Anda di halaman 1dari 11

Mata kuliah : Audit Keuangan

Materi : Audit Aktiva Tetap


Sub Materi : 1. Pengertian Aktiva Tetap
2. Aset Bersejarah
3. Perolehan Setelah Perolehan Aset Tetap
4. Pengukuran Berikutnya Terhadap Pengakuan Awal
5. Risiko Audit Aset Tetap
6. Tujuan dan Prosedur Audit Aset Tetap
7. Pengujian Pengendalian dan Substantif
Kelompok I : Synta Winda Puspita
Windy Anggraini Deby Furnama
M. Romainor

AUDIT AKTIVA TETAP

1. PENGERTIAN AKTIVA TETAP

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) No. 07 tentang


Akuntansi Aset Tetap, pengertian aset tetap adalah sebagai berikut.

”Aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan
untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.”
Berdasarkan kesamaan dalam sifat atau fungsi dalam aktivitas operasi entitas, aset
tetap diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Tanah
Yaitu tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah untuk digunakan dalam
kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan dalam kondisi
siap digunakan.
2. Peralatan dan Mesin
Yaitu peralatan dan mesin yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah untuk
digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan
dalam kondisi siap digunakan.
3. Gedung dan Bangunan
Yaitu gedung dan bangunan yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah untuk
digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan
dalam kondisi siap digunakan.
4. Jalan, lrigasi, dan jaringan
Yaitu jalan, irigasi, dan jaringan yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah untuk
digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan
dalam kondisi siap digunakan.
5. Aset tetap Iainnya
Yaitu aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok aset tetap di
atas, tetapi memenuhi definisi aset tetap. Aset tetap lainnya ini dapat meliputi koleksi
perpustakaan/buku dan barang bercorak seni/ budaya/olah raga.
6. Konstruksi dalam pengerjaan
Yaitu aset tetap yang sedang dalam proses pembangunan yang pada tanggal neraca
belum selesai dibangun seluruhnya.

Karakteristik Aktiva Tetap

Adapun karakteristik dari aktiva tetap adalah:

1. Akun aktiva tetap pada neraca, umumnya, mempunyai saldo yang besar

2. Akun aktiva tetap frekuensi transaksi perubahannya sedikit

Kriteria Pengakuan Aktiva Tetap

Suatu aset dapat diklasifikasikan sebagai aset tetap jika memenuhi kriteria-kriteria
sebagai berikut.

1. Masa manfaat lebih dari 12 bulan.

2. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.

3. Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas.

4. Diperoleh/dibangun dengan maksud untuk digunakan.

Pengukuran Aktiva Tetap

Menurut Standar Akuntansi Pemerintahan, aset tetap dapat dinilai dengan dua cara
sebagai berikut:

1. Aset tetap yang diperoleh atau dibangun secara swakelola dinilai dengan biaya
perolehan.
Biaya perolehan yang dimaksud adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk
memperoleh aset tetap sampai dengan aset tetap tersebut dalam kondisi dan tempat
yang siap untuk digunakan. Hal ini dapat diimplementasikan pada aset tetap yang
dibeli atau dibangun secara swakelola.

2. Aset tetap yang tidak diketahui harga perolehannya disajikan dengan nilai wajar.
Nilai wajar adalah nilai tukar aset tetap dengan kondisi yang sejenis di pasaran pada
saat penilaian. Aset tetap yang berasal dari hibah, yang tidak diketahui harga
perolehannya, pemerintah dapat menggunakan nilai wajar pada saat perolehan.

Komponen biaya yang dapat dimasukkan sebagai biaya perolehan suatu


aset tetap terdiri dari:

1. Harga beli,

2. Bea impor,
3. Biaya persiapan tempat,

4. Biaya pengiriman awal dan biaya simpan dan bongkar muat (handling cost),

5. Biaya pemasangan,

6. Biaya profesional seperti arsitek dan insinyur, serta

7. Biaya konstruksi (biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak
langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik,
sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan
pembangunan aset tetap tersebut).

Yang tidak termasuk komponen biaya aset tetap adalah:

1. Biaya administrasi dan biaya umum lainnya sepanjang biaya tersebut tidak dapat
diatribusikan secara langsung pada biaya perolehan aset atau membawa aset ke
kondisi kerjanya.

2. Biaya permulaan (start-up cost) dan pra-produksi serupa, kecuali biaya tersebut
perlu untuk membawa aset ke kondisi kerjanya.

