Anda di halaman 1dari 34

Critical Book Review

Skor Nilai :
PENDIDIKAN PANCASILA

TUGAS CBR
Disusun untuk Memenuhi Salah satu Tugas dalam

Mata Kuliah Pendidikan Pancasila

Dosen Pengampu: Drs. Halking, M.Si.

Disusun Oleh:

Nama : Maulana Dhaffa Abira (5173151023)


M Jaka Surya (5173151022)
Prodi/Kelas : PTIK/B
Fakultas : Teknik

UPT MKWU PENDIDIKAN PANCASILA


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji & Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
Rahmat dan Karunia-Nya Critical Book Review ini dapat selesai dengan baik. Dan kami
berterima kasih kepada pihak yang terkait atas kerjasamanya dalam melaksanakan Critical
Book Review ini.
Critical Book Review merupakan tugas yang mengharuskan mahasiswa dalam
melihat, menganalisa, dan menilai sebuah journal dalam segi tampilan, penulisan, isi, dan
aspek tata bahasa journal tersebut. Diperlukan kecermatan, kehati-hatian, serta tanggung
jawab dalam membuat Critical Book Review, karna yang dinilai merupakan journal karya
ilmiah atau bersifat akademik. Kami sangat berharap Critical Book Review ini dapat
berguna dalam membangun konteks teks laporan, diantaranya teks laporan penelitian dan
teks laporan kegiatan.
Demikianlah Critical Book Review ini kami sajikan, semoga Critical Book
Review ini dapat dipahami dan berguna bagi siapapun yang membacanya. Critical Book
Review merupakan bentuk dari pembelajaran yang ditugaskan kepada mahasiswa, untuk
itu kami mohon maaf apabila kritikan kami ini tidak sesuai dengan harapan Penulis, Dosen
Pengampu, rekan-rekan, maupun pihak-pihak lainnya. Serta kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran
yang membangun dari Anda serta Dosen Pengampu demi perbaikan Critical Book Review
ini di waktu yang akan datang.
Medan, 21 September 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 2


DAFTAR ISI ........................................................................................................................ 3
BAB I. Pengantar .................................................................................................... 4
A Latar Belakang .............................................................................................. 4
B Tujuan .......................................................................................................... 5
C Manfaat ........................................................................................................ 5
D Identitas Buku yang Direview ...................................................................... 5
BAB II. Ringkasan Buku ........................................................................................ 6
A Bab 1, Pendahuluan ....................................................................................... 6
B Bab 2, Pancasila Dalam Konteks Sejarah Perjuangan Pancasila .................. 7
C Bab 3, Pancasila Sebagai Sistem Filsafat .................................................... 11
D Bab 4, Pancasila Sebagai Etika Politik ....................................................... 13
E Bab 5, Pancasila Sebagai Ideologi Nasional ............................................... 16
F Bab 6, Pancasila Dalam Konteks Ketatanegaraan Republik Indonesia ...... 23
G Bab 7, Pancasila Sebagai Paradigma Kehidupan Dalam Bermasyarakat ... 26
BAB III Keunggulan Buku .................................................................................... 29
A Keterkaitan antar bab (Kohesi dan Koherensi antar bab) .......................... 29
B Kemutakhiran isi Buku ............................................................................... 29
BAB IV Kelemahan Buku ...................................................................................... 31
A Keterkaitan antar bab(Kohesi dan Koherensi antar bab) ........................... 31
B Kemutakhiran Isi Buku ............................................................................... 31
C Keterkaitan antara isi Buku Dengan Bidang Ilmu ...................................... 32

BAB V Simpulan dan Saran ................................................................................. 34


A Kesimpulan ................................................................................................ 34
B Penutup ....................................................................................................... 34

3
BAB I
PENGANTAR

A. Latar Belakang
Critikal book review merupakan tugas yang mengharuskan mahasiswa dalam
melihat, menganalisa, dan menilai sebuah buku dalam segi penampilan, penulisan, isi, dan
aspek tata bahasa buku tersebut. Dalam menilai sebuah buku, diperlukan sebuah
pembanding untuk melihat perbandingan buku yang direview dengan buku atau jurnal
yang menjadi pembanding.
Sebagai Penulis, adanya critikal book review ini sangat penting dalam melihat
kualitas buku tersebut. Penulis dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan buku yang
dimilikinya. Dengan adanya critikal, Penulis dapat meningkatkan kualitas dari buku
tersebut. Sehingga Pembaca dapat mengetahui dan memahami apa yang ingin disampaikan
Penulis melalui buku tersebut.
Reviewers juga berperan penting dalam meningkatkan kualitas buku. Pendapat
yang beragam dari Reviewer tidak dapat dipandang sebagai kritikan saja. Kritikan tersebut
harus bersifat membangun kualitas baik itu dari penampilan, penulisan, tata bahasa,
maupun isi dari buku tersebut. Dari kritikan yang beragam ini, Reviewer harus
bertanggungjawab dalam membuat critikal book review. Untuk itulah sikap kehati-hatian
dan kecermatan merupakan hal terpenting dalam meriview. Jika mahasiswa terbiasa dalam
meriview buku, tentunya pengalaman dan pengetahuan seorang reviewers menjadi
bertambah.

B. Tujuan
Critical book review ini memiliki tujuan baik untuk Penulis, Reviewers, maupun
Pembaca, berikut tujuan yang dimaksud :
1. Mendapatkan saran-saran atau kritikan yang membangun.
2. Mengetahui kelebihan dan kekurangan buku.
3. Menambah wawasan dalam mengkritik buku.
4. Memahami topik yang disampaikan buku tersebut.

4
C. Manfaat
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai pada critical book review ini, tentunya
tujuan-tujuan yang ingin disampaikan dapat memberi manfaat, dan diantara manfaat itu
ialah :
1. Dapat gambaran umum dari apa yang ingin dicapai.
2. Dapat merevisi ataupun membuat karya ilmiah maupun buku baru.
3. Dapat bertindak sebagai profesional dalam mereviewer.
4. Dapat mengembangkan materi atau ilmu yang terdapat pada buku.

D. Identitas Buku Yang Direview

Buku Utama
1. Judul : Pendidikan Pancasila
2. Edisi : Edisi Reformasi 2016
3. Pengarang : Prof. Dr. Kaelan, M.S.
4. Penerbit : Paradigma Yogyakarta
5. Kota terbit : Yogyakarta, Indonesia
6. ISBN :-
7. Tebal : 285 Halaman
8. Tahun terbit : 2016
9. Cover Buku :

Buku Pembanding
1. Judul : Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi
2. Edisi : Edisi 2010
3. Pengarang : Dr. H. Kabul Budiyono, M.Si.
4. Penerbit : ALFABETA, cv
5. Kota terbit : Bandung, Indonesia
6. ISBN : 978-602-8361-21-7
7. Tebal : 206 Halaman
8. Tahun terbit : 2010
9. Cover Buku :

5
BAB II
RINGKASAN BUKU

A. Bab 1, Pendahuluan
Pancasila adalah dasar filsafat Negara Republik Indonesia yang secara resmi
disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam
pembukaan UUD 1945, yang diundangkan dengan batang tubuh UUD 1945.
Landasan
Landasan pendidikan pancasila terbagi menjadi 3 yakni:
a. Historis
b. Kultural
c. Yuridis
d. Filosofis
a. Landasan Historis
- Terbentuk melalui proses panjang sejak zaman kerajaan
- Suatu prinsip tersimpul dalam pandangan dan filsafat hidup bangsa berupa ciri
khas, sifat, dan karakter
- Nasionalisme Indonesia bukan dengan kekuasaan atau hegemoni ideology
tetapi dengan kesadaran berbangsa dan bernegara yang berakar pada sejarah
b. Landasan Kultural
- Setiap bangsa memiliki ciri khas dan pandangan hidup yang berbeda dengan
bangsa lain
- Sila-sila Pancasila merupakan karya besar bangsa yang dimiliki melalui proses
refleksi filosofis pendiri Negara, diantaranya:
1) Soekarno
2) Moh. Yamin
3) Moh. Hatta
4) Soepomo
- Sila-sila Pancasila merupakan hasil pemikiran tentang bangsa dan Negara yang
mendasarkan pandangan hidup suatu prinsip nilai.

6
c. Landasan Yuridis
- UU No. 2 Tahun 1989 memuat Sistem Pendidikan Nasional di Perguruan
tinggi
- Pasal 39 berisi kurikulum (jenis/jalur/jenjang) dinyatakan wajib memuat
pendidikan:
1) Pancasila
2) Agama
3) Kewarganegaraan
- SK Mendiknas No. 232/U/2000: Berisi tentang pedoman penyusunan
kurikulum pendidikan tinggi dan penilaian hasil belajar mahasiswa. Pasal 10
ayat 1 menyatakan setiap pelajaran wajib memuat agama, Pancasila, dan
Kewarganegaraan.
d. Landasan Filosofis
- Pancasila adalah sebagai dasar filsafat Negara dan pandangan filosofis bangsa
Indonesia
- Sebelum mendirikan Negara, bangsa Indonesia adalah sebagai bangsa yang
berketuhanan dan berkemanusiaan, berdasarkan kenyataan objektif bahwa
manusia adalah mahluk Tuhan yang Maha Esa.

B. Bab 2, Pancasila Dalam Konteks Sejarah Perjuangan Pancasila


Untuk memahami Pancasila secara lengkap dan utuh terutama dalam kaitannya
dengan jati diri bangsa Indonesia, mutlak diperlukan pemahaman sejarah perjuangan
bangsa Indonesia untuk membentuk suatu negara yang berdasarkan suatu asa hidup
bersama demi kesejahteraan hidup bersama, yaitu negara yang berdasarkan Pancasila.

a. ZAMAN KUTAI

Masyarakat Kutai memebuka sejarah Indonesia pertama kalinya menampilkan nilai


social politik dan ketuhanan dalam bentuk kerajaan kenduri serta sedekah pada para
Brahmana.

b. ZAMAN SRIWIJAYA

Tiga tahap pembentukan negara Indonesia :

1. Sriwijaya/ syailendra (600-1400) - kedatuan

2. Majapahit (1293-1525) - keprabuan

7
3. Modern (17 Agustus 1945-sekarang)

Marvuat vanua criwijaya siddhayatra subhiksa berarti suatu cita-cita negara yang adil dan
makmur, hal ini merupakan cita-cita tentang kesejahteraan bersama dalam suatu negara
yang sudah tercermin sejak zaman kerajaan Sriwijaya.

c. ZAMAN KERAJAAN SEBELUM MAJAPAHIT

Banyak kerajaan kecil yang mendukung akan lahirnya kerajaan Majapahit seperti
Isana, Kalasan, Darmawangsa,dll.

d. ZAMAN MAJAPAHIT

Empu Prapanca menilis Negarakertagama yang memuat istilah Pancasila. Begitu


juga Empu Tantular yang mengarang kitab Sutasoma yang memuat Bhineka Tunggal Ika
Tan Hana Dharma Magrua yang berarti walau berbeda namun satu jua adanya sebab tidak
ada agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya realitas
kehidupan agama pada saat itu, yaitu Hindu dan Budha. Sumpah Palapa yang diucapkan
oleh Mahapatih Gajah Mada dalam sidang Ratu dan Menteri-menteri di paseban
keprabuan Majapahit tahun 1331, yang berisi cita-cita mempersatukan seluruh nusantara
raya sebagai berikut : “Saya barua akan berhenti berpuasa makan pelapa, jikalau seluruh
nusantara bertakluk di bawah kekuasaan negara. Impian ini telah mempersatukan silayah
nusantara dalam sebuah kesatuan menjadi kenyataan hingga saat ini.

e. ZAMAN PENJAJAHAN

Belanda terbukti menindas rakyat Indonesia melalui berbagai cara, namun berkat
kegigihan para pejuang untuk bebas dari penjajah, kerajaan dan pemerintahan yang ada
saat itu melakukan perundingan silih berganti. Namun, semua perlawanan senantiasa
kandas karena tidka disertai rasa persatuan dan kesatuan dalam menaklukkan penjajah.

f. KEBANGKITAN NASIONAL

Terjadinya pergolakkan kebangkitan dunia timur mendorong bangkitnya semangat


kesadaran berbangsa yang ditandai dengan lahirnya Budi Utomo, disusul dengan lahirnya
SDI, SI, Indische Partij, PNI, dll. Munculnya organisasi kepemudaan menunjukkan bahwa
persatuan untuk melawan penjajah mulai terealisasikan.

g. ZAMAN PENJAJAHAN JEPANG

Indonesia jatuh ke tangan Jepang karena Belanda takluk pada Jepang. Tak ada bedanya
dengan Belanda, Jepang pun memeras tenaga rakyat untuk kepentingan Jepang. Janji
merdeka diberikan pada Indonesia berkali-kali melalui BPUPKI dan PPKI. BPUPKI
mengadakan sidang untuk mewujudkan keinginan merdeka, yaitu pada :

1. 29 Mei 1945 – 1 Juni 1945

8
Membahas usulan-usulan rumusan dasar negara. Sidang ini dihadiri oleh beberapa tokoh
penting, seperti :

• Mr. Muh. Yamin

• Prof. Dr. Soepomo

• Ir. Soekarno

2. 10 Juli 1945 – 16 Juli 1945

Membentuk “Panitia Sembilan” untuk membuat pembukuan hukum dasar yang lebih kita
kenal dengan istilah Undang-Undang Dasar.

h. SIDANG BPUPKI

1. Sidang Pertama (18 Agustus 1945)

Sidang pertama PPKI dihadiri 27 orang dan menghasilkan keputusan-keputusan sebagai

berikut :

• Setelah melakukan beberapa perubahan pada Piagam Jakarta yang kemudian berfungsi
sebagai Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

• Menetapkan rancangan Hukum Dasar yang telah diterima dari Badan Penyelidik pada
tanggal 17 Juli 1945, setelah mengalami berbagai perubahan karena berkaitan dengan
perubahan Piagam Jakarta, kemudian berfungsi sebagai Undang-Undang Dasar 1945.

• Memilih Presiden dan Wakil Presiden yang pertama.

• Menetapkan berdirinya Komite Nasional Indonesia Pusat sebagai badan musyawarah


darurat.

2. Sidang Kedua (19 Agustus 1945)

Pada sidang kali ini, PPKI berhaisl menetapkan daerah Propinsi sebagai berikut :

• Jawa Barat

• Jawa Tengah

• Jawa Timur

• Sumatera

• Borneo

• Sulawesi

• Maluku

9
• Sunda Kecil

3. Sidang Ketiga (20 Agustus 1945)

Sidang ketiga ini dilakukan pembahasan terhadap agenda tentang ‘Badan Penolong
Keluarga Korban Perang’, adapun keputusan yang dihasilkan adalah terdiri atas delapan
pasal. Salah satu dari pasal tersebut yaitu, pasal 2 dibentuklah suatu badan yang disebut ‘
Badan Keamanan Rakrat’ (BKR)

4. Sidang Keempat (22 Agustus 1945)

Pada sidang keempat PPKI membahas agenda tentang Komite Nasional Partai Nasional
Indonesia, yang pusatnya berkedudukan di Jakarta.

i. PROKLAMASI KEMERDEKAAN DAN SIDANG PPKI

Proklamasi Jepang kalah perang melawan tentara sekutu, Jepang terdesak


memberikan kemerdekaan Indonesia melalui PPKI sebagai tim perncang kemerdekaan
Indoensia. PPKI beranggotakan 21 orang, yang tidak satupun anggotanya dari pihak
Jepang sehingga dapat leluasa merundingkan proklamasi untuk kemerdekaan Indonesia.

j. MASA SETELAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN

Arti proklamasi kemerdekaan bagi Indonesia :

1. Secara yuridis, Proklamasi menjadi awal tidak berlakunya hukum kolonial, dan mulai
berlakunya hukum masional.

2. Secara politis ideologis, Proklamasi berarti bahwa Indonesia terbebas dari penjajahan
dan memiliki kedulatan untuk menentukan nasib sendiri. Pembentukan Negara RIS
Sebelum persetujuan KMB, bangsa Indonesia telah memeliki kedaulatan. Oleh karena itu,
persetujuan KMB bukanlah penyerahan kedaulatan, melainkan pengalihan atau pengakuan
kedaulatan. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Ketidakstabilan negara disegala bidang membuat
Presiden Soekarno mengeluarkan

Dekrit Presiden yang berisi :

• Membubarkan Konstituante

• UUDS 1950 tidak berlaku lagi dengan diberlakukannya UUD 1945

• Dibentuknya MPRS dan DPAS dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

10
Landasan hukum Dekrit adalah hukum darurat :

• Hukum tata negara darurat subjektif

• Hukum tata negara darurat objektif

Masa Orde Baru

Muncul Tritura akibat adanya peristiwa pemberontakan PKI yang berisi :

• Pembubaran PKI

• Pembersihan kabinet dari unsur PKI

• Penurunan harga kebutuhan pokok

Pemerintahan orde baru melaksanakan program-programnya dalam upaya merealisasikan


pembangunan nasional sebagai perwujudan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara
murni dan konsekuen.

C. Bab 3, Pancasila Sebagai Sistem Filsafat


Jika seseorang berpandangan bahwa kebenaran pengetahuan itu sumbernya rasio
maka orang tersebut berfilsafat rasionalisme. Jikalau seseorang berpandangan bahwa
dalam hidup ini yang terpenting adalah kenikmatan, kesenangan dan kepuasan lahiriah
maka paham ini disebut hedonisme. Secara etimologis, filsafat berasal dari bahasa Yunani:

1. Philein yang berarti cinta

2. Sophos yang berarti hikmah/ kebijaksanaan/ wisdom

Secara harfiah, filsafat mengandung makna kebijaksanaan

Bidang ilmu yang mencakup filsafat :

1. Manusia

2. Alam

3. Pengetahuan

4. Etika

5. Logika

11
Filsafat secara menyeluruh berarti :

a. Filsafat sebagai produk yang mencakup pengertian

1. Filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep, pemikiran-pemikiran dari


para filsuf pada zaman dahulu yang lazimnya merupakan suatu aliran.

2. Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi manusia sebagai hasil dari
aktivitas berfilsafat. Jadi manusia mencari suatu kebenaran yang timbul dari
persoalan yang bersumber pada akal manusia.

b. Filsafat merupakan suatu sistem pengetahuan yang bersifat dinamis.

1. Metafisika

Membahas tentang hal-hal yang bereksistensi di balik fisis, yang meliputi bidang-
bidang ontologi, kosmologi, dan antropologi.

2. Epistemologi

Berkaitan dengan persoalan hakikat pengetahuan.

3. Metodologi

Berkaitan dengan persoalan hakikat metode dalam ilmu pengetahuan.

4. Logika

Berkaitan dengan persoalan filsafat berfikir, yaitu rumusan dan dalil berfikir yang
benar.

5. Etika

Berkaitan dengan moralitas, tingkah laku manusia.

6. Estetika

Berkaitan dengan persoalan hakikat keindahan

RUMUSAN KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI SUATU SISTEM

Sistem adalah suatu keasatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling bekarja
sama untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan utuh

yang memiliki ciri-ciri :

a. Suatu kesatuan bagian-bagian


b. Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri

12
c. Saling berhubungan dan saling ketergantungan.
d. Keseluruhan dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (tujuan sistem)
e. Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks

Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu sila-sila Pancasila setiap sila pada
hakikatnya merupakan suatu asas sendiri, fungsi sendiri namun secara keseluruhan
merupakan suatu kesatuan yang sistematis.

KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI KESATUANSISTEM


FILSAFAT

Secara filosofis Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat memiliki dasar ontologis,
dasar epistemologis, dan dasar oskologis sendiri yang berbeda degan sistem filsafat yang
lainnya misalnya materialisme, liberalisme, pragmatisme, komunisme, idealisme dan lain
paham filsafat di dunia.

1. Dasar Antropologis Sila-Sila Pancasila

2. Dasar Epistemologis Sila-sila Pancasila

3. Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila

Nilai-nilai Pancasila sebagai Suatu Sistem

Nilai-nilai yang terkandung dalam sila satu sampai dnegan sila lima merupakan cita-cita
harapan dan dambaan bangsa Indonesia yang akan diwujudkannya dalam kehidupan.
Sejak dahulu cita-cita tersebut telah didambakan oleh bangsa Indonesia agar terwujud
dalam suatu masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, dengan
penuh harapan diupayakan terealisasi dalam setiap tingkah laku dan perbuatan setiap
manusia Indonesia.

D. Bab 4, Pancasila Sebagai Etika Politik


Dalam filsafat Pancasila terkandung di dalamnya suatu pemikiran-pemikiran yang
bersifat kritis, mendasar, rasional, sitematis dan komprehensif (menyeluruh) dan system
pemikiran ini merupakan suatu nilai. Oleh karena itu, suatu pemikiran filsafat tidak secraa
langsung menyajikan norma-norma yang merupakan pedoman dalam suatu tindakan atau
aspek praksis melainkan suatu nilai-nilai yang bersifat mendasar.

13
Norma-norma tersebut meliputi :

1. Norma moral

Berkaitan dengan tingkah laku manusia, dapat diukur dari sudut baik maupun buruk.
Dalam kapasitas inilah nilai-nilai Pancasila telah terjabarkan dalam suatu norma-norma
moralitas atau norma-norma etika sehingga Pancasila merupakan sistem etika dalam
masyarakat, berbangsa dan bernegara.

2. Norma hukum

Suatu sistem peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Pancasila


berkedudukan sebagai sumber dari segala sumber hukum di negara Indoensia. Nilai-nilai
Pancasila sebenarnya berasal dari Bangsa Indonesia sendiri atau dengan lain perkataan
bangsa Indonesia sebagai asal mula materi (kausa materialis) nilai-nilai Pancasila.

PENGERTIAN ETIKA

Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti
suatu ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung
jawab berhadapan dengna pelbagai jaaran moral.

Etika terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :

1) Etika Umum
2) Etika Khusus:
3) Etika Individual, membahas kewajiban manusia terhadap diri sendiri
4) Etika Sosial, membahas kewajiban manusia trhadap manusia lain.

PENGERTIAN NILAI, NORMA, DAN MORAL

a. PENGERTIAN NILAI

Nilai merupakan kemampuan yang dipercayai yang ada pad asuatu benda untuk
memuaskan manusia. Jadi hakikatnya, nilai merupakan sifat atau kualitas yang melakat
pada suatu objek, bukan objek itu sendiri.

b. HIERARKI NILAI

Kelompok nilai menurut tinggi dan rendahnya :

• Nilai-nilai kenikmatan

• Nilai-nilai kehidupan

• Nilai-nilai kejiwaan

• Nilai-nilai kerohanian

14
Golongan manusia menurut Walter G.Everet :

• Nilai-nilai ekonomis

• Nilai-nilai kejasmanian

• Nilai-nilai hiburan

• Nilai-nilai sosial

• Nilai-nilai watak

• Nilai-nilai estetis

• Nilai-nilai intelektual

• Nilai-nilai keagamaan

Notonagoro membagi nilai menjadi 3 macam :

• Nilai material

• Nilai vital

• Nilai kerohanian :

1. Nilai kebenaran

2. Nilai keindahan

3. Nilai kebaikan

4. Nilai religius

NILAI DASAR,NILAI INSTRUMENTAL dan NILAI PRAKTIS NILAI DASAR

Nilai dasar tidak dapat diamati melalui indera manusia, namun berkaitan dengan tingkah
laku manusia atau segala aspek kehidupan manusia yang bersifat nyata. Nilai bersifat
universal karena menyangkut hakikat kenyataan objektif segala sesuatu misalnya Tuhan,
manusia atau segala sesuatu lainnya.

NILAI INSTRUMENTAL

Merupakan suatu pedoman yang dapat diukur dan diarahkan, sehingga dapat dikatakan
bahwa nilai instrumental juga merupakan suatu eksplisitasi dari nilai dasar.

15
NILAI PRAKSIS

Merupakan perwujudan dari nilai instrumental sehingga dapat berbeda-beda wujudnya,


namun demikian tidak bisa menyimpang atau bahkan tidak dapat bertentangan karena nilai
dasar, nilai instrumental dan nilai praksis merupakan suatu sistem perwujudan yang tidak
boleh menyimpang dari sistem tersebut.

E. Bab 5, Pancasila Sebagai Ideologi Nasional


a. PENGERTIAN ASAL MULA PANCASILA

Pancasila terbentuk melalui proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa
Indonesia. Secara kausalitas, Pancasila sebelum disyahkan menjadi dasar filsafat negara,
nilai-nilainya telah ada dan berasal dari bangsa Indonesia sendiri yang berupa nilai-nilai
istiadat, kebudayaan dan nilai-nilai religius. Agar memiliki pengetahuan yang lengkap
tentang proses terjadinya Pancasila, maka secara ilmiah harus ditinjau berdasarkan proses
kausalitas.

1. Asal Mula yang Langsung

Teori kausalitas ini dikembangkan oleh Aristoteles, adapun berkaitan dengan asal mula
yang langsung tentang Pancasila adalah asal mula yang langsung terjadinya Pancasila
sebagai dasar filsafat negara yaitu asal mula yang sesudah dan menjelang Proklamasi
Kemerdekaan yaitu sejak dirumuskan para pendiri negara sejak sidang BPUPKI pertama.
Adapun rincian asal mula langsung Pancasila adalah sebagai berikut :

a. Asal Mula Bahan (Kausa Materialis)

Asal Bahan Pancasila adalah pada bangsa Indonesia sendiri yang terdapat dalam
kepribadian dan pandangan hidup.

b. Asal Mula Bentuk (Kausa Formalis)

Asal mula bentuk Pancasila adalah Ir. Soekarno bersama Drs. Moh.Hatta serta
anggota BPUPKI lainnya yang merumuskan dan membahas Pancasila terutama dalam hal
bentuk, rumusan serta nama Pancasila.

c. Asal Mula Karya (Kausa Effisien)

Asal mula karyanya adalah PPKI sebagai pembentuk negara dan atas kuasa
pembentuk negara yang mengesahkan Pancasila menjadi dasar negara yang sah.

d. Asal Mula Tujuan (Kausa Finalis)

Asal mula tujuan adalah para anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan termasuk
Soekarno dan Hatta yang menentukan tujuan dirumuskannya Pancasila sebelum ditetapkan
oleh PPKI sebagai dasar negara yang sah.

16
2. Asal Mula yang Tidak Langsung

Asal mula tidak langsung terdapat pada kepribadian serta dalam pandangan hidup sehari-
hari bangsa Indonesia dengan rincian berikut :

a. Unsur Pancasila sebelum dirumuskan menjadi dasar filsafat negara yaitu :

Nilai Ketuhanan

Nilai Kermanusiaan

Nilai Persatuan

Nilai Kerakyatan

Nilai Keadilan

b. Terkandung dalam pandangan hidup masyarakat sebelum membentuk negara yaitu


:

Nilai adat istiadat

Nilai kebudayaan

Nilai religius

c. Asal mula tidak langsung Pancasila merupakan kausa materialis atau asal mula
tidak langsung nilai-nilai Pancasila.

Pancasila bukanlah hasil perenungan seseorang atau kelompok atau bahkan hasil sintesa
paham-paham besar dunia, melainkan pandangan hidup bangsa Indonesia.

3. Bangsa Indoenesia ber-Pancasila dalam “Tri Prakara”

Pancasila terbentuk melalui suatu proses yang cukup panjang dalam sejarah kebangsaan
Indonesia yang terangkum dalam tiga asas atau Tri Prakara, yaitu :

a) Pancasila Asas Kebudayaan


b) Pancasila Asas Religius
c) Pancasila Asas Kenegaraan

B. KEDUDUKAN DAN FUNGSI PANCASILA

Setiap kedudukan dan fungsi Pancasila pada hakikatnya memiliki makna serta dimensi
masing-masing yang konsekuensi aktualisasinya pun memiliki aspek yang berbeda-beda,
walaupun hakikat dan sumbernya sama.

17
1. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa

Pandangan hidup yang terdiri atas kesatuan rangkaian nilai-nilai luhur adalah suatu
wawasan yang menyeluruh terhadap kehidupan. Pandangan hiudp berfungsi sebagai
kerangka acuan baik untuk menata kehidupan diri pribadi maupun dalam interaksi antar
manusia dalam masyarakat serta alam sekitarnya. Pandangan hidup bangsa dapat disebut
sebagai ideologi bangsa (nasional), dan pandangan hidup negara dapat disebut sebagai
ideologi negara.

2. Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia

Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dapat dirinci sebagai berikut :

a. Pancasila sebagai dasar negara merupakan sumber dari segala sumber hukum
(sumber tertib hukum) Indonesia.
b. Meliputi suasana kebatinan (Geistlichenhintergrund) dari Undang-Undang Dasar
1945.
c. Mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar negara.
d. Mengharuskan UUD mengandung isi yang mewajibkan pemerintah memegang
teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.
e. Merupakan sumber semangat bagi UUD 1945 bagi penyelenggara negara.

3. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia

Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia berakar pada pandangan hidup
dan budaya bangsa. Karena ciri khas Pancasila memiliki kesesuaian dengan bangsa
Indonesia.

a. Pengertian Ideologi

Ideologi berarti ilmu pengertian-pengertian dasar atau sering kita sebut sebagai
cita-cita. Pengertian ideologi secara umum dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan,
ide, keyakinan, kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis yang menyangkut :

- Bidang Politik
- Bidang Sosial
- Bidang Kebudayaan
- Bidang Keagamaan

Ideologi negara yang merupakan sistem kenegaraan utnuk rakyat dan bangsa pada
hakikatnya merupakan asas kerohanian yang memilki ciri khas diantaranya :

Mempunyai derajat tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan.


Mewujudkan suatu asas kerohanian, pandangan dunia, pandangan hidup, pedoman hidup,
pegangan hidup yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi
berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban.

18
b. Ideologi Terbuka dan Ideologi Tertutup

Ideologi tertutup merupakan suatu sistem pemikiran tertutup yang membenarkan


pengorbanan masyarakat. Bukan hanya berupa nilai dan cita-cita tertentu melainkan
sebuah tuntutan bagi rakyatnya. Ideologi terbuka merupakan suatu sistem pemikiran
terbuka yang tidak hanya dibenarkan, dibutuhkan karena bukan merupakan paksaan dari
pihak luar melainkan digali dan diambil dari harta kekayaan rohani, moral dan budaya
masyarakat itu sendiri.

c. Ideologi Partikular dan Ideologi Komprehensif

Ideologi partikular diartikan sebagai suatu keyakinan yang tersusun secara


sistematis dan terkait erat dengan kepentingan suatu kelas sosial tertentu dalam
masyarakat. Ideologi komprehensif diartikan sebagai suatu sistem pemikiran menyeluruh
mengenai semua aspek kehidupan sosial yang memiliki cita-cita melakukan transformasi
social besar-besaran emnuju bentuk tertentu.

d. Hubungan antara Filsafat dan Ideologi

Dari tradisi sejarah filsafat barat dapat dibuktikan bahwa tumbuhnya ideologi
seperti liberalisme, kapitalisme, marxisme leninisme, maupun nazisme dan facisme
bersumber kepada aliran-aliran filsafat yang berkembang disana.

C. PERBANDINGAN IDEOLOGI PANCASILA DENGAN PAHAM IDEOLOGI


BESAR LAINNYA DI DUNIA

1. Ideologi Pancasila

Ideologi Pancasila mendasarkan pada hakikat sifat kodrat manusia sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial. Ideologi Pancasila mengakui kebebasan dan kemerdekaan
individu yang berarti tetap mengakui dan menghargai kebebasan individu lain.

2. Negara Pancasila

Berdasarkan ciri khas proses dalam rangka membentuk suatu negara. Maka bangsa
Indonesia mendirikan suatu negara memiliki suatu karakteristik, ciri khas tertentu yang
karena ditentukan oleh keanekaragaman, sifat dan karakternya. Maka bangsa ini
mendirikan suatu negara berdasarkan Filsafat Pancasila, yaitu suatu Negara Persatuan,
Negara Kebangsaan serta Negara yang bersifat Integralistik.

a. Paham Negara Persatuan

Merupakan kesatuan unsur-unsur yang membentuknya berupa rakyat, wilayah, dan


kedaulatan pemerintah.

19
Bhineka Tunggal Ika

Hakikat makna Bhineka Tunggal Ika yang memberikan suatu pengertian bahwa meskipun
bangsa dan negara Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku bangsa yang memiliki
adat istiadat, kebudayaan serta karakter yang berbeda, memiliki agama yang berbeda dan
terdiri dari beribu kepulauan wilayah nusantara Indonesia, namun keseluruhannya
merupakan suatu persatuan yaitu persatuan bangsa dan negara Indonesia.

b. Paham Negara Kebangsaan

Manusia membentuk suatu persekutuan hidup yang disebut bangsa, dan bangsa
yang hidup dalam suatu wilayah tertentu serta memiliki tujuan tertentu maka pengertian
ini disebut sebagai negara.

Hakikat Bangsa

Pada hakikatnya merupakan suatu penjelmaan dari sifat kodrat manusia dalam
merealisasikan harkat dan martabat kemanusiaannya.Namun, bangsa bukanlah suatu
totalitas kelompok masyarakat yyang menenggelamkan hak-hak individu sebagaimana
terjadi pada bangsa sosialis komunis.

Teori Kebangsaan

Terdapat berbagai macam teori besar di dalam suatu bangsa, diantaranya :

i. Teori Hans Kohn

“Bangsa terbentuk karena persamaan bahasa, ras, agama, peradaban, wilayah,


Negara dan kewarganegaraan. Suatu bangsa tumbuh dan berkembang dari anasir serta akar
yang terbentuk melalui suatu proses sejarah.”

ii. Teori Kebangsaan Ernest Renan

Pokok pikiran bangsa adalah sebagai berikut :

- Bangsa adalah suatu jiwa, asas kerohanian.


- Bangsa adalah solidaritas besar, hasil sejarah.
- Bangsa bukan sesuatu yang abadi.
- Wilayah dan ras bukan penyebab timbulnya bangsa.

iii. Teori Geopolitik Frederich Ratzel

“Negara merupakan suatu organisme yang hidup yang memiliki hubungan


wilayah geografis dengan bangsa.”

iv. Negara Kebangsaan Pancasila

20
Pancasila bersifat mejemuk tunggal. Unsur-unsur yang membentuk
nasionalisme Indonesia adalah sebagai berikut :

- Kesatuan Sejarah
- Kesatuan Nasib
- Kesatuan Kebudayaan
- Kesatuan Wilayah
- Kesatuan Asas Kerohanian

c. Paham Negara Integralistik

Pancasila sebagai asas kerohanian bangsa dan negara Indonesia pada hakikatnya
merupakan suatu asas kebersamaan, asas kekeluargaan serta religius. Dalam pengertian
ini, Indonesia dengan keanekaragamannya membentuk suatu kesatuan integral sebagai
suatu bangsa yang merdeka. Berdasarkan pengertian paham integralistik tersebut maka
rincian pandangannya adalah sebagai berikut :

Negara merupakan suatu susunan masyarakat yang integral. Semua golongan


bagian, bagian dan anggotanya berhubungan erat satu dengan lainnya. Semua golongan,
bagian dan anggotanya merupakan persatuan masyarakat yang organis.

Yang terpenting dalam kehidupan bersama adalah perhimpunan bangsa


seluruhnya. Negara tidak memihak kepada sesuatu golongan, tidak menganggap
kepentingan seseorang sebagai pusat.

Negara tidak hanya menjamin kepentingan seseorang atau golongannya saja


namun menjamin kepentingan manusia seluruhnya sebagai suatu kesatuan integral. Negara
menjamin keselamatan hidup bangsa seluruhnya.

d. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan Yang Berketuhanan Yang Maha Esa

Setiap individu yang hidup dalam suatu bangsa adalah sebagai makhluk Tuhan.
Maka, bangsa dan negara sebagai totalitas yang integral adalah berketuhanan, demiian
pula setiap warganya juga ber Ketuhanan Yang Maha Esa.

Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa

Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa secara ilmiah filosofis mengandung makna terdapat
kesesuaian hubungan sebab akibat antara Tuhan, manusia dan negara Yng merupakan
dasar untuk memimpin cita-cita kenegaraan untuk menyelenggarakan yang baikbagi
masyarakat dan penyelenggara negara.

Hubungan Negara dan Agama

Negara pada hakikatnya merupakan suatu persekutuan hidup bersama sebagai penjelmaan
sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Oleh karena itu sifat

21
dasar kodrat manusia tersebut merupakan sifat dasar negara, sehingga negara sebagai
manifestasi kodrat manusia secara horizontal dalam hubungan dengan manusia lain untuk
mencapai tujua bersama. Oleh karena itu, negara memiliki sebab akibat langsung dengan
manusia karena manusia adalah sebgaai pendiri negara. Hubungan ini sangat ditentukan
oleh dasar ontologis setiap individu.

e. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan Yang Berkemanusiaan Yang Adil


dan Beradab

Negara Pancasila sebagai negara Kebangsaan yang berkemanusiaan yang Adil dan
Beradab, mendasarkan nasionalisme (kebangsaan) berdasar hakikat kodrat manusia.
Kebangsaan Indonesia adalah kebangsaan yang berkemanusiaan, bukan suatu kebangsaan
yang Chauvimisme.

f. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan Yang Berkerakyatan

Pokok-pokok yang terkandung dalam sila keempat dalam penyelenggaraan negara


dapat dirinci sebagai berikut :

- Manusia Indonesia sebagai warga negara dan masyarakat mempunyai kedudukan


dan hak yang sama.
- Dalam menggunakan hak-haknya, selalu memperhatikan dan mempertimbangkan
kepentingan negara dan masyarakat.
- Karena mempunyai kedudukan, hak serta kewajiban yang sama maka pada
dasarnya tidak dibenarkan memaksakan kehendak pada pihak lain.
- Sebelum mengambil keputusan, terlebih dahulu dimusyawarahkan.
- Keputusan diusahakan ditentukan secara musyawarah.
- Musyawarah untuk mencapai mufakat disertai semangat kebersamaan.

g. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan Yang Berkeadilan sosial

Sebagai suatu negara hukum yang berkeadilan sosial maka negara Indonesia harus
mengakui dan melindungi hak asasi manusia. Dalam hidup bersama baik dalam
masyarakat, bangsa dan negara harus terwujud suatu keadilan (Keadilan Sosial) yang
meliputi 3 hal :

- Keadilan Distributif
- Keadilan Legal
- Keadilan Komutatif

3. Ideologi Liberal

Atas dasar ontologis hakikat manusia, dalam kehidupan masyarakat bersama yang
disebut negara, kebebasan individu sebagai basis demokrasi bahkan merupakan unsur
fundamental. Pemahaman atas eksistensi rakyat dalam suatu negar ainilah yang
merupakan sumber perbedaan konsep, antara lain terdapat konsep yang menekankan

22
bahwa rakyat adalah sebagai suatu kesatuan integral dari elemen-elemen yang menyusun
negara, bahkan komunisme menekankan bahwa rakyat adalah suatu totalitas di atas
eksistensi individu.

4. Hubungan Negara dan Agama Menurut Paham Liberalisme

Nilai-nilai agama dalam negara dipisahkan dan dibedakan dengan negara, keputusan
dan ketentuan kenegaraan terutama peraturan perundang-undangan sangat ditentukan oleh
kesepakatan individu-individu sebagai warga negaranya.

5. Ideologi Sosialis Komunis

Dalam kaitannya dengan negara, bahwa negara sebagai manifestasi dari manusia
sebagai makhluk komunal. Mengubah masyarakat secara revolusioner harus berakhir
dengan kemenangan pada pihak kelas proletar. Hak asasi manusia hanya berpusat pada
hak kolektif, sehingga hak individual pada hakikatnya tidak ada.

6. Hubungan Negara dan Agama Menurut Paham Komunisme

Negara yang berpaham komunisme adalah bersifat atheis bahkan bersifat antitheis,
melarang dan menekan kehidupan agama. Nilai yang tertinggi dalam negara adalah materi
sehingga nilai manusia ditentukan oleh materi

F. Bab 6, Pancasila Dalam Konteks Ketatanegaraan Republik Indonesia


a. PENGANTAR

Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan suatu asas kerohanian dalam ilmu
kenegaraan populer disebut sebagai dasar filsafat negara. Dalam kedudukan ini, Pancasila
merupakan sumber nilai dan sumber norma dalam setiap aspek penyelenggaraan negara,
termasuk sebagai sumber tertib hukum di negara Republik Indonesia. Konsekuensinya,
seluruh peraturan perundang-undangan serta penjabarannya senantiasa berdasarkan nilai-
nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila.

Pancasila merupakan sumber hukum dasar negara baik yang tertulis yaitu Undang-
Undang Dasar negara maupun hukum dasar tidak tertulis ataupun konvensi. Negara
dilaksanakan berdasarkan pada suatu konstitusi atas Undang-Undang Dasar negara.
Pembagian kekuasaan, lembaga-lembaga tinggi negara, hak dan kewajiban warga negara,
keadilan sosial dan lainnya diatur dalam suatu Undang-Undang Dasar negara. Pembukaan
UUD 1945 dalam konteks ketatanegaraan Republik Indonesia memiliki kedudukan yang
sangat penting karena merupakan suatu staatsfundamentalnorm dan berada pada hierarki
tertib hukum tertinggi di Negara Indonesia.

23
b. PEMBUKAAN UUD 1945

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bersama-sama dengan pasal-pasal UUD


1945, disahkan oleh Ppki pada tanggal 18 Agustus 1945 dan diundangkan dalam Berita
Republik Indonesia Tahun II No.7.

Pembukaan UUD 1945 dalam ilmu hukum mempunyai kedudukan di atas pasal-pasal
UUD 1945. Konsekuensinya keduanya memiliki kedudukan hukum yang berlainan,
namun keduanya terjalin dalam suatu hubungan kesatuan yang kausal dan organis.

1. Pembukaan UUD 1945 sebagai Tertib Hukum Tertinggi

Kedudukan Pembukaan Uud 1945 dalam kaitannya dengan tertib hukum Indonesia
memiliki dua aspek yang sangat fundamental yaitu :

a) Memberikan faktor-faktor mutlak bagi terwujudnya tertib hukum Indonesia


b) Memasukkan diri dalam tertib hukum Indonesia sebagai tertib hukum tertinggi
Sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai sumber
dari segala sumber hukum Indonesia.

2. Pembukaan UUD 1945 Memenuhi Syarat Aadanya Tertib Hukum Indonesia

Syarat-syarat tertib hukum Indonesia dianataranya adalah :

a) Adanya kesatuan subjek


b) Adanya kesatuan asas kerohanian
c) Adanya kesatuan daerah
d) Adanya kesatuan waktu

3. Pembukaan UUD 1945 sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fundamental

a) Dari segi terjadinya

Ditemukan oleh pembentuk negara dan terjelma dalam suatu pernyataan lahir
sebagai penjelmaan kehendak Pembentuk negara untuk menjadikan hal-hal tertntu sebagai
dasar-dasar negara yang dibentuknya.

b) Dari segi isinya

Memuat dasar-dasar pokok negara sebagai berikut :

1) Dasar tujuan negara


2) Ketentuan diadakannya UUD Negara
3) Bentuk negara
4) Dasar filsafat negara

4. Pembukaan UUD 1945 Tetap Terlekat pada Kelangsungan Hidup Negara Republik
Indonesia

24
Berdasarkan hakikat kedudukan Pembukaan UUD 194 sebagai naskah Proklamasi
yang terinci sebagai penjelmaan Proklamasi Kemerdekaan RI, serta dalam ilmu hokum
memenuhi syarat bagi terjadinya suatu tertib hukum Indonesia dan sebagi Pokok Kaidah
Negara yang Fundamental.

5. Tujuan Pembukaan UUD 1945

Alinea I : mempertanggungjawabkan bahwa pernyataan kemerdekaan sudah


selayaknya, karena berdasarkan atas hak kodrat yang bersifat mutlak dari moral bangsa
Indonesia untuk merdeka.

Alinea II : menetapkan cita-cita Indonesia yang ingin dicapai dengan kemerdekaan


yaitu terpeliharanya secara ungguh-sungguh kemerdekaan dan kedauatan negara, kesatuan
bangsa, negara dan daerah atas keadlian hukum dan moral bagi diri sendiri dan pihak lain
serta kemakmuran bersama yang berkeadlian.

Alinea III : menegaskan bahwa proklamasi kemerdekaan, menjadi permulaan dan


dasar hidup kebangsaan dan kenegaraan bagi seluruh orang Indonesia yang luhur dan suci
dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Alinea IV : melaksanakan segala sesuatu itu dalam perwujudan dasar-dasar tertentu


sebagai ketentuan pedoman dan pegangan yang tetap dan praktis yaitu dalam realisasi
hidup bersama dalam suatu negara Indonesia.

6. Nilai-nilai Hukum Tuhan, Hukum Kodrat dan Hukum Etis yang Terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945

c. HUBUNGAN PEMBUKAAN DAN BATANG TUBUH UUD 1945

Dalam hubungannya dengan Batang Tubuh UUD 1945, menempatkan pembukaan


UUD 1945 alinea IV pada kedudukan yang amat penting. Bahkan boleh dikatakan bahwa
sebenarnya hanya alinea IV Pembukaan UUD 1945 inilah yang menjadi inti sari
Pembukaan dalam arti sebenarnya.

d. HUBUNGAN PEMBUKAAN UUD 1945 DENGAN PANCASILA

Pembukaan UUD 1945 secara formal yuridis Pancasila ditetapkan sebagai dasar
filsafat Negara Indonesia. Maka, hubungan antara Pembukaan UUD 1945 adalah bersifat
timbal balik sebagai hubungan secara formal dan hubungan secara material.

e. HUBUNGAN PEMBUKAAN UUD 1945 DENGAN PROKLAMASI

Memiliki hubungan yang menunjukkan kesatuanyang utuh dan apa yang terkandung
dalam pembukaan adalah merupakan amanat daris eluruh Rakyat Indonesia tatkala
mendirikan negara dan untuk mewujudkan tujuan

25
G. Bab 7, Pancasila Sebagai Paradigma Kehidupan Dalam Bermasyarakat
Berbangsa dan Bernegara

a. PENGERTIAN PARADIGMA

Paradigma merupakan suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsi-asumsi teoretis yang


umum sehingga merupakan suatu sumber hukum-hukum, metode, serta penerapan dalam
ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri serta karakter ilmu pengetahuan
itu sendiri.

Dalam masalah ini, istilah paradigma berkembang menjadi terminologi yang


mengandung konotasi pengertian sumber nilai, kerangka pikir, orientasi dasar, sumber
asas serta arah dan tujuan dari suatu perkembangan, perubahan serta proses dalam suatu
bidang tertentu termasuk dalam bidang pembangunan, reformasi maupun pendidikan.

b. PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN

Pembangunan nasional harus meliputi aspek jiwa yang mencakup akal, rasa dan
kehendak, asepk raga, aspek individu, aspek makhluk sosial, aspek pribadi dan juga aspek
kehidupan ketuhanannya. Kemudian dijabarkan dalam bebagai bidang pembangunan
antara lain politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pendidikan, ilmu pengetahuan,
teknologi serta agama.

c. PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA REFORMASI

Reformasi dengan melakukan perubahan dalam berbagai bidang yang sering


diteriakkan dengan jargon reformasi total tidak mungkin melakukan perubahan terhadap
sumbernya itu sendiri. Reormais harus memiliki tujuan, dasar, cita-cita serta platform yang
jelas dan bagi bangsa Indonesia Nilai-Nilai Pancasila itulah yang merupakan paradigma
Reformasi Total tersebut.

GERAKAN REFORMASI

Awal keberhasilan gerakan Reformasi ditandai dengan mundurnya Presiden


Soeharto pada 21 Mei 1998 yang kemudian disusul dengan dilantiknya Wakil Presiden
Prof. Dr. B. J. Habibie menggantikan kedudukan Presiden. Kemudian diikuti dengan
pembentukan Kabinet Reformass Pembangunan. Pemerintahan Habibie inilah yang
merupakan pemerintahan transisi yang akan mengantarkan rakyat Indonesia untuk
melakukan reformasi secara menyeluruh, terutama pengubahan 5 paket UU. Dengan
demikian, reformasi harus diikuti juga dengan reformasi hukum bersama aparat
penegaknya serta reformasi pada berbagai instansi pemerintahan.

26
PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA REFORMASI HUKUM

Perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah pesat, sejalan dengan kemajuan jaman, begitu
pula dengan cara berpikir masyarakat yang cenderung menyukai hal-hal yang dinamis.
Semakin banyak penemuan-penemuan atau penelitian yang dilakukan oleh manusia, tidak
menutup kemungkinan adanya kelemahan-kelemahan didalamnya, maka dari itu dari apa
yang telah diciptakan atau diperoleh dari penelitian tersebut ada baiknya berdasar pada
nilai-nilai yang menjadi tolak ukur kesetaraan dalam bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Yaitu sila pancasila.

Dengan berpedoman pada nilai-nilai pancasila, apapun yang diperoleh manusia dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan akan sangat bermanfaat untuk mencapai tujuan dalam
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara indonesia guna melaksanakan pembangunan
nasional, reformasi, dan pendidikan pada khususnya.

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA REFORMASI POLITIK

Politik sangat berperan penting dalam peningkatan harkat dan martabat manusia, karena
sistem politik negara harus berdasarkan hak dasar kemanusiaan, atau yang lebih dikenal
dengan hak asasi manusia. Sehingga sistem politik negara pancasila mampu memberikan
dasar-dasar moral, diharapakan supaya para elit politik dan penyelenggaranya memiliki
budi pekerti yang luhur, dan berpegang pada cita-cita moral rakyat yang luhur. Sebagai
warga negara indonesia manusia harus ditempatkan sebagai subjek atau pelaku politik,
bukan sekedar objek politik yang diharapkan kekuasaan tertinggi ada pada rakyat.
Kekuasaan adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Karena Pancasila sebagai
paradigma dalam berpolitik, maka sistem politik di indonesia berasaskan demokrasi,
bukan otoriter.

Berdasar pada hal diatas, pengembangan politik di indonesia harus berlandaskan atas
moral ketuhanan, moral kemanusiaan, moral persatuan, moral kerakyatan, dan moral
keadilan, apabila pelaku politik baik warga negara maupun penyelenggaranya berkembang
atas dasar moral tersebut maka akan menghasilkan perilaku politik yang santun dan
bermoral yang baik.

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA REFORMASI EKONOMI

Sesuai dengan Paradigma Pancasila dalam pembangunan ekonomi, maka sistem dan
pembangunan ekonomi berpijak pada nilai moral daripada pancasila. Secara khusus,
sistem ekonomi harus mandasarkan pada moralitas ketuhanan, dan kemanusiaan. Hal ini
untuk menghindari adanya pengembangan ekonomi yang cenderung mengarah pada
persaingan bebas, yaitu yang terkuat dialah yang akan menang, seperti yang pernah terjadi
pada abad ke-18, yaitu tumbuhnya perekonomian kapitalis. Dengan adanya kejadian pada
abad ke-18 tersebut, maka eropa pada awal abad ke-19 bereaksi untuk merubah
perkembangan ekonomi tersebut menjadi sosialisme komunisme, yang berjuang untuk
nasib rakyat proletar yang sebelumnya ditindas oleh kaum kapitalis.

27
Ekonomi yang humanistik mendasarkan pada tujuan demi mensejahterakan rakyat luas,
sistem ekonomi ini di kembangkan oleh mubyarto, yang tidak hanya mengejar
pertumbuhan saja melainkan demi kemanusiaan dan kesejahteraan seluruh bangsa. Tujuan
ekonomi adalah memenuhi kebutuhan manusia, agar manusia menjadi lebih sejahtera, oleh
sebab itu kita harus menghindarkan diri dari persaingan bebas, monopoli dan yang lainnya
yang berakibat pada penderitaan dan penindasan manusia.

d. AKTUALISASI PANCASILA

Aktualisasi Pancasila dapat dibedakan atas dua macam yaitu aktualisasi objektif
dan subjektif. Aktualisasi objektif yaitu aktualisasi Pancasila dalam berbagai bidang
kehidupan kenegaraan yang meliputi kelembagaan negara antara lain legislatif, eksekutif
maupun yudhikatif. Sedangkan aktualisasi subjektif adalah aktualisasi Pancasila pada
setiap individu terutama dalam aspek moral dalam kaitannya dengan hidup negara dan
masyarakat.

e. TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI

Pendidikan tinggi sebgai institusi dalam masyarakat bukanlah merupakan menara


gading yang jauh dari kepentingan masyarakat malainkan, senantiasa mengemban dan
mengabdi kepada masyarakat. Maka menurut PP no.60 Tahun 1999, bahwa perguruan
tinggi memiliki tiga tugas pokok yang disebut Tridharma Perguruan Tinggi, yatu :

1) Pendidikan Tinggi
2) Penelitian
3) Pengabdian Kepada Masyarakat

f. BUDAYA AKADEMIK

Terdapat beberapa ciri masyarakat ilmiah sebagai budaya akademik, yaitu :

1) Kritis
2) Kreatif
3) Objektif
4) Analitis
5) Konstruktif
6) Dinamis
7) Dialogis
8) Menerima Kritik
9) Menghargai Prestasi Ilmiah/Akademik
10) Bebas dari Prasangka
11) Menghargai Waktu
12) Memiliki dan Menjunjung Tinggi Tradisi Ilmiah
13) Berorientasi ke Masa Depan
14) Kesejawatan/Kemitraan

28
BAB III
KEUNGGULAN BUKU

A. Keterkaitan antar bab (Kohesi dan Koherensi antar bab)


Buku Utama:
Buku utama yang kami bahas pada beberapa paragraph dalam buku memiliki
koherensi kalimat yang terpenuhi dikarenakan paragraph-paragraf tersebut mengemukakan
satu gagasan utama

Buku Pembanding 1:
Kata-kata dari buku pembanding sangat lebih mudah dipahami, pembahasan
singkat dan dapat dimengerti dengan baik

Buku Pembanding 2:
Babnya sudah melengkapi dari pembahasan tentang Pancasila, sangat bagus untuk
pemula yang ingin mengetahui Pancasila agar menumbuhkan rasa nasionalisme.

B. Kemutakhiran isi Buku (Kemutakhiran teori)


Buku Utama:
Buku ini menjelaskan dengan lengkap isi dari materi yang dibahasnya, buku juga
menunjukkan contoh-contoh dan implementasi materi pada kehidupan sehari-hari, buku
juga memiliki berbagai referensi yang dapat digunakan untuk mendukung teori penulis.

Buku Pembanding 1:
Dalam Buku ini pembahasannya dalam sejarah Indonesia sangat mendekati
lengkap dan menjadi dasar atau referensi untuk buku yang selanjutnya.

Buku Pembanding 2:
Dalam pembahasan di dalam buku sangatlah lengkap dan teori yang dibahas
sangat menyangkut dengan kejadian Indonesia sekarang.

C. Keterkaitan Isi Buku dengan Bidang Ilmu

29
Buku Utama:
Dilihat dari isi tahun terbit, buku ini terbit pada tahun 2016 tepatnya sudah sekitar
tiga tahun dan sudah jelas bukanlah buku lama. Tetapi penulis menggunakan sumber
bacaan atau referensi yang sudah lama dari tiga tahun terakhir ini, walaupun begitu penulis
tetap menggunakan referensi yang akurat dan terpercaya seperti jurnal yang terakreditasi,
dan dengan buku-buku yang memang mengandung unsur yang cocok untuk dijadikan
sebagai referensi buku ini

Buku Pembanding 1:
Buku merupakan sumber referensi untuk buku yang selanjutnya dibuat, dimana
kurang lengkapnya ilmu atau pembahasan yang dibahas di dalam buku ini serta
Pembahasan dalam babnya sangat berkaitan dengan bab yang dibahas dibuku utama

Buku Pembanding 2:
Buku sangat sesuai dan sama apa yang dibahas dengan buku utama dan pembanding 1.
Lebih menarik dari buku lainnya.

30
BAB IV
KELEMAHAN BUKU

A. Keterkaitan antar bab (Kohesi dan Koherensi antar bab)


Buku Utama:
Walaupun buku dikatakan memiliki koherensi yang terpenuhi, namun paragraph-
paragraf tersebut tidak memiliki kohesivitas yang baik yang menyebabkan gagasan yang
ada di paragraph tersebut sulit untuk dipahami.

Buku Pembanding 1:
Dalam Buku ini seluruh babnya menyangkut paut dengan buku utama tapi
walaupun pembahasannya lebih kurang lengkap dari buku utama

Buku Pembanding 2:
Isi buku sama dengan pembahasan buku banding 1 tetapi ia lebih langsung kearah
kejadian sekarang.

B. Kemutakhiran Isi Buku (Kemutakhiran Teori)


Buku Utama:
Buku tidak mengalami perubahan besar dari edisi pertama, dan tidak melakukan
banyak perubahan yang signifikan, dan isinya juga dirasa tidak mengalami banyak
perubahan.

Buku Pembanding 1:
Buku semakin mengalami perubahan di kemudian hari karena pembahasan buku
edisi ini kurang lengkap sehingga buku ini akan mengalami perubahan yng signifikan

Buku Pembanding 2:
Ada kalimat yang tidak penting tetapi masih dimasukkan sehingga pembaca
bingung contohnya pertanyaan nya itu.

31
C. Keterkaitan antara isi Buku Dengan Bidang Ilmu
Buku Utama:
Buku menggunakan sumber referansi yang sudah lama dan hal ini memungkinkan
terjadinnya konflik terhadap referensi lama yang digunakan oleh buku dengan
referensi-referensi baru.

Buku Pembanding 1:
Pembahasan yang dimuat tidak semuanya berkaitan dengan buku utama, malah
mengarah ke dasar pembahasan dari buku yang selanjutnya

Buku Pembanding 2:

Buku banyak membahas kejadian lalu dan sekarang ,jadi ada yang tidak terkait
dengan buku utama ataupun pembanding

32
BAB V
HASIL ANALISIS

Di Indonesia kebangkitan nasional (1908) dipelopori oleh Dr. Wahidin


Sudirohusodo dengan Budi Utomo.
Naskah preambule yang disusun oleh penitia Sembilan pada bagian terakhir adalah
sebagai berikut:
“…. Maka disusunlah kemerdekaan bangsa Indonesia, yang terbentuk dalam suatu hokum
dasar negara indonesia, yang terbentuk dalam suatu negara republic indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: ketuhanan dengan kewajiban
menjalankan syari’at islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang
adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan
social bagi seluruh rakyat Indonesia”
‘Orde Baru’, yaitu suatu tatanan masyarakat dan pemerintahan yang menuntut
dilaksanakannya Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Isi Tritura sebagai berikut:
1) Pembubaran PKI dan ormas-ormasnya
2) Pembersihan cabinet dari unsur G30S PKI
3) Penurunan Harga
Banyak lagi hal yang di analisis tetapi hanya sebagian saja yang kami ambil dari buku-
buku tersebut.

33
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Pancasila sebagai suatu ideology tidak bersifat tertutup dan kaku, tetapi bersifat
reformatif, dinamis dan terbuka. Pancasila sebagai sumber nilai menunjukkan identitas
bangsa Indonesia yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, maka dari itu nilai-
nilai Pancasila diberlakukan sebagai dasar negara menjadikan setiap tingkah laku para
peyelenggara negara dan pelaksanaan pemerintah harus selalu berpedoman pada pancasila

Saran
Menjadikan Buku beserta pembahasan didalamnya ini sebagai sarana yang dapat
mendorong para mahasiswa/I berfikir kreatif dan aktif. Dan tahu tentang sejarah
terbentuknya Indonesia.
Pembahasannya lebih baik itu singkat dan tidak mengulang kata-kata agar
pembaca tidak bosan.

34

Anda mungkin juga menyukai