyakitdengan jalan memberantas sumber
infeksi dan pengawasan kebersihan lingkungan sekolah.
 Konseling kesehatan di sekolah.

c) Kegiatan penyembuhan dan pemulihan (Kuratif dan Rehabilitatif)


Berupa kegiatan mencegah komplikasi dan kecacatan akibat proses penyakit
atau untuk meningkatkan kemampuan peserta didik agar dapat berfungsi
optimal. Kegiatan kuratif dan rehabilitatif ini adalah:
 Diagnosa dini
 Pengobatan ringan
 Pertolongan pertama pada kecelakaan, pertolongan pertama pada
penyakit
 Rujukan medik

3) Pembinaan Lingkungan Sekolah


Pembinaan mencakup lingkungan sekolah, keluarga dan mesyarakat sekitar.
Dilaksanakan dalam rangka menjadikan sekolah sebagai institusi pendidikan
yang dapat menjamin berlangsungnya proses belajar mengajar yang mampu
menumbuhkan kesadaran, kesanggupan dan keterampilan peserta didik untuk
menjalankan prinsip hidup sehat, kegiatan ini meliputi:
a) Program pembinaan lingkungan sekolah
 Lingkungan fisik sekolah meliputi penyediaan air bersih, pemeliharaan
penampungan air bersih, pengadaan dan pemeliharaan tempat
pembuangan sampah, pengadaan dan pemeliharaan air limbah,
pemeliharaan wc/kakus, pemeliharaan kamar mandi, pemeliharaan
kebersihan dan kerapihan ruang kelas, perpustakaan, laboratorium dan
tempat ibadah, pemeliharaan kebersihan dan keindahan halaman dan
kebun sekolah, pengadaan dan pemeliharaan warung/kantin sekolah.
 Lingkungan mental dan sosial program pembinaan lingkungan mental
dan sosial ini dilakukan dalam bentuk kegiatan konseling kesehatan,
bakti sosial masyarakat sekolah terhadap lingkungan, PMR, dokter kecil,
kader kesehatan remaja.
b) Pembinaan lingkungan keluarga
Tujuannya adalah meningkatan pengetahuan orang tua peserta didik tentang
hal – hal yang berhubungan dengan kesehatan dan meningkatkan kemampuan
dan partisipasi orang tua peserta didik dalam pelaksanaan hidup sehat.
Pembinaan ini dapat dilakukan dengan:
 Kunjungan rumah yang dilakukan oleh pelaksana UKS.
 Ceramah kesehatan yang dilakukan di sekolah.
c) Pembinaan masyarakat sekitar
Pembinaan masyarakat sekitar Pembinaan masyarakat sekitar dengan cara:
 Penyelenggaraan ceramah kesehatan dan pentingnya arti pembinaan
lingkungan sekolah sebagai lingkungan sekolah yang sehat.
 Penyuluhan baik melalui media cetak dan audio visual.

I. Kegiatan UKS
Nemir mengelompokkan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi 3
kegiatan pokok : yaitu

a) Pendidikan kesehatan di sekolah (Health Education in School)


 Kegiatan intrakurikuler, maksudnya adalah pendidikan kesehatan
merupakan bagian dari kurikulum sekolah
 Kegiatan ekstrakurikuler, maksudnya adalah pendidikan kesehatan
dimasukkan dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dalam rangka
menanamkan perilaku sehat peserta didik
b) Pemeliharaan Kesehatan Sekolah (School Health Service)
Pemeliharaan kesehatan sekolah untuk tingkat sekolah dasar, dimaksudkan
untuk memelihara, meningkatkan dan menemukan secara dini gangguan
kesehatan yang mungkin terjadi terhadap peserta didik maupun gurunya.
Pemeliharaan kesehatan di sekolah dilakukan oleh petugas puskesmas yang
merupakan tim yang dibentuk dibawah seorang koordinator usaha kesehatan
sekolah yang terdiri dari dokter, perawat, juru imunisasi dan sebagainya.

Perlengkapan PPPK (P3K)


Pertolongan pertama adalah suatu perawatan yang diberikan sementara
menunggu bantuan datang atau sebelum dibawa kerumah sakit atau puskesmas.
Pertolongan pertama pada kecelakaan dimaksudkan untuk menentramkan dan
menenangkan si korban sebelum ditangani oleh orang yang lebih ahli. Diharapkan
dengan keadaan yang lebih tenang dan tenteram dapat mengurangi rasa sakit si
korban (Yudiawan. 2002).

J. Lingkungan kehidupan sekolah yang sehat mencakup


a) Lingkungan fisik
Lingkungan sekolah yang dimaksud dalam program usaha kesehatan sekolah
untuk tingkat sekolah dasar meliputi lingkungan fisik, psikis dan sosial.
Kegiatan yang termasuk dalam lingkungan fisik berupa pengawasan terhadap
sumber air bersih, sampah, air limbah, tempat pembuangan tinja, dan
kebersihan lingkungan sekolah. Kantin sekolah, bangunan yang sehat,
binatang serangga dan pengerat yang ada dilingkungan sekolah, pencemaran
lingkungan tanah, air dan udara di sekitar sekolah juga merupakan bagian dari
lingkungan fisik sekolah.
b) Lingkungan psikis
Kegiatan yang dilakukan berhubungan dengan lingkungan psikis sekolah
antara lain memberikan perhatian terhadap perkembangan peserta didik,
memberikan perhatian khusus terhadap anak didik yang bermasalah, serta
membina hubungan kejiwaan antara guru dengan peserta didik.
c) Lingkungan sosial
Kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan sosial meliputi membina
hubungan yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan peserta didik,
peserta didik dengan peserta didik, serta membina hubungan yang harmonis
antara guru, murid, karyawan sekolah serta masyarakat sekolah.

K. Strata UKS
Keberhasilan 3 program UKS yang mencakup pendidikan kesehatan,
pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan sehat ditunjukkan dalam suatu
strata UKS. Strata pelaksanaan UKS dibagi ke dalam 4 tingkatan yaitu strata
minimal, strata standard, strata optimal dan strata paripurna. Setiap strata terdiri dari
tiga variabel utama yaitu 3 program pokok UKS yang terdiri dari Pendidikan
Kesehatan, Pelayanan Kesehatan dan Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat.
1) Pendidikan Kesehatan
a. Strata Minimal
Pendidikan jasmani dilaksanakan secara kurikuler, pendidikan
kesehatan dilakukan secara kurikuler, guru membuat rencana
pembelajaran pendidikan kesehatan dan adanya buku pegangan guru
dan bacaan tentang pendidikan kesehatan.
b. Strata Standar
Dipenuhinya strata minimal dan memiliki guru mata pelajaran jasmani.
c. Strata Optimal
Dipenuhinya strata standar, pendidikan kesehatan terintegrasi pada mata
pelajaran lain, pendidikan kesehatan dilaksanakan secara
ekstrakulikuler, memiliki alat peraga pendidikan kesehatan, memiliki
media pendidikan kesehatan (poster dan lain-lain).
d. Strata Paripurna
Meliputi dilaksanakannya strata optimal, memiliki guru pembina UKS,
adanya program kemitraan pendidikan kesehatan dengan instansi terkait
seperti Puskesmas, Kepolisian, Palang Merah Indonesia (PMI), Petugas
Penyuluh Lapangan (PPL) pertanian dan lain-lain.
2) Pelayanan Kesehatan
a. Strata Minimal
Meliputi dilaksanakannya penyuluhan kesehatan, dilaksanakannya
imunisasi, penyuluhan kesehatan gigi dan sikat gigi masal minimal
kelas 1, 2, 3 SD.
b. Strata Standar
Meliputi dilaksanakannya strata minimal, ada penjaringan kesehatan,
pemeriksaan kesehatan berkala tiap 6 bulan, termasuk pengukuran
tinggi dan berat badan, pencatatan hasil pemeriksaan kesehatan siswa
pada buku Kartu Menuju Sehat (KMS), ada rujukan bila diperlukan,
ada dokter kecil, melaksanakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
(P3K), dan pengawasan warung/kantin sekolah.
c. Strata Optimal
Meliputi memenuhi strata standar, dana sehat/dana UKS, dan pelayanan
medik gigi dasar atas permintaan siswa.
d. Strata Paripurna
Meliputi memenuhi strata optimal, konseling Kesehatan Remaja bagi
siswa, pengukuran tingkat kesegaran jasmani.
3) Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat
a. Strata Minimal
Meliputi ada air bersih, tempat cuci tangan, WC/jamban yang
berfungsi, tempat sampah, saluran pembuangan air kotor yang
berfungsi, halaman/pekarangan/lapangan, memiliki pojok UKS,
melakukan kegiatan mengubur, menguras dan membakar (3M) plus,
sekali seminggu.
b. Strata Standar
Meliputi memenuhi strata minimal, kantin/warung sekolah, memiliki
pagar, penghijauan/perindangan, ada air bersih di sekolah dengan
jumlah yang cukup, memiliki ruang UKS tersendiri, dengan peralatan
sederhana, memiliki tempat ibadah, lingkungan sekolah bebas jentik,
jarak papan tulis dengan bangku terdepan 2,5 m, dan melaksanakan
pembinaan sekolah kawasan tanpa rokok, bebas narkoba dan miras.
c. Strata Optimal
Meliputi memenuhi strata standar, tempat cuci tangan di beberapa
tempat dengan air mengalir/kran, tempat cuci peralatan masal/makan di
kantin/warung sekolah, petugas kantin yang bersih dan sehat, tempat
sampah di tiap kelas dan tempat penampungan sampah akhir di sekolah,
jamban/WC siswa dan guru yang memenuhi syarat kesehatan dan
kebersihan, halaman yang cukup luas untuk upacara dan berolahraga,
pagar yang aman, memilki ruang UKS tersendiri dengan peralatan yang
lengkap, dan terciptanya sekolah kawasan tanpa rokok, bebas narkoba
dan miras.
d. Strata Paripurna
Meliputi memenuhi strata optimal, tempat cuci tangan di setiap kelas
dengan air mengalir/kran dilengkapi sabun, kantin dengan menu gizi
seimbang dengan petugas kantin yang terlatih, air bersih yang
memenuhi syarat kesehatan, sampah langsung diangkut dan dibuang ke
tempat pembuangan sampah di luar sekolah/umum, ratio
WC:siswa=1:20, saluran pembuangan air tertutup, pagar yang aman
dan indah, taman/kebun sekolah yang dimanfaatkan dan diberi label
dan pengolahan hasil kebun sekolah, ruang kelas memenuhi syarat
kesehatan (ventilasi dan pencahayaan cukup), ratio kepadatan siswa
1:1,5-1,75 m2, dan memiliki ruang dan peralatan UKS yang ideal.

L. Masalah Kesehatan yang Dapat Dikurangi Melalui UKS


Adapun masalah kesehatan yang dapat dicegah dengan pelaksanaan UKS
adalah: a) sanitasi dan air bersih, b) kekerasan dan kecelakaan, c) masalah kesehatan
reproduksi remaja, d) kecacingan dan kebersihan diri maupun lingkungan, e)
masalah gizi dan anemia, f) imunisasi, g) merokok, alkohol dan penyalahgunaan
narkoba, h) kesehatan gigi, i) penyakit infeksi (malaria, gangguan saluran nafas), j)
HIV/AIDS dan IMS lainnya, k) gangguan kesehatan mental.

M. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah

PHBS merupakan singkatan dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yaitu
sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai upaya agar
dirinya sehat dan aktif membantu kesehatan masyarakat di sekitarnya. PHBS
memang sepertinya mudah dikatakan tapi penerapannya sangat sulit karena
membutuhkan kesadaran dan kesungguhan akan pentingnya menjaga kesehatan.
Semua perilaku manusia sebenarnya pasti punya pengaruh terhadap kesehatan,
apapun bentuknya, mulai dari makan, tidur, mandi, berpakaian, sampai cara belajar,
hanya saja diprioritaskan mana perilaku yang berpotensi menimbulkan penyakit.
Pada anak usia 6-12 tahun PHBS dilakukan tidak hanya di lingkungan rumah
tapi juga di lingkungan sekolah. PHBS pada usia dini baik untuk mendidik dan
menanamkan kesadaran akan pentingnya kebersihan sebagai upaya menjaga
kesehatan diri dan lingkungan. Upaya PHBS yang dapat dilakukan pada usia anak-
anak diantaranya:
a) Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun
Mencuci tangan dilakukan setiap selesai beraktivitas apakah itu membantu
orang tua atau bermain serta setiap sebelum makan. Mencuci tangan yang baik
adalah mencuci tangan di air yang mengalir, tujuannya agar kotoran dari hasil cuci
sebelumnya tidak ikut digunakan saat membilas, karena jika membilas dengan air
kotoran bekas mencuci maka kotorannya kan kembali menempel di tangan.
Mencuci tangan juga sebaiknya dilakukan dengan sabun dengan tujuan agar
kuman-kuman penyakit bisa lebih mudah diangkat dan dibunuh.
b) Makan sayur buah dan daging
Makan tidak hanya cukup dengan nasi, utamakan makan dengan sayuran, jika
bisa lauknya bervariasi setiap harinya. Makan yang sehat bukan berarti makan yang
mewah yang penting lengkap, ada nasi, sayur, daging, dan buah jika perlu
tambahkan susu. Belajarlah untuk menyukai makan sayur sejak kecil.
c) Jajan di kantin sekolah yang sehat
Saat jajan di kantin sebaiknya pilih jajan yang sehat, jajan yang sehat itu
adalah jajan yang bersih dan jauh dari jangkauan lalat. Jajan makanan yang banyak
dihinggapi lalat bisa menyebabkan diare karena lalat yang tadinya hinggap di
kotoran akan membawa kuman penyakit pada makanan yang akan ia hinggapi.
d) Menggosok gigi secara teratur
Menjaga kesehatan mulut dan gigi penting terutama saat masa pergantian dari
gigi susu. Cara yang paling mudah menjaga kesehatan mulut dan gigi adalah dengan
menggosok gigi secara teratur. Menggosok gigi sebaiknya dilakukan setiap selesai
makan dan sebelum tidur karena saat itulah kuman berkembang dengan cepat dan
berpotensi merusak gigi.
e) Mandi dan keramas teratur
Mandi penting agar kulit terhindar dari penyakit jamur seperti kada dan kurap.
Mandi bisa dilakukan 2 kali sehari atu jika kekurangan air 1 kali sehari cuku,
sedangkan keramas sebaiknya dilakukan setiap 3 hari sekali. Keramas bertujuan
agar rambut tetap sehat dan menghindari tumbuhnya kutu dan jamur
f) Membuang sampah pada tempatnya
Sampah merupakan tempat berkembangnya lalat dan kuman penyakit,
dengan mengurangi jumlah sampah berarti juga mengurangi lalat dan bibit
penyakit. Cara mengurangi jumlah sampah yaitu dengan membuang sampah pada
tempatnya, jika perlu pisahkan antara sampah plastik, kaca, kaleng, dan daun-
daunan (organik) dengan membuang dan memisahkan sampah, maka akan
mempermudah pengelolaannya, sampah plastik, kaca dan kaleng bisa dijual dan
didaur ulang sedangkan sampah daun bisa dijadikan pupuk atau dibakar saja.
g) Tidak merokok
Saat ini banyak kasus di mana anak-anak sudah bisa merokok, mereka
merokok karena melihat orang tua atau kakaknya yang juga perokok. Merokok
sama sekali tidak memiliki dampak positif, tapi dampak negatifnya sangat banyak
mulai dari segi kesehatan dan juga keuangan, uang jajan bisa terpotong hanya untuk
membeli rokok, alangkah baiknya jika uang rokok itu dibelanjakan untuk makan
atau keperluan sekolah, karena itu jika ada orang dewasa yang menawari rokok,
sebaiknya langsung menghindar jika perlu bantu menyadarkan orang tua dan kakak
akan bahaya rokok.
h) Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan
Mengukur tinggi dan berat badan penting untuk memantau pertumbuhan
sehingga apabila terjadi kekurangan gizi bisa cepat ditangani.
i) Mengikuti kegiatan olah raga di sekolah
Olahraga bertujuan untuk menjaga tubuh agar tetap sehat, olahraga seperti
senam memang terlihat sepele tapi sebenarnya memiliki manfaat yang besar karena
melatih otot tubuh agar tidak kaku selain untuk mendapatkan udara segar dan sinar
matahari pagi sebagai sumber vitamin D.

j) Memberantas jentik nyamuk secara rutin


Jika di sekolah atau rumah ada bak penampungan air seperti gebeh atau bak
mandi sebaiknya rajin dikuras setiap minggu agar tidak menjadi sarang
perkembangbiakan nyamuk.
k) Buang air besar dan buang air kecil di jamban sekolah
Buang air besar di jamban bertujuan agar kotoran tidak dihinggapi lalat selain
untuk mencegah bau dan pemandangan yang tidak sedap.
l) Tidur yang cukup
Tidur yang baik anak usia 6-12 tahun adalah selama 9-10 jam, tidur bisa
dilakukan mulai jam 9 malam sampai jam 6 pagi, sedangkan jamnya lagi untuk
tidur siang setiap selesai mengerjakan tugas di sekolah. Saat tidur di malam hari
sebaiknya dengan mematikan lampu, selain menghemat listrik tidur tanpa nyala
lampu membuat tubuh lebih cepat beristirahat.

N. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengumpulan Data
Pengkajian pada kelompok khusus anak sekolah dapat menggunakan model
Betty Neuman yang terdiri atas data inti komunitas dan data subsistem komunitas
meliputi:
Data inti
a. Sejarah berdirinya sekolah
 Tanyakan kepada kepala sekolah atau guru yang mengetahui sejarah
berdirinya sekolah tersebut.
 Tanyakan tentang perkembangan sekolah dari awal berdiri sampai
sekarang meliputi nama, tempat, dan bangunan sekolah dan kepala sekolah
yang menjabat serta siswa yang bersekolah.
b. Values (nilai-nilai yang dianut siswa), beliefs (keyakinan), dan agama
 Tanyakan tentang nilai-nilai dan keyakinan yg dianut oleh siswa dan guru
terkait pola kebiasaan.
 Tanyakan tentang tata tertib yg berlaku di sekolah.
 Identifikasi tentang pola budaya yg banyak diyakini siswa dan guru terkait
dengan kesehatan.
 Apakah terdapat masjid atau musholla (sarana ibadah) di sekolah?
 Apakah keyakinan agamanya homogen?
c. Data siswa
 Jumlah siswa, umur, dan jenis kelamin
 Suku siswa dan guru di sekolah
 Bahasa yang digunakan saat proses belajar mengajar serta saat siswa
berkomunikasi ketika jam istirahat
d. Vital statistik
 Hasil pemeriksaan fisik
 Kejadian siswa sakit saat di sekolah
 Kejadian siswa sakit sehingga tidak dapat hadir di sekolah
 Kejadian kecelakaan di sekolah

Data subsistem

a. Lingkungan fisik
 Kondisi fisik bangunan sekolah: denah sekolah, jumlah kelas, jenis lantai,
dinding, dan atap sekolah
 Sumber air bersih yang ada di sekolah
 Jumlah dan kondisi WC sekolah
 Kondisi bangku dan meja dalam kelas
 Papan tulis yang digunakan
 Alat-alat kebersihan kelas
 Tempat sampah di kelas
 Kebersihan kelas, UKS, dan lingkungan sekolah
 Kebersihan kantin sekolah

b. Pelayanan kesehatan
 Fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan siswa dan guru ketika sakit
 Pemeriksaan kesehatan yang pernah dilakukan oleh tenaga kesehatan pada
siswa sekolah
c. Ekonomi
 Uang saku siswa per hari
 Tabungan yang dimiliki siswa
 Iuran kelas dan sekolah
 SPP yang dibayarkan siswa
d. Keamanan dan transportasi
 Keamanan sekolah dan kelas
 Alat transportasi yang digunakan siswa untuk pergi ke sekolah
 Alat transportasi yang digunakan siswa untuk pergi ke fasilitas pelayanan
kesehatan
e. Politik dan pemerintahan
Jenis santunan yang diberikan pada siswa jika siswa sakit, kecelakaan, atau
meninggal dunia
f. Sistem komunikasi
 Alat komunikasi yang dibawa siswa ke sekolah
 Sumber informasi yang digunakan siswa untuk mendapatkan informasi
kesehatan
g. Pendidikan
 Penyuluhan atau pendidikan kesehatan yang pernah didapatkan siswa
h. Rekreasi
 Tempat siswa bermain saat jam istirahat
 Jenis permainan yang dilakukan saat jam istirahat
 Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah dan diikuti siswa
 Kegiatan organisasi yang ada di sekolah dan diikuti siswa
 Fasilitas bermain dan olahraga yang ada di sekolah

Pengolahan Data
Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan data
dengan cara sebagai berikut:
1) Klasifikasi data atau kategori data
2) Penghitungan prosentase data
3) Tabulasi data
4) Interpretasi data
Analisis Data
Berdasarkan data yang telah diolah, dapat ditentukan masalah kesehatan atau
masalah keperawatan di sekolah. Jenis masalah yang sering terjadi, antara lain:
 6-12 tahun, : ISPA, Gangguan pada gigi, Malnutrisi, Kecacingan,
Pneumonia, Kecelakaan
 13-18 tahun : Merokok, Minuman keras, Penyalahgunaan obat, Pornografi
dan pergaulan bebas, Kehamilan, Bunuh diri dan Kecelakaan.
b. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan.
Diagnosis keperawatan akan memberikan gambaran masalah dan status kesehatan
siswa sekolah baik yang nyata (aktual) maupun yang mungkin terjadi (potensial)
(Mubarak, 2005). Masalah aktual adalah masalah yang diperoleh pada saat
pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul
kemudian (American Nurses of Association (ANA). Dengan demikian diagnosis
keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas, padat, dan pasti tentang status
dan masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan.
Diagnosis keperawatan mengandung komponen utama yaitu problem
(masalah) yang merupakan kesenjangan atau penyimpangan dari kondisi normal,
etiologi (penyebab dari masalah kesehatan atau keperawatan yang dapat memberi
arah intervensi keperawatan), serta sign & symptom (tanda dan gejala) (Mubarak,
2005).
Contoh Diagnosis Keperawatan
1. Kerusakan Gigi berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kesehatan
gigi
2. Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri dengan faktor risiko usia 15-19
tahun
3. Perilaku kesehatan cenderung berisiko berhubungan dengan kurang
pemahaman