2. ASET BERSEJARAH

Standar Akuntansi Pemerintah tidak mengharuskan pemerintah untuk menyajikan


aset bersejarah di neraca, tetapi aset tersebut harus diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan. Karakteristik berikut merupakan ciri khas dari suatu aset bersejarah.

1. Nilai kultural, lingkungan, pendidikan, dan sejarahnya tidak mungkin, secara penuh,
dilambangkan dengan nilai keuangan berdasarkan harga pasar.

2. Peraturan dan hukum yang berlaku melarang atau membatasi secara ketat
pelepasannya untuk dijual.

3. Tidak mudah untuk diganti dan nilainya akan terus meningkat.

4. Sulit untuk mengestimasi masa manfaatnya.

3. PENGELUARAN SETELAH PEROLEHAN ASET TETAP

Pengeluaran belanja untuk aset tetap setelah perolehan dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu:

1. Belanja untuk pemeliharaan


Pengeluaran yang dikelompokkan ke dalam belanja pemeliharaan adalah
pengeluaran yang sifatnya mempertahankan kondisi aktiva tetap sesuai dengan
kondisi awal.
2. Belanja untuk peningkatan
Pengeluaran-pengeluaran yang dikelompokkan ke dalam belanja untuk peningkatan
adalah pengeluaran yang sifatnya memberi manfaat ekonomik di masa yang akan
datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, masa manfaat, mutu produksi, atau
peningkatan standar kinerja. Pengeluaran-pengeluaran tersebut dikapitalisasi untuk
menambah nilai aktiva tetap yang bersangkutan.

Kapasitas biaya yang dimaksud harus ditetapkan dalam kebijakan akuntansi suatu
entitas. Masing-masing entitas harus rnenetapkan batasan jumlah kapitalisasi dimaksud
(capitalization thresholds) dan harus diterapkan secara konsisten dan diungkapkan dalam
catatan atas laporan keuangan.

Dalam Keputusan Menteri Keuangan, KMK 01/KMK 12/thn 2001 tentang


Capitalization thresholds ditetapkan bahwa:

Pengeluaran/belanja yang bernilai lebih dari Rp 300.000,00 untuk selain gedung


dan bangunan akan dikapitalisasi pada aktiva tetap, dan

Pengeluaran belanja yang bernilai lebih dari Rp 10.000.000,00 untuk Gedung dan
Bangunan akan dikapitalisasi pada aktiva tetap.

4. PENGUKURAN BERIKUTNYA TERHADAP PENGAKUAN AWAL

Seiring dengan semakin lamanya digunakan, aktiva selain tanah akan mengalami
penurunan manfaat karena aus atau rusak karena pemakaian. Dalam rangka penyajian nilai
wajar terhadap aset-aset tersebut dapat dilakukan:

1. Penyusutan

Aktiva Tetap disajikan berdasarkan biaya perolehan aset tersebut dikurangi


Akumulasi penyusutan.

Metode penyusutan yang dapat diterapkan sesuai dengan PSAP 07 adalah:

 Metode garis lurus (straight line method)

 Metode Saldo menurun (double declining balance method)

 Metode unit Produksi (unit of production method)

2. Revaluasi

Dalam hal terjadinya perubahan harga secara signifikan, pemerintah dapat


melakukan penilaian kembali atas aset tetap yang dimiliki. Hal ini diperlukan agar nilai aset
tetap pemerintah yang ada saat ini mencerminkan nilai wajar sekarang. SAP mengatur bahwa
pemerintah dapat melakukan penilaian kembali (revaluasi) sepanjang revaluasi tersebut
dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah yang berlaku secara nasional, misalnya undang-
undang, peraturan pemerintah, atau peraturan presiden.

3. Penghentian atau pelepasan


 Bila Aktiva Tetap sudah rusak berat & tidak dapat digunakan lagi, aktiva tersebut
harus dihapuskan dari pembukuan. Untuk keperluan tersebut, diperlukan Surat
keputusan penghapusan.
Sembari rnenunggu surat keputusan penghapusan, aset tetap di atas dipindahkan
menjadi akun Aset Lain-Lain dalam kelompok Aset Lainnya dan diungkapkan
dalam catatan atas laporan keuangan.
 Bila aset tetap telah dilepaskan atau secara permanen dihentikan penggunaannya
dan tidak ada lagi manfaat ekonomi di masa yang akan datang, aset tetap tersebut
harus dihapuskan. Jika aset tetap tersebut telah dihapuskan melalui surat keputusan
penghapusan, aset tersebut harus dieliminasi dari neraca dan diungkapkan dalam
catatan atas laporan keuangan.

Selain disajikan pada lembar muka neraca, aset tetap juga harus diungkapkan
dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Dalam catatan atas laporan keuangan, harus
diungkapkan untuk masing-masing jenis aset sebagai berikut:
1. Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat
2. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
 Penambahan
 Pelepasan
 Akumulasi penyusutan dan revaluasi
 Mutasi aset tetap lainnya
3. Informasi penyusutan, meliputi
 Nilai penyusutan
 Metode penyusutan yang digunakan
 Masa manfaat atau tarif penyesuaian yang digunakan
 Nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.

Dalam CaLK juga harus diungkapkan:


1. Eksistensi & batasan hak milik atas Aktiva Tetap.
2. Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aktiva Tetap.
3. Jumlah pengeluaran pada pos Aktiva Tetap dalam konstruksi.

Masalah-Masalah Potensial

Beberapa masalah yang berpotensi terjadi pada aset tetap:


1. Pembelian aktiva tetap yang mungkin tercatat dalam akun yang tidak semestinya
atau tidak tercatat dalam transaksi.
2. Aktiva tetap yang dibeli ternyata tidak dapat dipakai atau tidak digunakan.
3. Aktiva tetap yang telah hilang dan dijual masih tercatat.
4. Penjualan aktiva tetap tidak tercatat dalam laporan keuangan.
5. Kesalahan penetapan umur hidup aset tetap sehingga menyebabkan kesalahan
perhitungan beban depresiasi.

5. RESIKO AUDIT ASET TETAP


Risiko Audit (AR) merupakan risiko saat auditor tidak melakukan modifikasi
pendapat sebagaimana mestinya atas laporan keuangan yang mengandung salah saji material.
Berikut risiko audit pada Aktiva Tetap:
1. Inherent Risk (IR)
 Pada umumnya, Inherent Risk atas aktiva tetap rendah-sedang, sedangkan IR
untuk asersi “keberadaan & kejadian” dan “penilaian atau alokasi” cenderung
tinggi.
 Beberapa masalah yang dapat meningkatkan inherent risk:
 Aktiva tetap mungkin dibebankan pada akun yang salah atau sama sekali
tidak dicatat.
 Aktiva tetap mungkin digunakan untuk tujuan lain yang mana bukan
seperti diharapkan.
 Penjualan, kerugian, atau aset yang dicuri mungkin belum dihapuskan
dalam daftar aktiva tetap.
 Perhitungan biaya depresiasi menggunakan masa manfaat dan metode
yang tidak tepat.
 Nilai aset tetap mungkin diperhitungkan ke biaya perbaikan,
pemeliharaannya, dan lain sebagainya.
2. Control Risk (CR)
Tujuan pengendalian atas asrt tetap adalah memastikan hal-hal berikut:
 Aktiva tetap telah dinilai dengan tepat sesuai dengan aturan dan kebijakan
Standar Akuntansi Pemerintah.
 Semua aktiva tetap yang memenuhi kriteria telah dimasukkan ke akun aktiva
tetap.
 Adanya kebijakan dan prosedur yang membedakan antara biaya perbaikan,
pemeliharaan dan belanja modal.
 Aset tetap dijaga sesuai dengan prosedur yang dibuat dari adanya kemungkinan
kehilangan, kecurangan atau penyalahgunaan.

Kunci pengendalian internal yang dirancang untuk memenuhi dari tujuan


pengendalian atas aset yang mencakup:
 Pemisahan tugas antara orang yang menjaga aset dengan orang yang melakukan
pencatatan dalam buku besar.
 Persetujuan yang tepat terhadap akuisisi aktiva tetap sesuai dengan prosedur dan
kebijakan entitas.
 Kebijakan dan prosedur untuk melatih personel entitas tentang cara mencatat, untuk
rekening, dan menginventarisasi aktiva tetap yang diperoleh.
 Kebijakan dan prosedur untuk menginstruksi personel tentang cara membedakan
antara aktiva tetap dengan perbaikan dan pemeliharaan.
 Kebijakan untuk memastikan bahwa aktiva tetap dijaga secara memadai dari
pencurian, kecurangan, dan penyalahgunaan.
 Kebijakan-kebijakan untuk menetapkan dan melelangkan akiva tetap yang sudah
tidak digunakan secara tepat.

3. Detection Risk (DR)


Untuk mendeteksi Detection Risk, auditor dapat menggunakan prosedur audit
sebagai berikut.
1. Analitical Review merupakan prosedur yang dapat diandalkan untuk mendeteksi
fluktuasi yang tidak biasa dalam aktiva tetap dan belanja modal atas dana
pemerintah.
2. Pilih sample dari penambahan dan penghapusan untuk tahun berjalan dan
vouching ke dokumen pendukungnya.
3. Pilih sample secara acak dari aktiva tetap yang ada dan telusuri pada daftar umum
persediaan aset tetap.
4. Periksa aktiva tetap yang disewakan kepada pihak kedua untuk menentukan
apakah telah dicatat dengan tepat.
5. Uji Aktiva Tetap dan belanja modal untuk kepatuhan dengan hukum dan regulasi.

6. TUJUAN DAN PROSEDUR AUDIT ASET TETAP

Tujuan audit terhadap aset tetap, belanja modal, penentuan depresiasi dan akumulasi
depresiasi adalah untuk menentukan:
1. Saldo-saldo dalam akun aset dalam neraca, termasuk di dalamnya sejumlah
saldo pada tahun sebelumnya, telah dinyatakan dengan tepat.
2. Penambahan-penambahan aktual atas aset yang terpasang atau dibangun telah
dikapitalisai dengan tepat.
3. Biaya-biaya dan depresiasi yang terkait atas aset yang dihapuskan dan
dilepaskan telah dicatat dengan tepat.
4. Depresiasi telah dihitung secara cermat dengan metode yang konsisten untuk
setiap periodenya.

Tabel di bawah ini menjelaskan tujuan audit secara spesifik yang berhubungan dengan
asersi laporan keuangan untuk aset tetap dan identifikasi prosedur audit substantive untuk
menyelesaikan tujuan audit:

Tabel : Tujuan audit dan prosedur audit Aktiva Tetap

Asersi laporan
Tujuan audit Prosedur audit substantif
keuangan

1. Uji keberadaan fisik


Keberadaan dan
Aktiva Tetap.
keterjadian
2. Vouching penambahan
dan penghapusan ke
Hak dan
Menilai apakah Aktiva tetap yang dokumen-dokumen
kewajiban
tercemin di neraca secara fisik ada dan pendukung.
secara sah dapat dibuktikan 3. Rekonsiliasi catatan aset
Kelengkapan
kepemilikannya. rinci ke buku besar dan
buku pembantu.
Kepatuhan
4. Uji atau dapatkan konfir-
masi langsung ke akta
dan dokumen.

1. Vouching penambahan
Keberadaan dan
Menilai apakah penambahan aset ke dokumen
keterjadian
penambahan aset telah dicatat dengan pendukungnya.
benar dalam hal akun, jumlah, dan 2. Review kebijakan
Kelengkapan
periodenya. Item modal diidentifikasi kapitalisasi untuk
dan dipisahkan dari item biaya memastikan bahwa
semua belanja modal Hak dan
pemeliharaan dan perbaikan.
yang signifikan telah kewajiban
dikapitalisasi dengan
tepat.

1. Review kebijakan
Keberadaan dan
Menilai apakah penghapusan, penghapusan aset.
keterjadian
penjualan, dan properti & peralatan 2. Vouching pelepasan aset
yang menganggur dilakukan dengan ke dokumen
Kelengkapan
prosedur penghapusan yang tepat, pendukungnya.
diidentifikasi, dan dicatat dengan tepat 3. Menanyakan kepada
Hak dan
terkait dalam hal akun, jumlah, dan Pemda tentang aset yang
Kewajiban
periode. dihapus selama periode
berjalan.

1. Review kebijakan
depresiasi dan uji
Penilaian atau
perhitungan
Menilai apakah perhitungan depresiasi Alokasi
depresiasinya.
dibuat dan dialokasikan dengan
2. Pastikan bahwa metode
menggunakan estimasi masa manfaat
depresiasi yang
(umur) dan metode depresiasi. Penyajian dan
digunakan telah
Pengungkapan
diungkapkan dalam
CaLK.

Asersi
Tujuan audit Prosedur audit substantif laporan
keuangan

1. Menanyakan kepada Pemda


Menilai apakah aset
tentang aset-aset mana yang Penilaian atau
yang menganggur
menganggur atau yang akan Alokasi
atau yang akan dijual kembali
dijual kembali.
diidentifikasi dan diklasifikasikan
2. Pastikan bahwa aset tersebut
secara terpisah dari aset tetap
telah diklasifikasi dan Penyajian dan
tahun berjalan yang masih
diungkapkan dalam laporan Pengungkapan
digunakan.
keuangan CaLK.

Menilai apakah aset tetap dan


depresiasinya telah disajikan
dengan tepat dalam LK dengan
1. Pastikan apakah sejumlah item
pengungkapan yang memadai Penyajian dan
aset yang dijaminkan sebagai
tentang: pengungkapan
agunan telah diungkapkan.
1. Dasar penilaian.
2. Review penyajian dan
2. Klasifikasi utama atas aset. Kepatuhan
pengungkapan di laporan
3. Metode depresiasi.
keuangan dan pastikan bahwa
4. Jumlah atas kapitalisasi sewa.
aset-aset tersebut telah disajikan
5. Kapitalisasi bunga.
seseuai dengan SAP.
6. Aset yang diperjanjikan atau
dijadikan subjek untuk digadaikan
jika ada.
7. PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN SUBSTANTIF

Pengujian pengendalian dilakukan untuk mengetahui apakah pengendalian yang


dilakukan telah berjalan efektif dan mencegah terjadinya salah saji yang material. Sedangkan
pengujian substantif dilakukan untuk menilai saldo-saldo yang disajikan dalam laporan
keuangan telah memenuhi asersi-asersi yang dimaksud pada aset tetap atau belum. Berikut
pungujian pengendalian dan pengujian substantif yang dapat dilakukan pada aset tetap

1. Pengujian Pengendalian
Tabel: Pengujian Pengendalian aset tetap

Program Index Auditor Tgl. Ket.

Pastikan Pemda telah memiliki prosedur


inventarisasi aset tetap dan lakukan review
tentang telah dilakukannya pemutakhiran data
sesuai dengan tanggal pemeriksaan.

Pilih sample aktiva tetap dan daftar aktiva tetap


dan tentukan apakah dalam sampel tersebut, telah
dinilai dan dijumlah dengan tepat sesuai dengan
kebijakan dan prosedur yang ada dalam Standar
Akuntansi Pemerintah

Apakah Pemda telah melakukan inventarisasi dan


revaluasi aset tetap pada neraca awal?

Pastikan Pemda memiliki prosedur untuk


mengamankan aset tetap yang dimilikinya,
lakukan observasi pengamanan aset tetap, dan
tentukan apakah pengamanannya telah cukup
memadai dari kehilangan dan
penyalahgunaannya.

Pastikan proses verifikasi dan otorisasi atas


dokumen sumber (faktur/dokumen pendukung
kapitalisasi) dalam penetapan nilai aset tetap yang
akan diinput dalam Sistem Informasi Aset yang
dimiliki?
2. Pengujian Substantif

Tabel: Pengujian Substantif aset tetap


Program Indeks Auditor Tgl Ket
PROSEDUR AUDIT AWAL
Lakukan prosedur audit awal atas
saldo rekening aset tetap yang akan
diuji

Telusuri saldo aset tetap


yang tercantum di neraca
1. ke saldo rekening aset
telap yang bersangkutan
ke buku besar.
Hitung kembali saldo
2. rekening aset tetap di
buku besar.
Lakukan review terhadap
mutasi luar biasa dalam
jumlah dan sumber
3.
posting pada rekening
aset tetap dan akumulasi
depresiasi

Telusuri posting
pendebitan dan
4. pengkreditan rekening
aset tetap ke dalam jurnal
yang bersangkutan.
PROSEDUR ANALITIS
5. Lakukan prosedur analitis
sebagai berikut:
Lakukan analytical review untuk
mengetahui perbedaan yang
signifikan antara saldo tahun lalu
dan tahun berjalan.
Teliti perbandingan realisasi
belanja modal dengan kenaikan
aset tetap di neraca.
Tetiti kenaikan atau penurunan
nilai akun yang tidak biasa
(unusual item) dari tahun
sebelumnya.
PENGUJIAN RINCI
Lakukan vouching mutasi
6. penambahan aset tetap tahun
berjalan di neraca ke dokumen
sumbernya.
Periksa berkurangnya aset tetap
7. ke dokumen yang mendukung
timbulnya transaksi tersebut.
8. Lakukan pisah hams transaksi
aset tetap.
Lakukan review terhadap
9. rekening biaya reparasi dan
pemeliharaan aset tetap.
10. Lakukan cut off atas saldo akhir
aset tetap.
11. Periksa bukti hak kepemilikan
aset tetap dan kontrak.
VERIFIKASI PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
Lakukan pengujian untuk
12. memastikan tidak terdapat
kesalahan klasifikasi aset tetap.
Bandingkan dengan penyajian
13. dan pengungkapan rekening aset
tetap dengan SAP.