Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ABSES PERIANAL
RSUD dr. SOEHADI PRIJONEGORO

Disusun Oleh :
Kelompok 1
1. Aditya Arbi (S16002/S16A)
2. Ernie Hening Puspita (S16018/S16A)
3. Madila Nurwahyu (S16102/S16A)
4. Nindi Saputri (S16044/S16A)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2019
A.KONSEP PENYAKIT

1. DEFINISI
Menurut Smeltzer dan Bare (2010) fistula perianal adalah saluran tipis, tubuler,
fibrosa yang meluas ke dalam saluran anal dari lubang yang terletak disamping anus.
Fistula perianal sering terjadi pada laki laki berumur 20 – 40 tahun sedangkan pada
perempuan berusia 20 – 35 tahun, berkisar 1-3 kasus tiap 10.000 orang. Sebagian
besar fistula terbentuk dari sebuah abses (tapi tidak semua abses menjadi fistula).
Sekitar 40% pasien dengan abses akan terbentuk fistula. Insiden dan epidemiologi
fistula perianal dipelajari antara penduduk Kota Helsinki selama periode 10 tahun,
1969-1978. Kejadian rata-rata per 100.000 penduduk adalah 12,3% untuk pria dan
5,6% untuk perempuan (wilson, 2015).
2. ETIOLOGI
Umumnya bakteri seperti stafilokokus dan Escherichia coli adalah penyebab
paling umum. Infeksi jamur kadang-kadang menyebabkan abses (Emedicinehealth,
2016, hal 1). Masuknya bakteri ke daerah sekitar anus dan rektum (Eddy Gunawan,
2016, hal 1).
Abses perianal merupakan gangguan sekitar anus dan rectum, dimana
sebagian besar timbul dari obstruksi kripta anal. Infeksi dan stasis dari kelenjar dan
sekresi kelenjar menghasilkan supurasi dan pembentukan abses dalam kelenjar anal.
Biasanya, abses terbentuk awal – awal dalam ruang intersfingterik dan kemudian ke
ruang potensial yang berdekatan. Umumnya bakteri seperti stafilokokus dan
Escherichia coli adalah penyebab paling umum. Infeksi jamur kadang-kadang
menyebabkan abses. Masuknya bakteri ke daerah sekitar anus dan rektum (Eddy
Gunawan, 2011).

3. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinis dari abses secara umum yaitu :
a. Karena abses merupakan salah satu manifestasi peradangan, maka manifestasi
lain yang mengikuti abses dapat merupakan tanda dan gejala dari prose
inflamasi, yakni kemrahan (rubor), panas (color), pembengkakan (tumor),
rasa nyeri (dolor) dan hilangnya fungsi.
b. Timbul atau teraba benjolan pada tahap awal berupa benjolan kecil, pada
stadium lanjut benjolan bertambah besar, demam, benjolan meningkat,
malaise, nyeri, bengkak, berisi nanah (pus).
c. Gambaran Klinis
Nyeri tekan
Nyeri lokal
Bengkak
Kenaikan suhu
Leukositosis

4. KOMPLIKASI
Jika tidak diobati, fistula anus hampir pasti akan membentuk, menghubungkan
rektum untuk kulit. Hal ini memerlukan operasi lebih intensif. Selanjutnya, setiap
abses diobati dapat (dan kemungkinan besar akan) terus berkembang, akhirnya
menjadi infeksi sistemik yang serius. Hal yang paling ditakutkan pada abses perianal
adalah terjadinya fistel perianal. Fistel perianal adalah saluran abnormal antara lubang
anus/rektum dengan lubang bekas abses yang bermuara pada kulit sekitar anus. Muara
pada kulit sekitar anus tampak sebagai luka bekas bisul yang tidak pernah
menutup/sembuh dan tidak sakit (Selatan, 2015, hal 2).
5. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAY
Abses perianal terbentuk akibat berkumpulnya nanah di jaringan bawah kulit
daerah sekitar anus. Nanah terbentuk akibat infeksi kuman/bakteri karena kelenjar di
daerah tersebut tersumbat. Bakteri yang biasanya menjadi penyebab adalah
Escherichia coli dan spesies Enterococcus. Kuman/bakteri yang berkembang biak di
kelenjar yang tersumbat lama kelamaan akan memakan jaringan sehat di sekitarnya
sehingga membentuk nanah. Nanah yang terbentuk makin lama makin banyak
sehingga akan terasa bengkak dan nyeri, inilah yang disebut abses perianal. Pada
beberapa orang dengan penurunan daya tubuh misalnya penderita diabetes militus,
HIV/AIDS, dan penggunaan steroid (obat anti radang) dalam jangka waktu lama,
ataupun dalam kemoterapi akibat kanker biasanya abses akan lebih mudah terjadi
(Selatan, 2015, hal 1).
PATHWAY
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi jarang diperlukan pada evaluasi pasien dengan
abses perianal, namun pada pasien dengan gejala klinis abses intersfingter
atau supralevator mungkin memerlukan pemeriksaan konfirmasi dengan
CT scan, MRI, atauultrasonografi dubur. Namun pemeriksaan radiologi
adalah modalitas terakhir yang harus dilakukan karena terbatasnya
kegunaannya. USG juga dapat digunakan secara intraoperatif untuk
membantu mengidentifikasi abses atau fistula dengan lokasi yang sulit.
b.Pemeriksaan Laboratorium
Belum ada pemeriksaan laboratorium khusus yang dapat dilakukan
untukmengevaluasi pasien dengan abses perianal atau anorektal,
kecuali pada pasientertentu, seperti individu dengan diabetes dan pasien
dengan imunitas tubuh yang rendah karena memiliki risiko tinggi
terhadap terjadinya sepsis bakteremia yang dapat disebabkan dari abses
anorektal. Dalam kasus tersebut, evaluasi laboratorium lengkap adalah
penting

7. PENATALAKSANAAN (medis dan keperawatan)


Pada kebanyakan pasien dengan abses anorektal atau perianal, terapi
medikamentosa dengan antibiotik biasanya tidak diperlukan. Namun, pada pasien
dengan peradangan sistemik, diabetes, atau imunitas rendah, antibiotik wajib
diberikan. Abses perirektal harus diobati dengan drainase sesegera mungkin setelah
diagnosis ditegakkan. Jika diagnosis masih diragukan, pemeriksaan di bawah anestesi
sering merupakan cara yang paling tepat baik untuk mengkonfirmasi diagnosis serta
mengobati. Pengobatan yang tertunda atau tidak memadai terkadang dapat
menyebabkan perluasan abses dan dapat mengancam nyawa apabila terjadi
nekrosisjaringan yang besar, atau bahkan septikemia. Antibiotik hanya diindikasikan
jika terjadi selulitis luas atau apabila pasien immunocompromised, menderita
diabetes mellitus, atau memiliki penyakit katub jantung. Namun pemberian
antibiotik secara tunggal bukan merupakan pengobatan yang efektif untuk mengobati
abses perianal atau perirektal.Kebanyakan abses perianal dapat didrainase di bawah
anestesi lokal di kantor,klinik, atau unit gawat darurat. Pada kasus abses yang besar
maupun pada lokasinya yang sulit mungkin memerlukan drainase di dalam ruang
operasi. Insisi dilakukan sampai ke bagian subkutan pada bagian yang paling
menonjol dari abses. “Dog ear" yang timbul setelah insisi dipotong untuk mencegah
penutupan dini. Luka dibiarkan terbuka dan sitz bath dapat dimulai pada hari
berikutnya.

B. ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
A. Identitas pasien dan penanggung jawab

Identitas pasien diisi mencakup nama, umur, jenis kelamin, status pernikahan,

Agama, pendidikan, pekerjaan,suku bangsa, tgl masuk RS, alamat. Untuk penangung

jawab dituliskan nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat.

B. Riwayat Kesehatan

Mengkaji keluhan utama apa yang menyebabkan pasien dirawat. Apakah

penyebab dan pencetus timbulnya penyakit, bagian tubuh yang mana yang sakit,

kebiasaan saat sakit kemana minta pertolongan, apakah diobati sendiri atau

menggunakan fasilitas kesehatan. Apakah ada alergi, apakah ada kebiasaan merokok,

minum alkohol, minum kopi atau minum obat-obatan.

C. Riwayat Penyakit

Penyakit apa yang pernah diderita oleh pasien, riwayat penyakit yang sama atau

penyakit lain yang pernah di derita oleh pasien yang menyebabkan pasien dirawat.

Adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga yang lain atau

riwayat penyakit lain yang bersifat genetik maupun tidak.

D. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum

Umumnya penderita datang dengan keadaan sakit dan gelisah atau cemas

akibat adanya bisul pada daerah anus.

2. Tanda-Tanda Vital

Tekanan darah normal, nadi cepat, suhu meningkat dan pernafasan meningkat.

3. Pemeriksaan Kepala Dan Leher


a. Kepala Dan Rambut
Pemeriksaan meliputi bentuk kepala, penyebaran dan perubahan warna rambut

serta pemeriksaan tentang luka. Jika ada luka pada daerah tersebut,

menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan kerusakan kulit.


b. Mata
Meliputi kesimetrisan, konjungtiva, reflek pupil terhadap cahaya dan

gangguan penglihatan.
c. Hidung
Meliputi pemeriksaan mukosa hidung, kebersihan, tidak timbul pernafasan

cuping hidung, tidak ada sekret.


d. Mulut
Catat keadaan adanya sianosis atau bibir kering.
e. Telinga
Catat bentuk gangguan pendengaran karena benda asing, perdarahan dan

serumen. Pada penderita yang bed rest dengan posisi miring maka,

kemungkinan akan terjadi ulkus didaerah daun telinga.


f. Leher
Mengetahui posisi trakea, denyut nadi karotis, ada tidaknya pembesaran vena

jugularis dan kelenjar linfe.


4. Pemeriksaan Dada Dan Thorax
Inspeksi bentuk thorax dan ekspansi paru, auskultasi irama pernafasan, vokal

premitus, adanya suara tambahan, bunyi jantung, dan bunyi jantung tambahan,

perkusi thorax untuk mencari ketidak normalan pada daerah thorax.


5. Abdomen
Bentuk perut datar atau flat, bising usus mengalami penurunan karena

immobilisasi, ada masa karena konstipasi, dan perkusi abdomen hypersonor jika

dispensi abdomen atau tegang.


6. Urogenital
Inspeksi adanya kelainan pada perinium. Biasanya klien dengan fistula ani

yang baru di operasi terpasang kateter untuk buang air kecil.


7. Muskuloskeletal
Adanya fraktur pada tulang akan menyebabkan klien bedrest dalam waktu

lama, sehingga terjadi penurunan kekuatan otot.


8. Pemeriksaan Neurologi
Tingkat kesadaran dikaji dengan sistem GCS. Nilainya bisa menurun bila

terjadi nyeri hebat (syok neurogenik) dan panas atau demam tinggi, mual muntah,

dan kaku kuduk.


9. Pemeriksaan Kulit
a. Inspeksi kulit
Pengkajian kulit melibatkan seluruh area kulit termasuk membran

mukosa, kulit kepala, rambut dan kuku. Tampilan kulit yang perlu dikaji yaitu
warna, suhu, kelembaban, kekeringan, tekstur kulit (kasar atau halus), lesi,

vaskularitas. Yang harus diperhatikan oleh perawat yaitu :


1) Warna, dipengaruhi oleh aliran darah, oksigenasi, suhu badan dan produksi

pigmen. Lesi yang dibagi dua yaitu :


a) Lesi primer, yang terjadi karena adanya perubahan pada salah satu

komponen kulit
b) Lesi sekunder adalah lesi yang muncul setelah adanya lesi primer.

Gambaran lesi yang harus diperhatikan oleh perawat yaitu warna, bentuk,

lokasi dan kofigurasinya.

2) Edema
Selama inspeksi kulit, perawat mencatat lokasi, distribusi dan warna dari

daerah edema.
3) Kelembaban
Normalnya, kelembaban meningkat karena peningkatan aktivitas atau suhu

lingkungan yang tinggi kulit kering dapat disebabkan oleh beberapa faktor,

seperti lingkungan kering atau lembab yang tidak cocok, intake cairan

yang inadekuat.
4) Integritas
Yang harus diperhatikan yaitu lokasi, bentuk, warna, distribusi, apakah ada

drainase atau infeksi.


5) Kebersihan kulit
6) Vaskularisasi
Perdarahan dari pembuluh darah menghasilkan petechie dan echimosis.
7) Palpasi kulit
Yang perlu diperhatikan yaitu lesi pada kulit, kelembaban, suhu, tekstur

atau elastisitas, turgor kulit.

E. Diagnosa Keperawatan
Pre operasi:
a) Nyeri pada daerah perianal berhubungan dengan adanya luka pada perianal.
b) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka terbuka yang mungkin

terkontaminasi.
c) Kecemasan berhubungan dengan physiologi faktor akibat proses peradangan.
d) Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, prognosis dan tindakan yang

akan didapatnya.

Post operasi:

a) Nyeri area operasi berhubungan dengan adanya eksisi luka operasi.


b) Perubahan pola eliminasi konstipasi/diare berhubungan efek anestesi,

pemasukan cairan yang tidak adekuat.


c) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan risiko prosedur invasive, luka yang

mungkin terkontaminasi.
F. Intervensi

Pre operasi

a) Nyeri berhubungan dengan adanya luka pada perianal

Tujuan: Nyeri berkurang sampai hilang

Kriteria hasil: Klien menunjukkan toleransi terhadap nyeri, klien

mengungkapkan nyeri berkurang.

Intervensi:

 Kaji frekuensi dan intensitas nyeri dengan skala 1 – 10.


Rasional: perubahan karakteristik nyeri mengidikasikan adanya

perkembangan kearah komplikasi.


 Perhatikan tanda-tanda nonverbal seperti; takut bergerak, kegelisahan.
Rasional: bahasa tubuh/perilaku nonverbal dapat digunakan sebagai

data yang menunjukkan adanya rasa nyeri/tak nyaman.


 Kaji faktor-faktor yang mengganggu atau meningkatkan nyeri.
Rasional: keadaan stress dapat meningkatkan rasa nyeri.
 Berikan posisi yang nyaman (telungkup, miring), aktivitas pengalihan

perhatian
Rasional: meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kemampuan

koping.
 Bersihkan area rectal dengan sabun yang lembut dan air sesudah BAB

dan rawat kulit dengan salf, petroleum jelly.


Rasional: menjaga kulit sekitar rektal dari asam isi perut, menjaga

exoriasi.
 Berikan rendaman duduk.
Rasional: menjaga kebersihan dan memberikan rasa nyaman.
 Observasi area perianal fistel.
Rasional: fistula mungkin berkembang dari erosi dan kelemahan dari

dinding intestinal.
 Kolaborasi dengan medik untuk pemberian analgetik.
Rasional: Analgetik membantu mengurangi nyeri
b) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka terbuka yang mungkin

terkontaminasi.

Tujuan: infeksi tidak terjadi.

Kriteria hasil: tanda vital dalam batas normal (peningkatan suhu tidak terjadi),

leukosit normal

Rencana tindakan:

 Kaji area luka, catat adanya penambahan luas luka, karakteristik cairan

yang keluar dari luka.


Rasional: adanya pus mengindikasikan adanya infeksi
 Monitor tanda-tanda vital, peningkatan suhu tubuh.
Rasional: peningkatan suhu mengindikasikan adanya proses infeksi.
 Rawat luka dengan prinsip aseptik.
Rasional: luka pada klien adalah luka kotor, prinsip aseptik mencegah

terjadinya infeksi tambahan.


 Berikan diet yang adekuat.
Rasional: klien membutuhkan nutrisi yang cukup untuk penyembuhan

lukanya.
 Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
Rasional: antibiotik membantu menghambat terjadinya infeksi.
c) Kecemasan berhubungan dengan faktor fisiologi akibat proses peradangan.

Tujuan: kecemasan berkurang

Kriteria hasil: ekspresi wajah klien tenang, mengungkapkan kesadarannya

akan perasaan cemasnya.

Intervensi

 Bina hubungan saling percaya.


Rasional: hubungan saling percaya merupakan dasar dari komunikasi

therapeutik.
 Perhatikan perubahan perilaku klien, kegelisahan, tak ada kontak

mata, tampak kurang tidur.


Rasional: indikator peningkatan stress/kecemasan.
 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya, berikan feedback.
Rasional: membina hubungan therapeutik.
 Dengarkan ungkapan klien dengan empati.
Rasional: dengan menunjukkan sikap empati, diharapkan akan

membantu mengurangi kecemasan klien.


 Berikan informasi yang akurat.
Rasional: dengan memberikan informasi yang akurat akan membantu

menurunkan tingkat kecemasan.


 Ciptakan ketenangan dan lingkungan yang nyaman.
Rasional: membantu meningkatkan relaxasi, mengurangi kecemasan.
 Kolaborasi untuk pemberian sedativa, seperti barbiturat, anti anxietas

seperti, diazepam.
Rasional: sedativa/anti anxietas membantu mengurangi kecemasan dan

membantu istirahat.

d) Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, prognosis dan tindakan yang

akan didapatnya berhubungan dengan kurangnya informasi.


Tujuan: Pengetahuan pasien bertambah
Kriteria hasil: Klien mampu mengungkapkan tentang proses penyakit dan

penanggulangannya. Berpartisipasi dalam penatalaksanaan regimen.

Intervensi

 Kaji persepsi klien tentang proses penyakitnya.


Rasional: menentukan tingkat pengetahuan klien dan kebutuhan

informasi yang diperlukan.


 Ulangi penjelasan tentang proses penyakit, penyebab, tanda dan gejala

penyakit serta penanggulangannya.


Rasional: dengan memberikan penjelasan yang memadai klien tahu

proses penyakit dan tindakan yang akan didapatnya, sehingga klien

dapat menerima tindakan yang didapatnya.


 Tekankan pentingnya menjaga kebersihan kulit, seperti : tehnik cuci

tangan yang baik dan perawatan kulit perianal.


Rasional: mengurangi penyebaran bakteri dan resiko iritasi kulit dan

infeksi.

Post Operasi

a) Nyeri pada area operasi berhubungan dengan adanya eksisi luka operasi.
Tujuan: nyeri berkurang atau terkontrol
Kriteria hasil: ekspresi wajah klien rileks, cukup istirahat, mengungkapkan

nyeri berkurang /dapat ditahan.


Intervensi:
 Kaji lokasi, intensitas nyeri dengan skala 0 – 10, faktor yang

mempengaruhi. Perhatikan tanda-tanda nonverbal.


Rasional: membantu menentukan intervensi selanjutnya.
 Monitor tanda-tanda vital
Rasional: perubahan tanda-tanda vital, peningkatan tekanan darah, nadi

dan pernafasan bisa diakibatkan karena nyeri.


 Kaji area luka operasi, adanya edema, hematoma atau inflamasi.
Rasional: pembengkakan, inflamasi dapat menyebabkan meningkatnya

nyeri.
 Berikan posisi yang nyaman dan lingkungan yang tenang, ajarkan

tehnik relaksasi, pengalihan perhatian.


Rasional: membantu mengurangi dan mengontrol rasa nyeri.
 Kolaborasi dengan medik untuk pemberian analgesik.
Rasional: analgesik membantu mengurangi nyeri.

b) Perubahan pola eliminasi konstipasi/diare berhubungan dengan efek anestesi,

pemasukan cairan yang tidak adekuat.


Tujuan: pola eliminasi kembali berfungsi normal.
Intervensi:
 Auskultasi bising usus.
Rasional: adanya suara bising usus yang abnormal, merupakan tanda

adanya komplikasi.
 Anjurkan makanan/minuman yang tidak mengiritasi.
Rasional: menurunkan resiko iritasi mukosa.
 Kolaborasi medik untuk pemberian glyserin suppositoria.
Rasional: membantu melunakkan feses.

c) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya prosedur invasive, luka yang

mungkin terkontaminasi.
Tujuan: tidak terjadi infeksi, luka sembuh tanpa komplikasi.
Intervensi:
 Kaji area luka operasi, observasi luka, karakteristik drainage, adanya

inflamasi.
Rasional: penambahan infeksi dapat mengambat proses penyembuhan.
 Monitor tanda-tanda vital, temperatur, respirasi, nadi.
Rasional: peningkatan temperatur, pernapasan, nadi merupakan

indikasi adanya proses infeksi.


