Anda di halaman 1dari 14

Laporan Praktikum II Ilmu Tanaman Dan Makanan Ternak

UJI SKARIFIKASI BENIH SAGA POHON

OLEH

NAMA : APRILIANA DEWI KARTINI


NIM : L1A117099
KELAS :C
KELOMPOK : III (TIGA)
AST PEMBIMBING : LA DIMAN
ANGGOTA : 1. SAMSIDA
2. ARIS KUSNANDAR
3. ASYRAFUL RIJAL
4. YUSRIL MAHENRA
5. PREDI MASRUN

JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
HALAMAN KONSULTASI

No Hari/Tgl Materi Konsultasi Paraf


Kendari, Desember 2016
Menyetujui,
Asisten Praktikum,

Indra Sakti Okto S.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ilmu tananman makanan ternak adalah suatu ilmu yang mempelajari

segala aspek tentang sifat tanaman makanan ternak yang erat hubungannya

dengan keadaan tanah, iklim dan tujuan peternakan. Saga pohon (Adenanthera

pavonina) merupakan tanaman serbaguna, semua bagian tanaman bermanfaat

mulai dari biji, kayu, kulit batang dan daunnya. Saga pohon mampu memproduksi

biji kaya protein serta tidak memerlukan lahan khusus untuk penanaman karena

bisa tumbuh di lahan kritis, tidak perlu dipupuk atau perawatan intensif. Selain

itu, hama dan gulmanya minim sehingga tidak memerlukan pestisida, jadi bersifat

ramah lingkungan karena dapat ditanam bersama tumbuhan lainnya. Kandungan

protein yang terdapat pada biji saga pohon tersebut juga lebih besar bila

dibandingkan dengan kedelai dan beberapa tanaman komersil lainnya.

Dormansi suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun

kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan sedangkan

skarifikasi merupakan salah satu proses yang dipercaya dapat mematahkan

dormansi pada biji keras karena dapat meningkatkan imbibisi benih. Skarifikasi

dilakukan dengan cara melukai benih sehingga terdapat celah tempat keluar

masuknya air dan O₂

Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar

biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Biji menyerap air dari lingkungan

sekelilingnya, baik dari tanah maupun dari udara (dalam bentuk uap air ataupun

embun).Germinasi atau perkecambahan merupakan proses metabolisme biji

hingga dapat mengahsasilkan pertumbuhan dari komponen kecambah.

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua aktifitas kehidupan yang tidak


dapat dipisahkan, karena prosesnya berjalan bersamaan. Pertumbuhan diartikan

sebagai suatu proses pertambahan ukuran atau volume serta jumlah sel secara

irreversible, atau tidak dapat kembali ke bentuk semula. Dan perkembangan

adalah peristiwa perubahan biologis menuju kedewasaan tidak dapat dinyatakan

dengan ukuran tetapi dengan perubahan bentuk tubuh (metamorfosis) dan tingkat

kedewasaan. Berdasarkan uraian diatas maka perlu diadakan praktikum uji

skarifikasi benih saga pohon.

1.2. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum kualitas benih uji skarifikasai

benih saga pohon adalah:

a. Untuk mengetahui beberapa model uji skarifikasi.

b. Untuk mengetahui persentase pertumbuhannya.

1.3. Manfaat

Manfaat yang ingin dicapai pada praktikum kualitas benih uji skarifikasi

benih saga pohon adalah:

a. Dapat mengetahui beberapa model uji skarifikasi.

b. Dapat mengetahui persentase pertumbuhannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Benih Saga Pohon


Saga pohon (Adenanthera pavonina) merupakan tanaman serbaguna,

semua bagiantanaman bermanfaat mulai dari biji, kayu, kulit batang dan daunnya.

Saga pohon mampu memproduksi biji kaya protein serta tidak memerlukan lahan

khusus untuk penanaman karena bisa tumbuh di lahan kritis, tidak perlu dipupuk

atau perawatan intensif. Selain itu, hama dan gulmanya minim sehingga tidak

memerlukan pestisida, jadi bersifat ramah lingkungan karena dapat ditanam

bersama tumbuhan lainnya. Kandungan protein yang terdapat pada biji saga

pohon tersebut juga lebih besar bila dibandingkan dengan kedelai dan beberapa

tanaman komersil lainnya (Eliya, 2013)

Benih merupakan sarana produksi tanaman yang penting dalam proses

produksi tanaman dan kualitas benih yang dipakai dalam usaha produksi tanaman

akan menentukan produktivitas dan kualitas hasil tanaman. Sejalan dengan hal

tersebut, maka proses produksi dan penanganan benih perlu ditangani secara

serius agar diperoleh benih yang memenuhi kriteria mutu yang telah ditetapkan.

Proses produksi benih berkualitas merupakan proses yang panjang, sejak

pemilihan bahan tanam sebagai benih sumber sampai dengan benih disimpan.

Sejak mencapai fase masak fisiologis sampai ditanam kembali, benih berada pada

periode penyimpanan. Selama periode penyimpanan ini benih akan mengalami

kemunduran (deterioration) yang menyebabkan penurunan kualitas benih (Wafit,

2010).

2.2. Dormansi Benih

Benih saga termasuk benih yang cukup lama dan sulit berkecambah.

Tanaman saga memiliki persentase benih dorman cukup tinggi. Dormansi benih
terjadi karena sifat impermeabel kulit benih. Impermeabilitas benih saga

disebabkan oleh kulit benih yang keras dan dilapisi oleh lapisan lilin sehingga

kulit benih kedap terhadap air dan gas. Kondisi seperti ini sangat mengganggu

dalam proses penyediaan bibit secara massal untuk penanaman dan juga dalam

kegiatan pengujian benih. Karena itu, diperlukan perlakuan terhadap benih

sebelum pengecambahan yang bertujuan untuk mematahkan dormansi benih

tersebut (Antoni, 2016)

Dormansi dapat dipatahkan dengan perlakuan pendahuluan untuk

mengaktifkan kembali benihyang dorman. Ada berbagai cara perlakuan

pendahuluan yang dapat diklasifikasikan yaitu pengurangan ketebalan kulit atau

skarifikasi, perendaman dalam air, perlakuan dengan zat kimia, penyimpanan

benih dalam kondisi lembab dengan suhu dingin dan hangat atau disebut

stratifikasi dan berbagai perlakuan lain (Naning, 2015)

2.3. Uji Skarifikasi

Skarifikasi merupakan salah satu proses yang dipercaya dapat

mematahkan dormansi pada biji keras karena dapat meningkatkan imbibisi benih.

Skarifikasi dilakukan dengan cara melukai benih sehingga terdapat celah tempat

keluar masuknya air dan O₂. Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa, dengan

skarifikasi kulit biji maka ketebalan dan kerasnya kulit biji dapat dikurangi.

Peresapan larutan zat perangsang pertumbuhan embrio pada benih yang

diskarifikasi menjadi lebih mudah, sehingga daya pertumbuhan biji meningkat.

Teknik skarifikasi kulit biji yang keras telah dilaksanakan untuk mempercepat

perkecambahan biji dalam skala komersial (Djati, 2008).


Metode skarifikasi pada kulit benih yaitu dengan cara penusukan,

penggoresan, pemecahan, atau pengikiran dengan bantuan pisau, jarum, kikir,

kertas gosok, atau lainnya yang paling efektif untuk mengatasi dormansi fisik.

Selain itu dapat juga dengan cara perendaman dengan air panas (Novianti, 2012).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum uji skarifikasi benih biji saga pohon dilaksanakan pada hari

Sabtu, 10 November 2018 pukul 16:00 WITA sampai selesai, bertempat di

Laboratorium Unit Teknologi dan Pabrikasi Pakan, Fakultas Peternakan,

Universitas Halu Oleo, Kendari.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum uji skarifikasi benih saga pohon

dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat dan kegunaan


No. Nama alat Kegunaan
1. Nampan Untuk meletakan benih bersama kertas tisu yang
telah diberi perlakuan
2. Amplas Untuk mengamplas benih saga pohon
3. Cutter Untuk membuka sedikit kulit benih saga pohon
4. Kertas label Memberi keterangan pada objek pengamatan
5. Kamera Sebagai alat dokumentasi
6. Alat tulis Menulis data pengamatan

Bahan yang digunakan pada praktikum uji skarifikasi benih saga pohon

dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Bahan dan kegunaan


No. Nama bahan Kegunaan
1. Biji saga pohon Sebagai objek pengamatan
2. Asam sulfat(H₂SO₄) Untuk merendam benih
3. Air panas Untuk merendam benih
4. Kapas Sebagai pengganti media tanam
5. Air Untuk membasahi kertas tisu

