Anda di halaman 1dari 18

Rumah Sakit Karya Husada

Laporan Kasus Portofolio

Program Internsip Dokter Indonesia

COMBUTIO

Dr. Zainal Abidin

Pendamping : dr. Tri Harum Mastinah & dr. Kiki Yustanti

RS Karya Husada

Cikampek

Desember 2016
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal : 20 Desember 2016

Nama Peserta : dr. Zainal Abidin

Dengan Judul/Topik : “Combutio”

Nama Pendamping : dr. Tri Harum Mastinah & dr. Kiki Yustanti

Nama Wahana : RS Karya Husada

No. Nama Peserta Presentasi No. Tanda Tangan

1 dr. Dorthea Wona 1

2 dr. Bathin Bonia 2

3 dr. Lia Permata Sari 3

4 dr. Praptiningsih 4

5 dr. Maulina Sulpi 5

6 dr. Reza Gharba 6

Pendamping

(dr.Kiki Yustanti) (dr. Tri Harum Mastinah)

PORTOFOLIO BEDAH
Nama Peserta dr. Zainal Abidin
Nama Wahana RS.KARYA HUSADA
Topik Combustio Grade 1
Tanggal (kasus) 15 Desember 2016
Nama Pasien Ny. BB No. RM
Tgl Presentasi 20 Desember 2016 Pendamping dr. Tri Harum Mastinah
Tempat Presntasi RS.KARYA HUSADA
OBYEKTIF PRESENTASI
o Keilmuan o Keterampilan o Penyegaran o Tinjauan Pustaka
o Diagnostik o Manajemen o Masalah o Istimewa
o Neonatus o Bayi o Anak o Remaja o Dewasa o Lansia o Bumil
o Deskripsi :
Pasien datang diantar suami dengan keluhan tersiram air panas dilengan kanan kiri atas.
o Tujuan :
Membedakan grade combustion dan indikasi rawat inap/rujuk pada kasus ini.
Bahan o Tinjauan
o Riset o Kasus o Audit
Bahasan: Pustaka
Cara
o Diskusi o Presentasi Kasus o Email o Pos
Membahas:
DATA UTAMA UNTUK BAHAN DISKUSI

1. Diagnosis :
Combustio Grade 2, luas luka bakar 9% e.c air panas.

2. Gambaran Klinis
Luka bakar pada lengan kiri atas sejak 2 jam yang lalu sebelum masuk puskesmas. Pasien datang bersama
suami. Dua jam sebelum masuk puskesmas pasien merebus air panas yang akan digunakannya untuk mandi,
saat air panas dituangkan pasien tidak mencoba panas atau tidaknya sehingga saat pasien mandi air panas
langsung mengenai lengan kiri atas pasien.
3. Riwayat pengobatan:
Sebelum sakit, pasien tidak pernah berobat ke tempat/dokter lain.
4. Riwayat kesehatan / penyakit :
Sebelum sakit, pasien tidak pernah menderita sakit apapun.
5. Riwayat keluarga :
Tidak ada keluarga dengan riwayat penyakit yang sama. Tidak ada riwayat alergi.
6. Riwayat pekerjaan :
Saat ini pasien belum bekerja.
7. Kondisi lingkungan sosial dan fisik :
Pasien tinggal di kawasan padat penduduk dengan sanitasi baik.
8. Riwayat imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus) : imunisasi lengkap
9. Lain-lain : -

Daftar Pustaka :
1. Sjamsuhidajat, de Jong. Luka bakar. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed 3. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC.2007.
Hlm: 103-110.
2. Robert. H, Demling. MD. Current Surgical Diagnosis & Treatment. Doherty, Gerard M, Way, Lawrence W (editor).
2006. Hlm: 248
3. Steven J. Schwults, J Perren Cobb. Wasington Manual Of Surgery, Ed 5. 2008. Hlm: 418-425.

Hasil Pembelajaran :
1. Memahami jenis combustio
2. Memahami manifestasi klinis serta terapi combustio

Rangkuman Hasil Pembelajaran


1. Subjektif
Luka bakar pada lengan kiri atas sejak 2 jam yang lalu sebelum masuk puskesmas. Pasien
datang bersama suami. Dua jam sebelum masuk puskesmas pasien merebus air panas yang akan
digunakannya untuk mandi, saat air panas dituangkan pasien tidak mencoba panas atau
tidaknya sehingga saat pasien mandi air panas langsung mengenai lengan kiri atas pasien.
Kemudian lengan kiri atas pasien yang telah tersiram melepuh dan terasa nyeri hebat. Pasien
merintih kesakitan dan diantar suaminya ke Puskesmas Ampenan untuk diberikan perawatan
dan pengobatan. Pasien sebelumnya belum pernah mengalami hal ini, tidak ada riwayat alergi.

2. Objektif
Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik pada saat pasien masuk ke puskesmas
mendukung diagnosis Combustio grade 5% grade 11 regio humeri sinistra e.c air panas. Pada
kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan :
-
Gejala klinis
Adanya keluhan luka bakar pada lengan kiri atas sejak 2 jam yang lalu sebelum masuk
puskesmas. Pasien sebelumnya sedang mempersiapkan air panas yang akan digunakannya
untuk mandi tetapi pasien lupa tidak mencoba apakah panasnya air yang akan digunakan
cukup aman untuk dipakainya. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyebab luka bakar
adaalah air panas.
-
Pemeriksaan fisik :
Primary survey yang paten (ABC (Airway bebas; breathing spontan, regular, 20x/menit,
Circulation nadi 120x/menit) dan kesadaran CMC GCS E4V5M). Pada pemeriksaan fisik tidak
didapatkan kelainan. Status lokalis, pada daerah lengan kiri atas terdapat luka bakar dengan
bullae yang sudah pecah dan bullae yang masih utuh. Hiperemis (+), nyeri (+), luas luka
bakar 5%

3. Assessment
LUKA BAKAR

Pendahuluan
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter. Luka bakar berat
dapat menyebabkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibandingkan dengan cedera
oleh sebab lain. Biaya yang dibutuhkan untuk penanganannya pun tinggi. Di Amerika Serikat, kurang
lebih 250.000 orang mengalami luka bakar membutuhkan tindakan emergensi, dan sekitar 210
penderita luka bakar meninggal dunia. Di Indonesia, belum ada angka pasti mengenai luka bakar,
tetapi dengan bertambahnya jumlah penduduk serta industri, angka luka bakar tersebut makin
meningkat.

Luka bakar menyebabkan hilangnya integritas kulit dan juga menimbukan efek sistemik yang
sangat kompleks. Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman
luka bakar. Beratnya luka bergantung pada dalam, luas, dan letak luka. Selain beratnya luka bakar,
umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya merupakan faktor yang sangat mempengaruhi
prognosis.1

Etiologi

Penyebab luka bakar yang tersering adalah terbakar api langsung yang dapat dipicu atau
diperparah dengan adanya cairan yang mudah terbakar seperti bensin, gas kompor rumah tangga,
cairan cairan dari tabung pemantik api, yang akan menyebabkan luka bakar pada seluruh atau
sebagian tebal kulit. Pada anak kurang lebih 60% luka bakar disebabkan oleh air panas yang terjadi
pada kecelakaan rumah tangga, dan umumnya merupakan luka bakar superfisial, tetapi dapat juga
mengenai seluruh ketebalan kulit (derajat tiga).

Penyebab luka bakar lainnya adalah pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan
kimia. Bahan kimia ini bisa berupa asam atau basa kuat. Asam kuat menyebabkan nekrosis koagulasi,
denaturasi protein dan rasa nyeri yang hebat. Asam hidrofluorida mampu menembus jaringan
sampai ke dalam dan menyebabkan toksisitas sistemik yang fatal, bahkan pada luka yang kecil
sekalipun. Alkali atau basa kuat yang banyak terdapat dalam rumah tangga antara lain cairan emutih
pakaian (bleaching), berbagai cairan pembersih, dll. Luka bakar yang disebabkan oleh basa kuat akan
menyebabkan jaringan mengalami nekrosis yang mencair (liquefactive necrosis). Kemampuan alkali
menembus jaringan lebih dalam lebih kuat daripada asam, kerusakan jaringan lebih berat karena sel
mengalami dehidrasi dan terjadi denaturasi protein dan kolagen. Rasa sakit baru timbul belakangan
sehingga penderita sering terlambat datang untuk berobat dan kerusakan jaringan sudah meluas. 1

Berdasarkan perjalanan penyakitnya luka bakar dibagi menjadi 3 fase, yaitu :

1. Fase akut

Pada fase ini problema yang ada berkisar pada gangguan saluran napas karena adanya
cedera inhalasi dan gangguan sirkulasi. Pada fase ini terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi
cairan dan elektrolit akibat cedera termis bersifat sistemik.

