Anda di halaman 1dari 16

PANDANGAN GREENPEACE TERHADAP PENGEMBANGAN BIODIESEL

KELAPA SAWIT

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Unsur dan Senyawa

yang Dibina oleh Bapak Fajar Marsuki dan Ibu Nida

Oleh:
Kelompok 3/Offering A
1. Gareta Yoga (180351619012)
2. Paulus Bayu Mario Ega (180351619079)
3. Rifdah Yusfia (180351619094)
4. Rizky Berlian Ilahi (180351619013)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI PENDIDIKAN IPA
November 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“PANDANGAN GREENPEACE TERHADAP PENGEMBANGAN BIODIESEL
KELAPA SAWIT”. Penyusunan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Unsur dan Senyawa. Kami berharap makalah ini dapat menambah wawasan dan
pengetahuan khususnya dalam bidang pengembangan biodiesel dalam pandangan
Greenpeace.

Menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami sangat


mengharapkan kritikan dan saran dari para pembaca untuk melengkapi segala kekurangan
dan kesalahan dari makalah ini.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu
selama proses penyusunan makalah ini.

Malang, 05 November 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ..................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................... 1
C. Tujuan ................................................................................................................................... 1
BAB II BAHASAN........................................................................................................................... 3
2.1 Pengertian Biodiesel............................................................................................................... 3
2.2 Proses Pembuatan Biodiesel.................................................................................................. 5
2.3 Peran Atau Pandangan Greenpeace Terhadap Pembuatan Biodiesel Kelapa Sawit ....... 8
BAB III PENUTUP ........................................................................................................................ 10
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................... 10
3.2 saran ...................................................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembuatan biodiesel telah banyak dilakukan seiring menipisnya cadangan
minyak bumi dunia. Penelitian pembuatan biodiesel diawali oleh Rudolf Diesel,
pada tahun 1900 menciptakan mesin diesel berbahan bakar minyak nabati (minyak
kacang tanah) (Khan, 2002).
Biodiesel didefinisikan sebagai mono alkil ester asam lemak rantai panjang
yang diturunkan dari bahan baku lemak sebagai sumber yang dapat diperbaharui,
seperti minyak nabati dan lemak hewani, untuk digunakan dalam mesin diesel.
Pemanfaatan biodiesel dapat mengurangi berbagai masalah, diantaranya sebagai
solusi mengantisipasi krisis energi. Selain itu, sebagai upaya untuk mendorong
eksplorasi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan (Srivastava dan Prasad,
2000).
Pengembangan pemanfaatan biodiesel terus dikembangkan seiring dengan
kebutuhan energi yang terus meningkat. Maka dari itu telah banyak dilakukan
berbagai penelitian tentang pengembangan pemanfaatan biodiesel, walaupun
diperlukan pengembangan lebih lanjut dalam berbagai aspek teknis dan ekonomis.
Dalam pengembangannya, biodiesel terdapat berbagi dampak baik aspek
positif serta aspek negatif. Sehingga terdapat banyak perdebatan antara pro dan
kontra yang terjadi pada masyarakat. Oleh sebab itu, makalah ini ditulis untuk
membahas mengenai pandangan atau peran dari Greenpeace terhadap
perkembangan biodiesel kelapa sawit.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari biodiesel?
2. Bagaimana proses pembuatan biodiesel?
3. Bagaimana peran atau pandangan Greenpeace terhadap pembuatan biodiesel
kelapa sawit?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari biodiesel.
2. Untuk mengetahui proses pembuatan biodiesel.

1
3. Untuk mengetahui peran atau pandangan Greenpeace terhadap pembuatan
biodiesel kelapa sawit.

2
BAB II
BAHASAN
2.1 Pengertian Biodiesel

Minyak diesel (solar) merupakan salah satu BBM yang memegang peranan penting
dalam perekonomian Indonesia. Biodiesel adalah bahan bakar diesel alternatif yang terbuat
dari sumber daya hayati terbarukan seperti minyak nabati atau lemak hewani. Biodiesel
sebagai metal ester yang diproduksi dari minyak tumbuhan atau lemak hewan dan
memenuhi kualitas untuk digunakan sebagai bahan bakar dalam mesin diesel (Pinto , dkk,
2005). Biodiesel yang tersusun dari berbagai macam ester asam lemak yang dapat
diproduksi dari munyak tumbuhan maupun lemak hewan. Minyak tumbuhan yang sering
digunakan antara lain minyak sawit (palm oil), minyak kelapa, minyak jarak pagar, dan
minyak biji kapok randu, sedangkan lemak hewaan seperti lemak babi, lemak ayam, lemak
sapi dan juga lemak yang berasal dari ikan (Wibisono, 2007). Dibandingkan dengan bahan
bakar fosil, bahan bakar biodiesel mempunyai kelebihan diantaranya bersifat biodegradable,
non-toxic, mempunyai angka emisi CO2 dan gas sulfur yang rendah dan sangat
ramahterhadap lingkungan (J. M. Marchetti & A. F. Errazu, 2008).

Biodiesel memiliki berbagai kelebihan dibandingkan petrodiesel, baik sebagai


campuran dengan petrodiesel maupun sebagai bahan bakar murni. Keunggulan biodiesel
sebagai bahan bakar antara lain diproduksi dari bahan baku yang dapat diperbaharui, dapat
digunakan pada kebanyakan mesin diesel tanpa modifikasi. Biodiesel bersifat lebih ramah
lingkungan karena dapat terurai di alam, non toksik, efisiensi tinggi, emisi buang kecil, serta
kandungan sulfur dan aromatik rendah (Pinto , dkk, 2005). Biodiesel disintesis dari ester
asam lemak dengan rantai karbon C6-C22 dengan reaksi reaksi transesterifikasi. Biodiesel
digunakan dengan mudah karena dapat bercampur dengan segala komposisi dengan munyak
solar, mempunyai sifat-sifat yang mirip dengan solar biasa sehingga dapat diaplikasikan
langsung untuk mesin-mesin diesel yang adahampir tampa modifikasi (Prakoso, 2003).

Bahan-bahan mentah pembuatan biodiesel menurut (M Mittelbach & C


Remschmidt, 2004) adalah :

a. Trigliserida-trigliserida, yaitu komponen utama aneka lemak dan minyak


lemak, dan

3
b. Asam-asam lemak, yaitu produk samping industri pemulusan (refining)lemak
dan minyak-lemak.

Trigliserida adalah triester dari gliserol dengan asam-asam lemak, yaitu asam asam
karboksilat beratom karbon 6 sampai dengan 30. Trigliserida banyak terkandung dalam
minyak dan lemak. Trigliserida merupakan komponen terbesar penyusun minyak nabati.
Selain trigliserida, terdapat juga monogliserida dan digliserida. Struktur molekul dari ketiga
macam gliserid tersebut dapat dilihat pada berikut :

Asam lemak bebas adalah asam lemak yang terpisahkan dari trigliserida, digliserida,
monogliserida, dan gliserin bebas. Hal ini dapat disebabkan oleh pemanasan dan
terdapatnya air sehingga terjadi proses hidrolisis. Oksidasi juga dapat meningkatkan kadar
asam lemak bebas dalam minyak nabati.

Biodiesel merupakan monoalkil ester dari asam-asam lemak rantai panjangyang


terkandung dalam minyak nabati atau lemak hewani untuk digunakan sebagai alternatif yang
paling tepat untuk menggantikan bahan bakar mesin diesel. Biodiesel bersifat
biodegradable, dan hampir tidak mengandung sulfur. Alternatif bahan bakar terdiri dari
metil atau etil ester, hasil transesterifikasi baik dari triakilgliserida (TG) atau esterifikasi dari
asam lemak bebas (FFA) (Clements F. Ma & M. A. Hanna, 1999).

4
2.2 Proses Pembuatan Biodiesel

Biodiesel dibuat melalui reaksi transesterifikasi minyak atau lemak menggunakan


katalis asam atau basa. Proses transesterifikasi dilakukan dengan mereaksikan alkohol
dengan minyak untuk memutuskan tiga rantai gugus ester dari setiap cabang trigliserida dan
mengubahnya menjadi 3 molekul metil atau etil ester (biodiesel) dan 1 molekul gliserol.

Tahapan reaksi dalam pembuatan biodiesel adalah sebagai berikut :

a. Esterifikasi

Esterifikasi adalah tahap konversi dari asam lemak bebas menjadi ester. Esterifikasi
mereaksikan minyak lemak dengan alkohol. Asam sulfat, asam sulfonat organik atau
resin penukar kation asam kuat merupakan katalis-katalis yang biasa terpilih dalam
praktek industrial. (Soerawidjaja, 2006). Untuk mendorong agar reaksi bisa berlangsung
ke konversi yang sempurna pada temperatur rendah (misalnya paling tinggi 1200C),
reaktan metanol harus ditambahkan dalam jumlah yang sangat berlebih (biasanya lebih
besar dari 10 kali nisbah stoikhiometrik) dan air produk yang ikut reaksi, harus
disingkirkan dari fasa reaksi, yaitu fasa minyak. Melalui kombinasi-kombinasi yang tepat
dari kondisi-kondisi reaksi dan metode penyingkiran air, konversi sempurna asam-asam
lemak ke ester metilnya dapat dituntaskan dalam waktu satu sampai beberapa jam. Reaksi
esterifikasi dapat dilihat pada gambit berikut

RCOOH + CH3 OH → RCOOCH3 + H2O

Asam lemak methanol metil ester

Mekanisme reaksi esterifikasi yang terjadi sebagai berikut:

5
Gambar Tersebut. Mekanisme reaksi esterifikasi dalam katalis asam.

(McKetta, 1978).

Esterifikasi biasa dilakukan untuk membuat biodiesel dari minyak berkadar asam
lemak bebas tinggi (berangka asam ≥ 5 mg-KOH/g). Pada tahap ini, asam lemak bebas akan
dikonversikan menjadi metil ester. Tahap esterifikasi biasa diikuti dengan tahap
transesterifikasi. Namun sebelum produk esterifikasi diumpankan ke tahap transesterifikasi,
air dan bagian terbesar katalis asam yang dikandungnya harus disingkirkan terlebih dahulu.

b. Transesterfikasi
Transesterifikasi (biasa disebut dengan alkoholisis) adalah tahap konversi dari
trigliserida (minyak nabati) menjadi alkyl ester, melalui reaksi dengan alkohol, dan
menghasilkan produk samping yaitu gliserol. Di antara alkoholalkohol monohidrik yang
menjadi kandidat sumber/ pemasok gugus alkil, metanol adalah yang paling umum
digunakan, karena harganya murah dan reaktifitasnya paling tinggi (sehingga reaksi
disebut metanolisis). Jadi, di sebagian besar dunia ini, biodiesel praktis identik dengan
ester metil asamasam lemak (Fatty Acids Metil Ester, FAME). Produk yang diinginkan
dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil asam-asam lemak. Terdapat beberapa cara
agar kesetimbangan lebih ke arah produk, yaitu :
a. Menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi
b. Memisahkan gliserol
c. Menurunkan temperatur reaksi (transesterifikasi merupakan reaksi eksoterm)
Hal-hal yang mempengaruhi reaksi transesterifikasi perlu diperhatikan agar
didapatkan produk biodiesel dengan jumlah yang maksimum. Beberapa kondisi reaksi
yang mempengaruhi konversi serta perolehan biodiesel melalui transesterifikasi adalah
sebagai berikut (Freedman, B., Pride, E.H., and Mounts, t.L, 1984) :

a. Pengaruh air dan asam lemak bebas

Minyak nabati yang akan ditransesterifikasi harus memiliki angka asam yang
lebih kecil dari 1. Banyak peneliti yang menyarankan agar kandungan asam lemak
bebas lebih kecil dari 0,5% (< 0,5%). Selain itu, semua bahan yang akan digunakan
harus bebas dari air. Karena air akan bereaksi dengan katalis, sehingga jumlah katalis

6
menjadi berkurang. Katalis harus terhindar dari kontak dengan udara agar tidak
mengalami reaksi dengan uap air dan karbon dioksida.

c. Pengaruh perbandingan molar alkohol dengan bahan mentah

Secara stoikiometri, jumlah alkohol yang dibutuhkan untuk reaksi adalah 3 mol
untuk setiap 1 mol trigliserida, untuk memperoleh 3 mol alkil ester dan 1 mol
gliserol. Perbandingan alkohol dengan minyak nabati 4,8:1 dapat menghasilkan
konversi 98% (Bradshaw, G. B & W.C. Meuly, 1994). Secara umum ditunjukkan
bahwa semakin banyak jumlah alkohol yang digunakan, maka konversi yang
diperoleh juga akan semakin bertambah. Pada rasio molar 6:1 setelah 1 jam konversi
yang dihasilkan adalah 98-99%, sedangkan pada 3:1 adalah 74-89%. Nilai
perbandingan yang terbaik adalah 6:1 karena dapat memberikan konversi yang
maksimum.

d. Pengaruh jenis alkohol

Pada rasio 6:1, metanol akan memberikan perolehan ester yang tertinggi
dibandingkan dengan menggunakan etanol atau butanol.

e. Pengaruh jenis katalis

Alkali katalis (katalis basa) akan mempercepat reaksi transesterifikasi bila


dibandingkan dengan katalis asam. Katalis basa yang paling populer untuk reaksi
transesterifikasi adalah natrium hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH),
natrium metoksida (NaOCH3), dan kalium metoksida (KOCH3). Katalis sejati bagi
reaksi sebenarnya adalah ion metilat (metoksida). Reaksi transesterifikasi akan
menghasilkan konversi yang maksimum dengan jumlah katalis 0,5-1,5%-b minyak
nabati. Jumlah katalis yang efektif untuk reaksi adalah 0,5%-b minyak nabati untuk
natrium metoksida dan 1%-b minyak nabati untuk natrium hidroksida

f. Pengaruh temperatur

Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan pada temperatur 30-650C (titik didih


methanol sekitar 650C). Semakin tinggi temperatur, konversi yang diperoleh akan
semakin tinggi untuk waktu yang lebih singkat. Untuk waktu 6 menit, pada
temperatur 600C konversi telah mencapai 94%, sedangkan pada 450C yaitu 87% dan

7
pada 320C yaitu 64%. Temperatur yang rendah akan menghasilkan konversi yang
lebih tinggi namun dengan waktu reaksi yang lebih lama (Destianna, 2007).

Reaksi transesterifikasi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Gambar Reaksi Transesterifikasi

Mekanisme reaksi transesterifikasi dalam katalis basa dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar mekanisme reaksi transesterifikasi dalam katalis basa

(Schuchardt & Shercheli, 1998).

2.3 Peran Atau Pandangan Greenpeace Terhadap Pembuatan Biodiesel Kelapa Sawit

Melansir dari Antara News jika aktivis lingkungn Greenpeace merasa kecewa
dengan komitmen dari kedua calon presiden pada Pilpres 2029 berkaitan dengan
pembangunan hidup yang berkelanjutan. Seperti kutipa dari Kepala Greenpeace Indonesia
Leonard Simajuntak “Capres Jokowi dan Prabowo sama-sama mendukung biodiesel
ataupun biofuel dari B20 higga ke B100. Terkait hal ini kedua capres tidak memberikan
jaminan program biofuel tanpa menggerus keberadaan hutan alam, lahan gambut dan

8
mangrove”. Pembahasan pada debat calon presiden pada minggu (17/2) tentang isu energi,
infrastruktur, pagan. Sumber daya alam dan lingkungan hidup tidak menjawab sejumlah
persoalan utama lingkunga hidup yang terjadi di Indonesia. Greenpece juga menilai jika
kedua capres hanya mengedepankan energi yang besumber dri kelapa sawit yang tidak
memiliki potensi menambah angka deforestasi. Jika menilik dari analisis data Hansen dari
Unversity of Maryland pada tahun 2000-2017 menyatakan jika penggundulan hutan yang
sudah terjadi selama 2 tahun sejak tahun 2015-2017 mencapai 650.000 hektare. Berdasarkan
data tersebut dapat diperkirakan jika kebijakan biofuel menciptakan permintaan minyak
sawit sebesar 10,7 juta ton. Kemudian pada 2030, permintaan biofuel akan mencapai 67 juta
ton. Hal ini dapat berpeluang terjadinya deforestasi baru hingga 4,5 juta hektare dan
hilangnya 2,9 juta lahan gambut. Greenpeace berpedapat jika pemenuhan kebutuhan energi
yang dijawab hanya denga pegebanga bofuel secara masif dan tidak tepat. Pasalnya, potensi
energi terbarukan yang bersumber dari tenaga surya dan angin jauh lebih besar. Di
Kalimantan timur terdapat lubang-lubang batu bara yang menyebabkan kerusaka lingkungan
dan pencemaran sunga yang akhirnya berdampak serius pada penghidupan warga. Hngga
akhir 2018 sudah menyatakan ada 31 korban meninggal akibat lubang batu bara tersebut.
Sebanyak 28 negara Uni Eropa sepakat memasukkan minyak sawit sebagai kategori
tidak berkelanjutan sehingga tidak bisa digunakan untuk biodiesel. Hal tersebut berdasarkan
masalah deforestasi atau perusakan hutan akibat adanya budidaya sawit yang masif.
Peraturan baru itu akan diuji coba selama dua bulan. Jika selama dua bula tersebut tidak ada
yang keberatan, maka Delegtaed Regulation Supplementing Directive of The EU Renewable
Energy Directive II (RED II) akan dipublikasikan dalma jurnal eresmi Uni Eropa. Sehingga
pada tahun 2024 sudah mulai berlaku pengurangan dan akan berlkau total pada tahun 2030.
Penggiat ingkungan Eropa menyebut pembukaan lahan yang terjadi akibat perluasan
perkebunan sawit menyebabkan gas rumah kaca yang tidak dapat dinetralisir/ kampanye
melawan sawit digaungkan agar negara-negara berhutan tropis seperti Indonesia dan
Malaysia berhenti eksploitasi lahan untuk sawit.

Kepala kampanye Forest global untuk Greenpeace Indonesia Kiki Taufik menilai
komitmen pemerintah Indonesia dalam mengatasi deforestasi masih belum serius. Salah satu
penyebab yang utama dari deforestati adalah [embukaan lahan untuk perkebunan kelapa
sawit. Pernyataan tersebut merespon klaim pemerintah dalam pertemuan World Economic
Forum. Pada pertemuan tersebut menteri bidang kemaritiman mengatakan bahwasannya

9
pemerintah sedang mengatasi persoalan tentang hutan seperti dengan mengeluarkan
kebijakan tentang larangan untuk membuka lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit.
Menurut Greenpeace, dari data University of Maryland tahun 2017 Indonesia kehilangan
355,5 ribu hektar hutan dan 80 ribu hektarnya dari palm oil penyebab terbesarnya adalah
industri kelapa sawit (Thomas, 2019).

BAB III
PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan
Minyak diesel merupakan salah satu BBM yang memegang peranan penting dalam
perekonomian Indonesia. Biodiesel adalah bahan bakar diesel alternatif yang terbuat dari
sumber daya hayati terbarukan seperti minyak nabati atau lemak hewani. Biodiesel dibuat
melalui reaksi transesterifikasi minyak atau lemak menggunakan katalis asam atau basa.
Proses transesterifikasi dilakukan dengan mereaksikan alkohol dengan minyak.

Biodiesel digunakan sebagai campuran dari minyal diesel yang dibiasa disebut
dnegan B20 hingga B100. Pada alternatif ini terdapat bermacam-macam pendapat terdapat
pendapat yang pro atau mendukung dan terdapat yang kontra atau bertolak belakang. Salah
satunya yang bertolak belakang adalah organisasi lingkungan global yang bernama
GreenPeace. GreenPeace menganggap pemerintah hanya mengedepankan energi yang
besumber dari kelapa sawit yang tidak memiliki potensi menambah angka deforestasi.

3.2 saran
Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari
kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada
banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan
kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.

10
DAFTAR PUSTAKA
Bradshaw, G. B & W.C. Meuly. 1994). Preparation of Detergents. US Patent, 360-844.
Clements F. Ma & M. A. Hanna. (1999). The Effect of Catalyst, Free Fatty Acid and
Water on Transesterfication of Beef Tallow. Transactions of The American Society
of Agricultural Engineers, 1261-1264.
DetikNews. 2019. Greenpeace : penegakan hukum di bidang lingkungan hidup sulit.
(online), https://news.detik.com/dw/d-4436321/greenpeace-penegakan-hukum-di
bidang-lingkungan-hidup-sulit, diakses tanggal 5 November 2019.
Destianna, M. d. (2007). Intensifikasi Proses Produksi Biodiesel. Bandung: LKIM, Institut
Teknologi Bandung.
Febrianti. 2019. Greenpeace kecewa capres jokowi dan Prabowo dukung biodiesel.
(online), Http://antara news. Com., diakses tanggal 5 november 2019.
Freedman, B., Pride, E.H., and Mounts, t.L. (1984). Variable Affecting the Yields of Fatty
Esters from Transesterified Vegetable Oil. JAOCS, 1643-1683.
J. M. Marchetti & A. F. Errazu. (2008). Esterification of Free Fatty Acid Using Sulfuric
Acid as Catalyst in the Presence of Triglycerides. Biomass and Bioenergy, 892-
895.
Khan, A.K. 2002. Research into Biodiesel Kinetics and Catalyst Development. .
Departemen Teknik Kimia. Universitas Queensland.
M Mittelbach & C Remschmidt. (2004). Biodiesel : The Comprehensive Handbook. Graz:
Boersedruck Ges M.b.H.
McKetta, J. J. (1978). Encyclopedia of Chemical Processing and Design. New York:
Marcell Decker Inc.
Pinto , dkk. (2005). Biodiesel : An Overview. J. Braz Chem Soc, 1313-1330.

11
Prakoso, I. N. (2003). Esterifikasi Asam Lemak Bebas dalam CPO untuk Produksi Metil
Ester. Yogyakarta: Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia.
Schuchardt, U., & Shercheli, R. &. (1998). Transesterification of Vegetable Oils. Sao
Paulo: Instituto de Quimica, Universidade Estadual de Campinas, Brazil.
Sirvastava, A. dan Prasad, R., 2000. Triglycerides Based Biodiesel Fuels, Renewable
Sustainable Energy, 4, 111-133.
Soerawidjaja. (2006). Intesifikasi Proses Produksi Biodisel. Bandung: Departemen Teknik
Kimia ITB.
Thomas, Vincent Fabian. 2019. Bantah Luhut, Greenpeace: Sawit Masih Penyebab
Deforestasi Terbesar. (online), https://tirto.id/bantah-luhut-greenpeace-sawit
masih-penyebab-deforestasi-terbesar-dfgs, diakses 6 November 2019.
Wibisono, A. (2007). Conoco Phillips Produksi Biodiesel dari Lemak Babi. Jakarta.

12