c. Perencanaan
NO Diagnosa NOC NIC
1 Kerusakan Gigi Oral Hygiene Oral Health Promotion
berhubungan Setelah dilakukan 1. Instruksikan perlunya
dengan kurang tindakan keperawatan perawatan gigi sehari-hari
pengetahuan selama 1 x 60 menit 2. Monitor mukosa mulut
tentang masalah teratasi dengan secara teratur
kesehatan gigi kriteria hasil: 3. Mompromosikan
1. Kebersihan mulut pemeriksaan gigi secara
BK: gigi karies, (4) teratur
sakit gigi, plak 2. Kebersihan gigi (4) 4. Mengajarkan cara
yang berlebih, 3. Kebersihan gusi (4) menyikat gigi yang benar
halitosis (mulut 4. Kebersihan lidah (4)
bau), gigi 5. Kebersihan
goyang, gigi peralatan gigi (4)
ompong. Ket:
1. Severely
compromised
2. Substatially
compromised
3. Moderately
compromised
4. Mildly compromised
5. Not compromised

2 Risiko perilaku Student Health Status Counseling


kekerasan Setelah dilakukan 1. Membangun hubungan
terhadap diri tindakan keperawatan terapeutik
sendiri dengan selama 1 x 60 menit 2. Menunjukkan empati dan
faktor risiko usia masalah teratasi dengan kehangatan
15-19 tahun kriteria hasil: 3. Memberikan informasi
1. Kesehatan fisik (2) faktual yang diperlukan
2. Kesehatan mental (2) 4. Membantu siswa
3. Penggunaan alkohol mengidentifikasi kekuatan
(5) 5. Mendorong
4. Merokok (5) pengembangan
keterampilan yang baru
Ket 1-2:
1. Severely
compromised
2. Substatially
compromised
3. Moderately
compromised
4. Mildly compromised
5. Not compromised
Ket 3-4:
1. Sever
2. Substantial
3. Moderate
4. Mild
5. None
3 Perilaku Knowledge: Health Health Education
kesehatan Promotion 1. Identifikasi kebutuhan
cenderung Setelah dilakukan pendidikan kesehatan pada
berisiko tindakan keperawatan siswa
berhubungan selama 1 x 60 menit 2. Tentukan pengetahuan
dengan kurang masalah teratasi dengan siswa tentang kesehatan
pemahaman kriteria hasil: 3. Rumuskan tujuan untuk
1. Perilaku yang program pendidikan
meningkatkan kesehatan
kesehatan (4) 4. Gunakan presentasi grup
2. Sumber terkemuka untuk memberi dukungan
perawatan kesehtan
(4)

Ket:
1. No knowledge
2. Limited knowledge
3. Moderate knowledge
4. Substantial
knowledge
5. Extensive knowledge

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI, 2008, . Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan di


Sekolah, Jakarta: Departemen Kesehatan.
Djatmiko, Yayat Hayati, Prof. Dr. 2008. Perilaku Organisasi. Bandung: Alfa Beta.
Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klassifikasi
2012- 2012, Jakarta: EGC.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar.
2012. Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan
SekolahKementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pedoman pelaksanaan
UKS di sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar.
2012. Pedoman Pelaksanaan UKS di Sekolah.
Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri
Agama dan Menteri Dalam Negeri. Nomor 26 Tahun 2003 tentang
Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan.
Menteri dalam Negeri Republik Indonesia. Keputusan Bersama Menteri
Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri
Dalam Negeri Republik Indonesia No. 1/U/SKB/2003, No.
1067/MENKES/VII/2000, No. MA/230 A/2003, No. 26 Tahun 2003 Tentang
Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah.
Moorhead Sue, Jhonson Marion, Maas Meridean L. Et all. 2004. Nursing Outcomes
Classification. Mosby.
Moorhead Sue, Jhonson Marion, Maas Meridean L. Et all. 2004. Nursing
Interventions Classification. Mosby.
NANDA International. Nursing Diagnosis: Definitions and Classification 2018 –
2020. Oxford: Wiley Blackwell.
Sumantri, M., 2007, Pendidikan Wanita, dalam Ali, M., Ibrahim, R., Sukmadinata,
N.S., dan Rasjidin, W. (Penyunting). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan:
Handbook.. Bandung: Pedagogiana Press.