Anda di halaman 1dari 30

Disusun oleh : Pembimbing :

Elsa Hewuni, S.Ked drg. Heinz Frick Simanjuntak,


Corina Novita Sari,S.Ked Sp.BM
Rosariala Dyta, S.Ked

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KESEHATAN GIGI DAN MULUT
RSUD dr. DORIS SYLVANUS PALANGKA RAYA
2019
PENDAHULUAN
Suatu ruda paksa yang
mengenai wajah dan jaringan
sekitarnya yang menyebabkan
hilangnya kontinuitas tulang-
FRAKTUR tulang wajah.
MAKSILOFASIALIS

Mengakibatkan jejas dan


kegawatan dengan variasi :
memar, ekskoriasi, vulnus pada
jaringan lunak, hingga fraktur
ANATOMI MAKSILOFASIAL
Maksilofasial dibagi menjadi tiga
bagian :

1. Sepertiga atas wajah : os. Frontalis,


regio supra orbita dan sinus frontalis

2. Sepertiga tengah : os maxilla, os.


Zigomaticus, os. Lacrimalis, os nasal,
os palatina, concha nasalis inferior dan
os vomer

3. Sepertiga bawah : Os mandibula


EPIDEMIOLOGI

Ø 90% kematian di dunia akibat cidera terjadi ni


negara berkembang. Di Indonesia, pasien fraktur
maksilofasialis sebanyak 81,37 % (pria)

Ø Persentase terbanyak etiologi pada dewasa :


kecelakaan lalu lintas. Pada anak-anak : olahraga
FRAKTUR FASIAL BERDASARKAN LETAK ANATOMI
KLASIFIKASI
FRAKTUR
MAKSILOFASIALIS
FRAKTUR NASAL FRAKTUR MAXILA FRAKTUR ZYGOMATIKAMAKSILA

FRAKTUR NASOORTBITOETHMOID FRAKTUR MANDIBULA


Fraktur
Nasal
Tipe I : Fraktur unilateral ataupun bilateral tanpa
adanya deviasi garis tengah

Tipe II : Fraktur unilateral atau bilateral dengan


deviasi garis tengah
Tipe III : Pecahnya tulang nasal bilateral dan
septum yang bengkok dengan penopang septal
yang utuh .
Tipe IV : Fraktur unilateral atau bilateral dengan
deviasi berat atau rusaknya garis tengah hidung

Tipe V : Cedera berat meliputi laserasi dan


trauma dari jaringan lunak, saddling dari hidung,
cedera terbuka, dan robeknya jaringan.
FRAKTUR NASAL
Fraktur Nasoorbitoethmoid I. MCT menempel pada sebuah
fragmen sentral yang besar.
(NOE)
II. MCT menempel pada fragmen
sentral atau besar yang telah pecah
namun dapat diatasi atau
memungkinkan osteosynthesis.

III. MCT menempel pada sentral


fragmen yang pecah dan tidak
dapat diatasi atau fragmen terlalu
kecil untuk memungkinkan terjadinya
osteosynthesis atau telah terlepas
total.
Fraktur Zygomatikomaksila

•Rasa sakit di pipi atas saat pergerakan rahang.


•Tulang pipi yang datar dan nyeri saat palpasi.
•Pendarahan subkonjungtiva juga bisa ditemukan.
•Parestesi pada lateral hidung dan bibir bagian atas
disebakan kelainan pada nervus infraorbital.
•Diplopia jika melirik mata ke atas karena keruskan
pada muskulus rektus inferior.
•Ekimosis intraoral atau destruksi pada gusi.
Fraktur Maksila &
LeFort

Le Fort I
Le Fort II
Le Fort III
FRAKTUR LE FORT I
•Merupakan jenis fraktur yang paling sering
terjadi,
•Fraktur Le Fort I meliputi fraktur horizontal
bagian bawah antara maxilla dan
palatum/arkus alveolar kompleks.
Menyebabkan terpisahnya prosesus alveolaris
dan palatum durum.
•Fraktur ini menyebabkan rahang atas
mengalami pergerakan yang disebut floating
jaw.
FRAKTUR LE FORT II
•Edema pada wajah, edema di kedua
periorbital, disertai juga dengan ekimosis,
yang terlihat seperti racoon eye.
•Perdarahan subkonjungtiva dan hipoesthesia
di nervus infraorbital
•Maloklusi
•Kemungkinan terjadinya deformitas pada saat
palpasi di area infraorbital dan sutura
nasofrontal.
•Keluarnya cairan cerebrospinal dan epistaksis
dapat ditemukan
TESTING FOR MOBILITY OF THE CENTRAL MIDFACE
FRAKTUR LE FORT III
•Edema wajah yang masif,
•ekimosis periorbital,
•remuknya wajah serta adanya mobilitas
tulang zygomatikomaksila,
•pergerakan gigi, palatum durum,
epistaksis, keluar cairan serebrospinal
pada hidung.
•Komplikasi : keluarnya cairan otak melalui
atap ethmoid dan lamina cribiformis.
Metode untuk fraktur Le Fort
Jika gerak teraba di nasal
brigde(A), dapat terjadi fraktur
Le Fort II atau III.
Jika gerakan juga terdeteksi
pada zygoma (B), dapat
terjadi fraktur Le Fort III.
Jika gerakan tidak terdeteksi di
kedua titik, tetapi rahang atas
longgar, fraktur Le Fort I.
Fraktur Mandibula
Dibagi menjadi regio: badan (corpus), simfisis, sudut
(angulus), ramus, prosesus koroideus, prosesus •Ekimosis dan
kondilus, prosesus alveolar. pembengkakan.
Fraktur yang terjadi dapat pada satu, dua atau lebih •Laserasi jaringan lunak
pada regio mandibula •Pasien tidak bisa
menutup geligi anterior,
•Pasien sering kelihatan
menyangga rahang
bawah dengan tangan.
•Jika fraktur mengenai
saraf mandibula maka
bibir bawah akan
mengalami mati rasa.
FRAKTUR MANDIBULA
•Ekimosis dan pembengkakan.
•Laserasi jaringan lunak
•Pasien tidak bisa menutup geligi
anterior,
•Pasien sering kelihatan menyangga
rahang bawah dengan tangan.
•Jika fraktur mengenai saraf
mandibula maka bibir bawah akan
mengalami mati rasa.
MANIFESTASI KLINIS FRAKTUR MAKSILOFASIAL
•Dislokasi
•Pergerakan abnormal pada •Laserasi à pada daerah gusi,
sisi fraktur mukosa mulut dan daerah
•Nyeri pada sisi fraktur sekitar fraktur

•Pembengkakan dan memar •Diskolorisasi


pada sisi fraktur •Pada fraktur orbita à
•Krepitasi penglihatan kabur atau ganda,
penurunan pergerakan bola
mata dan penurunan visus.
ANAMNESIS DIAGNOSIS
•Bagaimana mekanisme cedera?
•Apakah pasien kehilangan kesadaran atau mengalami perubahan status mental? Jika
demikian berapa lama?
•Apakah ada gangguan penglihatan, kilatan cahaya, fotopobia, diplopobia,
pandangan kabur, nyeri, ada perubahan gerakan mata?
•Apakah pasien memiliki kesulitan bernafas melalui hidung ?
•Manifestasi perdarahan seperti keluar darah dari hidung atau telinga?
•Apakah pasien mengalami kesulitan membuka atau menutup mulut
•Apakah pasien ada merasakan seperti kedudukan gigi tidak normal ?
PEMERIKSAAN FISIK
Kepala dan wajah : lecet, bengkak, ecchymosis, krepitasi,
perdarahan.
Mata : exophthalmo, enophthalmos, ketajaman visual, kelainan
gerakan okular dan ukuran pupil, bentuk, dan reaksi terhadap
cahaya, Battle's sign, Raccoon's sign.
Hidung : meraba fraktur dan krepitasi, ecchymosis, epistaksis,
rhinnorhea
Septum hidung : hematoma, laserasi, fraktur, atau dislokasi
Gigi dan mulut : mobilitas, fraktur, atau maloklusi
Lidah : luka intraoral, ecchymosis, atau bengkak
Telinga : defisit pendengaran
PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
•untuk memperjelas suatu diagnosa klinis serta untuk
mengetahui letak fraktur.
•Pemeriksaan radiografis juga dapat memperlihatkan
fraktur dari sudut dan perspektif yang berbeda.
à panoramic view, postero-anterior view, lateral
oblique view. Computed Tomography (CT) scans
TATALAKSANA
•Primary survey (ABCD)
Manajemen Umum
A : Airway maintenance with cervical spine control/ protection
B : Breathing and adequate ventilation
C : Circulation with control of hemorrhage
D : Disability neurologic examination
E: Exposure/ enviromental control
PEMBEDAHAN

•Prinsip dasar pada bedah yang harus dipersiapkan sebagai penunjuk


untuk perawatan fraktur maksilofasial ialah : reduksi fraktur
(mengembalikan segmen-segmen tulang pada lokasi anatomi semula)
dan fiksasi segmen-segmen tulang untuk meng-imobilisasi segmen-
segmen pada lokasi fraktur.
Pada fraktur maksila -> fiksasi intermaksilar menggunakan kawat baja atau
mini-plate sesuai garis fraktur
•Pada fraktur zigoma -> intervensi tidak selalu diperlukan
•Indikasi operasi pada patah tulang zigoma : fraktur dengan deformitas
disertai diplopia, menyebabkan hiperaestesi, trismus.
KESIMPULAN
•Fraktur maksilofasial adalah fraktur pada tulang-tulang pembentuk
wajah akibat langsung dari trauma.
•Fraktur maksilofasial melibatkan tulang – tulang penyusun wajah atau
tengkorak bagian depan dan bisa terjadi hanya pada satu tempat
ataupun kompleks.
•Tulang-tulang maksilofasial terdiri dari tulang-tulang pipih dan
menonjol seperti tulang nasal, zigoma, maksila dan mandibula
sehingga lebih rentan terkena trauma dan terjadi fraktur.
•Diagnosa klinis fraktur maksilofasial ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang.
Penatalaksanaan fraktur maksilofasial memiliki prinsip penatalaksaan
yang sama dengan penatalaksanaan kasus trauma pada umumnya.
Penanganan dimulai dengan penilaian awal pada primary survey,
resusitasi, secondary survey, dan terapi definitif.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat R, Karnadiharja W, Prasetyono TOH, Rudiman R. De Jong. 2010:1083.
2. Putra ST, Asmoro SS, Sliman E, et al. Kapita Selekta Kedokteran. 4th ed. Jakarta: Media Aesculapius; 2014.
3. Snell RS. Clinical Anatomy By Regions. 2011;4:754.
4. Guruprasad Y, Hemavathy O, Giraddi G, Shetty J. An assessment of etiological spectrum and injury
characteristics among maxillofacial trauma patients of Government dental college and Research Institute,
Bangalore. J Nat Sci Biol Med. 2014.
5. Arslan ED, Solakoglu AG, Et A. Assessment of maxillofacial trauma in emergency department. World J Emerg
Surg. 2014;22(January 2014):1-7.
6. Nguyen M, Koshy J, Hollier L. Pearls of Nasoorbitoethmoid Trauma Management. Semin Plast Surg. 2010.
7. Markowitz BL, Manson PN, Sargent L, et al. Management of the medial canthal tendon in nasoethmoid
orbital fractures: The importance of the central fragment in classification and treatment. Plast Reconstr Surg.
1991.
8. Tollefson TT. Nasoorbitoethmoid Fractures. Dep Otolaryngol Neck Surg. 2012:339-346.
9. Meslemani D, Kellman RM. Zygomaticomaxillary Complex Fractures. Arch Facial Plast Surg. 2012.
10. Samuel J Haraldson. Nasal Fracture. Am Acad Emerg Med. 2018.
11. Kelley B, Downey C, Stal S. Evaluation and Reduction of Nasal Trauma. Semin Plast Surg.
2010;24(04):339-347.
12. Gartshore L. A brief account of the life of René Le Fort. Br J Oral Maxillofac Surg. 2010.
13. Sanchez T, Stewart D, Walvick M, Swischuk L. Skull fracture vs. accessory sutures: how can we
tell the difference? Emerg Radiol. 2010.
14. Pickrell BB, Serebrakian AT, Maricevich RS. Mandible Fractures. Semin Plast Surg.
2017;31(2):100-107.
15. Deliverska EG, Stefanov LP. Maxillofacial Trauma Management in Polytraumatized Patients –
the Use of Advanced Trauma Life Support (Atls) Principles. J IMAB - Annu Proceeding (Scientific Pap.
2013;19(2):282-285.
16. Wijayahadi R. Trauma maksilofasial diagnosis dan penatalaksanaannya. 2006.
17. D.S. E, Yusuf M. Penatalaksanaan Fraktur Maksilofasial Dengan Menggunakan Mini Plat.
Surabaya; 2015.