Anda di halaman 1dari 15

REFERAT

MIOMA UTERI PADA KEHAMILAN

Disusun Oleh :

Abed Nego Okthara Sebayang 18010019

Pembimbing :
dr. Elizabeth Girsang, Sp.OG

DEPARTEMEN GINEKOLOGI

MURNI TEGUH MEMORIAL HOSPITAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME karena berkat kasih
karunianya penulis dapat menyelesaikan pembuatan refarat yang berjudul “Mioma
Uteri Pada Kehamilan”.

Dalam penyelesaian refarat ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih
kepada dr. Elizabeth Girsang, Sp.OG selaku supervisor dibagian Ginekologi RS
Murni Teguh Memorial Hospital dan rekan-rekannya yang telah membantu penulis
dalam pembuatan refarat ini.

Penulis menyadari bahwa refarat ini masih banyak kekurangan dalam


penyusunan kata, penyelesaian ataupun isinya. Namun, Penulis berharap agar refarat
ini dapat bermanfaat, terutama dalam hal menambah ilmu pengetahuan bagi penulis
dan pembaca.

Medan, 23 September 2019

Penulis

2
1.1 Definisi Mioma Uteri
Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan
jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan dikenal juga dengan
istilah fibromyoma, leiomyoma ataupun fibroid. Nama lain mioma uteri antara lain
leiomyoma yaitu tumor jinak yang berasal dari otot polos dan paling sering terjadi
pada uterus. Fibromyoma merupakan tumor yang terdiri dari jaringan penunjang yang
berkembang lengkap atau fibrosa.

1.2 Epidemiologi Mioma Uteri


Secara epidemiologi, mioma uteri merupakan tumor jinak yang paling sering
ditemukan pada rongga panggul wanita. Angka insidensi dari mioma sulit untuk
ditentukan karena hanya terdapat sedikit studi longitudinal. Walaupun demikian,
diperkirakan terdapat 20-40% wanita usia reproduktif yang menderita penyakit ini.
Pada negara eropa dilakukan sebuah studi potong lintang dengan sampel 1756 wanita
dengan gejala yang mirip dengan penderita mioma dan ditemukan secara klinis 12-
24% kejadian mioma uteri. Di Indonesia sendiri, angka kejadian mioma uteri belum
diketahui pasti, namun diperkirakan angka kejadiannya sekitar 2,39-11,7% pada
pasien kebidanan yang dirawat.

1.3 Klasifikasi Mioma Uteri

Berdasarkan letaknya
 Mioma Submukosa
Mioma submukosa menempati lapisan dibawah endometrium dan
menonjol kedalam rongga uterus (kavum uteri), dapat bertangkai
maupun tidak. Tumor ini memperluas permukaan ruangan rahim,
area permukaan endometrium yang meluas menyebabkan

3
peningkatan perdarahan mensturasi dan dapat menyebabkan
infertilitas dan abortus spontan.
 Mioma Intramural
Mioma yang berkembang diantara miometrium disebut juga
mioma intraepithelial biasanya multiple apabila masih kecil tidak
menambah bentuk uterus tetapi bila besar akan menyebabkan
uterus berbenjol-benjol.
 Mioma subserosa
Terjadi apabila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga
menonjol pada permukaan uterus yang diliputi oleh serosa.
Mioma subserosa dapat tumbuh bertangkai menjadi polip yang
kemudian dilahirkan melalui saluran serviks (myomgeburi).
Mioma subserosum dapat tumbuh diantara kedua lapisan
ligamentum latum menjadi mioma ligamenter. Mioma yang
tumbuh dibawah lapisan serosa uterus dapat tumbuh ke arah luar
dan juga bertangkai

Gambar 1.1 Klasifikasi Mioma Uteri

4
1.4 Manifestasi Klinis Mioma Uteri Secara Umum
 Perdarahan abnormal

Hipermenore, menoragia, metroragia yang disebabkan oleh


pengaruh ovarium sehingga terjadi hyperplasia endometrium,
permukaan endometrium yang lebih luas dari biasanya, atrofi
endometrium di atas mioma submukosum dan miometrium tidak
dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma di
antara serabut miometrium sehingga dapat menjepit pembuluh
darah yang melaluinya.

 Nyeri

Dapat timbul karena gangguan sirkulasi yang disertai nekrosis


setempat dan peradangan. Pada mioma submukosa yang
dilahirkan dapat menyempit canalis servikalis sehingga
menimbulkan dismenore.

 Gejala penekanan

Penekanan pada vesika urinaria menyebabkan poliuri, pada


uretra menyebabkan retensio urine, pada ureter menyebabkan
hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum menyebabkan
obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan limfe
menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.

 Disfungsi reproduksi
Hubungan antara mioma uteri sebagai penyebab infertilitas masih
belum jelas. Dilaporkan sebesar 27-40% wanita dengan mioma
uteri mengalami infertilitas. Mioma yang terletak didaerah kornu
dapat menyebabkan sumbatan dan gangguan transportasi gamet

5
dan embrio akibat terjadinya oklusi bilateral. Mioma uteri juga
dapat menyebabkan gangguan kontraksi ritmik uterus yang
sebenarnya diperlukan untuk motalitas sperma didalam uterus.
Gangguan implantasi juga dapat terjadi pada keberadaan mioma
akibat perubahan struktur histology endometrium dimana terjadi
atrofi karena kompresi massa tumor.

1.5 Hubungan Mioma Uteri dengan Kehamilan


Reseptor estrogen akan menurun pada miometrium yang normal semasa fase
sekresi dari siklus mensturasi dan semasa kehamilan. Pada mioma, reseptor estrogen
terdapat di sepanjang siklus mensturasi, tetapi mengalami supresi semasa kehamilan.
Reseptor progesterone terdapat pada miometrium dan mioma sepanjang siklus
mensturasi dan kehamilan. Tambahan pula mioma berkembang pada awal kehamilan
akibat dari stimulasi hormonal dan growth factors yang sama yang memicu
perkembangan uterus. Mioma uteri memberi respon yang berbeda pada setiap
individu wanita dan tidak dapat diprediksi secara akurat perkembangan setiap mioma.
Pada trimester pertama, ukuran mioma tidak berubah atau semakin
membesar sehubungan dengan peningkatan growth factor yang merangsang
pertumbuhan uterus dan meningkatnya hormone estrogen. Pada trimester kedua,
mioma yang berukuran 2 hingga 6 cm biasanya tidak berubah atau mungkin
membesar, namun untuk mioma yang berukuran besar akan mengecil, kemungkinan
dari inisiasi penurunan regulasi reseptor estrogen. Pada trimester ketiga tanpa
memperhatikan ukuran mioma, sejatinya mioma tidak berubah atau mengecil akibat
penurunan regulasi reseptor estrogen. Biasanya mioma akan mengalami involusi
nyata saat setelah kelahiran.
Munculnya gejala bergantung pada jumlah, ukuran, dan letak mioma uteri.
Mioma intramural dan subserosa dengan ukuran < 3 cm biasanya tidak akan

6
menunjukkan gejala klinis yang signifikan. Sekitar 10%-30% wanita dengan mioma
uteri menunjukkan komplikasi pada kehamilannya
Pengaruh mioma uteri pada kehamilan dan persalinan:
 Infertile (mandul). Terutama pada mioma uteri submukosa.
Lokasi anatomi dari mioma menjadi faktor penting dalam
hubungannya dengan infertilitas. Mioma yang berukuran > 5
cm dan berlokasi deakat serviks atau dekat ostium tuba lebih
beresiko menyebabkan masalah infertilitas. Mioma uteri juga
dapat menyebabkan disfungsi kontraksi uterus dan
menyebabkan gangguan migrasi dari sperma
 Abortus dan perdarahan pada saat hamil muda. Kejadian
abortus akan meningkat pada mioma uteri submukosa.
Mioma uteri yg berdekatan dengan plasenta dapat
menyebabkan abortus
 Malpersentasi, terutama pada mioma uteri submukosa dan
berukuran besar
 Distosia akibat mioma yg menghalangi jalan lahir
 Pertumbuhan janin yang terhambat
 Atonia uteri terutama pada saat kehamilan
 Kelainan letak plasenta
Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma uteri:
 Mioma uteri mengalami pertumbuhan yang cepat
dikarenakan pengaruh hormon estrogen
 Degenerasi merah dan degenerasi karnosa : Tumor menjadi
lebih lunak,berubah bentuk, dan warna lebih kemerahan.
Bisa terjadi gangguan sirkulasi da perdarahan

7
 Mioma uteri yang bertangkai saat bayi lahir dapat mengalami
torsi dan mengakibatkan nekrosis sehingga pasien akan
mengalami nyeri abdomen yang hebat.
 Mioma uteri letak dibelakang dapat menekan kavum
dauglasi dan akan mengalami inkaserasi.

1.6 Mioma Uteri Pada Kehamilan

Mioma uteri atau fibroid selama kehamilan merupakan sebuah masalah


potensial serius dan sering menjadi perhatian dalam praktek klinis. Hal ini disebabkan
karena fibroid umumnya dijumpai pada perempuan usia reproduktif dan sejak lama
dikaitkan dengan buruknya komplikasi terhadap kehamilan. Insiden fibroid pada
masa kehamilan dilaporkan berkisar pada 0,1 sampai 10,7% dari seluruh kehamilan
dan sebagian besar tidak menimbulkan gejala.

Mioma uteri pada kehamilan dapat menjadi penyulit walaupun dalam


beberapa kasus tidak menyebabkan gangguan pada kehamilan itu sendiri, tetapi
kebanyakan kasus berakhir dengan masalah seperti aborsi, persalinan premature,
disfungsi uterus, partus lama, malpersentasi, malposisi dan lain-lain. Komplikasi
mioma uteri dapat muncul pada antenatal, intrapartu atau masa puerperium. Ukuran
mioma dan lokasi mioma dapat menjadi penyebab dilakukannya kelahiran dengan
cara seksio cesarean. Walaupun banyak kemajuan signifikan pada terapi mioma
secara bedah dan non bedah, penanganan mioma secara seksio cesarean masih
menjadi kontroversi.

Faktor yang paling penting dalam menentukan morbiditas pada kehamilan


dengan fibroid meliputi jumlah fibroid, ukuran, lokasi dan hubungannya dengan
implantasi plasenta. Semakin dekat letak mioma dengan implantasi plasenta juga
menjadi faktor yang penting. Semakin dekat jarak antara mioma dengan implantasi
plasenta akan meningkatkan kejadian abortus, persalinan preterm, absurbsi plasenta

8
dan perdarahan postpartum. Kebanyakan wanita hamil dengan mioma uteri tidak
menunjukkan gejala yang bermakna, sedangkan komplikasi berkembang 10-30%
pada masa gestasi, persalinan dan pada masa puerperium.

Miomektomi merupakan tindakan pembedahan yang biasanya tidak


dilakukan saat operasi seksio sesarea. Pada umumnya ahli kandungan menghindari
miomektomi pada kehamilan maupun operasi sesar dikarenakan komplikasi
perdarahan yang sulit dihentikan. Namun beberapa penelitian menunjukkan
miomektomi rutin dilakukan pada operasi seksio sesarea. Disamping itu semua,
beberapa studi menunjukkan metode ini sangat efektif dan aman karena tidak
berkaitan dengan jumlah perdarahan yang banyak maupun komplikasi.

1.6. Penatalaksanaan Mioma Uteri pada Kehamilan

Sampai saat ini belum ada panduan khusus mengenai tatalaksana mioma
uteri pada kehamilan yang dipublikasikan. Pada beberapa kasus, miomektomi yang
dilakukan pada masa kehamilan merupakan langkah penting meskipun memiliki
resiko tinggi. Meskipun mioma uteri tidak dapat dijadikan kontraindikasi persalinan,
akan tetapi mioma seringkali menjadi indikasi dilakukannya seksio sesaria.
Kebanyakan perempuan dengan riwayat miomektomi sebelumnya menjalani operasi
seksio sesarea untuk mencegah terjadinya ruptur uteri. Pengangkatan mioma uteri
pada operasi sesar tidak rutin dilakukan karena tindakan ini sering dipersulit dengan
perdarahan hebat. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa semua fibroid anterior
harus selalu dilakukan miomektomi dan operasi sesar menjadi pilihan dalam
melakukan persalinan. Namun para ahli kebidanan di beberapa negara Asia masih
menghindari dilakukannya miomektomi sesaria sebagai sesuatu yang rutin dilakukan.
Miomektomi sesaria biasa dilakukan pada mioma yang bertangkai, mioma subserosus
yang terletak di anterior dan secara khusus mioma yang terletak pada segmen bawah
uterus.

9
Pada beberapa kasus, miomektomi yang dilakukan pada masa kehamilan
merupakan langkah penting meskipun memiliki resiko tinggi. Sampai saat ini belum
ada panduan khusus yang dipublikasikan. Meskipun mioma tidak dapat dijadikan
sebuah kontraindikasi persalinan, akan tetapi mioma seringkali menjadi indikasi
dilakukannya seksiosesaria. Kebanyakan perempuan dengan riwayat miomektomi
sebelumnya menjalani operasi sesar untuk mengurangi resiko ruptur uteri. Lebih
lanjut, jumlah seksio sesaria secara keseluruhan tampak meningkat diseluruh dunia,
seiring dengan insiden mioma pada perempuan yang melakukan operasi sesar.
Sebaliknya, miomektomisesaria (caesarianmyomectomy; CS) masih merupakan
tindakan bedah dengan resiko tinggi dan hanya direkomendasikan pada kasus
tertentu.

Pengangkatan fibroid pada operasi sesar tidak rutin dilakukan karena


tindakan ini sering kali dipersulit dengan perdarahan hebat. Beberapa peneliti
mengemukakan bahwa semua fibroid anterior harus selalu diangkat dan operasi sesar
menjadi pilihan dalam melakukan persalinan. Namun begitu, banyak ahli kebidanan
di daerah tropis yang masih menghindari dilakukannya miomektomi sesaria sebagai
sesuatu yang rutin dilakukan pada operasi sesar. Miomektomi sesaria biasanya
dilakukan pada fibroid yang bertangkai, fibroid anterior subserous dan secara khusus
yakni fibroid pada bagian segmen bawah uterus.

Indikasi paling umum melakukan miomektomi bersamaan dengan seksio


sesaria pada penelitian ini adalah fibroid pada segmen bawah uterus (61,90%). Hal ini
serupa pada temuan penelitian Adesiun et al, dan Kant Anita et al, dan Ahikari Sudhir
et al. Howkins dan Stallworthy menganjurkan caesarian miomektomi pada beberapa
kasus. Ada beberapa penelitian observasional dimana miomektomi sukses dilakukan
pada semua kasus. Pada beberapa studi kasus kontrol juga menunjukkan bahwa
miomektomi sukses dilakukan pada semua kasus. Pada penelitian saat ini 93% kasus
miomektomi dilakukan setelah persalinan, namun (6,7%) kasus mioma yang terletak
pada bagian terbawah dinding anterior, prosedur miomektomi dilakukan sebelum

10
persalinan untuk menghindari insisi pada bagian segmen atas uterus. Pada penelitian
lain juga menunjukkan miomektomi dilakukan sebelum bayi dilahirkan apabila
mioma terletak pada bagian bawah dinding anterior.

1.7 Ilustrasi Kasus Mioma Uteri pada Kehamilan


Wanita berusia 26 tahun datang untuk persiapan section sesaria elektif.
Pasien datang belum disertai tanda-tanda persalinan normal. Riwayat keputihan,
gangguan buang air besar dan air kecil disangkal. Gerakan janin dirasakan aktif.
Pasien saat ini hamil anak pertama dengan usia gestasi 39-40 minggu, HPHT 07-06-
2017, TTP 14-03-2017. Pasien rutin ANC pada bidan di puskesmas. Pada
pemeriksaan USG dikatakan janin dalam keadaan baik namun tidak dapat melahirkan
secara normal dikarenakan Mioma di rahim dan disarankan untuk operasi, Riwayat
penyakit terdahulu berupa miomektomi pada tahun 2016.
 Pemeriksaan fisik seluruhnya dalam batas normal
 Pemeriksaan laboratorium seluruhnya dalam batas normal
 Pemeriksaan USG ditemukan janin tunggal hidup, letak lintang
kepala di kanan dorso superior, sesuai dengan usia kehamilan 39-
40 minggu

Pasien didiagnosa dengan G1P0Ab0 (39-40 minggu) + letak lintang +


Mioma uteri + Post miomektomi 1 tahun yang lalu.

Pasien direncanakan untuk persiapan seksio sesaria elektif. Pada seksio


sesaria, setelah janin dilahirkan, pada eksplorasi terdapat perlengketan di corpus
posterior dengan usus dan omentum dan dilakukan adesiolisis. Tampak massa mioma
intramural ukuran 15 cm di korpus posterior hingga ke lateral kiri dan kemudian
dilakukan miomektomi. Terapi medikamentosa yang diberikan berupa ceftriaxone 2
gram/hari, ketorolac 1 amp/8 jam, ranitidine 1 amp/8 jam, kaltrofen supp 3x100 mg.
Selama perawatan pasca operasi, pemulihan pasien tampak baik dan tidak dijumpai
komplikasi pasca operasi.

11
Gambar 1.2 Bayi dan plasenta

Gambar 1.3 Tindakan miomektomi pasca penjahitan segmen bawah


rahim

12
Gambar 1.4 Korpus posterior diinsisi hingga lapissan mioma, massa diklem
dengan tenakulum lalu dilakukan diseksi dan massa dikeluarkan. Luka rahim
dijahit dengan figure of 8 kemudian dilakukan penjahitan teknik baseball

Pada laporan ini, miomektomi dilakukan pasca seksio sesaria.Seksio sesaria


dilakukan dengan insisi mediana mengikuti bekas luka operasi miomektomi
sebelumnya. Implantasi plasenta yakni di korpus posterior. Setelah persalinan selesai,
dilakukan jahitan hemostasis pada kedua ujung luka segmen Jurnal Averrous Vol.4
No.1 2018 bawah uterus dan luka tertutup tanpa perdarahan. Kemudian setelah itu
dilakukan miomektomi untuk mengangkat fibroid intramural yang berada di korpus
posterior hingga lateral kiri. Jumlah perdarahan selama operasi yakni 600 cc. Pasien
dirawat diruangan selama 3 hari tanpa mengalami komplikasi.

1.8 Kesimpulan
Mioma uteri atau fibroid selama kehamilan merupakan sebuah masalah
potensial serius dan sering menjadi perhatian dalam praktek klinis. Hal ini disebabkan
karena fibroid umumnya dijumpai pada perempuan usia reproduktif dan sejak lama
dikaitkan dengan buruknya komplikasi terhadap kehamilan. Mioma uteri pada
kehamilan dapat menjadi penyulit pada proses kehamilan itu sendiri tergantung dari
letak mioma uteri serta ukuran dari mioma uteri sendiri. Sampai saat ini miomektomi
pada operasi seksio sesaria masih menjadi tindakan yang dapat dilakukan untuk
mengatasi kasus tertentu mioma uteri pada kehamilan walaupun tindakan ini
beresiko pada perdarahan yang hebat. Dibutuhkan tenaga ahli yang terampil dan
berpengalaman dalam melakukan tindakan tersebut.

13
Daftar Pustaka
1. G.L.Shobhitha, Bindu PH and KVS S. 2015. Myoma Complicating Pregnancy
A report of two cases. IOSR Journal of Dental and Medical Sciences. Volume
14, Issue 4 Ver. II, PP 33-36.
2. Poovathi M and Ramalingam R. 2016. Maternal and Fetal Outcome in
Pregnancy with Fibroids: A Prosp ective Study. International Journal of
Scientific Study. 3: 169-72.
3. Sultana R, Noor S, Nazar AF, et al. 2012. Safety of Caesarean Myomectomy.
J Ayub Med Coll Abbottabad.
4. Sparić R, Kadija S, Stefanović A, et al. 2017. Cesarean myomectomy in
modern obstetrics: More light and fewer shadows. J Obstet Gynaecol Res.
43(5): 798–804.
5. Milazzo GN, Catalano A, Badia V, Mallozzi M and Caserta D. 2017. Myoma
and myomectomy: Poor evidence concern in pregnancy. J Obstet Gynaecol
Res. 43: 1789–804.

14
6. Ghaemmaghami F, Karimi-Zarchi M, Gharebaghian M and Kermani T. 2017.
Successful Myomectomy during Cesarean Section: Case Report & Literature
Review. International Journal of Biomedical Science. Vol. 13 No. 2.
7. Rajuddin, Donny.2018. A sucsessfull myomectomy during cesarion section in
pregnancy with history of myomectomy: A report of one case. Jurnal
Averrous Vol.4 No.1.
8. Golubka P, Wańkowicz A, Przylepa M, et al. 2015. Pregnant women suffering
from uterine fibroids. Pol J Public Health

15