Anda di halaman 1dari 19

A.

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan terus berkembang dan mengalami kemajuan
terutama ilmu pengetahuan sains, sesuai dengan perkembangan zaman dan
perkembangan cara berpikir manusia. Sains dalam perkembangannya
senantiasa terus berusaha untuk menjawab berbagai pernyataan yang
muncul. Berbagai jawaban yang coba diajukan terus menerus dan
memunculkan perbedaan diantara jawaban yang diajukan satu dengan
yang lainnya.
Perbedaan jawaban mendorong untuk menguji kebenaran yang ada.
Kebenaran ilmiah dalam Sains telah melalui serangkaian eksperimen
untuk menguji kebenaran ilmiah yang ada. Usaha untuk menguji
kebenaran dilakukan untuk mendapatkan kebenaran ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Sains memiliki kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan
karena telah melalui rangkaian proses pengujian yang panjang. Sains pada
perkembangan masih dalam pencarian kebenaran mengenai fenomena
alam yang ada. Fenomena alam yang sebagian besar belum terpecahkan
membuat masih banyak ketidakpastian yang muncul di dalam kepastian
ilmu pengetahuan Sains. Ketidakpastian yang ada mendorong untuk terus
mencari kebenaran dengan berbagai cara, walaupun akan menunjukkan
banyak kekeliruan dan kesalahan yang muncul dalam proses tersebut.
Kebenaran ilmiah dalam Sains tidak dapat berdiri sendiri bila tidak
diuji dan didukung oleh beberapa hal seperti pernyataan, teori keterkaitan,
konsistensi, keterukuran, dapat dibuktikan, berfungsi, dan bersifat netral
atau tidak netral, dan sifat kebenaran yaitu tentatif atau sepanjang masa.
Berdasarkan uraian diatas maka pemakalah merasa perlu untuk membahas
mengangkat makalah dengan judul “kebenaran ilmiah”.

2. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian kebenaran ilmiah.
2. Untuk mengetahui teori-teori kebenaran ilmiah.
3. Untuk mengetahui sifat-sifat kebenaran ilmiah.
4. Untuk mengetahui kebenaran ilmiah dari sudut pandang subjektifitas
dan objektifitas.
5. Untuk mengetahui cara menemukan kebenaran ilmiah.
6. Untuk mengetahui persisi dan akurasi.
7. Untuk mengetahui masalah kekeliruan.
8. Untuk mengetahui masalah kepastian.
9. Untuk mengetahui penggunaan statistika.

B. KAJIAN TEORI
1. Pengertian Kebenaran Ilmiah
Kebenaran berasal dari kata dasar benar yang dalam Bahasa inggrisnya
adalah truth. Kebenaran dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang
kongrit maupun abstrak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata
benar adalah sesuai dengan sebagaimana adanya dan dapat dipercaya.
Kebenaran merujuk pada kesesuaian tentang sesuatu. Kesesuaian tersebut
adalah kesesuaian ketika apa yang diyakini benar dalam pikiran terbukti
sama dengan apa yang menjadi kenyataan di lapangan. Kebenaran adalah
segala sesuatu yang selaras, serasi dan sejalan antara apa yang diyakini
dalam pikiran lalu sesuai dengan apa yang terjadi dan menjadi kenyataan
yang telah terbuktikan.
Ilmiah adalah segala sesuatu yang bersifat keilmuan dan didasarkan
pada ilmu pengetahuan, segala sesuatu yang dibuat berdasarkan kaidah
ilmu pengetahuan dapat disebut bersifat ilmiah seperti metode ilmiah,
penelitian ilmiah dan karya tulis ilmiah. Ilmiah adalah kata kerja yang
mengilmiahkan yang berarti menjadikan sesuatu menjadi ilmiah atau
bersifat keilmuan atau berdasarkan ilmu pengetahuan.
Kebenaran ilmiah maksudnya adalah suatu pengetahuan yang jelas dan
pasti kebenarannya menurut norma-norma keilmuan. Kebenaran ilmiah
cenderung bersifat objektif, di dalamnya terkandung sejurnlah
pengetahuan menurut sudut pandang yang berbeda-beda, tetapi saling
bersesuaian. Kebenaran Ilmiah adalah Salah satu pokok yang fundamental
dan senantiasa aktual dalam pergumulan hidup manusia merupakan upaya
mempertanyakan dan membahasakan kebenaran. Kebenaran boleh dikata
merupakan tema yang tak pernah tuntas untuk diangkat ke ranah akal
manusia. (Bagus, 1991:86).

2. Teori-Teori Kebenaran Ilmiah


Teori adalah sekumpulan konstruk,definisi,dan dalil yang saling terkait
yang mehadirkan suatu pandangan yang sistematis tentang fenomena
dengan menetapkan hubungan diantara beberapa variabel dengan maksud
menjelaskan dan meramalkan fenomena (Kerlinger,1965,h.11)
Michael Williams (Muhajir, 1998:13) mengenalkan 5 teori kebenaran,
yaitu:
a. Teori Kebenaran Korespondensi
Teori korespondensi atau the correspondence theory of truth atau
istilah lain the accordance theory of truth. Teori kebenaran
korespondensi adalah suatu kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai
diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya, suatu pernyataan dapat
dikatakan benar jika mengandung pernyataan yang sesuai dengan
kenyataan yang ada. (Keraf dan Dua M, 2001: 66).
Kebenaran korespondensi terletak pada kesesuaian antara subjek
dan objek. Teori kebenaran korespondensi ini adalah teori yang dapat
diterima secara luas oleh kaum realis karena pernyataan yang ada selalu
berkaitan dengan realita. Pernyataan dianggap benar jika apa yang
dinyatakan tersebut berhubungan dan punya keterkaitan dengan realita
yang ada, yang diungkapkan kedalam pernyataan itu. Benar atau salah
dalam hal ini merupakan persoalan sesuai tidaknya pernyataan dengan
kenyataan atau sesuai tidaknya subjek dan objek yang dibicarakan, hal
yang pokok dalam kegiatan ilmiah adalah mengungkap realitas yang
sebenarnya, sehingga kebenaran korespondensi ini bersifat empiris-
aposterioris. (Surjani, 2010 : 138).
Kebenaran korespondensi menekankan pada apakah pernyataan itu
sendiri merupakan fakta atau bukan. Kebenaran tergantung pada pihak
pihak subjek, dalam arti kemampuan rasio untuk mengidekan objek dan
kemampuan indera dalam memahami objek, semuanya menyangkut
kemampuan penginderaan manusia yang sangat terbatas sehingga
kebenaran yang ditawarkan oleh teori korespondensi masih memiliki
kelemahan.
Teori korespondensi ini mengatakan bahwa seluruh pernyataan
mengenai suatu fakta itu benar jika pendapat itu sendiri disebut fakta
yang dimaksud. Pernyataan bisa diterima sebagai sebuah kebenaran
jika ada persesuaian antara pernyataan tentang fakta dengan fakta itu
sendiri (Harold Titus, Smith, Nolan : 338).
b. Teori Kebenaran Koherensi
Teori koherensi atau teori konsistensi, istilah lain teori ini adalah the
consistence theory of truth atau the coherence theory of truth. Teori
kebenaran ini beranggapan bahwa kebenaran tidak dibentuk atas
hubungan antara pernyataan dan fakta tetapi atas hubungan pernyataan
dengan pernyataan lainnya yang telah diketahui dan diakui
kebenarannya terlebih dahulu (Suriasumantri, 1990:56). Teori
kebenaran koherensi banyak dianut oleh filsuf penganut realisme dan
materialisme (Kattsof, 2004:176).
Para filsuf menyebut kebenaran ini sebagai kebenaran ontologik
(ontological truth), maksudnya adalah pemikiran atau pernyataan
terkandung pengetahuan atau pengalaman sangat menentukan adanya
kebenaran. Kebenaran itu tidak akan pernah ada jika tidak ada pikiran
atau pengalaman. Prinsip kesatuan (unity) antar proposisi mengenai
suatu objek adalah tolak ukur utama dari kebenaran. (jalaluddin
2013:134)
Kebenaran ditemukan dalam relasi antara proposisi baru dengan
proposisi yang sudah ada, suatu pengetahuan, teori, pernyataan,
proposisi atau hipotesis dianggap benar jika sesuai dan sejalan dengan
pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya, yaitu kalau
proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan proposisi sebelumnya
yang dianggap benar (Keraf dan Dua M, 2001: 88).
c. Teori Kebenaran Pragmatis
Teori kebenaran pragmatisme atau the pragmatic theory of truth.
Pragtisme berasal dari kata pragma dalam Bahasa Yunani yang
bermakna “yang dikerjakan” atau “yang dilakukan”. (Bakhtiar, 2004).
Teori pragmatis dikemukan oleh filsuf pragmatis dari Amerika,
Charles S. Pierce (1839-1914) dan selanjutnya dikembangkan oleh
Willian James (1842-1910), George Herbert Mead (1863-1931) dan
C.I. Lewis (Jujun S. Suriasumantri:57). Charles S. Pierce mengatakan
bahwa untuk mengetahui atau menetapkan suatu konsep atau alur
pemikiran, maka harus meneliti benar salahnya konsep tersebut dengan
memeriksa konsekuensinya dalam kehidupan dan pengalaman
sewajarnya (Ensiklopedia Indonesia:2760).
Teori pragmatis menyatakan bahwa kebenaran itu relatif, kebenaran
juga berkembang. Kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu Truth dan
rith. Truth adalah kebenaran dalam cara berpikir sedangkan right adalah
kebenaran yang menjadikan berhasil dalam cara bertindak. Ide doktrin
dan teori hanya sebagai alat untuk membantu manusia untuk
menghadapi situasi bukan jawaban terhadap permasalahan, tidak ada
suatu motif untuk mengatakan bahwa sesuatu itu benar, kecuali untuk
memberi petunjuk bagi tindakan yang praktis (Titus, Smith, Nolan:344)
Kebenaran bagi kaum pragmatis sama artinya dengan kegunaan.
Ide, konsep, pengetahuan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang
berguna. Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan
seseorang melakukan sesuatu tepat guna. Berhasil dan berguna adalah
kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide itu benar atau tidak.
Teori pragmatis yang menyatakan kebenaran adalah suatu yang berguna
atau bermanfaat bagi manusia di dunia ini atau paham teori utilitiarisme
yang benar itu yang memberikan faedah atau keuntungan bagi manusia.
d. Teori Kebenaran Non-Deskripsi
Teori kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat
fungsionalisme. Pernyataan dianggap benar tergantung peran dan
fungsi pernyataan itu sendiri. Pengetahuan akan memiliki nilai
kebenaran sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang amat praktis
dalam kehidupan sehari-hari. Pernyatan dianggap mempunyai peran
khusus dan harus menggambarkan kedudukan pernyataan tersebut
dalam hubungannya dengan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
(Surjani Wonoraharjo, 2010:144).
Teori kebenaran non-deskripsi ini dapat digunakan sebagai
pengendali aliran pragtisme.
e. Teori Kebenaran Performatif
Tokoh-tokoh dalam kebenaran performatif adalah Ramsey, Jhon
Austin, dan Peter Strawson. Tokoh-tokoh ini menolak proposisi benar
yang menyatakan sesuatu dianggap benar, bagi para tokoh pernyataan
adalah benar jika pernyataan tersebut dapat menciptakan realitas.
Pernyataan bisa bersifat negatif jika pernyataan tidak sesuai dengan
kenyataan dan tidak berusaha mencapai kenyataan (Surjani
Wonorahardjo, 2010: 145)
Teori kebenaran performatif erat kaitannya dengan teori kebenaran
kesesuaian karena apa yang dinyatakan sebagai benar pada momen
tersebut menjadi sesuai dengan kenyataan, tindakan yang mengubah
keadaan ini dipandang sebagai kenyataan baru yang memang harus
diketahui benar adanya, namun belum tentu mempunyai makna yang
positif.

3. Sifat-Sifat Kebenaran Ilmiah


a. Struktur yang rasional-logis
Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau
rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah
bersifat rasional maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat
menggunakan akal budinya secara baik). Dapat memahami kebenaran
ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai
kebenaran universal.
Sifat rasional (rationality) harus dibedakan dengan sifat masuk
akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran
ilmiah sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu
diluar lingkup pengetahuan. Contohnya: tindakan marah dan menangis
atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan
tersebut mungkin tidak rasional.
b. Isi Empiris
Kebenaran ilmiah perlu diuji kenyataannya yang ada. Bahkan
sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah. Berkaitan dengan
kenyataan empiris di alam ini. Spekulasi tetap ada namun sampai
tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak
karena sekalipun sesuatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu
dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
c. Isi Pragmatis
Sifat ini berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran
sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya jika suatu pernyataan
“benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris maka pernyataan
tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia, berguna berarti
dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan
dalam hidupnya. pernyataan itu juga merupakan kesepakatan bersama
untuk menggunakan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari.
4. Kebenaran Ilmiah dari Sudut Pandang Subjektifitas dan Objektifitas
5. Cara Mencari Kebenaran Ilmiah
6. Persisi dan Akurasi
7. Masalah Kekeliruan
Kekeliruan menurut Surjani Wonorahardjo (2010: 151) adalah
penerimaan terhadap sesuatu hal yang pada kenyataan salah atau
menyangkal sesuatu hal yang pada kenyataan benar. Kekeliruan pada
dasarnya berkaitan dengan aspek kognitif dari subjek yang mengetahui.
Kekeliruan menurut Surjani Wonorahardjo (2010: 152-154) dapat
disebabkan oleh berbagai hal yaitu sebagai berikut:
a. Sikap Ilmuan
1) Sikap terburu-buru dalam penelitian akan berdampak terhadap
kurang teliti dalam mendeteksi hasil penelitian yang ada akan
berakibat pada kesalahan penarikan kesimpulan
2) Bias pendapat yang sudah muncul di pikiran peneliti sehingga
hasil yang didapat dianggap sudah sesuai dengan yang diharapkan
oleh peneliti sebelum melihat keseluruhan hasil penelitian.
b. Kegagalan menjalankan sarana pengembang pengetahuan
Kegagalan dalam menjalankan saran pengembang pengetahuan
yang dapat terjadi karena pemahaman terhadap konsep dasar sains
yang ada masih belum baik sehingga dapat memunculkan kekeliruan
dalam penarikan kesimpulan.

Kekeliruan dapat muncul pula karena disebabkan oleh berbagai hal


berikut;

a. Kesalahan penggunaan Bahasa


Penggunaan bahasa yang salah yaitu pemilihan kata yang kurang
tepat, penggunaan kata yang bemakna ganda dan kesalahan
penempatan kata dalam pernyataan ilmiah dapat menimbulkan
pemahaman penerima memiliki pemahaman yang keliru. Pengunaan
Bahasa yang tepat diperlukan dalam penataan urutan logika atau
urutan empiris, urutan hasil pengamatan, maupun urutan laporan.
b. Penggunaan logika
Logika adalah ilmu matematika yang dapat diaplikasikan ke
berbagai ilmu lain terutama dalam berhipotesis dan menarik
kesimpulan. Kesimpulan yang diambil mengenai hasil penelitian tidak
boleh didasarkan pada kehendak yang dimiliki peneliti, tetapi harus
sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.
c. Pemilihan metodologi
Kekeliruan dalam pemillihan metodologi dapat mengakibatkan
kesalahan dalam pengambilan tindakan dan hasil yang tidak sesuai
dengan yang diharapkan.
d. Kompleksnya hasil yang diamati
Jika obyek yang diamati menghasilkan banyak kesimpulan, maka
dapat dimungkinkan ada salah satu dari kesimpulan yang salah.
e. Relevansi yang diabaikan
Jika metode-metode lama tidak lagi digunakan sebagai
pembanding metode yang baru, maka belum tentu metode baru
tersebut menghasilkan suatu kesimpulan yang benar.

8. Masalah Kepastian
Kebenaran menurut Surjani Wonorahardjo (2010: 154) terdiri dari dua
golongan yang berbeda menurut sifat dan cara memperoleh yaitu melalui
kebenaran kaum rasionalis dan kebenaran kaum empiris. Kaum rasionalis
yang kebenarannya bekerja melalui ide cenderung dapat mempertahankan
kebenarannya lebih lama karena mendasarkan kepada logika dan
rasionalitas. Kebenaran rasionalis pada umumnya memerlukan waktu
yang lebih lama untuk diperbaiki.
Kebenaran kaum empiris didasarkan pada pengalaman yang dilihat
dan kemudian dianalisis. Kaum empiris memiliki kesadaran bahwasanya
Sains tidak akan mampu memberikan gambaran yang sangat jelas dan
akurat mengenai alam raya.
Kebenaran sains dapat diperoleh melalui metode induksi dan deduksi.
Induksi berarti menerapkan metode yang memungkinkan sains selalu
berkembang, sementara deduksi menerapkan pembatasan dalam
perkembangan sains.
.

9. Penggunaan Statistika
Statistika menurut Surjani Wonorahardjo (2010: 157) adalah
kumpulan data numerik yang dianalisis. Analisis data bertujuan unuk
menghasilkan informasi baru yang akan membantu penelitian selanjutnya.
Analisis data pula bermanfaat untuk memaknai hasil penelitian.
Penggunaan Metoda Statistika dalam kebenaran ilmiah dalam beberapa
tipe eksperimen memerlukan pengolahan statistika. Penggunaan metoda
statistika dapat pula digunakan untuk menyajikan data pada rangkaian data
analitik untuk menunjukan perkiraan atas ketidakpastian pengukuran.

B. Pembahasan

a. Pengertian Kebenaran Ilmiah


Kebenaran adalah peresuaian antara pengetahuan dan objeknya.
Kebenaran adalah segala sesuatu yang selaras, serasi dan sejajar antara
apa yang diyakini dalam pikiran lalu sesuai dengan apa yang terjadi
dan menjadi kenyataan. Kebenaran adalah lawan dari kekeliruan.
Ilmiah adalah segala sesuatu yang bersifat keilmuan dan didasarkan
pada ilmu pengetahuan, segala sesuatu yang dibuat berdasarkan kaidah
ilmu pengetahuan dapat disebut bersifat ilmiah, seperti metode ilmiah,
penelitian ilmiah dan karya tulis ilmiah.
Kebenaran dalam pembahasan ini makna dari kebenaran dibatasi
pada ke khususan makna yaitu kebenaran keilmuan (ilmiah),
kebenaran ini bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya
merupakan pendekatan. Kebenaran ilmiah merupakan pernyataan dan
makna sejalur atau sesuai dengan akal. Manusia bias saja membuat
pernyataan dengan menggunakan susunan kalimat yang tepat , namun
belum tentu hal itu bermakna. Kebenaran ilmiah diperoleh secara
mendalam berdasarkan proses penelitian dan penalaran logika ilmiah.

