Anda di halaman 1dari 43

Laporan Bengkel Semester VII

PRAKTEK SISTEM DISTRIBUSI

(CATU DAYA)

OLEH:

MELINDA RISNU FEBRIANA


421 16 033

PROGRAM STUDI D4 TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, atas


berkat, rahmat, dan pertolongan-Nya sehingga laporan hasil praktek SISTEM
DISTRIBUSI (CATU DAYA) dapat terselesaikan, yang berisikan tentang segala
sesuatu yang berkaitan dengan praktek yang telah dilakukan, macam-macam alat
dan kegunaannya masing-masing, serta manfaat dari praktek itu sendiri.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak,


yang dalam hal ini instruktur dan rekan-rekan lainnya, maka dalam praktek
maupun pembuatan laporan ini tidak dapat terselesaikan dengan baik dan benar.
Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang turut mendukung, khususnya kepada dosen pembimbing (instruktur).

Penulis menyadari bahwa dalam laporan ini masih terdapat banyak


kesalahan, baik dari aspek isi, penyusunan maupun penulisan laporannya. Oleh
karena itu, penulis menyampaikan permohonan maaf dan sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan pembuatan laporan
penulis ke depannya.

Makassar, Oktober 2019

PENULIS
DAFTAR ISI

Contents
PRAKTEK SISTEM DISTRIBUSI .................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR..................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI................................................................................................................................. 3
DAFTAR GAMBAR...................................................................................................................... 4
DAFTAR TABEL .......................................................................................................................... 5
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 6
1.1 Latar Belakang........................................................................................................... 6
1.2 Ruang Lingkup ........................................................................................................... 7
1.3 Manfaat ..................................................................................................................... 7
1.4 Tujuan ....................................................................................................................... 7
BAB II TEORI DASAR ................................................................................................................. 8
2.1. Sistem Distribusi Tenaga Listrik ................................................................................. 8
2.2. Konstruksi Jaringan Distribusi ................................................................................... 9
2.3. Pentanahan Jaringan Distribusi............................................................................... 12
2.4. Pemasangan Peralatan Jaringan Distribusi ............................................................. 20
2.5. Pengujian Tahanan Isolasi Trafo ............................................................................. 27
2.6. Pemeliharaan Jaringan Distribusi ............................................................................ 30
BAB III PEMBAHASAN............................................................................................................. 35
3.1. Pemasangan Konstruksi & Jaringan JTM dan JTR ................................................... 35
3.2. Pengukuran Tahanan Pembumian .......................................................................... 37
3.3. Penarikan Penghantar ............................................................................................. 38
3.4. Pengukuran Tahanan Isolasi Transformator ........................................................... 40
BAB IV PENUTUP ..................................................................................................................... 42
4.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 42
4.2 Saran ....................................................................................................................... 43
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Alur Sistem Tenaga Listrik ........................................................................................ 8


Gambar 2 tiang listrik ............................................................................................................. 10
Gambar 3 Isolator ................................................................................................................... 10
Gambar 4 Fasa Tegangan Tanah pada Pentanahan Netral dengan Tahanan ....................... 14
Gambar 5 Gangguan fasa T ke tanah pada pentanahan netral langsung ............................. 16
Gambar 6 Pentanahan Netral Langsung (Solid) ..................................................................... 17
Gambar 7 Sistem netral tidak dketanahkan ........................................................................... 17
Gambar 8 Diagram rangkaian sebuah Megger (MegaOhm) ................................................. 28
Gambar 9 Konstruksi Megger menggunakan baterai ............................................................ 28
Gambar 10 Denah tiang distribusi bengkel............................................................................ 35
Gambar 11 TR-1 ..................................................................................................................... 36
Gambar 12 TR-2 ...................................................................................................................... 37
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Pengukuran Tahanan Pembumian Pengaman pada Tiang trafo ............................... 37


Tabel 2 Pengukuran Tahanan Pembumian Pengaman pada Tiang akhir .............................. 37
Tabel 3 Pengukuran Tahanan Isolasi ...................................................................................... 40
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai sumber energi utama, listrik telah menjadi salah satu kebutuhan
penting masyrakat. Listrik dapat dikategorikan sebagai kebutuhan sekunder
yang mendekati primer. Keberadaan listrik saat ini tidak dapat dipisahkan dari
kegiatan apapun.

Mengingat sebagai kebutuhan utama, maka ketersediaan listrik harus


dijaga baik produksi maupun pasokannya. Sehingga jaminan inilah sebagai
bagian dari ketahanan ekonomi kita harus selalu kita perhatikan. Gangguan
listrik sekecil apapun, akan berdampak buruk pada tatanan sosial ekonomi
masyarakat. Listrik merupakan urat nadi kehidupan masyarakat kita.

Jaringan distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik yang


terdekat dengan pelanggan atau beban dibanding dengan jaringan transmisi.
Sistem distribusi dibedakan atas jaringan distribusi primer dan sekunder.
Jaringan distribusi primer adalah jaringan dari trafo gardu induk (GI) ke
gardu distribusi, sedangkan sekunder adalah jaringan saluran dari trafo gardu
ditribusi hingga konsumen atau beban. Jaringan distribusi primer lebih
dikenal dengan jaringan tegangan menengah (JTM 20kV) sedangkan
distribusi sekunder adalah jaringan tegangan rendah ( JTR 220/380V ). Salah
satu peralatan utama jaringan distribusi yaitu trafo distribusi, trafo distribusi
adalah peralatan tenaga listrik yang berfungsi untuk menurunkan tegangan
tinggi ke tegangan rendah, agar tegangan yang dipakai sesuai dengan rating
peralatan listrik pelanggan atau beban pada umumnya. Untuk mencapai
performa yang maksimal, keandalan trafo distribusi harus tetap dijaga dengan
maintenance berkala dan memiliki sistem proteksi yang baik.
1.2 Ruang Lingkup

1.3 Manfaat

1.4 Tujuan

1.2.1 Modul 1

a. Menjelaskan bagian-bagian peralatan/bahan konstruksi dan jaringan


b. Menjelaskan fungsi peralatan/bahan konstruksi dan jaringan
c. Membedakan peralatan konstruksi dan jaringan JTM/JTR
d. Memasang peralatan/bahan konstruksi dan jaringan JTM/JTR

1.2.2 Modul 2

a. Menjelaskan system pembumian pengaman jaringan JTM dan JTR


b. Mengoprasikan alat ukur pembumian pengaman jaringan JTM dan JTR
c. Mengukur tahanan pembumian pengaman JTM dan JTR
d. Mahasiswa dapat memasang penghantar dan beberapa perlengkapannya
dengan baik
e. Mahasiswa dapat mengangkat an menurunkan penghantar dengan
menggunakan peralatan perangkat
f. Mahasiswa dapat mengukur tegangan isolasi

1.2.3 Modul 3

a. Mahasiswa dapat memasang peralatan trafo tiang dan perlengkapannya


dengan baik
b. Mahasiswa dapat mengangkat dan menurunkan trafo tegangan dengan
menggunakan peralatan perangkat
c. Mahasiswa dapat mengukur tegangan isolasi
d. Mahasiswa dapat memasang pentanahan trafo
BAB II

TEORI DASAR

2.1. Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Sistem Distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem


distribusi ini berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik
besar (Bulk Power Source) sampai ke konsumen.

Dari saluran distribusi primer gardu-gardu distribusi mengambil tegangan


untuk diturunkan tegangannya dengan trafo distribusi menjadi sistem tegangan
rendah, yaitu 220/380 Volt. Selanjutnya disalurkan oleh saluran distribusi
sekunder ke konsumen-konsumen. Lihat gambar 1. Dengan ini jelas bahwa sistem
distribusi merupakan bagian yang penting dalam sistem tenaga listrik secara
keseluruhan.

Gambar 1 Alur Sistem Tenaga Listrik


Dilihat dari tegangannya, unit distribusi dapat dibedakan dalam 2 macam :

a. Saluran distribusi Primer, Terletak pada sisi primer trafo distribusi,


yaitu antara titik Sekunder trafo substation (Gardu Induk) dengan
titik primer trafo distribusi. Saluran ini bertegangan 20 kV / 11,6 kV.
b. Saluran Distribusi Sekunder, Terletak pada sisi sekunder trafo
distribusi, yaitu antara titik sekunder dengan titik cabang menuju
beban. Saluran ini bertegangan 380 V / 220 V

2.2. Konstruksi Jaringan Distribusi

1. Jaringan Tegangan Menengah

Jaringan tegangan menengah berfungsi untuk menyalurkan tenaga


listrik dari pembangkit atau gardu induk ke gardu distribusi. Jaringan ini
dikenal dengan feeder atau penyulang. Tegangan menengah yang
digunakan PT. PLN adalah 12 kv dan 20 kv antar fasa (VL-L).

Kontruksi Jaringan Tegangan Menengah (JTM)

Konstruksi JTM terdiri dari :

a. Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM)


SUTM merupakan jaringan kawat tidak berisolasi dan berisolasi.
Bagian utamanya adalah tiang (beton, besi), Cross arm dan konduktor.
Konduktor yang digunakan adalah aluminium (AAAC), berukuran 240
mm2, 150 mm2, 70 mm2 dan 35 mm2.

b. Saluran Kabel Tegangan Menegah (SKTM)


Kabel yang digunakan adalah berisolasi XLPE. Kabel ini ditanam
langsung di tanah pada kedalaman tertentu dan diberi pelindung terhadap
pengaruh mekanis dari luar. Kabel tanah ini memiliki isolasi sedemikian
rupa sehingga mampu menahan tegangan tembus yang ditimbulkan.
Peralatan Kontruksi Untuk SUTM

a. Tiang Listrik

Gambar 2 tiang listrik

Tiang Listrik adalah salah satu komponen utama dari jaringan listrik
tegangan rendah dan tegangan menengah yang menyangga hantaran listrik
serta perlengkapannya tergantung dari keadaan lapangan. Adapun fungsi
tiang antara lain :

 Tiang awal / akhir


 Tiang penyangga
 Tiang sudut
 Tiang Peregang / tiang tarik
 Tiang Topang

b. Isolator

Gambar 3 Isolator
Isolator adalah alat untuk mengisolasi penghantar dari tiang listrik
atau Cross Arm. Jenis-jenis isolator yang digunakan biasanya dipakai untuk
SUTM adalah isolator tumpu. Isolator tarik biasanya dipasang di tiang tarik
atau akhir dan isolator tumpu biasanya dipasang pada tiang penyangga.

2. Jaringan Tegangan Rendah

Jaringan tegangan rendah berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik


dari Gardu Distribusi ke Konsumen tegangan rendah. Tegangan rendah yang
digunakan PT. PLN ( persero) adalah 127/220 V dan 220/380 V.

Radius operasi jaringan distribusi tegangan rendah dibatasi oleh:


• Susut tegangan yang disyaratkan.
• Luas penghantar jaringan.
• Distribusi pelanggan sepanjang jalur jaringan distribusi.
• Sifat daerah pelayanan (desa, kota, dan lain-lain).
• susut tegangan yang diijinkan adalah + 5% dan – 10 %, dengan radius
pelayanan berkisar 350 meter.

Saat ini transmisi SUTR pada umumnya menggunakan penghantar Low


Voltage Twisted Cable (LVTC).

Konstruksi Jaringan Tegangan Rendah (JTR) Konstruksi JTR terbagi atas :


a. Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR)
SUTR merupakan jaringan kawat yang berisolasi maupun tidak
berisolasi. Bagian utama dari SUTR kawat tak berisolasi adalah tiang listrik
(besi, beton), Cross Arm, Isolator dan penghantar Aluminium / Tembaga (Cu)

b. Saluran Kabel Udara Tegangan Rendah (SKUTR)


Kabel yang digunakan adalah jenis XLPE yang lebih dikenal dengan
nama LVTC ( Low Voltage Twisted Cable). Jenis kabel ini direntangkan di
antara tiang penyangga. Bagian utama adalah tiang, kabel dan suspension
Clamp Bracket, yang berfungsi untuk menahan kabel pada tiang. Kabel jenis
ini sekarang banyak digunakan dalam pemasangan JTR baru karena dianggap
kontruksi jenis ini lebih handal.

2.3. Pentanahan Jaringan Distribusi


Sistem pentanahan pada jaringan distribusi digunakan sebagai pengaman
langsung terhadap peralatan dan manusia bila terjadinya gangguan tanah atau
kebocoran arus akibat kegagalan isolasi dan tegangan lebih pada peralatan
jaringan distribusi. Petir dapat menghasilkan arus gangguan dan juga tegangan
lebih dimana gangguan tersebut dapat dialirkan ke tanah dengan menggunakan
sistem pentanahan.
Sistem pentanahan adalah suatu tindakan pengamanan dalam jaringan
distribusi yang langsung rangkaiannya ditanahkan dengan cara mentanahkan
badan peralatan instalasi yang diamankan, sehingga bila terjadi kegagalan isolasi,
terhambatlah atau bertahannya tegangan sistem karena terputusnya arus oleh alat-
alat pengaman tersebut. Agar sistem pentanahan dapat bekerja secara efektif,
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Membuat jalur impedansi rendah ketanah untuk pengamanan peralatan
menggunakan rangkaian yang efektif.
2. Dapat melawan dan menyebarkan gangguan berulang dan arus akibat surja
hubung (surge current)
3. Menggunakan bahan tahan terhadap korosi terhadap berbagai kondisi
kimiawi tanah.
4. Untuk meyakinkan kontiniutas penampilan sepanjang umur peralatan yang
dilindungi.
5. Menggunakan sistem mekanik yang kuat namun mudah dalam

pelayanannya.

Secara umum fungsi dari sistem pentanahan dan grounding pengaman


adalah sebagai berikut :
1. Mencegah terjadinya perbedaan potensial antara bagian tertentu dari
instalasi secara aman.
2. Mengalirkan arus gangguan ke tanah sehingga aman bagi manusia dan
peralatan.
3. Mencegah timbul bahaya sentuh tidak langsung yang menyebabkan
tegangan kejut.
4. Melindungi peralatan / saluran dari bahaya kerusakan yang diakibatkan oleh
adanya ganguan fasa ke tanah
5. Melindungi peralatan / saluran dari bahaya kerusakan isolasi yang
diakibatkan oleh tegangan lebih
6. Melindungi peralatan dari tegangan lebih

Pemilihan tipe pentanahan tergantung dari segi praktis, menjaga kontunitas


sistem, memperkecil gangguan yang lebih besar, dan kompromi keseimbangan
antara
arus dan tegangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan tipe pentanahan.
harus diperhatikan dalam pemilihan tipe pentanahan dari suatu sistem tenaga,
ialah :
1. Selektivitas dan sensitivitas dari rele gangguan tanah.
2. Pembatasan besar arus gangguan tanah.
3. Tingkat pengamanan terhadap tegangan surja dengan arester.
4. Pembatasan tegangan lebih transien.

Faktor di atas mempunyai pengaruh yang besar terhadap ke ekonomisan


sistem,
perencanaan serta tata letak dari sistem dan kontinuitas pelayanan.
Tipe pentanahan netral dari sistem-sistem tenaga adalah :
1. Pentanahan melalui tahanan (resistance grounding)

Sistem pengetanahan melalui tahanan pernah diterapkan pada


sistem 230 kV. Sistem ini mempunyai tegangan lebih transien yang
disebabkan oleh pemutusan relatif rendah. Maksud pengetanahan ini
adalah untuk membatasi arus gangguan ke tanah antara 10% sampai 25%
dari arus gangguan 3 fasa. Batas yang paling bawah adalah batas minimum
untuk dapat bekerjanya rele gangguan tanah, sedangkan batas atas adalah
untuk membatasi banyaknya panas yang hilang pada waktu terjadi
gangguan. Sistem pengetanahan melalui tahanan ini sekarang jarang
digunakan pada jaringan transmisi tetapi dipakai pada sistem distribusi,
sebagai gantinya adalah penggunaan reactor.
Untuk membatasi arus gangguan tanah, alat pembatas arus dipasang antara
titik netral dengan tanah. Salah satu dari pembatas arus ini adalah tahanan
dan tahanan ada dua yaitu metalik dan cair (liquid). Besar dan hubungan
fasa arus gangguan tergantung pada-pada harga reaktansi urutan nol dari
sumber daya dan harga tahanan dan pentanahan. Arus gangguan dapat
dipecah menjadi dua komponen yaitu yang safasa dengan tengangan ke
netral dari fasa terganggu yang lain ke tinggalan 900 Komponen yang
ketinggalan dari arus gangguan Iftg dalam, fasanya akan berlawanan arah
dengan arus kapasitip Ictg pada lokasi gangguan. Dengan pemelihan harga
tahanan pentanahan yang sesuai, komponen yang logging dari arua
gangguan dapat dibuat sama atau lebih besar dari arus kapasitif sehingga
tidak ada oscilasi transien karena dapat terjadi busur api.

