Anda di halaman 1dari 11

Kelompok 6

Nama Anggota :

- Ahmad Mufin (1706104483)


- Evitabasa (1706104514)
- Rahayu Windasari (1706104584)

RANGKUMAN NANO TEKNOLOGI


Nanoteknologi adalah satu ilmu atau teknologi yang mempelajari obyek yang ukurannya
sangat kecil (sepersemiliar meter), kemudian dilakukan rekayasa untuk menghasilkan benda-
benda baru yang menjadi karakter khusus seperti yang diinginkan. Konsepnya pertama kali
diperkenalkan pada akhir 1959 oleh Richard Feynman, ahli fisika Amerika Serikat yang kemudian
meraih Nobel Fisika pada 1965. Namun, teknologi nano ternyata sudah diteliti lebih dulu oleh
Profesor Norio Taniguchi dari Tokyo Science University. Pada 1940, ia mulai mempelajari
mekanisme pembuatan nanomaterial dari kristal kuarts, silikon, dan keramik alumina dengan
menggunakan mesin ultrasonik. Miniaturisasi material hingga orde molekuler itu dilakukan, antara
lain, dipicu oleh tuntutan pengecilan ukuran perangkat elektronik dan komputer. Dengan adanya
partikel nano itu, IC berukuran 1 sentimeter persegi, misalnya, dapat dimasukkan miliaran
transistor sehingga rangkaian tersebut berkapasitas terabyte, bukan lagi gigabyte. Potensi
penerapan nanoteknologi tidak sebatas untuk membuat nanomaterial bagi peranti mikroelektronik,
tetapi juga bagi industri lain. Penerapan material nano pun bukan hanya pada barang teknik,
melainkan juga pada produk makanan, obat-obatan, dan kosmetik. Selain itu dapat juga digunakan
untuk membuat alat-alat kesehatan (biomedik). Dengan membuat partikel berskala nanometer,
kemudian menyusupkannya di antara partikel berukuran mikron, akan dihasilkan jenis material
baru bersifat super, antara lain tingkat kekerasan, pengantaran listrik, dan sifat magnetnya. Dengan
kelebihan itu akan dihasilkan produk berkualitas, yaitu tidak mudah aus, hemat energi karena tahan
panas, dan tidak memerlukan pendinginan. Dengan demikian, akan menghemat biaya operasional
dan pemeliharaan serta ramah lingkungan. Memadukan material nano titan nitril pada komposit
keramik akan menghasilkan material baru yang kekerasannya melebihi intan. Apabila material
nano digunakan pada cat, akan berefek antigores, antiluntur, dan memantulkan panas. Secara
keseluruhan, nanoteknologi dapat mencakup semua ranah ilmu pengetahuan, mulai dari kimia,
material dan fisik, teknik, biologi, dan aplikasi medis.
Berikut adalah contoh aplikasinya dalam berbagai bidang :

1. Biomedik - Pil Kamera


Pada tahun 2008, para ahli di Amerika Serikat telah berhasil mengembangkan
sebuah kamera kecil sebesar pil yang dapat ditelan. Kamera ini digunakan untuk
mengambil gambar berkualitas tinggi dan berwarna dalam ruangan tertutup seperti bagian
dalam tubuh. Alat canggih ini telah mulai digunakan untuk mendeteksi gejala-gejala awal

Tugas Topik Khusus Elektronika


kanker esofagus, sejenis kanker yang menyerang kerongkongan pada sistem pencernaan
yang kini tengah berjangkit di AS. Pil khusus berisi kamera yang dapat mengeksplorasi
tubuh pasien sehingga dapat menemukan apa yang salah dalam tubuhnya. Pil kamera ini
didesain secara khusus sehingga menempatkan endoskop kecil menjadi sangat nyaman
bagi pasien. Alat ini hanya terdiri dari sebuah serat optik untuk iluminasi (pencahayaan)
dan enam serat optik lainnya untuk mengumpulkan cahaya. Semuanya ini dikemas seperti
sebuah pil. Ketika ditelan, arus listrik mengalir melalui endoskop UW dan membuat serat
optik ini berfungsi layaknya mata electronis. Pada saat yang sama serat ini berputar dan
memproyeksikan cahaya laser merah, hijau dan biru. Proses pencitraan ini kemudian
mengkombinasikan seluruh informasi menjadi gambar dua dimensi pada layar. Eric Seibel,
penulis penelitian dari Universitas Washington sekaligus relawan pertama yang terlibat
dalam pengujian alat ini, mengaku sangat nyaman dan serasa menelan sebuah pil biasa.
Pada tahun 2014, perusahaan kesehatan asal Israel, Given Imaging
memperkenalkan produk PillCam, kapsul berbentuk pil yang memiliki kamera pada kedua
ujungnya. Kapsul ini bekerja dengan mengarungi usus besar selama delapan jam dan
merekam gambar apa yang terjadi pada usus besar, dan kemudian dikirimkan ke sebuah
perangkat. Kehadiran solusi ini menjadi alternatif bagi pasien yang memiliki masalah pada
saluran pencernaan. Sebab, tiap tahun terdapat 750 ribu pasien kolonoskopi di AS yang tak
tuntas menjalani pemeriksaan usus besar. Menurut perusahaan, tak tuntasnya pemeriksaan
membuat dokter tidak mampu melihat riwayat operasi perut atau penyakit lain yang
mempengaruhi usus besar. Di sisi harga pun, pil ini relatif sangat bersahabat dibandingkan
kolonoskopi. Kapsul berkamera ini dibanderol dengan harga US$500 (setara Rp6 juta).
Harga ini lebih terjangkau dibanding pemeriksaan kolonoskopi tradisional yang mencapai
ribuan dolar. PillCam pun telah disetujui Departemen Obat dan Makanan AS dan siap
digunakan di 80 negara lain.

Gambar 1. PillCam

2. Kimia - Graphene
Pada era global ini, banyak sekali isu mengenai energi bermunculan, mulai dari
sumber energi baru, terobosan energi alternatif, sampai pengembangan media
penyimpanan energi. Media penyimpan energi yang dipakai pada alat elektronik sehari-
hari adalah baterai dan kapasitor. Selama ini baterai memang dianggap efektif untuk
menjadi sumber daya bagi alat yang membutuhkan voltase rendah. Namun, terdapat
kelemahan jika sering dipakai maka baterai akan mengalami voltage drop. Adanya super
kapasitor yang dipasang pada baterai akan meningkatkan performa dan umur pakai baterai.

Tugas Topik Khusus Elektronika


Graphene adalah material baru yang ditemukan tahun 2004 secara sederhana oleh Andre
Geim dan Konstantin Novoselov dengan menggunakan selotip yang direkatkan dengan
karbon sehingga didapat lapisan dengan orde nanometer dari karbon tersebut. Graphene
memiliki keunggulan mobilitas muatan yang tinggi dan memiliki konduktivitas listrik dan
panas lebih baik dari material yang lain seperti lithium. Baterai bisa diisi penuh dari
keadaan kosong dalam waktu kurang dari 30 menit. Berbentuk lembaran tipis, graphene
200 kali lebih kuat dibanding baja, lebih ringan dari kertas, dan bisa menyimpan daya
dengan cepat. Karena ketipisannya, baterai graphene bisa disisipkan di tempat sempit.
Sejak tahun 2017, perusahaan elektronik Korea Selatan, Samsung, telah melakukan
penelitian tentang graphene untuk menggantikan baterai smartphone yang terbuat dari
lithium ion.

Gambar 2. Pembuatan Graphene


3. Elektronik – Nano Transistor
Pemakaian jumlah transistor pada sebuah keping IC terus meningkat dari tahun ke
tahun. Gordon Moore, saat masih di Fairchild Semiconductor melakukan observasi dan
memprediksikan kecenderungan tersebut melalui tulisannya berjudul Cramming More
Components Onto Integrated Circuits (memasukkan sebanyak mungkin komponen pada
rangkaian terintegrasi) yang dimuat di majalah Electronics No. 8 Volume 38 pada 19 April
1965. Dalam tulisannya, Moore meramalkan, pemakaian transistor pada keping IC
meningkat secara eksponensial dua kali lipat setiap tahun. Prediksi Moore dikenal sebagai
Hukum Moore dan terbukti hingga saat ini. Namun kecenderungan tersebut terus menurun
dan mulai dipertanyakan ketepatannya, sehingga peningkatan jumlah IC secara
eksponensial berlangsung rata-rata menjadi setiap 18 bulan.
Para perintis nanoteknologi, suatu bidang baru teknologi miniatur, telah melihat
kemungkinan penggunaan materi seukuran molekul untuk membuat komponen elektronika
di masa depan. Dalam teknologi ini, ukuran sirkuit-sirkuit elektronika bisa jadi akan lebih
kecil dibandingkan garis tengah potongan rambut atau bahkan seukuran dengan diameter
sel darah manusia. Ukuran transistor di masa mendatang akan menjadi sangat kecil
berskala atom yang disebut quantum dot. Para peneliti dari MIT dan University of
Colorado telah membuat transistor 3-D yang kurang dari setengah ukuran model komersial
terkecil saat ini. Untuk melakukannya, mereka mengembangkan teknik microfabrication
baru yang memodifikasi atom materi semikonduktor oleh atom. Inspirasi di balik pekerjaan

Tugas Topik Khusus Elektronika


itu adalah untuk mengikuti Hukum Moore, sebuah pengamatan yang dibuat pada 1960-an
bahwa jumlah transistor pada sirkuit terpadu berlipat ganda setiap dua tahun. Untuk
mematuhi “aturan emas” elektronika ini, para peneliti terus mencari cara untuk
menjejalkan sebanyak mungkin transistor ke microchip. Tren terbaru adalah transistor 3-D
yang berdiri secara vertikal, seperti sirip, dan berukuran sekitar 7 nanometer — puluhan
ribu kali lebih tipis daripada rambut manusia. Puluhan miliaran transistor ini bisa muat
pada satu microchip, yang seukuran kuku jari.

Gambar 3. 3D Transistor

Seperti yang dijelaskan dalam makalah yang dipresentasikan pada Pertemuan Perangkat
Elektron Internasional IEEE, para peneliti memodifikasi teknik pengetsa kimia baru-baru
ini diciptakan, yang disebut etsa tingkat atom termal (ALE termal), untuk memungkinkan
modifikasi presisi bahan semikonduktor pada tingkat atom. Dengan menggunakan teknik
itu, para peneliti membuat transistor 3-D yang sesempit 2.5 nanometer dan lebih efisien
daripada yang sebelumnya.

Microfabrication melibatkan pengendapan (tumbuh film pada substrat) dan etsa


(pola ukiran di permukaan).Untuk membentuk transistor, permukaan substrat terpapar
cahaya melalui photomasks dengan bentuk dan struktur transistor.Semua materi yang
terpapar cahaya dapat dietsa dengan bahan kimia, sementara bahan yang tersembunyi di
belakang photomask tetap ada. Teknik state-of-the-art untuk microfabrication dikenal
sebagai deposisi lapisan atom(ALD) dan lapisan etching atom (ALE). Dalam ALD, dua
bahan kimia diendapkan ke permukaan substrat dan bereaksi satu sama lain dalam reaktor
vakum untuk membentuk film dengan ketebalan yang diinginkan, satu lapisan atom pada
satu waktu. Teknik-teknik ALE tradisional menggunakan plasma dengan ion-ion berenergi
tinggi yang melepaskan atom-atom individu pada permukaan material. Tapi ini
menyebabkan kerusakan permukaan. Metode ini juga mengekspos bahan ke udara, di mana
oksidasi menyebabkan cacat tambahan yang menghambat kinerja

Tugas Topik Khusus Elektronika


Nano Robot

Nanobot atau Robot berukuran nano, adalah robot super kecil ciptaan manusia yang
diprogram untuk melakukan suatu perintah. Dan saat ini teknologi nano-bot sedang dikembangkan
dalam dunia kedokteran dan militer. Bayangkan jika keluarga kita memiliki kanker yang tak
kunjung sembuh, dengan ada nya teknologi nano-bot yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia
untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan mengembalikan sel kanker menjadi sel normal.
Keajaiban akan terjadi. Manusia bisa 99% sembuh dari kanker.

Makalah penelitian di Science yang ditulis oleh Enzo Kopperger et al dengan judul “A self-
assembled nanoscale robotic arm controlled by electric fields“. Pada makalah yang ditulis oleh
tim ilmuwan dari Technical University of Munich (TUM), Jerman, tersebut menyatakan bahwa,
peneliti telah mengembangkan teknologi mengalirkan arus listrik pada nanorobot. Hal tersebut
akan memungkinkan pada mesin molekuler skala nano dapat bergerak hingga 100.000x lebih cepat
dibandingkan dengan proses biokimia yang telah digunakan sampai saat ini. Fokus riset ini terletak
pada motor penggerak (aktuator) pada lengan robot (arm robot) yang dapat memindahkan benda
menjadi jauh lebih cepat dari pada teknologi penggerak nanorobot sebelumnya. Sehingga, dengan
hasil ini membuat nanorobot cukup cepat dalam melakukan pekerjaan pada lingkungan perakitan
di pabrik-pabrik molekul.

Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan menciptakan nanorobot berbentuk robot


lengan (arm robot) atau istilah keren dalam dunia robotika disebut sebagai robot manipulator.
Nanorobot yang mereka buat terdiri dari 2 bagian yaitu yang pertama berupa platform DNA
dengan dimensi 55 x 55 nanometer sebagai tempat lengan robot bergerak. Kedua, lengan robot
(arm robot) yang juga terbuat dari molekul DNA yang dirakit menjadi satu robot dengan panjang
25 nanometer. Lengan robot tersebut juga dapat di tambah panjangnya lebih dari 400 nanometer
dan dapat dikendalikan menggunakan aliran listrik secara eksternal (dari komputer).

Gambar 4. Lengan nano robot terbuat dari DNA sedang dikendalikan dengan arus listrik

Tugas Topik Khusus Elektronika


Secara teori pengendalian nanorobot melalui listrik adalah sangat mungkin, karena
molekul DNA memiliki muatan negatif. Biomolekul akan dapat dipindahkan dari satu titik ke titik
lain dengan cara memberikan sejumlah medan listrik. Berdasarkan prinsip inilah, nanorobot
tersebut dikendalikan menggunakan listrik dan ternyata hasilnya sangat luar biasa jauh lebih cepat
dari pada metode umumnya. Selama proses penelitian, para peneliti dapat melihat seberapa cepat
gerakan robot dengan cara menempelkan beberapa juta lengan robot ukuran nano pada substrat
kaca yang dirancang khusus agar dapat dialiri arus listrik. Dari mikroskop para peneliti mengubah
arah medan listrik sehingga dapat mengendalikan orientasi (posisi) lengan robot.

Hasil dari penelitian ini dapat diterapkan untuk membuat miniatur lengan robot berskala
molekul yang digunakan untuk proses diagnostik dan pengembangan ilmu farmasi. Nanorobotik
yang berbentuk kecil dan ekonomis tersebut, dengan jumlah yang sangat banyak (hingga jutaan)
bisa bekerja secara paralel untuk mencari zat-zat tertentu dalam sebuah sampel atau juga dapat
digunakan untuk mensintesis struktur molekul kompleks.

Teknologi Nano Robotik pada Dunia Medis


Pengobatan pada dunia modern telah membuat banyak kemajuan besar yang secara
signifikanmemperpanjang umur manusia. Banyak penyakit-penyakit yang dulunya
mematikan,sekarangsudah banyak yang diberantas, atau paling tidak sudah semakin diberi
perawatan yang jauh lebih efektif. Namun pada beberapa kondisi medis tertentu, seperti misalnya,
kanker, masih mempunyai angka kematian yang tinggi. Salah satu solusi yang cukup populer
menjadi topik penelitian untuk tantangan ini adalah dengan nanoteknologi, yang katanya cukup
menjanjikan suatu cara baru untuk memerangi penyakit dan memperbaiki manusia. Sama seperti
kemajuan teknologi nanorobot pada dunia elektromekanis, pada dunia medis pun terus dilakukan
berbagai penelitian agar semakin bisa memanfaatkan nanorobot untuk pemulihan atau bahkan
sebagai pencegahan akan penyakit yang bisa menyerang manusia. Perangkat yang berskala sangat
kecil ini, menurut para ilmuwan merupakan metode yang menjanjikan untuk menilai kesehatan
pengguna (pasien). Teknologi nanorobotik ini nantinya akan bisa digunakan untuk memberi obat-
obatan, memperbaiki jaringan yang rusak, atau bahkan sebagai solusi untuk melawan sel kanker.
Namun, nanobots memiliki jalan panjang untuk pergi dari pil pintar yang saat ini dalam
pengembangan. Gagasan robot mikroskopis bekerja bersama di bidang yang terlalu kecil atau
terlalu rumit untuk mengganggu operasi konvensional telah menarik banyak penelitian. Selain itu,
tim bekerja pada nanobot yang dapat mengubah bentuk, bergerak secara independen,
mengumpulkan data pada tingkat sel dan membaginya, dan menargetkan area spesifik untuk
perawatan.

Tugas Topik Khusus Elektronika


Nano teknologi dalam aliran darah merupakan suatu ilmu yang memanipulasi atom dan
molekul individu, untuk tujuan memberantas atau mendeteksi penyakit. Nano teknologi juga
dicoba pada penelitian untuk memperbaiki jaringan yang luka atau mengembalikan fungsi jaringan
yang rusak. Para peneliti menguji proses pada tikus dengan dengan kaki yang terluka parah dan
mampu menyembuhkannya dalam waktu kurang dari tiga minggu dengan mengubah sel-sel kulit
menjadi sel-sel pembuluh darah. Peneliti juga mendapat hasil membantu tikus yang terluka otak,
pulih dari stroke dengan menyuntikkan sel kulit yang diprogram ke dalam sel-sel saraf. Menurut
para peneliti, prosedur ini efektif 98 persen, membutuhkan waktu kurang dari sedetik, dan
sepenuhnya non-invasif. Yang diperlukan untuk memulai pemrograman ulang sel adalah muatan
listrik yang kecil dan hampir tak terlihat. Dan karena teknologi menjaga sel-sel dalam tubuh di
bawah pengawasan kekebalan, tidak perlu penekanan kekebalan. Dengan menggunakan teknologi
nanochip yang mereka kembangkan dapat mengobati organ yang terluka atau ternganggu, kulit
merupakan lahan dimana mereka dapar menumbuhkan unsur-unsur organ apapun yang sedang
menurun.

Gambar 5. Manipulasi Atom dan Molekul Individu

Pada 2015, pengembangan nanobots dimulai juga pada manusia, perangkat DNA Mikroskopis
dapat disuntikkan ke pasien leukimia dalam upaya untuk menghancurkan sel-sel abnormal.
Peneliti utama dibalik inovasi ini berharap bahwa pasien dapat disembuhkan dalam waktu satu
bulan, seperti berdasarkan hasil tes yang berhasil pada hewan. Seperti dilansir dalam laman
website dari dailymail, sang peneliti berniat untuk merawat seorang pasien yang kemudian berhasil
diberikan enam bulan untuk hidup. Pasien tersebut diatur untuk menerima suntikan DNA
nanorobot yang dirancang untuk berinteraksi dengan dan menghancurkan sel-sel leukimia tanpa
merusak jaringan sehat. Pada pekerjaan kedepannya, sang peneliti bahkan mengatakan bahwa
orang-orang mungkin akan dapat disuntik dengan nanorobot pada medical check up tahunan,
dimana nantinya nanobot ini akan menyaring “setiap sel” dalam tubuh untuk sel-sel kanker atau
sel-sel yang abnormal dan kemudian menghancurkannya sebelum menyebar ke seluruh tubuh.

Pada 2016, dilansir pada laman website Forbes bahwa nanorobots merupakan salah satu dari 10
teknologi yang akan banyak mengubah industri kesehatan. Dijelaskan bahwa pada skala nano,
robot dapat memainkan peran yang sama sekali berbeda, kali ini di dalam tubuh manusia,

Tugas Topik Khusus Elektronika


bepergian melalui aliran darah dan berpotensi dalam pemantauan vital, melakukan fungsi tubuh
(mis. Membawa oksigen, menghancurkan agen infeksi seperti bakteri), pengiriman obat yang
ditargetkan (mis. Terapi kanker, pembekuan darah) atau bahkan untuk melakukan skala nano,
operasi in situ. Daftar aktual aplikasi nanomedicine, istilah umum untuk aplikasi nanoteknologi
dalam perawatan kesehatan, bahkan lebih besar dan lebih menarik. Ini termasuk membantu
penelitian biologi (simulasi sel), menjadi sensor intraseluler untuk diagnostik dan berperan dalam
kedokteran molekuler (terapi genetika). Awal pengujian aplikasi tersebut dikatakan mulai pada
tahun 2025.

Pada 2018, para ilmuwan mengambil keuntungan dari model tumor tikus yang terkenal, di
mana sel-sel kanker manusia disuntikkan ke tikus untuk menginduksi pertumbuhan tumor yang
agresif. Setelah tumor tumbuh, nanorobot dikerahkan untuk menyelamatkan. Setiap nanorobot
terbuat dari lembaran origami DNA datar dan persegi panjang, 90 nanometer dengan ukuran 60
nanometer. Enzim pembekuan darah utama, yang disebut trombin, melekat pada permukaan.
Trombin dapat memblokir aliran darah tumor dengan menggumpal darah di dalam pembuluh yang
memberi makan pertumbuhan tumor, menyebabkan semacam serangan jantung mini tumor, dan
menyebabkan kematian jaringan tumor. Pertama, rata-rata empat molekul trombin melekat pada
perancah DNA datar. Selanjutnya, lembaran datar itu dilipat sendiri seperti selembar kertas
menjadi lingkaran untuk membuat tabung hampa.

Gambar 6. Tabung Perancah DNA

Mereka disuntikkan dengan infus ke tikus, kemudian melakukan perjalanan ke seluruh aliran
darah, membawa pulang tumor. Kunci pemrograman nanorobot yang hanya menyerang sel kanker
adalah memasukkan muatan khusus di permukaannya, yang disebut aptamer DNA. Aptamer DNA
dapat secara khusus menargetkan protein, yang disebut nucleolin, yang dibuat dalam jumlah tinggi
hanya pada permukaan sel endotel tumor --- dan tidak ditemukan pada permukaan sel yang sehat.
Setelah terikat pada permukaan pembuluh darah tumor, nanorobot diprogram, seperti Trojan horse
yang terkenal, untuk mengirimkan muatan obatnya di jantung tumor, memaparkan enzim yang
disebut trombin yang merupakan kunci pembekuan darah. Nanorobot bekerja dengan cepat,
berkumpul dalam jumlah besar untuk mengelilingi tumor dengan cepat hanya beberapa jam setelah

Tugas Topik Khusus Elektronika


injeksi. Hasil ini cukup relevan dan hampir sama dengan hasil penelitian yang bahkan telah diuji
coba sebelumnya.

Menurut IFL Science, robot-robot DNA sedang diuji dalam tubuh manusia untuk mencari
dan menghancurkan sel-sel kanker. Helai DNA yang diprogram ini memiliki kemampuan untuk
bergerak dan menemukan sel kanker (semua dalam lingkungan yang terkendali). Jika percobaan
pada manusia berjalan dengan baik, robot kecil ini dapat menjadi revolusioner untuk kanker dan
penelitian sel lainnya. Deteksi dan pemberantasan kanker adalah satu hal tetapi nanobot kecil
adalah pemain besar di masa depan dunia medis. Dari hasil-hasil yang sudah ada, para peneliti
percaya bahwa nanobot dapat segera memberikan obat kepada manusia dengan tingkat akurasi
yang tinggi. Ini akan memungkinkan untuk dosis mikro tepat di mana pasien perlu mencegah efek
samping yang berbahaya. Ilmuwan universitas juga percaya bahwa nanobot dapat digunakan untuk
mengurangi plak dalam pembuluh darah, memecahkan masalah diet, bersama dengan seluruh
rangkaian penggunaan medis lainnya. Memperluas melampaui pengobatan sederhana, nanobot
akan memungkinkan manusia untuk mencapai konektivitas yang lebih baik.

Secara teoritis, nanobot dapat digunakan untuk terus memantau tubuh kita untuk penyakit
dan gejala lainnya, terus-menerus mentransmisikan informasi ini ke cloud untuk pemantauan ketat
oleh staf medis. Cloud ini dapat berguna karena sejumlah alasan dan pada dasarnya akan
mengubah flu biasa atau jenis kondisi lainnya menjadi masalah yang mudah dihentikan. Gagasan
bahwa nanobot suatu hari bisa mentransmisikan pikiran kita ke cloud mungkin adalah ide yang
paling tidak masuk akal di banyak pikiran orang sekarang. Prestasi ini akan membutuhkan langkah
besar dalam ilmu saraf dan nanorobotik. Meskipun tentu saja kemungkinan, fungsi ini mungkin
akan diteliti lebih jauh.

Berdasarkan semua hal yang dipaparkan diatas, tantangan nyata masih ada di depan kita
dan sebelum kita dapat mulai menggunakannya, pengembangan tambahan diperlukan. Kita juga
perlu mempertimbangkan efek apa yang akan dihasilkannya di pasar obat global. Dengan segala
tindakan, para peneliti memperkirakan bahwa dalam waktu 10 tahun, mungkin sekitar 2030,
memiliki nanobot yang disuntikkan ke dalam aliran darah kita akan menjadi praktik yang jauh
lebih umum di dunia medis. Selain kanker, orang akan dapat menyembuhkan masalah lain
membuat nanobot cara optimal untuk meningkatkan kondisi hidup kita.

Tugas Topik Khusus Elektronika


Referensi :
[1] Biodesign.asu.edu. (2018, 12 Februari). Cancer fighting nanorobots programmed seek and destroyed
bu tumors. Diakses pada 5 November 2019, dari https://biodesign.asu.edu/news/cancer-fighting-
nanorobots-programmed-seek-and-destroy-tumors

[2] Dailymail.com. (2015, 18 Maret). Nanorobots trial to begin in humans: Microscopic DNA devices
could be injected into a leukaemia patient in a bid to destroy abnormal cells. Diakses pda 5 November
2019, dari https://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-3000904/Nanorobots-trial-begin-humans-
Microscopic-DNA-devices-injected-leukaemia-patient-bid-destroy-abnormal-cells.html

[3] Forbes.com. (2016, 11 Oktober). Ten top technologies that will transform the healthcare industry.
Diakses pada 5 November 2019, dari https://www.forbes.com/sites/reenitadas/2016/10/11/healthcare-
2025-ten-top-technologies-that-will-transform-the-industry/#42c06d0b3e18

[4] Interestingengineering.com. (2017, 25 April). Nanobots will flowing body 2030. Diakses pasa 5
November 2019, dari https://interestingengineering.com/nanobots-will-flowing-body-2030

[5] Kompas.com.(2008, 25 Januari). Pil berisi kamera untuk deteksi kanker. Diakses pasa 5 November
2019, dari
https://nasional.kompas.com/read/2008/01/25/12101151/pil.berisi.kamera.untuk.deteksi.kanker.
[6] Kompas.com. (2019, 18 Agustus). Samsung Kembangkan Graphene, Baterai Baru Pengganti Lithium. Diakses
pada 5 November 2019, dari https://tekno.kompas.com/read/2019/08/18/12130017/samsung-kembangkan-graphene-
baterai-baru-pengganti-lithium-.

[7] Kompas.com.(2019, 2 September). Inovasi Baru Nanoteknologi. Diakses pada 5 November 2019, dari
https://edukasi.kompas.com/read/2010/09/02/0312354/Inovasi.Baru.Nanoteknologi?page=all.

[8] Nanocarlab.com. (2016, April 29). Revolutionizing medicine through nano technology. Diakses pada
5 November 2019, dari http://www.nanocarblab.com/revolutionizing-medicine-through-nano-technology/

[9] Pasaribu, Faisal Irsan. 2019. Penggunaan Teknologi Graphene pada Superkapasitor sebagai
Penyimpan Energi. ISBN: 978-623-7297-02-4 SEMNASTEK UISU 2019 127. Diakses pada 5 November
2019 dari https://jurnal.uisu.ac.id/index.php/semnastek/article/download/1299/1004

[10] Thebotreport.com. (2019, 13 Oktober). Nanobots promise change medical treatment. Diakses pada 5
November 2019, dari https://www.therobotreport.com/nanobots-promise-change-medical-treatment/

[11] Richardvanhooijdonk.com. (2019, 21 Februari). The ultimate cure isn’t a miraculous drug-it’s
nanotech that’ll help us live longer and healthier lives. Diakses pda 5 November 2019, dari
https://richardvanhooijdonk.com/blog/en/the-ultimate-cure-isnt-a-miraculous-drug-its-nanotech-thatll-
help-us-live-longer-and-healthier-lives/

[12] VIVANews.(2014, 13 Februari). Pil kamera ini rekam sistem pencernaan manusia. Diakses pada 5
November 2019, dari https://www.viva.co.id/arsip/480987-pil-kamera-ini-rekam-sistem-penceranaan-manusia

[13] Penerapan teknologi nano procesor pada intel http://bagus.ilearning.me/2014/03/02/penerapan-


teknologi-nano-procesor-pada-intel/ diakses pada tanggal 5 November 2019

Tugas Topik Khusus Elektronika


[14] TEKNOLOGI NANO http://www.fadhilza.com/2012/07/ilmu-pengetahuan-dan-teknologi/teknologi-
nano.html diakses pada tanggal 5 November 2019

[15] Elektronika : dari Mikro ke Nano http://www.elektroindonesia.com/elektro/khu31.html diakses pada


tanggal 5 November 2019

[16] Insinyur menciptakan transistor 3-D terkecil https://rediyus.com/insinyur-menciptakan-transistor-3-


d-terkecil/ diakses pada tanggal 5 November 2019

[17] Ilmuwan Jerman Kembangkan Teknologi Nanorobot Terkendali Arus Listrik


https://warstek.com/2018/01/30/nanorobot/ diakses pada tanggal 5 November 2019

[18] Nanobot (Robot Nano) Untuk Membasmi Sel Kanker http://indo-


gizmo.blogspot.com/2016/12/nanobot-robot-nano-yang-di-kendalikan.html diakses pada tanggal 5
November 2019

[19] Technical University of Munich (TUM). 2018. “Piecework at the nano assembly line, Electric fields
drive nano-motors a 100,000 times faster than previous methods“. ScienceDaily, 19 Januari 2018
(https://www.sciencedaily.com/releases/2018/01/180119125820.htm) diakses pada tanggal 5 November
2019

[20] Productive Nanosystems (from molecules to superproducts, v 1.00, John Burch)


https://youtu.be/mY5192g1gQg diakses pada tanggal 5 November 2019

[21] Kendaraan molekuler pembunuh kanker https://www.dw.com/id/kendaraan-molekuler-pembunuh-


kanker/a-39993476 diakses pada tanggal 5 November 2019

Tugas Topik Khusus Elektronika