Anda di halaman 1dari 31

FILSAFAT PENDIDIKAN

MINI RISET DAN REKAYASA IDE


“ANALISIS KESULITAN SISWA KELAS XII MIA 2 SMA NEGERI 6
MEDAN DALAM BELAJAR MATEMATIKA ”

OLEH :
Kelompok 4

1. Adinda Sahira (4181111013)


2. Asrifah Siahaan (4183311033)
3. Beatrix Anela Silitonga (4183311045)
4. Dewi Maya Sembiring (4182111035)
Dosen Pengampu : Rahmilawati Ritonga, S.P., M.Pd.
KELAS : Pendidikan Matematika C 2018

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-
Nya serta kesehatan kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan tugas “MINI RISET DAN
REKAYASA IDE”. Tugas ini di buat untuk memenuhi salah satu mata kuliah kami yaitu
“FILSAFAT PENDIDIKAN”.
Tugas mini riset dan rekayasa ide ini disusun dengan harapan dapat menambah
pengetahuan dan wawasan kita semua khusunya dalam hal “KESULITAN SISWA SMA
DALAM BELAJAR MATEMATIKA”. Kami menyadari bahwa tugas mini riset ini masih
jauh dari kesempurnaan, apabila dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan,
kami mohon maaf karena sesungguhnya pengetahuan dan pemahaman kami masih terbatas,
karena keterbatasan ilmu dan pemahaman kami yang belum seberapa. Terima kasih kepada
Dosen kami Rahmilawati Ritonga, S.P., M.Pd. yang telah memberikan kami tugas mini riset ini
sebagai pembelajaran awal kami dan untuk memenuhi nilai tugas kkni. Kami sangat menantikan
saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun guna menyempurnakan tugas ini. kami
berharap semoga tugas mini riset ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi kami khususnya,
atas perhatiannya kami mengucapkan terimakasih.

Medan, 17 November 2018

Kelompok 4

II
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. ii


DAFTAR ISI............................................................................................................................ iii

MINI RISET

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 5


1.1 Latar Belakang .................................................................................................................... 5
1.2 Identifikasi Masalah ............................................................................................................ 5
1.3 Batasan Masalah ................................................................................................................. 6
1.4 Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 6
1.5 Tujuan Penelitian .......................................................................................................................... 6
1.6 Manfaat penelitian ....................................................................................................................... 6

BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................................... 7


2.1 Pengertian Pendidikan.....................................................................................................7
2.2 Kesulitan Siswa dalam Belajar Matematika....................................................................7
2.3 Konsep dan Langkah Pemikiran.....................................................................................8

BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................................... 11


3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................................................ 11
3.2 Subjek Penelitian .............................................................................................................. 11
3.3 Teknik Pengambilan Data ................................................................................................. 11
3.4 Instrumen Penelitian ......................................................................................................... 11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................................. 12


4.1 Gambaran hasil survey...................................................................................................... 12
4.2 Rangkuman Penelitian ...................................................................................................... 14

BAB V PENUTUP................................................................................................................. 16
5.1 Kesimpulan ....................................................................................................................... 16
5.2 Saran ................................................................................................................................. 16

REKAYASA IDE

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 17


1.1 Rasionalisasi Kesulitan Siswa dalam Belajar Matematika .............................................. 17
1.2 Tujuan Penelitian ............................................................................................................. 17
1.3 Manfaat Penelitian ........................................................................................................... 18

III
BAB II IDENTIFIKASI PERMASALAHAN ................................................................. 19

2.1 Permasalahan Umum Kesulitan siswa belajar matematika ............................................. 19

BAB III SOLUSI DAN PEMBAHASAN .......................................................................... 20

BAB IV PENUTUP .............................................................................................................. 25


4.1 Kesimpulan ..................................................................................................................... 25
4.2 Saran ............................................................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

4
MINI RISET
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Sekolah merupakan suatu lembaga sosial yang dapat melayani anggota
masyarakat dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu dalam pengembangan
sekolah dan masyarakat memerlukan kerja sama diantara keduanya. Dalam hal ini
pengembangan yang kami teliti yaitu mengenai kemampuan siswa sampai mana
dalam belajar matematika, lebih tepatnya melihat apakah siswa kesulitan dalam
belajar matematika.
Guru bidang studi sangat berperan dalam hal ini, di fase-fase remaja tentu
banyak sekali angan dan keinginan yang diinginkan oleh seorang murid peran guru
bidang studi pun berkaitan erat dalam menuntun dam membimbing ini semua.
Seperti suka dan tidak sukanya serta mudah dan sulitnya siswa tersebut dalam
menghadapi suatu pelajaran yang diajarkannya. Walaupun siswa kesulitan seorang
guru, orang tua, dan lingkungan disekitar murid tersebut haruslah mendukung dan
mendorong anak tersebut bagaimana caranya harus bisa memahaminya.
Ilmu matematika ibarat sampah yang berserakan di mana-manapun dunia yang
kita geluti tentu berjumpa dengan matematika walaupun hanya bentuk angka dan
perhitungan biasa saja. Namun, jikalah seorang murid di tekankan pada dirinya
bahwasannya iya kesulitan serta tidak dapat mengerti pelajaran matematika itu
sangat merugikan dirinya sendiri.
Untuk itu kami meneliti kesulitan siswa dalam belajar Matematika di lokasi
sekolah SMA Negeri 6 Medan tepatnya di dalam kelas XII Mia 2 yang terdiri dari
39 orang siswa melihat bagaimana respon dan tanggapan mereka dalam belajar
matematika.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH


Berdasarkan latar belakang di atas, identifikasi masalah penelitian adalah
meneliti siswa-siswi SMA Negeri 6 Medan kelas XII Mia 2 terhadap kendala dan
kesulitan mereka dalam belajar matematika.

5
1.3 BATASAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penelitian ini berfokus pada
kesulitan siswa kelas XII Mia 2 SMA Negeri 6 Medan dalam belajar matematika.

1.4 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimanakah kondisi pembelajaran matematika di SMA Negeri 6 Medan?
2. Bagaimanakah kesulitan siswa dalam belajar matematika?
3. Mengapa acap kali siswa kesulitan dan tidak suka dengan pelajaran
matematika?

