Anda di halaman 1dari 3

9.

1 Pengantar

Sistem dan prestasi fiskal satu negara harus dipelajari dalam konteks sejarahnya. Antara tahun 1951-
1958 sistem fiskal Indonesia sangat tergantung pada sumber penerimaan yang berasal dari perdagangan
internasional. Semerjak akhir 1950an, penerimaan dari sumber-sumber ini sebagai persentase
penerimaan total mulai menurun sebagai akibat dari makin memburuknya situasi pasardunia bagi karet
dan barang-barang lainnya, dan juga sebagai akibat dari ditetapkannya kurs devisa yang terlalu rendah
sehingga mendorong lebih banyak penyelundupan barang -barang ekspor ke Singapura dan tempat-
tempat lain. Sumber-sumber penerimaan dalam negeri ternyata tidak mungkin mengimbangi penurunan
penerimaan ini sehingga Penerintah terpaksa melaksanakan kebjaksanaan anggaran belanja defisit untuk
membiayai pengeluaran-pengeluaran yang diperlukan. Keadaan ini telah mengakibatkan timbulnya
inflasi kumulatif, dan selanjutnya berakhir dengan kehancuran ekonomi pada akhir Orde Lama.

Pemerintah Orde Baru (pemerintahan Soeharto) telah menentukan beberapa kebijaksanaan di bidang
anggaran belanja dengan tujuan mempertahankan stabilitas proses pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi. Tindakan-tindakan ini pada dasarnya adalah sbb.:

1. Anggaran belanja dipertahankan agar seimbang dalam arti bahwa pengeluaran total tidak melebihi
penerimaan total yang berasal dari sumber dalam negeri maupun sumber dari luar negeri, termasuk
bantuan luar negeri.

2.Tabungan pemerintah yang diartikan sebagai penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin
diusahakan meningkat dari waktu ke waktu dengan tujuan agar mampu menggeser secara berangsur-
angsur bantuan luar negeri dan akhinya menghilangkan ketergantungan terhadapnya sebagai sumber
pembiayaan pembangunan.

3.Basis perpajakan diusahakan diperluas secara berangsur-angsur guna menghindari pengalaman yang
kurang menyenangkan di tahun 1959-60. Sasaran ini dicapai dengan cara mengintensifkan penaksiran
pajak dan prosedur pengumpulannya.

4.Prioritas harus diberikan kepada pengeluaran-pengeluaran


produktifpembangunan,sedangkanpengeluaran-pengeluaran rutin dibatasi. Demikian juga subsidi
kepada perusahaan- perusahaan negara dibatasi dan perusahaan-perusahaan inididorong agar mampu
mengembangkan sumberkeuangannya sendiri.

5.Kebijaksanaan anggaran diarahkan pada sasaran untuk mendorong pemanfaatan secara maksimal
sumber-sumber dalam negeri, termasuk tenaga kerja dalam negeri, untuk mengembangkan produksi
dalam negeri. Dalam hal ini, para produsen dalam negeri diberi rangsangan-rangsangan fiskal agar lebih
banyak menggunakan teknologi produksi yang padat karya, dan kalau perlu juga diberikan proteksi
terhadap persaingan barang luar negeri.

Sasaran kebijaksanaan seperti ini sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai oleh pemerintah-pemerintah
di negara-negara yang sedang berkembang lainnya yang ingin mencapai stabilitas pertumbuhan ekonomi
melalui kebijaksanaan fiskal.
9:9 Kebijakan Perpajakan dan Pengeluaran Pemerintah

Sebagaimana kita ketahui bahwa anggaran belanja pemerintah (dan anggaran untuk lembaga sosial)
berbeda dengan anggaran belanja rumah tangga pribadi. Kalau dalam anggaran untun rumah tangga
pribadi pertama-tama ditentukan penerimaan rumah tangga tersebut sebagai dasar untuk menentukan
anggaran pengeluarannya, maka keadaan sebaliknya berlaku untuk anggaran rumah tangga pemerintah
dan lembaga sosial, di mana pertama tama ditentukan jumlah pengeluaran yang diperlukan sebagai
dasar untuk menentukan berapa besar dan dari mana saja beban belania tersebut bersumber. Dari sejak
awal, katakanlah pada jaman raja. raja dahulu, setelah menentukan (kalau dibuat anggaran) jumlah
pengeluaran pemerintah, sumber pertama yang terbayang adalah dari pajak. Hanya setelah
pemerintahan modern, baru terpikirkan sumber dana lain, seperti dari mencetak uang, dari pinjaman
dalam negeri, dari pinjaman luar negeri dan sebagainya. Dalam tulisan ini, sebagaimana biasa dijumpai
dalam literatur ekonomi makro, diumpamakan bahwa dana yang bersumber dari pajak cukup, dan hanya
cukup, tidak lebih dan tidakkurang, untuk beban pengeluaran pemerintah. Dengan kata lain
diumpamakan terjadi anggaran belanja seimbang. Baik pengeluaran pemerintah maupun pajak,
keduanya mempunyai pengaruh terhadap penghasilan nasional.

Pengaruh Pengeluaran Pemerintah terhadap Penghasilan nasional. Pengeluaran pemerintah rutin dan
pembangunan dibayarkan kepadamasyarakat (pegawai dan pelaksana pembangunan). Mereka
menerima tambahan pendapatan. Dari tambahan pendapatan tersebut mereka cenderung untuk
melakukan tambahan konsumsi dan tambahan tabungan. Kecenderungan tambahan konsumsinya
disebut MPC (marginal propensity to consume) dan kecenderungan tambahan untuk menabung disebut
MPS (marginal propnsity to sarve). MPC biasanya dinyatakan dalam proporsi terhadap penghasilan (Y),
demikian juga MPs dinyatakan dalam proporsi terhadap penghasilan (Y), sehingga MPC+MPS- 1 kali
besarnya penghasilan. Tambahan konsumsi yang dilakukan oleh orang pertama tadi diterima oleh orang
lain kepada siapa konsumsi tersebut dilakukan (orang ke dua). Orang ke dua ini, karena menerima
tambahan pendapatan, juga cenderung melakukan tambahan konsunsi dan tambahan tabungan.
Tambahan konsumsinya merupakan tambahan pendapatan bagi yang menerimanya (orang ke tiga), yang
karena ada tambahan pendapatan, juga cenderung untuk melakukan tambahan konsumsi dan tambahan
tabungan. Begitu selanjutnya proses berjalan sampai jumlah yang tidak terhingga. Jumlah kenaikan
penghasilan masyarakat sebagai akibat dari adanya pengeluaran pemerintah adalah jumlah pengeluaran
pemerintah itu dikalikan dengan faktor pengganda. Dengan mengumpamakan bahwa MPc dan MPS
untuk setiap orang yang dikatakan di atas sama (orang ke 1, 2, 3,...), maka dengan memakai manipulasi
aljabar dasar diperoleh faktor pengganda sebesar k- 1MPS. Kalau setiap orang yang menerima tambahan
penghasilan mempunyai kecenderungan untuk menabung sebesar 20 persen dari tambahan
penghasilannya, maka k- 1/0,20-5.

Pengaruh Pajak terhadap Penghasilan nasional. Untuk membiayai pengeluarannya, pemerintah menarik
pajak dari rakyat. Pajak ini mempunyai sifat mengurangi pendapatan dari mereka yang membayar pajak
itu (orang 1). Karena pendapatannya berkurang, mereka cenderung mengurangi konsumsi (sebesar MPC
kali berkurangnya penghasilan), dan mereka cenderung untuk mengurangi menabung (sebesar MPS kali
berkurangnya penghasilan), yang mempunyai akibat lanjutan terhadap mereka yang terkena
pengurangan penghasilan. Demikian prosesnya berjalan, sama seperti logika pada pengeluaran
pemerintah, sampai pada orang yang ke tidak terhingga, jumlah penghasilan masyarakat berkurang
karena ada pajak adalah sebesar pajak itu dikalikan dengan faktor pengganda. Dengan perumpamaan
yang sama seperti pada pengeluaran pemerintah, faktor penggandanya dapat diperoleh dengan
manipulasi aljabar dasar sebesar k --(1/MPS-1). Kalau setiap orang yang penghasilan berkurang sebesar
tambahan pajak, mempunyai kecenderungan untuk mengurangi menabung sebesar 20 persen dari
jumlah pengurangan penghasilannya, maka kuntuk pajak --(1/0,20-1)-4.

Pengganda untuk Anggaran Berimbang. Oleh karena dalam anggaran berimbang, contoh kita di atas,
jumlah pengeluaran pemerintah sama dengan jumlah pajak, maka akibat dari anggaran belanja yang
seimbang terhadap penghasilan nasional adalah: (Jumlah kenaikan penghasilan nasional karena
pengeluaran pemerintah) dikurangi (jumlah pengurangan penghasilan nasional karena adanya pajak).
Karena yang pertama adalah sebesar (I/MPS) kali jumlah pengeluaran pemerintah, dan yang disebut
belakangan adalah (1MPS - 1), maka tambahan penghasilan neto karena anggaran seimbang adalah
(1/MPS)-(1MPS -1) -1 kali anggaran berimbang tersebut. Dengan kata lain faktor pengganda untuk
anggaran berimbang adalah (+1).

Tabungan Pemerintah dan Pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi satu negara dapat dibiayai
oleh sumber-sumber dari dalam negeri dan dari luar negeri. Sumber pembiayaan pembangunan
ekonomi dari dalam negeri dapat berupa tabungan perseorangan, tabungan perusahaan, dan tabungan
pemerintah, sedangkan yang bersumber dari luar negeri bisa berupa bantuan dan pinjaman luar negeri,
penanaman modal langsung dari luar negeri atau penanaman modal tidak langsung dari luar negeri.

Yang dimaksud dengan tabungan pemerintah adalah semua penerimaan dari dalam negeri dikurangi
dengan semua pengeluaran rutin. Namun untuk Indonesia masih dikurangi lagi dengan anggaran belanja
untuk daerah yang harus dikeluarkan oleh pemerintah Pusat tiap tahun (bersifat rutin). Tabungan
pemerintah untuk tahun2002-2007 disajikan pada Tabel 9:15, yang ternyata terus mengalami
peningkatan dari hanya 13,6 triliun rupiah pada tahun 2002 sampai mencapai 52,3 triliun rupiah pada
tahun 2005 dan kembali mengalami penurunan menjadi hanya 25,6 triliun pada tahun2006 dan pada
tahun 2007 hanya menjadi 9,6 triliun. Jadi pemerintah telah menyisakan penerimaan dalam negerinya
untuk sebagian ditabung. Dalam persentase jumlah tabungan pemerintah ini berkisar dari sedikit di
bawah 5 persen pada tahun 2002, terus mengalami peningkatan sampai menjadi 13 persen pada tahun
2004, lalu mengalami penurunan menjadi hanya 1,3 persen dari total penerimaan dalam negerinya.
Kalau kita bandingkan jumlah tabungan pemerintah ini dengan jumlah pembiayaan rupiah dalam
rencana pembangunan tahunannya, ternyata, seperti terlihat pada Tabel 9:15, jumlah tabungan
pemerintah ini selalu lebih kecil. Ini berarti bahwa tiap tahun (dari 2002 sampai 2007) pemerintah harus
menggali sumber-sumber pembiayaan dalam negeri untuk menalangi pembiayaan rupiah dari rencana
pembangunannya, yang mungkin berupa pinjaman dari Bank Indonesia atau pinjaman jangka pendek
yang biasa disebut Treasury Bill.