Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGOLAHAN BAHAN GALIAN


FLOTASI MINERAL SULFIDA

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 4

1.KRIS HISAGE 18 311 001

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI DAN KEBUMIAN
UNIVERSITAS SINS DAN TEKNOLOGI JAYAPURA
Abstrak – Praktikum Modul VIII- bertujuan untuk mempelajari
karakteristik flotasi mineral fluida. Dalam industri pertambangan,
pengolahan bahan galian memerlukan tahapan pemisahan material.
Pemisahan material ini berguna untuk proses selanjutnya.
Pemisahan mineral dapat berdasarkan sifat fisik materialnya,
diantaranya sifat permukaan mineral. Dalam pemanfaatan sifat
itulah yang akan dipelajari pada praktikum kali ini. Praktikum kali
ini mengenalkan cara kerja dan mekanisme flotasi. Teknik ini
memanfaatkan perbedaan sifat permukaan mineral-mineral. Dengan
menambahkan reagen kimia yang bisa membuat permukaan salah
satu mineral menjadi hidrofil sementara bagian reagen itu sendiri
memiliki sifat hidrofob, maka mineral bersangkutan dapat diangkat
oleh gelembung yang ditiupkan ke permukaan untuk dipisahkan.
Lalu dianalisa hasil recovery yang diperoleh melalui mekanisme ini

A. TinjauanPustaka
Flotasi merupakan pemisahan satu mineral atau lebih dengan
mineral lainnya melalui pengapungan. Mengapungkan mineral tertentu
dari mineral lainnya dengan bantuan gelembung udara sampai ke
permukaan air. Secara spesifik pemisahan ini disebut froth flotation, atau
flotasi buih. Media pemisahannya adalah air dan gelembung udara.
Operasi pemisahannya memanfaatkan perbedaan sifat kimia-fisika
permukaan mineral yang akan dipisah. Sifat permukaan ini didasarkan
pada respon permukaan mineral ketika berada dalam air, sifat
permukaan ini disebut Hydrophobicity. Hydrophobicity menunjukkan
kecenderungan permukaan mineral untuk dibasahi air.
Ketika mineral-mineral bijih berada dalam air, maka permukaan
mineral-mineral tersebut akan merespon air sesuai dengan sifat kimia-
fisikanya. Mineral-mineral yang permukaannya tidak terbasahi oleh air
disebut mineral hydrophobic atau mineral tak suka air, sedangkan
mineral-mineral yang permukaannya terbasahi oleh air disebut mineral
hydrophilic, atau mineral suka air. Pada metoda flotasi, mineral
hydrophobic akan menempel pada gelembung dan naik ke permukaan
air membentuk buih mineral. Sedangan mineral hydrophilic tidak dapat
menempel pada gelembung, dan tetap di dalam air.
Selain pemisahan bijih emas, prosess ini banyak dipakai untuk
beberapa bijih seperti Cu, Pb, Zn, Ag, dan Ni. Proses flotasi merupakan
proses yang bergantung pada sifat permukaan mineral. Apakah ia
hidrofob atau hidrofil.
Gambar 8.1 Ilustrasi Pemisahan yang terjadi pada Flotasi
Proses floatasi dapat berlangsung optimal bergantung dari reagen-
reagen yang digunakan. Reagenreagen yang digunakan juga beragam
tergantung dari mineral yang ingin kita peroleh.Reagen – reagen yang
digunakan tersebut memiliki masing-masing kegunaan ataupun saling
melengkapi antar reagen. Berikut kegunaan masing-masing reagent yang
digunakan:
 Collector
Collector adalah bahan yang dapat menyebabkan partikel mineral
menjadi hidrofob, yaitu dengan cara melapisi permukaan polar dari
partikel mineral dengan reagent. Sehingga pada bagian luar dari
mineral terjadi reaksi kimia yang membentuk lapisan non polar yang
mudah menarik udara, dan mineral kan mudah menempel pada
gelembung udara.
 Frother
Frother zat kimia yang digunkan untuk membantu menstabilkan
gelembung udara yang terbentuk sehingga tidak mudah pecah.
Gelembung-gelembung udara yang terbentuk harus dapat bergerak
bebas di dalam pulp dan dapat mengambil partikel-partikel mineral
berharga, kemudian diapungkan ke dalam pulp. MIBC (Methyl
Isobutyl Carbinol) merupakan senyawa kimia organic jenis
alcohol.Dalam flotasi batubara digunakan sebagai pembuih.Struktur
kimia MIBC adalah sebagai berikut.

 Modifier (Modifying Agent)


Modifier digunakan untuk mengembalikan sifat permukaan ke yang
aslinya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan selectivity. Modifying
agent dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu :
o Regulating dan Dispersing Agent Regulor berfungsi untuk
mengatur pH, menghilangkan pengaruh gangguan slime, colloid,
dan garam laut. Dispersing Agent berfungsi untuk melepaskan
slime pada pemukaan mineral.
o Aktivator Bertujuan meningkatkan aktivitas permukaan mineral
agar dapat berinteraksi dengan kolektor, sehingga adsorbsi
kolektor pada permukaan partikel menjadi lebih baik. Contohnya
adalah Cu ++ untuk mengapungkan sfalerit, dan Ca ++ untuk
mengapungkan kuarsa.
o Depresant Mencegah pengapungan mineral tertentu tanpa
menghalangi pengapungan mineral lainnya. Digunakan apabila
float ability mineral yang tidak diinginkan mengapung sama
dengan mineral yang akan diapungkan oleh kolektor tertentu.
Contohnya adalah CN- (pyrit, sfalerit), dan Zn++(sfalerit) Metoda
ini digunakan di beberapa industri pertambangan dengan
menggunakan reagen utama Xanthate sebagai Collector (
misalnya : potassium amyl xanthate, C5H11OCS2K), Pine Oil
sebagai Frother dan campuran bahan kimia organik lainnya
sebagai pH Modifiers.
Reagents yang digunakan untuk pengapungan pada umumnya tidak
beracun, yang berarti bahwa biaya pembuangan limbah / tailing menjadi
rendah. Keuntungan lain dari proses pengapungan adalah pada
umumnya cukup efektif pada bijih dengan ukuran yang cukup kasar ( 28
mesh ) yang berarti bahwa biaya penggilingan bijih dapat
diminimalkan.
Froth Flotation sering digunakan mengkonsentrasi emas bersama-
sama dengan logam lain seperti tembaga, timah, atau seng. Partikel emas
dari batuan oxydis biasanya tidak merespon dengan baik namun efektif
terutama bila dikaitkan dengan emas sulfida seperti pyrite
Gambar 2.2 Mekanisme Pemisahan Flotasi

Mekanisme Penempelan, Pelekatan Mineral-Gelembung


Pelekatan mineral pada gelembung udara tergantung pada
kemampuan dari mineral dan gelembung mengatasi gaya gaya yang
terdapat dalam lapis tipi sair. Mekanisme pelekatan mineral dan
gelembung udara terdiri dari 3 tahap.

- Gelmbung dan atau mineral saling mendekat, kemudian


menghasilkan suatu lapisan tipis air di antaranya. Dalam kondisi
ini, partikel bergerak sesuai dengan hukum hidrodinamika.
- Mineral dan gelembung terus saling mendekat, hal ini
mengakibatkan lapis tipis air semakin tipis dan akhirnya terjadi
kerusakan atau pecahnya lapis tipis ini.
- Hilangnya lapis tipis akan diikuti dengan terjadinua penempelan
mineral gelembung. Pelekatan atau penempelan ini diawali
dengan terbentuknya kontak tiga fasa yang dengan cepat meluas
dan stabil. Ada tiga gaya dalam lapisan tipis air hingga
terjadi pelekatan gelembung mineral, yaitu :
- Gaya Van der Walls
- Gaya elektrostatik
- Hydrasi dari kelompok hidrofil yang ada pada permukaan mineral
Mesin flotasi merupakan peralatan yang berguna untuk
menghasilkan gelembung udara di dalam suspensi, mengeluarkan
busa dari permukaan, dan memisahkan tailing. Mesin flotasi dapat
dikelompokkan dalam 2 type, yaitu mesin flotasi mekanis dan
mesin flotasi pneumatic.
 Mesin flotasi mekanis : shaft dan impeller terletak di tengah
mesin, udara akan dimasukkan melalui shaft dan didispersikan
ke permukaan oleh impeller. Contoh mesin flotasi Fagergren,
sub A dan agitair.
 Mesin Flotasi Pneumatic :tidak menggunakan impeller
sebagai media pengaduk, conditioning dilakukan diluar sel
flotasi melainkan bekerja dengan mengkompres udara untuk
agitasi atau pulp aerated. Contoh mesinflotasi kolom.
 Mesin flotasi kolom : feed masuk dari fideer,kemudian udara
atau air di tembakan dari bawah sehingga menghasilkan
gelembong-gelembong udara yang mengangkat material yang
di sebut kosentrat ke atas dan teling menuju ke bawah ke
sehingga material dengan pengotornya terpisah
Gambar 8.3 prinsip kerja flotasi kolom

B. Data Percobaan
 Flowchart prosedur percobaan
gerus bijih sehingga slime terbentuk minimum
(hindari over griding)

hasil ayakan - 65 mesh

aduk bijih dan ambil umpan untuk dianalisa

isi sel flotasi sampai 2,5cm dibawah bibir overflow dan


ukur volumenya

hitung umpan yang diperlukan dengan berat pulp 30%

masukan pulp ke sel flotasi

hidupkan mesin sel flotasi dan atur speed

atur ph dengan lime

tambahkan colector 0,03 kg/ton 2menit

tambahkan frother 0,03kg/ton 2 menit

buka keran udara selama 2 menit dan ambil busa yang


muncul

tambah reagen

ulangi prosedur langkah 11 untuk konsentrat ketiga dan


keempat

keringkan konsentrat tailing dan analisa kandungan


mineral sulfida

 Data Percobaan
Data Berat Produk Ph=11
Produk Berat(gr)
Konsentrat
38,12
1
Konsentrat
45,23
2
Konsentrat
51,94
3
Tailing 364,71
Umpan 500

Data Berat PbS di dalam


Produk Ph=11
Produk Berat(gr)
Konsentrat
34,23
1
Konsentrat
41,64
2
Konsentrat
46,17
3
Umpan 201,11
C. Pengolahan Data Percobaan
Tabel 1
% % %
Produk Berat PbS
Berat PbS Rec
Konsentrat
38,12 7,62 34,23 89,80 17,02
1
Konsentrat
45,23 9,05 41,64 92,06 20,71
2
Konsentrat
51,94 10,39 46,17 88,89 22,96
3

Tabel 2
Kumulatif Waktu
Produk % % % Flotasi
Berat PbS Rec (menit)
Konsentrat
7,62 89,80 17,02 6
1
Konsentrat
16,67 181,86 37,73 12
2
Konsentrat
27,06 270,75 60,69 18
3

D. Analisa Hasil Percobaan


% Recovery Kumulatif vs. % Berat
Kumulatif
80.00
% Recovery Kumulatif

60.00
40.00
20.00
0.00
0.00 10.00 20.00 30.00
% Berat Kumulatif

Keterangan :
hubungan persen recovery kumulatif dengan persen berat kumulatif
berbanding lurus dilihat dari grafik yang terus meningkat.