b. Teori-Teori Kebenaran Ilmiah


1) Teori Kebenaran Korespondensi
Teori kebenaran korespodensi atau disebut teori kebenaran
kesesuaian, pernyataan dianggap benar jika apa yang dinyatakan
tersebut berhubungan dan punya keterkaitan dengan sesuatu yang
nyata yang diungkap kedalam pernyataan tersebut, dukungan fakta
sangat menentukan di dalam teori kebenaran korespondensi yang
menekankan pada bukti nyatan. Teori kebenaran korespondensi
tidak akan menganggap benar jika pernyataan yang di ungkapkan
tidak tampak dan tidak ada faktanya.
Contoh, jika dikatakan pada keadaan standar air akan mendidih
pada suhu 100℃ pernyataan ini benar jika sesuai dengan
kenyataan, yaitu pada suhu 100℃ air akan mendidih, artinya
peryataan tersebut sesuai dengan faktanya. Contoh selanjutnya jika
ada yang mengatakan air akan berubah fasa menjadi padat jika
didinginkan terus sampai suhu 0℃, jika dilakukan percobaan
memanaskan air atau mendinginkan air dan dipantau dengan
termoneter untuk memastikan suhunya, maka pada suhu 100℃ air
akan mendidih dan pada suhu 0℃ air akan memadat. Percobaan
ini tidak ada yang bisa membantah karena percobaan dan ini
mempunyai kesesuaian antara pernyataan dan fakta.
Keadaan ini sedikit berbeda misalkan ada beberapa orang
mengatakan makanan ini enak atau artis X itu cantik sekali. Orang
tidak bisa mengetahui makanan yang dinyatakan enak ini sesuai
dengan kenyataan keenakan makanan dan tidak bisa mengetahui
bahwa artis X yang menurut beberapa orang itu cantik, karena
kriteria keenakan makanan dan kriteria kecantikan setiap orang
berbeda-beda. Contoh pertama dan contoh kedua membuat muncul
pertanyaan dari beberapa orang yaitu apakah ada dua macam
kebenaran?
Kebenaran kesesuaian berkaitan dengan objek bukan subjek,
sedangkan rasa makanan sangat subjektif kecuali jika kita tentukan
parameter apa yang dipegang, misalkan rasa pedas, rasa asin, rasa
manis atau keseimbangan masing-masing rasa tersebut yang
sebelumnya masih sangat subjektif. Konsep kebenaran ini adalah
konsep tertua dan berangkat dari pengetahuan yang dapat
dikatakan benar bila mempunyai kesesuaian dengan kenyataan
yang diketahui tersebut.
Kebenaran tergantung pada pihak pihak subjek, dalam arti
kemampuan rasio untuk mengidekan objek dan kemampuan indera
dalam memahami objek, semuanya menyangkut kemampuan
penginderaan manusia yang sangat terbatas sehingga kebenaran
yang ditawarkan oleh teori korespondensi masih memiliki
kelemahan.
2) Teori Kebenaran Koherensi
Teori kebenaran koherensi sering disebut sebahai teori saling
berhubungan, teori ini menganggap bahwa sesuatu dianggap benar
apabila pernyataan itu koheren atau konsisten dengan pernyataan-
pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Proposisi cenderung
benar jika proposisi tersbut dalam keadaan saling berhubungan
dengan proposisi-proposisi lainnya yang dianggap benar, misalkan
jika manusia menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati”
adalah yang benar maka pernyataan bahwa “si Polan adalah
seorang manusia dan si Polan pasti akan mati” adalah benar, sebab
pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan pertama.
Contoh lainnya mengacu kepada gejala alam dan pengalaman
sebelumnya, direntang bulan Oktober sampai Maret di wilayah
Indonesia bertiup angina barat laut. Angin yang melintasi kawasan
Samudera Hindia dan Laut Cina selatan ini membawa kandungan
uap air yang tinggi yang membentuk gumpalan awan tebal
(comulusnimbus). Berdasarkan teori, gumpalan awan seperti itu
akan menurunkan hujan, dengan demikian dinyatakan bahwa pada
rentang bulan-bulan tersebut terjadi “musim hujan”. Kesimpulan
ini dinilai benar berdasarkan adanya hubungan antara berbagai
pernyataan yang ada sebelumnya termasuk teori-teori.
Pernyataan bahwa direntang bulan Oktober sampai bulan
Maret adalah musim hujan dianggap benar, padahal pada tahun
2010 terjadi musim panas yang berkepanjangan. Fakta bahwa
musim hujan tidak terjadi, meskipun demikian menurut teori
koherensi pernyataan bahwa rentang bulan Oktober-Maret musim
hujan adalah benar, sebab secara teoritis dan juga berdasarkan apa
yang pernah terjadi sebelumnya direntang bulan-bulan tersebut
memang terjadi hujan.
Proposisi cenderung benar jika koheren dengan proposisi benar
yang lain atau jika arti yang dikandung dari pernyataan itu koheren
dengan pengalaman. Kebenaran tergantung pada hubungan antara
sebuah pernyataan dengan pernyataan sebelumnya yang telah
diakui sebagai kebenaran. Teori ini masih memiliki kelemahan
karena belum menunjukkan kesesuaian dengan fakta, walaupun
pernyataan itu logis dan sistematis akan kehilangan artinya jika
tidak ada hubungannya dengan fakta, oleh karena itu, teori
koherensi hampir tidak memecahkan persoalan sehari-hari.
3) Teori Kebenaran Pragmatisme
Teori kebenaran pragmatis adalah teori yang pernyataannya
mempunyai kegunaan dan manfaat bagi manusia, kebenaran suatu
ucapan dan teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat.
Pernyataan dianggap benar jika pernyataan atau konsekuensi dari
pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan
mansuia.
Teori ini berpandangan bahwa sesuatu dianggap benar apabila
berguna. Artinya, kebenaran suatu pernyataan bersifat funsional
dalam kehidupan praktis. Ajaran pragtisme memang memiliki
banyak variasi tetapi yang menyamakan diantara variasi tersebut
adalah bahwa kebenaran diletakkan dalam salah satu
konsenkuensi.
4) Teori Kebenaran Non-Deskripsi
Teori kebenaran merupakan pernyataan yang akan mempunyai
nilai benar yang sangat tergantung pada peran dan fungsi
pernyataan itu, pengetahuan dalam teori kebenaran non-deskripsi
akan memiliki nilai benar sejauh pernyataan itu memiliki fungsi
yang sangat praktis dalam kehidupan sehari-hari, pernyataan itu
juga merupakan kesepakatan bersama untuk menggunakan secara
praktis dalam kehidupan sehari-hari.
5) Teori Kebenaran Performatif
Kebenaran performatif yaitu sesuatu dikatakan benar apabila
memang dapat diaktualkan dalam tindakan, apa bila sesuatu yang
tidak mungkin dapat dikerjakan, maka teori performatif
menyatakan hal yang tidak benar (salah). Misalnya: Menyediakan
komputer untuk proses pembelajaran di Daerah yang tidak tersedia
tenaga listrik. Hal ini tidak benar (salah) karena komputer tersebut
tidak dapat dioperasikan.
Tokoh teori kebenaran performatif menolak proposisi benar
yang menyatakan sesuatu yang dianggap benar, pernyataan
dianggap benar jika pernyataan tersebut dapat menciptakan
realitas. Contohnya yang tampak jelas adalah kenyataan yang
terjadi saat pelantikan atau pembukaan perusahaan, dimulainya
operasi tertentu, penerimaan hadiah nibel, dan kegiatan-kegiatan
sejenisnya. Pengangkatan ketua kelompok penelitian oleh direktur
perusahaan obat-obatan kimia dalam proyek penting, misalnya:
“dengan ini saya melantik saudara X sebagai ketua baru proyek
pembauatan senyawa X”. realitas baru tercipta pada saat itu, yaitu
Bapak X yang tadinya anggota tim peneliti sekarang menjadi ketua
kelompok penelitian tersebut. Pernyataan ini benar karena
menciptakan realitas.
c. Sifat-Sifat Kebenaran Ilmiah
d. Kebenaran Ilmiah dari Sudut Pandang Subjektifitas dan
Objektifitas
e. Cara Mencari Kebenaran
f. Persisi dan Akurasi
g. Masalah Kekeliruan
Karya ilmiah kadang mengalami sebuah masalah kekeliruan.
Masalah kekeliruan tersebut biasanya terdapat pada penggunaan
bahasa, penggunaan logika, bahkan kekeliruan ketika melakukan suatu
percobaan. Suatu kekeliruan tidak dapat dikatakan sebagai suatu
kesalahan. Kekeliruan tidak selalu salah, namun apabila suatu
kesalahan sudah pasti keliru. Kekeliruan dapat muncul ketika
melakukan suatu penelitian. Kadang seorang ilmuwan tergesa-gesa
dalam meneliti, sehingga tidak semua fakta dapat terdeteksi dengan
baik yang mengakibatkan kesimpulan yang dibuat mengalami
kekeliruan.
Kekeliruan biasanya muncul ketika mengalami kegagalan dalam
menjalankan sarana pengembangan pengetahuan. Tidak hanya itu,
kekeliruan dapat muncul dikarenakan hal-hal berikut ini:
1) kekeliruan dalam penggunaan bahasa. Bahasa yang digunakan
memiliki arti ganda sehingga tidak mudah untuk dimengerti karena
memunculkan pemahaman yang berbeda mengenai makna yang
ingin disampaikan. Kesalahan penempatan kata juga dapat
memunculkan kebingungan terhadap pernyataan ilmiah. Kesalahan
penempatan dapat dikatakan sebagai kekeliruan.
2) Kekeliruan dalam penggunaan logika. Kesimpulan dari suatu teori
yang tidak sesuai dengan hipotesis yang telah dibuat, maka
kesimpulan dari teori tersebut tidak digunakan dan menyesuaikan
dengan hipotesis yang ada sehingga menimbulkan kesalahan yang
tidak kecil.
3) kekeliruan karena kompleksnya hasil yang diamati. Masalah yang
timbul biasanya dikarenakan terlalu rumitnya hasil pengamatan.
Akibatnya peneliti tidak dapat membedakan mana yang penting
dan mana yang tidak penting sehingga seorang peneliti akan
menyimpulkan bahwa keduanya adalah penting.
4) Kekeliruan karena pemilihan metodologi. kekeliruan ini dapat
menyebabkan kesalahan pada hasil pengamatan sehingga
kesimpulan yang didapat juga salah.
5) kekeliruan karena relevansi yang diabaikan. kekeliruan ini
diakibatkan karena hasil penelitian tidak sesuai dengan apa yang
berlaku saat ini baik dari segi metode, teori, maupun objek yang
diteliti.
Penemuan karya ilmiah selain dapat mengalami masalah
kekeliruan serta dapat memunculkan kebenaran ilmiah baru.
Kebenaran ilimiah muncul dalam dua golongan kebenaran berdasarkan
sifat dan cara memperoleh yaitu kaum rasionalis dan kebenaran kaum
empiris. Kaum rasionalis hanya bekerja pada ide,biasanya dapat
mempertahankan kebenaranya,dengan lebih lama karena karena
sesuatu yang sudah logis dan rasionil.biasanya tidak mudah dibantah
hanya dengan metode pemikiran yang baru kebenaran rasionil dapat
diperbaiki, namun tidak dengan cepat.metode pemikiran juga
berkembang dari waktu ke waktu dengan bantuan ilmu
matematika.lahirnya cabang matematika kalkulus misalnya
merupakan langkah positif yang sangat mempengaruhi gaya berfikir
abad ini dengan kalkulus banyak perhitungan menjadi mudah.dan
banyak kebenaran baru bisa diterima.karna bisa dirumuskan dan
dibahasakan dalam bentuk angka dan rumus.
Kaum empiris memiliki kebenaran yang cenderung dinamis karena
kebenaranya berdasarkan kepada pengalaman dan dianalisis. Kaum
empiris sadar bahwa sedalam apapun sains tidak akan bisa
menggambarkan ,yaitu gambaran yang jelas dan akurat mengenai alam
raya,baik alam statis atau dinamis. Ketidakmampuan untuk
menjelaskan alam raya secara jelas dan akurat mendorong para kaum
empiris untuk terus berusaha menemukan sesuuatu hal yang belum
diketahui dan baru disadari. Usaha kaum empiris didasarkan untuk
kemajuan dunia sains walaupun sains masih jauh dari kepastian.
Kebenaran kaum rasionalis dan kebenaran kaum empiris yang ada
mengalami prinsip Falibilisme moderat. Prinsip Falibilisme moderat
adalah kebenaran yang harus bisa dipersalahkan yang bertujuan untuk
disempurnakan. Prinsip falibilisme moderat menekankan kepada bersikap
kritis terhadap kesalahan pemikiran yang ada. Kesalahan pemikiran yang
ada kemudian diperbaiki dan disempurnakan terus menerus.
Sains baik secara teoritis dan empiris akan terus mengalami
perkembangan karena selalu ditemukan berbagai masalah untuk diteliti
dan di eksplorasi. Kebenaran ilmiah yang dimikili sains memiliki sifat
dapt diperbaiki. Kepastian Sains didalamnya juga terdapat sebagian
unsur ketidakpastian karena berpegang pada prinsip falibisme moderat.
Perkembangan sains baik teoritis maupun empiris didalam pencarian
akan kebenaran ilmiah di tingkat detail tidak mungkin dititemukan karena
dari waktu ke waktu akan adanemukan keanehan untuk diteliti dan
dikoreksi lebih jauh. Kepastian dalam sains sifat dapat diperbaiki
dikarenakan berbagai keanehan yang muncul untuk diteliti dan dikoreksi.
Sains dengan ketidakpastian bukan berarti tidak memiliki kepastian
didalam ilmu tersebut akan tetapi akan senantiasa mengalami perbaikan
dari waktu ke waktu.
Kebenaran yang didapatkan dari metode induksi memungkinkan sains
berkembang secara dinamis sementara kebenran yang didapatkan
berdasarkan metode deduksi cenderung dapat membatasi perkembangan
sains. Metode deduksi didasarkan pada sebuah logika sehingga akan sulit
untuk dipertanyakan. Metode induksi memiliki kepastian yang relatif
karena didasarkan pada pengalaman yang dialami dan dianalisis
Karya ilmiiah sains dalam proses untuk menguji kekeliruan dan
kesimpulan mengenai kebenaran yang ada menggunakan statistik.
Penggunaan statistic diperlukan pada beberapa tipe eksperimen untuk
menguatkan pengolahan statistika. Staitistik digunakan untuk dapat
memnetukan sebuah langkah dalam perkembangan penelitian selanjutnya
dan untuk menilai data yang dikumpulkan memilki makna atau tidak. Data
yang memiliki makna kemudian dapat mengarah kepada sebuah
kesimulan yang ingin dicapai dalam sebuah eksperimen.
Sains yang dalam ruang kajiannya termasuk ke dalam ruang
kajian mikro (tingkat molekul, atom, inti atom) akan memiliki
kecenderungan vairabel kontrol yang dapat dikontrol dengan baik dan
memberikan hasil eksperimen (variable terikat) sesuai dengan
perlakuan yang diberikan (variable bebas). Kajian sains dalam wilayah
mikro (kimia dan fisika) pada umumnya tidak memerlukan metode
statistika dikarenakan variable yang cukup terkendali dan tidak
memerlukan statistik dalam mengkaji pemikiran yang ada.
Sains yang dalam ruang kajiannya termasuk ke dalam ruang
kajian makro (biolgi) akan memerlukan aktivitas observasi secara
langsung serta dalam jangka waktu yang lama sehingga memerlukan
penggunaan statistic. Pada aktivitas yang memerlukan observasi
langsung mempunyai begitu banyak variable yang memiliki
kemungkinan dapat berpengaruh dalam hasil eksperimen. Variabel
yang begitu banyak dalam mempengaruhi suatu eksperimen
memerlukan metode banyak berpengaruh dalam suatu eksperimen
sehingga dalam penelitian memerlukan pengguan metode statisik
yang tepat. Penggunaan meted statistik yang tepat akan berpengaruh
dalam penarikan kesimpulan dan kebenaran informasi.
Penggunaaan metode statistik juga bertujuan unuk
menampilkan data untuk memperkirakan ketidakpastian suatu
pengukuran. Ketidakpastin pengukuran dapat berasal dari instrument
atau metode eksperimen yang bias, sifat sampel sampel yang dapat
diduga dan diantisipasi serta yang tidak diketahui. Penyajian data yang
menampilkan standar bertujuan untuk menunjukkan keakuratan data
dan menghindari kemungkinan kesalahan.