 Rawat area luka dengan prinsip aseptik. Jaga balutan kering.
Rasional: menjaga pasien dari infeksi silang selama penggantian

balutan.
 Kolaborasi untuk pemeriksaan cultur dari sekret/drainage, kedua dari

tengah dan pinggir luka.


Rasional: dengan mengetahui adanya organisme akan menentukan

pemberian antibiotik.
 Berikan antibiotik sesuai pesan medik.
Rasional: antibiotik mencegah dan melawan infeksi.
 Bila perlu lakukan irigasi luka.
Rasional: irigasi luka dengan antiseptik baik untuk melawan infeksi
d) Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan colostomy
Tujuan : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda
infeksi
Intervensi:
 Observasi luka, catat karakteristik drainase
Rasional: Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam
pertama, dimana infeksi dapat terjadi kapan saja
 Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan teknik aseptik
Rasional: Sejumlah besar drainase serosa menuntut pergantian dengan
sering untuk menurunkan iritasi kulit dan potensial infeksi
 Irigasi luka sesuai indikasi, gunakan cairan garam faali
Rasional: Diperlukan untuk mengobati inflamasi infeksi pra op / post

e) Gangguan konsep diri berhubungan dengan adanya kolostomi


Tujuan :
 Menyatakan penerimaan diri sesuai situasi
 Menerima perubahan kedalam konsep diri
Intervensi
 Dorong pasien/orang terdekat untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional: Membantu pasien untuk menyadari perasaannya yang tidak
biasa
 Catat perilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan
Rasional: Dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan
evaluasi lanjut dan terapi lebih kuat
 Gunakan kesempatan pada pasien untuk menerima stoma dan
berpartisipasi dan perawatan
Rasional: Ketergantungan pada perawatan diri membantu untuk
memperbaiki kepercayaan diri
 Berikan kesempatan pada anak dan orang terdekat untuk memandang
stoma
Rasional: Membantu dalam menerima kenyataan
 Jadwalkan aktivitas perawatan pada pasien
Rasional: Meningkatkan kontrol dan harga diri
 Pertahankan pendekatan positif selama tindakan perawatan
Rasional: Membantu pasien menerima kondisinya dan perubahan pada
tubuhnya

BAB V PENUTUP

1. Kesimpulan
Abses perianal merupakan infeksi pada jaringan lunak sekitar saluran anal

yang membentuk kumpulan pus pada jaringan peri anal yang paling banyak terjadi

pada laki usia 30-40 tahun.

Pada pemeriksaan menunjukkan adanya massa lunak yang nyeri dan fluktuan

yang dapat dipalpasi pada tepi anus, dengan tanda-tanda peradangan pada jaringan
sekitarnya, jika terjadi keterlambatan penanganan atau dibiarkan dapat menyebabkan

komplikasi sistemik atau terjadi inflamasi yang lebih luas.

Untuk mendiagnosis dapat dilakukan secara klinis, Pemeriksaan penunjang

tidak rutin dikerjakan ,tetapi dilakukan pada kecurigaan pasien dengan fistul perianal

Pada kebanyakan pasien dengan abses anorektal, terapi medikamentosa

dengan antibiotik biasanya tidak diperlukan. Abses perianal dapat dilakukan Insisi dan

drainase dengan anestesi lokal.

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Eddy. (2016). Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1 (ed.4). Jakarta:
FKUI
Price, S. A., & Wilson, L. M. (2015). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses
penyakit. (ed.6). (vol.2). Jakarta: EGC
Selatan, soeradji. 2015. Buku ajar keperawatan medical bedah. Jakarta; Medica
utama
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2015). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC
Smeltzer, S.C, 2012, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (terjemahan), Edisi 8,
Volume 2, EGC, Jakarta.
Riyadh Mohamad Hasan . 2016 .A study assessing postoperative Corrugate
Rubber drain of perianal abscess.Annals of Medicine and Surgery 11 .
2016.p.42-46