% Recovery Kumulatif vs. Waktu Flotasi


80.00
% Recovery Kumulatif

60.00
40.00
20.00
0.00
0.00 100.00 200.00 300.00
Waktu Flotasi

Keterangan :
Hubungan persen recovery kumulatif dengan waktu flotasi berbanding
lurus.Semakin lama waktu flotasi maka persen recovery kumulatif yang
didapat semakin besar
% Recovery Kumulatif vs. % PbS
Kumulatif
80.00
% Recovery Kumulatif

60.00
40.00
20.00
0.00
0.00 100.00 200.00 300.00
% PbS Kumulatif

Keterangan :
Hubungan persen recovery kumulatif dengan persen PbS kumulatif
berbanding lurus.Semakin besar persen PbS kumulatif maka persen
recovery kumulatif semakin besar juga.
Dari hasil percobaan yang diperoleh, diketahui bahwa dengan
adanya penambahan collector dan frother dapat mempengaruhi % berat
konsentrat, % berat PbS, dan % recovery PbS terhadap pH, dimana
konsentrat yang bercampur dengan collector dan frother dengan jumlah
yang lebih banyak akan memiliki % berat konsentrat, % berat PbS, dan
% recovery PbS lebih kecil dan tiap-tiap konsentrat akan meningkat
hingga pada pH 11 mencapai nilai maksimum tiap-tiap konsentrat, dan
turun saat melewati pH 11, sehingga dapat disimpulkan nilai maksimum
berada pada saat pH 11.Jika adanya ketidaksamaan dengan analisa
tersebut, kesalahan berada pada praktikan, ataupun alat.
Variabel yang mempengaruhi proses flotasi adalah :
1. Keadaan dan ukuran butir
Ukuran butir mineral yang akan mempengaruhi partikel mineral
akan lebih besar dari density air, sedangkan jika terlalu kecil akan
menimbulkan slime yang akan mengganggu jalannya proses
flotasi.
2. Pulp preparation
Penyediaan pulp diusahakan supaya cocok untuk proses
pengolahan yang umumnya berkaitan dengan persen solid yang
sesuai.
3. Intensitas pengadukan dan pemberian udara
Pengadukan dalam flotasi dilakukan dengan mesin flotasi.
4. Kekentalan pulp
Untuk suspensi pulp yang lebih kental akan diperoleh recovery
yang lebih baik.
5. Waktu kontak dan waktu flotasi
Kenaikan recovery terjadi pada waktu tertentu, yang tergantung
pada: Komposisi mineral bijih, Keadaan dari partikel-partikel bijih,
Jumlah kolektor yang ditambahkan, Lama pengadukan, Ukuran
butir.
6. Pengaruh pH
Tujuan dari pengaturan pH adalah untuk menurunkan sudut
kontak.
7. Pengaruh Collector
Yang harus diperhatikan adalah sifat-sifat dari kolektor yang akan
digunakan, misalnya Xanthate, sangat baik untuk merubah sifat
permukaan mineral-mineral sulfida dan batubara, mudah larut
dalam air dan tidak akan menimbulkan frother.
8. Pengaruh Frother
Digunakan untuk menstabilkan gelembung udara untuk waktu
yang relatif lama.
E. Pertanyaan dan Tugas
1. Apa tujuan desliming pada umpan flotasi?
Jawaban :
desliming adalah proses penghilangan slime pada proses flotasi,
karena slime dapat mengganggu proses flotasi.
2. Tuliskan persamaan kimia yang menunjukkan ionisasi Potassium
Amyl Xanthate (PAX) ke dalam air!
Jawaban :
CH3CH2OCS2K + H2O -> CH3CH2OCS2H + KOH
CH3CH2OCS2H -> CS2 + CH3CH2OH
3. Tuliskan tujuan conditioning pada tujuan flotasi !
Jawaban :
Secara umum, tahap conditioning bertujuan untuk membuat suatu
mineral tertentu bersifat hidrofobik dan mempertahankan mineral lain
bersifat hidrofilik. Selain itu, conditioning juga bertujuan untuk
mengendapkan ion-ion pengganggu, mengendapkan mineral yang
tidak ingin diangkat menggunakan depresan, menciptakan lingkungan
yang memiliki pH yang sesuai untuk mineral agar proses berjalan
optimal dan memisahkan mineral berharga dari partikel halus
menggunakan dispersan.
4. Tuliskan dan jelaskan macam-macam flotasi cell yang dipegunakan
dalam flotasi komersial!
Jawaban :
 Mechanical ,vertical( Agitation Cell), Shaft dan impeller terletak
di tengah mesin, udara akan dimasukkan melaluai shaft dan
didispersikan ke permukaan melalui impeller.
 Pneumatic Cell, dimana, Tidak ada impeller dan bekerja dengan
mengkompres udara untuk agitasi atau “the pulpaerator”.
 Froth Separator, dimana Slurries memiliki ukuran 1 mm-50 µm.
Prinsipnya dengan pemisahan feed dan slurry di dalam froth
blanket.
 Column Flotation, Flotasi dilakukan didalam sebuah kolom.
Conditioning dilakukan di luar sel. Tidak ada bagian yang
bergerak pada flotasi kolom ini. Udara dihembuskan dari bawah

