Anda di halaman 1dari 9

DAFTAR ISI

Daftar isi ................................................................................................. 2

A. PENDAHULUAN
I. Latar Belakang .............................................................................. 3
B. PEMBAHASAN
I. Rayon Viskosa ............................................................................ 5
II. Rayon Kuproamonium ................................................................ 6
III. Rayon Asetat ............................................................................. 8
IV. Rayon Tri Asetat ........................................................................ 9
V. Rayon Polinosik ......................................................................... 9
VI. Rayon Lyocell ............................................................................. 9

Daftar Pustaka .......................................................................................11


PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui macam-macam serat seperti


serat Rayon viskosa, Rayon kuproamonium, Rayon asetat, Rayon triasetat,
Rayon polisonic, dan Rayon Lyocell dan ciri-ciri serat rayon atau proses dari
pembuatan serat rayon tersebut. Sebelum mengetahui bagaimana serat-serat
rayon tersebut, berikut akan kami jabarkan terlebih dahulu tentang apa itu serat
dan rayon.

Serat atau fiber adalah suatu jenis bahan berupa potongan-potongan


komponen yang membentuk jaringan memanjang yang utuh. Contoh serat yang
paling sering dijumpai adalah serat pada kain. Material ini sangat penting dalam
ilmu Biologi baik hewan maupun tumbuhan sebagai pengikat dalam tubuh.
Manusia menggunakan serat dalam banyak hal: untuk membuat tali, kain,
atau kertas. Serat dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu serat alami dan
serat sintetis (serat buatan manusia).

Serat alami meliputi serat yang diproduksi oleh tumbuh-tumbuhan,


hewan, dan proses geologis. Serat jenis ini bersifat dapat mengalami pelapukan.
Serat alami dapat digolongkan ke dalam:

Serat tumbuhan; biasanya tersusun atas selulosa, hemiselulosa, dan kadang-


kadang mengandung pula lignin. Contoh dari serat jenis ini yaitu katun dan kain
ramie. Serat tumbuhan digunakan sebagai bahan pembuat kertas dan tekstil.
Serat tumbuhan juga penting bagi nutrisi manusia.
Serat kayu, berasal dari tumbuhan berkayu.
Serat hewan, umumnya tersusun atas protein tertentu. Contoh dari serat hewan
yang dimanfaatkan oleh manusia adalah serat laba-laba (sutra) dan
bulu domba (wol).
Serat mineral, umumnya dibuat dari asbestos. Saat ini asbestos adalah satu-
satunya mineral yang secara alami terdapat dalam bentuk serat panjang.

2
Serat sintetis atau serat buatan manusia umumnya berasal dari
bahan petrokimia. Namun demikian, ada pula serat sintetis yang dibuat dari
selulosa alami seperti rayon.

Rayon adalah kain sintetis pertama yang pernah dibuat manusia. Rayon
terbuat dari serat yang berasal dari kayu. Pinus, hemlock, dan cemara adalah
tiga spesies pohon yang paling sering digunakan dalam pembuatan rayon.

3
PEMBAHASAN

I. RAYON VISKOSA

Pembuatan serat rayon viskosa ditemukan oleh C.F. Cross dan E.J.
Bevan pada tahun 1891, produksi rayon viskosa pertama oleh Courtaulds Ltd.
yang berkembang keseluruh dunia. Rayon atau kain rayon adalah kain yang
dibuat dari serat hasil regenerasi selulosa. Serat yang dijadikan benang rayon
berasal dari polimerorganik, sehingga disebut serat semisintesis karena tidak
bisa digolongkan sebagai serat sintetis atau serat alami yang sesungguhnya.

Bahan dasar pembuatan serat viskosa rayon, adalah bubur kayu yang
dimurnikan disebut pulp. Pulp tersebut dirubah menjadi selulosa alkali dengan
natrium hidroksida. Kemudian dengan karbon disulfida dirubah menjadi natrium
selulosa xantat, yang selanjutnya dilarutkan dalam larutan soda kostik encer.
Larutan ini kemudian diperam dan kemudian dipintal dengan cara pemintalan
basah menggunakan larutan asam.

Filamen hasil pemintalan masih belum murni, sehingga perlu dimurnikan.


Mula-mula filamen dicuci dengan air dan dengan larutan natrium sulfida,
selanjutnya dikelentang dengan larutan natrium hipokhlorit dan akhirnya
dikeringkan. Untuk pembuatan benang stapel, filamen dipotong dan bila perlu
dibuat keriting. Cara yang biasanya dilakukan ialah dengan melewatkan filamen
diantara rol-rol yang beralur, sehingga akan menjadi keriting sebelum dipotong-
potong menjadi stapel. Selain cara ini pengeritingan juga dapat dilakukan secara
kimia. Kekuatan serat rayon viskosa dalam keadaan kering 2,6 gram/denier
dengan mulur 15% dan dalam keadaan basah 1,4 gram/denier dengan mulur
25%. Sedangkan elastisitas seratnya kurang bagus. Moisture regain serat rayon
dalam keadaan standar 12-13%. Dalam keadaan kering, rayon viskosa
merupakan isolator listrik yang baik, tetapi uap air yang diserap akan mengurangi
daya isolasinya.

Rayon viskosa tahan terhadap penyeterikaan, tetapi oleh pemanasan


yang lama warnanya akan berubah menjadi kuning. Sedangkan oleh penyinaran
kekuatannya akan berkurang. Rayon viskosa cepat rusak oleh asam

4
dibandingkan dengan kapas, terutama dalam keadaan panas tetapi tahan
terhadap pelarut untuk pencucian kering (dry-cleaning). Sedangkan jamur akan
menyebabkan kekuatan berkurang serta warna.

Dalam industri tekstil, kain rayon dikenal dengan nama rayon viskosa atau
sutra buatan. Kain ini biasanya terlihat berkilau dan tidak mudah kusut. Serat
rayon memiliki unsur kimia karbon, hidrogen, dan oksigen. Kain rayon digunakan
secara luas dalam industri garmen untuk bahan pakaian dan perlengkapan
busana, seperti daster, jaket, jas, pakaian dalam, syal, topi, dasi, kaus kaki, dan
kain pelapis sepatu. Kain jenis ini juga dipakai sebagai kain alas dan pelengkap
perabot rumah tangga (seprai, selimut, tirai) dan alat-alat kebutuhan industri (kain
untuk perabot rumah sakit, benang ban), serta barang kesehatan pribadi
misalnya;pembalut wanita dan popok.

Rayon viskosa banyak dipergunakan untuk pakaian untuk tekstil rumah


tangga umpama kain tirai, kain penutup kursi, taplak meja, sprei dan pakaian
dalam. Rayon viskosa baik untuk kain lapis karena tahan gesekan, berkilau dan
licin. Campuran rayos viskosa - poliester digunakan untuk bahan pakaian.

Di Indonesia, kain rayon merupakan bahan baku untuk industri kain dan
baju batik. Pemulihan elastis Rayon adalah yang terendah jika dibandingkan
dengan serat manapun. Ini artinya bahan tersebut tidak cepat kembali ke bentuk
dan penampilan aslinya.

II. RAYON KUPROAMONIUM

Rayon kupramonium adalah selulosa yang diregenerasi, maka sifatnya


dalam banyak hal sama dengan rayon viskosa. Perbedaan sifat-sifatnya antara
rayon kupramonium sangat halus, rata-rata 1,2 lenier per filamen, kekuatan
rayon kupramonium berkurang dalam keadaan basah, lebih mulur diwaktu basah
dari pada waktu kering, dan rayon kupramonium dapat terbakar, pada suhu
1800C rusak, dan kekuatannya berkurang oleh sinar matahari. Dalam
pembakaran akan meninggalkan abu yang mengandung sedikit sekali tembaga.

Sifat kimia rayon kupramonium sama dengan rayon viskosa. Rusak oleh
alkali, kuat, tetapi tahan alkali lemah dan zat-zat oksidator. Pemutihan dapat
dilakukan dengan larutan hipoklorit dalam suasana sedikit basah atau dengan

5
hydrogen peroksida. Pencelupan rayon kupramonium sama dengan pencelupan
rayon viskosa.

Bahan baku untuk rayon kupramonium adalah linter kapas, kadang-


kadang juga digunakan pula pulp yang telah dimurnikan sehingga mempunyai
kadar selulosa yang tinggi. Linter kapas dimasak pada kier pada suhu 150OC
dengan larutan natrium hidroksida encer. Kemudian diputihkan dengan natrium
hipokhlorit. Selulosa yang telah dimurnikan ini kemudian dicampur dengan
ammonia, kupro sulfat dan natrium hidroksida, kemudian diaduk-aduk sehingga
menjadi larutan yang berwarna biru jernih, diencerkan sehingga mengandung
selulosa 9-10%, dihilangkan udaranya dan disaring. Larutan kupramonium
dipintal dengan cara pemintalan basah. Larutan disemprotkan melalui spinneret
kedalam air untuk menghilangkan sebagian besar ammonia dan sebagian kupro,
kemudian ditarik, dilewatkan kedalam larutan asam, rangkaian bak pencucidiberi
pelumas, dikeringkan dan akhirnya digulung.

Serat rayon kupramonium mirip dengan rayon viskosa, perbedaan sifat


pokoknya ialah :

a. Filamen rayon kupramonium sangat halus rata-rata 1,2 denier per


filament. Untuk keperluan khusus dapat dibuat sampai 0,4 denier per filament.

b. Kekuatannya dalam keadaan kering 2,3 gram/denier dengan mulur


15% sedangkan dalam keadaan basah kekuatanya 1,2 gram/denier dengan
mulur 25%.

c. Moisture contentnya 11%.

d. Dapat terbajar; pada suhu 180OC akan rusak; dan kekuatannya


berkurang oleh sinar matahari.

Rayon kupramonium bayak digunakan untuk bahan pakaian wanita, kaos


kaki wanita dan pakaian dalam. Kebanyakan untuk kain-kain mutu baik.
Kehalusan filamennya memberikan sifat lemas dan drape yang baik. Kain wanita
yang dibuat dengan benang rayon kupramonium banyak di dagangkan dengan
nama Bemberg rayon.

6
Rayon kupramonium terutama digunakan untuk pakaian, kaos kaki
wanita, pakaian dalam dan kebanyakan untuk kain-kain dengan mutu baik.
Kehalusan filamennya memberikan sifat lemas dan drape yang baik (sifat
gelombang yang baik).

III. RAYON ASETAT

Asetat terdiri dari senyawa selulosa asetat yang diidentifikasi sebagai


selulosa – garam selulosa. Oleh karena asetat memiliki kualitas yang berbeda
dibandingkan dengan rayon.

Asetat adalah termoplastik dan dapat dibentuk menjadi bentuk apa


pun dengan aplikasi tekanan yang dikombinasikan dengan panas. Serat
asetat memiliki retensi kondisi yang baik.

Serat asetat adalah serat yang terbentuk oleh senyawa selulosa


asetat. Apabila lebih dari 92% gugus hidroksil dari selulosa diganti dengan
asetat maka serat tersebut disebut triasetat, serat triasetat telah dicoba
pembuatannya sejak tahun 1914. tetapi akrena sukar dicari pelarut yang
sesuai dengan zat warna yang cocok, maka baru dapat diperdagangkan pada
tahun 1953 oleh Celanses Co. dengan nama Arnel. Serat asetat merupakan
ester selulosa yang struktur fisika dan kimianya sangat beda dengan selulosa
alam maupun selulosa regenerasi. Ester selulosa dibentuk dengan
memberikan asam asetat glasial.

Asam
asetat anhidrat dan asam sulfat pada senyawa selulosa. Reaksinya disebut
asetilasi, beberapa gugus hidroksil dari selulosa diganti dengan gugus asetil.
Serat triasetat gugusan asetilnya lebih sedikit dibandingkan serat diasetat.

Karakteristik asetat adalah sebagai berikut ; termoplastik, kelangsaian


baik, halus, lembut dan tangguh, daya serap tinggi dan cepat kering, tampilan
berkilau, lemah, cepat kehilangan kekuatan ketika basah, harus dicuci
kering,ketahanan terhadap abrasi buruk.

Rayon asetat biasa diaplikasikan terutama dalam pakaian – blus,


gaun, jaket, pakaian dalam wanita, pelapis, setelan, dasi untuk leher, dan

7
sebagainya. Digunakan dalam kain seperti satin, brokat, kain taf, dan
sebagainya.

IV. RAYON TRI ASETAT

Tri asetat terdiri dari selulosa asetat yang mempertahankan


pengelompokan asetat, ketika sedang diproduksi sebagai selulosa triasetat.
Tri asetat adalah serat termoplastik dan lebih tangguh dari serat selulosa
lainnya.

Karakteristik rayon tri asetat adalah sebagai berikut ; termoplastik,


tangguh, bentuk kuat dan tahan kerut, tahan susut, mudah dicuci, bahkan
pada suhu yang lebih tinggi, mempertahankan lipatan dan wiru dengan baik.

Rayon tri asetat biasa digunakan dalam pakaian yang mementingkan retensi
lipatan / wiru misalnya rok dan gaun. Dapat digunakan dengan poliester untuk
membuat pakaian mengkilap.

V. RAYON POLINOSIK

Serat polinosik mempunyai kekuatan lebih tinggi, mulur lebih rendah,


perbandingan kekuatan basah dengan kering jauh lebih tinggi, dan
penggelembungan dalam air lebih kecil. Polinosik digunakan terutama untuk
bahan pakaian dan juga untuk kain tirai vince atau moynel. Vince adalah salah
satu serat polinosik, di Amerika dikenal dengan nama moynel.

VI. RAYON LYOCEL

Serat lyocel memiliki energi permukaan yang relatif rendah , yg membuat


sulit untuk pewarna untuk mengikat. Tergantung pada kecenderungan ideologis
mereka, fasilitas manufaktur mungkin menggunakan berbagai proses kimia,
enzim, dan perawatan pewarnayang mungkin tidak ramah lingkungan. Enzim
adalah bi-bahan kimia digunakan untuk melemahkan permukaan kain sehingga
dapat dihilangkan untuk mencegah piling berlebihan.

Pembuatan serat liosel memang memiliki manfaat bagi lingkungan dan


ekologi yang signifikan. Sebagian besar kekhawatiran tentang liosel dari

8
penggunaan dari bahan bahan kimia untuk mengubah serat liosel ke dalam
pakaian.bagi orang yang sensitif kimia perlu pertimbangan lagi untuk
menggunakan pakaian liosel dari Tencel yang diproduksi di Eropa.