Anda di halaman 1dari 16

BOOK READING

SERVISITIS

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Dalam Mengikuti


Program Pendidikan Profesi Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

Oleh :
ROSARIALA DYTA
FAB 118 068

Pembimbing :
dr. Nyoman Yudha Santosa, Sp.KK
dr. Aris Aryadi T. Oedi, Sp.KK
dr. Sulistyaningsih, Sp.KK

BAGIAN KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
RSUD DORIS SYLVANUS
PALANGKA RAYA
2019

1
SERVISITIS

Servisitis adalah suatu gambaran dari penyakit infeksi menular seksual, pathogen
paling sering ialah Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhea dan, terkadang,
Trichomonas vaginalis atau Herpes simplex virus (HSV). Diagnosis ditegakkan ketika
terdapat cairan mukopurulen dan jika terdapat perdarahan yang mudah terjadi (friability)
pada endoserviks, tanda lain berupa edema pada ektropion cervix (ektopi edematosa).
Data terbaru menunjukkan gangguan pada flora normal vagina, paling sering bacterial
vaginosis, dapat menyebabkan servisitis. Namun C trachomatis adalah penyebab yang
paling mungkin yang menyebabkan servisitis, dan juga N. gonorrhoae, mayoritas wanita
(80-90%) terinfeksi dengan pathogen tersebut tidak menunjukkan gejala apapun.

Patogenesis
Serviks terdiri dari sebuah matriks jaringan ikat yang mendasari, yang dilapisi
oleh dua jenis epitel yang berbeda, masing-masing rentan terkena infeksi dari pathogen
yang berbeda. Jika terdapat calanis endoserviks dan ectropion (ectopy servikal)
dihubungkan oleh sel epitelium kolumnar. Sel ini paling sering dinamakan endoserviks,
sel ini menyediakan target yang mudah diserang oleh infeksi C. trachomatis dan N.
gonorrhoeae. Ektoserviks, secara kontras dibatasi oleh epitelium squmosa yang
berdekatan dengan mukosa vagina. Oleh karena itu ektoserviks rentan terkena T.
vaginalis, agen yang lebih sering dikaitkan dengan vaginitis.
Estrogen diproduksi secara endogen dan diatur secara eksogen, menyediakan
formasi dan menjaga ektopi servikal, yang sering muncul pada usia dewasa, wanita hamil
dan wanita yang menggunakan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen. Estrogen
juga diperlukan untuk menjaga ketebalan dari epitel skuamosa servikovaginal (>20
lapisan sel). Hal ini memicu keseimbangan populasi yang baik dari hydrogen peroksida
yang memproduksi spesies Lactobacillus, yang akan menjaga pH vagina normal (asam).
Kualitas mukosa endoserviks juga dipengaruhi oleh hormon tersebut. Level yang tinggi
dari estrogen selama fase follicular mengarahkan untuk ovulasi mukosa endoserviks; hal

2
ini merupakan hasil dari elaborasi dari cairan discharge fisiologis. Pada siklus fase luteal,
progesterone meningkatkan viskositas dan menurunkan volume mukosa endoserviks.
Baru-baru ini beberapa penelitian mengarahkan peran langsung dari hormone
tersebut yang memodulasi keseimbangan sel yang dimediasi respon imun (Th1) dan
humoral (Th2), dengan predominasi estrogen yang memicu Th2 dan progesterone yang
menambah respon Th1. Karena mukosa endoserviks memiliki aktivitas antomikrobial
oleh asam laktat, pH yang rendah, peptida antimikroba, perubahan hormonal ini secara
potensial penting untuk memediasi kerentanan dan riwayat dari infeksi serviks. Sebagai
contoh, ketidak jelasan mengapa hanya bagian tertentu pada wanita yang menjadi tanda
dan gejala dari peradangan seperti servisitis yang disebabkan oleh chlamydia, gonorrhea
dan trichomoniasis.

Pencegahan
Perolehan infeksi menular seksual (IMS) yang menyebabkan servisitis, secara
tertentu chlamydia, gonorrhea, trichomoniasis dan herpes genitalis, akan sangat menurun
dengan pengunaan kondom secara konsisten dan benar. Tidak ada data yang
menyediakan efek penggunaan kondom pada servisitis dimana tidak ada penyebab secara
mikrobiologi yang muncul.

Temuan klinis
a. Riwayat pasien
Riwayat seksual secara menyeluruh – termasuk penilaian jumlah dan
pasangan seksual, serta secara spesifik menggali cara berhubungan (secara oral, anal,
vaginal), apakah pasangan seks memiliki gejala atau pernah didiagnosis dengan IMS
atau terkait dengan sindroma IMS, riwayat Papaniculaou (pap) smear, dan
penggunaan kondom atau metode pencegahan lainnya—riwayat tersebut harus digali
dari wanita dengan servisitis.
Gejala mengarah pada traktus genitalia bagian bawah yang didapat seperti
dysuria, kesulitan berkemih serta frekuensi berkemih dan jika didapati cairan vagina
yang abnormal. Faktor riwayat penyakit dengan keluhan traktus genitalia bagian atas,

3
perlu dicari termasuk nyeri perut bagian bawah atau nyeri pelvis atau kram perut,
nyeri kuadran kanan atas, dan nyeri atau perdarahan saat berhubungan atau penetrasi
saat berhubungan.
Pasien harus ditanyakan secara spesifik tentang riwayat membersihkan organ
kewanitaan dan penggunaan produk intravaginal seperti lubrikan, persiapan terapetik
(terutama penggunaan antijamur) dan deodorant untuk organ genitalia, serta
seluruhnya yang dapat menyebabkan reaksi kimia atau alergi pada mukosa. Informasi
tentang faktor ini dapat membantu untuk semakin menyempitkan diagnosis banding
secara menyeluruh dan mengarahka menuju tatalaksana yang tepat.
b. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala dari servisitis diantaranya discharge vagina yang abnormal
(jumlah yang meningkat, perubahan warna (sering kuning, hijau, atau coklat) atau bau
yang tidak sedap), perdarahan intermenstruasi, dan perdarahan yang muncul setelah
berhubungan atau kontak dengan cara penetrasi seksual lainnya. Namun, banyak
wanita dengan servisitis tidak mengeluhkan adanya gejala, dan jika gejala muncul,
gejalanya tidak khas dan dapat mengindikasikan vaginitis tanpa keterlibatan serviks.
Jika endometritis atau penyakit peradangan pelvis (Pelvic Inflammatory Disease)
terjadi bersamaan dengan servisitis, keluhan yang dapat muncul seperti nyeri perut
bagian bawah atau kram, serta perburukan nyeri saat berhubungan.
Discharge mukopurulen keluar dari kanalis endoservikalis dan perdarahan
yang mudah terjadi adalah tanda yang paling mudah dikenali dari endoservisitis.
Keduanya dapat muncul secara simultan. Ektopi edematosa adalah tanda yang mudah
dikenali, dengan adanya tanda pembengkakan, permukaan mukosa ektropion yang
ireguler. Tanda dari infeksi yang mengenai ektoserviks bergantung pada pathogen
yang meninfeksi. T.vaginalis dapat menyebabkan peradangan erosif dari epitel
ektoserviks, tanda khas yaitu “strawberry cervix” ata colpitis macularis. Proses ini
dapat muncul saat terjadi erupsi epitel, dari ptekie yang kecil hingga perdarahan
punctuate yang besar dengan perubahan mukosa menjadi pucat pada area sekitar.
Infeksi HSV tipe 1 dan tipe 2 pada genitalia dapat menyebabkan servisitis,
terutama pada kasus wanita yang memiliki manifestasi infeksi primer dari HSV-2.

4
Meskipun infeksi primer HSV-2 kebanyakan simptomatis, beberapa wanita (15-20%)
mengalami tanda infeksi primer yang parah yang salah satunya adalah servisitis.
Servisitis pada infeksi ini dikarakteristikan sebagai lesi terkikis dan bersifat
hemoragik, biasanya di epitelium ektoserviks, dan biasanya disertai dengan ulserasi
yang nyata. Manifestasi lainnya dari infeksi HSV-2 primer biasanya jelas, termasuk
lesi herpetic eksternal, manifestasi neurologix (termasuk meningitis aseptik, retensi
urin dan radiculitis lumbosacral), demam, dan limfadenopati inguinal. Servisitis dapat
berulang dengan berulangnya manifestasi dari HSV-2 genitalis, namun bersifat tidak
khas. Penjelasan subklinis bahwa HSV-2 tidak berhubungan secara langsung dengan
servisitis. HSV-1 mungkin juga menyebabkan servisitis sama seperti penjelasan
untuk HSV-2. Namun, manifestasinya biasanya tidak terlalu parah dan biasanya
muncul hanya saat infeksi primer dari HSV-1. Sama seperti herpes genitalis,
penyebab lainnya dari penyakit ulser pada genitalis dapat menyebabkan lesi pada
serviks, termasuk chancre atau ulserasi keras dari sifilis primer dan ulserasi dari ulkus
mole.
Mycoplasma genitalium baru-baru ini dilibatkan sebagai patogen seksual
menular yang menyebabkan servisitis, tetapi prevalesi pasti, insidensi dan riwayat
natural tidak diketahui, masih dalam penelitian. Berbagai kasus yang dilaporkan telah
mengaitkan servisitis denga ninfeksi dengan spesies Streptococcus tertentu, terutama
S.agalactiae (Streptococcus grup B) dan S.pyogenes, tetapi perkiraan tentang
bagaimana hal ini bisa muncul, jika tidak didapatkan suatu hubungan penyebabnya,
begitu juga pendekatan untuk penatalaksanaan agen tersebut jika mereka dicurigai
sebagai etiologi dari servisitis.
Selain dari infeksi yang tercatat sebelumnya, banyak proses peradangan
noninfeksi dan peradangan infeksi sistemik dan trauma local dapat memicu
peradangan sevikal yang dapat muncul sebagai servisitis. Grup yang sebelumya
seperti sindrom Behcet, sarcoidosis, konjungtivitis ligneous, dan tuberculosis. Bahan
yang dapat mengikis sumbatan pada mukosa endoserviks atau yang menyebabkan
iritasi mucositis dapat menjadi tanda sevisitis. Bahan yang biasanya digunakan,
seperti pembersih vagina yang dijual bebas, deodorant organ kewanitaan buatan yang

5
biasanya mengandung detergen yang memiliki bahan surfaktan, yang juga
mengandung berbagai bahan kimia seperti antihistamin dan tepung. Pada suatu
penelitian yang besar pada pekerja seks komersial yang secara acak menggunakan
sponge vagina yang penuh dengan 1 gr nonoxynol (N-9), erosi serviks yang dilihat
melalui kolposkopi lebih banyak terlihat pada penggguna N-9, yang juga lebih mudah
mendapatkan infeksi HIV selama jalannya penelitian, disbanding yang tidak
menggunakan N-9. Hal ini disebabkan karena N-9 telah menunjukkan tidak adanya
manfaat dalam penurunan angka HIV dan infeksi menular seksual (IMS), penggunaan
bahan tersebut tidak lagi direkomendasikan untuk tujuan tersebut.
Walaupun tanda yang tampak jelas dari peradangan endoservikal memiliki
kesamaan dengan chlamydia dan gonorrhea, karena nilai prediktif dari pemeriksaan
serviks individu dari servisitis dapat berbeda-beda, sesuai dengan usia pasien dan
dengan faktor risiko IMS lainnya yang berhubungan. Sebagai contoh, adanya
perdarahan endoservikal yang mudah diinduksi pada wanita usia 16 tahun dengan
riwayat berhubungan yang tidak menggunakan dengan pasangan lelaki barunya
sangat prediktif infeksi chlamydia, angka kejadian dari tanda tersebut jauh lebih
rendah pada infeksi chlamydia jangka panjang pada wanita usia 35 tahun yang
berganti-ganti pasangan.

c. Pemeriksaan laboratorium
1. Pewarnaan gram
Pewarnaan gram dari olesan sekret endoserviks telah digunakan bertahun-
tahun untuk mendukung penegakkan diagnosis servisitis. Namun, karena nilainya
yang tidak tegak, terutama saat mencari infeksi chlamydia, telah berubah-ubah,
dan sensitivitasnya untuk mendeteksi N. gonorrhoeae di serviks hanya 50%. Jika
pemeriksaan ini digunakan, pemeriksa harus menggunakan swab dengan ujung
kapas yang lebar untuk menghilangkan sekret vagina yang ada pada permukaan
serviks sebelum memasukkan swab kapas kecil atau swab dengan ujung dacron
sekitar 2 cm ke dalam kanalis endoserviks, diputar sekali atau dua kali, lalu

6
mengambil dan mengoleskan bahan tersebut pada gelas kaca yang baru untuk
pewarnaan.
Panduan klinis banyak merekomendasikan batas ambang leukosit
polimorfonuklear (PMN) yaitu di 10-30 PMN per lapang pandang dengan daya
tinggi, dengan penghitungan PMN diatas tingkat tersebut akan mendukung
diagnosis servisitis. Sensitifitas pemeriksaan ini meningkat dan spesifitasnya
menurun ketika ambang ini menurun.
2. Pap smear
Meskipun perubahan menuju gambaran radang saat Pap smear
dihubungkan dengan kemungkinan penyakit menular seksual, seperti chlamydia,
gonorrhea, trichomoniasis, dan human papillomavirus, pemeriksaan ini tidak
cukup spesifik untuk mengarahkan terapi empiris untuk pathogen tersebut,
meskipun sebagian dapat menggambarkan dengan segera penyebab dari sevisitis
untuk mendukung terapi empiris. Demikian, pemeriksaan ini tidak
direkomendasikan sebagai sebuah sarana untuk mengevaluasi wanita dengan
servisitis.
3. Mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik dengan jumlah sel PMN (>5-10 per lapang
pandang) pada pemeriksaan mikroskopik dari cairan vagina dihubungkan dengan
peningkatan risiko infeksi chlamydia pada serviks dan gonorrhea, data
selanjutnya dibutuhkan.

d. Pemeriksaan khusus
1. Pemeriksaan Chlamydia
Wanita dengan servisitis sebaiknya diperiksa untuk chlamydia dan
gonorrhea. Salah satu uji diagnostik yang paling sensitive, sebuah nucleic acid
amplification test (NAAT), sebaiknya digunakan jika memungkinkan. NAATs
termasuk polymerase chain reaction (PCR), amplifikasi transkripsi yang
termediasi dan amplifikasi perpindahan untaian. Salah satu teknik ini secara
khusus penting untuk chlamydia, karena sensitivitas NAAT untuk C.trachomatis

7
setidaknya 20% lebih tinggi dari probe DNA yang tidak teramplifikasi, enzyme
immunoassay, dan uji direct flurorescent antibody. Pemeriksaan ini
memperlihatkan hasil yang sama pada darah, mukopus, atau kehamilan, dan
menujukkan spesifitas yang baik (>98%). Infeksi chlamydia di serviks dapat
dideteksi dengan menggunakan bahan spesimen dari pasien berupa swab serviks,
urin pancaran pertama atau cairan vagina.
a. Spesimen swab serviks
Swab atau olesan dapat diperoleh langsung dari serviks, pendekatan ini bisa
berguna jika pada pemeriksaan pelvis menunjukkan adanya indikasi lain,
contohnya Pap smear atau penilaian untuk PID. Namun, secara umum
pemeriksa tidak perlu melakukan pemeriksaan speculum untuk mencari swab
serviks untuk NAAT , karena sensitivitas yang tinggi dari NAAT yang
dilakukan pada spesimen urin atau swab vagina.
b. Sepsimen urin pancaran pertama
Sepsimen urin pancaran pertama (yang dimaksudkan sebagai 10-15 ml
pancaran urin pertama) dapat dilakukan. Pemeriksaan ini tidak hanya
membantu untuk tidak diperlukannya pemeriksaan pelvis, tetapi pemeriksaan
ini juga mendeteksi infeksi chlamydia yang muncul di urethra waita dan tidak
di serviks (10-15% dari seluruh infeksi traktus genitalis bagian bawah pada
wanita). Wanita yang melakukan pemeriksaan ini harus diperintahkan untuk
tidak membersihkan area periurethra sebelumnya saat berkemih, dan tidak
memberikan sampe urin pancaran tengah. (pancaran tengah lebih umum
dilakukan pada pemeriksaan kultur urin untuk mengevaluasi sistitis.)
c. Spesimen cairan vagina
Swab dari cairan vagina bisa digunakan. Spesimen ini dikumpulkan pemeriksa
yang melakukan pemeriksaan, atau terkadang oleh pasien, walaupun saat ini
tidak semua NAATs dianjurkan oleh FDA untuk specimen swab vagina pada
pasien.

8
2. Pemeriksaan Gonore
Meskipun NAAT dapat digunakan untuk mendiagnosis infeksi gonokokal
di serviks, sensitivitas kultur tradisional relatif serupa dengan NAAT, yaitu tidak
memiliki peningkatan sensitivitas yang sama untuk patogen ini seperti yang
dimiliki untuk C. trachomatis. Kultur terutama sesuai untuk dilakukan bila
terdapat kekhawatiran terkait kemungkinan N. gonorrhea yang resisten terhadap
fluorokuinolon (misal wanita yang tinggal di Hawaii atau California, riwayat
bepergian diluar US saat kerangka waktu infeksi diperoleh, atau kontak seksual
dengan pria biseksual). Perlu diketahui bahwa beberapa NAAT memiliki
pemeriksaan kombinasi untuk klamidia dan gonore dengan penggunaan spesimen
tunggal.
3. Pemeriksaan lain
Pemeriksaan cairan vagina harus dilakukan untuk menilai keterlibatan
bakterial vaginosis karena terapi pada infeksi yang terjadi bersamaan dapat
meningkatkan resolusi servisitis. Adanya 3 dari 4 kriteria Amsel mengarahkan
diagnosis bakterial vaginosis: (1) sekret vagina homogen (2) pH cairan vagina
>4,5, (3) clue cell yang terdiri dari 20% total sel epitel vagina yang terlihat dengan
pembesaran 100x pada mikroskop saline, dan (4) bau amis (fishy odor) dengan
penambahan kalium hidroksida (KOH). Bila mikroskop tidak tersedia,
pemeriksaan pH cairan vagina memberikan informasi yang berguna; pH vagina
yang tinggi merupakan indikator yang paling sensitif dari keempat kriteria Amsel
dalam mendiagnosis bakterial vaginosis: pH normal (<4,5) membuat diagnosis
bakterial vaginosis menjadi kurang memungkinkan. Mikroskop saline juga
memberikan kesempatan untuk menilai trikomonas motil dan PMN. Trikomonas
juga dapat diidentifikasi dengan tes diagnostik berbasis antigen cepat (rapid
antigen-based) yang baru untuk T. vaginalis.
Pemeriksaan lebih lanjut harus ditentukan oleh skenario klinis yang
spesifik. Misal, apabila terdapat ulkus pada serviks, tes spesifik untuk HSV
diindikasikan dan dapat meliputi pemeriksaan langsung (kultur atau deteksi
antigen (PCR) atau pemeriksaan serologi. Bila riwayat seksual dan sosial

9
mengindikasikan bahwa wanita memiliki peningkatan risiko sifilis (misal
berhubungan seksual dengan pria yang dilaporkan memiliki hubungan seksual
dengan pria lain, menukar aktivitas seksual dengan obat-obatan atau uang),
skrining serologi harus dilakukan, dan apabila tersedia dilakukan pemeriksaan
mikroskop lapang gelap langsung pada eksudat lesi. Tidak ada tes untuk M.
genitalium yang tersedia secara komersial saat ini.

E. Pemeriksaan Khusus
Semua wanita dengan servisitis memerlukan pemeriksaan pelvis untuk
menyingkirkan kemungkinan penyakit radang panggung (pelvic inflammatory disease/
PID) karena servisitis berhubungan dengan peningkatan risiko endometritis dan PID
simtomatik. PID harus didiagnosis bila terdapat nyeri goyang serviks atau uterus atau
terdapat nyeri adneksa; bila PID dicurigai, pasien harus di terapi dengan regimen
antibiotik yang sesuai (Lihat Bab 8). Hal lain yang penting adalah regimen antibiotik
dosis tunggal yang direkomendasikan untuk tatalaksana servisitis tidak cukup untuk
tatalaksana PID.

Diagnosis Banding
Karena servisitis merupakan sindrom yang ditentukan secara klinis, diagnosis
banding dibuat berdasarkan etiologi. Seperti yang disebutkan sebelumnya, penyebabnya
dapat bersifat infeksius, dengan predominasi STD (penyakit menular seksual) atau
noninfeksius.

Komplikasi
Servisitis berhubungan dengan tiga konsekuensi mayor. Pertama, hal tersebut
merupakan marker adanya inflamasi dan potensi infeksi pada traktus genital atas. Hal ini
dapat terjadi dalam bentuk PID atau sebagai silent inflammation pada lapisan uterus
(endometritis). Kedua, kejadian servisitis pada saat kehamilan berhubungan dengan
peningkatan risiko luaran kehamilan yang buruk, bahkan ketika tidak ada patogen
spesifik yang terdeteksi. Ketiga, servisitis mempengaruhi dinamika transmisi HIV.

10
Terjadi peningkatan risiko infeksi HIV, kemungkinan dengan merekrut limfosit yang
rentan ke lokasi inflamasi dan pada wanita yang telah terinfeksi dengan HIV, terjadi
peningkatan jumlah HIV di serviks. Secara bersamaan, tatalaksana servisitis pada wanita
dengan infeksi HIV mengakibatkan pengurangan jumlah HIV di serviks. Observasi ini
memberikan rasionalisasi yang menarik untuk dilakukan skrining dan tatalaksana
servisitis pada wanita dengan infeksi HIV.

Tatalaksana
Pada tabel 10-1 dan 10-2, terdapat pendekatan mengenai manajemen servisitis
dan tatalaksana berdasarkan etiologi mikroba yang dicurigai atau terdokumentasi. Terapi
presumtif yang ditujukan terhadap C. trachomatis harus dilakukan karena terdapat
prevalensi STD yang tinggi pada wanita muda di US. Pendekatan yang meliputi
kemungkinan infeksi dengan N. gonorrhea masih belum jelas. Wanita dengan servisitis
yang jatuh dalam subgrup dengan kemungkinan tinggi infeksi gonokokal harus di terapi
secara empiris; subgrup ini meliputi remaja di kebanyakan daerah dalam kota di US.
Terapi presumtif untuk gonore juga harus dipertimbangkan bila kemungkinan
kembalinya wanita untuk terapi (dengan tes diagnostik yang menunjukkan hasil positif)
dianggap rendah. Pertimbangan lain yang mendukung terapi empiris meliputi laporan
perilaku berisiko yang berhubungan dengan STD (terutama laporan terkait pasangan
seksual multipel atau pasangan seksual baru 60 hari sebelumnya) dan riwayat STD yang
baru terjadi (terutama infeksi klamidia atau gonokokal pada tahun sebelumnya). Infeksi
C. trachomatis berulang sangat umum terjadi pada wanita, yang bervariasi dari 8% hingga
25% pada beberapa studi, dan kemungkinan berhubungan secara predominan dengan
dimulainya kembali aktivitas seksual yang tidak terproteksi dengan pasangan yang tidak
di terapi. Rekurensi gonore kemungkinan memiliki tingkat yang serupa. Untuk alasan ini,
penting untuk menatalaksana pasangan seksual dari wanita untuk infeksi apapun yang
terdeteksi atau di terapi secara presumtif pada wanita (yang umumnya berupa klamidia
dan terkadang gonore).
Terapi yang sesuai untuk servisitis – terutama bila disebabkan oleh C. trachomatis
atau N. gonorrhea –penting pada wanita dengan infeksi HIV karena setidaknya satu studi

11
kecil menunjukkan penurunan jumlah HIV-1 pada mukosa serviks setelah terapi empiris
servisitis yang ditujukan terhadap infeksi klamidia dan gonokokal. Hal ini kemungkinan
mengurangi risiko wanita dalam mentransmisikan HIV-1 ke pasangan seksual.

Tabel 10-1 Pertimbangan umum dalam manajemen pasien dengan servisitis

Evaluasi riwayat herpes genital, vaginitis, atau penggunaan sediaan intravaginal yang
iritatif (spermisida, deodoran, atau pembersih kimia).
Semua wanita harus menjalani tes diagnostik untuk Chlamydia trachomatis dan
Neisseria gonorrhea dengan menggunakan pemeriksaan yang paling sensitif yang
tersedia (yang secara ideal adalah nucleic acid amplification test).
Berikan terapi empiris:
 Kebanyakan wanita harus di terapi untuk infeksi klamidia.
 Pertimbangkan terapi untuk infeksi gonokokal berdasarkan usia, risiko, dan
prevalensi subgrup lokal atau pasien.
 Terapi penyebab bersamaan dari semua vaginitis secara tepat.
 Eliminasi penggunaan produk intravaginal yang dapat mengiritasi mukosa
servikovaginal (pembersih, dll).
Evaluasi (secara ideal) dan terapi (secara presumtif) pasangan seksual dari orang
menerima terapi.

12
Tabel 10-2. Terapi yang disarankan untuk kebanyakan penyebab servisitis.

Etiologi Manajemen Komentar


Chlamydia trachomatis Azitromisin 1 g PO (dosis Minoritas wanita yang
tunggal) terinfeksi memiliki tanda
atau servisitis.
Doksisiklin 2x100 mg PO NAAT urin memiliki
selama 7 hari sensitivitas tinggi untuk
digunakan sebagai alat
diagnostik infeksi serviks.
Neisseria gonorrhea Dosis tunggal dari: Availabilitas cefixime oral
 Cefixime 400 mg PO menjadi genting dan
 Ciprofloxacin 500 membuat banyak ahli
mg PO mengadvokasikan
 Levofloxacin 250 penggunaan sefalosporin
mg PO oral; studi efikasi yang
 Ceftriaxone 125 mg formal sedang dilakukan.
IM Resistensi fluorokuinolon
Alternatif: meningkat secara cepat pada
 Cefpodoxime 400 N. gonorrhea; sehingga
mg PO dapat merupakan terapi
 Cefuroxime axetil 1 empirik yang kurang tepat
g PO (lihat teks untuk diskusi).
 Spectinomycin 2 g Minoritas wanita yang
IM terinfeksi memiliki tanda
servisitis.
NAAT urin memiliki
sensitivitas tinggi untuk
diagnosis infeksi servikal.
Trichomonas vaginalis Metronidazole 2 g PO (dosis
tunggal)
atau
Tinidazole 2 g PO (dosis
tunggal)
atau
Metronidazole 2x500 mg PO
selama 7 hari
Herpes simplex virus (HSV) Salah satu agen dibawah Infeksi primer dengan HSV-
diberikan secara oral selama 2 dapat mengakibatkan
7-10 hari: servisitis yang erosif dan
 Asiklovir 3x400 mg hemoragik.
per hari
 Famciclovir 3x250
mg per hari
 Valacyclovir 2x1 g
per hari

13
a
NAAT, nucleic acid amplification test; termasuk tes polymerase chain reaction,
amplifikasi yang dimediasi transkripsi, dan pemeriksaan strand displacement.
b
Fluorokuinolon tidak direkomendasikan untuk digunakan pada pasien di California atau
Hawaii, atau pada pria yang berhubungan seksual dengan pria karena peningkatan
insidens N. gonorrhea yang resisten terhadap fluorokuinolon pada populasi ini.

M. genitalium tampaknya lebih sensitif terhadap makrolid dibandingkan dengan


antibiotik tetrasiklin, namun studi lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi efikasi
agen-agen ini dalam menyembuhkan infeksi traktus genital bawah dengan organisme ini.
M. genitalium sulit untuk dikultur dan hingga saat ini studi klinis bergantung pada
pemeriksaan PCR untuk mendeteksinya. Implikasi hal ini dalam menentukan
kesembuhan mikrobiologi pada studi-studi tersebut masih belum jelas.
Pendekatan pada terapi servisitis dimana tidak ada STD yang teridentifikasi masih
belum jelas. Bukti yang langka mengindikasikan bahwa wanita harus dievaluasi untuk
bakterial vaginosis pada saat mereka datang dengan servisitis, dan kondisi yang
bersamaan harus di terapi bila ada. Diantara 51 wanita dengan servisitis dan bakterial
vaginosis yang menerima doksisiklin dan ofloxacin sebagai terapi empiris untuk klamidia
dan gonore, yang kemudian dirandomisasi untuk menerima metronidazole intravaginal
atau plasebo, wanita yang menerima metronidazole memiliki tingkat resolusi servisitis
yang lebih tinggi pada 2 minggu dan 4 minggu pasca terapi. Wanita dengan bakterial
vaginosis yang sembuh lebih mungkin untuk mengalami resolusi servisitis pada waktu 2
mimggu, terlepas dari regimen yang mereka terima.
Manajemen lebih lanjut pada servisitis tanpa adanya peran STD atau bakterial
vaginosis yang jelas bersifat empirik, dan diperkuat dengan bukti yang sedikit, karena
tidak ada data yang terpublikasi yang membahas isu ini. Secara pasti, penggunaan produk
intravagina yang berpotensi merusak mukosa servikovaginal, meliputi pembersihan
(douche), spermisida, lubrikan, dan produk lain harus dihentikan. Pendekatan terapeutik
yang digunakan dan secara anekdot berhasil meliputi penggunaan antibiotik spektrum
luas dengan perpanjangan waktu atau terapi ablasi, namun keduanya tidak dapat
direkomendasikan berdasarkan bukti yang tersedia saat ini.

14
Kapan waktu yang tepat untuk merujuk ke spesialis
Mayoritas kasus servisitis bersifat nonkomplikata; kekhawatiran mayor pada
kebanyakan situasi klinis adalah penilaian PID pada pasien yang terlibat. Akan tetapi,
sebagian wanita mengalami servisitis yang persisten setelah diberikan terapi yang
ditujukan terhadap klamidia, gonore, trikomoniasis, dan bakterial vaginosis. Meskipun
data terkait kondisi ini sangat terbatas, penyebab yang dapat diidentifikasi umumnya
tidak jelas, dan terapi yang berkepanjangan dengan antibiotik tidak diindikasikan. Ketika
terdapat banyak sekret endoservikal dan wanita mengalami gejala akibat kondisi tersebut,
beberapa ginekologis menggunakan cryotherapy untuk abalasi pada daerah yang terlibat,
terutama bila disertai dengan ektopi. Rujukan ke ginekologis pada kasus-kasus tersebut
harus dipertimbangkan.

Prognosis
Servisitis yang berhubungan dengan infeksi yang berkaitan dengan STD
umumnya sembuh secara komplit ketika terapi antibiotik yang diberikan ditujukan
terhadap patogen penyebab. Akan tetapi, tersedia studi yang relatif sedikit terkait
perjalanan alami kondisi ini dan servisitis persisten terjadi pada minoritas wanita yang
terlibat. Insidens servisitis persisten tidak diketahui, namun secara anekdotal
kemungkinan sekitar 5% atau kurang.

15
16