3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum uji skarifikasi benih saga

pohon adalah:

1. Menyiapkan alat dan bahan

2. Memilih 100 benih saga pohon


3. Membagi menjadi empat bagian yaitu berisi 25 biji saga pohon
4. Wadah pertama perlakuan cutter
5. Wadah kedua perlakuan amplas
6. Wadah ketiga perlakuan air panas
7. Wadah keempat asam sulfat (H2So4)
8. Setelah memberi perlakuan skrafikasi kemudian menyiapkan media tanam
9. Lalu menyususn rapi benih saga pohon pada nampan
10. Kemudian di tata rapi pada meja yang telah di siapkan
3.4. Diagram Alir

Menyiapkan alat dan bahan

Pemillihan biji
Pembagian biji menjadi 4 bagian

mekanik Kimiawi

Cutter Perlakuan Air panas


amplas H₂SO₄

Penyimpanan media tumbuh

Pengamatan selama 21 hari


Jumlah tumbuh Tinggi
Laporan sementara

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Uji Skarifikasi

Hasil pengamatan uji skarifikasi benih saga pohon dapat dilihat pada

Tabel 3.
Tabel 3.Uji Skarifikasi Benih
Indikator
Metode Jumlah Biji Tinggi Batang Jumlah Persentase
NO. Brkecambah ( cm ) Daun (%)
1. Cutter 10 2 0 2,5
2. Amplas 5 0 0 5
3. Air panas 5 3 0 5
4. H₂SO₄ 4 0 0 6,25

Skarifikasi merupakan salah satu proses yang dipercaya dapat

mematahkan dormansi pada biji keras karena dapat meningkatkan imbibisi benih.

Skarifikasi dilakukan dengan cara melukai benih sehingga terdapat celah tempat

keluar masuknya air dan O₂. Dengan skarifikasi kulit biji maka ketebalan dan

kerasnya kulit biji dapat dikurangi. Peresapan larutan zat perangsang pertumbuhan

embrio pada benih yang diskarifikasi menjadi lebih mudah, sehingga daya

pertumbuhan biji meningkat.

Metode skarifikasi pada kulit benih yaitu dengan cara penusukan,

penggoresan, pemecahan, atau pengikiran dengan bantuan pisau, jarum, kikir,

kertas gosok, atau lainnya yang paling efektif untuk mengatasi dormansi fisik.

Selain itu dapat juga dengan cara perendaman dengan air panas (Novianti, 2012).

Hasil pengamatan berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa pada perlakuan

perendaman air panas jumlah biji berkecambah atau tumbuh yaitu 5 biji dan tinggi

batang 3 cm dengan persentase 2,5%. Kurangnya pertumbuhan biji yang

berkecambah diperkirakan karena kulit luar dari benih saga pohon tersebut masih

kurang lunak atau kurang terkelupas setelah direndam dalam air panas, hal ini

berbanding terbalik dengan pendapat yang dinyatakan oleh Annisa (2016), bahwa
perlakuan perendaman dengan air panas bertujuan memudahkan penyerapan air

oleh benih. Pada perlakuan perendaman dengan menggunakan H₂SO₄ jumlah biji

berkecambah atau tumbuh yaitu 4 biji dan tinggi batang 0 cm dengan persentase

6,25%. Hal ini sesuai dengan pendapat Saila (2016), bahwa perendaman biji saga

menggunakan H₂SO₄ memiliki tujuan untuk melukai bagian kulit benih agar

dapat mematahkan dormansi kulit benih saga yang keras.

Pada perlakuan cutter jumlah biji berkecambah atau tumbuh yaitu 10 biji

dan tinggi batang 2 cm dengan persentase 2,5%. Dan pada perlakuan yang

diamplas jumlah biji berkecambah atau tumbuh yaitu 5 biji dan tinggi batang 0 cm

dengan persentase 5%. Hal ini sesuai dengan pernyataan Juhanda (2013) yang

menyatakan bahwa kulit benih yang permeabel memungkinkan air dan gas dapat

masuk ke dalam benih sehingga proses imbibisi dapat terjadi. Benih yang

diskarifikasi akan menghasilkan proses imbibisi yang semakin baik. Air dan gas

akan lebih cepat masuk ke dalam benih ka rena kulit benih yang permeabel. Air

yang masuk kedalam benih menyebabkan proses metabolisme dalam benih

berjalan lebih cepat akibatnya perkecambahan yang dihasilkan akan semakin baik.
BAB V
PENUTUP

5.1.Kesimpulan

Dari hasil pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa metode skarifikasi

benih saga pohon dengan cara cutter memperoleh persentase 2,5% dan amplas

memperoleh persentase 5% yang paling efektif untuk mengatasi dormansi fisik.

Selain itu dapat juga dengan cara perendaman dengan air panas memperoleh

persentase 2,5% dan asam sulfat memperoleh persentase 6,25%.

5.2. Saran

Saran yang dapat saya sampaikan yaitu sebaiknya untuk pengukuran-

pengukuran kecambah pada biji saga ada pemberian arahan atau kalau perlu

diberikan contoh agar memudahkan mahasiswa yang melakukan praktikum untuk

mengerti.

DAFTAR PUSTAKA
Abqoriyah. 2014. Produktivitas Tanaman Kaliandra (Calliandra calothyrsus)
Sebagai Hijauan Pakan Pada Umur Pemotongan Yang Berbeda.
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Antoni Tampubolon. 2016. Perendaman Benih Saga (Adenanthera pavonina L.)
Dengan Berbagai Konsentrasi Air Kelapa Untuk Meningkatkan Kualitas
Kecambah. Universitas Riau. Riau.
Budi Setiawan. 2015. Pertumbuhan Dan Hasil Benih Varietas Kacang Hijau
(Phaseolus vulgaris L). Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Eliya Suita. 2013. Teknologi Pembenihan Tanaman Hutan. Teknologi Pembenihan


Tanaman Hutan. Bogor.
Djati Widhityarini. 2008. Pematahan Dormansi Benih Tanjung (Mimusops elengi
L.)Dengan Skarifikasi Dan Perendaman Kalium Nitrat. Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Dr. Ir. Rina Laksmi Hendrati, MP. 2014.Budidaya Kaliandra
(Calliandracalothyrsus) Untuk Bahan Baku Sumber Energi. Penerbit IPP
Press. Bogor.
Iwan Herdiawan. 2007. Karakteristik Dan Pemanfaatan Kaliandra Calliandra
calothyrsus). Balai Penelitian Ternak.Bogor.
Kamil. 2008. Teknologi Benih I. Angkasa Raya Padang. Padang.
Mira. 2015. Pengaruh Pupuk Organik Dan Pupuk Mikro Pada Produksi Benih.
Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto.

Naning, 2015. Teknik Pematahan Dormansi Untuk Mempercepat Perkecambahan


Benih Kourbaril (Hymenaea courbaril). Balai Penelitian Teknologi
Perbenihan Tanaman Hutan. Bogor
Novianti, 2012. Pelukaan Benih Dan Perendaman Dengan Atonik Pada
Perkecambahan Benih Dan Pertumbuhan Tanaman Semangka Non Biji
(Citrullus vulgaris Schard L.). UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Riau.
Sri Haryanti. 2015. Morfoanatomi, Berat Basah Kotiledon dan Ketebalan Daun
Kecambah Kacang Hijau (Phaseolus vulgaris L) Pada naungan Yang
Berbeda. Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume XXIII, Nomor 1.

Sumarsono. 2011. Ketahanan Legum Kaliandra (Calliandra calothyrsus)


Terhadap Penurunan Kadar Lengas Tanah Dan Respon Perbaikan
Melalui Pemupukan Fosfat.Universitas Diponegoro. Semarang.
Sutopo, L. 2008. Teknologi Benih. cetakan ke empat. PT Raja Grafindo
Persada.Jakarta
Wafit Dinarto. 2010. Pengaruh Kadar Air Dan Wadah Simpan Terhadap
Viabilitas Benih Kacang Hijau Dan Populasi Hama Kumbang Bubuk
Kacang Hijau Callosobruchus Chinensis L. Universitas Mercu Buana.
Yogyakarta.
Wan Arfiani Barus. 2014. Respon Pertumbuhan Dan Produksi Kacang Hijau
(Phaseolus radiatus L.) Akibat Penggunaan Pupuk Organik Cair Dan
Pupuk Tsp.Agroekoteknologi Fakultas Pertanian UMSU. Medan.

Anda mungkin juga menyukai