1.5 TUJUAN PENELITIAN


1. Mengetahui kondisi pembelajaran matematika di SMA Negeri 6 Medan
2. Mengetahui kesulitan siswa dalam belajar matematika
3. Mengetahui penyebab siswa kesulitan dalam belajar matematika

1.6 MANFAAT PENELITIAN


Dalam penelitian ini kami mengharapkan nantinya dapat memberikan manfaat
yaitu sebagai berikut :
a. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat kita jadikan sebagai sarana
informasi khususnya bagi para pendidik dan calon pendidik bahwasannya
matematika itu sangatlah penting, dan masih banyak siswa yang kesulitan
dalam belajar matematika sehingga para pendidik dan calon pendidik bisa
menyiapkan cara untuk mengatasi hal ini.
b. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pemikiran kami
dan menjadi masukan bagi para koresponden yang kami teliti, dan orang
banyak diluaran sana bahwasannya matematika itu penting

6
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan
sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui
pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan
orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.Etimologi kata pendidikan itu
sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau
memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun
ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir,
merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi
tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan
tinggi, universitas atau magang. (Kirna.dkk,2013)

2.2 Kesulitan Siswa dalam Belajar Matematika

Pengertian matematika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh tim penyusun
kamus Pusat Pembinaan dan Perkembangan Bahasa disebutkan bahwa Matematika
adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur
operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah bilangan.(Untary,Erni,2013)

Dalam proses belajar mengajar disekolah, baik Sekolah Dasar, Sekolah


Menengah, maupun Perguruan Tinggi sering kali ada dijumpai beberapa
siswa/mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Aktifitas belajar bagi setiap
individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar,
kadang- kadang tidak. Kadang-kadang dapat dengan cepat menangkap apa yang
dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat, terkadang
semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit mengadakan konsentrasi. Karena setiap
individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual inilah yang menyebabkan
perbedaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik. Dalam keadaan dimana anak
didik/ siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut kesulitan
belajar

Kesulitan belajar tidak selalu disebabkan oleh faktor inteligensi yang rendah
(kelainan mental), akan tetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor non-inteligensi.
Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Dengan
demikian masalah kesulitan dalam belajar itu sudah merupakan problema umum yang
khas dalam proses pembelajaran (Untary Erni,2013).

7
Berhubungan dengan pelajaran matematika, siswa yang mengalami kesulitan
belajar antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.

1. Siswa tidak bisa menangkap konsep dengan benar. Siswa belum sampai keproses
abstraksi dan masih dalam dunia konkret. Dia belum sampai kepemahaman yang
hanya tahu contoh-contoh, tetapi tidak dapat mendeskripsikannya.

2. Siswa tidak mengerti arti lambang-lambang. Siswa hanya


menuliskan/mengucapkan tanpa dapat menggunakannya. Akibatnya, semua
kalimat matematika menjadi tidak berarti baginya.

3. Siswa tidak dapat memahami asal-usul suatu prinsip. Siswa tahu apa rumusnya
dan menggunakannya, tetapi tidak mengetahui dimana atau dalam konteks apa
prinsip itu digunakan.

4. Siswa tidak lancar menggunakan operasi dan prosedur. Ketidaksamaan


menggunakan operasi dan prosedur terdahulu berpengaruh kepada pemahaman
prosedur lainnya.

5. Ketidaklengkapan pengetahuan. Ketidaklengkapan pengetahuan akan


menghambat kemampuan siswa untuk memecahkan masalah matematika,
sementara itu pelajaran terus berlanjut secara berjenjang (T.Aritonang,keke,2008)

Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas


langkah-langkah tertentu yang diorentasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis
tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai diagnostik kesulitan
belajar Sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah kesultan belajar siswa, guru
sangat dianjur untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala
dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan
belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang bertujuan
menetapkan “jenis penyakit” yakni jenis kesulitan belajar siswa.(Astuty,Nurul,2012)

2.3 Konsep dan Langkah Pemikiran

Banyak langkah-langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru antara lain sebagai
berikut:
1. melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika
mengikuti pelajaran.
2. memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa, khususnya yang diduga mengalami
kesulitan belajar.
3. mewawancarai orang tua/ wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang
mungkin menimbulkan kesulitan belajar

8
4. memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat
kesulitan belajar yang dialami siswa.
5. memberikan tes kemampuan inteligensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga
mengalami kesulitan belajar.(Astuty Nurul,2012)

Strategi untuk memotivasi siswa


1. Bersemangat ketika mengajar matematika
Salah satu cara untuk meningkatkan minat siswa adalah dengan bersemangat
ketika mengajar. Siswa bisa merasakan jika guru tidak semangat mengajar, hal ini
menyebabkan siswa tidak menaruh minat pada pelajaran matematika tersebut. Namun
jika guru bersemangat dan menjadikan suasana kelas menarik, maka siswa akan lebih
termotivasi untuk mengikuti pelajaran.
2. Perhatikan celah materi yang tidak dipahami siswa
Guru sebaiknya mengetahui materi apa yang tidak dipahami siswa untuk
meningkatkan keinginan mereka belajar lebih banyak.
3. Temukan pola atau cara khusus
Guru dapat membantu siswa menemukan cara mudah memahami suatu materi
agar mereka lebih cepat mengingat suatu topik.
4. Memberi tantangan ada siswa
Memberi tantangan sangat penting untuk menciptakan antusiasme siswa dalam
belajar. Namun, guru harus memilih tantangan yang sesuai dengan kemampuan siswa.
Karena tujuan diberikan tantangan ini adalah untuk menyemangati bukan menurunkan
minat siswa.
5. Memberi contoh pengaplikasian matematika dalam dunia nyata
Contoh pengaplikasian materi di kehidupan nyata dapat guru berikan pada awal
pembelajaran. Hal ini agar siswa menjadi termotivasi terhadap materi yang akan
dijelaskan guru. Guru juga bisa membantu siswa menghubungkan matematika dengan
jenjang karir yang mereka inginkan di masa depan.
6. Ceritakan sejarah terkait
Untuk menumbuhkan ketertarikan siswa, guru bisa menambahkan sejarah terkait
materi tertentu yang sedang diajarkan di kelas. Cara ini bisa memotivasi siswa dan
mengasah rasa keingintahuan siswa, misalnya simbol akar (√ ) yang ditemukan oleh
seorang matematikawan bernama Christoff Rudolff.

9
7. Menggabungkan teknologi dalam kegiatan belajar
Kedekatan anak-anak dengan teknologi dapat guru manfaatkan untuk
menambah semangat belajar mereka. Apalagi saat ini, banyak aplikasi yang bisa
membantu siswa belajar dan memahami matematika. (Saifudin,Abdul,2012)

Alasan mengapa banyak siswa yang tidak suka pelajaran matematika ( Saifuddin,Abdul,2012 )

1. Guru yang membosankan


2. Jawabannya sudah jelas: Kalau nggak SALAH, ya BENAR!
3. Tidak ada jalan ceritanya, yang ada hanya angka dan angka
4. Ada banyak rumus untuk memecahkan soal sederhana
5. Tidak tahu fungsi dan korelasi satu sama lain
6. Tidak bisa dihapalkan
7. Gampang nyerah
8. Terpengaruh omongan hater Matematika
9. Takut disalahkan jika berbuat salah
10. Sulit dipahami

10
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN


Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 6 Medan Jalan Ansari No.
34 Medan, tepatnya kami mengambil sampel dari kelas XII MIA 2, yang kami teliti
pada tanggal 30 September 2018, pada jam peljaran ke 5 pukul 10.45-11.15 WIB.

3.2 SUBJEK PENELITIAN


Yang menjadi subjek penelitian ialah siswa/I kelas XII MIA 2 SMA Negeri 6
Medan.

3.3 TEKNIK PENGAMBILAN DATA


Teknik pengambilan data pada penelitian ini menggunakan metode
penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang
bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Dalam penelitian
kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data. Sehingga pada penelitian
ini kami menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu dengan cara
memberikan angket kepada koresponden.

3.4 INSTRUMEN PENELITIAN


Instrumen penelitian ini menggunakan metode yaitu metode penelitian
kulitatif yang digunakan untuk mengembangkan penelitian dengan cara
memberikan angket kepada responden untuk mengetahui kesulitan apasaja yang
dihadap para siswa dalam belajar matematika dan tanggapan mereka tentang
matematika.

11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Hasil Survey

Dari hasil survey 39 sampel siswa kelas XII MIA 2 SMA Negeri 6 Medan,
kami memperoleh data yang menunjukkan bahwa masih besar kendala dan kesulitan
siswa dalam memahami pelajaran matematika dikarenakan faktor penyebab yang
beragam, dengan mengambil tindakan terhadap apa yang mereka lakukan dalam
menghadapi pelajaran matematika ini namun masih ada beberapa siswa yang tidak
masalah dengan pelajaran matemtika. Dari sinilah dapat ditarik kesimpulan singkat
bahwasannya masih besarnya kesulitan siswa dalam belajar matematika.
Berdasarkan penyebaran angket yang kami lakukan kepada 39 orang siswa, didapat

NO PERNYATAAN SS S KS TS
1 Siswa selalu semangat ketika sedang belajar 41,02% 35,89% 5,12% 0%
matematika di kelas
2 Siswa selalu mencontek dengan teman ketika 0% 10,25% 76,92% 10,25%
mendapat tugas matematika oleh guru
3 Siswa selalu memperhatikan ketika guru 58,97% 25,645 15,38% 5,12%
matematika menjelaskan
4 Siswa membaca materi pelajaran sebelum 15,38% 56,41% 23,07% 5,12%
diajarkan oleh guru matematika
5 Siswa memiliki potensi dalam pelajaran 12,82% 69,23% 17,94% 0%
matematika
6 Siswa sukar memahami contoh soal yang 12,82% 33,33% 41,02% 12,82%
dijelaskan guru
7 Siswa dapat menyelesaikan latihan soal 5,12% 23,07% 64,10% 7,69%
sebelum mendapatkan materi dengan hanya
melihat contoh dibuku

8 Siswa dapat menyelesaikan latihan soal setelah 43,58% 46,15% 10,25% 0%


mendapatkan materi dari guru matematika

12
9 Siswa suka belajar kelompok daripada 43,58% 28,20% 23,07% 7,69%
individu dalam menyelesaikan soal-soal
matematika
10 Siswa merasa perlu mendapatkan pelajaran 61,53% 33,33% 12,82% 0%
matematika tambahan selain dari sekolah
11 Siswa merasa takut dengan pelajaran 17,94% 10,25% 35,89% 38,46%
matematika
12 Siswa tidak suka dengan pelajaran matematika 0% 5,12% 35,89% 51,28%

13 Siswa harus mendapat suasana kelas yang


kondusif terlebih dahulu agar mudah 84,61% 7,69% 2,56% 0%
menyerap pelajaran matematika
14 Siswa mudah dalam menjawab pertanyaan 7,96% 56,41% 35,89% 0%
yang diajukan oleh guru matematika
15 Siswa merasa kesulitan dalam menjawab soal 0% 38,46% 61,53% 0%
ujian matematikasetelah habis satu babmateri
16 Siswa merasa senang belajar matematika 12,82% 19,76% 48,71% 25,64%
karena guru bidang studinya bukan
pelajarannya
17 Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya 51,28% 20,51% 2,56% 0%
saat merasa ada yang belum dimengerti
18 Siswa mendapat hukuman jika tidak dapat 2,56% 28,20% 41,02% 28,20%
menjawab soal dengan benar
19 Siswa lebih mengerti penjelasan oleh teman 0% 15,38% 66,66% 17,94%
daripada penjelasan guru bidang studi
20 Siswa mendapat bantuan dari guru jika 56,41% 41,02% 2,56% 0%
mengalami kesulitan dalam pembelajaran
matematika
21 Siswa mendapatkan fasilitas yang cukup dari 58,97% 23,07% 64,10% 5,12%
orang tua untuk belajar matematika
22 Siswa sering mengikuti remedial karena nilai 15,38% 46,15% 10,25% 0%
matematika tidak mencapai KKM
23 Siswa sukar dalam menghitung penyelesaian 0% 28,20% 23,07% 12,82%
dari soal matematika

13
24 Siswa kurang paham jika masuk pelajaran 2,56% 33,33% 12,82% 7,69%
matematika di jam siang
25 Siswa bertanya dan berdiskusi dengan teman,
baik didalam maupun diluar kelas ketika tidak 5,28% 10,25% 35,89% 33,33%
mengerti materi dan soal matematika yang
diajarkan
26 Siswa sangat sulit memahami materi pelajaran 0% 15,12% 35,89% 56,21%
matematika
27 Siswa selalu mencatat dengan rapi materi 46,15% 37,69% 28,56% 0%
pelajaran matematika yang diajarkan oleh guru
28 Siswa mempunyai buku pegangan matematika 38,46% 26,41% 24,89% 12,82%
selain buku paket yang diberikan oleh pihak
sekolah
29 Siswa mengerjakan soal matematikan hanya 61,53% 33,33% 12,82% 0%
ketika disuruh oleh guru saja
30 Siswa mengulangi pelajaran matematika yang 28,20% 56,41% 15,38% 0%
baru saja disampaikan sepulang dari sekolah

Setelah kami kalkulasikan di dapatlah hasil seperti itu di setiap pertanyaan


sesuai dengan apa yang sampel kami isi.

4.2 Pembahasan
Matematika adalah salah satu pengetahuan tertua dan dianggap sebagai induk
atau alat dan bahasa dasar banyak ilmu. Matematika terbentuk dari penelitian bilangan
dan ruang yang merupakan suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri dan tidak
merupakan cabang dari ilmu pengetahuan alam. Dalam belajar matematika diperlukan
pemahaman dan penguasaan materi terutama dalam membaca simbol, tabel dan
diagram yang sering digunakan dalam matematika serta struktur matematika yang
kompleks, dari yang konkret sampai yang abstrak, apalagi jika yang diberikan adalah
soal dalam bentuk cerita yang memerlukan kemampuan penerjemahan soal ke dalam
kalimat matematika dengan memperhatikan maksud dari pertanyaan soal tersebut.

14
Jadi, hal yang ingin dicapai dalam mempelajari pelajaran matematika adalah
sebagai media atau sarana siswa dalam mencapai kompetensi. Dengan mempelajari
materi matematika diharapkan siswa akan dapat menguasai seperangkat kompetensi
yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, penguasaan materi matematika bukanlah tujuan
akhir dari pembelajaran matematika, akan tetapi penguasaan materi matematika
hanyalah jalan mencapai penguasaan kompetensi. Fungsi lain mata pelajaran matematika
sebagai: alat, pola pikir, dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut
hendaknya dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah.
Setelah data-data mengenai implementasi pelajaran matematika di SMA
NEGERI 6 MEDAN terkumpul, maka langkah selanjutnya yaitu menganalisis terhadap
data-data tersebut. Pada bab ini, akan menganalisis data hasil penelitian yang
dilaksanakan di SMA NEGERI 6 MEDAN.
Dari hasil presentase di atas, kita telah megetahui bahwa beberapa siswa kelas
XII MIA 2 SMA NEGERI 6 MEDAN ini terkadang masih mengalami kesulitan dalam
memahami pelajaran matematika. Seperti kita lihat pada pernyataan “siswa sukar
memahami contoh”, masih ada beberapa siswa yang memilih sangat setuju dan setuju
yaitu 12, 82 % dan 33, 33 %. Sama seperti pada pernyataan “siswa dapat menyelesaikan
latihan soal sebelum mendapatkan materi dengan hanya melihat contoh dibuku” banyak
siswa memilih kurang setuju padahal kerap sekali sebelum pulang sekolah guru
mengatakan untuk membaca buku dan memahami beberapa contoh soal di rumah, begitu
pada kesulitan- kesulitan lainnya.
Dalam hal tersebut, kita atau guru seharusnya dapat melihat permasalahan yang
dialami siswa ini dan membantunya dalam mengerjakan atau memudahkannya dari
kesulitan yang sering siswa dapati. Sebagai guru dalam membantu siswa untuk
mempermudah dalam pelajaran matematika, dapat melakukan hal- hal berikut.
- Memberikan apersepsi materi matematika;
- Memvisualkan konsep matematika;
- Pembelajaran berbasis masalah (seperti menyelesaikan soal cerita)

15
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah kami peroleh melalui perhitungan
persen setiap jawaban yang diberikan siswa pada angket yang kami berikan, kami
menyimpulkan bahwa masih terdapat beberapa kesulitan yang dialami oleh sebagian
siswa dalam menghadapi mata pelajaran matematika. Kami juga menemukan bahwa
kesulitan yang dialami oleh siswa tidak hanya berasala dari dalam dirinya (faktor
internal) seperti kurang mampunya dalam mengerjakan soal ataupun kuramg mampu
memahami materi mata pelajaran matematika, akan tetapi kendala yang dihadapi oleh
sebagian siswa tersebut juga berasal dari guru bidang studi dan juga faktor lainnya
yang berasal dari luar diri siswa tersebut (faktor eksternal).

5.2 SARAN
Saran kami, sebagai seorang pendidik kita harus mampu memperhatikan setiap
kendala yang dihadapi oleh siswa yang kita ajara mata bidang studi yang kita bawa.
Tidak hanya itu, kita juga harus mencari jalan keluar atas setiap kendala yang
dihadapi oleh para siswa, agar siswa yang mengalami kendala pada satu mata
pelajaran yang kita bawakan akan mampu mengerti akan setiap materi pembelajaran
yang ada. Sebagai seorang calon pendidik kami juga menyarankan untuk kita semua
agar kelak mampu menjadi pendidik yang cermat dan mampu memperhatikan
kesulitan yang terjadi pada peserta didik yang akan kita hadapi kelak di masa yang
akan datang.

16
Rekayasa Ide

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Rasionalisasi Kesulitan Siswa dalam Belajar Matematika


Matematika merupakan suatu pelajaran yang wajib diikuti sejak kita mulai
dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Meskipun demikian, selain dipelajari
pada jenjang sekolah matematika juga dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat tidak akan pernah bisa terlepas dari konsep-konsep perhitungan walaupun
sesederhana mungkin. Dari kebutuhan hidup bermasyarakat inilah maka pelajaran
matematika selalu diadakan dihampir semua jurusan sekolah.

Pada materi matematika selalu diajarkan sesuai dengan tingkat perkembangan.


Mulai dari dasar matematika menuju kepada materi yang lebih spesifik atau
lebih rumit. Ini dilakukan karena setiap materi matematika akan memiliki hubungan
yang erat untuk setiap jenjang materi berikutnya. Sehingga akan mengalami kesulitan
pada tingkatan yang lebih tinggi apabila pada tingkatan sebelumnya tidak memahami
dengan benar. Menurut Paridjo bahwa pelajaran matematika haruslah bertahap dan
berurutan serta berdasarkan pada pengalaman yang lalu.

Sedangkan pada sudut pandang yang lain bahwa matematika merupakan


pelajaran yang sangat sulit. Ini yang membuat siswa sulit untuk dapat tertarik atau
dengan senang hati mempelajari matematika. Pemahaman yang salah ini sudah turun
temurun sehingga sebagian besar siswa mengalami ketakutan apabila mendapatkan
pelajaran matematika. Siswa akan merasa terbeban dengan adanya pelajaran
matematika sedangakan syarat untuk dapat mudah memahami materi adalah
ketertarikan terhadap materi tersebut.
Dengan sulitnya siswa memahami dan memajukan kemampuan dalam
pelajaran matematika maka sebagai pendidik guru harus dapat melihat permasalahan
yang dihadapi. Guru harus mampu melihat permasalahan ini dari beberapa
sudut pandang. Tidak hanya pada siswa tetapi harus dari pihak guru tersebut atau dari
sekolah yang merupakan sebagai lembaga pembelajaran.

1.2 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui kesulitan siswa dalam belajar matematika
2. Mengetahui solusi alternative untuk menyelesaiakan permasalahan mengenai
kesulitan siswa dan guru
3. Mengetahui tindak lanjut guru dan sekolah dalam mengatasi permasalahan mengenai
kesulitan siswa dan guru

17
1.3 Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapat bagi pembaca yaitu dapat mengetahui solusi yang tepat
agar tidak kesulitan lagi dalam belajar matematika, dengan mengikuti langkah-langkah
yang telah ditemukan oleh kelompok kami.

18
BAB II
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

2.1 Permasalahan Umum Kesulitan siswa belajar matematika


Tidak jarang ketika guru memberikan materi pelajaran, banyak siswa yang
tidak semangat, konsentrasi rendah, kantuk atau sibuk dengan pikirannya sendiri yang
membuat mereka tidak mengerti tentang pelajaran yang diberikan oleh guru di kelas.
Saat ujian tiba, anak mendapatkan nilai yang jelek yang secara tidak langsung membuat
nama baik guru di sekolah turun karena dianggap tidak bisa menyampaikan materi
pelajaran dengan baik dan mudah dipahami oleh siswa. Apalagi ketika pelajaran
matematika sangat rawan rasanya jika melewati setiap penjelasan yang diajarkan guru.

Hal ini disebabakan bukan karena siswa tidak memiliki kemampuan dalam
menyerap materi pelajaran yang guru berikan di kelas. Hanya saja, metode belajar yang
diberikan kepada siswa yang kurang tepat dan kemauan dari siswa tersebut dalam
belajar. Metode belajar yang tidak bisa menarik minat dan perhatian siswa untuk mau
fokus dan memahami pelajaran yang anda berikan. Banyak kasus, siswa tidak fokus pada
pelajaran yang seharusnya mereka pahami namun ketika mereka belajar matematika
seakan-akan matematika itu seperti hewan buas yang membuat mereka ketakutan.

Masalah seperti ini banyak dialami oleh para guru dan siswa. Bila guru bisa
memberikan metode belajar yang tidak monoton, yang menuntut siswa untuk
menggunakan kemampuan otak dan gaya belajarnya akan sangat memudahkan siswa
dalam memahami pelajaran matematika. Apalagi, dengan metode belajar yang tepat,
siswa bisa menyerap materi pelajaran dengan baik yang nantinya akan mereka tunjukkan
dengan menjawab pertanyaan yang diberikan saat ujian dengan baik.

Dengan metode belajar yang bisa memanfaatkan kemampuan, kreativitas dan


memudahkan siswa dalam menyerap satu pelajaran, jelas sangat menguntungkan kedua
belah pihak. Siswa mengerti dan paham dengan apa yang anda sampaikan dan guru
sukses dengan target yang telah ditetapkan oleh kurikulum sekolah. Selain itu guru
matematika hendaknya memberikan metode pembelajaran yang kreatif agar siswa
mengerti dengan materi yang disampaikan.

19
BAB III
SOLUSI DAN PEMBAHASAN

Dalam pembelajaran di kelas siswa merupakan subjek yang diharuskan untuk


menemukan konsep dan pemahaman mengenai suatu materi matematika sehingga dapat
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan matematika. Namun kenyataannya siswa
masih banyak mengalami kesulitan untuk memahami matematika. Askury (1999:136)
menyatakan bahwa kesulitan belajar merupakan suatu gejala atau kondisi proses belajar
mengajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai tujuan
belajar. Kadang kala hambatan-hambatan ini disadari oleh siswa sendiri. Kesulitan belajar
matematika siswa diantaranya:

1. Siswa Kurang Memahami Konsep Dasar Matematika


Siswa yang kurang memahami konsep dasar matematika memiliki beberapa
macam kondisi seperti lupa, belum memahami penjelasan guru, atau tidak memahami istilah
atau symbol matematika sehingga kurang memahami soal. Dalam hal ini, kurangnya
memahami konsep dasar matematika diasumsikan bahwa kondisi siswa adalah telah
menerima penjelasan materi dari guru namun belum memahami dengan baik materi karena
berbagai alasan.
Kesulit belajar siswa dapat disebabkan karena beberapa hal diantaranya:
a) siswa kurang mampu mengingat kondisi/situasi tertentu;
b) siswa kurang mampu memahami arti istilah matematika;
c) siswa kurang mampu mengingat kondisi tertentu untuk menyelesaikan masalah;
d) siswa kurang mampu membuat generalisasi masalah;
e) siswa kurang mampu menentukan istilah suatu objek (Menurut Sujono, 1984).
a) Siswa Kurang Mampu Mengingat Nama Singkat Suatu Situasi
Kesulitan siswa dalam belajar matematika dapat disebabkan kerena siswa kurang
memahami dan mengingat nama kondisi atau situasi yang berkaitan dengan matematika.
contoh permasalahan ini adalah kondisi pada persamaan garis lurus. Siswa akan bingung
mengenai kondisi garis berpotongan di satu atau dua titik,hubungan dua garis yang saling
tegak lurus, atau dua garis yang saling sejajar.
b) Siswa Kurang Mampu Menyatakan Arti Istilah dalam Suatu Konsep
Pada materi matematika terdapat beberapa istilah yang perlu diingat siswa
diantaranya berbagai sifat asosiatif, komutatif, atau distributive. Beberapa siswa mengalami
kesulitan untuk mengingat sifat ini atau menggunakan sifat ini dalam penyelesaian masalah.
c) Siswa Kurang Mampu Mengingat Satu atau Lebih Kondisi Tertentu untuk
Menggunakan Konsep
Ketidakmampuan siswa mengingat satu atau lebih kondisi yang diharuskan (syarat
perlu) untuk berlakunya suatu sifat tertentu membuat siswa bingung untuk menetapkan solusi
permasalahan. Misalnya dalam mempelajari pengertian fungsi, bahwa fungsi adalah suatu
relasi khusus bila dua anggota domain maka komponen rangemerupakan syarat cukup untuk

20
suatu fungsi atau siswa tidak mampu membedakan antara yang contoh dan bukan
contoh. Disini siswa gagal mengklasifikasikan mana contoh dan mana yang bukan contoh.
d) Siswa Kurang Mampu Membuat Generalisasi.
Pengarahan yang dilakukan guru untuk menuju konsep matematika dapat diupayakan
dengan berbagai cara diantaranya bertanya, membuat contoh permasalahan, atau menyajikan
beberapa contoh soal yang akan digeneralisasikan pada permasalahan yang konsepnya sama.
Namun, beberapa siswa mengalami kesulitan dalam membuat generalisasi berdasarkan suatu
situasi tertentu. Sebagai contoh, misalnya siswa tidak dapat menyimpulkan bahwa diagonal
suatu belah ketupat berpotongan tegak lurus dan belah ketupat terdiri dari dua segitiga
samakaki.

2. Kurang Keterampilan dalam Proses Aritmatika


Proses aritmatika merupakan kegiatan yang mengolah angka-angka dalam operasi
penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Bilangan yang dioperasikan dapat
berupa bilangan bulat positif, bilangan bulat negative, dan pecahan. Dalam hal ini kurang
terampilnya siswa dalam proses aritmatika mengacu pada ketidak mampuan untuk melakukan
operasi bilangan-bilangan secara cermat dan tepat.
3. Kesulitan Menyelesaikan Soal Cerita
Soal cerita biasanya disajikan dengan kalimat panjang yang menjelaskan kondisi atau
kejadian tertentu. Kadang kala soal cerita memuat permasalahan yang biasa dihadapi sehari
hari oleh siswa atau berupa permasalahan nyata. Dalam menyelesaikan soal cerita, siswa
dituntut untuk menganalisis permasalahan, berfikir secara sistematis, dan menuliskan dalam
bentuk symbol matematika kemudian menyelesaikannya.
Siswa banyak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita diantaranya
(Soegiono, 1984;214): a) ketidakmampuan memahami konsep dengan benar; b)
ketidakmampuan menggunakan data; c) ketidakmampuan memahami cerita; d) ketidak
cermatan melakukan operasi hitung; dan e) ketidakmampuan dalam menarik kesimpulan.
Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai kesulitan belajar siswa dalam
menyelesaikan soal cerita.
a) Siswa Kurang Mampu Memahami Konsep dengan Benar
Dalam proses pembelajaran di kelas, siswa cenderung menyelesaikan permasalahan
yang bersifat abstrak dengan menggunakan sifat atau aturan rumus tertentu. Namun pada soal
cerita, permasalahan yang disajikan merupakan uraian suatu kejadian yang masih perlu
diamati dan dianalisis. Oleh karena hal tersebut, banyak siswa mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan soal cerita. Hal penting lainnya yang juga mengakibatkan kesulitan siswa
dalam menyelesaikan soal cerita adalah siswa kurang mampu memahami konsep materi yang
berkaitan dengan penyelesaian soal cerita. Kurang pahamnya siswa terhadap konsep yang
diperlukan untuk menyelesaikan soal cerita membuat siswa bingung dan tidak dapat
memutuskan rumus yang digunakan.
b) Siswa Kurang Mampu Menggunakan Data

22
Dalam menyelesaikan soal cerita siswa perlu memahami informasi apa caja yang
telah diberikan dan apa tujuan keberadaan informasi tersebut. Dalam hal ini siswa harus
pandai dan cermat mengelola data-data yang diberikan sehingga dapat menentukan dengan
tepat penyelesaiannya. Beberapa siswa yang mengalami kesulitan untuk mengolah data akan
bingung menentukan variable yang dicari, informasi lain yang dapat diperoleh, dan kesalahan
dalam menggunakan data itu sendiri.
c) Siswa Kurang Mampu Memahami Cerita
Pada soal cerita yang disajikan, penjelasan yang diberikan dalam alur cerita perlu di
rubah dalam kalimat matematika yang memuat symbol-simbol matematika. kesalahan dalam
memahami soal cerita mengakibatkan kesalahan dalam membuat kalimat matematika dari
permasalahan yang diberikan.
d) Siswa Kurang Cermat dalam Melakukan Operasi Hitung
Kemampuan siswa dalam membuat kalimat matematika harus diimbangi dengan
kecermatan operasi aritmatika sehingga perhitungan yang dilakukan dapat tepat dan benar.
Menyelesaikan soal cerita akan banyak menggunakan manipulasi rumus atau konsep tertentu.
Oleh karena hal tersebut, jika siswa kurang cermat dalam melakukan operasi aritmatika,
siswa dapat melakukan kesalahan pada proses perhitungan atau tidak melakukan perhitungan
tertentu sehingga selesaian yang diperoleh salah atau tidak muncul.
e) Siswa Kurang Mampu dalam Menarik Kesimpulan
Penyelesaian soal cerita tidak akan tepat dan benar tanpa adanya simpulan dari
permasalahan tersebut. Simpulan dapat diartikan sebagai hasil akhir atau pembuktian rumus
tertentu dari permasalahan yang diberikan. Kurang mampunya siswa menyimpulkan hasil
pencarian dapat disebabkan karena kurang pahamnya siswa terhadap konsep matematika.

Alternatif Solusi
Solusi Mengatasi Kesulitan Siswa dalam Belajar Matematika
a. Kurangnya siswa dalam memahami konsep dasar matematika dapat diatasi
dengan memberikan
1) Guru memberikan Apersepsi Materi
Pada kegiatan pembelajaran guru hendaknya mengawali dengan apersepsi,
yaitu mengingatkan siswa mengenai materi dasar yang terkait dengan materi yang
akan dipelajari. Dalam hal ini guru juga dapat memberikan suatu permasalahan untuk
memancing siswa berfikir kreatif.
2) Guru memvisualkan konsep matematika
Terkait dengan permasalahan matematika yang perlu dipahami siswa, banyak
symbol dan istilah yang tidak dimengerti oleh siswa. Dalam permasalahan ini guru
perlu membantu siswa memvisualkan makna istilah istilah tersebut. Sebagai contoh,
dalam materi persamaan garis lurus, guru dapat menggunakan media gambar untuk
menunjukkan perpotongan dua garis, hubungan garis yang saling sejajar, tegak lurus,
atau berhimpit.

22
3) Pembelajaran berbasis masalah
Untuk menanamkan konsep matematika kepada siswa, perlu adanya
pembelajaran berbasis masalah, yaitu pembelajaran yang menyajikan masalah sehari
hari yang berkaitan erat dengan konsep yang akan diajarkan. Dalam penyajian
permasalahan ini siswa diharapkan dapat menemukan konsep matematika dengan
usaha berfikir kritis. Peneluan siswa akan memberikan kesan pembelajaran sehingga
siswa tidak mudah lupa terhadap konsep yang telah ditemukan.
4) Kurang terampil dalam proses aritmatika
Kurangnya keterampilan siswa untuk mengoperasikan proses aritmatika dapat
diatasi dengan memberikan berbagai latihan soal. Latihan soal ini dimaksudkan
untuk melatih kecermatan, ketepatan, dan kecepatan siswa dalam melakukan operasi
hitung atau aritmatika.
5) Menyelesaikan soal cerita
Dalam mengatasi kesulitan belajar siswa untuk menyelesaikan soal cerita
perlu dilakukan dengan berbagai langkah. Soal cerita mengaitkan
berbagai keterampilan siswa dalam menyelesaikan permasalahan seperti,
pemahaman masalah, membuat kalimat matematika, melakukan operasi aritmatika,
dan manyimpulkan hasil penggunaan data.
Hal yang sangat awal perlu diberikan kepada siswa suapaya tidak terjadi
kesulitan menyelesaikan soal cerita adalah pemahaman konsep kepada siswa.
Pemahaman konsep yang baik oleh siswa akan membantunya memahami
permasalahan yang diberikan. Pemahaman tentang permasalahan yang akan
diselesaikan dapat membantunya mensimbolkan atau membuat kalimat matematika
dari data yang diberikan. Selanjutnya siswa dapat melakukan operasi aritmatika
sesuai dengan kalimat matematika yang telah dibuat kemudian menyimpulkannya.
Dalam menyimpulkan siswa harus dapat memahami bahasan konsep dan soal cerita
yang berikan. Untuk memahami soal cerita guru dapat melatih siswa dengan
membaca kalimat per-kalimat dan menuliskan informasi dari setiap kalimat pada soal
cerita.

Tindak Lanjut yang Perlu Dilakukan oleh Guru dan Sekolah


1. Tindak Lanjut oleh Guru
Sebagai upaya pencapaian nilai ketuntasan minimal yang perlu dicapai siswa dalam
proses pembelajaran, guru dapat memberikan program remedial. Program remedial ini
bertujuan untuk memberikan kesempayan siswa untuk belajar kembali sehingga mencapai
nilai ketuntasan yang telah ditetapkan.
Selain memberikan remedial pada siswa yang belum tuntas mncapai nilai minimal,
guru dapat meberikan soal pengayaan pada siswa lainnya yang telah tuntas mencapai nilai
minimal. Pemberian remedial dan soal pengayaan merupakan tindak lanjut guru untuk
mengetahui perkembangan siswa dalam mengatasi kesulitan belajarnya.

23
Hal lain yang perlu dilakukan guru adalah melakukan pendekatan personal kepada
siswa yang masih belum memahami materi atau sangat lambat memahami materi. Dengan
pendekatan personal siswa dapat merasa aman dan tidak malu untuk bertanya atau
mengutarakan pendapatnya.

2. Tindak lanjut oleh sekolah


Beberapa hal yang dapat dilakukan sekolah adalah sebagai berikut:
a. Memberikan Pelatihan untuk guru: dalam upaya untuk meningkatkan kualitas guru
dalam mengajar, sekolah perlu memberikan pelatihan, workshop, atau
agendasharing sehingga guru dapat menambah wawasannya.
b. Membuka kelas khusus: kelas ini ditujukan bagi siswa yang belum mencapai nilai
ketuntasan minimal. Dengan adanya kelas ini siswa diberikan kesempatan untuk belajar
dan meningkatkan kemampuan diri.
c. Menyediakan fasilitas penunjang pembelajaran di kelas seperti LCD proyektor.
d. Mengadakan komunikasi dengan orang tua siswa sehingga guru, sekolah, dan orang tua
dapat bekerja sama meningkatkan kemampuan siswa.
e. Menyediakan fasilitas konseling untuk siswa bermasalah dalam kesulitan belajar.

24
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari solusi dan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat kami simpulkan
bahwa untuk mengatasi kesulitan siswa dalam belajar perlu adanya dorongan dari
siswa itu sendiri dan dukungan dari guru bidang studi, dengan memebrikan pengarahan
dan metode belajar yang kreatif agar tidak membuat siswa bosan,dan kurang untuk
memahami pelajaran matematika.

