Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PERBANDINGAN KURIKULUM 1984 DAN 1994

Disusun Oleh :

Kelompok 5

Destiana Sari ( 06101181722002 )

Frida Ramadian ( 06101381722057 )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan karunia-
Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam semoga tetap
dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa
manusia dari peradaban jahiliyah menuju peradaban iman dan ilmu yang bermanfaat.
Makalah ini berjudul, “Perbandingan Kurikulum 1984 da 1994” yang disusun untuk
memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Kapita selekta.
Demikianlah semoga makalah ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat yang
berkaitan dengan hal tersebut meskipun dalam penyusunan dan penulisan makalah ini
penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.

Palembang, April 2019

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................................................... i

Daftar isi ................................................................................................................................ ii

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang................................................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................................... 1

1.3 Tujuan ............................................................................................................................. 1

Bab II Pembahasan

2.1 Karakteristik Kurikulum 1984 ......................................................................................... 2

2.2 Karakteristik kurikulu 1994 ............................................................................................ 6

2.3 Perbandingan kurikulum 1984 dan 1994 ........................................................................ 8

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 14

3.2 Saran ............................................................................................................................. 14

Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 15


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia kerap berubah setiap ada
pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini
belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap. Dalam perjalanan sejarah
sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu
pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan 2013.
Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem
politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan
bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu
dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi
di masyarakat.

Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu


Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan
pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya. Dalam pembahasan
makalah ini, penulis bermaksud memaparkan perkembangan kurikulum 1984
(Kurikulum 1975 Yang Disempurnakan) dan juga kurikulum 1994.

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana karakteristik kurikulum 1984 di Indonesia ?


2. Bagaimana karakteristik kurikulum 1994 di Indonesia ?
3. Bagaimana perbandingan antara kurikulum 1984 dengan 1994 di Indonesia ?
1.3. Tujuan

1. Mengetahui karakteristik kurikulum 1984 di Indonesia.


2. Mengetahui karakteristik kurikulum 1994 di Indonesia
3. Mengetahui perbandingan kurikulum 1984 dan 1994
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Karakteristik Kurikulum 1984

Sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983
menyatakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari
kurikulum 1975 ke kurikulum 1984, karena sudah dianggap tidak mampu lagi
memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya
adalah sebagai berikut.
1) Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke
dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
2) Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi
dengan kemampuan anak didik.
3) Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di
sekolah.
4) Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang.
5) Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang
pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai
sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah.
6) Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan
perkembangan lapangan kerja.
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan
pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut
"Kurikulum 1975 yang disempurnakan". Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek
belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga
melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active
Leaming (SAL).
Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R.
Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986. CBSA
merupakan sustu proses belajar mengajar yang aktif dan dinamis. Dipandang dari
segi peserta didik, maka CBSA adalah proses kegiatan yang dilakukan dalam rangka
belajar. Jika dipandang dari sudut guru sebagai fasilitator, maka CBSA merupakan
suatu strategi belajar yang direncanakan sedemikian rupa, sehingga proses belajar
mengajar yang dilaksanakan menuntut aktifitas dari peserta didik yang dilakukannya
secara aktif.
Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1) Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa


pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang
sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif.
2) Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar
siswa aktif(CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual,
dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara
maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
3) Materi pelajaran dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral. Spiral
adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar
berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran.
4) Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Untuk
menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu
siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
5) Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa.
Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa
dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret,
semikonkret, semi-abstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan
induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan.
6) Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah
pendekatan belajar-mengajar yang memberi tekanan kepada proses
pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan
mengkomunikasikan perolehannya.
Kebijakan dalam penyusunan Kurikulum 1984 adalah sebagai berikut :

1) Adanya perubahan dalam perangkat mata pelajaran inti. Kurikulum 1984


memiliki enam belas mata pelajaran inti, yakni:
a. Agama
b. Pendidikan Moral Pancasila
c. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa
d. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia
e. Geografi Indonesia
f. Geografi dunia
g. Ekonomi
h. Kimia
i. Fisika
j. Biologi
k. Matematika
l. Bahasa Inggris
m. Kesenian
n. Keterampilan
o. Pendidikan Jasmani dan Olahraga
p. Sejarah Dunia dan Nasional.
2) Penambahan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan jurusan masing-
masing.
3) Perubahan program jurusan. Kalau semula pada Kurikulum 1975 terdapat 3
jurusan di SMA, yaitu IPA, IPS, Bahasa, maka dalam Kurikulum 1984
jurusan dinyatakan dalam program A dan B. Program A terdiri dari :
Program A disajikan dalam bentuk program-program yang disesuaikan
dengan kepentingan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, yaitu
program Ilmu-Ilmu Fisik, program Ilmu-Ilmu Biologi, program Ilmu-Ilmu
Sosial, dan program Pengetahuan Budaya (termasuk Pengetahuan Agama).
Peserta didik dapat memilih salah satu program tersebut sesuai dengan
kemampuan dan minatnya mulai kelas II SMA.
Masing-masing program tersebut memiliki kegunaannya.

(1) Program Ilmu-Ilmu Fisik (mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi,


Matematika, Bahasa Inggris) disediakan bagi peserta didik yang akan
melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi yang
mengkaji baik gejala-gejala alamiah yang menyangkut benda/bahan
tak hidup, seperti Fisika, Kimia, Elektronika, Astronomi, Geologi dan
sebagainya, maupun bidang Matematika
(2) Program Ilmu-Ilmu Biologi (mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi,
Matematika dan Bahasa Inggris) menyiapkan peserta didik yang akan
melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi yang
mengkaji gejala-gejala alamiah yang hidup, seperti Pertanian,
Kedokteran, Biologi, dan sebagainya. Mata pelajaran Fisika dan
Biologi dalam program Ilmu-Ilmu Fisik mempunyai bobot kredit yang
berlainan dengan program Ilmu-Ilmu Biologi
(3) Program Ilmu-Ilmu Sosial (mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi dan
Antopologi, Tatanegara, Matematika dan Bahasa Inggris) menyiapkan
peserta didik yang akan melanjutkan pendidikannya ke program studi
pendidikan tinggi yang mengkaji kehidupan sosial manusia seperti Ilmu
Administrasi, Ilmu Ekonomi, Ilmu Politik, Sosiologi, Antropologi,
Psikologi, dan sebagainya.
(4) Program Pengetahuan Budaya (mata pelajaran Sosiologi dan
Antropologi, Sejarah Budaya, Sastra, Matematika, Bahasa Inggris, dan
Bahasa Daerah/Bahasa Asing Lainnya) menyiapkan peserta didik yang
akan melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi
yang mengkaji aspek-aspek budaya, seperti Hukum, Pengetahuan Agama
(Teologi), Filsafat, Bahasa, Sastra , Sejarah, dan sebagainya.

Peserta didik yang telah memilih suatu program tertentu dapat


mengambil juga mata pelajaran yang lain, asal tidak mengganggu kelancaran
penyelesaian program pokoknya.
Program B disediakan sebagai sarana untuk menampung minat dan bakat
peserta didik untuk mendalami berbagai bidang kehidupan yang ada di
masyarakat. Program ini lebih diarahkan untuk menyiapkan peserta didik
yang akan langsung bekerja sesudah lulus SMA maupun yang akan memasuki
akademi, politeknik, program diploma, dan sebagainya.Program B disajikan
dalam bentuk program-program yang disesuaikan dengan bidang-bidang
kehidupan di masyarakat. Bidang-bidang itu terdiri atas antara lain Teknologi
Industri, Komputer, Tetapi mengingat program B memerlukan sarana sekolah
yang cukup maka program ini untuk sementara ditiadakan.

2.2 Karakteristik Kurikulum 1994

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem


Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa Kurikulum Sekolah Menengah Umum
perlu disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan tersebut.

Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran


menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar
dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena
berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar.
Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut
mengembangkan kurikulum di sekolah.

Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan


dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran,
yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem
caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan
dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup
banyak.

Kurikulum 1994 berisi tentang kewenangan pengembangan yang seluruhnya


berada ditangan pusat dan daerah sehingga sekolah tidak begitu terlibat, kemudian
tidak terjadi penataan materi, jam pelajaran serta struktur program siswa hanya
dianggap sebagai siswa yang harus menerima semua materi dan tanpa
mempraktekannya. Pembelajaran hanya dilakukan di dalam kelas dan ketrampilan
hanya dikembangkan melalui latihan soal. Mulyasa (Muhammad Joko, 2007 : 102-
104).

Dalam ranah pendidikan dasar, isi kurikulum sekurang-kurangnya wajib memuat


bahan kajian dan pelajaran: pendidikan pancasila, pendidikan agama, pendidikan
kewarganegaraan, bahasa Indonesia, membaca dan menulis, matematika, pengantar
sains dan teknologi, ilmu bumi, sejarah nasional dan sejarah umum, kerajinan tangan
dan kesenian, pendidikan jasmani dan kesehatan, menggambar, bahasa Inggris. (PP.
No. 28 tahun 1990. Pasal 14:2). Sementara materi muatan lokal disesuaikan dengan
kebutuhan daerah masing-masing.

Dalam kurikulum pendidikan kelas dasar (SD/MI/SMP/MTS), pengantar Sains


dan Tekhnologi menempati peran penting untuk dipelajari anak didik meskipun tidak
mengabaikan aspek yang lain. Hal ini dimungkinkan sebagai upaya mempersiapkan
anak didik memasuki era industrialisasi abad ke-21 dan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat Indonesia.

Sementara berkaitan dengan isi kurikulum tingkat pendidikan menengah, maka


setidaknya wajib memuat tiga aspek kajian dan pelajaran yaitu; Pendidikan
Pancasila, Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan. Disamping itu,
kurikulum sekolah menengah dapat menjabarkan dan menambahkan mata pelajaran
sesuai dengan keadaan lingkungan dan ciri khas sekolah menengah yang
bersangkutan dengan tidak mengurangi kurikulum yang berlaku secara nasional.

Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem


kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum
inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri
disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Pengajaran dari
hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit dan dari
hal yang sederhana ke hal yang kompleks.

Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya


sebagai berikut:

1) Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan. Diharapkan


agar siswa memperoleh materi yang cukup banyak.
2) Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat
(berorientasi kepada materi pelajaran/isi).
3) Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem
kurikulum inti untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat
kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran
sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
4) Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan
strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan
sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang
mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih
dari satu jawaban), dan penyelidikan.
5) Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan
konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga menekankan
pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan
masalah siswa.
6) Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal
yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.
7) Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk
pemantapan pemahaman siswa.

2.3 Perbandingan Kurikulum 1984 dan 1994

Sejumlah pertimbangan yang melatar belakangi perampingan dan penyempurnaan


kurikulum adalah terkait dengan beban belajar yang memberatkan peserta didik serta
isi atau konten kurikulum untuk beberapa mata pelajaran yang kurang sesuai dengan
kematangan atau kondisi psikis peserta didik. Isi atau konten kurikulum SD dan SMP
harus benar-benar sesuai dengan kesiapan peserta didik dalam pengertian sesuai
dengan perkembangan atau kondisi psikis peserta didik. Isi ataupun topik dalam
mata-mata pelajaran tertentu, penyajiannya dalam kurikulum perlu ditunda dari kelas
rendah ke kelas yang lebih tinggi sejalan dengan kesiapan dan kematangan peserta
didik. Sebelum perampingan dan penyempurnaan kurikulum dilakukan terlebih dulu
dilakukan kajian-kajian dan perbandingan antara kurikulum 1984 dengan rancangan
kurikulum 1994. Perbandingan tersebut dimaksudkan untuk melihat persamaan dan
perbedaan antara kurikulm 1984 dengan kurikulum 1994.
Tabel Perbandingan kurikulum 1984 dan 1994

No. Aspek Kurikulum 1984 Kurikulum 1994


1. Pengertian Kurikulum yang dibuat Kurikulum dibuat sebagai
sebagai perbaikan/revisi penyempurnaan kurikulum
terhadap kurikulum 1975 1984 dan dilaksanakan
yang dianggap tidak sesuai sesuai dengan UU No 2
lagi. tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional
2 Landasan GBPP Kurikulum 1984 1.GBPP Kurikulum
Hukum 1994
2.UU No 2 tahun 1989
tentang Sistem
Pendidikan Nasional
Pasal 3 ayat 1 dan
pasal 2 Peraturan
Pemerintah No.29
Tahun 1990
3. Program 1. Program inti yang 1. Program pengajaran
pengajaran wajib diikuti oleh wajib diikuti oleh
semua siswa (pada semua siswa kelas 1
kelas 1) &2
2. Program khusus yang 2. Program yang
dikembangkan dengan diselenggarakan di
memperhatikan kelas 3, dipilih sesuai
perbedaan kemampuan kemampuan & bakat
dan minat siswa serta minatnya
kebutuhan lingkungan
(pada kelas 2&3)
4. Isi 1. Bidang studi sesuai 1. Bidang studi sesuai
jenjang pendidikan jenjang pendidikan
2. Bidang studi berupa 2. Bidang studi berupa
pokok bahasan pokok bahasan
3. Guru tidak 3. Pembelajaran di
diperbolehkan sekolah lebih
mengubah sistematika berorientasi pada
mata pelajaran mata pelajaran/ isi
4. GBPP disusun oleh tim sehingga mata
pengembang GBPP pelajaran cukup
dan tim ahli padat
4. Guru diperbolehkan
mengubah
sistematika mata
pelajaran, asal dalam
satu catur wulan
5. Contoh-contoh dan
penerapan konsep
yang terdapat dalam
uraian pembelajaran
hendaknya
diperkaya &
disesuaikan dengan
keadaan &
kebutuhan
daerahnya

5. Organisasi Struktur Horisontal Separate- Struktur Horisontal


Subject Curriculum 1.Separate-Subject
Curriculum
Struktur Vertikal 2.Implemented
1. Pelaksanaan Curriculum
kurikulum:Sistem kelas 3.Attained Curriculum
2. Periode pelaksanaan Struktur Vertikal
Semester, kelas 1 (semester 1. Pelaksanaan
1 dan 2), kurikulum: Sistem
Semester kelas 2 kelas
(semester 3 dan 4) 2. Periode pelaksanaan :
Semester kelas 3 sistem caturwulan
(semester 5 dan 6) 1,2,3.
3. Pembagian waktu: Caturwulan 1& 2
Sistem unit waktu (12 minggu) untuk
1 jam pelajaran = 45 menit kelas 1,2 &3
caturwulan 3
(10 minggu efektif)
untuk kelas 3
(8 minggu efektif)
3. Waktu bidang studi
48 jam (1
caturwulan)
6. Strategi 1. Strategi Pembelajaran: 1. Strategi
Penggunaan metode pembelajarannya
pembelajaran menggunakan metode
CBSA(Cara Siswa ceramah,diskusi,
Belajar Aktif). Selain demonstrasi,
itu juga menggunakan eksperimen, karya
tanya jawab, wisata, proyek,
penugasan, diskusi , sosiodrama
inkuiri,penemuan,dem 2. Evaluasi
onstrasi ,eksperimen pembelajaran:
widya wisata, simulasi ulangan
ceramah harian,ulangan
2. Strategi Evaluasi: Test umum (akhir cawu)
obyektif, test esai,
laporan, penugasan
7. Kelebihan 1. Proses 1. Kurikulum 1994 jadi
pengembangannya lebih kompleks karena
sesuai dengan tugas dan di susun untuk
fungsi masing-masing menyempurnakan
perkurikulum. kurikulum
2. Menguntungkan bagi sebelumnya
guru yang kurang (kurikulum 1984)
professional karena 2. Guru diperbolehkan
pengajaran hanya mengubah sistematika
terpacu pada mata pelajaran
kurikulum.
3. Melalui CBSA siswa
diberi kesempatan
untuk aktif terlibat
secara fisik, mental,
intelektual, dan
emosional dengan
harapan siswa
memperoleh
pegalaman belajar
secara maksimal.

8. Kekurangan 1. Kepala sekolah dan 1. Beban belajar siswa


guru tidak dapat ikut terlalu berat karena
campur dalam banyaknya mata
pengembangan pelajaran dan banyak
kurikulum dan hanya materi/ substansi setiap
bisa menerima sampel
keputusan dari pihak 2. Orientasi pada materi
pengambil keputusan pelajaran
(Tim Pengembang
GBPP dan Tim Ahli).
2. Banyak sekolah kurang
tepat dalam
melaksanakan CBSA
sehingga menciptakan
suasana gaduh dikelas.
3. Sumber belajar yang
digunakan relatife
minim sedangkan
metode
pembelajarannya terlalu
banyak
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Kurikulum ini sering disebut
"Kurikulum 1975 yang disempurnakan". Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek
belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga
melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student
Active Leaming (SAL).
2. Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan
sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan
mengubah sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang
pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi
kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.

3.2 Saran

Penulis menyarankan agar pembaca lebih mencermati lagi materi materi pada
makalah ini dan membaca buku-buku tentang perkembangan kurikulum yang
lebih lengkap.
DAFTAR PUSTAKA

Mingka,I.2011. Analisis Kurikulum (Kurikulum 1984, 1994, 2004 Dan 2006). (Online).
https://www.scribd.com/doc/76588173/Perbedaan-Dan-Persamaan-Kurikulum-
1984-2006. ( Diakses pada tanggal 25 April 2019 ).
https://caridokumen.com/download/analis-kurikulum-1984-sampai-dengan-kurikulum-
1994-kurikulum-75-yang-disempurnakan-sampai-dengan-suplemen-kurikulum-
1999-_5a44a3e4b7d7bc7b7a76c362_pdf.
Soedijarto,dkk.2010.Sejarah Pusat Kurikulum.Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan
Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional.