Anda di halaman 1dari 29

1

PROPOSAL PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FARMASI SEDIAAN STERIL
“INFUS INTRAVENA LOCKE RINGER”

Oleh :
Kelompok B1-3

1. Eka Kristie Pasaribu 2016210075

2. Ericca Oktavauzia 2016210078

3. Erina Perdianti 2016210079

4. Evita Maria Simorangkir 2016210082

5. Fakhri Islam 2016210088

6. Novianti Ester Megawati 2016210174

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2019
2

I. PENDAHULUAN
Infus Locke Ringer adalah larutan steril dari Natrium Klorida, Kalium
Klorida, Kalsium Klorida, Magnesium Klorida, Natrium Bikarbonat, dan Dextrosa
dalam air untuk injeksi. Larutan ini digunakan sebagai penambahcairanelektrolityang
diperlukan tubuh. Dan diberikan secara intravena sehingga tidak
diperbolehkanmengandung bakterisida, dan zatdapar. Larutandalaminfus
intravenaharusjernih dan praktisbebaspartikel.Infus cairan intravena (intravenous
fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah
jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan
cairan atau zat – zat makanan dari tubuh.
Diare adalah suatu keadaan terjadinya gangguan saluran pencernaan yang
biasanya terjadi di daerah sekitar usus, yang dimana defekasi dengan tinja berbentuk
cair atau setengah cair dan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya, sehingga
penderita diare ini dapat mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh yang
serius apabila tidak ditangani dengan baik, terutama pada penderita diare berat. ( PPT
Farmakoterapi PPE : Konstipasi & Diare)
Pada diare berat dan muntaber, bisa terjadi dehidrasi akut yang berat yang
mengancam jiwa, karena banyak kehilangan air dari kompartemen ekstraseluler.
Sebaliknya pada pasien yang sakit dan dirawat inap karena diare kronis, asupan
minum yang kurang atau ada demam tinggi, terdapat kekurangan air juga di
kompartemen intraseluler.
Maka, keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah
yang diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan
penambahan / pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat. Ini
menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang
masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan
lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan
Cl. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dibuatlah sediaan infuse
pengganti cairan tubuh yaitu infuse Locke Ringers.
Pemberian obat secara intravena menghasilkan kerja obat yang cepat
dibandingkan dengan cara-cara pemberian lain dan karena absorpsi obat tidak
menjadi masalah, maka tingkatan darah optimum dapat dicapai dengan ketepatan dan
kesegaran yang tidak mungkin didapat dengan cara-cara lain. Pada keadaan gawat,
pemberian obat lewat intravena dapat menjadi cara yang menyelamatkan hidup
kerana penempatan obat langsung ke sirkulasi darah dan kerja obat yang cepat
terjadi. Sebaliknya, sekali obat diberikan lewat intravena maka obat itu tidak dapat
ditarik lagi, ini merupakan keburukan pemberian obat lewat intravena (Ansel,
halaman 401).
3

Air beserta unsur –unsur didalamnya yang diperlukan untuk kesehatan sel
disebut cairan tubuh. Cairan tubuh dibagi menjadi dua yaitu :
1. Cairan Intraseluler, cairan ini mengandung sejumlah ion Na dan Klorida serta
hampir tidak mengandung ion kalsium, tetapi cairan ini mengandung ion kalium
dan fosfat dalam jumlah besar serta ion Magnesium dan Sulfat dalam jumlah
cukup besar.
2. Cairan Ekstraseluler, cairan ini mengandung ion Natrium dan Klorida dalam
jumlah besar, ion bikarbonat dalam jumlah besar, tetapi hanya sejumlah kecil ion
Kalium, Kalsium, Magnesium, Posfat, Sulfat dan asam – asam organik
(Guytonhal 309).

Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang


diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan
penambahan atau pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat.
Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan
yang masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian
cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K,
Ca dan Cl. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dibuatlah sediaan infus
Locke Ringer sebagai pengganti cairan tubuh.
Kerja optimal dan sifat tersatukan dari larutan obat yang diberikan secara
parenteral hanya akan diperoleh jika persyaratan berikut terpenuhi:
1. Sesuai dengan bahan obat yangdinyatakan didalam etiket dan yang ada dalam
sediaan, tidak terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat
perusakan obat secara kimia dan sebagainya.
2. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan
tetap steril, tetapi juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dan material
dinding wadah.
3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. Untuk itu, beberapa faktor yang paling
banyak menentukan adalah :
1. Bebas kuman
2. Bebas pirogen
3. Bebas pelarut yang secara fisiologis tidak netral
4. Isotonis
5. Isohidri
6. Bebas bahan asing

Larutan infus sebaiknya memiliki sifat yang jika dibandingkan dengan cairan
darah dan cairan jaringan harus sesuai, yakni diisotoniskan, artinya turunnya titik
beku terhadap air murni dibuat sama. Pada pemakaian beberapa mililiter larutan yang
tidak isotonis, dan yang lebih jelas lagi pada saat pemakaiannya dalam bentuk larutan
infus, harus diperhitungkan dengan terjadinya kerusakan eritrosit.
4

Larutan hipotonis (rendahnya turunnya titik beku, tekanan osmotiknya lebih


rendah daripada darah) diinjeksikan ke dalam aliran darah, maka air akan melintasi
membran semipermeabel dari eritrosit. Akibatnya akan terjadi peningkatan volume
dari bodi darah, yang berkaitan dengan peningkatan tekanan di bagian dalam. Efek
yang berlawanan dapat disebabkan oleh larutan hipertonis (turunnya titik beku yang
lebih besar, tekanan osmotiknya lebih besar daripada darah), akan mentyebabkan
hilangnya air daribodi darah, akibatnya bodi darah akan mengkerut. Dalam hal ini
terjadi plasmolisis. Jika digunakan dalam larutan isotonis tidakakan terjadi
pertukaran cairan melalui membran. (Voight halaman 462-479)
Komposisi dari Locke Ringer adalah :
1) Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk
mengobati hipoatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah
retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.
2) Ion kalium (K+), kalium merupakan kation yang terpenting dalam cairan
intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta
isotonis sel.
3) Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses
penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium
dibawah konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.
4) Ion magnesium (Mg2+), juga diperlukan tubuh untuk aktivitas neuromuskuler
sebagai koenzim pada metabolisme karbohidrat dari protein.
5) Dekstrosa, suatu bentuk karbohidrat yang diberikan secara parenteral
diharapkan dapat memberikan tambahan kalori yang diperlukan untuk
menambah energi pada tubuh.

II. PREFORMULASI

a. Zat Aktif
Khasiat dan Ekivalensi
Nama zat Sifat fisika kimia Sterilisasi
Dosis NaCl
Dektrosa Pemerian: Sumber kalori 0,16 Autoklaf
Hablur tidak berwarna serbuk dan air ketika pada suhu
(FI V hal 121⁰C selama
hablur atau serbuk granul dehidrasi
1793) 15 menit
putih, tidak berbau rasa
Dosis : 2,5-11,5% (Handbook
manis.(Farmakope
untuk intravena of
Indonesia V hal 296)
[DI 88 hal. 1427] Pharmaceuti
cal Excipent
Kelarutan: 6th : 224)
Mudah larut dalam air, sangat
mudah larut dalam air
mendidih, larut dalam etanol
5

mendidih, sukar larut dalam


etanol. (Farmakope
Indonesia V hal 296)

pH:
3,5 – 6,5(Martindale 28 hal
51)

OTT:
Sianokobalamin, kanamisin
SO4, novobiosin Na dan
wafarin Na(Martindale 28
hal 51)

Stabilitas:
Memiliki stabilitas yang baik
dalam wadah yang kering.
(HOPE ed.6, hal. 224)
Natrium Pemerian : Khasiat : E=1 Autoklaf
klorida Hablur bentuk kubus, tidak Larutan NaCl (FI V hal. pada suhu
[NaCl] berwarna atau serbuk hablur biasa digunakan 1806) 121⁰C selama
putih; rasa asin untuk berbagai 15 menit
(FI V hal 917) jenis sediaan (Martindale
parenteral atau 28 hal 635)
Kelarutan : non perenteral.
1:3 dalam air (Martindale 28 Terutama
hal 635) digunakan pada
sediaan parenteral
sebagai bahan
pH : pengisotonis dan
4,5-7 asupan ion NaCl
(DI 2010 hal 2730) (Martindale 28 :
636)
Stabilitas :
Larutan NaCl bersifat stabil Dosis :
tetap dapat menyebabkan 1. Injeksi iv 3-5
pemisahan partikel gelas % dalam 100
untuk beberapa jenis wadah ml selama 1
gelas jam
(DI 88th edition hal.1415) (DI 2010 hal
2730).
OTT :
Korosif terhadap besi, perak,
6

merkuri, senyawa Khasiat :


pengoksidasi kuatMencegah atau
memisahkan klorida dan mengobati
larutan NaCl, mengurangi kekurangan ion
kelaruan antimikroba metal natrium dan
paraben klorida untuk
(Martindale 28: 635) mencegah kejang
otot dan
kelemahan akibat
keringat
Wadah dan penyimpanan : berlebihan selama
Dalam wadah tertutup rapat pencahayaan dan
ditempat sejuk dan kering suhu tinggi
(FI V:918)
2. 1-2 liter injeksi
NaCl
mengandung
0,45% NaCl
dalam sehari
(DI 2010 hal
2730)

Khasiat :
Mencegah atau
mengobati
kekurangan ion
natrium dan
klorida untuk
mencegah kejang
otot dan
kelemahan akibat
keringat
berlebihan selama
pencahayaan dan
suhu tinggi

3. Injeksi NaCl
mengandung
2,5-4 mEq/L
Na+ dalam
plasma = 135-
145 mEq/L
(Steril Dosage
Forms hal
251)
7

Kalium Pemerian: Khasiat : Autoklaf atau


klorida Hablur bentuk memanjang, mencegah filtrasi
prisma /kubus; tidak kekurangan (Martindale
[KCl] berwarna/ serbuk granul kalium 28 hal. 35
putih; tidak berbau; tidak (Injectable drug dan HOPE
berwarna; rasa asin; stabil di guide hal. 699) ed.6, hal
udara; larutan bereaksi netral 572)
terhadap lakmus (FI V hal Dosis:
594) Konsentrasi
kalium pada rute
intravena tidak
Kelarutan:
lebih dari 40 mEq/L
1:3 dalam air
(Martindale 28 hal 629) dengan kecepatan
tidak lebih dari 20
mEq
/jam(DI 2010
pH: hal. 2725).
4 – 8.(DI 88 hal.1410)

OTT:
Larutan CaCl iv inkompatibel
dengan protein hidrosilat
(Handbook of
Pharmaceutical Excipent
6th : 572)

Stabilitas:Stabil dan harus


disimpan dalam wadah
tertutup rapat ditempat sejuk
dan kering
(Handbook of
Pharmaceutical Excipent
6th : 572)

Wadah dan Penyimpanan :


Dalam wadah tertutup baik
dan simpan dibawah suhu
25oC.(FI V hal 584
&Injectable drug guide hal.
699)

Kalsium Pemerian : Khasiat : 0,70 Autoklaf


Granul atau serpihan, putih, Sebagai elektrolit pada suhu
8

klorida keras tidak berbau (FI V hal esensial dari (FI V hal 121⁰C selama
(CaCl2 ) 593) tubuh, mencegah 1799) 15 menit
defisiensi ion (Martindale
Kelarutan : kalsium 28 hal 629)
1:1,2 dalam air, 1:0,7 dalam (DI 88 hal 1399)
air mendidih
(Martindale 28 hal 621) Dosis :
1. Kalsium secara
pH : intravena tidak
antara 5,5 – 7,5 (DI 2010 hal melampaui 0,7-
2719) 1,8 mEq/menit (DI
88th edition
Stabilitas : hal.1398)
Stabil secara kimia tetapi
harus dilindungi dari lembab Khasiat :
(Handbook of Sebagai elektrolit
Pharmaceutical Excipent esensial dari
6th : 89) tubuh, mencegah
defisiensi ion
OTT : kalsium
Karbonat, fosfat, sulfat, tatrat,
sefalotin, CTM, dengan 2. Injeksi kalsium
tetrasiklin membentuk klorida 10% 50
kompleks mEq selama 6-12
(Handbook of jam (DI 2010 hal
Pharmaceutical Excipent 2717)
6th : 89)
Khasiat :
Wadah dan penyimpanan : Sumber kation
Dalam wadah tertutup rapat klorisa untuk
(FI V : 604) pengobatan atau
oencegahan
kekurangan
kalsium pada
orang yang
makanannya tidak
cukup

Magnesium Pemerian : Khasiat : 0,45 Autoklaf


klorida Tidak berwarna, tidak berbau, digunakan (FI V hal pada suhu
kristal higroskopis dengan terutama sebagai 1803) 121⁰C selama
rasa pahit. (Martindale 28 sumber ion 15 menit
hal. 625) magnesium pada (Martindale
hemodialisis dan 28 hal. 625)
9

Kelarutan : solusi untuk


1:1 dalam air dialisis peritoneal.
(Martindale 28 hal. 625) Telah digunakan
dalam pengobatan
pH : hypomagnesemia
4,5-7 (Martindale 28
(Martindale 28 hal. 625) hal. 626)

Stabilitas : Dosis :
Stabil 25 mmol dalam
(Martindale 36 hal 1679) 500 mL
(Martindale28
OTT : hal 626)
Ketika dipanaskan suhu 100 º
akan kehilangan 2 molekul
air melalui kristalisasi dan
suhu 110º kehilangan
hydrogen klorida sehingga
kembali menjadi garam dasar
(Martindale 28 hal 626)

Wadah dan penyimpanan :


Dalam wadah tertutup rapat
(Martindale 36 hal 1679)

Na. Pemerian : Khasiat: 0,65 Otoklaf atau


bikarbonat Serbuk hablur, putih,. Sabil di Pengobatan (FI V hal filtrasi
udara kering, tetapi dalam asidosis 1806) (Martindale
udara lembab secara metabolik akut 28 hal. 634)
perlahan-lahan terurai. (Martindale 28,
Larutan segar dalam air hal. 634)
dingin tanpa dikocok, besifat Dosis :
basa terhadap lakmus. Pada pemberian
Kebasaan bertambah bila awal 120 mmol
larutan dibiarkan, digoyang (120 mEq), setiap
kuat atau dipanaskan. (FI V hari kemudian
Hal. 906) dikurangi 60
mmol sampai
dosis yang
Kelarutan : disarankan
Larut dalam air, tidak larut (Martindale 28
dalam etanol. hal.634)
10

pH :
Antara 7,0 dan 8,5 (FI V Hal.
909)

OTT :
Bereaksi dengan asam, garam
asam, dan banyak garam
alkaloid, dengan evolusi
karbon dioksida. Sodium
bicarbonat dapat
mengintensifkan penggelapan
salisilat. (Martindale 28
hal.634).
Dalam larutan, sodium
bikarbonat telah dilaporkan
tidak bercampur dengan
banyak zat obat seperti
ciprofloxacin, amiodarone,
nicardipine, dan
levofloxacin.(HOPE ed.6,
hal. 631)
Stabilitas :
Injeksi kalsium inkompatibel
dengan larutan iv yang
mengandung banyak zat aktif
(DI 88th ed. hal. 1398).

b. Zat Tambahan
Nama Fungsi
Sifat Fisika Kimia Zat Dosis Sterilisasi
Zat zat

Aqua Pemerian : Kegun Autoklaf pada


Pro- Cairan jernih,tidak berwarna,tidak
aan : suhu 121⁰C
Injeksi berbau,tidak berasa Pelarut selama 15 menit
[FI Ed IV (Handbook of Pharmaceutical Excipent (Hand (Handbook of
hal 112] 6th : 766) book Pharmaceutical
of Excipent 6th :
pH: Phar 766)
6-7 maceu
(Handbook of Pharmaceutical Excipent tical
11

6th : 766) Excipe


nt 6th
Stabilitas : : 766)
Uji yang tertera pada uji keamanan hayati
(Handbook of Pharmaceutical Excipent
6th : 766)

OTT :
Dapat bereaksi dengan eksipien yang
mudah terhidrolisis
(Handbook of Pharmaceutical Excipent
6th : 768)

Wadah dan penyimpanan :


Dalam wadah tertutup baik
(Handbook of Pharmaceutical Excipent
6th : 766)
12

C. TEKNOLOGI FARMASI
Injeksi adalah penyemprotan larutan (atau susensi) ke dalam tubuh untuk
tujuan terapeutik atau diagnostic.Mereka dapat berlangsuung dalam aliran darah
tetapi juga dalam jaringan dan dalam organ. Suatu kerja optimal dan tersatukan dari
larutan obat yang diberikan secara parenteral kemudian hanya diberikan jika
persyaratan berikut terpenuhi :
1) Penyesuaian dari kandungan bahan obat yang dinyatakan dan nyata-nyata
terdapat, tidak ada penurunan kerja selama penyimpanan melalui perusakan
secara kimia dari obat dan sebagainya.
2) Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya menginginkan suatu
pengambilan steril, melainkan juga menolak antaraksi antara beban obat dan
materi dinding.
3) Tersatukan tanpa reaksi. Untuk itu yang bertanggung jawab terutama bebas
kuman, bebas pyrogen, bahan pelarut yang netral secara fisiologis, isotoni,
isohidri, bebas bahan terapung (Voight, 1994).

Salah satu sediaan parenteral volume besar yang digunakan adalah infus
intravena.Infus intravena biasanya dierikan untuk menambah cairan tubuh, elektrolit
atau untuk memberi nutrisi.Biasanya diberikan dalam volume 250 mL sampai
beberapa liter dan dalam jumlah lebih banyak lagi per harinya, dengan penetesan
lambat intravena. Karena diiberikan dalam volume besar, larutan ini tidak boleh
mengandung zat bakteriostatik atau zat penambah farmasi lain. Dikemas dalam
wadah besar dosis tunggal (Ansel, 1989).

Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pyrogen dan
sedapat mngkin dibuat isotonis terhadap darah, disuntikkan langsung ke dalam vena
dalam volume relative banyak. Kecuali dinyatakan lain, infus intravena tidak
diperbolehkan mengandung bakterisida dan zat dapar. Larutan untuk infus intravena
harus jernih dna praktis bebas partikel. (Farmakope Indonesia III, 1979).

Larutan LVP (sediaan parenteral volume besar) dikemas dalam dosis tunggal
dalambkemasan gelas atau plastic dengan ketentuan harus steril, non pirogen, dan
bebas dari partikel partikulat. Selain itu, wadah injeksi termasuk penutup tidak boleh
berinteraksi melalui berbagai cara baik secara fisik maupun kimiawi dengan sediaan
yang dapat mengubah kekuatan, mutu atau kemurnian diluar persyaratan resmi dalam
kondisi biasa pada waktu penanganan, pengangkatan, penyimpanan, penjualan, dan
penggunaan. Wadah yang terbuat dari bahan yang dapat mempermudah penanganan
terhadap isi.
Bentuk sediaan injeksi yang beredar di pasaran saat ini berupa sediaan parenteral
volume kecil (contoh : ampul dan vial), sediaan parenteral volume besar, dan sediaan
parenteral berbentuk serbuk untuk direkonstitusi. Kemasan yang berisi larutan injeksi
dengan volume 100 mL atau lebih dinamakan sebagai volume besar, biasanya
digunakan melalui rute intravena. Larutan parenteral volume besar biasanya tersedia
dalam kontener dengan volume 500 mL atau 1000 mL.
13

Bahan pengemas untuk sediaan steril dapat berasal dari kaca, plastik, dan
metal. Gelas mempunyai bentuk nonkristalin, struktur amorf yang dibuat dari
bermacam material organik atau non organik. Gelas digunakan sebagai pengemas
sediaan karena beberapa alasan, yaitu karena sifat transparansinya maka produk
sediaan farmasi dapat dilihat secara mudah melalui kontener gelas, gelas yang
didesain untuk tujuan penggunaan aplikasi farmasi juga dapat didesain hingga
menunjukkan resistensi kimia yang cukup, tidak terjadi interaksi antara produk obat
dan gelas, dan impermeabel terhadap penetrasi gas, selain itu juga dapat menahan
suhu cukup tinggi sehingga memudahkan jika harus disterilkan dengan cara panas.
Pemberian obat secara parenteral memiliki keuntungan antara lain respon
fisiologi segera dapat dicapai, diperlukan untuk obat yang tidak efektif secara oral,
dapat diberikan pada pasien yang sedang tidak sadarkan diri, dan merupakan cara
untuk melakukan koreksi gangguan serius kesetimbangan cairan dan elektrolit dalam
tubuh.
Sedangkan kerugian pemberian obat secara parenteralantara lain harus
diberikan olehpersonal terlatih sepertidokter, pemberian obatsecaraparenteral
secaraketat mengikutiketentuanprosedur aseptik dankadangnyeriyang timbulpada
pemberian obatsecaraparenteraltidakdapatdihindarkan,hargalebihmahal dibandingkan
sediaan yang diberikan menurut rute lainkarena persyaratan manufaktur dan
pengemasan.

D. FARMAKOLOGI (medicalmed.us)

1. Natrium

Natrium penting untuk membantu mempertahankan volume dan


keseimbangan cairan tubuh. Kadarnya dalam cairan tubuh diatur oleh
mekanisme homeostatik. Banyak individu mengkonsumsi natrium melebihi dari
yang dibutuhkan. Pembatasan natrium seringkali dianjurkan pada pasien gagal
jantung kongesif, sirosis hati dan hipertensi. Asupan yang kurang dari normal yang
dimulai sejak masa kanak-kanak dan berlanjut sampai dewasa dapat membantu
pencegahan hipertensi pada individu tertentu. Akan tetapi pembatasan natrium pada
wanita sehat selama kehamilan tidak dianjurkan.

Hipernatremia jarang ditemui pada individu sehat tetapi dapat terjadi setelah
diare atau muntah yang lama terutama pada bayi, pada gangguan ginjal, fibrosis
kistik atau insufisiensi korteks adrenal, atau pada gangguan diuretik tiazid. Keringat
yang berlebihan dapat mengakibatkan kehilangan natrium yang banyak dan perlu
diganti dalam bentuk air dan NaCl. (Farmakologi Dan Terapi Edisi 5 hal. 790).
14

2. Kalium

Perbedaan kadar kalium (kation utama dalam cairan intrasel) dan natrium
(kation utama dalam cairan ekstrasel) mengatur kepekaan sel, konduksi impuls
saraf dan keseimbangan dan volume cairan tubuh.Meskipun defisiensi jarang terjai
pada individu yang mendapat makanan yangcukup, hipokalemia dapat terjadi
pada anak-anak yang makanannya tidak mengandung protein. Penyebab
hipokalemia yang paling sering adalah terapi diuretik terutama tiazid. Penyebab
lain hipokalemia adalah diare yang berkepanjangan terutama pada anak,
hiperaldosteronisme, terapi cairan parenteral yang tidak tepat atau tidak mencukupi,
penggunaan kortikosteroid atau laksan jangka lama. Aritmia jantung dan gangguan
neuromuscular merupakan akibat hipokalemia yang paling berbahaya.
Hiperkalemia paling sering disebabkan gangguan ekskresi kalium oleh ginjal yang
dapat terjadi pada pasien dengan insufisiensi korteks adrenal, gagal ginjal akut, gagal
ginjal kronik terminal, atau penggunaan antagonis aldosteron. Aritmia jantung dan
gangguan konduksi merupakan gejala sisa yang paling berbahaya. Manifestasi lain
hiperkalemia termasuk kelemahan dan parestesia. (Farmakologi Dan Terapi Edisi 5
hal. 790)

3. Kalsium

Kalsium merupakan mineral yang paling banyak didapatkan di dalam


tubuh. Untuk absorpsinya diperlukan vitamin D. Kebutuhan kalsium meningkat pada
masa pertumbuhan, selama laktasi dan pada wanita pascamenopause. Bayi yang
mendapat susu buatan memerlukan tambahan kalsium. Selain itu asupan kalsium
juga perlu ditingkatkan bila makanan banyak mengandung protein dan/atau
fosfor. Banyak peneliti yang menganjurkan asupan sekitar 1,2 g/hari untuk pasien
alkoholik, sindrom malabsorpsi dan pasien-pasien yang mendapat
kortikosteroid,isoniazid, tetrasiklin atau antasid yang mengandung aluminium.
(Farmakologi Dan Terapi Edisi 5 hal. 789 -790).

4. Klorida

Klorida merupakan anion yang paling penting dalam


mempertahankan keseimbangan elektrolit. Alkalosis metabolik hipokloremik dapat
terjadi setelah muntah yang lama atau penggunaan diuretic berlebihan.
Kehilangan klorida berlebihan dapat menyertai kehilangan natrium berlebihan.
Kemungkinan terjadinya hiperkalemia perlu dipertimbangkan bila terpaksa
15

menggunakan KCl sebagai pengganti klorida yang hilang. (Farmakologi Dan Terapi
Edisi 5 hal. 791).

5. Natrium bikarbonat

Natrium bikarbonat merupakan agen pengalkali yang berdisosiasi membentuk


ion bikarbonat. Bikarbonat merupakan komponen basa konjugasi dari buffer
ekstraseluler utama yang ada di tubuh, yaitu buffer bikarbonat-asam karbonat. Pada
kondisi normal buffer ini menjaga ph plasma yaitu 7,37-7,42. Namun bila terjadi
gangguan pada sistem buffer ini maka pH plasma mdapat naik ataupun turun. pH
plasma yang dibawah mormal mengidentifikasikan terjadinya asidosis metabolik
pemberian natrium bikarbonat akan meningkatkan konsentrasi bikarbonat plasma
dan meningkatkan pH plasma sehingga pH plasma normal kembali (DI 2003 hal.
2472-2473).

6. Dekstrosa

Dekstrosa dengan mudah dimetabolisme, dapat meningkatkan kadar glukosa


darah dan menambah kalori. Dekstrosa dapat menurunkan atau mengurangi protein
tubuh dan kehilangan nitrogen, meningkatkan pembentukan glikogen dan
mengurangi atau mencegah kitosis jika diberikan dosis yang cukup. Dekstrosa
dimetabolisme menjadi CO2 dan air, maka larutan dekstrosa dan air dapat mengganti
cairan tubuh yang hilang. Injeksi dekstrosa dapat juga digunakan sebagai diuresis
dan volume pemberian tergantung kondisi klinis pasien. (DI 88 Hal. 1427) .

7. Magnesium

Magnesium mengaktifkan banyak sistem enzim ( misalnya alkali fosfatase,


leusin aminopeptidase)dan merupakan kofaktor yang penting pada fosforilasi
oksidatif , pengaturan suhu tubuh, kontraktilitas otot dan kepakaan syaraf . Pada
orang sehat , dengan makanan yang bervariasi defisiensi magnesium jarang terjadi.
Kebutuhan akan magnesium tergantung pada jumlah protein, kalsiumm dan fosfor
yang dimakan.

Hipomagnesemia meningkatkan kepekaan saraf dan transmisi neuromuskular.


Pada keadaan defisiensi berat mengakibatkan tetani dan konvulsi. Hipomagnesemia
dapat terjadi pada pasien alkaholik, tetani invantil, diabetes, sindrom malabsobrsi,
hiper atau hipo paratyroidisme, penyakit ginjal, selama praktik diuretik pada pasien
16

yang hanya mendapat makanan secara parenteral pasca bedah. (Farmakologi terapi
edisi 5 hal 790)

E. Farmakodinamika dan Farmakokinetika (medicalmed.us)


Larutan Locke-Ringer dapat digunakan untuk mengatur regulasi
keseimbangan air-garam dan asam-basa di dalam tubuh manusia dan hewan. Artinya
yang paling mendekati struktur alami adalah plasma darah. Obat memperlambat
roses agregasi dari komponen-komponen darah, meningkatkan perfusi jaringan.
Elektrolit mencairkan darah, dan glukosa turut campur dalam pengembangan
hipoglikemia. Setelah obat diinjeksi, distribusi obat akan sangat cepat dalam tubuh
dan jaringan.

F. Indikasi (medicalmed.us)
Keracunan, disentri, diare dan muntah, kolera EL Tor, dehidrasi akibat
gangguan peredaran darah, kehilangan berat darah, radang dingin, shock, peritonitis.

G. Kontraindikasi(medicalmed.us)
1. Di edema serebral atau paru
2. Jika pasien memiliki penyakit ginjal berat, anuria atau oliguria
3. Di gagal jantung
4. Jika asidosis, hipernatremia, hyperchloremia, hipovolemia
5. Jika reaksi hipersensitivitas terhadap komponen alat

H. Interaksi Obat (medicalmed.us)


Kewaspadaan harus menggabungkan obat dengan beberapa obat, seperti
NSAID, estrogen atau anabolik. Ketika dikombinasikan dengan glikosida jantung
meningkatkan beban pada sistem kardiovaskular. Jika dikombinasikan dengan
diuretik, inhibitor angiotensin converting enzyme pottasium atau obat-obat yang
dapat menyebabkan hiperkalemia.

I. Efek samping (medicalmed.us)


Terjadi reaksi alergi, hipokalemia, overhidrasi
17

III. FORMULA
1) FORMULA RUJUKAN
 Formula Infus Locke Ringer (USP 37 hal. 1449)
Sodium klorida 9,0 g
Pottasium klorida 0,42 g
Kalsium klorida 0,24 g
Magnesium klorida 0,20 g
Sodium bikarbonat 0,50 g
Dekstrosa 0,50 g
Aqua pro injeksi ad 1000 mL

 Formula Infus Locke Ringer (Martindale 28 hal. 638)


Sodium klorida 900 mg
Pottasium klorida 42 mg
Kalsium klorida anhidrat 24 mg
Dekstrosa anhidrat 100 mg
Sodium bikarbonat 50 mg
Air ad 100 mL

 Formula Infus Locke Ringer (Farmakope Indonesia Edisi V hal. 1722)


Natrium klorida 9,0 g
Kalium klorida 0,42 g
Kalsium klorida 0,24 g
Magnesium klorida 0,2 g
Natrium bikarbonat 0,5 g
Dekstrosa 0,5 g
Air yang baru didestilasi ad 1000 mL

2) FORMULA JADI
Formula Infus Locke Ringer (Formula Farmakope Indonesia Edisi V hal. 1722)
Natrium klorida 4,5 g
Kalium klorida 0,21 g
Kalsium klorida 0,12 g
Magnesium klorida 0,10 g
Natrium bikarbonat 0,25 g
Dekstrosa 0,25 g
Air pro injeksi ad 500 mL
18

3) ALASAN PEMILIHAN BAHAN


1. Aqua pro injeksi digunakan sebagai pelarut dan pembawa karena bahan-
bahan larut dalam air dan air jenis ini adalah air yang bebas pirogen
sehingga sudah terbukti aman untuk digunakan.
2. Natrium merupakan kation mayor dalam cairan ekstraseluler. Fungsinya
adalah pengontrol distribusi air, cairan kesetimbangan elektrolit dalam
keadaan osmotic dari cairan tubuh. NaCl digunakan karena larut dalam air
dan digunakan sebagai natrium yang hilang. Selain itu Nacl digunakan
sebagai larutan pengisotonis agar sediaan infus setara dengan 0,9 % larutan
NaCl yang memiliki tekanan osmosis yang sama dengan cairan tubuh.
3. Kalium merupakan kation utama dalam cairan intraseluler dan lebih penting
dalam mengatur keseimbangan asam basa, tonisitas dan elektrodinersitas.
Untuk menggantikan kalium yang hilang digunakan KCl yang lebih mudah
larut dalam air.
4. Kalsium merupakan kation yang penting sebagai aktivator dan berbagai
macam reaksi enzimatis, dipakai dalam bentuk CaCl2 yang lebih mudah
larut dalam air.
5. Magnesium, juga diperlukan tubuh untuk aktivitas neuromuskular sebagai
koenzim pada metabolisme karbohidrat dan protein.
6. Dekstrosa, suatu bentuk karbohidrat yang diharapkan dapat memberikan
tambahan kalori yang diperlukan untuk menambah energi pada tubuh.
7. Karbonabsorben digunakan untuk menyerap bahan-bahan pengotor dan
pirogen yang mungkin berada dalam larutan infus karena syarat sediaan
infus yaitu bebas pirogen dan juga norit dapat mengurangi kelebihan H2O2
8. H2O2 digunakan untuk membebaskan pirogen dalam sediaan infus karena
syarat untuk sediaan infus harus bebas pirogen.

IV. ALAT DAN BAHAN


Alat-alat :
1. Beaker glass
2. Erlenmeyer
3. Corong glass
4. Pipet tetes
5. Spatula
6. Botol Infus
7. Gelas ukur
8. Kertas saring
9. Batang pengaduk
10. Spatula
11. Kaca arloji
19

12. Penjepit besi


13. Karet tutup botol infus
14. Karet tutup pipet tetes
15. Oven
16. Autoklaf

Bahan-bahan:
1. NaCl
2. KCl
3. CaCl2
4. MgCl2
5. NaHCO3
6. Dekstrosa
7. Aqua pro injeks

V. PERHITUNGAN DAN PENIMBANHAN


I. PERHITUNGAN
Akan dibuat infus 500 mL sebanyak 2 botol (1000 mL)
Volume total larutan infus yang dibuat
= (volume x n) + (10% x volume)
= (500 mL x 2) + (10% x (500 mL x 2))
= 1000 mL + (10% x 1000 mL)
= 1100 mL

Kesetaraan equivalen elektrolit(Martindale28 hal 619-639)


1 g NaCl~17,1 mEq Na+ E NaCl =1
1 g NaCl~17,1 mEq Cl-

1 g KCl~13,4 mEq K+ E KCl =0,76


1 g KCl~13,4 mEq Cl-

1 g CaCl 2 ~13,6 mEqCa 2+ E CaCl2 =0,70


1 g CaCl 2 ~13,6 mEq2Cl-

1 g MgCl2 ~ 9,8 mEq Mg2+ E MgCl2 = 0,46


1 g MgCl2 ~ 9,8 mEq 2Cl-
20

1 g NaHCO3 ~ 11,9 mEq Na+ E NaHCO3 = 0,65


-
1 g NaHCO3 ~ 11,9 mEq HCO3

E Dekstrosa = 0,16

NaCl
W NaCl x 17,1 mEq
mEq Na+ = 1g
9 g x 17,1 mEq
= = 153,9 mEq ≈ 154 mEq/L
1g

W NaCl x 17,1 mEq


mEq Cl- = 1g
9 g x 17,1 mEq
= = 153,9 mEq ≈ 154 mEq/L
1g

KCl
W KCl x 13,4 mEq
mEq K+ = 1g
0,42 g x 13,4 mEq
= = 5,628 mEq ≈ 6 mEq/L
1g

W KCl x 13,4 mEq


mEq Cl- = 1g
0,42 g x 13,4 mEq
= = 5,628 mEq ≈ 6 mEq/L
1g

CaCl 2
W CaCl2 x 13,6 mEq
mEq Ca 2+ =
1g
0,24 g x 13,6 mEq
= = 3,264 mEq ≈ 4 mEq/L
1g

W CaCl2 x 13,6 mEq


mEq 2Cl- = 1g
0,24 g x 13,6 mEq
= = 3,264 mEq ≈ 4 mEq/L
1g
21

MgCl 2
W MgCl2 x 9,8 mEq
mEq Mg2+ = 1g
0,20 g x 9,8 mEq
= = 1,96 mEq ≈ 2 mEq/L
1g

W MgCl2 x 9,8 mEq


mEq2Cl- = 1g
0,20 g x 9,8 mEq
= = 1,96 mEq ≈ 2 mEq/L
1g

NaHCO 3
W NaHCO3 x 11,9 mEq
mEq Na+ = 1g
0,5 g x 11,9 mEq
= = 5,95 mEq ≈ 6 mEq/L
1g

W NaHCO3 x 11,9 mEq


mEq HCO3- = 1g
0,5 g x 11,9 mEq
= = 5,95 mEq ≈ 6 mEq/L
1g

Jadi, berikut komposisi yang dicantumkan di dalam etiket:


mEq Na + =(154 + 6) mEq = 160 mEq/L
mEq Cl -= (154 + 6 + 4 + 2) mEq = 166 mEq/L
mEq K+ = 6 mEq/L
mEq Ca 2+ = 4 mEq/L
mEq Mg2+ = 2 mEq/L
mEq HCO 3 -= 6 mEq/L

Penimbangan bahan :
Penimbangan untuk 2 botol infusmasing - masing 500 mL
V={(2 x 500 mL) +(10% (2 x500 mL)}=1100 mL
Penimbangan ditambah 5% untuk diserap karbon absorben:
1100 mL 1100 mL
NaCl = ((4,5 g x 2) x ) + (5% x 9,0 g x )
1000 mL 1000 mL
1100 mL 1100 mL
= (9,0 g x 1000 mL
) + (5% x 9,0 g x 1000 mL
)
22

= 10,3950 g
1100 mL 1100 mL
KCl = ((0,21 g x 2) x ) + (5% x 0,42 g x )
1000 mL 1000 mL
1100 mL 1100 mL
= (0,42 g x ) + (5% x 0,42 g x )
1000 mL 1000 mL

= 0,4851 g
1100 mL 1100 mL
CaCl2 = ((0,12 g x 2) x ) + (5% x 0,24 g x )
1000 mL 1000 mL
1100 mL 1100 mL
= (0,24 g x ) + (5% x 0,24 g x )
1000 mL 1000 mL

= 0,2772 g
1100 mL 1100 mL
MgCl2 = ((0,10 g x 2) x ) + (5% x 0,20 g x )
1000 mL 1000 mL
1100 mL 1100 mL
= (0,20 g x ) + (5% x 0,20 g x )
1000 mL 1000 mL

= 0,2310 g
1100 mL 1100 mL
NaHCO3 = ((0,25 g x 2) x ) + (5% x 0,50 g x )
1000 mL 1000 mL
1100 mL 1100 mL
=(0,50 g x ) + (5% x 0,50 g x )
1000 mL 1000 mL

= 0,5775 g
1100 mL 1100 mL
Dekstrosa = ((0,25 g x 2) x ) + (5% x 0,50 g x )
1000 mL 1000 mL
1100 mL 1100 mL
= (0,50 g x ) + (5% x 0,50 g x )
1000 mL 1000 mL

= 0,5775 g
Karbonabsorben = 0,1% x 1100 mL = 1,1 g
H2O2 = 1% X 1100 mL =11 g
Catatan : Fungsi H2O2untuk menghilangkan pirogen efektif pada 1%, namun sifatnya
beracun dan akan menguap jika dipanaskan. Sedangkan penggunaan karbon
absorben untuk menyerap pirogen dari bahan baku yang efektif adalah 0,1%.

II. PENIMBANGAN
Bahan Teori (gram)
NaCl 10,3950
KCl 0,4851
CaCl2 0,2772
MgCl2 0,2310
NaHCO3 0,5775
Dekstrosa 0,5775
23

Aqua pi ad 1100 mL
Norit 1,1
H2O2 11

Perhitugan Isotonis

V = ∑ (W x E) x 111,1

Keterangan :
∑ = jumlah
W = berat (gram)
E = ekivalen NaCl
111,1 = volume yang diperlukan untuk melarutkan 1 NaCl sehingga diperoleh
larutan isotonis 0,9%

V = {(W NaCl x E NaCl) + (W KCl x E KCl) + (W CaCl2 x E CaCl2) +


(W MgCl2 x E MgCl2) + (W NaHCO3 x E NaHCO3) + (W dekstrosa x E
dekstrosa)} x 111,1
= {(4,5 x 1) + (0,21 x 0,76) + (0,12 x 0,70) + (0,10 x 0,45) + (0,25 x 0,65) +
(0,25 x 0,16)} x 111,1
= 554,5112 mL

554,5112mL
% Tonisitas = x0,9%  0,9981%( HIPERTONIS )
500
0,9000%
Laju tetes per menit = X 40tetes  36,0685tetes ~ 37tetes ~ 1,85mL
0,9981%
24

VI. CARA PEMBUATAN

Prinsip : Sterilisasi akhir menggunakan autoklaf (sterilisasi Terminal 1210C, 1


atm)

1. Alat-alat yangakan digunakan dicuci dan disterilkan dengan cara yang sesuai
No Alat dan Bahan Cara sterilisasi Literatur
NaCl, KCl, CaCl2, MgCl2, Autoklaf pada suhu 121⁰C Martindale 28 hal. 619-
1 NaHCO3, Dekstrosa selama 15 menit 639 dan Martindale 28
hal. 50
Aqua pi Aquadest didihkan selama FI III hal 14
2
30 menit
Beaker, corong glass, Pemanasan dengan oven FI III hal 18
3 botol infus, erlenmeyer, suhu 150oC selama 1 jam
pipet tetes
Gelas ukur, kertas saring Sterilisasi dengan autoklaf FI III hal 18
4 suhu 121oC selama 15
menit
Batang pengaduk, spatula, Rendam dalam alkohol Desinfection,
5 pinset, kaca arloji, selama 30menit sterilization and
penjepit besi preservation hal 233
Karet pipet, karet tutup Rebus dalam air mendidih FI III hal.18
6
botol selama 30 menit
Sediaan Infus Locke Sterilisasi dengan autoklaf Martindale 28 hal.635
7 Ringer (sterilisasi akhir) suhu 121oC, 1 atm selama
15 menit

2. Dikalibrasi botol infus (500 mL)


3. Dibuat aquapro injeksi bebas pirogen dengan cara :
Aquadest dipanaskan sampai mendidih, dibiarkan mendidih selama 30 menit
kemudian ditambahkan H2O2 sedikit demi sedikit melalui dindingerlenmeyer,
dididihkan selama 15 menit, didinginkan.
4. Ditimbang bahan-bahan yang akan digunakan (NaCl, KCl, CaCl2, MgCl2,
NaHCO3, Dekstrosa, karbonabsorben dan H2O2)
5. Dilarutkan masing-masing bahan (NaCl, KCl, CaCl2, MgCl2, NaHCO3,
Dekstrosa) dengansebagian aquapro injeksi bebas pirogen.
6. Dicampurhingga homogen
7. Dicek pHhinggatercapai6 – 7,5 ( FI V hal 1106).
8. Lalu ditambahkandengan aqua pro injeksi hingga 1100 mL.
9. Ditambahkankarbonabsorben,laludipanaskansambildiadukselama15 menit, suhu
dijaga sekitar 50º - 60º C.
10. Disaring dengan kertassaring dua lapisatau sampaijernih.
11. Dimasukkan dalamwadah botol infushinggatanda(500 mL).
25

12. Ditutup dengan karetpenutup steril, lalu ditutup lagidengan kap infus.
13. Dilakukan ujievaluasiIPC(ujikejernian, keseragaman volume, pH)
14. Dilakukan sterilisasi akhir dalam autoklaf pada suhu 121⁰C selama 15 menit.
15. Dilakukan ujievaluasi QC (ujikejernihan, keseragamanvolume, sterilitas,
pirogenitas dan penetapan kadar) sesuaidengan prosedur yang
terdapatpadaliteratur.
16. Diberietiketdan label, dikemasdalamdus, dilengkapi dengan brosur, kemudian
diserahkan.

VII. EVALUASI
1) IPC (In Process Control)
a. Uji Kejernihan (Lachman III hal. 1355)
Produk dalam wadah diperiksa dibawah penerangan cahaya yang baik,
terhalang dari refleks mata, berlatar belakang hitam dan putih dengan rangkaian
isi dijalankan suatu aksi memutar.
Syarat: Semua wadah diperiksa secara visual dari tiap partikel yangterlihat
dibuang, batas 50 partikel 10µm dan lebih besar, serta 5 partikel > 25μm / mL

b. Uji pH (FI V hal. 1563-1565)


Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter (alat potensiometrik).
Dengan pH meter : sebelum digunakan, periksa elektroda dan jembatan garam
bila ada lakukan.
Pembakuan pH meter : bilas elektroda dan sel beberapa kali dengan larutan
uji dan ii sel dengan sedikit larutan uji. Baca harga pH. Gunakan air bebas CO2
untuk pelarutan dengan pengenceran larutan uji.
Syarat : 7,4 ( FI V hal 1106)

c. Uji Keseragaman Volume (FI IV hal. 1044)


Sejumlah isi dari wadah 10 ml atau lebih dapat ditentukan dengan membuka
wadah dan memindahkan isi secara langsung kedalam gelas ukur atau gelas piala
yang sudah ditara.

 Pilih 1 atau lebih wadah bila volume 10 mL. Ambil isi tiap wadah dengan alat
suntik hipodemik kering berukuran tidak lebih dari 3 kali volume yang akan
diukur dan dilengkapi dengan jarum suntik no. 21 dengan panjang tidak kurang
dari 2,5 µm.
 Keluarkan gelembung udara dari jarum dan alat suntik.
 Pindahkan isi dalam alat suntik tanpa mengosongkan bagian jarum kedalam gelas
26

ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan sehingga volume yang diukur
memenuhi sekurang-kurangnya 40% volume dari kapasitas tertera.
Syarat : seragam

2) QC (Quality Control)
a. Uji Kejernihan (Lachman III hal. 1355)
Produk dalam wadah diperiksa dibawah penerangan cahaya yang baik,
terhalang dari refleks mata, berlatar belakang hitam dan putih dengan rangkaian
isi dijalankan suatu aksi memutar.
Syarat: Semua wadah diperiksa secara visual dari tiap partikel yangterlihat
dibuang, batas 50 partikel 10µm dan lebih besar, serta 5 partikel > 25μm / mL

b. Uji Keseragaman Volume (FI IV hal. 1044)


Sejumlah isi dari wadah 10 ml atau lebih dapat ditentukan dengan membuka
wadah dan memindahkan isi secara langsung kedalam gelas ukur atau gelas piala
yang sudah ditara.

 Pilih 1 atau lebih wadah bila volume 10 mL. Ambil isi tiap wadah dengan alat
suntik hipodemik kering berukuran tidak lebih dari 3 kali volume yang akan
diukur dan dilengkapi dengan jarum suntik no. 21 dengan panjang tidak kurang
dari 2,5 µm.
 Keluarkan gelembung udara dari jarum dan alat suntik.
 Pindahkan isi dalam alat suntik tanpa mengosongkan bagian jarum kedalam
gelas ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan sehingga volume yang
diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40% volume dari kapasitas tertera.
Syarat : seragam

c. Uji Sterilitas (FI V hal.1662-1663)


Menggunakan teknik penyaringan membran :
 Bersihkan permukaan luar botol, tutup botol dengan dekontaminasi yang sesuai,
ambil isi secara aseptik.
 Pindahkan secara aseptik seluruh isi tidak kurang dari 10 wadah melalui tiap
penyaring dari 2 rakitan penyaring. Lewatkan segera tiap spesimen melalui
penyaring dengan bantuan pompa vakum/tekanan.
 Secara aaseptik pindahkan membran dari alat pemegang, potong menjadi
setengah bagian membran kedalam 100ml media inkubasi selama tidak kurang
dari 7 hari.
27

 Lakukan penafsiran hasil uji sterilitas.


Syarat : steril.

d. Uji Pirogenitas (FI Vhal1412)


a. UjiBiologik
Berdasarkanpeningkatansuhubadankelincisetelahdisuntikkandengan larutan
10 ml / kg bobotbadan dalamvena auricularis.
b. UjiSerologi
Lisatdarahkepiting(L.polyphemus)+endotoksin,gelatinasidalam30 menit.

e. Penetapan Kadar
 Natrium Klorida (FI V hal 918)
Timbang saksama lebih kurang 250 mg, masukkan ke dalam wadah porselen,
tambahkan 140 mL air dan 1 mL diklorofluoresein LP, campur. Titrasi dengan
perak nitrat 0,1 N LV, sampai perak klorida menggumpal dan campuran
berwarna merah muda lemah. Tiap mL perak nitrat 0,1 N setara dengan 5,844
mg NaCl.
Syarat : Natrium klorida mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih
dari 101,0% NaCl, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Tidak
mengandung zat tambahan.

 Kalium Klorida (FI Vhal 595)


Timbang saksama lebih kurang 200 mg zat, larutkan dalam10 mL air.
Tambahkan 10 mL asam asetat glasial P, 75 mL metanol P dan 3 tetes eosin Y
LP. Titrasi dengan perak nitrat 0,1 N LV hingga terjadi warna merah muda. Tiap
mL peraknitrat 0,1 N setara dengan 7,455 mg KCl.
Syarat : Kalium Klorida mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih
dari 100,5% KCl, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

 Kalsium Klorida (FI V 604)


Timbang saksama lebih kurang 1 g zat, masukkan kedalam gelas piala 250 mL,
larutkan dalam campuran air-asam klorida 3 N (100:5). Pindahkan larutan ke
dalam labu tentukur 250 mL, encerkan dengan air sampai tanda. Pipet 50 mL
larutan ke dalam labu erlenmeyer, tambahkan 100 mL air, 15 mL NaOH 1 N dan
300 mg indikator BHN LP. Titrasi dengan dinatrium edetat 0,05 M LV sampai
titik akhir titrasi berwarna biru tua. Tiap mL dinatrium edetat 0,05 M setara
dengan 7,351 CaCl2.2H2O.
Syarat : Kalsium klorida mengandung sejumlah CaCl2 setara tidak kurang dari
99,0% dan tidak lebih dari 107,0% CaCl2.2H2O.

 Natrium Bikarbonat (FI V hal 909)


Timbang saksama lebih kurang 3 g zat, campur dengan 100 mL air, tambahkan
merah metil LP,titrasi dengan HCl 1 N LV. Tambahkan asam perlahan-lahan
sambil terus diaduk sampai larutan berwarna merah muda lemah. Panaskan
28

larutan hingga mendidih, dinginkan dan lanjutkan titrasi sampai warna larutan
merah muda lemah tidak hilang setelah dididihkan. Tiap mL HCl 1 N setara
dengan 84,01 mg NaHCO.
Syarat : Natrium Bikarbonat mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak
lebih dari 100,5% NaHCO3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Ansel HC. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat. Diterjemahkan
olehFarida Ibrahim. Jakarta: UI-press; 1989.

Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Farmakologi dan Terapi edisi 5.


Jakarta: Balai penerbit FKUI; 2007.

Departemen kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia. Edisi III.


Jakarta:Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; 1979.

Departemen kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia. Edisi IV.


Jakarta:Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; 1995.

Departemen kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia. Edisi V. Jakarta:


Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; 2014.

Evory MC, Gerald K. Drug Information 2010. USA: American Society of Health-
System Pharmacist.

Katzung, Bertram G. Farmakologi Dasar dan Klinik edisi VI. Penerbit Buku
Kedokteran.

Rowe, Raymond C, dkk. Handbook of Pharmaceutical Excipient. sixth


edition.WashingtonD.C: American Pharmaceutical Association.

Sweetman SC. Martindale The Extra Pharmacopoeia. 36rd edition. London: The
Pharmaceutical Press; 2008.

Martindale. 1982. The Extra Pharmacopoeia, 28th Edition. London : The


Pharmaceutical Press.

Turco S, King RE. Sterile Dosage Forms. School edition. Philadelphia: Lea &
Febiger; 1979

Reynolds JEF. Martindale The Extra Pharmacopocia 28th edition. London: The
Pharmaceutical Press; 1982.

Evory MC, Gerald K. Drug Information 88. USA: American Society of Health
System Pharmacist; 2008.
29

The United States Pharmacopeia. The Nasional Formulari 37. Volume I. United
States Pharmacopeia Convention Inc. Washington, D.C.

Lachman L, Lieberman HA, Kanig JL. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri
Edisi Ketiga. Jakarta: UI-press.

Voight, Rudolf. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh


Dr.rer.nat. Soendani Noerono Soewandhi. Gajah Mada University Press.