Anda di halaman 1dari 10

Kelompok 2:

Synta
Nur Kumala Sari
Fasekhatun Nisa’
AKP 5A

Siklus Pengelolaan Keuangan Negara, Anggaran dan Akuntansi

Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, khususnya


pasal 1 dan 2 dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Keuangan Negara adalah semua hak dan
kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun
berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan
kewajiban tersebut. Keuangan negara tersebut meliputi:

a. Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang dan
melakukan pinjaman;
b. Kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan Negara
dan membayar tagihan pihak ketiga;
c. Penerimaan negara dan penerimaan daerah;
d. Pengeluaran negara dan pengeluaran daerah;
e. Kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa
uang, surat berhrga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang,
termasuk kekayaaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah;
f. Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas
pemerintahan dan/atau kepentingan umum;
g. Kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan
pemerintah.

Selanjutnya, dalam undang-undang tersebut pengelolaan keuangan negara diatur pada pasal 3
yaitu, keuangan negara dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang- undangan, efisien,
ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan
kepatutan. Pengelolaan tersebut mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan, penguasaan,
penggunaan, pengawasan, dan pertanggungjawaban.

Pengelolaan keuangan negara setiap tahunnya dituangkan dalam APBN.Dengan demikian


seluruh program/kegiatan pemerintah harus dituangkan dalam APBN (azas universalitas) dan
tidak diperkenankan adanya program/kegiatan yang dikelola di luar APBN (off budget).

Siklus APBN terdiri dari:


1. Perencanaan dan Penganggaran
2. Penetapan Anggaran
3. Pelaksanaan Anggaran
4. Pemeriksaan Anggaran
5. Pertanggungjawaban

1) PERENCANAAN
Perencanaan, sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 25 tahun 2004
tentang Sistem Pembangunan Pembangunan Nasional (SPPN) merupakan suatu “proses untuk
mementukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan
sumber daya yang tersedia.”
Perencanaan sangat penting sebagai salah satu proses dalam pengelolaan keuangan
negara. Perencanaan sangat bermanfaat dalam
(a) mengurangi ketidakpastian serta perubahan di masa datang;
(b) mengarahkan semua aktivitas pada pencapaian visi dan misi organisasi;
(c) sebagai wahana untuk mengukur tingkat keberhasilan atau kegagalan kinerja suatu
organisasi.
 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
Sistem Perencanaan pembangunan nasional diharapkan dapat menjamin tercapainya
tujuan dalam bernegara.SPPN mencakup penyelenggaraan perencanaan makro dari semua fungsi
pemerintahan yang meliputi semua bidang kehidupan secara terpadu dalam Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam cakupan waktu, SPPN disusun dalam cakupan tiga periode perencanaan, yaitu:
1. Jangka panjang dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dengan
jangka waktu 20 tahun;
2. Jangka menengah dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang
berjangka waktu 5 tahun, dan
3. Jangka pendek dalam bentuk Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dengan periode tahunan.
Selanjutnya, SPPN tersebut disusun dalam rangka mencapai tujuan sebagai berikut :
1. Menjamin adanya koordinasi di antara pelaku pembangunan, baik ditingkat pusat, pusat
dengan daerah maupun antar daerah;
2. Menjamin terciptanya intergrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar daerah, antarruang,
antarwaktu, antarfungsi pemerintah maupun antara Pusat dan daerah;
3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan,
dan pengawasan;
4. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan
5. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan
berkelanjutan.
Dalam suatu perencanaan pembangunan sebagai suatu siklus ada empat tahapan yang dilalui,
yakni:
1. penyusunan rencana;
2. penetapan rencana;
3. pengendalian pelaksanaan rencana; dan
4. evaluasi pelaksanaan rencana.

 Rencana Pembangunan Jangka Panjang


Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) merupakan suatu dokumen perencanaan
pembangunan daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun.Perencanaan ini bersifat makro yang
memuat “penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum
dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dalam
bentuk visi, misi, dan arah pembangunan Nasional. Proses penyusunan RPJP dilakukan secara
partisipatif dengan melibatkan seluruh unsur pelaku pembangunan.
Penyusunan RPJP dilakukan dalam 4 tahap, yaitu:
1. Penyiapan Rancangan RPJP, dimana kegiatan ini dibutuhkan guna mendapatkan
gambaran awal dari visi, misi, dan arah pembangunan nasional.
2. Musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) jangka panjang yang
dilaksanakan untuk mendapatkan masukan dan komitmen dari seluruh pemangku
kepentingan/stakeholders terhadap rancangan RPJP.
3. Penyusunan Rancangan Akhir RPJP. Seluruh masukan dan komitmen hasil Musrenbang
menjadi masukan utama penyempurnaan rancangan.
4. Penetapan undang-undang tentang RPJP, di bawah koordinasi Bappenas yang
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi hukum. Rancangan akhir RPJP
beserta lampirannnya disampaikan kepada DPR sebagai inisiatif Pemerintah, untuk
diproses lebih kanjut menjadi undang-undang tentang RPJP Nasional.

 Rencana Pembangunan Jangka Menengah


RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program kepala negara terpilih
yang wajib disusun dalam waktu tiga bulan setelah dilantik. Dalam penyusunannya, RPJMN
harus berpedoman pada RPJP Nasional, yang memuat strategi pembangunan Nasional, kebijakan
umum, program baik di dalam maupun lintas Kementerian/Lembaga, dalam satu maupun lintas
kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro.Termasuk di dalamnya adalah arah kebijakan fiskal
dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat
indikatif.

Tahapan Penyusunan RPJM


1. Penyiapan Rancangan awal RPJM Nasional oleh Bappenas sebagai lembaga yang
bertanggung jawab mengkoordinasikan perencanaan pembangunan secara nasional.
2. Penyiapan rancangan Rencana Strategis Kementrian/Lembaga (rancangan Renstra K/L),
yang dilakukan oleh seluruh kementerian dan lembaga. Penyusunan rancangan Renstra
ini bertujuan untuk merumuskan visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan
kegiatan pembangunan yang sesuai dengan tugas dan fungsi kementeria/lembaga, agar
selaras dengan program prioritas kepala negara terpilih.
3. Penyusunan rancangan RPJM Nasional oleh Kementerian Perencanaan. Tahap ini
merupakan upaya mengintegrasikan rancangan awal RPJM Nasioal dengan rancangan
Renstra K/L, yang menghasilkan rancangan RPJM Nasioal.
4. Penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) jangka
menengah nasional. Kegiatan yang dilaksanakan paling lambat dua bulan setelah
presiden dilantik ini dilaksanakan guna memperoleh berbagai masukan dan komitmen
dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) atas rancangan RPJM Nasional.
5. Penyusunan Rancangan Akhir RPJM Nasional, dimana seluruh masukan dan komitmen
hasil Musrenbang Jangka Menengah Nasional menjadi masukan utama penyempurnaan
rancangan RPJM Nasional.
6. Penetapan Peraturan Presiden tentang RPJM Nasional, di bawah koordinasi keenterian
yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi hukum.

 Rencana Strategis Kementerian/Lembaga


Renstra Kementerian/Lembaga (K/L) memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan,
program, dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi K/L serta
berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. Tahapan Penyusunan Renstra K/L
adalah sebagai berikut:

1. Mempelajari Visi, Misi, dan program kepala negara terpilih terhadap tugas dan fungsi
kementerian/lembaga yang dipimpinnya. Dalam hal ini menteri/kepala lembaga mengkaji
implikasi visi, misi, dan program presiden terpilih terhadap tugas pokok dan fungsi K/L
yang dipimpinnya dalam bentuk:
 Memberikan penilaian keterkaitan visi, misi, dan program dalam Renstra K/L
pada periode lalu;
 Mengidentifikasikan program presiden terpilih terhadap capaian kinerja program
K/L periode sebelumnya
 Membuat kesimpulan.
2. Menyusun Rancangan Renstra K/L dengan berpedoman pada Rancangan Awal RPJM
Nasional.
 Rencana Pembangunan Jangka Tahunan
Rencana Pembangunan Jangka Tahunan adalah perencanaan yang meliputi periode satu
tahun yang dalam hal ini disebut sebagai Rencana Kerja Pemerintah dan merupakan penjabaran
dari RPJM Nasional.
Selain RKP, pada tingkat kemeterian/lembaga disusun Rencana Kerja
Kementerian/Lembaga (Renja-KL). Renja-KL disusun berpedoman pada Renstra-KL yang telah
ada lebih dulu dan mengacu pada prioritas pembangunan Nasional.Penyusunan Renja-KL
dilakukan secara bersamaan dengan penyusunan RKP karena keduanya saling terkait. Adapun
tahap penyusunan RKP adalah sebagai berikut:
1. penyiapan rancangan awal RKP sebagai penjabaran RPJM Nasional;
2. penyiapkan rancangan Renja-KL sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan
mengacu kepada rancangan awal RKP;
3. Bappenas mengkoordinasikan penyusunan rancangan RKP dengan menggunakan
rancangan Renja-KL;
4. musyawarah perencanaan pembangunan (Musrembang);
5. penyusunan rancangan akhir rencana kerja berdasarkan hasil Musrembang; dan
6. Penetapan RKP dalam bentuk Peraturan Presiden.

2) PENGANGGARAN
Fungsi regular/fungsi utama negara adalah melaksanakan tugas yang membawa akibat yang
langsung dirasakan oleh masyarakat. Fungsi utama negara terdiri dari empat macam. Pertama
negara sebagai political state.Dalam hal ini pemerintah menjalankan fungsi pokoknya dalam
pemeliharaan ketenangan, ketertiban, pertahanan, dan keamanan.Kedua negara sebagai legal
state yang bertujuan untuk mengatur tata kehidupan bernegara dan tata kehidupan
bermasyarakat.Selanjutnya negara sebagai administrative state. Kedudukan ini menitikberatkan
pada azas demokrasi yaitu kekuasaan berada di tangan rakyat dan pemerintah hanyalah
menerima pendelegasian kekuasaan dari rakyat melalui wakil-wakilnya.Terakhir adalah negara
sebagai diplomatical state. Sebagai diplomatical state, negara bertujuan untuk menjalin
persahabatan dan memelihara hubungan internasional dengan negara-negara lain.
Selain menjalankan fungsi reguler dan agent of development, pemerintah memiliki tugas
yang lain dan sangat penting yaitu sebagai pengelola keuangan negara yang harus dilaksanakan
sesuai dengan tata aturan dan prosedur yang berlaku didalam pemerintahan.

1. Pengertian Anggaran

Kata anggaran merupakan terjemahan dari kata bahasa Inggris budget yang sebenarnya
berasal dari bahasa Perancis bougette. Kata ini mempunyai arti sebuah tas kecil. Berdasar dari
arti kata asalnya, anggaran mencerminkan adanya nsur keterbatasan. Pada dasarnya anggaran
perlu disusun karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki pemerintah, dalam hal ini adalah
dana.

Selanjutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menurut UU 17/2003


merupakan rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan
Perwakilan Rakyat.

2. Prinsip-prinsip penganggaran
Anggaran merupakan rencana keuangan yang secara sistematis menunjukkan alokasi
sumber daya manusia, material dan sumber daya lainnya.
Secara umum, prinsip-prinsip penganggaran adalah sebagai berikut:
1. Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran
2. Disiplin Anggaran
3. Keadilan Anggaran
4. Efisiensi dan Efektifitas Anggaran
5. Disusun dengan pendekatan kinerja

3. Anggaran Berbasis Kinerja


Anggaran berbasis kinerja merupakan metode penganggaran bagi manajemen untuk
mengaitkan setiap biaya yang dituangkan dalam kegiatan-kegiatan dengan manfaat yang
dihasilkan. Manfaat tersebut didiskripsikan pada seperangkat tujuan dan dituangkan dalam target
kinerja pada setiap unit kerja.
Elemen-elemen yang penting untuk diperhatikan dalam penganggaran berbasis kinerja adalah:
 Tujuan yang disepakati dan ukuran pencapaiannya;
 Pengumpulan informasi yang sistematis atas realisasi pencapaian kinerja dapat
diandalkan dan konsisten, sehingga dapat diperbandingkan antara biaya dengan
prestasinya

 Penyusunan RKA K/L


Penyusunan RKA-K/L dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan pengeluaran
jangka menengah, terpadu dan prestasi kerja. Pendekatan kerangka pengeluaran jangka
menengah (KPJM) dilaksanakan dengan menyusun prakiraan maju yang berisi perkiraan
kebutuhan anggaran untuk program dan kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran
berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan dan merupakan implikasi kebutuhan dana
untuk pelaksanaan program dan kegiatan tersebut pada tahun berikutnya.

 Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara


Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terdiri dari Pendapatan, Belanja, dan
Pembiayaan.Anggaran Pendapatan merupakan estimasi pendapatan yang mungkin dicapai dalam
periode yang bersangkutan.Kelompok anggaran pendapatan terdiri dari penerimaan dalam negeri
dan hibah.
Anggaran belanja merupakan batas tertinggi pengeluaran yang dapat dibebankan pada
APBN.Belanja klasifikasikan menurut organisasi, fungsi, program dan kegiatan, serta jenis
belanja.
Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan disesuaikan dengan rencana kerja
masing-masing kementerian/lembaga.
Klasifikasi belanja menurut jenis belanja terdiri dari:
1. belanja pegawai;
2. belanja barang dan jasa;
3. belanja modal;
4. bunga;
5. subsidi;
6. hibah;
7. bantuan sosial; dan
8. belanja lainnya.
 PELAKSANAAN ANGGARAN
1. ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan suatu dokumen yang
sangat penting artiya dalam penyelenggaraan pemerintahan suatu Negara.Undang_Undang
APBN mencerminkan otorisasi yang diberikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kepada
Pemerintah untuk melaksanakan program-program pembangunan dalam batas-batas anggaran
yang telah ditetapkan. Anggaran pendapatan merupakan estimasi penerimaan (estimated
revenue) yang diperkirakan akan diterima dalam satu tahun anggaran, sedangkan anggaran
belanja merupakan pagu anggaran belanja yang disediakan untuk membiayai program dan
kegiatan selama satu tahun anggaran (appropriation). Undang-undang APBN inilah yang
mengatur program dan kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh Pemerintah dalam suatu tahun
anggaran.
2. DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN
Dokumen pelaksanaan anggaran memuat alokasi anggaran yang disediakan kepada
pengguna anggaran.Alokasi anggaran pendapatan disebut Estimasi pendapatan yang
dialokasikan dan alokasi anggaran belanja disebut allotment.Dokumen pelaksanaan anggaran di
Pemerintah Pusat disebut Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) sedangkan di Pemerintah
daerah disebut Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA SKPD).
Paradigma baru dalam pengelolaan keuangan Negara adalah beralihnya konsep
administrasi keuangan (financial administration) ke manajemen keuangan (financial
management). Salah satu pendekatan yang digunakan dalam refomasi manajemen keuangan
Negara adalah “let the managers manage”. Dengan pendekatan ini kepada pengguna anggaran
diberikan fleksibilitas untuk melaksanakan anggaran.Dengan mekanisme yang demikian maka
kepada para pengguna anggaran diberikan seluas-luasnya untuk mengatur anggarannya,
dituangkan dalam DIPA sesuai dengan kebutuhan.
Namun demikian mekanisme check and balance tetap dilaksanakan sehingga DIPA
yang disusun oleh pengguna anggaran tidak serta merta langsung diberlakukan, namun harus
dibahas dulu dengan Kementerian Keuangan, dalam hal ini dilaksanakan oleh Direktorat
Pelaksanaan Anggaran, Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk memperoleh pengesahan.
Anggaran dalam DIPA diklasifikasikan terinci sampai organisasi, fungsi, sub fungsi, program,
kegiatan, dan jenis belanja.
3. PEMBAGIAN KEWENANGAN
Dalam rangka pelaksanaan anggaran, Presiden mendelegasikan kewenangannya kepada
menteri/pimpinan lembaga sebagai pengguna anggaran.Sedangkan kewenangan untuk
pengelolaan keuangan didelegasikan kepada Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum
Negara.
Menteri teknis/pimpinan lembaga merupakan chief of opertional officer sedangkan
Menteri Keuangan merupakan chief of financial officer.Dalam pelaksanaan anggaran, mereka
mempunyai kedudukan yang seimbang dalam rangka menjaga terlaksananya mekanisme check
and balance. Kuasa Pengguna Anggaran dapat ditunjuk sehubungan dengan kompleksitas
kegiatan, rentang kendali yang luas, jumlah anggaran yang besar, atau karena lokasi kegiatan.
Konsep siklus anggaran dan akuntansi menurut PP No 71 tahun 2010:
1. Siklus Anggaran
Anggaran berfungsi sebagai alat perencanaan, pengendalian, kebijakan fiskal, politik,
koordinasi dan komunikasi, penilaian kinerja, pemotivasi dan menciptakan ruang publik.
Tujuannya membandingkan antara anggaran dan realisasinya. Rentang waktunya lebih dari satu
periode, transaksi yang dicatat hanya transaksi yang dianggarkan dan laporan yang dihasilkan
adalah Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Perubahan SAL.
2. Siklus Akuntansi
Siklus akuntansi berfungsi untuk mencatat, mengklasifikasi, menggolongkan,
menganalisis, mengikhtisarkan dan melaporkan dan menginterprestasikan transaksi. Rentang
waktunya satu periode (satu tahun), transaksi yang dicatat adalah semua transaksi, baik yang
dianggarkan maupun tidak dianggarkan dan laporan yang dihasilkan adalah Neraca, Laporan
Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas dan Calk.