4.2 Saran
Saran yang dapat kami sampaikan kepada para siswa agar mengikuti setiap
arahan dari guru,dan menciptakan posisi yang nyaman cara belajarnya seperti yang
mereka inginkan agar terhindar dari kesulitan belajar matematika.

25
DAFTAR PUSTAKA

Untari,Erni.2013.Diagnosis Kesulitan Belajar Pokok Bahasan Pecahan Pada Siswa Kelas V


Sekolah Dasar.Jurnal Ilmiah STKIP PGRI Ngawi.13(1).1-5
T. Aritonang, Keke. 2008. Minat dan Motivasi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa.
Jurnal Pendidikan Penabur.10(1).11-17
Kirna,dkk. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif TGT Terhadap Prestasi Belajar
Matematika Ditinjau dari Motivasi Berprestasi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2
Semarapura Tahun Pelajarn 2012/2013. Jurnal Program Pascasarjana Universitas
Pendidikan Ganesha. 3(2).13-20
Astuty,Nurul. 2012. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non
Examples dengan Menggunakan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa di Kelas VIII SMP N 1 Argamakmur.Jurnal Exacta.10(1).24-32
Saefudin,Abdul Aziz.2012.Pengembangan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam
Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik
Indonesia (PMRI). Jurnal Al-Bidayah.4(1).37-44
LAMPIRAN

I. BERITA ACARA

Berdasarkan pengerjaan tugas mini riset ini kami membagi menjadi


beberapa penyelesaian tugas antara lain

Adinda Sahira : 1. Membuat angket


2. Membuat format mini riset dan rekayasa ide
3. Membuat kesimpulan dan saran rekayasa ide
4. Mengedit tugas mini riset
5. Menghitung angket

Asrifah Siahaan : 1. Mencari referensi melalui jurnal


2. Membuat tinjauan pustaka
3. Menghitung angket

Beatrix Anella : 1. Membuat pembahasan dari data


2. Menghitung angket

Dewi Maya Sembiring : 1. Membuat hasil dan pembahasan


2. Menghitung Persentase angket
3. Membuat Kesimpulan dan saran mini riset
II. ANGKET
Angket Mengenai Kesulitan Siswa dalam Belajar Matematika
Petunjuk Pengisian Angket :

1. Isilah identitas anda dengan lengkap


2. Silahkan membaca dan memahami setiap pernyataan dalam angket ini
Pilihlah salah satu jawaban yang anda paling sesuai dengan keadaan diri anda dengan
memberikan tanda ceklis ( √ ) pada :

SS : Sangat Setuju
S : Setuju
KS : Kurang Setuju
TS : Tidak Setuju
3. Dalam memberikan jawaban tidak ada jawaban yang salah, semua jawaban benar dan
dapat kami terima sepanjang sesuai dengan keadaan diri anda yang sebenarnya.
4. Anda diharapkan menjawab semua pernyataan yang ada, jangan sampai ada yang
terlewati
5. Sebelum angket ini dikembalikan, periksalah kembali sampai anda yakin bahwa
angket sudah dijawab semua.
6. Anda tidak perlu khawatir, kerahasiaan jawaban anda kami jamin
7. Hasil angket ini tidak akan mempengaruhi kedudukan dan evaluasi kerja anda, tetapi
hanya untuk kepentingan penelitian saja
8. Sebelum menjawab bacalah pernyataan di bawah ini dengan seksama.

Nama :

Kelas :

NO PERNYATAAN SS S KS TS
1 Siswa selalu semangat ketika sedang belajar matematika di kelas
2 Siswa selalu mencontek dengan teman ketika mendapat tugas
matematika oleh guru
3 Siswa selalu memperhatikan ketika guru matematika
menjelaskan
4 Siswa membaca materi pelajaran sebelum diajarkan oleh guru
matematika
5 Siswa memiliki potensi dalam pelajaran matematika

6 Siswa sukar memahami contoh soal yang dijelaskan guru

7 Siswa dapat menyelesaikan latihan soal sebelum mendapatkan


materi dengan hanya melihat contoh dibuku
8 Siswa dapat menyelesaikan latihan soal setelah mendapatkan
materi dari guru matematika
9 Siswa suka belajar kelompok daripada individu dalam
menyelesaikan soal-soal matematika
10 Siswa merasa perlu mendapatkan pelajaran matematika
tambahan selain dari sekolah
11 Siswa merasa takut dengan pelajaran matematika

12 Siswa tidak suka dengan pelajaran matematika

13 Siswa harus mendapat suasana kelas yang kondusif terlebih


dahulu agar mudah menyerap pelajaran matematika
14 Siswa mudah dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
guru matematika
15 Siswa merasa kesulitan dalam menjawab soal ujian matematika
setelah habis satu bab materi
16 Siswa merasa senang belajar matematika karena guru bidang
studinya bukan pelajarannya
17 Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya saat merasa ada
yang belum dimengerti
18 Siswa mendapat hukuman jika tidak dapat menjawab soal
dengan benar
19 Siswa lebih mengerti penjelasan oleh teman daripada penjelasan
guru bidang studi
20 Siswa mendapat bantuan dari guru jika mengalami kesulitan
dalam pembelajaran matematika
21 Siswa mendapatkan fasilitas yang cukup dari orang tua untuk
belajar matematika
22 Siswa sering mengikuti remedial karena nilai matematika tidak
mencapai KKM
23 Siswa sukar dalam menghitung penyelesaian dari soal
matematika
24 Siswa kurang paham jika masuk pelajaran matematika di jam
siang
25 Siswa bertanya dan berdiskusi dengan teman, baik didalam
maupun diluar kelas ketika tidak mengerti materi dan soal
matematika yang diajarkan
26 Siswa sangat sulit memahami materi pelajaran matematika

27 Siswa selalu mencatat dengan rapi materi pelajaran matematika


yang diajarkan oleh guru
28 Siswa mempunyai buku pegangan matematika selain buku paket
yang diberikan oleh pihak sekolah
29 Siswa mengerjakan soal matematikan hanya ketika disuruh oleh
guru saja
30 Siswa mengulangi pelajaran matematika yang baru saja
disampaikan sepulang dari sekolah
DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai