Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN

Pada percobaan terlebih dahulu melakukan survey lapangan yakni penjual minuman
pinggir jalan atau kedai minuman pinggir jalan daerah Singaraja guna untuk menetapkan ciri
yang sesuai dengan tujuan dalam pengambilan sampel . Hasil survei penjual minuman pinggir
jalan atau kedai minuman pinggir jalan tersebut yakni berjumlah 6 penjual minuman. Setelah
melakukan survei tahap berikutnya yakni pengambilan sampel. Pengambilan sampel dilakukan
dengan cara mengambil sampel secara acak disetiap daerah yang ada di Singaraja. Jadi sampel
yang kami gunakan sebanyak 6 sampel yang selanjutnya disebut sampel A, B, C, D, E dan F.
adapun kriteria sampel yang kami ambil adalah sampel yang dijual dipinggir jalan atau kedai
minuman, harganya relatif murah, disukai masyarakat umum, tidak bermerk, dalam kemasannya
tidak tercantum komposisi dan belum ada ijin BPOM ditandai tidak ada no registrasi ijin edar
pada kemasan sampel.

Langkah pertama yang dilakukan pada uji kualitatif yaitu sampel, masing – masing
sampel dimasukkan dalam gelas beaker sebanyak 50 mL (gambar 1). kemudian ditambahkan
NaOH sampai basa, dan didapatkan masing – masing sampel dengan pH 12 (gambar 2). Setelah
itu ditambahkan 2 mL BaCl2 dan didiamkan 2 menit. Penambahan BaCl2 berfungsi untuk
mengendapkan pengotor-pengotor yang ada dalam larutan, seperti adanya ion karbonat Disaring
menggunakan kertas saring, fungsi penyarinagn adalah untuk memisahlan larutan dengan
pengotornya (gambar 3). Kemudian ditambahkan HCl sampai asam, dan didapatkan masing –
masing sampel memiliki pH 2 (gambar 4). Penambahan HCl dalam sampel berfungsi untuk
mengasamkan larutan. Larutan dibuat dalam keadaan asam agar reaksi yang akan terjadi dapat
lebih mudah beraksi. Kemudian ditambahkan 2 mL NaNO2. Setelah itu masing – maisng sampel
dipanaskan diatas hot plate, fungsi pemanasan adalah untuk mempercepat reaksi pembentukan
endapan. Penambahan NaNO2 berfungsi untuk memutuskan ikatan sulfat dalam siklamat.
Berdasarkan uji kualitatif yang dilakukan pada ke-6 sampel ditemukan bahwa sampel A,B,C,D,
dan F tidak mengandung siklamat karena pada percobaan tidak ada endapan yang dihasilkan
(gambar 5). Sedangkan sampel E positif mengandung siklamat ditantadai dengan terbentukknya
endapan putih setelah ditambahkan NaNO2 (gambar 6). Prinsip identifikasi adanya siklamat
dalam sampel yaitu dengan cara pengendapan. Pengendapan dilakukan dengan cara
menambahkan Barium klorida dalam suasana asam kemudian ditambah Natrium nitrit sehingga
akan terbentuk endapan Barium sulfat.

Kemudian dilakukan uji kuantitatif pada sampel F untuk mengetahui kadar siklamat yang
terkandung dalam sampel F. Pertama – tama ditambahkan HCl ke dalam sampel sampai basa,
dan didapatkan pH sampel 12 (gambar 7). Kemudian ditambahkan 10 ml BaCL 2, diaduk dan
didiamkan selama 30 menit, setelah didiamkan ternyata terbentuk endapan putih (gambar 8).
Kemudian endapan tersebut disaring untuk mendapatkan filtrat berupa endapan (gambar 9).
Kemudian endapan ini disaring dengan aquadest kemudian ditambahkan 10 ml NaNO2 kedalam
filtrat, diaduk dipanaskan diatas penangas air selama 30 menit (gambar 10) untuk menghindari
penguapan selama pemanasan harus ditutup. Penambahan larutan NaNO2 yang berfungsi untuk
memutuskan ikatan sulfat dalam siklamat, setelah ikatan sulfat dalam siklamat terpisah maka
sampel tersebut disaring dengan menggunakan kertas whatman sehingga siklamat yang ada di
dalam sampel tersebut tersimpan dalam kertas whatman. Kemudian kertas whatman ditimbang
dan dipanaskan dalam oven selama 10 menit (gambar 11) dan didapat berat kertas saring yaitu
0,1526 gram (gambar 12) . Setelah selesai dipanaskan sampel kemudian disaring
menggunanakan kertas whatman, didinginkan dalam desikator lalu ditimbang dan didapatkan
berat kertas saring dan endapan adalah 0,5176 gram (gambar 13), dengan demikian kadar
siklamat dalam sampel F dapat diketahui. Setelah dilakukan perhitungan didapat berat endapan
sebesar 0,365 gram dan didapatkan kadar siklamat pada sampel F sebesar 0,73%. Hasil yang
diperoleh melebihi batas maksimum penggunaan siklamat menurut ADI (acceptable daily
intake).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Tahun 1998 pemanis buatan hanya ditujukan
untuk produk rendah energi atau bagi penderita diabetes mellitus dan bukan untuk konsumsi
umum. Menurut peraturan menteri kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88, kadar maksimun
siklamat adalah 3g/kg bagi mereka yang memerlukan makanan berkalori rendah. Departemen
Kesehatan RI mengemukakan bahwa, batas maksimum penggunaan siklamat menurut ADI
(acceptable daily intake) yang dikeluarkan oleh FAO ialah 500-3000 ppm (0.05% -0,1%). Level
yang aman untuk penggunaan pemanis buatan hanya 45% nilai ADI. Siklamat pada manusia
mempunyai ADI maksimum 11 mg/kg berat badan (BB). Hasil dari metabolisme siklamat, yaitu
sikloheksiamin bersifat karsinogenik. Oleh karena itu ekskresinya melalui urine dapat
merangsang pertumbuhan tumor.