Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

KISTA OVARIUM

Disusun Oleh :

GRASIANUS RIDHO HIA

18010032

Pembimbing :

dr. ELIZABETH GIRSANG, Sp. OG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN KEPANITERAAN


KLINIK SENIOR DEPARTEMEN ILMU OBSTETRI-GINECOLOGY RUMAH SAKIT
MURNI TEGUH MEMORIAL HOSPITAL

KOTA MEDAN

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karuniaNya sehingga penulis dapat menyusun makalah yang berjudul “Kista Ovarium’.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan selama menjalani Kepaniteraan
Klinik Senior di Bagian Ilmu Obstetri-Ginecology Rumah Sakit Murni Teguh Memorial
Hospital, Kota Medan 2019.

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada dr. Elizabeth
Girsang, Sp.OG sebagai pebimbing yang telah banyak memberikan bimbingan selama
kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Obstetri-Ginecology.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan yang harus
diperbaiki, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang
sifatnya membangun

Akhir kata penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang
menggunakannya.

2
DAFTAR ISI

HALAMAN

KATA PENGANTAR....................................................................................... 2

DAFTAR ISI..................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 5

1.1............................................................................................................ Latar belakang


........................................................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 6

2.1. Anatomi ovarium ............................................................................. 6

2.2. Fisiologi haid ................................................................................... 7

2.3. Definisi kista ovarium ..................................................................... 9

2.4. Epidemiologi kista ovarium ............................................................ 9

2.5. Etiologi kista ovarium ..................................................................... 10

2.6. Faktor risiko kista ovarium ............................................................. 11

2.5. Klasifikasi kista ovarium.................................................................. 11

2.6. Manifestasi klinis kista ovarium...................................................... 12

2.7. Patogenesis kista ovarium................................................................ 13

2.8. Penegakkan diagnosa kista ovarium ............................................... 14

2.9. Tatalaksana kista ovarium ............................................................... 16

2.10. Prognosis dan Komplikasi ............................................................. 17

BAB III STATUS PASIEN............................................................................... 18

3
BAB IV KESIMPULAN.................................................................................. 25

BAB V DAFTAR PUSTAKA........................................................................... 26

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Pada saat ini terjadi banyak masalah kesehatan reproduksi, diantaranya penyakit
yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Kista ovarium adalah suatu penyakit ganguan
organ reproduksi wanita. Kista ovarium dapat berkembang dalam setiap tahap kehidupan
seorang wanita, mulai dari periode neonatal hingga pascamenopause 1. Kebanyakan kista
ovarium dapat terjadi selama masa kehidupan bayi dan remaja, yang merupakan masa
aktif perkembangan hormon1. Tetapi sebagian besar kista-kista ini bersifat fungsional dan
menghilang tanpa perlu pengobatan1.
Kista ovarium itu sendiri memiliki risiko yaitu mengalami degenerasi keganasan
menjadi kanker1. Kanker ovarium merupakan kanker paling lazim kedelapan pada wanita
Amerika Serikat. Juga merupakan penyebab kematian kanker urutan kelima pada wanita
dengan perkiraan 14.000 kematian pada tahun 20101. Disamping itu bisa mengalami torsi
atau terpuntir sehingga menimbulkan nyeri akut, perdarahan atau infeksi bahkan sampai
kematian1. Oleh karena itu kista ovarium merupakan masalah yang sangat penting bagi
kesehatan ginekologi wanita.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi ovarium

Selama usia reproduksi, panjangnya ovarium sekitar 2,5-5 cm, lebar 1,5-3
cm dan ketebalan 0,6-1,5 cm2. Posisinya juga bervariasi,namun biasanya terletak
di bagian atas rongga pelvis dan bersandar di cekungan dangkal di dinding lateral
pelvis. Fossa ovaria waldeyer ini terletak di antara pembuluh darah iliaka interna
dan eksterna yang menyebar2.
Ovarium terikat dengan ligamentum latum oleh mesovarium. Ligamentum
uterovarian meluas dari bagian lateral dan posterior uterus, tepat di bawah insersi
tuba, ke kutub uterus ovarium2. Biasanya memiliki panjang beberapa sentimeter
dan diameter 3-4 mm. Ovarium ditutupi oleh peritoneum dan terdiri dari otot dan
serat jaringan ikat. Ligamentum infundibulopelvik atau ligamentum suspensorium

6
ovarii meluas dari bagian atas atau kutub tuba ke dinding pelvis yang terdapat
pembuluh darah dan saraf ovarium di dalamnya2.
Ovarium memiliki korteks dan medulla2. Pada wanita muda, bagian terluar
korteks berbentuk halus, mempunyai permukaan putih yang tidak tajam dan
terbentuk tunika albuginea. Pada permukaan terdapat selapis epitel kuboid, epitel
germinal waldeyer. Korteks mengandung oosit dan folikel yang berkembang.
Medulla adalah bagian tengah yang terdiri dari jaringan ikat. Terdapat sejumlah
besar arteri dan vena di medulla dan sejumlah kecil serat-serat otot polos2.
Ovarium dipersarafi oleh saraf simpatik dan parasimpatik 2. Saraf simpatik
terutama berasal dari pleksus ovarikus yang mendampingi pembuluh darah
ovarium. Yang lainnya berasal dari pleksus yang mengelilingi cabang ovarium
arteri uterine. Ovarium banyak dipersarafi oleh serat-serat safaf non-mielin yang
sebagian besar mendampingi pembuluh darah2.

2.2. Fisiologi haid

Pada ovulasi, oosit primer matur yang besar terlepas dari ovarium dan
ditangkap oleh ujung tuba uterine yang mengalami dilatasi yang sangat dekat
dengan permukaan ovarium saat itu2. Ovulasi normalnya terjadi pada pertengahan

7
siklus menstruasi yakni sekitar hari keempat belas dari satu siklus 28 hari. Pada
manusia biasnya hanya satu oosit yang dibebaskan ovarium selama satu siklus
tetapi terkadang tidak ada oosit yang dibebaskan atau dua atau lebih oosit
dilepaskan secara bersamaan2.
Beberapa jam sebelum ovulasi, folikel matur besar yang menonjol ke
tunica albuginea membentuk area iskemik keputihan atau translusen yakni
stigma, dengan pemadatan jaringan yang telah menghambat aliran darah 2. Secara
bersamaan, sel granulosa dan sel theca interna mulai menyekresi progesteron dan
estrogen. Stimulus untuk ovulasi adalah lonjakan kadar LH yang disekresi
hipofisis anterior sebagai respons terhadap peningkatan cepat kadar estrogen
dalam sirkulasi yang dihasilkan folikel dominan matur. LH menstimulasi sintesis
hialuronat dan prostaglandin dan keseluruhan produksi cairan di dalam folikel
praovulatorik. Progesterone, LH dan FSH mengaktifkan sejumlah enzim
proteolitik termasuk plasmin dan kolagen, di dalam dan sekitar folikel matur
yang cepat melemahkan lapisan granulosa (dan cumulus oophorus) dan tunica
albuginea di atasnya. Peningkatan tekanan cairan folikel dan pelemahan dinding
folikel menimbulkan penggelembungan dan lalu rupture permukaan ovarium di
stigma . Oosit dan corona radiata, beserta cairan folikel dan sel dari cumulus,
dikeluarkan melalui lubang tersebut oleh kontraksi otot polos theca eksterna yang
dipicu oleh prostaglandin dari cairan folikel2.
Sesaat sebelum ovulasi, oosit menyelesaikan pembelahan meiosis pertama
yang sudah bermula dan terhenti pada profase selama masa janin. Kromosom
terbagi rata diantara kedua sel anak, tetapi salah satu darinya mempertahankan
hampir semua sitoplasmanya. Sel tersebut menjadi oosit sekunder dan lainnya
menjadi badan polar pertama yakni sel yang sangat kecil dan tidak dapat hidup
dengan inti dan sedikit sitoplasma. Segera setelah badan polar pertama
dikeluarkan, inti oosit memulai pembelahan meiosis kedua, yang terhenti saat ini
pada metaphase.
Oosit sekunder terovulasi melekat longgar pada permukaan ovarium
karena cairan folikel koagulatif yang kaya hialuronat yang dilepaskan bersamanya

8
dan ditarik ke dalam pembukaan tuba uterine tempat fertilisasi dapat terjadi. Jika
tidak dibuahi dalam sekitar 24 jam, oosit sekunder mulai berdegenerasi.

2.3. Definisi kista ovarium


Kista ovarium adalah kantung yang berisi cairan atau semi cairan yang
muncul di ovarium3. Kista ovarium sangat umum terjadi. Mereka dapat terjadi
selama masa subur atau setelah menopause3. Kebanyakan kista ovarium bersifat
jinak (bukan kanker) dan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Jarang,
kista mungkin ganas (kanker)3. Kista ovarium berhubungan dengan gangguan
hormon periodik4. Sehingga kista ovarium dapat dibedakan dengan neoplasma
lainnya yang biasanya berukuran 6-8 cm, asimtomatik, spontan mengecil,
unilokular, mengandung cairan bening dan terdapat lapisan epitel sesuai asal
perkembangannya4.
Kista endometriosis adalah kista yang terbentuk dari jaringan
endometriosis (jaringan yang mirip dengan selaput dinding rahim yang tumbuh di
luar rahim) menempel di ovarium dan berkembang menjadi kista5. Kista ini juga
disebut sebagai kista coklat endometriosis karena berisi darah coklat-kemerahan.
Kista ini berhubungan dengan penyakit endometriosis yang menimbulkan nyeri
haid dan senggama54.

2.4. Epidemiologi kista ovarium


Angka kejadian kista ovarium sering terjadi pada wanita berusia
reproduktif dan jarang sekali dibawah usia 20 tahun dan diatas 50 tahun 6.
Berdasarkan data catatan medik di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto tahun
2008, wanita yang mengalami kista ovarium sekitar 58% terjadi pada wanita yang
berumur di bawah 30 tahun6. Kista ovarium di RSUD Banjarnegara tahun 2009
-2010, mayoritas berumur 22-28 tahun sebanyak 34,38% multiparitas sebanyak
65,6% dan jenis kista ovarium berupa kista ovari simpleks sebanyak 96,87%6.

9
2.5. Etiologi kista ovarium
Terdapat bermacam-macam penyebab kista ovarium;
a. Kista folikuler
Adalah kista yang paling sering terjadi dan berasal dari pertumbuhan
folikel7. Folikel adalah kantung berisi cairan yang di dalamnya terdapat sel
telur. Kista folikuler terbentuk ketika folikel bertumbuh melebihi ukuran
normal selama siklus menstruasi dan tidak pecah untuk melepaskan ovum.
Biasanya kista folikuler akan diserap dan akan menghilang dalam hitungan
hari hingga bulan. Kista folikuler biasanya mengandung darah (kista
hemoragik) yang berasal dari perembesan darah ke dalam kantung sel
telur7.
b. Kista korpus luteum
Kista korpus luteum berhubungan dengan siklus mentruasi 7. Korpus
luteum adalah daerah di dalam ovarium yang terbentuk setelah sel telur
terlepas dari folikel. Jika kehamilan tidak terjadi, korpus luteum biasanya
akan meluruh dan menghilang. Tetapi dapat juga terisi oleh cairan atau
darah dan menetap di dalam ovarium. Biasanya kista ini tidak
menimbulkan gejala dan sembuh secara spontan7.
c. Kista coklat
Ovarium adalah tempat biasanya endometriosis terjadi 7. Ketika
endometriosis terdapat di ovarium, maka endometriosis tersebut akan
bertumbuh dan berdarah seiring berjalannya waktu, membentuk kista
berisi darah dengan isi berwarna merah atau coklat yang disebut
endometrioma dan kadang-kadang disebut sebagai kista coklat7.
d. Sindrom polikistik ovarium
Sindrom polikistik ovarium ditandai oleh terdapatnya banyak kista di
kedua ovarium7. Sindrom polikistik ovarium berhubungan dengan
gangguan hormon dan penyebab tersering infertilitas7.
e. Kista dermoid (kista teratoma jinak)
Baik tumor jinak dan ganas pada ovarium dapat berbentuk kista 7.
Terkadang jaringan ovarium dapat berkembang secara tidak normal untuk

10
membentuk jaringan tubuh lain seperti rambut atau gigi. Kista dengan
jaringan yang abnormal ini biasa disebut kista dermoid atau kista teratoma
jinak7.
f. Abses tuba-ovarium
Infeksi pada organ panggul dapat melibatkan tuba falopi dan ovarium 7.
Pada kasus yang parah, kista yang berisi pus dapat ditemukan di dalam
atau sekitar ovarium atau tuba7.

2.6. Faktor risiko kista ovarium


 Pengobatan infertilitas
Pasien yang dirawat karena infertilitas dengan induksi ovulasi dengan
gonadotropin dan agen lain, seperti klomifen sitrat atau letrozole, dapat
menyebabkan kista sebagai bagian dari sindrom hiperstimulasi ovarium8.
 Tamoxifen
Tamoxifen dapat menyebabkan kista ovarium fungsional yang biasanya
sembuh setelah penghentian pengobatan8.
 Kehamilan
Pada wanita hamil, kista ovarium dapat terbentuk pada trimester kedua
ketika hCG memuncak8.
 Hipotiroidisme
Karena kesamaan subunit alfa hormon perangsang tiroid (TSH) dan hCG ,
hipotiroidisme dapat merangsang pertumbuhan kista ovarium8.
 Maternal gonadotropin
Efek transplasenta gonadotropin ibu dapat menyebabkan perkembangan
kista ovarium neonatal dan janin8.

2.7. Klasifikasi kista ovarium


Tumor primer ovarium dapat diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan
asal selnya yaitu sel epithelial, sel telur dan sel stroma, serta dapat juga
disebabkan oleh metastasis ke ovarium9. Tumor epithelial ovarium terjadi sekitar
85% dari seluruh keganasan di ovarium, yang paling sering adalah jenis kanker

11
serous. Kista dermoid adalah neoplasma jinak paling sering terjadi di ovarium.
Tumor sel stroma dapat menghasilkan hormon, estrogen dan progesterone, yang
menyebabkan gejala gangguan hormon9. Tumor ovarium dapat jinak, peralihan
atau ganas. Selain itu, tumor jinak ovarium dapat merupakan kista fungsional dan
kista hemoragik, seperti endometriosis9.
Klasifikasi, frekuensi dan distribusi umur pada berbagai neoplasma
ovarium5
Sel epitel Metastasis
Asal Sel benih Sel stroma
permukaan ke ovarium
Frekuensi 65%-70% 15%-20% 5%-10% 5%
Proporsi
tumor
90% 3%-5% 2%-3% 5%
ovarium
ganas
Kelompok
Semua
umur yang >20 tahun 0-25 tahun Variable
umur
terkena
Tipe Tumor serosum, Teratoma, Fibroma,
Tumor disgerminoma, tumor
musinosum, tumor sinus granulosa
Tumor endodermal, sel theca,
endometrioid, koriokarsinoma tumor
Tumor sel jernih, sertoli-
Tumor Brenner, leydig
kistadenofibroma

2.8. Manifestasi klinis kista ovarium


Sebagian besar pasien dengan kista ovarium tidak menunjukkan gejala,
dengan kista yang ditemukan pada pemeriksaan panggul dan usg rutin8. Tetapi
beberapa kista ovarium menunjukkan serangkaian gejala, terkadang parah, bahkan
keganasan ovarium tidak menunjukkan gejala hingga mencapai stadium lanjut8.
Nyeri atau rasa tidak nyaman dapat muncul pada perut bagian bawah 8.
Torsi ovarium dapat menyebabkan gejala nyeri yang hebat. Pecahnya kista

12
ditandai dengan nyeri panggul yang tiba-tiba, unilateral dan tajam. Hal ini dapat
dikaitkan dengan trauma, olahraga atau koitus. Selain itu, rupture kista dapat
menyebabkan tanda-tanda peritoneum, perut kembung dan perdarahan yang
bersifat sementara8.
Penelitian yang dilakukan terhadap 123 pasien secara retrospektif di India,
kebanyakan pasien menunjukkan gejala nyeri abdomen, nyeri terasa samar dan
berhubungan dengan rasa berat di perut bagian bawah4. Terdapat tiga pasien yang
menunjukkan nyeri abdomen hebat dan terdapat tanda-tanda akut abdomen.
Pesien ini dicurigai menderita torsio ovarium. Pada pasien usia reproduktif
menunjukkan gejala menoragia dan dismenorea4.
Gejala pada kista ovarium4
Manifestasi klinis Jumlah kasus Persentasi
Nyeri abdomen 83 67,5%
Massa abdomen 7 5,7%
Menoragia/dismenorea 12 9,75%
Temuan incidental 12 9,75%
Infertilitas 6 4,9
Perdarahan post menopause 3 2,44

2.9. Patogenesis kista ovarium


Etiopatogenesis kista ovarium belum sepenuhnya dimengerti dan diduga
disebabkan oleh multifactor9. Faktor risiko utama adalah keturunan, riwayat
kanker ovarium pada tingkat pertama. Namun hanya 5%-10% yang terkait dengan
keturunan. Penyebab utama adalah sindrom kanker payudara-ovarium,
diperantarai oleh mutasi gen penekan tumor BRCA1 dan BRCA29. Sekitar 90%-
95% penyebaran kasus tidak merata dan risiko bertambah terkait dengan
nulliparitas, menarche dini dan menopause lanjut, hamil, menyusui. Sedangkan
penggunaan pil kontrasepsi menurunkan risiko. Kasus yang terkait dengan
herediter terjadi terutama pada usia tua9.
Tumor endometrioid mungkin bersifat padat atau kistik, biasanya tumbuh
berkaitan dengan endometriosis5. Pada pemeriksaan mikroskopik, dibedakan
dengan pembentukan kelejar tubuler, mirip dengan endometrium, di dalam
lapaisan rongga kistik. Walaupun terdapat jenis jinak dan jenis perantara

13
(borderline) tumor endometrioid biasanya ganas5. Dijumpai bilateral pada 30%
kasus dab 15%-30% wanita yang mempunyai karsinoma ini bersamaan juga
memiliki karsinoma endometrium. Mirip dengan karsinoma endometrium jenis
endometrioid, karsinoma endometrioid ovarium juga mempunyai mutasi pada gen
supresor tumor PTEN5.

2.10. Penegakkan diagnosa kista ovarium


a. Anamnesis
 Siklus menstruasi yang tidak teratur10
 Dyspareunia dan peristaltic usus10
 Mual atau muntah10
 Perut terasa penuh meski makan sedikit10
 Pembengkakan perut10
b. Pemeriksaan fisik
Melakukan pemeriksaan pelvis dan rectum untuk mengetahui perubahan
abnormal pada uterus, vagina, ovarium, tuba fallopi, vesica dan rectum11.
c. Laboratorium12
Tumor marker yang digunakan untuk tumor epithelial adalah cancer
antigen (CA)-12512. Pada wanita post-menopause, CA-125 memiliki
sensitivitas dan spesifitas yang tinggi12. Sedangkan pada wanita usia
reproduktif, memiliki spesivitas tinggi tetapi spesifitasnya rendah karena
dapat meningkat pada kondisi lain (inflamasi peritoneum, endometriosis,
dll). Human epididymis protein 4 (HE4) saat ini juga digunakan sebagai
tumor marker dan beberapa penelitian menunjukkan kegunaan dalam
membedakan massa adneksal jinak atau ganas pada wanita
postmenopause12.

Tingkat tumor marker dan risiko keganasan ovarium12

14
Stage I
Benign Borderline All malignant
malignant
HE4 (≤ 85 pM) 65,7 71,0 102,5 190
Premenopause 56,9 68,7 (35,8- 79,7 (41,2- 160,8 (41,2-
(30,6- 120,8) 1.729) 1.729)
469)
Postmenopaus 68,6 85,2 (57,6- 105,5 (38,7- 210,1 (38,7-
e (34,2- 277,3) 1.111) 7.931,9)
631,4)
CA-125 (≤ 35 16,2 51,8 49,7 204,2
U/ml)
Premenopause 22.9 52.6 49.7 87.6
(6.3-121.) (9.7-652.) (19.8-2,377.5 (19.8-4,232.7
) )
Postmenopaus 14.3 49.8 54.3 264.7
(6.2-14,880.2
e (2.3-4,63) (8.4-599.9) (6.2-2,932)
)

15
d. Radiologi
Ultrasonografi tidak dapat membedakan antara kista fungsional dan kista
organic sederhana9. Sensitivitasnya dalam membedakan kista jinak dan
kista ganas antara 62%-100% dan spesifitas antara 87%-95%. Hasil
terbaik menggunakan probe endovaginal9.

Hubungan antara histopatologi dengan gambaran USG4


Histopatologi USG
Corpus luteum cyst Simple unilocular cyst
Paraovarian cyst Simple unilocular cyst
Follicular cyst Anechoic with septa,
Simple unilocular cyst
Endometriotic cyst Simple unilocular cyst,
Cyst with internal echos,
Anechoic with septa,
Mature cystic Cysts with hyperechoic,
Teratoma area/calcification
Serous cysadenoma Anechoic cysts,
Anechoic cysts with
Septa,
Anechoic cysts with
echogenic
Mucinous Multi septate anechoic
Cystademona cysts
Simple anechoic cysts
Serous Solid tumor
Adenofibroma
Hemorrhagic Cyst Anechoic cysts
Serous Multi septate anechoic
Cystadenocarcinoma cysts with solid
components
Borderline Multi septate anechoic
mucinous tumor cysts with solid
components
Borderline papillary Multi septate anechoic
serous tumor cysts

16
2.11. Tatalaksana kista ovarium

Jika kista dianggap jinak maka dianjurkan untuk operasi invasive


minimal3. Operasi invasif minimal dilakukan dengan menggunakan sayatan kecil
dan instrumen khusus yang disebut laparoskopi. Jenis operasi yang lain disebut
operasi terbuka. Pada operasi terbuka, sayatan dibuat secara horizontal atau
vertical di perut bagian bawah. Operasi terbuka dilakukan bila dicurigai kanker
atau jika kista terlalu besar untuk diangkat dengan laparoskopi3.

2.12. Prognosis dan komplikasi kista ovarium

Prognosis untuk kista ovarium jinak adalah baik 1. Secara keseluruhan


70%-80% dari kista folikel akan sembuh spontan. Keganasan adalah ancaman

17
yang dapat muncul pada semua kista ovarium. Pasien hamil yang memiliki kista
dengan diameter yang kurang dari 6 cm memiliki risiko keganasan kurang dari
satu persen. Sebagian besar dari kista-kista ini akan sembuh pada usia kehamilan
16-20 minggu, dengan 96% dari massa ini akan sembuh spontan. Pada pasien
pascamenopause dengan kista unilokuler, keganasan terjadi pada 0,3% kasus1.

Kista ovarium dapat menimbulan banyak komplikasi1. Pada banyak kasus


kista ovarium yang jinak dan asimtomatik akan sembuh spontan. Pada kasus yang
lain dapat menimbulkan ruptur kista, perdarahan dan torsio kista ovarium1.

BAB III
STATUS PASIEN

18
1. Identitas pasien

Nama : Ny. NT
Umur : 42 tahun
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Suku : Batak
Status : menikah
Alamat : Besitang
Rujukan : RSU. Putri Bidadari
Masuk RS : 14-5-2019
Keluar RS : 18-5-2019
No. MR : 1904185196

2. Anamnesa (Autoanamnesa)

2.1. Keluhan utama

Benjolan diperut kanan bawah

2.2. Riwayat penyakit sekarang

Pasien menyadari adanya benjolan di perut kanan bawah saat pergi di kusuk
kurang lebih satu tahun yang lalu. Kemudian pasien berobat ke klinik dokter.
Setelah di USG, dikatakan bahwa pasien menderita kista coklat di ovarium. Oleh
dokter menyarankan untuk operasi tetapi pasien masih mempertimbangkan. Dua
minggu yang lalu sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan nyeri pada
perut kanan bawahyang disertai pembengkakan dan kemudian dibawa ke RS
Murni Teguh. Setelah di USG, pasien didiagnosa kista ovarium dan disarankan
untuk operasi.

2.3. Riwayat haid

Menarche : 15 tahun Volume : 3-4 x ganti pembalut/hari


Lama haid : 6 hari Nyeri Haid : (+)

Siklus haid : 28 hari Menopause : (-)

HPHT : 28-4-2019

19
2.4. Riwayat perkawinan:

Pasien baru menikah satu kali dan usia pernikahan sudah 22 tahun.

2.5. Riwayat persalinan: P2A0

 laki-laki, usia 20 tahun, persalinan normal.

 laki-laki, usia 15 tahun, persalinan normal.

2.6. Riwayat pemakaian kontrasepsi

Setelah kelahiran anak kedua, pasien menggunakan KB suntik selama 3 bulan


tetapi karena alasan ketidakcocokan maka selanjutnya menggunakan pil KB
selama lima tahun. Setelah itu pasien tidak menggunakan KB jenis apapun sampai
sekarang.

2.7. Riwayat penyakit dahulu

Tidak ada

2.8. Riwayat penyakit keluarga

Tidak ada

2.9. Riwayat operasi sebelumnya

Tidak ada

2.10. Riwayat alergi

Tidak ada

2.11. Riwayat pemakaian obat

Tidak ada

3. Pemeriksaan fisik

3.1. Status generalis (14-5-2019/Pra operasi)

 Keadaan umum : baik

20
 TD : 110/70
 HR : 79/menit
 RR : 20/menit
 T : 36˚C
 SPO2 : 99%
 Kesadaran : compos mentis
 Kepala : dalam batas normal
 Dada : dalam batas normal
 Paru : dalam batas normal
 Jantung : dalam batas normal
 Abdomen : terdapat benjolan di perut setinggi umbilikal
 Ekstremitas : dalam batas normal

3.2. Status ginekologi

a) Muka : dalam batas normal

b) Mamma : dalam batas normal

c) Aksilla : dalam batas normal

d) Abdomen :

 Inspeksi : terdapat benjolan di perut setinggi umbilikal

 Palpasi : massa dengan kosistensi kenyal dan mobile

 Perkusi : timpani melemah

 Auskultasi : bising usus (+)

 Genitalia eksterna : Perdarahan (-), luka (-)

e) Genitalia interna/pemeriksaan dalam


Inspekulo : tidak dilakukan pemeriksaan.
f) VT/bimanual palpasi
 Uterus : tidak dilakukan pemeriksaan
 Adneksa kiri/kanan : tidak dilakukan pemeriksaan
 Parametria kiri/kanan : tidak dilakukan pemeriksaan
 Kavum douglas : tidak dilakukan pemeriksaan
g) Rectal Toucher/Recto Vaginal Toucher bila diperlukan:
Tidak dilakukan pemeriksaan

4. Pemeriksaan laboratorium rutin

21
Darah rutin

Hasil
Periksaan
7-5-2019 14-5-2019/Post operasi
Hematologi
Hemoglobin 13 g/dl 11 g/dl
Leukosit 5,29×103/µl 14×103/µl
Eritrosit 4,47×106/µl 3,76×106/µl
Trombosit 228×103/µl 201×103/µl
Haematokrit 38,6% 33%
MPV 7,5 fl 7,0 fl
RDW 14,0 % 14%
HDW 2,78 g/dl -
PDW 51,0 % -
Nilai-nilai MC
MCV 86,3 fl 87,8 fl
MCH 29,1 pg 29,3 pg
MCHC 33,7 g/dl 33,4 g/dl
Hitung jenis
Eosinofil 0,5% 0,0%
Basofil 0,2% 0,5%
Neutrofil 71,5% 91%
Limfosit 20,7% 6,5%
Monosit 7,1% 2,0%
Coagulation
Bleeding time 3’ -
Clotting time 8’ -
Liver function
SGOT 23 U/L -
SGPT 18 U/L -
Renal function
Urea 14 mg/dl -
Creatinin 0,69 mg/dl -

5. Pemeriksaan penunjang

5.1. EKG : normal EKG

5.2. USG : didapatkan massa pada adneksa kanan diameter 9,14×6,94 cm dan
adneksa kiri 4,3×4,69 cm

22
5.3. Roengen : terdapat kardiomegali dan tidak tampak kelainan pada pulmo

5.4. CT-scan : tidak dilakukan pemeriksaan

5.5. MRI : tidak dilakukan pemeriksaan

6. Resume pemeriksaan

Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan pada perut bagian bawah setinggi umbilical
yang terasa nyeri. Pada palpasi ditemukan massa mobile dengan konsistensi padat. Pada
pemeriksaan USG ditemukan massa pada adneksa kanan diameter 9,14×6,94 cm dan
adneksa kiri 4,3×4,69 cm. Pada pemeriksaan toleransi operasi, EKG dan Roengen, pasien
memiliki risiko minimal untuk dilakukan tindakan operasi.

7. Diagnosis

7.1. Diagnosa kerja : kista ovarium duplex

7.2. Diagnosa banding : kista paraovarian, mioma uteri dan


keganasan ovarium

8. Pemeriksaan penunjang diagnostik yang diusulkan

Histopatologi (28-5-2019): gambaran histopatologi sesuai dengan kista endometriosis


ovarium bilateral dan tidak dijumpai tanda keganasan.

9. Terapi post operasi

9.1. IVFD RL 20 gtt/i

9.2. Inj. Ceftriaxone 1 gram/12 jam

9.3. Inj. Asam traneksamat/8 jam

10. Diganosa pasti

Kista endometriosis bilateral

11. Tindakan

Telah dilakukan laparatomi + BSO pada tanggal 14-5-2019 pukul 09.00-11.00 WIB.

23
12. Laporan tindakan

a. Insisi cutis dengan sumbu searah midline

b. Facies digunting, otot dikuakan, peritoneum digunting

c. Evaluasi rongga pelvis:

 Uterus ukuran normal

 Ovarium kanan membesar, kistik, perlengketan (+) ke usus. Ovarium kiri


membesar, kistik, perlengketan (+) ke usus.

 Dilakukan pembebasan perlengketan, BSO

 Kauter perdarahan, surgical pada dasar luka

 Kavum abdomen dicuci

 Drain dipasang

13. Prognosa

Dubia ad bonam

14. Follow up

S O A P
15-5-2019
Buang angina (+) TD: 111/62 Post laparatomi + IVFD 20 gtt/i
Nyeri (+) HR: 77 BSO Inj. Ceftriaxone 1
Demam (+) RR: 20 gram/12jam
T: 37,3
SPO2: 99%
Peristaltik (+)
normal,
Volume urine
cukup,
Drain minimal
16-5-2019

24
Buang angina (-) TD: 105/62 Post laparatomi + Inj. Ranitidine/12
Nyeri (+) HR: 95 BSO jam + Triway
Demam (-) RR: 20 Cefadroxil 2×500
T: 37,3 mg
SPO2: 99% Metrodinazole
Peristaltik (+) 2×500 mg
normal Asam mefenamat
3×500 mg
Kateter dan IV line
aff
17-5-2019
Buang angin (+) TD: 100/60 Post laparatomi + Cefadroxil 2×500
Nyeri (+) HR: 67 BSO mg
Demam (-) RR: 20 Metrodinazole
BAK (+) normal T: 36,7 2×500 mg
BAB (-) SPO2: 94% Asam mefenamat
Peristaltik (+) 3×500 mg
normal Etabion 1×1
Dulcolac sup extra
18-5-2019
Pasien berobat jalan TD: 110/70 Post laparatomi + Cefadroxil 2×500
HR: 72 BSO mg
RR: 20 Metrodinazole
T: 36,8 2×500 mg
SPO2: 93% Asam mefenamat
3×500 mg
Etabion 1×1

25
BAB IV
KESIMPULAN KASUS

Seorang pasien bernama Ny. NT datang ke RS. Murni Teguh Memorial


Hospital dengan keluhan benjolan pada perut bawah yang disertai nyeri yang
sudah dirasakan satu tahun belakangan ini. Setelah dilakukan pemeriksaan,
terdapat benjolan di perut setinggi umbilikal, konsistensi keras, mobile. Pada
pemeriksaan USG ditemukan massa pada adneksa kanan diameter 9,14×6,94 cm
dan adneksa kiri 4,3×4,69 cm. Oleh dokter didiagnosa kista ovarium duplex dan
disarankan untuk operasi. Pada tanggal 14-5-2019 dilakukan laparatomi dan
bilateral salpingo oophorectomy (BSO).
Pada saat operasi, ditemukan massa pada ovarium kanan dan kiri yang
berupa kista berisi cairan berwarna coklat yang disertai perlengketan ke usus.
Kemudian oleh dokter dilakukan pemeriksaan histopatologi pada jaringan
tersebut. Hasil histopatologi menunjukkan massa tersebut adalah kista
endometriosis bilateral dan tidak menunjukkan tanda-tanda keganasan. Kemudian
dilakukan observasi post operasi pada pasien dan selama observasi tidak
ditemukan masalah yang berarti. Pada tanggal 18-5-2019, pasien diperbolehkan
pulang dan dilakukan kontrol satu minggu kemudian.

26
BAB V
DAFTAR PUSTAKA

1. Ovarian Cysts [Internet]. [cited 2019 May 27]. Available from:


https://emedicine.medscape.com/article
2. Cunningham. Obstetri Williams. 23rd ed. jakarta: egc; 2012. 31 p.
3. Ovarian Cysts [Internet]. [cited 2019 May 24]. Available from: https://www.acog.org
4. Neelgund S, Hiremath P. International journal of reproduction, contraception, obstetrics
and gynecology. [Internet]. Vol. 5, International Journal of Reproduction, Contraception,
Obstetrics and Gynecology. 2017 [cited 2019 May 24]. 1969-1973 p. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4729709/pdf/13244_2015_Article_455.p
df
5. Patologi Anatomi Robbins. 9th ed. Singapore: Elsevier; 2015. 685-689 p.
6. Kista Ovarium. 2014; Available from: http://repository.usu.ac.id/
7. What Causes Ovarian Cysts [Internet]. [cited 2019 May 25]. Available from:
https://www.medicinenet.com/ovarian_cysts/article.htm
8. Ovarian Cysts Clinical Presentation [Internet]. [cited 2019 May 26]. Available from:
https://emedicine.medscape.com/article/
9. Foti PV. MR imaging of ovarian masses: classification and differential diagnosis. Insights
Imaging [Internet]. 2016 Feb [cited 2019 May 26];7(1):21–41. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26671276
10. Ovary Pain [Internet]. webmd. 2019 [cited 2019 May 27]. Available from:
https://www.webmd.com/women/guide/ovarian-pain-causes-diagnosis-treatments
11. Diagnosis of ovarian cancer - Canadian Cancer Society [Internet]. Canadian cancer
society. 2019 [cited 2019 May 27]. Available from: https://www.cancer.ca/en/cancer-
information/cancer-type/ovarian/diagnosis/
12. HE4 and CA-125 in ovarian cancer diagnoses. [cited 2019 May 27]; Available from:
http://dx.doi.org/10.3802/jgo

27
28