Anda di halaman 1dari 13

Aplikasi model teori Nightingale dalam asuhan keperawatan

Perawat lia, seorang perawat kesehatan masyarakat, baru saja


mengunjungi pasien R berumur 80 tahun yang terkena rematik yang tinggal
sendirian di sebuah komunitas pedesaan. Sejak pasien R mengalami kesulitan
berambulasi, tetangganya sering mengunjunginya dan membantu dengan cara
apapun yang mereka bisa. Salah satu tetangga ini meminta agar perawat Lia
mengunjunginya untuk melihat situasi. Pada saat memasuki rumah Pasien R,
perawat Lia sadar bahwa pasien R kekurangan udara segar, kegelapan lingkungan
yang disebabkan oleh tirai berdebu tua yang menutupi jendelanya, dan draf di
kamar tidur. Pasien R duduk di kursi tua yang memberikan pandangan tentang
dunia di sekelilingnya.
1. Pengkajian/pengumpulan data
Data pengkajian Nightingale lebih menitik beratkan pada kondisi
lingkungan (lingkungan fisik, psikologis, dan sosial).
2. Analisa data
Data dikelompokkan berdasarkan lingkungan fisik, sosial dan psikologis
yang berkaitan dengan kondisi klien yang berhubungan dengan lingkungan
keseluruhan.
3. Masalah difokuskan pada hubungan individu dengan lingkungan,
misalnya:
a. Kurangnya informasi tentang kebersihan lingkungan
b. Ventilasi
Merupakan indikasi yang berhubungan dengan komponen lingkungan
yang menjadi sumber penyakit dan dapat juga sebagai sumber
pemulihan penyakit.
c. Pembuangan sampah
d. Pencemaran lingkungan
e. Komunikasi sosial, dll.
4. Diagnosa keperawatan dalam masalah klien yang berhubungan dengan
lingkungan antara lain:
a. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap efektivitas asuhan.
b. Penyesuaian terhadap lingkungan.
c. Pengaruh stressor lingkungan terhadap efektivitas asuhan.
5. Implementasi
Upaya dasar merubah/mempengaruhi lingkungan yang memungkinkan
terciptanya kondisi lingkungan yang baik yang mempengaruhi kehidupan,
pertumbuhan dan perkembangan individu.
6. Evaluasi
Mengobservasi dampak perubahan lingkungan terhadap kesehatan
individu.

Sumber :
Wahid Iqbal Mubarak & Nurul Chayatin. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat:
Teori dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.

CONTOH KASUS APLIKASI MODEL DALAM PEMBERIAN ASUPAN


KEPERAWATAN MENURUT LEVINE.

Gambaran Kasus
Seorang perempuan berusia 57 tahun datang ke IGD jam 09.00 WIB dengan
keluhan kaki kanan terasa sakit dan membengkak. Lima hari sebelum masuk IGD,
pasien terkena sabit di kaki kanan di daerah 2/3 distal. Pada saat itu, luka pasien
dirawat oleh tenaga kesehatan setempat dan diberikan terapi antibiotik dan pereda
nyeri. Rumah pasien berada di desa yang agak jauh dari fasilitas pelayanan
kesehatan. Sehingga luka dirawat seadanya dengan air biasa. Setelah 3 hari pasien
(2 hari sebelum dibawa ke IGD) pasien merasa badannya panas, kaki terasa sakit
dan mulai membengkak. Hingga akhirnya pasien dibawa ke IGD.
Pada saat di IGD, pasien tidak dapat berjalan sendiri karena kaki terasa nyeri,
bengkak, dan sakit untuk digerakkan. Pasien mengatakan nafsu makan menurun
ketika badan terasa demam/panas. Asupan minum juga menurun. Terdapat luka
bekas terkena sabit yang membengkak dan tampak terdapat pus. Kulit kaki kanan
seperti akan mengelupas mulai dari area bekas luka hingga menyebar kearah
pergelangan kaki.
Pemeriksaan tanda vital diperoleh tekanan data tekanan darah 130/80 mmHg,
nadi 96 kali/menit, pernapasan 21 kali/menit, suhu 37.9 oC, Hb 10.9 gr/dL, dan
leukosit 15.2 103/µL. Diagnosis Medis: Selulitis Pedis Dekstra. Pasien tidak malu
dengan kondisinya, akan tetapi pasien merasa tidak berday karena tidak bisa
beraktivitas seperti biasanya dan akan merepotkan keluarganya.
Pasien sehari-hari bekerja untuk membantu keluarganya. Setelah sakit, pasien
merasa tidak lagi berdaya. Keluarganya berusaha untuk membantu biaya
perawatan pasien selama di rumah sakit.
1. Pengkajian
a. Lingkungan Internal
Ny. S, perempuan berusia 57 tahun keluhan kaki kanan terasa sakit,
membengkak, dan sakit untuk digerakkan. Pemeriksaan tanda vital
diperoleh data tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 96 kali/menit,
pernapasan 21 kali/menit, suhu 37,9 oC. Pasien kehilangan integritas
struktur kulit: terdapat luka bekas terkena sabit yang membengkak dan
tampak terdapat pus. Kulit kaki kanan seperti akan mengelupas mulai
dari area bekas luka hingga menyebar ke arah pergelangan kaki.
b. Lingkungan Eksternal
Pasien mungkin memerlukan bantuan perawatan sehingga datang ke
IGD. Pasien tinggal di desa dengan kondisi air untuk merawat luka tidak
steril. Dengan kebersihan yang kurang dari standar. Keluarganya
dirumah kurang memahami perawatan luka pada pasien. Pasien datang
dengan keluarganya yang membantu memenuhi kebutuhan pasien.
c. Pengkajian Terfokus Model Konservasi
 Konservasi Energi
Pasien mengatakan nafsu makan menurun ketika bdan terasa demam.
Asupan minum juga menurun. Pasien di diagnosis Selulitis, Hb 10.8
gr/dL. Suhu 37.9 oC
 Integritas Struktural
Terdapat luka bekas terkena sabit yang membengkak dan tampak
terdapat pus. Kulit kaki kanan seperti akan mengelupas mulai dari
area bekas luka hingga menyebar ke arah pergelangan kaki. Kaki
sakit bila digerakkan. Leukosit 15,2 103 /µL.
 Integritas Personal
Pasien merasa bahwa penyakitnya merupakan cobaan dari Tuhan.
Pasien pasrah dengan penyakitnya. Pasien mengatakan tidak malu
dengan kondisinya, akan tetapi pasien merasa tidak berdaya karena
tidak bisa beraktivitas seperti biasanya dan akan merepotkan
keluarganya.
 Integritas Sosial
Pasien merupakan seorang ibu yang bekerja untuk membantu
keluarganya. Setelah sakit, pasien merasa tidak lagi berdaya untuk
membantu keluarganya. Akan tetapi keluarganya mendukung pasien
dalam hal perawatan kesehatannya. Keluarganya berusaha untuk
membantu biaya perawatan pasien selama di rumah sakit.
2. Tropikognosis
Berdasarkan hasil analisis faktafakta provokatif pasien, beberapa keputusan
diagnosis atau tropikognosis dalam keperawatan dengan pendekatan NANDA
teridentifikasi sebagai berikut:
a. Nyeri Akut (berhubungan dengan agen cedera: biologis).
b. Hipertermia (berhubungan dengan penyakit pasca trauma).
c. Kerusakan integritas jaringan (berhubungan dengan faktor mekanik:
koyakan).
d. Ansietas (berhubungan dengan perubahan status kesehatan).
3. Hipotesis
Hipotesis yang dapat diusulkan pada kasus ini yaitu:
a. Manajemen nyeri non farmakologis dan istirahat/tidur yang cukup.
b. Penggunaan selimut dan terapi cairan intravena.
c. Perawatan luka.
d. Manajemen stress dan relaksasi.
e. Pendampingan keluarga.
4. Intervensi
Intervensi yang dapat dilakukan pada kasus ini yaitu:
a. Menganjurkan salah satu keluarga mendampingi pasien.
b. Mengajarkan prinsip manajemen nyeri.
c. Mengajarkan penggunaan teknik relaksasi dengan nafas dalam.
d. Mempertahankan selimut pasien.
e. Memberikan cairan intravena RL 20 tetes/menit.
f. Menganjurkan untuk istirahat dan tenang.
g. Mengangkat bekas balutan pasien.
h. Monitor karakteristik luka: drainase, warna, ukuran, dan aroma.
i. Membersihkan luka dengan normal salin secara diguyur dan disapu-
sapukan perlahan.
j. Mengintruksikan pasien dan keluarga menjaga kebersihan luka.
k. Menganjurkan untuk menambah cairan peoral.
l. Memonitor nadi, TD, pernapasan, suhu.
m. Mengobservasi tanda verbal maupun nonverbal dari ketidaknyamanan.
5. Evaluasi
Setelah 2 jam perawatan, hasil dari pengujian hipotesis dievaluasi dengan
menilai respon manusia. Pada Ny. S, evaluasi respon yang didapatkan yaitu:
a. Nyeri Akut : hipotesis mendukung peningkatan kesejahteraan dan
kenyamanan.
b. Hipertermia : hipotesis mendukung peningkatan kesejahteraan dan
kenyamanan.
c. Kerusakan integritas jaringan : hipotesis mendukung peningkatan
kesejahteraan.
d. Ansietas : hipotesis mendukung peningkatan kesejahteraan dan
kenyamanan.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang
disusun dapat mendukung adaptasi dan keutuhan pasien. Rencana selanjutnya
adalah memberikan discharge planning dari IGD ke ruang rawat inap, dengan
tetap mempertahankan hipotesis yang disusun berdasarkan domain
konservasi.
Sumber:
Kurniawan, Dicky Endrian, et all. 2017. Aplikasi Model Konservatif Levine dalam
Asuhan Keperawatan Pasien Selulitis. Dalam
http://jurnal.stikesbaptis.ac.id/index.php/PSB/article/view/ 246, diakses
pada 20 Oktober 2019.
Konsep utama teori Levine ada 3, yaitu :
1. Wholeness (keutuhan)
Erikson dalam Levine (1973) menyatakan wholeness sebagai sebuah
sistem yang terbuka: “wholeness emphasizes a sound, organic, progressive
mutuality between diversified functions and part within an entirety, the
boundariesof which are open and fluent”. Levine (1973) menyatakan
bahwa “interaksi terus menerus dari organisme individu dengan
lingkungannya merupakan sistem yang terbuka, kondisi kesehatan,
keutuhan terwujud ketika interaksi atau adaptasi konstan lingkungan,
memungkinkan kemudahan (jaminan integrasi) di semua dimensi
kehidupan”. Kondisi dinamis dalam interaksi terbuka antara lingkungan
internal dan eksternal menyediakan dasar untuk berpikir holistik,
memandang individu secara keseluruhan.
Menurut Levine, keutuhan ada ketika interaksi atau adaptasi konstan
lingkungan memungkinkan jaminan integritas, ”Holistik adalah kesehatan
,kesehatan adalah integritas”.
2. Adaptasi
Merupakan suatu proses perubahan yang bertujuan mempertahankan
integritas individu dalam menghadapi realitas lingkungan internal dan
eksternal. Konservasi adalah hasil dari adaptasi.
Levine mengemukakan tiga karakter adaptasi yakni :
1) Historicity
Respon adaptif dan kemampuan untuk beradaptasi dengan
perubahan juga berdasarkan dari pengalaman masa lalu.
2) Specificity
Pola adaptif genetic untuk individu serta dipengaruhi oleh factor
social budaya.
3) Redundancy
Menurut Levine,ini adalah anatomi gagal aman,pilihan fisiologis
dan psikologis tersedia bagi individu untuk memastikan adaptasi
lanjutan.
3. Konservasi
Tujuannya adalah untuk memberikan intervensi melalui prinsip prinsip
konservasi. Intervensi keperawatan disusun sesuai dengan empat prinsip
konservasi :
 Konservasi energi
Ini adalah keseimbangan antara inputdan output energy untuk
menghindari kelelahan,termasuk penyediaan energi yang cukup .
 Konservasi integritas struktural
Hal ini mengacu untk memelihara atau memulihkan struktur tubuh
mencegah kerusakan fisik dan mempromosikan penyembuhan.
 Konservasi integritas pribadi
Hal ini mengakui individu yang berusaha untuk menentukan
pengakuan,penghormatan,kesadaran diri dan kemandirian.
 Konservasi integritas sosial
Ini memerlukan seorang individu yang diakui sebagai sesorang
yang tinggal bersama di dalam sebuah keluarga, komunitas,
kelompok etnis, sistem politik dan bangsa.

Sumber:
Nursalam. 2008. Konsep & Model Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Macam-macam stressor
1. Stressor interpersonal : yang terjadi pada satu individu/keluarga atau lebih
yang memiliki pengaruh pada sistem. Misalnya : ekspektasi peran.
2. Stressor ekstrapersonal : juga terjadi diluar lingkup sistem atau
individu/keluarga tetapi lebih jauh jaraknya dari sistem dari pada stressor
interpersonal. Misalnya : sosial politik.

Stressor interpersonal dan ekstrapersonal berhubungan dengan lingkungan


eksternal.

Sumber:
Kozier, Barbara, Erb G, Blais K, Wilkinson JM. 1995. Fundamentals of Nursing :
Concepts, Process and Practice, 5 ed. California: Addison-Wesley.

Aplikasi Penerapan Model Konseptual Betty Neuman


1. Pengkajian
Yang perlu dikaji pada komunitas atau kelompok adalah care atau inti.
Delapan sub sistem yang mempengaruhi komunitas, yaitu :
a. Perumahan yang dihuni penduduk, bagaimana penerangannya, sirkulasi,
kepadatannya merupakan stressor bagi penduduk.
b. Pendidikan komunitas. Apakah ada sarana pendidikan yang dapat
digunakan untuk meningkatkan pengetahuannya.
c. Keamanan dan keselamatan. Bagaimana keselamatan dan keamanan di
lingkungan tempat tinggal, apakah tidak menimbulkan stress.
d. Politik dan kebijakan pemerintah terkait kesehatan. Apakah cukup
menunjang sehingga memudahkan komunitas mendapatkan pelayanan di
berbagai bidang termasuk kesehatan.
e. Pelayanan kesehatan yang tersedia. Untuk melakukan deteksi dini
gangguan atau merawat atau memantau gangguan yang terjadi.
f. Sistem komunikasi. Sistem komunikasi apa saja yang tersedia dan dapat
dimanfaatkan di komunikasi tersebut untuk meningkatkan pengetahuan
terkait dengan gangguan penyakit.
g. Sistem ekonomi. Tingkat sosial ekonomi komunitas secara keseluruhan
apakah sesuai dengan upah minimum regional, dibawah atau diatas
sehingga upaya pelayanan ditujukan pada anjuran untuk mengkonsumsi
jenis makanan sesuai status ekonomi masing-masing.
h. Apakah tersedia sarana, kapan saja dibuka,biayanya apakah terjangkau
komunitas atau tidak.

2. Diagnosis keperawatan komunitas dan kelompok


Diagnosis ditegakkan berdasarkan tingkat reaksi komunitas terhadap
stressor yang ada. Selanjutnya dirumuskan dalam 3 komponen :
a. P (problem atau masalah)
b. E (etilogi atau penyebab)
c. S (symptom atau menifestasi/ data penunjang)

3. Perencanaan
Perencanaan yang dapat dilakukan adalah :
a. Lakukan pendidikan kesehatan tentang penyakit gangguan kardiovaskuler
b. Lakukan demonstrasi keterampilan cara menangani stress dan teknik
relaksasi
c. Lakukan deteksi dini tanda-tanda gangguan penyakit kardiovaskuler
melalui pemeriksaan tekanan darah
d. Lakukan kerja sama dengan ahli gizi untuk menetapkan diet yang tepat
bagi yang berisiko
e. Lakukan kerjasama dengan petugas dan aparat pemerintah setempat untuk
memperbaiki lingkungan atau komunitas apabila menjadi penyebab
stressor
f. Lakukan rujukan ke rumah sakit bila di perlukan

4. Implementasi
Perawat bertanggung jawab untuk melaksanakan tindakan yang telah
direncanakan yang sifatnya :
a. Bantuan untuk mengatasi masalah gangguan penyakit kardiovaskuler di
komunitas
b. Mempertahankan kondisi yang seimbang dalam hal ini sehat
melaksanakan peningkatan kesehatan
c. Mendidik komunitas tentang perilaku sehat untuk mencegah gangguan
penyakit kardiovaskuler
d. Sebagai advokat komunitas yang sekaligus menfasilitasi terpenuhinya
kebutuhan komunitas.

5. Evaluasi dan penilaian


a. Menilai respons verbal dan nonverbal komunitas setelah dilakukan
intervensi
b. Mencatat adanya kasus baru yang di rujuk ke rumah sakit.

Sumber
Christensen, Paula J. 2009. Proses Keperawatan: Aplikasi Model Konseptual.
Ed.4. Jakarta: EGC

Kesimpulan teori model Neuman


Model konsep yang dikemukakan oleh Betty Neuman adalah model
konsep Health Care System yaitu model konsep yang menggambarkan aktivitas
keperawatan yang ditunjukkan kepada penekanan penurunan stress dengan
memperkuat garis pertahanan diri secara fleksibel atau normal maupun resistan
dengan sasaran pelayanan adalah komunitas. Paradigma keperawatan dalam teori
neuman yaitu manusia, lingkungan, sehat sakit, dan keperawatan. Neuman
mengklasifikasi stressor menjadi tiga yaitu stressor intrapersonal, stressor
interpersonal, dan stressor ekstrapersonal. Penggunaan model sistem Neuman
untuk praktik keperawatan memfalitasi tujuan yang terarah, terpadu dengan
pendekatan holistik untuk keperawatan klien.

Kesimpulan teori model Levine


Teori ini dikenal sebagai teori konservasional, yang terdiri atas konservasi
energi, struktur, intergritas personal dan integritas sosial. Semua teori ia bagi
dalam empat bagian utama antara lain: orang, lingkungan, kesehatan dan
keperawatan. Karena itu perawat harus menegembangkan interaksi dengan pasien
guna memenuhi kebutuhan pasien yang di pengaruhi oleh lingkungan dan
kongruen dari waktu ke waktu. Selain itu, perawat harus mengobservasi dan
memeberikan intervensi yang tepat dalam membantu memenuhi kebutuhan pasien
dan juga mengevaluasi terhadap tindakan yang diberikan kepada pasien.

Kesimpulan teori model Nightingale


Florence Nightingale adalah seorang perintis ilmu keperawatan modern
dan juga dikenal sebagai penggagas standardisasi dalam dunia keperawatan.
Dalam konsepnya, Nightingale memposisikan bahwa lingkungan adalah fokus
asuhan keperawatan dan perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit.
Pemberian asuhan keperawatan lebih terfokus pada pemberian udara, lampu,
kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan, dan nutrisi. Dalam merawat
pasien, Nightingale menerapkan beberapa komponen yang menjadi pokok utama
dalam menetukan penyembuhan pasien yaitu udara segar, air bersih, saluran
pembuangan yang efesien, kebersihan, dan cahaya, dimana kelima komponen
tersebut sangat memiliki dampak positif terhadap kesembuhan pasien.

KONSEP MODEL KEPERAWATAN TEORI FLORENCE


NIGHTINGALE
Model konsep Florence Nightingale memposisikan lingkungan adalah
sebagai focus asuhan keperawatan, dan perawat tidak perlu memahami seluruh
proses penyakit model konsep ini dalam upaya memisahkan antara profesi
keperawatan dan kedokteran. Orientasi pemberian asuhan keperawatan/tindakan
keperawatan lebih diorientasikan pada pemberian udara, lampu, kenyamanan
lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi yang adekuate (jumlah vitamin
atau mineral yang cukup), dengan dimulai dari pengumpulan data dibandingkan
dengan tindakan pengobatan semata, upaya teori tersebut dalam rangka perawat
mampu menjalankan praktik keperawatan mandiri tanpa tergantung dengan
profesi lain.
Model konsep ini memberikan inspirasi dalam perkembangan praktik
keperawatan, sehingga akhirnya dikembangkan secara luas, paradigma perawat
dalam tindakan keperawatan hanya memberikan kebersihan lingkungan adalah
kurang benar, akan tetapi lingkungan dapat mempengarui proses perawatan pada
pasien, sehingga perlu diperhatikan. Inti konsep Florence Nightingale, pasien
dipandang dalam konteks lingkungan secara keseluruhan, terdiri dari lingkungan
fisik, lingkungan psiklologis dan lingkungan sosial.

a) Lingkungan fisik (Physical environment)


Merupakan lingkungan dasar/alami yang berhubungan dengan ventilasi dan udara.
Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang
selalu akan mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam ruangan harus
bebas dari debu, asap, bau-bauan. Tempat tidur pasien harus bersih, ruangan
hangat, udara bersih, tidak lembab, bebas dari bau-bauan. Lingkungan dibuat
sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik bagi oranglain maupun
dirinya sendiri. Luas, tinggi penempatan tempat tidur harus memberikan
keleluasaan pasien untuk beraktivitas. Tempat tidur harus mendapatkan
penerangan yang cukup, jauh dari kebisingan dan bau limbah. Posisi pasien
ditempat tidur harus diatur sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi.

b) Lingkungan psikologi (Psychology environment)


Florence Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat
menyebabkan stress fisik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh
karena itu, ditekankan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya. Mendapatkan
sinar matahari, makanan yang cukup dan aktivitas manual dapat merangsang
semua faktor untuk dapat mempertahankan emosinya. Komunikasi dengan pasien
dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyeluruh, komunikasi
jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus.
Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya
dilakukan dilingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar lingkungan
pasien atau jauh dari pendengaran pasien. Tidak boleh memberikan harapan yang
terlalu muluk muluk, menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya.
Selain itu, membicarakan kondisi-kondisi lingkungan dimana dia berada atau
cerita hal-hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat
memberikan rasa nyaman.

c) Lingkungan Sosial (Social environment)


Observasi (pengamatan) dari lingkungan sosial terutama hubungan spesifik
(khusus), kumpulan data-data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan
penyakit, sangat penting untuk pencegahan penyakit. Dengan demikian setiap
perawat harus menggunakan kemampuan observasi (pengamatan) dalam
hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih sekadar data-data yang
ditunjukan pasien pada umumnya.
Seperti juga hubungan komunitas dengan lingkungan sosial dugaannya selalu
dibicarakan dalam hubungan individu pasien yaitu lingkungan pasien secara
menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit
tetapi juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara
khusus.

1) Komponen Lingkungan Menurut Teori Florence Nightingale:


a. Lima (5) komponen pokok lingkungan sehat menurut Florence Nightingale:
1. Peredaran hawa baik.
Maksudnya adalah suatu keadaan dimana suhu berada dalam keadaan normal.
2. Cahaya yang memadai
Cahaya yang cukup dalam pemenuhan kesehatan pasien.
3. Kehangatan yang cukup
Kehangatan yang diperlukan untuk proses pemulihan.
4. Pengendalian kebisingan
Suatu cara agar pasien merasa nyaman dan tidak terganggu oleh kebisingan
(keributan).
5. Pengendalian effluvia (bau yang berbahaya)
Menjauhkan pasien dari bau yang menyebabkan gangguan dalam kesehatan.

b. Ada 12 macam komponen umum dalam Teori Florence Nightingale:


1. Kesehatan rumah
Rumah yang sehat adalah rumah yang bersih, sehingga seseorang merasa nyaman.
2. Ventilasidan pemanasanVentilasi
merupakan perhatian utama dari teori Nightingale. Ventilasi merupakan indikasi
yang berhubungan dengan komponen lingkungan yang menjadi sumber penyakit
dan dapat juga sebagai pemulihan penyakit.
3. Cahaya
Pengaruh nyata terhadap tubuh manusia. Untuk mendapatkan manfaat dari
pencahayaan konsep ini sangat penting dalam teori Florence, dia
mengidentifikasisecara langsung bahwa sinar matahari merupakan kebutuhan
pasien. Menurutnya pencahayaan mempunyai sinar matahari, perawat
diinstruksikan untuk mengkondisikan agar pasien terpapar dengan sinar matahari.

4. Kebisingan
Kebisingan ditimbulkan oleh aktivitas fisik di lingkungan atau ruangan. Hal
tersebut perlu dihindarkan karena dapat mengganggu pasien.
5. Variasi keanekaragaman
Berbagai macam faktor yang menyebabkan penyakit bagi sesesorang, missalnya
makanan.
6. Tempat tidur
Tempat tidur yang kotor akan mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang dan
juga pola tidur yang kurang baik akan menyebabkan gangguan pada kesehatan.
7. Kebersihan kamar dan halaman
Kebersihan kamar dan halaman sangat berpengaruh bagi kesehatan. Oleh karena
itu, pembersihan sangat perlu dilakukan pada kamar dan halaman.
8. Kebersihan pribadi
Kebersihan pribadi sangat mendukung kesehatan seseorang karena merupakan
bagian dari kebersihan secara fisik.

9. Pengambilan nutrisi dan makanan


Pengambilan nutrisi sangat perlu dalam hal menjaga keseimbangan tubuh. Adanya
nutrisi dan pola makan yang baik sangat berpengaruh bagi kesehatan.
10. Obrolan, harapan dan nasehat
Dalam hal ini, komponen tersebut menyangkut kesehatan mental seseorang dalam
menyikapi lingkungannya. Komunikasi sangat perlu dilakukan antara perawat,
pasien dan keluarga. Mental yang yang terganggu akan mempengaruhi kesehatan
pasien.
11. Pengamatan orang sakit
Pengamatan sangat perlu dilakukan oleh seorang perawat, dimana seorang
perawat harus tahu sebab dan akibat dari suatu penyakit.
12. Pertimbangan social
Tidak melihat dari suatu aspek, untuk mengambil suatu keputusan tetapi dari
berbagai sisi.

Sumber:
Sarmoko Soemowinoto. 2008. Pengantar Filsafat Ilmu Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai