Anda di halaman 1dari 2

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT DI INDONESIA

1. Pengertian Filsafat

Filsafat atau filosophy berasal dari bahasa Yunani, philosophia yang diturunkan dari kata kerja
Filosofien yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata Filsafat dari kata majemuk, yang berasal
dari Philos = Sahabat; Sophia = pengetahuan bijaksana. Philosophia = menurut logat arti kata
ialah cinta pada pengetahuan bijaksana, karena mengusahakannya. Dan orang yang pertama kali
menggunakan istilah ini adalah Pythagoras (572-497 SM).

Filsafat adalah kajian masalah umum dan mendasar tentang persoalan seperti eksistensi,
pengetahuan, nilai, akal, pikiran, dan bahasa. Istilah ini kemungkinan pertama kali diungkapkan
oleh Pythagoras.

2. Obyek dan Ciri Pikiran Kefilsafatan

Menurut Endang Saifuddin Anshari, MA, obyek filsafat dibagi menjadi dua macam, yaitu
a. Obyek Materia Filsafat, ialah segala sesuatu yang menjadi masalah dalam filsafat, yang
dapat dikelompokkan dalam 3 masalah pokok, yaitu :
(1) Hakekat Tuhan
(2) Hakekat Alam
(3) Hakekat Manusia
b. Obyek Norma Filsafat, ialah usaha mencari keterangan secara radikal tentang obyek
material filsafat

Beerling menegaskan bahwa “filsafat harus dianggap sebagai perbuatan yang paling radikal
dalam menggunakan kesanggupan berfikir. Filosuf adalah ahli fikir yang radikal”. Hal ini
mengandung arti bahwa berfikir merupakan ciri khas dalam berfilsafat. Namun orang yang
berfikir bukan berarti seorang filsafat.

3. Tujuan, Fungsi, dan Guna Filsafat

Filsafat selalu menjadi pokok kajian yang menarik selain diterapkan dalam kehidupan suatu
bangsa. Menurut Dr. Oemar A. Hoesin, tujuan Filsafat ialah memberikan Hikmah.

Fungsi filsafat menurut Dra. Umi Nastiti, ada 2, yaitu :


(a) Fungsi Teoritis, artinya filsafat sebagai dasar/sumber dari ilmu lain, berfungsi pemberi asas-
asas yang murni kepada ilmu yang lain, pemberi metode/cara pembuat definisi dan cara
pembuktian, sebagai petunjuk untuk berfikir ilmiah.
(b) Fungsi Praktis, artinya filsafat sebagai pendorong manusia untuk menjadi pemikir yang kritis,
jelas, tepat untuk menemukan tujuan hidup yang menjadi pengarah tingkah lakunya.

Menurut Sunoto, filsafat mempunyai kegunaan yang dapat disederhanakan sebagai berikut:
(a) Melatih berfikir kritis, runtut dan menyusun hasil pemikiran secara sistematis, melatih diri
melakukan penelitian sesuatu hal secara mendalam dan komperhensif.
(b) Menambah pandangan dan cakrawala yang lebih luas, serta menjadikan diri bersifat dinamik,
terbuka dalam menghadapi berbagai problem.
(c) Membuat diri menjadi manusia yang penuh toleransi dan tenggang rasa.
(d) Menyadari kedudukan manusia sebagai pribadi maupun dalam hubungan dengan orang lain,
alam dan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga menjadikan manusia lebih taat kepada Tuhan
Yang Maha Esa
4. Pengetian Pancasila sebagai Sistem Filsafat

Menurut R. Soejadi, SH dan Dr. Koento Wibisono, menyatakan bahwa filsafat Pancasila
adalah suatu aliran filsafat yang di dalamnya mencakup hubungan manusia baik dengan alam
maupun hubungan dengan manusia sebagai pribadi dan masyarakat, bahkan hubungan dengan
Tuhan.
Bisa kita ambil kesimpulan bahwa Pancasila merupakan salah satu aliran filsafat yang
dipakai sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia, karena :
(a) Pancasia merupakan hasil renungan secara individual maupun dengan mendasarkan diri
diri kepada kenyataan yang ada pada bangsa Indonesia. Perenungan Individual
dilakukan Mr. Muh. Yamin, Ir. Soekarno dan Prof. Mr. Soepomo, sedangkan secara
kelompok dilakukan oleh panitia 9, anggota BPUPKI dan PPKI.
(b) Rumusan sila-sila Pancasila merupakan rumusan abstrak yang disusun secara sistematis
yang dipakai sebagai filsafat Negara.
(c) Rumusan Keadilan Sosial merupakan konsep universal yang berlaku pada setiap bangsa
di dunia
(d) Rumusan Pancasila dipergunakan bagi kepentingan manusia (khususnya manusia
Indonesia) dan secara mendalam menempatkan dan mengakui eksistensi Tuhan yang
Maha Esa dan manusia.

5. Hakekat/Substansi Filsafat Pancasila

Prof. Dr. Notonagoro dalam bukunya berjudul Pancasila Secara Ilmiah Populer,
mempergunakan istilah Hakekat, artinya sejumlah unsur-unsur yang bersama-sama
dalam kesatuan menyusun halnya. Unsur-unsur yang mewujudkan hakekat yang abstrak
di dalam bolehnya tetap tidak berubah itu adalah dalam arti juga tidak boleh tidak harus
ada di dalamnya.

Hakekat yang abstrak ini mempunyai dua sifat istimewa, yaitu tetap tidak berubah dan
keharusan yang mutlak bagi halnya yang bersangutan, di samping karena abstraknya
umum dan universal.