Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesadaran diri adalah keadaan dimana seseorang bisa memahaminya
dirinya sendiri dengan setepat-tepatnya. Seseorang disebut memiliki
kesadaran diri jika seseorang tersebut memahami emosi dan mood yang
sedang dirasakan, kritis terhadap informasi mengenai dirinya sendiri, dan
sadar tentang dirinya yang nyata ( Achmanto Mendatu (2010).
Klasifikasi nilai adalah pendekatan untuk pendidikan moral yang
menekankan pada upaya membantu orang untuk mengklarifikasi untuk apa
hidup mereka dan apa yang layak untuk dikerjakan dalam hidup ini, murid
didorong untuk mendefinisikan sendiri nilai dari mereka dan memahami nilai
diri orang lain John W. Santrock (2007).
Pengertian fenomena adalah berbagai hal yang dapat disaksikan dengan
panca indera serta dapat diterangkan dan dinilai secara ilmiah Prof. Dr.
Buchari Lapau, dr. MPH (2012).
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan teori Kesadaran diri?
2. Apa fenomena mengenai kesadaran diri?
3. Apa pengertian nilai?
4. Apa fungsi nilai?
5. Apa itu klarifikasi nilai?
C. Tujuan
1. Mampu memahami teori kesadaran diri.
2. Mampu memahami fenomena mengenai kesadaran diri.
3. Mampu memahami klarifikasi nilai.

i
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kesadaran Diri (Self-Awareness)


Self-awarness atau kesadaran diri adalah wawasan kedalam atau wawasan
mengenai alasan-alasan dari tingkah laku sendiri atau pemahaman diri sendiri.
Bentuk-Bentuk kesadaran diri
Menurut Baron dan Byne tokoh psikologi sosial, mengatakan bahwa kesadaran
diri memiliki beberapa bentuk diantaranya:
1. Self-awarness subjektif adalah kemampuan organisme untuk membedakan
dirinya dari lingkungan fisik dan sosialnya.
2. Self-awarness objektif adalah kapasitas organisme untuk menjadi objek
perhatiannya sendiri, kesadaran akan keadaan pikirannya dan mengetahui
bahwa ia tahu dan mengingat bahwa ia ingat.
3. Self-awareness simbolik adalah kemampuan organisme untuk membentuk
sebuah konsep abstrak dari diri melalui bahasa kemampuan ini membuat
organisme mampu untuk berkomunikasi, menjalin hubungan, menentukan
tujuan mengevaluasi hasil dan membangun sikap yang berhubungan dengan
diri dan membelanya terhadap komunikasi yang mengancam.
Johari Window (Stuart dan Sunden. 1987, h.98) menggambarkan tentang
perilaku, pikiran, perasaan seseorang melalui gambar berikut:

1 2

Diketahui oleh diri sendiri Hanya diketahui oleh orang


dan orang lain lain

ii
3 4

Hanya diketahui oleh diri Tidak diketahui oleh


sendiri siapapun
Kuadran 1 adalah kuadran yang terdiri dari perilaku, pikiran dan perasaan yang
diketahui oleh individu dan orang lain disekitarnya. Kuadran 2 sering disebut kuadran
buta karena hanya diketahui oleh orang lain. Kuadran 3 disebut rahasia karena hanya
diketahui oleh individu. Ada 3 prinsip yang dapat diambil dari Johari Window yaitu :
1. Perubahan satu kuadran akan mempengaruhi kuadran yang lain.
2. Jika kuadran 1 yang paling kecil, berarti komunikasinya buruk atau kesadaran
dirinya kurang.
3. Kuadran 1 paling besar pada individu yang mempunyai kesadaran diri yang
tinggi.
Kesadaran diri dapat ditingkatkan melalui tiga cara (Stuart dan Sundeen,
1987,h.98 – 99) yaitu :
1. Mempelajari diri sendiri.
Proses eksplorasi diri sendiri, tentang pikiran, perasaan, perilaku,
termasuk pengalaman yang menyenangkan, hubungan hubungan interpersonal
dan kebutuhan pribadi. Caranya meningkatkan pengetahuan diri, diperlukan
dengan belajar tentang diri sendiri. Individu perlu menampilkan keikhlasan
dalam menampilkan emosinya, identifikasi kebutuhan dan kemampuan
personal, dan penampilan bentuk tubuh terhadap kebebasan, kegembiraan, dan
spontan. Yang termasuk penampilan personal meliputi pikiran, perasaan,
memori dan rangsangan.
2. Belajar dari orang lain
Belajar dan mendengar orang lain. Pengetahuan tentang diri tidak bisa
diketahui oleh diri sendiri. Juga berhubungan dengan orang lain, individu

iii
mempelajari diri sendiri, juga belajar untuk mendengar secara aktif dan
terbuka menerima umpan balik dari orang lain. Kesediaan dan keterbukaan
menerima umpan balik orang lain akan meningkatkan pengetahuan tentang
diri sendiri. Aspek yang negatif memberi kesadaran bagi individu untuk
memperbaikinya sehingga individu akan selalu berkembang setiap menerima
umpan balik.
3. Membuka diri
Keterbukaan merupakan salah satu kriteria kepribadian yang sehat.
Untuk ini harus ada teman intim yang dapat dipercaya tempat menceritakan
hal yang merupakan rahasia.
Proses peningkatan kesadaran diri sering menyakitkan dan tidak
mudah khususnya jika ditemukan konflik dengan ideal diri. Tetapi merupakan
tantangan untuk berubah dan tumbuh.
B. Klarifikasi Nilai
Klarifikasi nilai-nilai merupakan suatu proses dimana seseorang dapat
mengerti sistem nilai-nilai yang melekat pada dirinya sendiri. Hal ini merupakan
proses yang memungkinkan seseorang menemukan sistem perilakunya sendiri
melalui perasaan dan analisis yang dipilihnya dan muncul alternatif-alternatif, apakah
pilihan–pilihan ini yang sudah dianalisis secara rasional atau merupakan hasil dari
suatu kondisi sebelumnya (Steele&Harmon, 1983).
Mengerti akan nilai diri sendiri dapat mempermudah untuk melakukan
klarifikasi nilai yang dimiliki. Individu dapat lebih mendalam mengenal nilai yang
dimiliki melalui pengkajian, eksplorasi, dan mengartikan apa itu nilai dan membuat
prioritas dalam melakukan proses pengambilan keputusan. Klarifikasi nilai lebih
memfokuskan pada proses nilai yang terjadi, atau bagaimana masyarakat menjadi
mempunyai nilai dan dapat dipergunakannya.
Perawat harus mampu menjawab, apa yang penting untuk saya? Kesadaran
membantu perawat untuk sayang dan tidak menjauhi pasien dan membantu sesuai
dengan kebutuhannya.

iv
Walaupun hubungan perawat – klien merupakan hubungan timbal balik, tetapi
kebutuhan klien selalu di utamakan. Perawat sebaiknya mempunyai sumber kepuasan
dan rasa aman yang cukup, sehingga tidak menggunakan klien untuk kepuasan dan
keamanannya.
Jika perawat mempunyai konflik, ketidakpuasan, sebaiknya perawat menyadari
dan mengklarifikasi agar tidak mempengaruhi keberhasilan hubungan perawat –
klien. Dengan menyadari sistem nilai yang dimiliki perawat, misalnya kepercayaan,
seksual, ikatan keluarga, perawat akan siap mengidentifikasi situasi yang
bertentangan dengan sistem nilai yang dimiliki.
1. Eksplorasi Perasaan
Perawat perlu terbuka dan sadar terhadap perasaannya, dan mengontrolnya agar
ia dapat menggunakan dirinya secara terapeutik (Stuart dan Sundeen, 1987,h.102).
Jika perawat terbuka pada perasaannya maka ia mendapatkan dua informasi penting
yaitu bagaimana responnya pada klien dan bagaimana penampilannya pada klien.
Sewaktu berbicara dengan klien, perawat harus menyadari responnya dan mengontrol
penampilannya.
2. Kemampuan Menjadi Model (Role Model)
Perawat yang mempunyai masalah pribadi, seperti ketergantungan obat,
hubungan interpersonal yang terganggu, akan mempengaruhi hubungannya dengan
klien (Stuart dan Sundeen, 1987, h.102)
Perawat mungkin menolak dan mengatakan ia dapat memisahkan hubungan
profesional dengan kehidupan pribadi. Hal ini tidak mungkin pada asuhan kesehatan
jiwa karena perawat memakai dirinya secara terapeutik dalam menolong klien.
Contoh klarifikasi nilai
Perawat yang efektif adalah perawat yang dapat memenuhi dan memuaskan
kehidupan pribadi serta tidak didominasi oleh konflik, distress atau pengingkaran dan
memperlihatkan perkembangan serta adaptasi yang sehat. Perawat diharapkan
bertanggung jawab atas perilakunya, sadar akan kelemahan dan kekurangannya. Ciri

v
perawat yang dapat menjadi role model: Puas akan hidupnya, Tidak didominasi oleh
stress, Mampu kembangkan kemampuan dan Adaptif
3. Altruisme
Perawat harus dapat menjawab, mengapa kamu ingin menolong orang lain?
helper yang baik harus interes dengan orang lain dan siap menolong dengan cara
mencintai dari manusia tersebut. Secara benar bahwa seseorang selama hidupnya
membutuhkan kepuasan dan penyelesaian dari kerja yang dilakukan. Tujuannya
mempertahankan keseimbangan antara kedua kebutuhan tersebut.
Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa
memperhatikan diri sendiri.
 Efektif “helper”
 Interes pada orang lain
 Membantu dengan tulus dan cinta kasih
 Perhatian terhadap kesejahteraan orang lain
Altruisme lebih menitikkan pada kesejahteraan orang lain. Tidak diartikan
secara altruistik diri juga tidak menampilkan kompensasi yang adekuat dan
pengulangan atau pengingkaran secara praktis atau pengorbanan diri.
Akhirnya, altruisme juga dapat diasumsikan sebagai bentuk perubahan sosial
yang dibuat untuk manusia dalam bentuk kebutuhan akan kesejahteraan. Salah satu
tujuannya adalah semua profesional harus dapat membantu orang lain dalam
pemberian pelayanan dan mengembangkan kemampuan sosial. Secara legitimasi
diperlukan peran perawat dalam melakukan pekerjaannya untuk mengadakan
perubahan struktur yang besar dan proses perubahan sosial dalam meningkatkan
kesehatan individu dan kemampuan dirinya.
4. Etik dan Tanggung Jawab
Keyakinan diri pada seseorang dan masyarakat dapat memberikan berupa
kesadaran akan petunjuk untuk melakukan tindakan. Kode untuk perawat umumnya
menampilkan penguatan nilai hubungan perawat-klien dan tanggung jawab dan
pemberian pelayanan yang merupakan rujukan untuk semua perawat dalam

vi
memberikan penguatan untuk kesejahteraan pasien dan tanggung jawab sosial.
Pilihan etik bertanggung jawab dalam menentukan pertanggung jawaban, risiko,
komitmen dan keadilan.
Hubungan perawat dengan etik adalah kebutuhan akan tanggung jawab untuk
merubah perilaku. Dimana harus diketahui batasan dan kekuatan dan kemampuan
yang dimiliki. Juga dilakukan oleh anggota tim kesehatan, perawat yang setiap waktu
siap untuk menggali pengetahuan dan kemampuan dalam menolong orang lain;
sumber-sumber yang digunakan guna dipertanggung jawabkan.

vii
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran