Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Glaukoma adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan tekanan intraokuler


pada mata. Oleh karena itu glaukoma dapat mengganggu penglihatan yang perlu
diwaspadai. Tidak hanya itu, glaucoma juga dapat membawa kita kepada kebutaan.
Contohnya pada kasus glaucoma yang terjadi di Amerika Serikat. Disana glaucoma
beresiko 12% pada kebutan(Luckman & Sorensen.1980).

Bila glaukoma di diagnosis lebih awal dan ditangani dengan benar, kebutaan
hampir selalu dapat dicegah. Namun kebanyakan kasus glauma tidak bergejala sampai
sudah terjadi kerusakan ekstensif dan ireversibel. Maka pemeriksaan rutin dan
skrining mempunyai peran penting dalam mendeteksi penyakit ini. Dianjurkan bagi
semua yang memiliki faktor resiko menderita glaukoma dan yang berusia diatas 35
tahun menjalani pemeriksaan berkala pada oftalmologis untuk mengkaji TIO, lapang
pandang, dan kaput nervi optisi.

Glaukoma mengenai semua usia namun lebih banyak sesuai bertambahnya


usia, mengenai sekitar 2% orang berusia di atas 35 tahun. Resiko lainya adalah
diabetes, orang Amerika keturunan Afrika, yang mempunyai riwayat keluarga
menderita glaukoma, dan mereka yang pernah mengalami trauma atau pembedahan
mata, atau yang pernah mendapat terapi kortikostreroid jangka panjang.

Meskipun tak ada penanganan untuk glaukoma, namun dapat dikontrol dengan
obat.. kadang diperlukan pembedahan laser atau konvensional (insisional). Tujuan
penanganan adalah untuk menghentikan atau memperlambat perkembangan agar dapat
mempertahankan penglihatan yang baik sepanjang hidup. Dapat dilakukan dengan
menurunkan TIO (Suzanne C. Smeltzer, 2001 : 2004-2005).

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa/i tentang glaukoma dan
tindakan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit glaukoma.
2. Tujuan khusus
a Untuk mengetahui definisi glaukoma.
b Untuk mengetahui etiologi glaukoma.
c Untuk mengetahui klasifikasi glaukoma.
d Untuk mengetahui patofisiologi glaukoma.
e Untuk mengetahui manifestasi klinis glaucoma glaukoma.

1
f Untuk mengetahui pemeriksaan medis glaukoma.
g Untuk mengetahui penatalaksanaan glaukoma.
h Untuk mengetahui asuhan keperawatan glaukoma.

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI


1. Struktur Mata Eksternal
a. Alis Mata

Alis mata pada sebagian besar mamalia berupa bagian yang sedikit
menonjol sedikit diatas kedua belah kelopak mata dan mempunyai sedikit
rambut halus. Alis mata berfungsi sebagai pelindung mata yang peka dari
tetesan keringat yang jatuh dari bagian dahi,air hujan,atau sinar matahari yang
berlebihan

b. Kelenjar Air Mata

Kelenjar air mata atau kelenjar lakrimalis adalah kelenjar dimata yang
mengeluarkan air mata.Kelenjar lakrimalis terletak pada bagian lateral atas
mata yang disebut dengan fossa lakrimalis. Dari sini,air mata akan mengalir ke
duktus nasolakrimalis dan bermuara pada meatus nasal bagian inferior.

c. Kelopak Mata

Kelopak mata adalah lipatan kulit yang lunak yang menutupi dan
melindungi mata.

d. Bulu Mata

Bulu mata atau rambut mata adalah bagian dari kelopak mata yang
berupa helaian rambut-rambut. Rambut-rambut ini berfungsi untuk melindungi
supaya debu,keringat atau air yang menetes dari dahi tidak masuk ke mata.
Rambut mata merupakan rambut yang sangat lembut.

2. Struktur Mata Internal


a. Retina
Lapisan saraf pada mata yang terdiri dari sejumlah lapisan serabut,yaitu
sel-sel saraf batang dan kerucut. Lapisan paling dalam bola mata yang peka
terhadap cahaya.Retina berbentuk membran tipis yang terdiri dari 3
lapisan.Dibagian tengah retina terdapat bintik-bintik kuning yang sangat peka
terhadap cahaya.Pada bintik kuning terdapat jutaan sel berupa sel kerucut dan
sel batang yang sangat peka terhadap cahaya.Sel-sel inilah yang mengirim
sinyal-sinyal kesaraf mata menuju ke otak.Otak menerjemahkan sinyal-sinyal

3
itu sehingga kita melihat benda tegak (tidak terbalik seperti yang ditangkap
oleh retina).
b. Skelera

Skelera adalah bagian mata yang merupakan lapisan paling luar dari
bola mata.Sclera berwarna putih dan bersifat keras karena memiliki banyak
serat keras dari jaringan ikat.Skelera berfungsi untuk melindungi dan
membungkus bola mata sebagai dindingnya. Skelera membentuk putih mata
dan tersambung pada bagian depan dengan sebuah jendela membran yang
bening yaitu kornea.

c. Koroid
Koroid adalah bagian mata yang terdiri atas banyak pembuluh darah
dan merupakan lapisan tengah mata yang terletak diantara sclera dan retina.
Koroid berfungsi untuk memberikan nutrisi dan oksigen kepada bagian
lain,terutama untuk retina. Pembuluh darah pada koroid sangat berperan dalam
menjalankan fungsinya.
Biasanya koroid berwarna coklat kehitaman atau hitam. Koroid
berwarna gelap agar cahaya yang masuk tidak dipantulkan bagian koroid yang
terputus akan membentuk iris.

d. Iris
Bagian mata yang memiliki pigmen warna untuk memberikan warna
pada mata. Iris terletak pada bagian depan bola mata,karena berperan dalam
pemberian warna pada mata. Iris sering disebut dengan selaput pelangi,iris juga
berfungsi untuk mengatur pembesaran dan pengecilan pupil sesuai dengan
intesitas cahaya yang masuk oleh karena itu iris dapat mengkerut dan dapat
pula mengembang.
e. Lensa
Lensa merupakan benda asing bening yang dibatasi oleh dua buah
bidang lengkung.Dua bidang lengkung yang membatasi lensa berbentuk
silindris maupun bola. Lensa silindris bersifat memusatkan cahaya dari sumber
titik yang jauh pada suatu garis,sedangkan lensa yang berbentuk bola yang
melengkung kesegala arah memusatkan cahaya dari sumber yang jauh pada
suatu titi.
f. Pupil
Bagian mata yang merupakan celah berbentuk lingkaran yang terletak
ditengah iris. Pupil berfungsi untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk

4
kemata,pupil akan melebar apabila jumlah cahaya yang masuk sedikit (dalam
keadaan gelap) agar cahaya yang masuk dapat maksimal. Pupil akan mengecil
apabila jumlah cahaya yang masuk banyak (dalam keadaan terang) agar cahaya
tidak berlebihan.
g. Kornea
Merupakan bagian depan yang transparan dan bersambung dengan
sclera yang putih dan tidak tembus cahaya. Kornea terdiri atas beberapa
lapisan.Lapisan tepi adalah epithelium berlapis yang tersambung dengan
konjungtiva.

h. Aqueous Humor
Cairan yang terdapat pada ruang mata diantara lensa mata dan
kornea.Aqueous humor merupakan cairan dengan konsentrasi menyerupai
plasma namun memiliki konsentrasi protein yang lebih rendah.Cairan ini
berasal dari badan siliaris dan diserap kembali kedalam aliran darah pada sudut
iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai saluran.
i. Vitreous Humor
Cairan seperti lender yang terdapat pada ruangan mata diantara lensa
mata dan retina. Vitreous humor merupakan cairan bening,transaparan,tidak
memilki pembuluh darah dan sebagian besar konsentrasinya merupakan air dan
sangat sedikit zat padat. Vitreous humor berfungsi untuk mempertahankan dan
menjaga bentuk bulat bola mata.
j. Bintik Kuning
Untuk tempat berkumpulnya sel-sel kerucut dan batang yang disini
berguna untuk menangkap bayangan.,sel kerucut berfungsi melihat saat
keadaan terang yang membutuhkan protein iodopsin dan saat gelap sel batang
memerlukan protein rhodopsin dan vitamin A.
k. Bintik Buta
Tempat masuk dan membeloknya berkas saraf yang tidak mempunyai
ujung-ujung saraf penglihatan sehingga tidak peka terhadap cahaya.

B. KONSEP DASAR PENYAKIT GLAUKOMA

1. Definisi

Glaukoma merupakan sekelompok penyakit kerusakan saraf optik(neoropati


optik) yang biasanya disebabkan oleh efek peningkatan tekanan okular pada papil

5
saraf optik. Yang menyebabkan defek lapang pandang dan hilangnya tajam
penglihatan jika lapang pandang sentral terkena (Bruce James. et al , 2006 : 95).

Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai ekskavasi glaukomatosa,


neuropati saraf optik, serta kerusakan lapang pandang yang khas dan utamanya
diakibatkan oleh tekanan bola mata yang tidak normal (Sidarta Ilyas, 2002 : 239).

Glaukoma adalah kondisi mata yang biasanya disebabkan oleh peningkatan


abnormal tekanan intraokular ( sampai lebih dari 20 mmHg) (Elizabeth J.Corwin,
2009 : 382).

Glaukoma adalah kelainan yang disebabkan oleh kenaikan tekanan didalam


bola mata sehingga lapang pandangan dan visus mengalami ganggauan secara
progresif (Vera H . Darling, 1996 : 88 ).

Jadi dapat disimpulkan bahwa, Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit
mata dengan gejala yang tidak langsung, yang secara bertahap menyebabkan
penglihatan pandangan mata semakin lama akan semakin berkurang sehingga
akhirnya mata akan menjadi buta. Hal ini disebabkan karena saluran cairan yang
keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan bola mata
akan menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata yang akhirnya saraf
mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata akan mati.

2. Etiologi

Penyakit yang ditandai dengan peninggian tekanan intra okular ini


disebabkan oleh:

1) Faktor keturunan.
2) Bertambahnya produksi cairan mata oleh badan siliar.
3) Berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata. atau di celah
pupil (glaukoma hambatan pupil).
4) Pemakaian kortikosteroid dalam waktu yang lama.

6
3. Klasifikasi

1) Glaukoma primer
a. Glaukoma Sudut Terbuka

Glaukoma Sudut-Terbuka adalah tipe yang yang paling umum


dijumpai. Glaukoma jenis ini bersifat turunan, sehingga resiko tinggi bila ada
riwayat dalam keluarga. Biasanya terjadi pada usia dewasa dan berkembang
perlahan-lahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Seringkali tidak
ada gejala sampai terjadi kerusakan berat dari syaraf optik dan penglihatan
terpengaruh secara permanen. Pemeriksaan mata teratur sangatlah penting
untuk deteksi dan penanganan dini.

Glaukoma Sudut-Terbuka Primer biasanya membutuhkan pengobatan


seumur hidup untuk menurunkan tekanan dalam mata dan mencegah
kerusakan lebih lanjut.

b. Glaukoma Sudut Tertutup

Glaukoma Sudut-Tertutup lebih sering ditemukan karena keluhannya


yang mengganggu. Gejalanya adalah sakit mata hebat, pandangan kabur dan
terlihat warna-warna di sekeliling cahaya. Beberapa pasien bahkan mual dan
muntah-muntah.

Glaukoma Sudut-Tertutup Akut termasuk yang sangat serius dan


dapat mengakibatkan kebutaan dalam waktu yang singkat. Bila Anda
merasakan gejala-gejala tersebut segera hubungi dokter spesialis mata Anda.

2) Glaukoma Sekunder

Glaukoma Sekunder disebabkan oleh kondisi lain seperti katarak,


diabetes, trauma, arthritis maupun operasi mata sebelumnya. Obat tetes mata
atau tablet yang mengandung steroid juga dapat meningkatkan tekanan pada
mata. Karena itu tekanan pada mata harus diukur teratur bila sedang
menggunakan obat-obatan tersebut.

3) Glaukoma Kongenital

Glaukoma Kongenital ditemukan pada saat kelahiran atau segera


setelah kelahiran, biasanya disebabkan oleh sistem saluran pembuangan cairan
di dalam mata tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya tekanan bola mata

7
meningkat terus dan menyebabkan pembesaran mata bayi, bagian depan mata
berair dan berkabut dan peka terhadap cahaya.

4) Glaukoma Absolute

Merupakan stadium akhir glaukoma ( sempit/ terbuka) dimana sudah


terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi
lanjut .Pada glaukoma absolut kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil
atrofi dengan eksvasi glaukomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa
sakit.sering mata dengan buta ini mengakibatkan penyumbatan pembuluh
darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskulisasi pada iris, keadaan
ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya glaukoma hemoragik.

Pengobatan glaukoma absolut dapat dengan memberikan sinar beta


pada badan siliar, alkohol retrobulber atau melakukan pengangkatan bola mata
karena mata telah tidak berfungsi dan memberikan rasa sakit.

Berdasarkan lamanya glaukoma dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :

1) Glaukoma akut

a. Definisi

Glaukoma akut adalah penyakit mata yang disebabkan oleh


tekanan intraokuler yang meningkat mendadak sangat tinggi.

b. Etiologi

Glaukoma akut dapat terjadi primer, yaitu timbul pada mata


yang memiliki bakat bawaan berupa sudut bilik mata depan yang
sempit pada kedua mata, atau secara sekunder sebagai akibat penyakit
mata lain. Yang paling banyak dijumpai adalah bentuk primer,
menyerang pasien usia 40 tahun atau lebih.

c. Faktor Predisposisi

Pada bentuk primer, faktor predisposisinya berupa pemakaian


obat-obatan midriatik, berdiam lama di tempat gelap, dan gangguan
emosional. Bentuk sekunder sering disebabkan hifema,
luksasi/subluksasi lensa, katarak intumesen atau katarak hipermatur,
uveitis dengan suklusio/oklusio pupil dan iris bombe, atau pasca
pembedahan intraokuler.

d. Manifestasi klinik

8
 Mata terasa sangat sakit. Rasa sakit ini mengenai sekitar mata dan
daerah belakang kepala . Akibat rasa sakit yang berat terdapat gejala
gastrointestinal berupa mual dan muntah , kadang-kadang dapat
mengaburkan gejala glaukoma akut.
 Tajam penglihatan sangat menurun.
 Terdapat halo atau pelangi di sekitar lampu yang dilihat.
 Konjungtiva bulbi kemotik atau edema dengan injeksi siliar.
 Edema kornea berat sehingga kornea terlihat keruh.
 Bilik mata depan sangat dangkal dengan efek tyndal yang positif,
akibat timbulnya reaksi radang uvea.
 Pupil lebar dengan reaksi terhadap sinar yang lambat.
 Pemeriksaan funduskopi sukar dilakukan karena terdapat kekeruhan
media penglihatan.
 Tekanan bola mata sangat tinggi.
 Tekanan bola mata antara dua serangan dapat sangat normal.

e. Pemeriksaan Penunjang

 Pengukuran dengan tonometri Schiotz menunjukkan peningkatan


tekanan.
 Perimetri, Gonioskopi, dan Tonografi dilakukan setelah edema
kornea menghilang.

f. Penatalaksanaan

Penderita dirawat dan dipersiapkan untuk operasi. Dievaluasi


tekanan intraokuler (TIO) dan keadaan mata. Bila TIO tetap tidak
turun, lakukan operasi segera. Sebelumnya berikan infus manitol 20%
300-500 ml, 60 tetes/menit. Jenis operasi, iridektomi atau filtrasi,
ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan gonoskopi setelah
pengobatan medikamentosa.

2) Glaukoma kronik

a. Definisi

Glaukoma kronik adalah penyakit mata dengan gejala


peningkatan tekanan bola mata sehingga terjadi kerusakan anatomi dan
fungsi mata yang permanen.

b. Etiologi

9
Keturunan dalam keluarga, diabetes melitus, arteriosklerosis,
pemakaian kortikosteroid jangka panjang, miopia tinggi dan progresif.

c. Manifestasi klinik

Gejala-gejala terjadi akibat peningkatan tekanan bola mata.


Penyakit berkembang secara lambat namun pasti. Penampilan bola mata
seperti normal dan sebagian tidak mempunyai keluhan pada stadium
dini. Pada stadium lanjut keluhannya berupa pasien sering menabrak
karena pandangan gelap, lebih kabur, lapang pandang sempit, hingga
kebutaan permanen.

d. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan tekanan bola mata dengan palpasi dan tonometri


menunjukkan peningkatan. Nilai dianggap abnormal 21-25 mmHg dan
dianggap patologik diatas 25 mmHg. Pada funduskopi ditemukan
cekungan papil menjadi lebih lebar dan dalam, dinding cekungan
bergaung, warna memucat, dan terdapat perdarahan papil. Pemeriksaan
lapang pandang menunjukkan lapang pandang menyempit, depresi
bagian nasal, tangga Ronne, atau skotoma busur.

e. Penatalaksanaan

Pasien diminta datang teratur 6 bulan sekali, dinilai tekanan bola


mata dan lapang pandang. Bila lapang pandang semakin
memburuk,meskipun hasil pengukuran tekanan bola mata dalam batas
normal, terapi ditingkatkan. Dianjurkan berolahraga dan minum harus
sedikit-sedikit

4. Manifestasi Klinis

1) Nyeri pada mata dan sekitarnya (orbita, kepala, gigi, telinga).


2) Pandangan kabut, melihat halo sekitar lampu.
3) Mata merah, hiperemia konjungtiva, dan siliar.
4) Visus menurun.
5) Mual muntah
6) Edema kornea.
7) Bilik mata depan dangkal (mungkin tidak ditemui pada glaukoma sudut
terbuka).
8) Pupil lebar lonjong, tidak ada refleks terhadap cahaya.
9) TIO meningkat.

10
5. Patofisiologi

Tekanan Intra Okuler ditentukan oleh kecepatan produksi akues humor dan
aliran keluar akues humor dari mata. TIO normal 10 – 21 mmHg dan dipertahankan
selama terdapat keseimbangan antara produksi dan aliran akueos humor. Akueos
humor diproduksi di dalam badan silier dan mengalir ke luar melalui kanal schlemm
ke dalam sistem vena. Ketidakseimbangan dapat terjadi akibat produksi berlebih
badan silier atau oleh peningkatan hambatan abnormal terhadap aliran keluar akueos
melalui camera oculi anterior (COA). Peningkatan tekanan intraokuler > 23 mmHg
memerlukan evaluasi yang seksama. Iskemia menyebabkan struktur ini kehilangan
fungsinya secara bertahap. Kerusakan jaringan biasanya dimulai dari perifer dan
bergerak menuju fovea sentralis. Kerusakan visus dan kerusakan saraf optik dan
retina adalah ireversibel dan hal ini bersifat permanen tanpa penanganan, glaukoma
dapat menyebabkan kebutaan. Hilangnya penglihatan ditandai dengan adanya titik
buta pada lapang pandang.

6. WOC
Usia > 40 th
DM
Kortikosteroid jangka panjang
Myopia
Trauma mata

Obstruksi jaringan Peningkatan tekanan vitreus


Trabekuler

Hambatan pengaliran Pergerakan Iris ke depan


Cairan humor aqueous

Nyeri TIO meningkat Glaukoma TIO meningkat


Akut

Gangguan saraf optik

11
Perubahan Ansietas
penglihatan
perifer

kebutaan

Gangguan
persepsi
sensori

7. Komplikasi
 Kebutaan permanen
 Pandangan lebih gelap
 Pandangan lebih kabur

8. Pemeriksaan Penunjang

1) PEMERIKSAAN TAJAM PENGLIHATAN

Pemeriksaan tajam penglihatan bukan merupakan pemeriksaan khusus


untuk glaukoma.

a. Tonometri

Tonometri diperlukan untuk mengukur tekanan bola mata. Dikenal


empat cara tonometri, untuk mengetahui tekanan intra ocular yaitu :

 Palpasi atau digital dengan jari telunjuk


 Indentasi dengan tonometer schiotz
 Aplanasi dengan tonometer aplanasi goldmann
 Nonkontak pneumotonometri

b. Tonomerti Palpasi atau Digital

Cara ini adalah yand aling mudah, tetapi juga yang paling tidak
cermat, sebab cara mengukurnya dengan perasaan jari telunjuk. Dpat
digunakan dalam keadaan terpaksa dan tidak ada alat lain. Caranya adalah
dengan dua jari telunjuk diletakan diatas bola mata sambil pendertia disuruh
melihat kebawah. Mata tidak boleh ditutup, sebab menutup mata
mengakibatkan tarsus kelopak mata yang keras pindah ke depan bola mata,

12
hingga apa yang kita palpasi adalah tarsus dan ini selalu memberi kesan
perasaan keras. Dilakukan dengann palpasi : dimana satu jari menahan, jari
lainnya menekan secara bergantian.

Tinggi rendahnya tekanan dicatat sebagai berikut :

 N : normal
 N + 1 : agak tinggi
 N + 2 : untuk tekanan yang lebih tinggi
 N – 1 : lebih rendah dari normal
 N – 2 : lebih rendah lagi, dan seterusnya

2). GONIOSKOPI

Gonioskopi adalah suatu cara untuk memeriksa sudut bilik mata depan
dengan menggunakan lensa kontak khusus. Dalam hal glaukoma gonioskopi
diperlukan untuk menilai lebar sempitnya sudut bilik mata depan.

3). OFTALMOSKOPI

Pemeriksaan fundus mata, khususnya untuk mempertahankan keadaan


papil saraf optik, sangat penting dalam pengelolaan glaukoma yang kronik. Papil
saraf optik yang dinilai adalah warna papil saraf optik dan lebarnya ekskavasi.
Apakah suatu pengobatan berhasil atau tidak dapat dilihat dari ekskavasi yang
luasnya tetap atau terus melebar.

4). PEMERIKSAAN LAPANG PANDANG

a. Pemeriksaan lapang pandang perifer :lebih berarti kalau glaukoma sudah


lebih lanjut, karena dalam tahap lanjut kerusakan lapang pandang akan
ditemukan di daerah tepi, yang kemudian meluas ke tengah.

b. Pemeriksaan lapang pandang sentral : mempergunakan tabir Bjerrum, yang


meliputi daerah luas 30 derajat. Kerusakan – kerusakan dini lapang pandang
ditemukan para sentral yang dinamakan skotoma Bjerrum (Sidarta Ilyas,
2002 : 242-248).

9. Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan TIO ke tingkat yang konsisten


dengan mempertahankan penglihatan, penatalaksanaan berbeda-beda tergantung
klasifikasi penyakit dan respons terhadap terapi:

13
 Terapi obat: Aseta Zolamit (diamox, glaupakx) 500 mg oral. Pilokarpin Hcl 2-
6 % 1 tts / jam.
 Bedah lazer: Penembakan lazer untuk memperbaiki aliran humor aqueus dan
menurunkan tio.
 Bedah konfensional: Iredektomi perifer atau lateral dilakukan untuk
mengangkat sebagian iris unutk memungkinkan aliran humor aqueus Dari
kornea posterior ke anterior. Trabekulektomi (prosedur filtrasi) dilakukan
untuk menciptakan saluran balu melalui sclera.

14
FORMAT PENGKAJIAN

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Tanggal Pengkajian : 01 10 2019 Tanggal Masuk : 01 10 2019

Ruang Kelas : Mawar Nomor Register :321173

Diagnose Medis : Glaukoma

A. IDENTITAS KLIEN
Nama Klien : Ny. R

Jenis kelamin : perempuan

Usia/Tanggal lahir : 47 tahun

Status perkawinan : kawin

Agama : islam

Suku Bangsa : serawai

Pendidikan : SLTP sederajat

Bahasa yang digunakan : bahasa manna

Pekerjaan : petani

Alamat : manna

B. KELUHAN UTAMA MRS


Hari/Tanggal/Jam MRS : jumat / 01 / 2019

 Keluhan utama MRS : klien datang ke rumah sakit hari jumat, 01 oktober 2019
dengan keluhan nyeri pada mata bagian kanan , dan penglihatan kabur.

C. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG


Hari/Tanggal/Jam pengkajian :

1. Keluhan utama dan penyerta saat dikaji :


Klien mengatakan nyeri pada mata bagian kanan, dan bertambah berat seperti mau
copot, penglihatan semakin kabur, TIO 25 mmHg, klien tampak kesulitan untuk
melihat. Klien juga merasa khawatir dan gelisah.

2. Keadaan Umum : lemah


3. Kesadaran : compos mentis GCS : M:6 E:4 V:5
Tekanan Darah : 150/100 Frekuensi Nafas :20 x/menit
Frek. Nadi : 80x/menit Temperatur : 37°C

15
D. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU
1. Penyakit yang pernah diderita : DM
2. Riwayat dirawat, Penyakit : tidak ada
Tempat & Waktu : tidak ada
3. Riwayat Operasi, jenis operasi : tidak ada
Tempat & Waktu : tidak ada
4. Riwayat Merokok (jenis & lama) : tidak ada
5. Riwayat Narkoba (jenis & lama) : tidak ada
6. Riwayat Alkohol (jenis & lama) : tidak ada
7. Riwayat Alergi (jenis & gejala) : tidak ada

E. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA(Genogram dan keterangan)


1. Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang menjadi factor resiko :
Keluarga klien tidak ada yang mempunyai yang berhubungan dengan saraf persepsi
sensori

F. RIWAYAT POLA KEBIASAAN :


Pola kebiasaan
POLA KEBUTUHAN DASAR MANUSIA Di rumah
Sebelum sakit
sakit

1. KEBUTUHAN OKSIGENISASI

 Keluhan Batuk (kering/berdahak) Tidak ada Tidak ada


 Apakah ada produksi sputum Tidak ada Tidak ada
 Kemampuan mengeluarkan sputum Tidak ada Tidak ada
 Kemampuan bernafas (susah/tidak) Tidak ada Tidak ada
 Apakah ada nyeri dada Tidak ada Tidak ada
 Apakah ada kesulitan bernafas Tidak ada Tidak ada
 Keluhan pemenuhan kebutuhan oksigenisasi Tidak ada Tidak ada

2. KEBUTUHAN NUTRISI DAN CAIRAN

a. Makan
 Frekuensi makan/hari 3x/hari 3x/hari
 Jenis makanan (diit) Makanan biasa Makanan
rumah sakit

 Nafsu makan baik/tidak Baik Baik


Alasan……..

 Porsi makan yang dihabiskan


1 piring 1 piring
 Makan yang tidak disukai Tidak ada Tidak ada
 Makanan yang membuat alergi Tidak ada Tidak ada
 Makanan pantangan Tidak ada Tidak ada
 Penggunaan alat bantu (NGT, dll) Tidak ada Tidak ada

16
 Keluhan pemenuhan kebutuhan nutrisi Tidak ada Tidak ada
b. Minum
 Frekuensi minum/hari
5x/hari 5x/hari
 Jenis minuman Air putih Air putih
 Jumlah minum/hari
 Kemampuan menelan 1500cc/hari 1500cc/hari
 Masalah pemenuhan kebutuhan cairan Baik Baik
Tidak ada Tidak ada

3 KEBUTUHAN ELIMINASI
.
a. ELIMINASI B.A.K
 Frekuensi BAK/hari 7x/hari 3x/hari
Kuning pucat Kuning
 Warna urine
jernih
 Bau urine Khas Khas
 Jumlah Urine 400cc/hari 400cc/hari
 Apakah ada nyeri saat BAK Tidak ada Tidak ada
 Apakah ada kesulitan memulai BAK Tidak ada Tidak ada
Tidak ada Tidak ada
 Apakah ada urine menetes
Tidak ada Tidak ada
 Keluhan/Gangguan BAK Tidak ada Tidak ada
 Penggunaan alat bantu (kateter,dll) Tidak ada Tidak ada
b. Eliminasi B.A.B
 Frekuensi BAB 2x/hari 2x/hari
Kecoklatan Kecoklatan
 Warna Feces
Amoniak Amoniak
 Bau Feces Keras Keras
 Konsistensi Feces Tidak ada Tidak ada
 Keluhan/Gangguan BAB Tidak ada Tidak ada
 Penggunaan Laxatif Tidak ada Tidak ada

4 KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR


.
 Lama tidur siang (jumlah jam/hari) 2 jam/ hari 2 jam/ hari
 Lama tidur malam (jumlah jam/hari) 8 jam/ hari 8 jam/ hari
 Kebiasaan sebelum tidur Tidak ada Tidak ada
 Apakah merasa segar saat bangun tidur? Ya Ya
 Apakah ada kesulitan tidur? Tidak ada Tidak ada
 Apakah sering terbangun saat tidur? Tidak Tidak
 Apakah ada keluhan pemenuhan lebutuhan
Tidak ada Tidak ada
tidur

17
5 KEBUTUHAN AKTIVITAS/MOBILISASI
.
 Apakah ada perasaan lemah otot Tidak ada Tidak ada
 Apakah ada keterbatasan pergerakan Tidak ada Tidak ada
 Bagaimana pemenuhan personal hygiene Mandiri Dibantu
keluarga
 Kemampuan berjalan Dibantu keluarga Dibantu
keluarga

 Kemandirian Pemenuhan makan Madiri Mandiri

 Kemandirian pemenuhan eliminasi Mandiri Dibantu


keluarga
 Adakah sesak/pusing/lelah setelah Tidak ada Tidak ada
beraktifitas Tidak ada
 Keluhan pemenuhan kebutuhan aktivitas
dan mobilisasi Tidak ada Tidak ada

6 KEBUTUHAN RASA NYAMAN

 (P) Apakah hal pencetus nyeri Posisi kepala Posisi kepala


lebih rendah dari lebih rendah
tubuh dari tubuh
 (Q) Bagimana kualitas nyeri yang - Cenat cenut
dirasakan
 (R) Dimana lokasi dan penyebaran nyeri - Orbital mata
sebelah
kanan
 (S) Berapa skala nyeri (0-10, 10 sangat - 4
nyeri)
 (T) Berapa lama waktu (durasi) perasaan - 2 menit
tidak nyaman
 Apakah ada demam/menggigil/berkeringat - Tidak ada

7 KEBUTUHAN PERSONAL HYGIENE


.
 Frekuensi Mandi 2x/hari 2x/hari
 Kebiasaan mandi (basah/dilap) Basah Lap
 Waktu mandi pagi/sore/malam Pagi sore Pagi sore
 Frekuensi oral hygiene 2x/ hari 1x/ hari
 Kebiasaan cara oral hygiene Pagi Sigat gigi
 Waktu oral hygiene(pagi/siang/setelah Pagi sore Pagi
makan)
 Frekuensi cuci rambut 1x/ hari 1x/ hari
 Waktu cuci rambut Pagi Pagi
Basah Lap
 Kebiasaan cuci rambut
1 minggu sekali 1 minggu
 Frekuensi potong kuku
sekali
Potong semua Potong
 Kebiasaan potong kuku semua
Tidak ada Tidak ada

18
 Keluhan pemenuhan kebutuhan personal
hygiene
 Frekuensi ganji baju 2x/ hari 1x/ hari
 Kebersihan dan kerapihan pakaian yang Rapi Rapi
digunakan
 Keluhan pemenuhan berhias Tidak ada Tidak ada

G. PENGKAJIAN FISIK (INSPEKSI, PALPASI, PERKUSI, AUSKULTASI,


OLFAKSI)
1. Pemeriksaan fisik umum
a. Keadaan umum : lemah
b. Tingkat Kesadaran : compos mentis
c. Berat badan : 50kg kg Tinggi badan :153cm
IMT : _______

2. Sistem penglihatan
a. Posisi mata : simetris
b. Kelopak mata : simetris
c. Pergerakan bola mata : normal
d. Konjungtiva : anemis
e. Kornea : baik
f. Sclera : ikterik
g. Pupil : baik
h. Otot-otot mata : baik
i. Fungsi penglihatan : agak kabur
j. Tanda-tanda radang : tidak ada
k. Pemakaian kaca mata : ya
l. Pemakaian lensa kontak : tidak ada
m. Reaksi terhadap cahaya : isokor

3. Sistem pendengaran
a. Daun telinga : simetris
b. Kondisi telinga tengah : baik
c. Cairan dari telinga : tidak ada
d. Perasaan penuh di telinga : tidak ada
e. Tinnitus : tidak ada
f. Fungsi pendengaran : baik
g. Gangguan keseimbangan : tidak ada
h. Pemakaian alat bantu : tidak ada
4. System pernafasan
a. Jalan nafas : baik
b. Pernafasan : pernapasan dada
c. Penggunaan otot bantu pernafasan : tidak ada
d. Retraksi dinding dada :tidak ada
e. Frekuensi : 20x/menit

19
f. Irama : teratur
g. Jenis pernafasan : teratur
h. Kedalaman : dangkal
i. Batuk : tidak ada
j. Sputum : tidak ada
k. Batuk darah : tidak ada
l. Suara nafas :vesikuler
m. Mengi :tidak ada
n. Wheezing :tidak ada

5. System kardiovaskuler
a. Sirkulasi peripher
- Frekuensi Nadi : : 80x/menit Irama : teratur Kekuatan : kuat
- Tekanan darah : 150/100mmHg
- Distensi vena jugularis : Kanan : tidak ada
Kiri : tidak ada

- Temperature kulit : 37 derajat celcius


- Warna kulit : sawo matang
- Edema : tidak ada
- Kapilarry Refill : baik
b. Sirkulasi jantung
- Kecepatan denyut apical : baik
- Bunyi jantung : lup dup
- Irama : teratur
- Sakit dada : tidak ada

6. System hematologi
- Pucat : tidak ada
- Perdarahan : tidak ada

7. System syaraf pusat


- Keluhan sakit kepala : tidak ada
- Tingkat kesadaran : tidak ada
- Glasgow coma scale : tidak ada
- Tanda-tanda peningkatan TIK : tidak ada
- Gangguan system persyarafan :tidak ada
- Pemeriksaan reflek
 Reflek fisiologis : baik
 Reflek patologs : baik
- Pemeriksaan Nervus I – XII : normal
8. Sistem pencernaan
a. Keadaan mulut :
1) Gigi : caries
2) Penggunaan gigi palsu : tidak ada
3) Stomatitis : tidak ada
4) Lidah kotor : tidak ada
5) Silica : tidak ada

20
b. Muntah : ya
c. Nyeri daerah perut : tidak ada
d. Bising usus : 6x/menit
e. Konsistensi feces : lunak
f. Konstipasi : tidak ada
g. Hepar : normal
h. Abdomen : normal

9. Sistem endokrin
Pembesaran kelenjar tiroid : tidak ada

Nafas berbau keton : tidak ada

Luka ganggren : tidak ada

10. Sistem urogenital


Perubahan pola kemih : tidak ada

B.A.K : normal

Warna : kuning jernih

Distensi/ ketegangan kandung kemih : tidak ada

Keluhan sakit pinggang : tidak ada

Skala nyeri :3

11. Sistem lntegumen


Turgor kulit : baik

Warna kulit : sawo matang

Keadaan kulit : baik

- Luka, lokasi : tidak ada


- Insisi operasi, lokasi : tidak ada
- Kondisi : baik
- Gatal-gatal : tidak ada
- Kelainan pigmen : tidak ada
- Dekobitus, lokasi : tidak ada
Kelainan kulit : tidak ada

Kondisi kulit daerah pemasangan infus :.baik

Keadaan rambut :

Tekstur : sedikit kasar

Kebersihan :sedikit kotor

21
12. Sistem muskuloskeletal
Kesulitan dalam pergerakan : tidak ada

Sakit pada tulang, sendi, kulit : tidak ada

Fraktur : tidak ada

Keadaan tonus otot : baik

Kekuatan otot :5

H. RIWAYAT PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL.


a. Siapakah orang terdekat dengan pasien
Pasien mengatakan orang terdekat dengan pasien adalah anak kedua nya

b. Interaksi dalam kelaurga


 Pola komunikasi : musyawarah
 Pembuatan keputusan : suami
 Kegiatan kemasyarakatan : tidak ada

c. Dampak penyakit pasien terhadap keluarga : keluarga pasien mengatakn khawatir


dengan keadaan pasien dan kurang beristirahat karena mendampingi pasien selama
di rumah sakit

d. Masalah yang mempengaruhi pasien : tidak ada

e. Mekanisme koping terhadap stress : tidak ada

f. Persepsi pasien terhadap penyakitnya :


 Hal yang sangat dipikirkan saat ini : pasien mengatakan bahwa pasien khawatir
dengan anak terakhirnya karena masih kecil dan tidak ada yang mengasuh
 Harapan setelah menjalani perawatan : pasien berharap dapat melihat dengan
normal kembali
 Perubahan yang dirasakan setelah jatuh sakit : aktivitas pasien terbatas

g. System nilai kepercayaan :


 Nilai-nilai yang bertentangan dengan kesehatan tidak ada
 Aktifitas agama/kepercayaan yang dilakukan : pasien dan keluarga selalu
berdoa untuk kesembuhan pasien

22
I. DATA PENUNJANG

Pemeriksaan hasi l nilai normal

WBC

RBC 5,34 X 10

Hemoglobin 14,8 g/dl 11 kurang lebih 16,5 g/dl

Hematocrit 43,6 %

Trombosit 324 x 10

Ureum 19,5 mg/dl

Creatinine 0,59 mg/dl

SPOGT 25 U/I < 32 U/I

SPGT

Gula darah sewaktu 115 mg/dl

J. PENATALAKSANAAN ( TERAPI OBAT )

Terapi yang diberikan Miotik tiap menit 1 tetes selama 5 menit kemudian 1 tetes
tiap jam selama 6 jam, Carbonic anhydrase inhibitor / azetazolamid @ 250 mg tab
sekalifus kemudian tiap 4 jam 1 tab sampai 24 jam, Morfin 10 mg inj.

23
ANALISIS DATA
NAMA PASIEN : Ny.R UMUR : 47 tahun

RUANGAN : Mawar NO.REG : 321173

NO. DATA SENJANG ETIOLOGI MASALAH

1. Gejala dan tanda mayor : Gangguan Gangguan


Subjektif : penglihatan persepsi sensori
1. Mendengar suara bisikan atau
melihat bayangan
2. Merasakan sesuatu melalui
indera
perabaan,penciuman,perabaan,a
tau pengecapan
Objektif :
1. Distori sensori
2. Respons tidak sesuai
3. Bersikap seolah melihat ,
mendengar , mengecap ,
meraba atau mencium sesuatu

Gejala dan tanda minor :


Subjektif :
1. Menyatakan kesal
Objektif :
1. Menyendiri
2. Melamun
3. Konsentrasi buruk
4. Disorientasi
waktu,tempat,orang atau situasi
5. Curiga
6. Melihat ke satu arah
7. Mondar-mandir
8. Bicara sendiri

24
2. Gejala dan tanda mayor : Agen pendecera Nyeri akut
Subjektif : fisiologis
1. Mengeluh nyeri
Objektif :
1. Tampak meringis
2. Bersikap protektif (misalnya
waspada,posisi menghindari
nyeri)
3. Gelisah
4. Frekuensi nadi meningkat
5. Sulit tidur

Gejala dan tanda minor :


Subjektif :
(tidak tersedia)
Objektif :
1. Tekanan darah meningkat
2. Pola napas berubah
3. Nafsu makan berubah
4. Proses berpikir terganggu
5. Menarik diri
6. Berfokus pada diri sendiri
7. diaforesis

3. Gejala dan tanda mayor : Ancaman terhadap Ansietas


Subjektif : konsep diri
1. Merasa bingung
2. Merasa khawatir dengan akibat
dari kondisi yang dihadapi
3. Sulir berkonsentrasi
Objektif :
1. Tampak gelisah
2. Tampak tegang
3. Sulit tidur

Gejala dan tanda minor :


Subjektif :
1. Mengeluh pusing
2. Anoreksia
3. Palpitasi

25
4. Merasa tidak berdaya
Objektif :
1. Frekuensi napas meningkat
2. Frekuensi nadi meningkat
3. Tekanan darah meningkat
4. Diaforesis
5. Tremor
6. Muka tampak pucat
7. Suara bergetar
8. Kontak mata buruk
9. Sering berkemih
10. Berorientasi pada masa lalu

26
INTERVENSI KEPERAWATAN

NAMA PASIEN : Ny.R UMUR : 40 th

RUANGAN : Mawar NO.REG : 321173

INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA TUJUAN /KRITERIA HASIL RENCANA TINDAKAN


NO RASIONAL
KEPERAWATAN
(Nursing Outcome (Nursing Intervention
Clasification/NOC) Clasification/NIC)

1. Gangguan persepsi Setelah dilakukan intervensi NIC: Peningkatan


sensori berhubungan keperawatan selama ... x ... jam, Komunikasi : Kurang
dengan gangguan diharapkan pasien Penglihatan
penglihatan
NOC: Fungsi Sensori : Aktivitas Keperawatan:
Penglihatan
1. Kenal kan diri saat 1. Agar klien
Dipertahankan di level memasuki ruangan mengetahui
pasien indentitas kita
Ditingkatkan pada level
2. Bantu pasien untuk 2. Agar klien bisa
 1: Sangat terganggu/berat meningkatkan stimulasi meningkatkan
indera-indera lainnya stimuli indera
 2: Banyak lainnya untuk
terganggu/cukup berat mengenali objek
atau makanan
 3. Cukup 3. Pastikan kacamata 3. Agar kaca mata
terganggu/sedang milik pasien selalu klien tetap bersih
dibersihkan, an
 4. Sedikit disimpan dengan benar
terganggu/ringan saat tidak digunakan
4. Sediakan ruang dengan 4. Agar klien merasa
 5. Tidak terganggu/tidak pencahayaan memadai nyaman dan tidak
ada silau
5. Minimalkan cahaya 5. Agar mata klien
Dengan Kriteria hasil: silau tidak merasa
terganggu
1 Pandangan kabur
1/2/3/4/5 6. Jaga lingkungan tetap 6. Agar klien merasa
2 Penglihatan ganda rapi nyaman
1/2/3/4/5
7. Bacakan surat, koran 7. Agar klien
3 Penglihatan terganggu
dan informasi terkait mengetahui
1/2/3/4/5 lainnya untuk pasien informasi
4 Pusing
1/2/3/4/5
INTERVENSI KEPERAWATAN

TUJUAN /KRITERIA
DIAGNOSA RENCANA TINDAKAN
NO HASIL RASIONAL
KEPERAWATAN
(Nursing Intervention
(Nursing Outcome
Clasification/NIC)
Clasification/NOC)

2. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan intervensi NIC: Pemberian Analgesik


dengan agen pendecera keperawatan selama ... x 24 Aktivitas Keperawatan:

fisiologis jam, diharapkan pasien: 1. Tentukan lokasi, 1. Agar tidak terjadi


karakteristik, kualitas kesalahan dalam
dan keparahan nyeri pemberian obat
NOC: Kontrol Nyeri sebelum mengobati analgesik
klien
Dipertahankan di level
Ditingkatkan ke level 2. Tentukan pilihan obat 2. Agar penurunan nyeri
analgesik (narkotik, non- dapat berjalan dengan
narkotik, atau cepat dengan
 1: tidak pernah NASAID), berdasarkan memberikan obat
tipe dan keparahan nyeri analgsik yang sesuai
menunjukan dengan keparahan
 2: jarang nyeri
3. Pilih analgesik atau 3. Agar tidak terjadi
menunjukan kombinasi analgesik kelebihan dosis dan

29
 3. Kadang-kadang yang sesuai ketika lebih efek samping pada
dari satu diberikan pasien yang dapat
menunjukan membahayakan pasien
 4. Sering
4. Tentukan analgesik 4. Agar memberikan
menunjukan sebelumnya, rute efek yang cepat pada
 5. Secara konsisten pemberian, dan dosis pasien dan
untuk mencapai hasil mengurangi nyeri
menunjukan pengurangan nyeri yang pasien dengan cepat
optimal

5. Berikan kebutuhan 5. Agar pasien dapat


Dengan Kriteria hasil:
kenyamanan dan mengurangi rasa nyeri
aktivitas lain yang dapat nya dengan cara
1. Mengenali kapan membantu relaksasi melakukan relaksasi
nyeri terjadi untuk memfasilitasi
penurunan nyeri
1/2/3/4/5 6. Cek perintah pengobatan 6. Agar tidak terjadi
2. Menggambarkan meliputi obat, dosis, dan kesalahan dalam
frekuensi obat analgesik pemberian analgesik
faktor penyebab yang diberikan
1/2/3/4/5
7. Berikan analgesik sesuai 7. Agar tidak terjadi
3. Melaporkan nyeri waktu paruhnya, kelebihan dosis
yang terkontrol terutama pada nyeri analgesik yang
yang berat diberikan pada pasien
1/2/3/4/5
4. Menggunakan

30
tindakan pencegahan
1/2/3/4/5
Menggunakan
analgesik yang
direkomendasikan

31
INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA TUJUAN /KRITERIA HASIL RENCANA TINDAKAN


NO RASIONAL
KEPERAWATAN
(Nursing Outcome (Nursing Intervention
Clasification/NOC) Clasification/NIC)

3. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan intervensi NIC: Pengurangan Kecemasan


dengan ancaman keperawatan selama ... x ... jam,
diharapkan pasien: Aktivitas Keperawatan:
terhadap konsep diri
1. Gunakan pendekatan yang 1. Agar klien
NOC: Tingkat Kecemasan
tenang dan meyakinkan merasa nyaman
Dipertahankan di level an percaya
2. Nyatakan dengan jelas 2. Agar memotivasi
Ditingkatkan ke level harapan terhadap perilaku klien
klien
 1: Berat
3. Pahami situasi krisis yang 3. Untuk
 2: Cukup berat terjadi dari perspektif klien meyakinkan
klien agar tidak
 3. Sedang merasa cemas

 4. Ringan 4. Berada diposisi klien 4. Untuk


untuk meningkatkan rasa meningkatkan
 5. Tidak ada nyaman dan aman kepercayaan klien

32
Dengan Kriteria hasil: 5. Dorong keluarga pasien 5. Agar klien
untuk mendampingi klien merasa aman dan
1 Tidak dapat beristirahat dengan cara yang tepat nyaman
1/2/3/4/5
2 Perasaan gelisah 6. Dengarkan klien berbicara 6. Supaya klien
1/2/3/4/5 merasa dihargai
7. Ciptakan rasa aman pada 7. Agar klien
3 Rasa takut yang
pasien merasa nyaman
disampaikan secara lisan
1/2/3/4/5 8. Intruksikan klien untuk 8. Agar klien
4 Wajah tegang menggunakan teknik merasa tenang
1/2/3/4/5 relaksasi

33
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit mata dengan gejala


yang tidak langsung, yang secara bertahap menyebabkan penglihatan
pandangan mata semakin lama akan semakin berkurang sehingga akhirnya
mata akan menjadi buta. Hal ini disebabkan karena saluran cairan yang
keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan
bola mata akan menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata
yang akhirnya saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf
mata akan mati.
Glaukoma dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : glaucoma
primer, sekunder, dan kongenital. Adapun tanda dan gejalanya adalah
nyeri, mual muntah, TIO meningkat dll. Komplikasi dari glaucoma adalah
kebutaan.

B. SARAN

Bagi mahasiswa keperawatan, diharapkan mampu memahami dan


menerapkan asuhan keperawatan yang benar pada pasien glaucoma. Bagi
petugas kesehatan agar lebih meningkatkan pelayanan kesehatan
khususnya pada pasien glaucoma untuk pencapaian kualitas keperawatan
secara optimal dan sebaiknya proses keperawatan selalu dilaksanakan
secara berkesinambungan.

34
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth,(2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah


Edisi 8 Volume 2. Jakarta EGC

Depkes.RI.(2007).Profil Kesehatan.Departemen Kesehatan RI

Ilyas, Ramatjamdra dan Sidarta Ilyas, 1991. Klasifikasi dan Diagnosis


Banding Penyakit – Penyakit Mata. Jakarta : FKUI

Ilyas, Sidarta.dkk.2002. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan


Mahasiswa Kedokteran. Jakarta : Sagung Seto.

35