Anda di halaman 1dari 23

KEBIJAKAN FISKAL INDONESIA

(PEREKONOMIAN INDONESIA)

Dosen Pengampu: Dr. Made Heny Urmila Dewi, SE., M.Si.

Kelompok 5:

Ni Kadek Ani Jumariati (1707532004)

Ni Luh Rosa Aprilianti (1707532015)

Ni Komang Megi Megayani (1707532032)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI REGULER DENPASAR

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
DAFTAR ISI

Daftar Isi ............................................................................................................................ i


BAB I ................................................................................................................................ 1
Pendahuluan ................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah................................................................................................ 2

1.3 Tujuan .................................................................................................................. 2

BAB II............................................................................................................................... 3
Pembahasan ................................................................................................................... 3

2.1 Pengertian APBN ................................................................................................ 3

2.2 Prosedur Penyusunan APBN ............................................................................... 3

2.3 Struktur APBN .................................................................................................... 5

2.4 Pola Penerimaan Pemerintah ............................................................................... 6

2.5 Pola Pengeluaran Pemerintah ............................................................................ 11

2.5.1 Belanja Pemerintah Pusat ......................................................................... 12

2.5.2 Realisasi Belanja K/L Tahun 2019 ........................................................... 14

2.5.3 Realisasi Belanja Non K/L Tahun 2019 ................................................... 15

2.6 Kebijakan Perpajakan dan Pengeluaran Pemerintah ......................................... 17

BAB III ........................................................................................................................... 20


Penutup ........................................................................................................................... 20
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 20

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 21

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem dan prestasi fiskal satu negara harus dipelajari dalam konteks sejarahnya. Antara
tahun 1951-1958 sistem fiskal Indonesia sangat tergantung pada sumber penerimaan yang berasal
dari perdagangan internasional. Semenjak akhir 1950an, penerimaan dari sumber-sumber ini
sebagai persentase penerimaan total mulai menurun sebagai akibat dari makin memburuknya
situasi pasar dunia bagi karet dan barang-barang lainnya, dan juga sebagai akibat dari
ditetapkannya kurs devisa yang terlalu rendah sehingga mendorong lebih banyak penyelundupan
barang-barang ekspor ke Singapura dan tempat-tempat lain. Sumber-sumber penerimaan dalam
negeri ternyata tidak mungkin mengimbangi penurunan penerimaan ini sehingga Pemerintah
terpaksa melaksanakan kebijaksanaan anggaran belanja defisit untuk membiayai pengeluaran-
pengeluaran yang diperlukan. Keadaan ini telah mengakibatkan timbulnya inflasi kumulatif, dan
selanjutnya berakhir dengan kehancuran ekonomi pada akhir Orde Lama.

Pemerintah Orde Baru (pemerintahan Soeharto) telah menentukan beberapa kebijaksanaan


di bidang anggaran belanja dengan tujuan mempertahankan stabilitas proses pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi. Tindakan-tindakan ini pada dasarnya adalah sebagai berikut:
1. Anggaran belanja dipertahankan agar seimbang dalam arti bahwa pengeluaran total tidak
melebihi penerimaan total yang berasal dari sumber dalam negeri maupun sumber dari luar
negeri, termasuk bantuan luar negeri.
2. Tabungan pemerintah yang diartikan sebagai penerimaan dalam negeri dikurangi
pengeluaran rutin diusahakan meningkat dari waktu ke waktu dengan tujuan agar mampu
menggeser secara berangsur-angsur bantuan luar negeri dan akhinya menghilangkan
ketergantungan terhadapnya sebagai sumber pembiayaan pembangunan.
3. Basis perpajakan diusahakan diperluas secara berangsur-angsur guna menghindari
pengalaman yang kurang menyenangkan di tahun 1959-60. Sasaran ini dicapai dengan cara
mengintensifkan penaksiran pajak dan prosedur pengumpulannya.
4. Prioritas harus diberikan kepada pengeluaran-pengeluaran produktif pembangunan,
sedangkan pengeluaran-pengeluaran rutin dibatasi. Demikian juga subsidi kepada

1
perusahaan-perusahaan negara dibatasi dan perusahaan-perusahaan ini didorong agar
mampu mengembangkan sumber keuangannya sendiri.
5. Kebijaksanaan anggaran diarahkan pada sasaran untuk mendorong pemanfaatan secara
maksimal sumber-sumber dalam negeri, termasuk tenaga kerja dalam negeri, untuk
mengembangkan produksi dalam negeri. Dalam hal ini, para produsen dalam negeri diberi
rangsangan-rangsangan fiskal agar lebih banyak menggunakan teknologi produksi yang
padat karya, dan kalau perlu juga diberikan proteksi terhadap persaingan barang luar
negeri.
Sasaran kebijaksanaan seperti ini sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai oleh
pemerintah-pemerintah di negara-negara yang sedang berkembang lainnya yang ingin mencapai
stabilitas pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan fiskal.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana pola penerimaan negara?
1.2.2 Bagaimana pola pengeluaran negara?
1.2.3 Bagaimana kebijakan perpajakan dan pengeluaran pemerintah?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pola penerimaan negara.
1.3.2 Untuk mengetahui pola pengeluaran negara.
1.3.3 Untuk mengetahui kebijakan perpajakan dan pengeluaran pemerintah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian APBN


Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau disingkat APBN adalah keuangan tahunan pemerintah
Negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). APBN berisi daftar sistematis dan
terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran. Perubahan dan
pertanggungjawaban APBN setiap tahunnya ditetapkan dengan Undang-Undang.

2.2 Prosedur Penyusunan APBN


Ada tiga macam anggaran pendapatan dan belanja yaitu untuk pemerintah pusat, dikenal
dengan istilah APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), untuk pemerintahan provinsi,
dikenal sebagai APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Provinsi, dan untuk
pemerintahan kabupaten/kota, dikenal sebagai APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah)
kabupaten/kota. Masing-masing anggaran mempunyai unit-unit di mana anggaran penerimaan
diperoleh clan anggaran belanja dikeluarkan. Unit kerja untuk APBN adalah semua departemen,
seperti misalnya departemen dalam negeri, departemen pendidikan nasional, departemen luar
negeri, departemen agama, departemen pertahanan, departemen tenaga kerja dan transmigrasi dan
sebagainya. Unit kerja untuk APBD Provinsi adalah kantor gubernur, dan dinas-dinas seperti
misalnya dinas pertanian, dinas pendidikan nasional, dinas agama, dinas tenaga kerja dan
transmigrasi, dinas kesehatan, dan dinas-dinas lainnya. Sedangkan unit kerja untuk APBD
Kabupaten/Kota adalah kantor bupati/wali kota, dan kecamatan-kecamatan. Di dalam kantor
kecamatan dikelola semua urusan yang berhubungan dengan kecamatan yang bersangkutan,
misalnya urusan kesehatan, urusan pendidikan, urusan pertanian, urusan pertahanan, dan
sebagainya.

Prosedur penyusunan anggaran pendapatan dan belanja memakai sistem bottom-up yang
artinya dimulai dari unit kerja yang paling bawah, kemudian ke unit kerja yang lebih tinggi. Semua
unit kerja yang disebutkan di atas menyusun anggaran pendapatan dan belanja tiap tahun. Misalnya
departemen pekerjaan umum, mereka menyusun anggaran pendapatan dan belanjanya dengan
mengikuti pola yang sudah ditentukan. Misalnya, pada anggaran belanjanya, pengeluarannya
dibedakan menjadi biaya rutin dan biaya pembangunan. Sudah jelas dalam pedoman penyusunan
anggaran, pengeluaran-pengeluaran mana yang termasuk pengeluaran rutin (pembayaran gaji

3
pegawai, biaya pemeliharaan untuk listrik, telepon dan sebagainya) dan pengeluaran mana yang
termasuk pengeluaran pembangunan. Di departemen tersebut juga dianggarkan jumlah pendapatan
untuk tahun anggaran yang dibuat, berapa anggaran untuk penerimaan dalam negeri (yang
selanjutnya dibedakan menjadi sumber dari pajak dan bukan pajak), dan mana yang bersifat hibah
baik dari dalam maupun dari luar negeri. Sudah jelas, bahwa pos pendapatan dan pengeluaran dari
departemen ini mungkin berada di daerah provinsi atau di daerah kabupaten/kota madya.

Dalam hal yang demikian ini pos tersebut tetap dimasukkan pada anggaran Pendapatan dan
belanja departemen yang bersangkutan, bukan pada dinas yang sama (terkait) di provinsi atau
kecamatan di mana aktivitas anggaran tersebut terjadi. Misalnya saja, jalan raya yang terletak antar
kabupaten dalam ataupun antar provinsi, kesemuanya ini dimasukkan pada anggaran pendapatan
dan belanja departemen pekerjaan umum. Demikian juga halnya dengan departemen pendidikan
nasional, universitas dan sekolah tinggi, meskipun berlokasi di satu kecamatan, kabupaten,
ataupun provinsi tertentu, tetap merupakan bagian dari anggaran pendapatan dan belanja dari
departemen pendidikan nasional. Dalam hal satu universitas atau perguruan tinggi mendapat
bantuan dari pemerintah provinsi dan/ atau Kabupaten/Kota, maka bagian tersebut tidak
dimasukkan dalam anggaran pendapatan dan belanja departemen, tetapi dimasukkan pada
anggaran pendapatan dan belanja dari pemerintah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota.

Unit kerja di tingkat provinsi juga menyusun anggaran pendapatan dan belanjanya tiap
tahun. Misalnya dinas pendidikan nasional menyusun anggaran pendapatan dan belanja
tahunannya dan, seperti halnya dengan departemen pekerjaan umum di atas, sudah jelas aktivitas
mana yang dimasukkan ke belanja rutin dan belanja pembangunan. Demikian juga untuk anggaran
penerimaannya. Demikian juga halnya dengan unit kerja di tingkat kabupaten/kota madya, yakni
kecamatan dan kantor bupati, menyusun anggaran pendapatan dan belanjanya tiap tahun.

Perlu diperhatikan, bahwa penyusunan anggaran pada tingkat ini tidak diikuti oleh
pertimbangan apakah pendapatannya lebih kecil atau lebih besar dari pengeluarannya. Setelah
penyrusunan anggaran selesai di tingkat ini, lalu anggaran tersebut diserahkan ke level yang lebih
tinggi. Untuk tingkat nasional, semua departemen menyerahkan susunan anggaran pendapatan dan
belanjanya di Bappenas (Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional), sedangkan untuk
tingkat provinsi di Bappeda (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah) Provinsi, dan untuk
tingkat kabupaten/ kota madya di Bappeda Kabupaten/Kota.

4
2.3 Struktur APBN
Struktur APBN atau komponen-komponen yang membentuk APBN adalah pendapatan dan
pengeluaran negara, yang secara rinci dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini:
Tabel 2.1: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, 2016-2019 (triliun Rupiah)
Uraian 2016 2017 2018 2019
LKPP LKPP Outlook APBN
A. Pendapatan Negara 1.555,9 1.666,4 1.903,0 2.165,1
I. Pendapatan Dalam Negeri 1.546,9 1.654,7 1.897,6 2.164,7
1. Penerimaan Perpajakan 1.285,0 1.343,5 1.548,5 1.786,4
Tax Ratio (%) 0,01 0,01 11,57 12,22
a.l. PPh Migas 666,2 646,8 761,2 894,4
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak 262,0 311,2 349,2 378,3
II. Penerimaan Hibah 9,0 11,6 5,4 0,4

B. Belanja Negara 1.864,3 2.007,4 2.217,3 2.461,1


I. Belanja Pemerintahan Pusat 1.154,0 1.256,4 1.453,6 1.634,3
1. Belanja K/L 684,2 765,1 813,5 855,4
2. Belanja Non K/L 496,8 500,2 640,2 778,9
II. Transfer ke Daerah dan Dana Desa 710,3 742,0 763,6 826,8
1. Transfer ke Daerah 663,6 682,2 703,6 756,8
2. Dana Desa 46,7 59,8 60,0 70,0
C. Keseimbangan Primer (125,6) (124,4) (64,8) (20,1)
D. Surplus/ (Defisit) Anggaran (A-B) (308,3) (341,0) (314,2) (296,0)
%Surplus/(Defisit) Anggaran terhadap PDB (2,49) (2,51) (2,12) (1,84)
E. Pembiayaan Anggaran 334,5 366,6 314,2 296,0
I. Pembiayaan Utang 403,0 429,1 387,4 359,3
II. Pembiayaan Investasi (89,1) (59,8) (65,7) (75,9)
III. Pemberian Pinjaman 1,7 (2,1) (6,5) (2,4)
IV. Kewajiban Penjaminan (0,7) (1,0) (1,1) 0,0
V. Pembiayaan Lainnya 19,6 0,4 0,2 15,0

5
2.4 Pola Penerimaan Pemerintah
Kebijakan fiskal pada umumnya terdiri dari kebijaksanaan penerimaan dan pengeluaran
negara/pemerintah. Penerimaan pemerintah Indonesia dibedakan menjadi:
1. Penerimaan dalam negeri yang tidak lain yang tidak lain daripada seluruh penerimaan baik
yang berupa pajak ataupun penerimaan bukan pajak.
2. Hibah, yang merupakan bantuan pihak ketiga (yang tidak mengikat) kepada pemerintah
baik yang datang dari dalam negeri maupun yang datang dari luar negeri.
Realisasi penerimaan pendapatan negara dan hibah hingga akhir Semester I atau akhir Juni
tahun 2019 secara umum masih menunjukkan kinerja yang positif. Penerimaan pendapatan negara
dan hibah telah mencapai Rp898,76 triliun atau 41,51 persen terhadap target APBN 2019. Capaian
tersebut tercatat masih mampu tumbuh sebesar 7,84 persen secara yoy, lebih tinggi dari
pertumbuhan periode Januari-Mei sebesar 6,19 persen (yoy). Penerimaan pendapatan negara
meliputi realisasi penerimaan perpajakan sebesar Rp688,94 triliun, PNBP sebesar Rp209,08
triliun, dan penerimaan hibah sebesar Rp734,5 miliar atau masing-masing telah mencapai 38,57
persen, 55,27 persen, dan 168,73 persen dari target pada APBN 2019. Dari sisi pertumbuhannya,
penerimaan perpajakan mampu tumbuh sebesar 5,42 persen, PNBP mengalami perbaikan dengan
tumbuh sebesar 18,24 persen, sedangkan penerimaan hibah tumbuh negatif 76,46 persen.

Penerimaan dalam negeri dibedakan menjadi:


1. Penerimaan dari perpajakan (baik pajak langsung maupun tak langsung, baik di dalam
negeri maupun pajak dari perdagangan internasional).
2. Penerimaan Bukan Pajak (PNBP), semua penerimaan negara yang bukan pajak seperti
halnya uang sekolah (SPP), penerimaan dari penjualan bibit oleh departemen yang
membuat pembibitan untuk rakyat, aset milik pemerintah yang dijual kepada rakyat
,misalnya rumah dinas, mobil dinas dan sebagainya.

6
Realisasi penerimaan pajak telah mencapai Rp 603,34 triliun atau 38,25 persen dari target
APBN 2019, serta mampu tumbuh sebesar 3,75 persen (yoy). Realisasi penerimaan pajak masih
ditopang oleh penerimaan pajak utama Pajak Penghasilan (PPh) yaitu PPh Nonmigas dan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN), dimana penerimaan PPh Nonmigas bersumber dari penerimaan PPh
25/29 Badan, PPh 21, PPh Final, dan PPh 22 Impor. Kinerja impor pada bulan Juni 2019 yang
masih tetap terjaga seperti periode yang sama tahun lalu, berkontribusi mendorong perbaikan
kinerja PPh 22 Impor. Pertumbuhan PPh Nonmigas utamanya didorong oleh pertumbuhan
penerimaan PPh 21, PPh 25/29 Orang Pribadi (OP), dan PPh 22 yang masing-masing tercatat
tumbuh sebesar 14,93 persen (yoy), 13,82 persen (yoy), dan 11,09 persen (yoy). Pertumbuhan
realisasi komponen penerimaan PPh Nonmigas kinerjanya mengalami perbaikan dibandingkan
periode Januari-Mei 2019 yang hanya tumbuh 2,43 persen (yoy). Lebih lanjut, pertumbuhan positif
penerimaan pajak juga didorong oleh pertumbuhan signifikan dari penerimaan Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB). Dari sisi sektoral, pertumbuhan penerimaan pajak masih didorong oleh kinerja
sektor usaha jasa keuangan dan transportasi & pergudangan. Pertumbuhan PPh 22 didorong oleh
kinerja sektor usaha industri bahan bakar dan ketenagalistrikan yang mencerminkan peningkatan
penggunaan energi serta tingginya konsumsi BBM selama arus mudik dan balik libur lebaran, serta
liburan sekolah. Untuk pertumbuhan PPh 25/29 OP didorong oleh tren positif peningkatan
kepatuhan Wajib Pajak OP, melanjutkan tren pasca masa pelaporan SPT Tahunan. Sementara itu,
penerimaan dari PPN/PPnBM tumbuh negatif 2,66 persen (yoy), namun membaik jika
dibandingkan pertumbuhan periode Januari-Mei 2019 yang mencapai negatif 4,41 persen (yoy).
Perbaikan kinerja PPN/PPnBM ini akibat pertumbuhan restitusi yang lebih rendah daripada
periode Januari-Mei 2019. Perbaikan PPN Dalam Negeri (PPN DN) juga karena adanya masa libur
sekolah yang turut mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Hal ini terbukti dari tumbuhnya
penerimaan pajak sektor usaha penyediaan akomodasi, makan-minum dan agen perjalanan.

7
PPh Pasal 21 masih menjadi sumber utama pertumbuhan penerimaan pajak hingga akhir
Semester I tahun ini. Tumbuh double digits 14,93 persen (yoy), kombinasi pembayaran
bonus/THR Idul Fitri 1440H terhadap pegawai/karyawan dan baiknya kondisi pasar tenaga kerja
menjadi faktor utama. Hal ini sejalan dengan data BPS bulan Mei 2019, yang menunjukkan Upah
Nominal Harian Pekerja / Buruh mengalami peningkatan baik tahunan (yoy) maupun bulanan
(mom), mengisyaratkan tingkat utilisasi tenaga kerja sepanjang 2019 dalam kondisi sehat.
PPh Pasal 22 tumbuh double digits 11,09 persen (yoy), terutama bersumber dari
potongan/pungutan atas penjualan energi listrik dan bahan bakar, yang didorong peningkatan
konsumsi energi menjelang dan sepanjang bulan Mei, bertepatan dengan periode Ramadhan – Idul
Fitri 1440H.
Sementara itu PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi mengalami perluasan basis pembayar pajak
dan peningkatan baseline setoran sebagai hasil dari program pengampunan pajak (tax amnesty),
sehingga meskipun telah memasuki tahap normalisasi masih mampu mencatatkan pertumbuhan
double digits 13,82 persen (yoy), baik dari setoran masa (bulanan) yang tumbuh 13,27 persen (yoy)
maupun setoran tahunan yang tumbuh 15,29 persen (yoy). PPh Pasal 25/29 Badan tumbuh 3,40
persen (yoy). Pertumbuhan ini sedikit melambat dibandingkan tahun lalu, diakibatkan oleh (i)
pertumbuhan restitusi yang cukup tinggi yang mencapai 17,20 persen (yoy); dan (ii) melambatnya
pertumbuhan laba korporasi dibandingkan pertumbuhan tahun lalu, yang mengakibatkan
penerimaan bruto hanya tumbuh 5,56 persen (yoy), tidak setinggi tahun lalu yang mampu
mencapai 10,73 persen (yoy).
Demikian juga PPh Final yang tumbuh 3,63 persen (yoy), apabila restitusi dikecualikan
dari perhitungan penerimaan, secara bruto masih mampu tumbuh 6,27 persen (yoy).
Di sisi lain, PPN Dalam Negeri merupakan jenis pajak yang paling terpengaruh oleh
peningkatan restitusi (pengembalian kelebihan pembayaran pajak) dengan pertumbuhan negatif
2,90 persen (yoy). Bila dikecualikan dari perhitungan, pertumbuhan bruto PPN Dalam Negeri
sebenarnya mencapai 5,69 persen (yoy). Senada dengan hal tersebut, pajak-pajak atas impor
mengalami pertumbuhan negatif seiring turunnya impor nasional. Nilai impor Indonesia bulan Mei
2019 turun 5,62 persen (mom) dibanding April 2019, dan 17,71 persen (yoy) dibanding bulan Mei
2018. Hal ini mengakibatkan penurunan PPN Impor dan PPnBM Impor masing-masing 2,10
persen (yoy) dan 1,90 persen (yoy). PPh Pasal 22 Impor masih tumbuh positif 2,29 persen (yoy),
didukung perubahan tarif yang berlaku sejak triwulan III 2018.

8
Khusus untuk PBB, pertumbuhan yang mencapai 265,81 persen (yoy) disebabkan
pergeseran waktu (timeshifting) pembayaran lebih awal PBB Migas, dari bulan Oktober dan
November di tahun 2018, menjadi bulan Juni di tahun 2019 ini.

Dari perspektif sektoral, sektor Transportasi & Pergudangan mengalami pertumbuhan


paling signifikan sepanjang Semester I tahun 2019 ini, tumbuh double digits 23,1 persen (yoy).
Demikian pula dengan Industri Jasa Keuangan yang tumbuh 8,8 persen (yoy). Pertumbuhan
penerimaan pajak kedua sektor tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB sektoralnya
(Triwulan I 2019 sebesar 5,25 persen dan 7,33 persen (yoy)). Di sisi lain, tekanan restitusi sangat
dirasakan oleh sektor Industri Pengolahan, Perdagangan, dan Pertambangan. Sektor Industri
Pengolahan dan sektor Perdagangan juga terpengaruh efek penurunan impor dan terbatasnya
ekspansi sektoral. Apabila dikecualikan dari perhitungan, pertumbuhan bruto non-impor kedua
sektor ini sebenarnya positif, masing-masing sebesar 7,4 persen (yoy) dan 9,1 persen (yoy).
Sementara itu, sektor Pertambangan juga merasakan tekanan akibat penurunan hargaharga
komoditas di pasar global. Apabila restitusi dikecualikan dari perhitungan, penerimaan bruto
sektor Pertambangan hanya mengalami penurunan 4,65 persen (yoy). Secara umum kinerja
penerimaan pajak menunjukkan peluang untuk meningkat di Semester II 2019. Setelah sempat
mengalami lonjakan restitusi pada bulan Februari dan Maret yang menekan pertumbuhan netto,
secara umum di akhir Semester I ini pertumbuhan penerimaan pajak mulai menunjukkan tanda-
tanda recovery, seiring kembali normalnya pertumbuhan restitusi. Perkembangan positif perang
dagang AS – Cina dan resolusi hasil Pemilu 2019 juga diharapkan dapat memberikan dampak

9
positif terhadap penerimaan pajak. Dengan didukung membaiknya perekonomian domestik,
peningkatan kepatuhan Wajib Pajak, perluasan basis pembayar pajak, serta terus berjalannya
program reformasi perpajakan yang meliputi reformasi kebijakan dan reformasi administrasi
termasuk penguatan teknologi informasi perpajakan, Direktorat Jenderal Pajak cukup optimis akan
semakin meningkatnya kinerja penerimaan pajak pada Semester II 2019.

Di tengah pelemahan ekonomi yang ditandai dengan penurunan indikator harga komoditas,
Penerimaan Negara Bukan Pajak tetap menunjukkan peningkatan kinerja jika dibandingkan
dengan paruh tahun 2018. Sampai dengan tanggal 30 Juni 2019, realisasi PNBP mencapai
Rp209,08 triliun atau 55,27 persen dari APBN tahun 2019, tumbuh 18,24 persen dibandingkan
periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp176,83 triliun. Realisasi ICP pada semester I tahun 2019
rata-rata sebesar USD 63,14 per barel, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2018
(USD 66,55 per barel). Demikian pula halnya Harga Batubara Acuan yang pada semester I tahun
2019 tercatat sebesar USD87,83/ton, lebih rendah dari periode yang sama tahun 2018
(USD96,50/ton). Penurunan harga komoditas ini berimbas kepada realisasi penerimaan Sumber
Daya Alam (SDA) pada semester I tahun 2019. Sampai dengan 30 Juni 2019, realisasi Penerimaan
SDA mencapai Rp70,73 triliun, mengalami pertumbuhan negatif 5,83 persen jika dibandingkan
realisasi pada periode yang sama tahun 2018 yang mencapai Rp75,11 triliun. Realisasi penerimaan
SDA pada semester I tahun 2019 ditopang oleh kenaikan Pendapatan dari Pertambangan Panas
Bumi yang mencapai Rp1,03 triliun atau naik 366,3 persen dari penerimaan di semester I tahun

10
2018. Namun demikian, kenaikan ini tidak dapat menutupi penurunan kinerja sektor SDA akibat
penurunan realisasi penerimaan SDA Migas dan Nonmigas. Realisasi Penerimaan Migas
mencapai Rp54,57 triliun atau 34,16 persen dari targetnya dalam APBN tahun 2019dan mengalami
penurunan sebesar 7,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Penurunan juga
terjadi pada sektor penerimaan nonmigas sebesar 1,22 persen dari semester I tahun 2018, dengan
realisasi mencapai Rp16,15 triliun atau 52,16 persen dari target APBN tahun 2019. Salah satu
objek PNBP yang menyumbang peningkatan realisasi signifikan adalah Pengelolaan Kekayaan
Negara Dipisahkan. Sektor ini menyumbang Rp68,68 triliun pada semester I tahun 2019, yang
merupakan 150,65 persen dari target dalam APBN 2019. Realisasi penerimaan dari KND ini
meningkat secara signifikan yaitu 93,33 persen dari realisasi pada periode yang sama di tahun
2018 (Rp35,58 triliun). Setoran Sisa Surplus Bank Indonesia pada bulan Mei 2019 sebesar
Rp30,00 triliun dan setoran dividen yang terealisasi di bulan Mei dan Juni 2019 masingmasing
sebesar Rp2,76 triliun dan Rp35,87 triliun merupakan penyebab utama kenaikan realisasi
Pendapatan dari KND. Selain Pendapatan dari Kekayaan Negara yang Dipisahkan, sektor lain
yang menyumbang kinerja positif dalam semester I tahun 2019 adalah PNBP Lainnya dan
Pendapatan Badan Layanan Umum (BLU). Realisasi penerimaan PNBP Lainnya mencapai
Rp48,42 triliun atau 51,48 persen dari target APBN tahun 2019. Realisasi tersebut mengalami
kenaikan sebesar 6,48 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018 yang
mencapai Rp45,47 triliun. Sementara itu, pendapatan BLU semester I tahun 2019 terealisasi
sebesar Rp21,25 triliun atau mencapai 44,38 persen dari target APBN tahun 2019, atau naik
sebesar 2,55 persen dari periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp20,72 triliun.

2.5 Pola Pengeluaran Pemerintah


Anggaran belanja negara/pemerintah terdiri dari anggaran untuk Pemerintah Pusat dan
anggaran untuk Pemerintah Daerah, dimana anggaran untuk Pemerintah Pusat sekitar dua kali dari
anggaran untuk Pemerintah Daerah.
Anggaran belanja untuk Pemerintah Daerah, dibedakan menjadi untuk pengeluaran rutin
dan untuk pengeluaran pembangunan. Hal yang perlu mendapat perhatian di sini adalah anggaran
rutin untuk pembayaran bunga hutang dalam dan luar negeri. Anggaran pembangunan untuk
Pemerintah Pusat yang terdiri dari pembiayaan rupiah dan pembiyaan proyek (dana luar negeri).
Anggaran belanja Negara untuk pembiayaan Pemerintah Daerah terdiri dari Dana Perimbangan

11
dan Dana Dana Otonomi Khusus. Dana pereimbang terdiri dari dana bagi hasil, dana alokasi umum
dan dana alokasi khusus.
2.5.1 Belanja Pemerintah Pusat
Realisasi BPP sampai dengan 30 Juni 2019 mencapai Rp630,57 triliun atau 38,58 persen
dari pagu APBN tahun 2019. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kinerja realisasi BPP sampai
dengan 30 Juni 2019 mengalami peningkatan sebesar 12,92 persen dibandingkan dengan kinerja
penyerapan BPP tahun sebelumnya sebesar 38,39 persen dari pagu APBN tahun 2018. Kinerja
penyerapan BPP tersebut, ditopang oleh meningkatnya realisasi belanja K/L dari 34,93 persen
terhadap pagu APBN tahun 2018 menjadi 40,02 persen terhadap pagu APBN tahun 2019. Hal ini
terutama disebabkan oleh meningkatnya kinerja realisasi belanja bantuan sosial. Sementara itu,
kinerja realisasi belanja Non K/L mengalami penurunan dari 43,23 persen terhadap pagu APBN
tahun 2018 menjadi 37,01 persen terhadap pagu APBN tahun 2019 yang terutama disebabkan
karena menurunnya kinerja realisasi belanja subsidi. Realisasi BPP K/L sampai dengan 30 Juni
2019 mengalami pertumbuhan sebesar 15,66 persen dibandingkan realisasi pada periode yang
sama tahun 2018.

Pertumbuhan realisasi BPP K/L terutama berasal dari realisasi belanja bantuan sosial yang
tumbuh sebesar 56,37 persen, belanja pegawai sebesar 13,61 persen, serta belanja barang sebesar
12,12 persen. Pertumbuhan ketiga jenis belanja tersebut diperkirakan akan mendorong
pertumbuhan konsumsi, baik itu konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah yang lebih

12
baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018. Kinerja realisasi belanja bantuan sosial
sampai dengan 30 Juni 2019 telah mencapai 72,63 persen terhadap pagu APBN tahun 2019.
Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 58,35
persen dari pagu APBN tahun 2018. Meningkatnya realisasi belanja bantuan sosial tersebut
menunjukkan bentuk keberpihakan Pemerintah kepada masyarakat miskin untuk dapat memenuhi
kebutuhan pokoknya sejak awal tahun, yang antara lain direalisasikan melalui: (i) pencairan
Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah mencapai 82,4 persen dari alokasinya, (ii) penarikan
di muka iuran PBI JKN hingga bulan November (11 bulan) yang telah dibayarkan Januari hingga
Juni tahun 2019 yang telah mencapai 90,9 persen dari alokasinya, (iii) realisasi bantuan Pangan,
dan (iv) realisasi Bansos lainnya (antara lain Program Indonesia Pintar (PIP) dan Bidikmisi).

Sementara itu, realisasi belanja pegawai (khususnya belanja pegawai K/L) juga mengalami
peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 45,62 persen dari
pagu APBN 2018 meningkat menjadi 52,54 persen dari pagu APBN 2019. Peningkatan tersebut
terutama disebabkan adanya kenaikan tunjangan kinerja pada beberapa K/L seiring dengan capaian
pelaksanaan reformasi birokrasi pada masingmasing K/L serta telah dicairkannya anggaran THR
bagi aparatur negara pada akhir bulan Mei tahun 2019.

Realisasi belanja barang sampai dengan 30 Juni 2019 mengalami peningkatan, yaitu dari
31,40 persen terhadap APBN tahun 2018 menjadi 34,61 persen terhadap APBN tahun 2019.
Proporsi realisasi belanja barang yang terbesar adalah belanja barang dalam rangka mendukung
pelaksanaan kegiatan Pemilu 2019, yaitu pemberian honor kepada badan Penyelenggara AdHoc
Pemilu yang terdiri dari Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS)
dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) ditambah dengan Panitia Pendaftaran
Pemilih (Pantarlih) dan Relawan. Selain itu, proporsi terbesar berikutnya adalah realisasi belanja
barang dalam rangka pemberian bantuan operasional dalam bentuk uang kepada siswa-siswa
penerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah
Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA) dalam rangka peningkatan akses, mutu, dan
relevansi madrasah yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama.

Realisasi belanja modal sampai dengan 30 Juni 2019 mencapai 18,31 persen dari pagu
APBN 2019. Proporsi realisasi belanja modal terbesar antara lain 1) belanja modal pembangunan
jalan, irigasi, dan jaringan dipergunakan untuk preservasi rekonstruksi, rehabilitasi dan

13
pembangunan jalan dan jembatan terutama untuk menunjang kelancaran arus barang dan
penumpang menjelang hari Raya Idul Fitri Juni 2019 termasuk prasarana perkeretaapian yang
dilaksanakan oleh Kementerian PUPR dan Kementerian Perhubungan, dan 2) belanja modal
peralatan dan mesin dilaksanakan oleh Kementerian Pertahanan, Kepolisian RI, Kementerian
Agama, dan Basarnas.

2.5.2 Realisasi Belanja K/L Tahun 2019


Realisasi Belanja K/L sampai dengan 30 Juni 2019 mencapai Rp342,34 triliun atau 40,02
persen dari pagu APBN 2019. Realisasi belanja K/L tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan
realisasi belanja K/L pada periode yang sama tahun 2018 sebesar 34,93 persen. Realisasi belanja
K/L tersebut didominasi oleh 15 K/L terbesar (85,03 persen dari total belanja K/L), utamanya
Kementerian Sosial yang telah merealisasikan sebagian Program Keluarga Harapan (PKH) dan
bantuan pangan nontunai. Faktor-faktor yang memengaruhi tingkat penyerapan belanja K/L antara
lain kelanjutan kebijakan percepatan pelaksanaan kegiatan melalui lelang dini, beberapa kegiatan
pendukung pelaksanaan Pemilu 2019, dan penyaluran belanja bantuan sosial seperti PKH, bantuan
pangan, dan PBI (untuk mendukung keberlangsungan program JKN).

Dalam rangka mendukung percepatan pelaksanaan kegiatan, nilai kontrak yang telah
dilakukan K/L sampai dengan bulan Juni 2019 mencapai Rp173,95 triliun. Tiga K/L yang telah
melakukan kontrak dengan nilai terbesar adalah Kemen PU PERA, Kemenhan, dan POLRI.

14
Sementara itu, beberapa output strategis K/L sampai dengan bulan Juni 2019 menunjukan
capaian yang positif diantaranya penyaluran PKH dan bantuan pangan. Selain itu, pembangunan
infrastruktur juga terus memperlihatkan adanya progres seperti pembangunan jalan baru,
pembangunan jalan tol, dan pembangunan jembatan.

2.5.3 Realisasi Belanja Non K/L Tahun 2019


Realisasi belanja non K/L sampai dengan 30 Juni 2019 mencapai Rp288,23 triliun lebih
tinggi secara nominal dibanding dengan tahun 2018 yang mencapai Rp262,45 triliun. Namun
demikian, secara persentase belanja non K/L mengalami penurunan dari 43,23 persen terhadap
APBN 2018 menjadi 37,01 persen terhadap APBN 2019. Penurunan realisasi belanja non K/L
terutama disebabkan menurunnya realisasi pembayaran bunga utang dan belanja subisidi.

15
Realisasi pembayaran bunga utang sampai dengan 30 Juni 2019 sebesar 48,85 persen
terhadap APBN 2019, atau lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai
50,55 persen terhadap APBN 2018. Hal tersebut dikarenakan kondisi yield SBN yang cenderung
menurun di awal tahun 2019 dibandingkan kondisi pada awal tahun 2018 sehingga biaya diskon
cenderung lebih rendah. Selain itu, secara umum variasi komposisi penerbitan dan perbedaan
jadwal pembayaran kupon SBN seri benchmark juga menyebabkan pembayaran bunga utang
bersifat dinamis.
Belanja subsidi diarahkan untuk menjaga stabilitas harga dalam rangka menjaga daya beli
masyarakat serta membantu masyarakat miskin untuk mendapatkan komoditas barang subsidi
dengan harga terjangkau, antara lain LPG tabung 3 Kg, BBM jenis minyak solar dan minyak tanah,
tarif listrik, dan pupuk. Namun demikian, Pemerintah akan terus berupaya untuk mendorong

16
efektivitas dan efisiensi subsidi agar lebih tepat sasaran. Dalam APBN 2019, belanja subsidi
dialokasikan sebesar Rp224,3 triliun. Sementara itu, realisasi belanja subsidi sampai dengan 30
Juni 2019 mencapai Rp71,88 triliun atau 32,04 persen dari pagu APBN tahun 2019. Realisasi
subsidi non energi dalam Semester I tahun 2019 terutama dipengaruhi oleh realisasi subsidi pupuk,
subsidi bunga KUR, dan subsidi pajak.

2.6 Kebijakan Perpajakan dan Pengeluaran Pemerintah


Sebagaimana kita ketahui bahwa anggaran belanja pemerintah (dan anggaran untuk
lembaga sosial) berbeda dengan anggaran belanja rumah tangga pribadi. Kalau dalam anggaran
untuk rumah tangga pribadi pertama-tama ditentukan penerimaan rumah tangga tersebut sebagai
dasar untuk menentukan anggaran pengeluarannya, maka keadaan sebaliknya berlaku untuk
anggaran rumah tangga pemerintah dan lembaga sosial, di mana pertama tama ditentukan jumlah
pengeluaran yang diperlukan sebagai dasar untuk menentukan berapa besar dan dari mana saja
beban belanja tersebut bersumber. Dari sejak awal, katakanlah pada jaman raja-raja dahulu, setelah
menentukan (kalau dibuat anggaran) jumlah pengeluaran pemerintah, sumber pertama yang
terbayang adalah dari pajak. Hanya setelah pemerintahan modern, baru terpikirkan sumber dana
lain, seperti dari mencetak uang, dari pinjaman dalam negeri, dari pinjaman luar negeri dan
sebagainya.
Pengaruh Pengeluaran Pemerintah terhadap Penghasilan nasional. Pengeluaran pemerintah
rutin dan pembangunan dibayarkan kepadamasyarakat (pegawai dan pelaksana pembangunan).
Mereka menerima tambahan pendapatan. Dari tambahan pendapatan tersebut mereka cenderung
untuk melakukan tambahan konsumsi dan tambahan tabungan. Kecenderungan tambahan
konsumsinya disebut MPC (marginal propensity to consume) dan kecenderungan tambahan untuk
menabung disebut MPS (marginal propensity to save). MPC biasanya dinyatakan dalam proporsi
terhadap penghasilan (Y), demikian juga MPS dinyatakan dalam proporsi terhadap penghasilan
(Y), sehingga MPC+MPS=1 kali besarnya penghasilan. Tambahan konsumsi yang dilakukan oleh
orang pertama tadi diterima oleh orang lain kepada siapa konsumsi tersebut dilakukan (orang ke
dua). Orang ke dua ini, karena menerima tambahan pendapatan, juga cenderung melakukan
tambahan konsunsi dan tambahan tabungan. Tambahan konsumsinya merupakan tambahan
pendapatan bagi yang menerimanya (orang ke tiga), yang karena ada tambahan pendapatan, juga
cenderung untuk melakukan tambahan konsumsi dan tambahan tabungan. Begitu selanjutnya
proses berjalan sampai jumlah yang tidak terhingga. Jumlah kenaikan penghasilan masyarakat

17
sebagai akibat dari adanya pengeluaran pemerintah adalah jumlah pengeluaran pemerintah itu
dikalikan dengan faktor pengganda. Dengan mengumpamakan bahwa MPC dan MPS untuk setiap
orang yang dikatakan di atas sama (orang ke 1, 2, 3,...), maka dengan memakai manipulasi aljabar
dasar diperoleh faktor pengganda sebesar k=1MPS. Kalau setiap orang yang menerima tambahan
penghasilan mempunyai kecenderungan untuk menabung sebesar 20 persen dari tambahan
penghasilannya, maka k= 1/0,20=5.
Pengaruh Pajak terhadap Penghasilan nasional. Untuk membiayai pengeluarannya,
pemerintah menarik pajak dari rakyat. Pajak ini mempunyai sifat mengurangi pendapatan dari
mereka yang membayar pajak itu (orang 1). Karena pendapatannya berkurang, mereka cenderung
mengurangi konsumsi (sebesar MPC kali berkurangnya penghasilan), dan mereka cenderung
untuk mengurangi menabung (sebesar MPS kali berkurangnya penghasilan), yang mempunyai
akibat lanjutan terhadap mereka yang terkena pengurangan penghasilan. Demikian prosesnya
berjalan, sama seperti logika pada pengeluaran pemerintah, sampai pada orang yang ke tidak
terhingga, jumlah penghasilan masyarakat berkurang karena ada pajak adalah sebesar pajak itu
dikalikan dengan faktor pengganda. Dengan perumpamaan yang sama seperti pada pengeluaran
pemerintah, faktor penggandanya dapat diperoleh dengan manipulasi aljabar dasar sebesar k=-
(1/MPS-1). Kalau setiap orang yang penghasilan berkurang sebesar tambahan pajak, mempunyai
kecenderungan untuk mengurangi menabung sebesar 20 persen dari jumlah pengurangan
penghasilannya, maka kuntuk pajak =-(1/0,20-1)=-4.
Pengganda untuk Anggaran Berimbang. Oleh karena dalam anggaran berimbang, contoh
kita di atas, jumlah pengeluaran pemerintah sama dengan jumlah pajak, maka akibat dari anggaran
belanja yang seimbang terhadap penghasilan nasional adalah: (Jumlah kenaikan penghasilan
nasional karena pengeluaran pemerintah) dikurangi (jumlah pengurangan penghasilan nasional
karena adanya pajak). Karena yang pertama adalah sebesar (1/MPS) kali jumlah pengeluaran
pemerintah, dan yang disebut belakangan adalah -(1MPS - 1), maka tambahan penghasilan neto
karena anggaran seimbang adalah (1/MPS)-(1MPS -1) =1 kali anggaran berimbang tersebut.
Dengan kata lain faktor pengganda untuk anggaran berimbang adalah (+1).
Tabungan Pemerintah dan Pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi satu negara
dapat dibiayai oleh sumber-sumber dari dalam negeri dan dari luar negeri. Sumber pembiayaan
pembangunan ekonomi dari dalam negeri dapat berupa tabungan perseorangan, tabungan
perusahaan, dan tabungan pemerintah, sedangkan yang bersumber dari luar negeri bisa berupa

18
bantuan dan pinjaman luar negeri, penanaman modal langsung dari luar negeri atau penanaman
modal tidak langsung dari luar negeri. Yang dimaksud dengan tabungan pemerintah adalah semua
penerimaan dari dalam negeri dikurangi dengan semua pengeluaran rutin. Namun untuk Indonesia
masih dikurangi lagi dengan anggaran belanja untuk daerah yang harus dikeluarkan oleh
pemerintah Pusat tiap tahun (bersifat rutin).

19
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pemerintah Orde Lama terpaksa melaksanakan kebijaksanaan anggaran belanja defisit
yang telah berakibat timbulnya inflasi kumulatif dan selanjutnya berakhir dengan kehancuran
ekonomi. Sebagai koreksi terhadap kebjaksanaan sebelumnya, pemerintahan Orde Baru
menentukan beberapa kebijaksanaan di bidang anggaran belanja dengan tujuan mempertahankan
stabilitas proses pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Apabila dalam tahun berjalan terjadi
perubahan keadaan perekonomian sehingga asumsi yang mendasari penyusunan anggaran tidak
sesuai lagi, maka diadakan perubahan-perubahan seperlunya dan anggaran belanja perubahan
tersebut harus diajukan ke DPR untuk ditetapkan sebagai anggaran belanja Perubahan.
Anggaran belanja negara/pemerintah terdiri dari anggaran untuk Pemerintah Pusat dan
anggaran untuk Pemerintah Daerah, dimana anggaran untuk Pemerintah Pusat sekitar dua kali dari
anggaran untuk Pemerintah Daerah. Anggaran belanja terdiri dari komponen penerimaan dan
komponen pengeluaran, di mana komponen penerimaan dibedakan menjadi penerimaan dalam
negeri dan hibah.
Penerimaan dalam negeri dibedakan menjadi penerimaan dari pajak (dari dalam negeri dan
pajak perdagangan internasional) dan bukan pajak. Pajak dalam negeri yang memberi kontribusi
terbesar adalah pajak penghasilan (khususnya dari non migas), diikuti oleh pajak pertambahan
nilai, pajak bumi dan bangunan, dan cukai. Sedangkan sebagian besar dari pajak perdagangan
internasional berasal dari pajak impor. Komponen Penerimaan Negara Bukan Pajak yang paling
besar adalah dari Sumber Daya Alam (terutama minyak bumi) kemudian diikuti oleh Gas Alam,
Bagian Laba BUMN, dan Surplus Bank Indonesia.

20
DAFTAR PUSTAKA

Nehen, Ketut. 2016. Perekonomian Indonesia. Denpasar: Udayana University Press.

https://www.kemenkeu.go.id/media/12830/apbn-kita-juli-2019.pdf (diakses pada 9 November


2019, pukul 16.00 WITA)

https://nasional.kontan.co.id/news/penerimaan-negara-bukan-pajak-mencapai-rp-24127-triliun-
di-semester-i?page=all (diakses pada 8 November 2019, pukul 22.00 WITA)

https://money.kompas.com/read/2019/09/24/171800026/hingga-agustus-2019-penerimaan-
negara-baru-54-9-persen-dari-target-. (diakses pada 8 November 2019, pukul 22.05 WITA)

21