Gambar 4 Fasa Tegangan Tanah pada Pentanahan Netral dengan Tahanan


Jika harga tahanan pentanahan tinggi sehingga komponen logging
dari arus gangguan kurang dari arus kasitif, maka kondisi sistem akan
mendekati sistem netral yang tidak ditanahkan dengan resiko terjadinya
tegangan lebih. Pentanahan titik netral melalui tahanan (resistance
grounding) mempunyai keuntungan dan kerugian yaitu :
a. Keuntungan
1) Besar arus gangguan tanah dapat diperkecil
1) Bahaya gradient voltage lebih kecil karena arus gangguan tanah kecil
2) Mengurangi kerusakan peralatan listrik akibat arus gangguan yang
melaluinya.
b. Kerugian
1) Timbulnya rugi-rugi daya pada tahanan pentanahan selama
terjadinya gangguan fasa ke tanah.
2) Karena arus gangguan ke tanah relatif kecil, kepekaan rele pengaman
menjadi berkurang dan lokasi gangguan tidak cepat diketahui.

2. Pentanahan melalui reaktor (reactor grounding)

Reaktor pengetanahan ini digunakan bila trafo daya tidak cukup


membatasi arus gangguan tanah. Pengetanahan ini digunakan untuk memenuhi
persyaratan dari sistem yang diketanahkan dengan pengetanahan ini, besarnya
arus gangguan ketanah di atas 25% dari arus gangguan 3 fasa. Keuntungannya
dengan mengetanahkan trafo daya adalah untuk menekan tegangan lebih
transien, sehingga trafo daya dapat menggunakan isolasi dan tipe arrester yang
lebih kecil dan mengurangi penggunaan metode pengetanahan dengan reaktor,
terutama untuk sistem-sistem di atas 115 kV.Suatu sistem dapat dikatakan
ditanahkan reatansi bila suatu impendansi yang lebih induktif, disiipkan dalam
titik netral trafo (generator) dengan tanah. Metode ini mempunyai keuntungan
dari pentanahan tahanan : Untuk arus gangguan tanah maksimum peralatan
reaktor lebih kecil dari resistor., Energi yang disisipkan dalam reaktor lebih
kecil.Dengan ketiga tegangan fasa yang dipasang seimbang arus dari masing-
masing impedansi akan menjadi sama dan saling berbeda fasa 1200 satu sama
lainnya. Secara konsekuen tidak ada perbedaan pontensial antara titik netral
dari suplai trafo tenaga.
3. Pentanahan efektif (effective grounding)

Pentanahan netral yang sederhana dimana hubungan langsung dibuat


antara netral dengan tanah

Gambar 5 Gangguan fasa T ke tanah pada pentanahan netral langsung

Jika tegangan seimbang, juga kapasitasi fasa ke tanah sama, maka


arus-arus kapasitansi fasa tanah akanmenjadi sama dan saling berbeda fasa
1200satu sama lainnya. Titik netral dari impedansi adalah pada potensial
tanah dan tidak ada arus yang mengalir antara netral impedansi terhadap
netral trafo tenaga.

4. Pentanahan tanpa impedansi/langsung (solid grounding)

Pentanahan tanpa Impedansi atau langsung. Pentanahan ini ialah


apabila titik netral trafo kita hubungkan langsung ketanah, pada system ini
bila terjadi gangguan kawat ketanah akan mengakibatkan terganggunya
kawat dan gangguan ini harus diisolasi dengan memutus Pemutus daya (
PMT / CB ). Tujuannya untuk mentanahkan titik netral secara langsung
dan membatasi kenaikan tegangan dari fasa yang tidak terganggu.
digunakan pada sistem dengan tegangan 20 kV. Sistem ini mengandalkan
nilai besarnya tahanan pentanahan (makin kecil tahanan pentanahan makin
baik) yang dipengaruhi oleh bahan dari elektroda pentanahannya
Gambar 6 Pentanahan Netral Langsung (Solid)

Kemudian selain keempat system pentanahan tersebut ada pula


system pentanahan lain yaitu:

1. Sistem Netral Tidak Diketanahkan

Gambar 7 Sistem netral tidak dketanahkan

Arus Ictg yang mengalir dari fasa yang tergangu ketanah, yang
mana mendahului tegangan fasa aslinya kenetral dengan sudut 900. Akan
terjadi busur api (arcing) pada titik ganguan karena induktansi dan
kapasitansi dari system. Tengangan fasa yang sehat akan naik menjadi
tegangan line (fasa-fasa) atau 3 kali tegangan fasa, bahkan sampai 3 kali
tegangan fasa.
Pada sistem ini bila terjadi gangguan phasa ke tanah akan selalu
mengakibatkan terganggunya saluran (line outage), yaitu gangguan harus
di isolir dengan membuka pemutus daya. Salah satu tujuan pentanahan
titik netral secara langsung adalah untuk membatasi tegangan dari fasa-
fasa yang tidak terganggu bila terjadi gangguan fasa ke tanah.
a. Keuntungan :
1) Tegangan lebih pada phasa-phasa yang tidak terganggu relatif kecil
2) Kerja pemutus daya untuk melokalisir lokasi gangguan dapat
dipermudah, sehingga letak gangguan cepat diketahui
3) Sederhana dan murah dari segi pemasangan
b. Kerugian :
1) Setiap gangguan phasa ke tanah selalu mengakibatkan terputusnya
daya
2) Arus gangguan ke tanah besar, sehingga akan dapat membahayakan
makhluk hidup didekatnya dan kerusakan peralatan listrik yang
dilaluinya.

2. Pentanahan Petersen Coil.

Kumparan petersen biasanya digunakan dalam sistem pentanahan 3


phasa untuk membatasi arus busur selama terjadinya gangguan tanah.
Kumparan ini pertama dikembangkan oleh W.Petersen pada tahun 1916.
Ketika terjadi sebuah gangguan 1 phasa ke tanah pada sistem 3 phasa yang
tidak ditanahkan, tegangan dari phasa yang terganggu berkurang sampai
tegangan tanah (0V). Gangguan ini menyebabkan 2 phasa sehat
tegangannya meningkat menjadi 3 kali tegangan semula. Peningkatan
tegangan ini menyebabkan suatu aliran arus Ic melaluikapasitansi phasa ke
tanah. Arus Ic yang meningkat 3 kali arus kapasitif normal dan mengalir
pada rangkaiannya. Ini menyebabkan pukulan pada lokasi gangguan
yangdikenal dengan busur tanah (arching ground ). Hal ini juga
menyebabkan tegangan berlebih pada sistem.
Pada hakekatnya tujuan dari pentanahan dengan kumparan Petersen adalah
untuk melindungi sistem dari gangguan hubung singkat fasa ke tanah yang
sementara sifatnya (temporary fault), yaitu dengan membuat arus
gangguan yang sekecil-kecilnya dan pemadaman busur api dapat terjadi
dengan sendirinya. Kumparan Petersen berfungsi untuk memberi arus
induksi (IL) yang mengkonpensir arus gangguan, sehingga arus gangguan
itu kecil sekali dan tidak membahayakan peralatan listrik yang dilaluinya.
Arus gangguan ke tanah yang mengalir pada sistem sedemikian kecilnya
sehingga tidak langsung mengerjakan rele gangguan tanah untuk
membuka pemutusnya (PMT) dari bagian yang terganggu. Dengan
demikian kontinuitas penyaluran tenaga listrik tetap berlangsung untuk
beberapa waktu lamanya walaupun sistem dalam keadaan gangguan
hubung singkat satu fasa ke tanah, yang berarti pula dapat memperpanjang
umur dari pemutus tenaga (PMT).
Sebaliknya sistem pentanahan dengan kumparan Petersen ini
mempunyai kelemahan, yaitu sulit melokalisir gangguan satu fasa ke tanah
yang bersifat permanen dan biasanya memakan waktu yang lama.
Gangguan hubung singkat yang permanen itu dapat mengganggu bagian
sistem yang lainnnya. Oleh karena itu hubung singkat tersebut tetap harus
dilokalisir dengan menggunakan rele hubung singkat ke tanah (Ground
fault relay).
Pentanahan titik netral melalui kumparan Petersen mempunyai
keuntungan dan kerugian yaitu :
a.Keuntungan
1) Arus gangguan dapat dibuat kecil sehingga tidak berbahaya bagi
mahluk hidup.
2) Kerusakan peralatan sistem dimana arus gangguan mengalir dapat
dihindari.
3) Sistem dapat terus beroperasi meskipun terjadi gangguan fasa ke
tanah.
4) Gejala busur api dapat dihilangkan.
b. Kerugian
1) Rele gangguan tanah (ground fault relay) sukar dilaksanakan karena
arus gangguan tanah relatif kecil.
2) Tidak dapat menghilangkan gangguan fasa ke tanah yang menetap
(permanen) pada sistem.
3) Operasi kumparan Petersen harus selalu diawasi karena bila ada
perubahan pada sistem, kumparan Petersen harus disetel (tuning)
kembali.
3) Lokasi penerapan tipe pentanahan peterson coil di PT PLN (Persero
P3B Region Jawa Barat Plengan-Lamajan

Pada sistem Tegangan Menengah sampai dengan 20 kV harus selalu


diketanahkankarena menjaga kemungkinan kegagalan sangat besar oleh tegangan
lebih transient tinggi yang disebabkan oleh busur tanah (arching ground atau
restriking ground faults). Untuk itu pentanahan yang sesuai dengan kreteria adalah
:
1. Tahanan Rendah, terutama untuk system yang dipakai mensuplai mesin-
mesin
berputar, khususnya pemakaian dalam industri.
2. Tahanan Tinggi, dengan tahanan tinggi kerusakan karena arus sangat
berkurang.
Pentanahan ini dipilih dengan tujuan :
3. mencegah pemutusan yang tidak direncanakan
4. apabila system sebelumnya dioperasikan tanpa pengetanahan dan tidak ada
rele tanah yang dipasang.
5. apabila pembatasan kerusakan karena arus dan tegangan lebih diinginkan
tetapi tidak dibutuhkan rele tanah yang selektif.

2.4. Pemasangan Peralatan Jaringan Distribusi


2.4.1. PemasanganTiang, Tiang Penopang dan Schoor.

Pekerjaan Pemasangan Tiang meliputi pembuatan galian,


pemasangan base plate, mendirikan tiang, pengurungan kembali dan
meratakan, pemadatan sisa tanah galian. Pekerjaan Pemasangan Schoor
meliputi pembuatan galian, pemasangan anchor block dan anchor rod,
span schroef, ball insulator, kawat baja dan perlengkapan lainnya sesuai
persyaratan Pekerjaan Pemasangan Tiang penopang (struut pole) meliputi
pembuatan galian, pemasangan base plate, mendirikan tiang
penopang(strutpole), memasang strut tie dan perlengkapannya.Lokasi
Lokasi Tiang, tiang penopang, tarikan angkur ditentukan oleh PLN
sesuai dengan yang ditunjukan dalam peta layout dan daftar material.
Tiang, tiang penopang, tarikan angkur tidak boleh dipasang ditempat
lain tanpa seizin Pengawas PLN. Perubahan letak atau bentuk
konstruksi dari yang dicantumkan didalam gambar hanya diperkenankan
atas seizin tertulis dari Direksi. Bila Penyedia Barang/Jasa merasa ragu-
ragu mengenai letak tiang tersebut maka harus menanyakan hal
tersebut kepada Direksi untuk mendapat kepastiannya. Penanaman
Tiang Tiang beton harus dipasang dengan hati-hati. Jika pemasangan
dengan Crane, maka rambu-rambu lalulintas harus dipasang sehingga
gangguan lalu lintas dapat dibuat seminimum mungkin. Pemasangan tiang
harus tegak lurus dan tidak boleh miring, condong dan
sebagainya.Toleransi yang diizinkan maksimum 15 cm untuk tiap 8 m
panjang tiang. Tiap-tiap pendirian tiang harus diselesaikan sekaligus.
Pengaturan arah, penegakan serta pemadatan tidak boleh ditangguhkan.
Segera setelah tiang berdiri, tiang-tiang harus diberi nomor urut
pada ketinggian lebih kurang 150 cm dari permukaan tanah dengan
mempergunakan cat minyak warna merah. Penanaman tiang (tiang besi /
tiang beton) tidak diperbolehkan pada gundukan tanah bekas galian.
Kedalaman lobang galian penanaman tiang sekurang-kurangnya seper-
enam dari panjang tiang. Diameter lobang penanaman tidak boleh
melebihi 20 cm dari diameter dasar tiang. Penimbunan kembali setelah
tiang didirikan harus dengan tanah asli atau dengan pasangan batu-batu
dan dipadatkan sedikit demi sedikit dengan alat tamping
(penumbuk). Pada tempat-tempat daerah berlumpur, penimbunan
tidak lebih kurang 15 cm, terkecuali bila tiang tersebut terletak di trotoar
dimana trotoar harus diperbaiki kembali sebagaimana keadaan semula.
Tidak diperkenankan memakai tanah bekas galian, akan
tetapi dengan mempergunakan tanah lainnya yang lebih keras.
Penimbunan sekeliling tiang harus lebih tinggi dari permukaan tanah
semula Penyedia Barang/Jasa bertanggung jawab untuk mendirikan
tiang pada satu garis lurus. Bila letak tiang keluar dari garis, maka
Penyedia Barang/Jasa harus menanyakan pada Direksi, apakah hal
tersebut diperbolehkan atau harus dipindahkan atau diluruskan. Tiang
harus didirikan tegak lurus, terkecuali tiang sudut yang harus
didirikan agak miring kearah yang berlawanan dengan beban,
sehingga setelah dipasang kawat atau menerima beban maka, puncak
tiang tersebut menjadi tegak atau sedikit agak miring. Kemiringan
tiang tersebut tidak boleh lebih dari 15 cm untuk tiap-tiap 8 meter
panjang tiang. Tiang mula/ akhir harus tegak lurus dan segaris.Fondasi
Jika diperlukan, untuk tiang jaring distribusi tegangan menengah pada
tiang penguat, percabangan, penarik dan tiang pemasang peralatan (Trafo,
Switch dan kabel termination) dipasang fondasi atau Pole Block 30 cm
di bawah permukaan tanah dan diletakkan pada tiang dengan
mempergunakan Beugel (Block Band) untuk selanjutnya ditutup
dengan pasir urug dan ditumbuk hingga padat serta rata dengan
permukaan tanah (untuk daerah yang tanahnya lunak).

2.4.2. Pemasangan cross arm, isolator dan perlengkapannya


Pekerjaan Pemasangan Konstruksi Tiang meliputi pemasangan
cross-arms, cross-arm brace U bolt pada tiang serta pemasangan
Insulator pada travers dengan perlengkapannya (termasuk ring
pen/pegas). Untuk Insulator tarik termasuk pemasangan cross-arm
clevis atau Band Strap sampai Dead End Clampnya. Pemasangan
Cross-arms Cross-arms atau Travers harus tegak lurus terhadap
tiang sesuai dengan gambar kosntruksi yang telah ditentukan.
Semua komponen besi harus digalvanis dengan cara celup
panas(hot dip). Jika diperlukan lobang pada cross-arm pada saat
pemasangan maka bekas lobang bor harus dicat dengan lapisan
anti karat, pembuatan lubang harus menggunakan bor dan tidak
diperkenankan menggunakan las listrik atau lainnya.Baut-baut double
arming, Machine bolt, eye bolt dan lain-lain, peralatan yang dipasang
pada tiang tersebut harus cukup panjangnya, sehingga mur dan kontra
murnya (nut dan locknut) sewaktumengunci/ dikuatkan mur harus
dengan sepenuhnya mengulir pada baut. Meskipun demikian baud
tidak boleh terlalu panjang lebih dari 2 inchi dari ujungmur
setelah dikuatkan. Untuk mencapai keadaan di atas harus
diusahakan baut-baut yang sesuai panjangnya dan tidak boleh
dengan jalan memotong baut tersebut terkecuali atas pertimbangan
Direksi untuk keamanan. Bila ujung baut terpaksa dipotong, maka
bekas potongan harus dicat dengan bahan cat anti karat (Rust
Prohitive Paint). Seperti misalnya pada Insulator Pin dan Double
Arming Bolts. Scope pemasangan Cross Arm termasuk pula
modifikasinya harus sedemikian rupa kuatnya sehingga bila
dilaksanakan pemasangan Konduktor, cross arm tidak boleh bergeser.
Pemasangan Isolator Isolator harus ditangani hati-hati dan sebelum
dipasang harus dibersihkan dan diperiksa keadaannya sehingga tidak
ada insulator yang cacat, retak atau pecah yang ikut terpasang. Arah
alurbagian atas (top groove) Pin Insulator atau Line Post Insulator harus
tegak lurus terhahadap cross-arm.dan diikat dengan kuat sehingga
kedudukanya tidak akan berobah setelah konduktor dipasang pada
Insulator tersebut.Mur kunci(Locknuts) dikencangkan setelahmur yang
pertama telah dikencangkan. Pemasangan / penggandengan Suspension
Insulator harus cukup baik sehingga gandengan tidak mungkin terlepas
dengan sendirinya setelah pelaksanaan penarikan/ stringing penghantar
2.4.3. Penarikan Penghantar
Penarikan penghantar dapat dilaksanakan apabila sudah ada
pernyataan dari Pengawas PLN bahwa penarikan kawat dapat
dilaksanakan sesudah semua pekerjaan persiapan selesai
terutama yang menyangkut tindakan-tindakan pengaman antara lain:
1. Guy wire dan strut pole terpasang baik.
2. Roller atau stringing block telah dipasang pada Travers atau
tiang.
3. Pada tempat-tempat dimana kawat akan melintasi saluran
telekom, rel kereta api dan jalan raya, dipasang andang-
andang (Fance net) dan pengaman-pengaman lainnya.
Selamapelaksanaan harus dijaga agar sesudah penarikan selesai,
tiang/ insulator tidak boleh miring, bengkok,patah atau pecah.
Jika penarikan dengan menggunakan mesin tarik, Penyedia
Barang/Jasa harus menyerahkan perhitungan kuat tarik pada
tiap seksi sehingga tegangan tarik pada tiap seksi tidak
melebihi batas yang telah ditetapkan. Setelah Pengawas
menyatakan persetujuannya dan membubuhkan tanda
tangannya, maka pekerjaan baru dapat dilaksanakan. Penyedia
Barang/Jasa harus mengikuti dan melaksanakan petunjuk-
petunjuk yang diberikan oleh Pengawas PLN dalam
pemeriksaan tersebut dan penarikan penghantar harus
dilaksanakan dibawahpengawasan pengawas PLN. Drum kabel
harus ditangani secara hati-hati dengan posisi as senantiasa
horizontal. Penghantar harus dikeluarkan hanya dengan cara
memutar drum, tidak diperkenankan dengan
gulungan(uncoiling). Jika drum kabel telah rusak, pengeluaran
penghantar harus hati-hati agar tidak melintir (berbelit). Untuk
penarikan awal, drum kabel harus diletakan pada dongkrak
kabel dengan batang as. Setiap Cross-arm harus dipasang
roller (roda) dan tali penarik. Selama penarikan penghantar
dengan tenaga tangan, penghantar harus senantiasa dimonitor
untuk menghindari tekukan, belitan atau goresan dengan
permukaan tanah/batu. Penghantar tidak boleh disentak, atau
ditarik dengan kendaraan bermotor, atau diseret diatas
permukaan yang kasar/tajam. Selama pengeluaran penghantar
serabut penghantar atau isolasi kabel harus diperiksa. Jika
diketemukan putus atau cacat, maka harus dipotong dan
dilakukan penyambungan. Jika diperlukan sambungan, dalam satu
gawang tidak diperbolehkan lebih dari satusambungan, dan letak
sambungan harus sekurang-kurangnya 3 meter dari insolator.
Sambungan penghantar tidak boleh diletakan diletakkan di atas
pesilangan jalan dan sedapat mungkin tidak diletakan pada
gawang yang berdekatan dengan persilangan jalan. Semua
sambungan penghantar harus menggunakan konektor pres
dengan material yang sesuai dengan material
penghantar/kabel. Sebelum dilakukan penyambungan, ujung
penghantar harus dipotong rata. Penghantar harus dibersihkan
dengan sikat kawat sampai mengkilat sebelum dilakukan
penyambungan. Gemuk yang sesuai harus digunakan sebelum
dilakunan penyambungan. Pemilihan ukuran die dan proses
penyambungan pengantar harus dengan supervisi PLN. Untuk
pemasangan konnektor paralel dengan baut, pengencangan
harus cukup, tetapi tidak sampai overstress. Panjang Jumper
harus cukup kendor, tetapi harus mempunyai jarak bebas yang
cukup. Penegangan penghantar dengan menggunakan peralatan
tarik yang sesuai. Grip kawat(Jerat kawat) harus digunakan untuk
menghindari kerusakan penghantar.. Penghantar ditarik diatas
roller (stringing block) yang dipasang di tiang atau cross-arm
untuk mengindari tekukan pada penghantar. Ukuran
groove(alur roda) roller harus sesuai dengan peruntukan
ukuran penghantar. Tarikan maksimum penghantar tidak boleh
melebihi 110 % dari tarikanpada lendutan final.
2.4.4. Pemasangan Grounding
Grounding dipasang pada posisi tiang-tiang (sesuai yang
ditentukan dalam gambar atau atas kehendak Direksi ) sebagai
berikut:
1. Selubung logam kabel pada termination
2. Rangka (body) peralatan, kubikel dan Arrester
3. Penghantar Netral Jaringan Tegangan rendah Penghantar Netral
Jaringan Tegangan rendah harus ditanahkan(digrounding) pada
tiangpertama pada setiap jurusan dari gardu distribusi (tetapi tidak
boleh dalamjarak kurang dari 20 meter dari gardu distribusi), setiap
interval empat tiang sepanjang jaringan teganganrendah dan
pada tiang akhir pada semua pencabangan jaringan distribusi
tegangan rendah. Besarnya tahanan pertanahan tidak boleh lebih
dari 5 Ohm, bila belum tercapai Penyedia Barang/Jasa harus
berusaha untuk mendapatakan hasil sesuai yang dikehendaki (5
Ohm). Khusus untuk Jaringan tegangan rendah yang berada
dibawah Jaringan Tegangan menengah, Tahanan pentanahan
sistem tidak boleh kurang dari 0.2 Ohm. Khusus untuk
groundingArrester tidak dibenarkan sama sekali digabungkan
dengan peralatan lainnya. Grounding tersebut dari Copper clad
earthing rod 2,4 mtr atau pipa galvanized diameter 1,5 inchi
dengan panjang tidak boleh kurang dari 3 meter. Copper clad
earthing rod atau pipa galvanized harus dipasang/ ditancapkan
tegak lurus kedalam tanah hingga berada 0.3 m dibawah
permukaan tanah.. Copper clad earthing rod atau pipa galvanized
dihubungkan ke peralatan yang ditanahkan dengan menggunakan
kawat BC 50 mm2. Semua sambungan Kawat BC dimasukan
kedalam pipa galvanised yang ditempelkan ke tiang.

2.4.5. Pemasangan Gardu Distribusi


Pekerjaan Pemasangan Gardu Trafo Distribusi meliputi
pemasangan cross-arms, pemasangan trafo distribusi diatas cross-arm,
pemasangan perlengkapan pengaman (cut-out dan arester), pemasangan
Panel distribusi, pemasangan Opstick Tegangan rendah, pemasang
groundingbody peralatan dan arester, beserta pemasangan kabel
penghubungnya. Transformator ditempatkan sesuai dengan gambar type
gardu yang akan dipergunakan dengan jarak cukup terhadap dinding
gardu (lebih kurang 20 cm). Strip connector harus disiapkan / dibor
untuk fasilitas penyambungan kabel Tegangan Rendah. Netral trafo
ditanahkan bersama dengan netral pada rak pembagi Tegangan Rendah
melalui instalasi yang tersedia.Untuk pemasangan jumperan dari
SUTM ke CO dan ke terminal TM trafo digunakan schoen kabel
yang sesuai ukuran dan jenisnya.Pada saat selesai dipasang, trafo harus
tegak lurus dipandang dari semua jurusan. Untuk trafo distribusi 100
kVA menggunakan konstruksi double pole tanpa rak.

2.5. Pengujian Tahanan Isolasi Trafo

Tahanan isolasi adalah tahanan yang terdapat diantara dua kawat saluran
(kabel) yang diisolasi satu sama lain atau tahanan antara satu kawat saluran
dengan tanah (ground). Pengukuran tahanan isolasi digunakan untuk memeriksa
status isolasi rangkaian dan perlengkapan listrik, sebagai dasar pengendalian
keselamatan. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur atau menguji tahanan
isolasi suatu kabel adalah Megger (MegaOhm). Secara prinsip mengger terdiri
dari dua kumparan V dan C yang ditempatkan secara menyilang seperti terlihat
pada gambar1 di bawah ini. Kumparan V merupakan besarnya arus yang mengalir
adalah E/Rp dan kumparan C merupakan besarnya arus yang mengalir adalah
E/Rx. Rx adalah tahanan yang akan diukur. Jarum dapat bergerak disebabkan oleh
perbandingan dari kedua arus, yaitu sebanding dengan Rp/Rx atau berbanding
terbalik terhadap tahanan yang akan diukur.
Gambar 8 Diagram rangkaian sebuah Megger (MegaOhm)

Variasi tegangan tidak akan berpengaruh banyak terhadap harga


pembacaan, karena hasilnya tidak ditentukan dari sumber tegangan arus searah.
Sumber tegangan arus searah adalah sumber tegangan tinggi, yang dihasilkan dari
pembangkit yang diputar dengan tangan. Umumnya tegangannya adalah 100 V,
250 V, 500 V, 1000 V atau 2000 V. Sedangkan daerah pengukuran yang efektif
adalah 0,02 sampai 20 MegaOhm dan 5 sampai 5.000 MegaOhm. Tetapi pada
sekarang pengujian tahanan isolasi menggunakan sumber tegangan tinggi dari
tegangan tetap sebesar 100 V sampai 1.000 V yang didapat dari baterai sebesar
8 V sampai 12 V dan disebut Megger dengan baterai. Alat ini membangkitkan
tegangan tinggi lebih stabil dibanding dengan yang menggunakan generatar
diputar dengan tangan.

Gambar 9 Konstruksi Megger menggunakan baterai


Seperti yang ditunjukkan pada gambar diatas, bagian-bagian external
megger ini dijelaskan sebagai berikut:
(1) Jarum penunjuk
(2) Kaca, difungsikan untuk mengeliminir kesalahan parallax dalam pembacaan.
(3) Skala
(4) Check baterai
(5) Tombol pengaktif meter
(6) Lubang line untuk colok oranye dan lubang earth untuk colok hitam
(7) Probe meter dengan penjepit
(8) Probe meter runcing, juga sebagai pencolok pengecekan beterai.

a. Pengukuran Tahanan Isolasi


Pengukuran tahanan isolasi untuk perlengkapan listrik dapat
menggunakan megger, yang mana pengoperasiannya pada waktu
perlengkapan rangkaian listrik tidak bekerja atau tidak dialiri arus listrik.
Secara umum bahan isolasi yang digunakan sebagai pelindung dalam saluran
listrik atau sebagai pengisolir bagian satu dengan bagian lainnya harus
memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Harga tahanan isolasi antara
dua saluran kawat pada peralatan listrik ditetapkan paling sedikit adalah 1000
x harga tegangan kerjanya. Misal tegangan yang digunakan adalah 220 V,
maka besarnya tahanan isolasi minimal sebesar : 1000 x 220 = 220.000 Ohm
atau 220 KOhm. Ini berarti arus yang diizinkan di dalam tahanan isolasi 1
mA/V. Apabila hasil pengukuran nilai lebih rendah dari syarat minimum yang
sudah ditentukan, maka saluran/kawat tersebut kurang baik dan tidak
dibenarkan kalau digunakan. Waktu melakukan pengukuran tahanan isolasi
gunakan tegangan arus searah (DC) sebesar 100 V atau lebih, hal ini
dimaksudkan untuk dapat mengalirkan arus yang cukup besar dalam tahanan
isolasi. Di samping untuk menentukan besarnya tahanan isolasi, nilai
tegangan ukur yang tinggi juga untuk menentukan kekuatan bahan isolasi dari
saluran yang akan digunakan. Walaupun bahan-bahan isolasi yang digunakan
cukup baik dan mempunyai tahanan isolasi yang tinggi, tetapi masih ada
tempat-tempat yang lemah lapisan isolasinya, maka perlu dilakukan
pengukuran.

b. Prosedur Pengujian Tahanan Isolasi


Sebelum menggunakan alat pengujian tahanan isolasi perlu
dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Siapkan Megger Ohm
2. Melihat kondisi baterai dari alat Megger Ohm pastikan bahwa alat tersebut
tidak sedang Low baterai.
3. Menyambungkan kabel pada Megger Ohm sesuai dengan posisinya yaitu
warna merah untuk fasa, hitam untuk negative, dan hijau untuk ground
4. Menekan tombol ON, maka muncullah tampilan kalibrasi dan ditunggu
sampai selesai terkalibrasi
5. Pilih insulation tested pada layar insulating tester
6. Sambungkan kabel pada Trafo
7. Tekan Start lalu akan muncul tanda petir dan tunggu tanda petir itu sampai
hilang dan akan ada bunyi yang menandakan bahwa nilai isolator resistant
sudah dapat dicatat.
8. Catatlah nilai pengukurannya
9. Ulangi langkah 7-8 untuk pengukuran fasa lain.

2.6. Pemeliharaan Jaringan Distribusi

2.6.1 Pengertian
Pemeliharaan merupakan suatu pekerjaan yang dimaksudkan
untuk mendapatkan jaminan bahwa suatu sistem atau peralatan akan
berfungsi secara optimal, umur teknisnya meningkat dan aman baik
bagi personil maupun bagi masyarakat umum. Kegiatan pokok
pemeliharaan rutin ini ditentukan berdasarkan periode atau waktu
pemeliharaan yaitu bulanan, triwulan, semesteran atau tahunan.

2.6.2. Tujuan Pemeliharaan

1. Mendapatkan jaminan bahwa sistem atau peralatan dapat


dioperasikan secara optimal.
2. Mendapat jaminan bahwa keandalan dan mutu tenaga listrik
akan mempunyai nilai tinggi.
3. Mendapat jaminan bahwa umur teknis sistem atau peralatan dapat
dipertahankan
4. Mendapat jaminan bahwa sistem atau peralatan aman bagi
personil maupun bagi masyarakat umum.

2.6.3. Jenis Pemeliharaan


1. Pemeliharaan rutin ( Preventif Maintenance).
Pemeliharaan yang direncanakan terselenggara terus menerus
secara periodik, merupakan pemeliharaan rutin dan ini suatu usaha
atau kegiatan yang dimaksudkan untuk mempertahankan kondisi
sistem dalam keadaan baik dengan keandalan dan daya guna yang
optimal.

Contoh :

a) Pengecatan kembali kerangka PHB – TR dan Busbar.


b) Perbaikan instalasi PHB – TR.
2. Pemeliharaan khusus (Corrective Maintenance)
Merupakan pemeliharaan yang dmaksudkan untuk
memperbaiki kerusakan atau untuk mengadakan perubahan atau
penyempurnaan. Bertujuan untuk mempertahankan atau
mengembalikan kondisi sistem atau peralatan yang mengalami
gangguan atau kerusakan sampai kembali pada keadaan semula
dengan kapasitas yang sama.

Contoh : Penggantian peralatan – peralatan PHB – TR yang


terbakar.

3. Pemeliharaan darurat (Emergency Maintenance).


Pemeliharaan yang dimaksudkan untuk memperbaiki
kerusakan yang disebabkan oleh bencana alam seperti gempa bumi,
banjir, angin, badai, longsor dan sebagainya, yang sifatnya
mendadak dan perlu segera dilaksanakan dan pekerjaannya tidak
direncanakan.

2.6.4. Gangguan Pada jaringan distribusi


Pada jaringan distribusi terbagi dari jaringan tegangan menengah
dan jaringan tegangan rendah dan berikut adalah pembahasan dari
pemeliharaan jaringan distribusi tersebut: Pada Jaringan Tegangan
Menengah, dikarenakan jaringan saluran udara digelar di alam bebas
cenderung gangguan dari lingkungan karena sebab alam cukup tinggi,
diantaranya adalah:

1. Petir : Karena ujung tiang biasanya lebih tinggi maka diharapkan


sambaran langsung jarang terjadi, kalau pun terjadi dan tahanan tanah
tiang cukup tinggi, bisa flash over ke konduktor fasa menyebabkan
gangguan tanah
2. Binatang : Burung, kalong, kodok besar, ular bisa menjadi penyebab
gangguan hubung singkat 1 fasa ketanah, 2 fasa bahkan 3 fasa
3. Manusia : Permainan layang-layang dapat menyebabkan kabel
jaringan putus.
4. Tumbuhan : Tumbuhan yang merambat dan dahan / ranting pohon
besar dapat pula menjadi penyebab gangguan
5. Jumper putus : Karena korosi, terjadi pemburukan tahanan kontak
jumper konduktor putus jatuh ketanah
6. Isolator retak atau pecah: Apabila terjadi isolator pecah mudah
ditemukan namun apabila isolator retak sulit ditemukan, keduanya
dapat menjadi penyebab gangguan.

Dari beberapa penyebab diatas, berikut ini adalah kemungkinan


dapat tidaknya gangguan tersebut ditanggulangi:
1. gangguan no 1 masih mungkin untuk dibuat perlindungannya
2. gangguan dari sebab no 2 agak sulit ditanggulangi.
3. gangguan dari sebab no 3 dan no 4 ditanggulangi dengan membuat
aturan dan pemeliharaan jaringan.
4. gangguan dari sebab no 5 hindari proses korosi dengan sealer.
5. gangguan dari sebab no 6 (bila retak atau tembus) dicari dengan
mengisolir seksi demi seksi jaringan bila sudah bisa dipersempit, seksi
yang isolatornya retak / tembus diperiksa dengan tegangan impul

Pemeliharaan-pemeliharaan yang dilakukan terhadap JTR di antaranya :

1. Membersihkan jaringan dari sentuhan dahan (untuk jaringan dengan


konduktor telanjang)
2. Untuk jaringan dengan twisted cable, pemeliharaan agak jarang
kecuali untuk kabel yang tertekan dahan pohon
3. Memonitor keseimbangan beban masing-masing fasa, agar konduktor
netral tidak dialiri arus besar, yang bisa membuat masalah
4. Memonitor hot spot konduktor fasa / netral terutama konduktor netral
(bila sampai putus)
5. Menaikkan tegangan konsumen di fasa yang berbeban rendah
6. Hot spot sambungan diperiksa dengan thermovision bila temperatur
tinggi dan jaringan belum putus, maka lakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. memadamkan jaringan,
2. mengukur tahanan kontak,
3. membersihkan permukaan kontak,
4. apabila klem penjepit sambungan rusak maka harus diganti,
5. jaringan kembali disambungkan dan tahanan kontaknya kembali
diukur,
6. apabila hasil ukur baik maka jaringan kembali dienergize.

Kegagalan suatu komponen merupakan akibat dari suatu proses


penuaan material yang berjalan dengan waktu. Proses degradasi ini tidak
dapat dihindari, namun dapat dikendalikan melalui kegiatan pemeliharaan
yang tepat. Dewasa ini dikenal empat model pemeliharaan: breakdown
maintenance, pemeliharaan preventif, pemeliharaan prediktif dan
pemeliharaan proaktif.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Pemasangan Konstruksi & Jaringan JTM dan JTR


1. Pemasangan Konstruksi Jaringan JTM
Pada konstruksi Jaringan JTM ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu:
a. Isolator
Konstruksi Isolator pada umumnya dibuat dengan bentuk lekukan-
lekukan yang bertujuan untuk memperjauh jarak rambatan,
sehingga pada kondisi hujan maka ada bagian permukaan isolator
yang tidak ditempeli air hujan.
b. Tiang
Pada praktik bengkel semester ini, jenis tiang distribusi yang
digunakan yaitu tiang baja sebagai tiang penyangga dan tiang beton
sebagai penegak. Tinggi tiang beton kira-kira sekitar 11 m dan
tiang penyangga kira-kira sekitar 9 m. Sedangkan pada umumnya
gawang tiang untuk pemasangan tiang JTM/JTR, antara 40 - 60 m.
Dan konfigurasi yang digunakan pada praktek ini adalah
konfigurasi horizontal.

TR
T1 T2 T3 T4

7,55 M 8,65 M 8,4 M 8,75 M

Keterangan :

= Gardu
= Tiang
= AAAC (ALL ALUMINIUM ALLOY CONDUCTOR)

Gambar 10 Denah tiang distribusi bengkel


Dari pengukuran jarak antar tiang apabila dibandingkan standar ketentuan
jarak antar tiang, yaitu 40 m- 60 m tergantung kondisi lokasi, sangat jauh
memenuhi standar. Hal ini dikarenakan dibatasi ketersediaan lahan dan ini
hanya digunakan sebagai objek praktikum bengkel agar memudahkan dalam
praktikum.

2. Pemasangan Konstruksi Jaringan JTR


Pemasangan instalasi pada jaringan rendah konstruksinya tergantung
dari kondisi tempat pemasangannya. Kontruksi TR secara garis besar
terdiri atas beberapa bentuk konstruksi yaitu konstruksi tiang awal/akhir
konstruksi tiang tumpu, konstruksi tiang sudut, konstruksi tiang
percabangan dan tiang peregang. konstruksi JTR yang digunakan pada
praktek ialah konstruksi tipe TR-1 sebagai tempat penggantung penghantar
pada tiang dengan menggunakan small angle assembly dan konstruksi TR-
2 sebagai tempat penggantung penghantar pada tiang sudut menggunakan
large angle assembly.

Gambar 11 TR-1
Gambar 12 TR-2

3.2. Pengukuran Tahanan Pembumian


Pada praktikum bengkel jaringan distribusi, dilakukan pengukuran
pembumian pada gardu distribusi dan pada tiang akhir. Dilakukan dua macam
pengukuran, yaitu pengukuran posisi tegak lurus dan pengukuran posisi
segitiga. Alat yang digunakan yaitu Earth Tester. Adapun hasil pengukuran
tahanan pembumian dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2.

Tabel 1 Pengukuran Tahanan Pembumian Pengaman pada Tiang trafo

Tahanan pembumian pengaman


Jarak Elektroda
No. (Ω)
Sementara (m)
Posisi segitiga Posisi segaris
1 20 2,4 x 10 = 24 2,2 x 10 = 22
2 15 2,2 x 10 = 22 1,8 x 10 = 18
3 10 2,2 x 10 = 22 2 x 100 = 200
4 7,5 2,2 x 10 = 22 1,8 x 10 = 18
5 5 2,2 x 10 = 22 1,6 x 10 = 16
6 2,5 2,2 x 10 = 22 1,6 x 10 = 16

Tabel 2 Pengukuran Tahanan Pembumian Pengaman pada Tiang akhir


Tahanan pembumian pengaman
Jarak Elektroda
No. (Ω)
Sementara (m)
Posisi segitiga Posisi segaris
1 20 2,8 x 1 = 2,8 3x1=3
2 15 3x1=3 3,2 x 1 = 3,2
3 10 2,8 x 1 = 2,8 2,2 x 10 = 22
4 7,5 2,8 x 1 = 2,8 3,6 x 1 = 3,6
5 5 2,8 x 1 = 2,8 3,2 x 1 = 3,2
6 2,5 2,8 x 1 = 2,8 3x1=3

Berdasarkan tabel diatas, Besar Tahanan pentanahan dipengaruhi oleh


beberapa hal diantaranya luas penampang pentanahan, kondisi tanah dan
jumlah patok pentanahannya itu sendiri. Menurut standar, besar tahanan
pentanahan yang baik tidak lebih dari lima Ω (≤ 5 Ω). Pengukuran tahanan
pembumian pada gardu distribusi tidak ideal karena nilainya > 5 Ω.
Sedangkan nilai tahanan pentanahan pada tiang akhir dikategorikan ideal
karena masih dalam nilai standar ≤ 5 Ω.

