Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Antibiotik adalah terapi untuk mengatasi infeksi bakteri (Nelwan, 2006).

Antibiotik harus digunakan secara rasional untuk mengoptimalkan fungsinya.

Pemakaian antibiotik dikatakan rasional jika, tepat: indikasi, dosis, interval, durasi,

dan harga (WHO, 2004). Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat

menyebabkan pemborosan biaya kesehatan, resiko efek samping, perpanjangan waktu

perawatan, penurunan atau hilangnya sensitivitas bakteri terhadap antibiotik, dan

resiko resistensi bakteri (Qibtiyah, 2005; Azevedo et al., 2009).

Saat ini, pengetahuan masyarakat tentang resistensi antibiotik sangat rendah.

Hasil penelitian yang dilakukan WHO dari 12 negara termasuk Indonesia, sebanyak

53-62% berhenti minum antibiotik ketika merasa sudah sembuh. Resistensi antibiotik

saat ini menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat global, sehingga WHO

mengkoordinasi kampanye global untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku

masyarakat terhadap antibiotik . Angka kematian akibat Resistensi Antimikroba

sampai tahun 2014 sebesar 700.000 per tahun. Dengan semakin cepatnya

perkembangan dan penyebaran infeksi bakteri, diperkirakan pada tahun 2050,

kematian akibat AMR lebih besar dibanding kematian yang diakibatkan oleh kanker,

yakni mencapai 10 juta jiwa. (World Health Organization, 2015).

Penyakit infeksi oleh bakteri masih merupakan masalah utama di Indonesia.

Profil kesehatan Indonesia tahun 2015 menunjukkan bahwa penyakit infeksi

merupakan masalah kesehatan yang penting untuk segera diatasi, seperti:

tuberkulosis, kusta, diare, campak, difteri, pneumonia, (Kemenkes RI, 2016)


Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai

permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi

bakteri terhadap antibiotik. Selain berdampak pada morbiditas dan mortalitas, juga

memberi dampak negatif terhadap ekonomi dan sosial yang sangat tinggi. Pada

awalnya resistensi terjadi di tingkat rumah sakit, tetapi lambat laun juga berkembang

di lingkungan masyarakat, khususnya Streptococcus pneumoniae (SP),

Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli.

Beberapa kuman resisten antibiotik sudah banyak ditemukan di seluruh dunia,

yaitu Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), Vancomycin-Resistant

Enterococci (VRE), Penicillin-Resistant Pneumococci, Klebsiella pneumoniae yang

menghasilkan Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL), Carbapenem-Resistant

Acinetobacter baumannii dan Multiresistant Mycobacterium tuberculosis (Guzman-

Blanco et al. 2000; Stevenson et al. 2005).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Yusuf Sholihan tahun 2015 di

Kecamatan Jebres Kota Surakarta dari 276 responden, sebanyak 179 orang (64,86%)

pernah membeli antibiotik tanpa resep dokter. Tingkat pengetahuan pengunjung

apotek di Kecamatan Jebres tentang antibiotik rendah, yaitu 102 orang (36,96%),

sedang sebanyak 120 orang (43,48%), dan tinggi sebanyak 54 orang (19,57%)

(Sholihan, 2015). Hasil survei yang telah dilakukan Center for Indonesian Veterinary

Analytical Studies (CIVAS) di 3 lokasi studi yaitu Kabupaten Sukoharjo, Klaten dan

Karanganyar berlangsung selama 3 tahun mulai September 2013 hingga Agustus 2016

terhadap masyarakat menunjukkan lemahnya fungsi pengawasan serta pengendalian

praktek penggunaan antibiotik yang tidak bertanggungjawab dan tidak bijak. Tingkat

pengetahuan dari responden pasien rumah sakit masih rendah yaitu 61,1% (Center for

Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS), 2017).


Bila hal ini tidak segera diantisipasi maka akan mengakibatkan dampak

negatif yang masif pada kesehatan, ekonomi, ketahanan pangan dan pembanguan

global. Dalam posisi Indonesia resistensi antimikroba akan membebani keuangan

negara dalam pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

B. Rumusan masalah

Untuk mengetahui tentang tingkat pengetahuan dan prilaku minum obat antibiotik

pada masyarakat asli Papua, tentunya di perlukan pemahaman atas minum obat antibiotik

yang memang memerlukan perhatian khusus. “Bagaimanakah tingkat pengetahuan dan

prilaku masyarakat asli Papua tentang penggunaan obat antibiotik”

C. Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan prilaku

masyarakat asli Papua tentang penggunaan obat antibiotic

D. Manfaat penelitian

1. Bagi perkembangan IPTEK, sebagai masukan untuk ilmu pengetahuan dan

teknologi lingkungan tentang penggunaan antibiotik.

2. Bagi institusi pendidikan atau peneliti lain, dapat dijadikan sebagai bahan acuan

dalam melakukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan antibiotik.

3. Bagi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kota jayapura, untuk lebih

memperhatikan penjualan antibiotika secara bebas yang tidak sesuai dengan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Bagi peneliti, penelitian ini memberikan ilmu dan pengalaman berharga bagi

peneliti selama proses penelitian dan diharapkan akan menjadi sumber ilmu dan

informasi untuk penelitian selanjutnya terkait dengan penggunaan antibiotik.