Anda di halaman 1dari 1

9.

10 Kesimpulan

Pemerintah Orde Lama terpaksa melaksanakan kebijaksanaan anggaran belanja defisit yang telah
berakibat timbulnya inflasi kumulatif dan selanjutnya berakhir dengan kehancuran ekonomi. Sebagai
koreksi terhadap kebjaksanaan sebelumnya, pemerintahan Orde Baru menentukan beberapa
kebijaksanaan di bidang anggaran belanja dengan tujuan mempertahankan stabilitas proses
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Sekarang ini ada tiga jenis anggaran belanja pemerintah
sesuai dengan tingkat pemerintahan, yakni APBN, APBD Provinsi, dan APBD PROVINSI dengan prosedur
penyusunan dari bawah ke atas. Anggaran belanja ditentukan berdasarkan asumsi tertentu, kemudian
diajukan oleh pemerintah kepada DPR untuk diundangkan. Apabila dalam tahun berjalan terjadi
perubahan keadaan perekonomian sehingga asumsi yang mendasari penyusunan anggaran tidak sesuai
lagi, maka diadakan perubahan-perubahan seperlunya dan anggaran belanja perubahan tersebut harus
diajukan ke DPR untuk ditetapkan sebagai anggaran belanja Perubahan. Apabila terjadi anggaran defisit
maka perlu dicarikan sumber pembiayaannya, yang bisa berasal dari sumber dalam negeri (yang berupa
a), hasil dari privatisasi perusahaan negara, b) penjualan aset restrukturisasi perbankan, o), penjualan
obligasi negara, dan/atau d), dana investasi dari pemerintah) dan luar negeri (penarikan pinjaman luar
negeri (baik berupa pinjaman program maupun pinjaman proyek) setelah dikurangi dengan pembayaran
cicilan pokok utang luar negeri),

Anggaran belanja terdiri dari komponen penerimaan dan komponen pengeluaran, di mana komponen
penerimaan dibedakan menjadi penerimaan dalam negeri dan hibah, sedangkan komponen pengeluaran
dibedakan menjadi pengeluaran untuk pemerintah pusat dan untuk pemerintah daerah. Untuk
periode2002-2007 APBN selalu mengalami defisit (dipertahankan di bawah 2 persendari PDB) dan
ternyata baik pendapatan maupun belanja negara telah mengalami perkembangan yang lebih dari dua
kali lipat.Penerimaan dalam negeri dibedakan menjadi penerimaan dari pajak (dari dalam negeri dan
pajak perdagangan internasional) dan bukan pajak. Pajak dalam negeri yang memberi kontribusi terbesar
adalah pajak penghasilan (khususnya dari non migas), dikuti oleh pajak pertambahan nilai, pajak bumi
dan bangunan, dan cukai. Sedangkan sebagian besar dari pajak perdagangan internasional berasal
daripajak impor. Komponen Penerimaan Negara Bukan Pajak yang paling besar adalah dari Sumber Daya
Alam (terutama minyak bumi) kemudian diikuti oleh Gas Alam, Bagian Laba BUMN, dan Surplus Bank
Indonesia.

Sisi belanja dibedakan menjadi pengeluaran untuk pemerintah pusat (sekitar2/3) dan pengeluaran untuk
pemerintah daerah (sekitar 1/3), di mana pengeluaran untuk pemerintah pusat dibedakan menjadi
pengeluaran rutin (sekitar 85 persen) dan pengeluaran pembangunan (sekitar 15 persen). Komponen
yang paling besar dalam belanja rutin pemerintah pusat adalah untuk membayar bunga dan cicilan
hutang (dalam dan luar negeri) yang pada tahun 2002 mencapai 131 triliun rupiah dari total belanja rutin
sejumlah 182 triliun (atau sekitar 70 persen), dan jumlah kedua komponen ini meningkat menjadi lebih
dari 188 triliun dari jumlah anggaran