Adapun hal yang mempengaruhi yaitu kondisi tanah di sekitarnya terasa


keras / tidak gembur. Sedangkan Nilai pentanahan pada tiang akhir termasuk
ideal karena kondisi tanah di sekitarnya terasa gembur. Semakin keras tanah
maka nilai tahanan pentanahan akan tinggi (tidak ideal) sedangkan semakin
gembur tanah maka nilai tahanan pentanahan akan rendah (ideal).

3.3. Penarikan Penghantar


Pada praktek sistem distribusi tegangan menengah pada semester 7,
dilakukan pemasangan beberapa komponen konstruksi JTM, seperti
isolator tarik (aspan), penghantar JTM dan isolator tumpu.
a. Isolator tarik (aspan) digunakan untuk penarikan penghantar dan
berfungsi memisahkan aliran listrik dengan tiang dan travers agar
aliran listrik tidak mengalir melalui tiang tersebut.
b. Penghantar digunakan sebagai konduktor yang dialiri arus listrik.
c. Isolator tumpu digunakan untuk menumpu penghantar dan berfungsi
sebagai sekat aantara peghantar dan tiang.

1. Alat dan Bahan yang digunakan :


a. Alat
- Helm Safety
- Seragam bengkel
- Sepatu safety
- Safety belt
- Kunci baut & Kunci Inggris
- Tangga
b. Bahan
- Isolator tarik
- Isolator tumpu
- Kawat penghantar

2. Langkah kerja pelepasan penghantar


1. Mengendurkan baut yang mengikat penghantar pada isolator
2. Melepaskan penghantar secara perlahan-lahan
3. Mengendurkan baut yang mengikat isolator pada travers
4. Menurunkan isolator secara perlahan dan hati-hati
3. Langkah kerja pemasangan penghantar
1. Memasang isolator dengan baut pada pengikat isolator
2. Memasang penghantar pada isolator
3. Mengencangkan baut yang mengikat penghantar
Pada praktek kali ini banyak hal yang tidak memenuhi standar yaitu
penarikan penghantar harusnya menggunakan alat khusus seperti tang
penarik kabel, dan juga tiang yang digunakan tidak memenuhi standar
untuk ketinggiannya.

3.4. Pengukuran Tahanan Isolasi Transformator


Pada praktikum bengkel jaringan distribusi, dilakukan pengukuran tahanan
isolasi transformator dengan menggunakan alat insulation resistance tester
yang bermerek metrel. Adapun untuk pengoperasian alat tersebut sebagai
berikut.
1. Menghubungkan kabel pada insulation resistance tester sesuai dengan
posisinya, yaitu merah untuk fasa, hijau untuk ground dan hitam untuk
netral.
2. Menekan tombol ON, maka akan muncul tampilan kalibrasi.
Pengukuran dapat dilakukan apabila alat selesai terkalibrasi.
3. Memilih menu insulation tested.
4. Menyambungkan kabel pada transformator.
5. Menekan tombol start, maka akan muncl tanda petir. Menunggu
hingga tanda petir hilang dan alat berbunyi yang menandakan
bahwapengukuran nilai tahanannya sudah selesai.
6. Mencatat hasil pengukuran
7. Mengulangi langkah 5 – 6 untuk pengukuran lainnya.

Pengukuran tahanan isolasi dapat dilihat pada Tabel 3

Tabel 3 Pengukuran Tahanan Isolasi

Isolation resistant Tegangan


U (R) 4,16 GΩ 500 V
V (S) 4,33 GΩ 500 V
W (T) 4,36 GΩ 500 V
S-T < 5 kΩ 500 V
R-T < 5 kΩ 500 V
S-R < 5 kΩ 500 V

Dari data hasil percobaan di atas, nilai tahanan isolasi transformator


cukup tinggi ini berarti bahwa kondisi tahanan isolasi transformator masih
baik dan secara tidak langsung membuktikan bahwa tidak ada hubung singkat
dan masih terdapat minyak dalam transformator. Perlu diketahui standar
tahanan transformator adalah 1 volt mewakili 1000 Ω. Dengan ketentuan itu
dapat diketahui tahanan isolasi minimal transformator, yaitu tegangan injeksi
alat x 1000 Ω hasilnya 500 x 1000 adalah 500.000 atau 0.5 GΩ. Jika
dibandingkan tahanan minimal transformator dengan hasil percobaan dapat
diketahui bahwa tahanan isolasi transformator yang diukur sangat baik karena
memiliki tahanan yang lebih tinggi.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari laporan ini yaitu :

1. Bagian-bagian peralatan / bahan konstruksi untuk SUTM adalah Tiang


Listrik, Isolator, Konduktor, Cross Arm/Travers dan peralatan pelengkap.
Sedangkan Bagian utama dari SUTR kawat tak berisolasi adalah tiang
listrik (besi, beton), Cross Arm, Isolator dan penghantar Aluminium /
Tembaga (Cu), suspension Clamp Bracket.
2. Tiang berfungsi sebagai penegak, penyangga, penopang. Konduktor
berfungsi untuk memindahkan energi listrik dari suatu tempat ke tempat
lain. Isolator berfungsi untuk mengisolasi kawat, dan menahan beban dari
penghantar. Cross Arm untuk menjaga penghantar dan peralatan yang
perlu dipasang diatas tiang. Suspension clamp bracket sebagai alat
tarikan bracket kabel ataupun kabel.
3. Pada pemasangan peralatan konstruksi jaringan JTM yang perlu
diperhatikan adalah isolator, konstruksi gardu tiang, dan tiang.
Sedangkan pada konstruksi jaringan JTR perlu diperhatikan kondisi
tempat pemasangan.
4. Sistem pembumian pada jaringan distribusi digunakan sebagai pengaman
langsung terhadap peralatan dan manusia bila terjadinya gangguan tanah
atau kebocoran arus akibat kegagalan isolasi dan tegangan lebih pada
peralatan jaringan distribusi.
5. Dalam pengukuran grounding, praktikan menggunakan earth tester, 3
buah electrode, 3 buah kabel penghubung. Pemasangan elektroda
dilakukan dengan 2 posisi, yaitu : posisi segaris dan posisi segitiga.
6. Hasil pengukuran tahanan pentanahan berbeda-beda. Besar Tahanan
pentanahan dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya luas penampang
pentanahan, kondisi tanah dan jumlah patok pentanahannya itu sendiri.
Menurut standar, besar tahanan pentanahan yang baik tidak lebih dari
lima Ω (≤ 5 Ω).
7. Dalam pelepasan dan pemasangan penghantar dan isolator tarik,
praktikan diwajibkan mengunakan alat K3 demi menunjang keselamatan,
seperti helm, sepatu safety, safety belt dan seragam kerja.
8. Pelepasan dilakukan dengan cara mengendurkan empat baut yang
mengait penghantar lalu menarik secara perlahan penghantar yang terikat
pada aspan sampai lepas. Sedangkan pemasangan penghnatar dilakukan
dengan mengendurkan empat baut yang mengait jalur penghantar, setelah
itu penghantar dimasukkan ke dalam jalurnya.
9. Tahanan isolasi yang diukur merupakan fungsi dari arus bocor yang
menembus melewati isolasi atau melalui jalur bocor pada permukaan
eksternal. Pengujian tahanan isolasi ini dapat dipengaruhi suhu,
kelembaban, dan jalur bocor pada permukaan eksternal seperti kotoran
pada bushing atau isolator.

4.2 Saran
1. Didalam pemasangan kotruksi tiang untuk JTM haruslah sesuai dengan
kontruksi yang telah ditetapkan oleh PLN. Ini dikarenakan bahwasanya
kontruksi tiang tersebut sesuai dengan kondisi tempat serta mengacu
kepada keamanan pemasangan.
2. Hendaklah mengutamakan kesalamatan kerja (SOP) dalam melakukan
suatu pemeriksaan baik dalam keadaan bertegangan ataupun tidak
bertegangan.
3. perlengkapan maupun material praktek kerja di bengkel distribusi
untuk lebih dilengkapi lagi, sebab yang praktikan lihat saat ini
perlengkapan keja dan material yang akan digunakan pada praktek
sistem distribusi masih sangat minim.