5. Apa yang dimaksud reagen aktivator?


Jawaban :
reagen kimia yang diperlukan dalam proses flotasi untuk
mengintensifkan selektifitas dari pekerjaan kolektor.
6. Jelaskan kenapa air murni tidak membentuk froth
Jawaban :
Air murni tidak membentuk froth karena ia memiliki tegangan
permukaan yang tinggi sehingga buih/gelembung tidak pernah stabil.
7. Jelaskan mekanisme aksi pada proses flotasi!
Jawaban :
 Liberasi, analisis pendahuluan
Agar mineral terliberasi maka perlu dilakukan crushing atau grinding
yang diteruskan dengan pengayakan atau classifying. Ini
dimaksudkan agar ukuran butir mineral dapat seragam sehingga
proses akan lebih sukses atau berhasil.
 Conditioning
Yaitu membuat suatu pulp agar nantinya pulp tersebut dapat langsung
dilakukan flotasi. Preparasi ini sebaiknya disesuaikan dengan liberasi
dalam proses basah, maka conditioning juga harus dilakukan pada
proses basah.Pada tahap pengkondisian, reagent yang diberikan
adalah modifier, collector dan terakhir frother.
 Proses flotasi
Proses ini ditandai dengan masuknya gelembung udara ke dalam
pulp.

F. Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Konsentrasi flotasi merupakan proses peningkatan kadar dengan
memisahkan mineral berharga dan pengotornya melalui proses
pengapungan partikel mineral pada permukaan air akibat proses
perubahan sifat permukaan mineral yang menjadi hydrophobicdan
terbawa oleh gelembung udara yang bergerak ke permukaan.
2. Flotasi mineral sulfida membutuhkan reagent-reagent yaitu collector,
berfungsi untuk mengubah sifat permukaan partikel mineral menjadi
hydrophobic melalui reaksi-reaksi kimia tertentu, dan frother,
berfungsi mengecilkan tegangan permukaan air sehingga dapat
terbentuk gelembung udara yang mengikat partikel mineral dan
membawanya ke permukaan. Selainitudapat juga ditambahkan
reagent-reagent lain yang disebut dengan regulator atau modifier.
Fungsi regulator ini yaitu sebagai pengatur kondisi lingkungan flotasi
agar sesuai dengan kondisi ideal, sehingga flotasi dapat berlangsung
dengan baik.
3. Flotasi mineral sulfida dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti
kecepatan putaran alat flotasi, keasaman (pH), persen berat umpan,
jumlah reagent yang digunakan, dan distribusi waktu proses flotasi
dan pengambilannya.
4. Hasil dari mekanisme flotasi dipengaruhi beberapa variabel, yakni :
 Keadaan dan ukuran butir
 Pulp preparation
 Intensitas pengadukan dan pemberian udara
 Kekentalan pulp
 Waktu kontak dan waktu flotasi
 Pengaruh pH
 Pengaruh Collector
 Pengaruh Frother
G. Daftar Pustaka
 ITB. 2015. Modul Praktikum Pengolahan Bahan Galian.
ITB:Bandung.
 Putra, N. 2014. Flotasi. Google.com. diaksespada 30 /11/ 2015.
 Kelly, Errol.G. 1982. Introduction to Mineral Processing. A-
Willey-Interscience Publication: Canada.

H. Lampiran