2. Fase sub akut

Fase ini berlangsung setelah shock berakhir. Luka terbuka akibat kerusakan jaringan (kulit dan
jaringan dibawahnya) menimbulkan masalah inflamasi, sepsis dan penguapan cairan tubuh
disertai panas/energi.
3. Fase lanjut

Fase ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi. Masalah pada
fase ini adalah timbulnya penyulit dari luka bakar berupa parut hipertrofik, kontraktur, dan
deformitas lainnya.

Patofisiologi

Kulit adalah organ terluar tubuh manusia dengan luas 0,025 m 2 pada anak baru lahir sampai
1m2 pada orang dewasa. Apabila kulit terbakar atau terpajan suhu tinggi, pembuluh kapiler
dibawahnya, area sekitarnya dan area yang jauh sekali pun akan rusak dan menyebabkan
permeabilitasnya meningkat. Terjadilah kebocoran cairan intrakapiler ke interstisial sehingga terjadi
udem dan bula yang mengandung banyak elektrolit. Rusaknya kulit akibat luka bakar akan
mengakibatkan hilangnya fungsi kulit sebagai barier dan penahan penguapan.

Kedua penyebab di atas dengan cepat menyebabkan berkurangnya cairan intravaskular. Pada
luka bakar yang luasnya kurang dari 20%, mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya.
Bila kulit yang terbakar luas (lebih dari 20%), dapat terjadi syok hipovolemik disertai gejla yang khas,
seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun, dan
produksi urin berkurang. Pembengkakan terjadi perlahan, maksimal terjadi setelah delapan jam.

Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah
yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia.

Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi kerusakan
mukosa jalan napas karena gas, asap, atau uap panas yang terhirup. Udem laring yang
ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas, takipnea,
stridor, suara parau, dan dahak berwarna gelap akibat jelaga. Dapat juga terjadi keracunan gas CO
atau gas beracun lainnya. Karbonmonoksida sangat kuat terikat dengan hemoglobin sehingga
hemoglobin tidak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda keracunan ringan yaitu lemas, bingung,
pusing, mual, dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila lebih dari 60% hemoglobin
terikat CO, penderita dapat meninggal.

Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi serta
penyerapan kembali cairan dari ruang interstisial ke pembuluh darah yang ditandai dengan
meningkatnya diuresis.

Luka bakar umumnya tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati yang merupakan medium yang
baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena
daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis. Padahal, pembuluh ini
membawa sistem pertahanan tubuh atau antibiotik. Kuman penyebab infeksi pada luka bakar, selain
berasal dari kulit penderita sendiri, juga dari kontaminasi kuman saluran napas atas dan kontaminasi
kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi nosokomial biasanya sangat berbahaya karena kumannya
banyak yang sudah resisten terhadap berbagai antibiotik.

Pada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kokus Gram positif yang berasal dari kulit
sendiri atau dari saluran napas, tetapi kemudian dapat terjadi invasi kuman Gram negatif.
Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin protease dan toksin lain yang
berbahaya, terkenal sangat agresif dalam invasinya pada luka bakar. Infeksi pseudomonas dapat
dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Kuman memproduksi enzim penghancur
keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan granu lasi membentuk nanah.

Infeksi ringan dan noninvasif (tidak dalam) ditandai dengan keropeng yang mudah terlepas
dengan nanah yang bayak. Infeksi yang invasif ditandai dengan keropeng yang kering dengan
perubahan jaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat menjadi nekrotik; akibatnya, luka bakar
yang mula-mula derajat dua menjadi derajat tiga. Infeksi kuman menimbulkan vaskulitis pada
pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan menimbulkan trombosis.

Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat dua dapat sembuh dengan
meninggalkan cacat berupa parut. Penyembuhan ini dimulai dari sisa elemen epitel yang masih vital,
misalnya sel kelenjar sebasea, sel basal, sel kelenjar keringat, atau sel pangkal rambut. Luka bakar
derajat dua yang dalam mungkin meninggalkan parut hipertrofik yang nyeri, gagal, kaku dan secara
estetik sangat jelek.

Luka bakar derajat tiga yang dibiarkan sembuh sendiri akan mengalami kontraktur. Bila ini
terjadi di prsendian; fungsi sendi dapat berkurang atau hilang.

Pada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase akut, peristaltis usus
menurun atau berhenti karena syok. Juga peristaltis dapat menurun karena kekurngan ion kalium.

Stres atau beban faali setra hipoperfusi daerah splangnikus pada penderita luka bakar berat
dapat menyebabkan terjadinya tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala yang sama
dengan gejala tukak peptik. Kelainan ini dikenal sebagai tukak Curling atau stress ulcer. Aliran darah
ke lambung berkurang sehingga terjadi iskemia mukosa. Bila keadaan ini berlanjut, dapat timbul
ulkus akibat nekrosis mukosa lambung. Yang dikhawatirkan pada tukak Curling ini adalah penyulit
perdarahan yang tampil sebagai hematemesis dan/atau melena.
Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga keseimbangan protein
menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi, dan mudah
terjadi infeksi. Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga memerlukan kalori tambahan. Tenaga
yang diperlukan tubuh pada fase ini terutama didapat pembakaran protein dari otot skelet. Oleh
karena itu, penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil, dan berat badan menurun. Kecacatan
akibat luka bakar bisa sangat hebat, terutama bila mengenai wajah. Penderita mungkin mengalami
beban kejiwaan berat akibat cacat tersebut., sampai bisa menimbulkan gangguan jiwa yang disebut
schizophrenia postburn.1

Luas luka bakar

Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. Pada orang dewasa
digunakan “rumus 9”, yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, perut, pinggang dan bokong,
ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta
tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%, sisanya 1% adalah daerah genitalia. Rumus ini membantu
untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa.

Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak lebih
besar. Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal rumus 10
untuk bayi dan rumus 10-15-20 untuk anak.

Untuk anak, kepala dan leher 15%, badan depan dan belakang masing-masing 20%,
ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 10%, ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-
masing 15%.1

Penentuan luas luka bakar secara lebih lengkap dijelaskan dengan diagram Lund dan
Browder sebagai berikut:

USIA (Tahun)
LOKASI
0-1 1-4 5-9 10-15 DEWASA
KEPALA 19 17 13 10 7
LEHER 2 2 2 2 2
DADA & PERUT 13 13 13 13 13
PUNGGUNG 13 13 13 13 13
PANTAT KIRI 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
PANTAT KANAN 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
KELAMIN 1 1 1 1 1
LENGAN ATAS KA. 4 4 4 4 4
LENGAN ATAS KI. 4 4 4 4 4
LENGAN BAWAH KA 3 3 3 3 3
LENGAN BAWAH KI. 3 3 3 3 3
TANGAN KA 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
TANGAN KI 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
PAHA KA. 5,5 6,5 8,5 8,5 9,5
PAHA KI. 5,5 6,5 8,5 8,5 9,5
TUNGKAI BAWAH KA 5 5 5,5 6 7
TUNGKAI BAWAH KI 5 5 5,5 6 7
KAKI KANAN 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
KAKI KIRI 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5

Rules of Nine
Rumus Lund - Browder

Derajat luka bakar

Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tingginya suhu dan lamanya pajanan suhu tinggi.
Selain api yang langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar juga memperdalam luka bakar.
Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat dari bulu domba (wol). Bahan sintetis, seperti
nilon dan dakron, selain mudah terbakar juga mudah lumer oleh suhu tinggi, lalu menjadi lengket
sehigga memperberat kedalaman luka bakar.

Luka bakar derajat satu hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari;
misalnya tersengat matahari. Luka tampak sebagau eritema dengan keluhan rasa nyeri atau
hipersensitivitas setempat.

Luka bakar derajat dua mencapai kedalaman dermis, tetapi masih ada elemen epitel sehat
tersisa. Elemen epitel tersebut, misalnya sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan
pangkal rambut. Dengan adanya sisa sel epitel ini, luka dapat sembuh sendiri dalam dua sampai tiga
minggu. Gejala yang timbul adalah nyeri, gelembung atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari
pembuluh karena permeabilitas dindingnya meningkat.

Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis, atau organ
yang memungkinkan penyembuhan dari dasar luka; biasanya diikuti dengan terbentuknya eskar yang
merupakan jaringan nekrosis akibat denaturasi protein jaringan kulit. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan kesembuhan harus dilakukan skin grafting. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau
hitam, dengan permukaan lebih rendah dari jaringan sekeliling yang masih sehat. Tidak ada bula dan
tidak terasa nyeri.1
Beratnya luka bakar

Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar.
Walaupun demikian beratnya luka bergantung pada dalam, luas, dan letak luka. Umur dan keadaan
kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis.

Selain dalam dan luasnya luka bakar, prognosis dan penanganan ditentukan oleh letak luka,
usia, dan keadaan kesehatan penderita. Perawatan daerah perineum, ketiak, leher, dan tangan sulit,
antara lain karena mudah mengalami kontraktur. Bayi dan orang usia lanjut daya kompensisanya
lebih rendah, maka bila terbakar digolongkan ke dalam golongan berat. 1

Petunjuk klasifikasi beratnya luka bakar menurut ABA


Luka Bakar Berat
 25 % pada orang dewasa
 25 % pada anak dengan usia kurang dari 10 tahun

 20 % pada orang dewasa dengan usia lebih dari 40 tahun


 Luka mengenai wajah, mata, telinga, lengan, kaki, dan perineum yang

 mengakibatkan gangguan fungsional atau kosmetik atau menimbulkan disabiliti.

 LB karena listrik voltage tinggi

 Semua LB dengan yang disertai injuri inhalasi atau truma yang berat.

Luka Bakar Sedang


 15-25 % mengenai orang dewasa
 10-20 % pada anak usia kurang dari 10 tahun

 10-20 % pada orang dewasa usia lebih dari 40 tahun

Luka Bakar Ringan


 Tidak ada resiko gangguan kosmetik atau fungsional atau disabiliti.
 < 10 % pada anak usia kurang dari 10 tahun

 <10 % pada dewasa usia lebih 40 tahun

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan pada luka bakar mayor. Hal ini untuk menunjang
tatalaksana, mengingat luka bakar mayor dapat menyebabkan kerusakan yang lebih berat dan
gangguan keseimbangan metabolisme tubuh yang berat. Hal ini harus dikenali sehingga bisa diatasi
secepat mungkin.Pemeriksaan yang dapat dilakukan :Hemoglobin, hematokrit, elektrolit, gula darah,
golongan darah, kadar COHb dan kadar sianida (pada luka bakar akiibat kebakaran di ruangan). 1,2

Penatalaksanaan

Non medikamentosa

Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada tubuh, misalnya dengan
menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen pada api yang
menyala. Korban dapat mengusahakannya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling agar bagian
pakaian yang terbakar tidak meluas. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri,
misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin, atau
melepaskan baju yang tersiram panas.

Pertolongan pertama setelah sumber panas dihilangkan adalah merendam daerah luka bakar
dalam air atau menyiramnya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya lima belas menit.
Upaya pendinginan ini, dan upaya mempertahankan suhu dingin pada jam pertama akan
menghentikan proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi. Yang akan terus
berlangsung walaupun api telah dipadamkan, sehingga destruksi tetap meluas. Oleh karena itu,
merendam bagian yang terbakar selama lima belas menit pertama dalam air sangat bermanfaat
untuk menurunkan suhu jaringan sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil, luka yang
sebenarya menuju derajat dua dapat berhenti pada derajat satu, atau luka yang akan menjadi tingkat
tiga dihentikan pada tingkat dua atau satu. Pencelupan atau penyiraman dapat dilakukan dengan air
apa saja yang dingin, tidak usah steril.
Pada luka bakar ringan prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang
terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk
berproliferasi, dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secara tertutup atau terbuka.

Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan, kalau perlu,
dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. Bila penderita menunjukkan
gejala terbakarnya jalan nafas, diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Kalau terjadi udem
laring, dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi. Trakeostomi berfungsi untuk
membebaskan jalan napas, mengurangi ruang mati, dan memudahkan pembersihan jalan napas dari
lendir atau kotoran. Bila ada dugaan keracunan CO, segera diberikan oksigen murni.

Luka akibat asam hidrofluorida perlu dilavase (cuci bilas) sebanyak-banyaknya dan diberi gel
kalsium glukonat topikal. Pemberian kalsium sistemik juga diperlukan karena asam hidrofluorida
mengendapkan kalsium pada luka bakar.

Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik dan membiarkannya terbuka
untuk perawatan terbuka atau menutupnya dengan pembalut sterila untuk perawatan tertutup.
Kalau perlu, penderita dimandikan dahulu.

Selanjutnya pertolongan diarahkan untuk mengawasi tanda-tanda bahaya dari ABC (airway,
breathing, Circulation)

Airway and breathing


Perhatikan adanya stridor (mengorok), suara serak, dahak berwarna jelaga (black sputum),
gagal napas, bulu hidung yang terbakar, bengkak pada wajah. Luka bakar pada daerah orofaring dan
leher membutuhkan tatalaksana intubasi (pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea/batang
tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang adekuat/tetap terbuka. Intubasi dilakukan di fasilitas
kesehatan yang lengkap.

Circulation
Penilaian terhadap keadaan cairan harus dilakukan. Pastikan luas luka bakar untuk
perhitungan pemberian cairan. Pemberian cairan intravena (melalui infus) diberikan bila luas luka
bakar >10%. Bila kurang dari itu dapat diberikan cairan melalui mulut. Cairan merupakan komponen
penting karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui penguapan karena kulit yang
berfungsi sebagai proteksi sudah rusak dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan dari
pembuluh darah ke jaringan sekitar pembuluh darah yang mengakibatkan timbulnya pembengkakan
(edema). Bila hal ini terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan maka volume cairan
dalam pembuluh darah dapat berkurang dan mengakibatkan kekurangan cairan yang berat dan
mengganggu fungsi organ-organ tubuh.

Pemberian cairan intravena

Sebelum infus diberikan, luas dan dalamnya luka bakar harus ditentukan secara teliti.
Kemudian, jumlah cairan infus yang akan diberikan dihitung. Ada beberapa cara untuk menghitung
kebutuhan cairan ini.

Cara Evans
1. Luas luka dalam % x BB dalam kg menjadi mL NaCl per 24 jam.
2. Luas luka dalam % x BB dalam kg menjadi mL plasma per 24 jam.
Keduanya merupakan pengganti cairan yang hilang akibat udem. Plasma diperlukan untuk
mengganti plasma yang keluar dari pembuluh da meninggikan tekanan osmosis sehingga
mengurangi perembesan keluar dan menarik kembali cairan yang telah keluar.
3. Sebagai pengganti cairan yang hilang akibat penguapan, diberikan 2.000 cc glukosa 5% per
24 jam.

Separuh jumlah 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya diberikan dalam 16 jam
berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari ketiga
diberikan setengah jumlah cairan hari kedua. Penderita mula-mula dipuasakan karena peristaltis usus
terhambat pada keadaan prasyok, dan mulai diberikan minum segera setelah fungsi usus normal
kembali. Kalau diuresis pada hari ketiga memuaskan dan penderita dapat dikurangi, bahkan
dihentikan.

Cara lain yang banyak dipakai dan lebih sederhana adalah menggunakan rumus Baxter, yaitu
luas luka bakar dalam % x BB dalam kg x 4mL larutan Ringer. Separuh dari jumlah cairan ini diberikan
dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam. Hari pertama terutama diberikan kristaloid
yaitu larutan ringer laktat. Hari kedua diberikan setengah cairan pertama.

Pemberian cairan dapat ditambah (jika perlu), misalnya bila penderita dalam keadaan syok,
atau jika diuresis kurang. Untuk itu, pemantauan yang ketat sangat penting , karena fluktuasi
perubahan keadaan sangat cepat terutama pada fase awal luka bakar.

Intinya, status hidrasi penderita luka bakar luas harus dipantau terus-menerus. Keberhasilan
pemberian cairan dapat diihat dari diuresis normal yaitu sekurang-kurangnya 1000-1500mL/24jam
atau 1 mL/kgBB/jam dan 3mL/kgBB/jam pada pasien anak. Yang penting juga adalah pengamatan
apakah sirkulasi normal atau tidak.

Besarnya kehilangan cairan pada luka bakar luas disertai resusitasi yang tidak betul dapat
menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit. Hionatremia sebagai gejala keracunan air dapat
menyebabkan udem otak dengan tanda-tanda kejang. Kekurangan ion K akibat banyaknya kerusakan
sel dapat diketahui dari EKG yang menunjukkan depresi segmen ST atau gelomabang U.
Ketidakseimbangan elektrolit ini juga harus dikoreksi namun bukan menjadi prioritas utama dalam
resusitasi cairan emergensi manajemen primer pasien trauma.

Tindakan bedah

Pemotongan eskar atau eskarotomi dilakukan pada luka bakar derajat tiga yang melingkar
pada ekstremitas atau tubuh karena pengerutan keropeng dan pembengkakan yang terus
berlangsung dapat mengakibatkan penjepitan yang membahayakan sirkulasi sehingga bagian distal
bisa mati. Tanda dini penjepitan adalah nyeri, kemudian kehilangan daya rasa sampai kebas pada
ujung-ujung distal. Keadaan ini harus cepat ditolong dengan membuat irisan memanjang yang
membuka keropeng sampai jepitan terlepas.

Debridemen diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi
tangensial. Tindakan ini dilakukan sesegera mungkin setelah keadaan penderita menjadi stabil karena
eksisi tangensial juga menyebabkan perdarahan. Biasanya eksisi dini ini dilakukan pada hari ke-3
sampai ke-7, dan pasti boleh dilakukan pada hari ke-10. Eksisi tangensial sebaiknya tidak dilakukan
lebih dari 10% luas permukaan tubuh, karena dapat terjadi perdarahan yang cukup banyak. Luka
bakar yang telah dibersihkan atau luka granulasi dapat ditutup dengan skin graft yang umumnya
diambil dari kulit penderita sendiri (skin grafting autologus). Penutupan luka bakar dengan bahan
biologis seperti kulit mayat atau kulit binatang atau amnion manusia dapat dilakukan jika terdapat
keterbatasan luas kulit penderita atau terlalu payah. Walaupun kemungkinan ditolak, bahan tersebut
dapat berfungsi sementara sebagai penghalang penguapan berlebihan, pencegah infeksi yang lebih
parah, dan mengurangi nyeri. Namun, sedikit demi sedikit penutup sementara ini harus diganti
dengan kulit penderita sendiri sebagai penutup permanen.

Sebaiknya pada penderita luka bakar derajat dua dalam dan derajat tiga dilakukan skin
grafting untuk mencegah terjadinya keloid dan jaringan parut yang hipertropik. Skin grafting dapat
dilakukan sebelum hari kesepuluh, yaitu sebelum timbulnya jaringan granulasi.

Saat ini telah banyak terdapat material pengganti kulit (skin subtitute) yang dapat digunakan
jika skin grafting tidak bisa dilakukan. Skin subtitute ini antara lain integra, aloderm, dan dermagraft.
Aloderm adalah dermis manusia yang elemen-elemen epitelnya telah dibuang sehingga secara
teoritis bersifat bebas antigen, dan berfungsi sebagai kerangka pengganti dermis. Dermagraft
merupakan hasil pembiakan fibroblas neonatus yang digabung dengan membran silikon, kolagen
babi, dan jaring (mesh) nilon. Setelah dua minggu, membran silikon dikelupas dan digantikan dengan
STTG (split thickness skin graft). Integra merupakan analog dermis yang terbuat dari lapisan kolagen
dan kondroitin ditambah lapisan silikon tipis.

Nutrisi

Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan keseimbangan nitrogen
yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak 2.500-3.000 kalori sehari dengan kadar protein
tinggi.

Penderita yang sudah mulai stabil keadaannya memerlukan fisioterapi untuk memperlancar
peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi. Kalau perlu, sendi diistirahatkan dalam posisi
fungsional dengan bidai.1,3

Medikamentosa

Antibiotik sistemik spektrum luas diberikan untuk mencegah infeksi. Yang banyak dipakai
adalah golongan aminoglikosida yang efektif terhadap pseudomonas. Bila ada infeksi, antibiotik
diberikan berdasarkan hasil biakan dan uji kepekaan kuman.

Untuk mengatasi nyeri, paling baik diberikan opiat melalui intravena dalam dosis serendah
mungkin yang bisa menghasilkan analgesia yang adekuat namun tanpa disertai hipotensi.

Selanjutnya, diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid.

Luka bakar derajat satu dan dua yang menyisakan elemen epitel berupa kelenjar sebasea,
kelenjar keringat, atau pangkal rambut, dapat diharapkan sembuh sendiri, asal dijaga supaya elemen
epitel tersebut tidak hancur atau rusak karena infeksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan
infeksi. Pada luka lebih dalam, perlu diusahakan secepat mungkin membuang jaringan kulit yang mati
dan memberi obat topikal yang daya tembusnya tinggi sampai mencapai dasar jaringan mati.
Perawatan setempat dapat dilakukan secara terbuka atau tertutup.

Ada beberapa jenis obat yang dianjurkan seperti golongan silver sulfadiazine dan yang
terbaru MEBO (moist exposure burn ointment). Obat topikal yang dipakai dapat berbentuk larutan,
salep atau krim. Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk sediaan kasa (tulle). Antiseptik yang dipakai
adalah yodium povidon atau nitras-argenti 0,5%. Kompres nitras-argenti yang selalu dibasahi tiap 2
jam efektif sebagai bakteriostatik untuk semua kuman. Obat ini mengendap sebagai garam sulfida
atau klorida yang memberi warna hitam sehingga mengotori semua kain. Krim silver sulfadiazine 1%
sangat berguna karena bersifat bakteriostatik, mempunyai daya tembus yang cukup, efektif terhadap
semua kuman, tidak menimbulkan resistensi, dan aman. Krim ini dioleskan tanpa pembalut, dan
dapat dibersihkan dan diganti setiap hari.

Keuntungan perawatan terbuka adalah mudah dan murah. Permukaan luka yang selalu
terbuka menjadi dingin dan kering sehingga kuman sulit berkembang. Kerugiannya, bila digunakan
obat tertentu, misalnya nitras-argenti, alas tidur menjadi kotor. Penderita dan keluarga pun merasa
kurang enak karena melihat luka yang tampak kotor. Sedapat mungkin luka yang tampak kotor.
Sedapat mungkin luka dibiarkan terbuka setelah diolesi obat.

Perawatan tertutup dilakukan dengan memberikan balutan yang dimaksudkan untuk


menutup luka dari kemungkinan kontaminasi, tetapi tutupnya sedeikian rupa sehingga masih cukup
longgar untuk berlangsungnya penguapan. Keuntungan perawatan tertutup adalah luka tampak rapi,
terlindung, dan enak bagi penderita. Hanya, diperlukan tenaga dan dan lebih banyak pembalut dan
antiseptik. Kadang suasana luka yang lembap dan hangat memungkinkan kuman untuk berkembang
biak. Oleh karena itu, bila pembalut melekat pada luka, tetapi tidak berbau, sebaiknya jangan
dilepaskan, tetapi ditunggu sampai terlepas sendiri. 1

Indikasi Rawat Inap


Pasien luka bakar diindikasikan untuk rawat inap harus mengikuti pedoman dari American
Burn Association.

1. Pasien yang lebih muda dari 10 tahun atau lebih tua dari 50 tahun mengalami luka bakar
parsial atau dengan luka bakar seluruh lapisan lebih besar dari 10%.
2. Luka bakar parsial atau luka bakar sampai lebih dari 20% pada usia lainnya.
3. Khusus daerah, termasuk sendi, tangan, kaki, perineum, alat kelamin, wajah, mata, atau
telinga.
4. Luka bakar seluruh lapisan lebih besar dari 5%.
5. Luka bakar akibat aliran listrik (termasuk petir), disebabkan kerusakan jaringan dalam tubuh
dapat terjadi akibat aliran listrik yang masuk ke dalam tubuh.
6. Luka bakar kecil pada pasien dengan permasalahan sosial, termasuk pada anak yang berisiko
tinggi.3
Komplikasi Luka Bakar
-
Fase Akut: syok, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
-
Fase Subakut: infeksi dan sepsis
-
Fase Lanjut: parut hipertropik 4

Mortalitas
Mortalitas pada luka bakar disebabkan oleh:
-
Syok karena kehilangan cairan
-
Gagal jantung karena Myocardial Depressing Factor
-
Sepsis
-
Gagal ginjal akut
-
Komplikasi lain seperti pneumonia4