Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan kebudayaan yang beragam. Struktur
masyarakat Indonesia ditandai dengan keragaman suku bangsa, ras, agama dan budaya.
Namun keragaman ini menimbulkan konflik dimana-mana. Keadaan seperti ini
menggambarkan bahwa unsur-unsur yang ada di Indonesia belum berfungsi secara satu
kesatuan. Yang menjadi pemasalahan sekarang adalah bagaimana membuat unsur-
unsur yang ada di Indonesia menjadi suatu system yaitu adanya jalinan kesatuan antara
satu unsur dengan unsur yang lain, atau bagaimana membuat Bangsa Indonesia dapat
terintegrasi secara nasional
Keragaman atau kemajemukan merupakan kenyataan sekaligus keniscayaan dalam
kehidupan di masyarakat. Keragaman merupakan salah satu realitas utama yang dialami
masyarakat dan kebudayaan di masa silam, kini dan di waktu-waktu mendatang.
Sebagai fakta, keragaman sering disikapi secara berbeda. Di satu sisi diterima sebagai
fakta yang dapat memperkaya kehidupan bersama, tetapi di sisi lain dianggap sebagai
faktor penyulit. Kemajemukan bisa mendatangkan manfaat yang besar, namun juga
bisa menjadi pemicu konflik yang dapat merugikan masyarakat sendiri jika tidak
dikelola dengan baik.
Setiap manusia dilahirkan setara, meskipun dengan keragaman identitas yang
disandang. Kesetaraan merupakan hal yang inheren yang dimiliki manusia sejak lahir.
Setiap individu memiliki hak-hak dasar yang sama yang melekat pada dirinya sejak
dilahirkan atau yang disebut dengan hak asasi manusia.
Kesetaraan dalam derajat kemanusiaan dapat terwujud dalam praktik nyata dengan
adanya pranata-pranata sosial, terutama pranata hukum, yang merupakan mekanisme
kontrol yang secara ketat dan adil mendukung dan mendorong terwujudnya prinsip-
prinsip kesetaraan dalam kehidupan nyata. Kesetaraan derajat individu melihat individu
sebagai manusia yang berderajat sama dengan meniadakan hierarki atau jenjang sosial
yang menempel pada dirinya berdasarkan atas asal rasial, suku bangsa, kebangsawanan,
atau pun kekayaan dan kekuasaan.
Di Indonesia, berbagai konflik antar suku bangsa, antar penganut keyakinan
keagamaan, ataupun antar kelompok telah memakan korban jiwa dan raga serta harta
benda, seperti kasus Sambas, Ambon, Poso dan Kalimantan Tengah. Masyarakat
1
majemuk Indonesia belum menghasilkan tatanan kehidupan yang egalitarian dan
demokratis.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
a. Apa pengertian keragaman dan kesederajatan?
b. Apa unsur-unsur keragaman dan kesederajatan masyatakat Indonesia?
c. Apa problematika diskriminasi?
d. Apa saja pelapisan sosial yang ada dalam masyarakat?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian keragaman
b. Untuk mengetahui unsur-unsur keragaman masyarakat Indonesia
c. Untuk mengetahui problematika diskriminasi dan dapat mengetahui bagaimana
menyelesaikannya
d. Untuk mengetahui apa saja pelapisan sosial dalam masyarakat

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Makna Keragaman dan Kesederajatan


A. Makna Keragaman
Berasal dari kata ragam yaitu tingkah laku, macam, jenis, lagu, musik,
langgam , warna, corak, rapi.
Sehingga keragaman berarti perihal beragam-ragam, berjenis-jenis perihal
ragam, hal jenis.Yang dimaksud adalah suatu kondisi dalam masyarakat dimana
terdapat perbedaan-perbedaan dalam berbagai bidang terutama suku bangsa dan
ras, agama dan keyakinan, ideologi, adat, kesopanan, serta situasi ekonomi.
Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk dan dinamis, antara lain
ditandai oleh keragaman suku bangsa, agama, dan kebudayaan. Sebagaimana
diketahui bahwa bangsa Indonesia memiliki keragaman suku bangsa yang begitu
banyak, terdiri dari berbagai suku bangsa, mulai dari sabang hingga Merauke, ada
suku Batak, suku Minang, suku Ambon, suku Madura, suku Jawa, suku Asmat, dan
masih banyak lainnya.

B. Makna Kesederajatan
Berasal dari sederajat : sama tingkatan (pangkat, kedudukan). Yang dimaksud
adalah suatu kondisi dimana dalam perbedaan dan keragaman yang ada manusia
tetap memilih satu kedudukan yang sama dan satu tingkatan hierarki.
Kesederajatan berasal dari kata sederajat yang menurut (KBBI) artinya adalah
sama tingakatan (pangkat, kedudukan). Dengan demikian konteks kesederajatan
disini adalah suatu kondisi dimana dalam perbedaan dan keragaman yang ada pada
manusia tetap memiliki satu kedudukan yang sama dan satu tingkatan Hierarki.
termasuk perlakuan yang sama dalam bidang apapun tanpa membedakan jenis
kelamin, keturunan, kekayaan, suku bangsa, daan lainnya. Dalam pandangan Islam,
kedudukan manusia itu sama dalam segala hal, dan yang paling mulia
kedudukannya dimata Tuhan, adalah didasarkan pada ketaqwaannya dan
keimananya.

3
2.2. Unsur Keragaman dan Kesederajatan di Masyarakat Indonesia
Unsur keragaman dan kesederajatan di masyarakat Indonesia meliputi:
A. Suku bangsa dan ras
Suku bangsa yang menempati wilayah Indonesia dari sabang sampai merauke
sangat beragam. Sedangkan perbedaan ras muncul karena adanya pengelompokan
besar manusia yang memiliki ciri-ciri biologis lahiriah yang sama seperti rambut,
warna kulit, ukuran tubuh, mata, ukuran kepala, dan lain sebagainya.

B. Agama dan keyakinan


Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip
kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama
lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan
kepercayaan tersebut. Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang
berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi
yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang
berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat
dirinya kepada Tuhan.
Agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia.
Ikatan yang dimaksud berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia
sebagai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan panca indra.
Dalam peraktiknya fungsi agama dalam masyarakat antara lain adalah :
 Untuk berfungsi edukatif : ajaran agama secara hukum berfungsi menyuruh dan
melarang.
 Untuk berfungsi penyelamat
 Untuk berfungsi sebagai perdamaian
 Untuk berfungsi sebagai Social control
 Untuk berfungsi sebagai pemupuk rasa solidaritas
 Untuk berfungsi transformative
 Untuk berfungsi sublimatif
Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan
manusia, antara lain adalah:
 Karena agama merupakan sumber moral
 Karena agama merupakan petunjuk kebenaran
 Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
4
 Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di
kalasuka,maupun di kala duka

C. Ideologi dan politik


Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan
oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan "sains tentang
ide". Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara
memandang segala sesuatu (bandingkan Weltanschauung), secara umum (lihat
Ideologi dalam kehidupan sehari hari) dan beberapa arah filosofis (lihat Ideologi
politis), atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh
anggota masyarakat. Tujuan untama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan
perubahan melalui proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran
abstrak (tidak hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah
publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik. Secara implisit setiap
pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai
sistem berpikir yang eksplisit.(definisi ideologi Marxisme). Definisi Ideologi
menurut Karl Marx: Ideologi merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan
kesejahteraan bersama dalam masyarakat.
Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam
masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya
dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai
definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.
Sedangkan Ideologi adalah suatu istilah umum bagi sebuah gagasan yang
berpengaruh kuat terhadap tingkah laku dalam situasi khusus karena merupakan
kaitan antara tindakan dan kepercayaan yang fundamental.

D. Tatakrama
Tatakrama yang dianggap arti bahasa jawa yang berarti “ adat sopan santun,
basa basi “ pada dasarnya ialah segala tindakan, perilaku, adat istiadat, tegur sapa,
ucap dan cakap sesuai kaidah atau norma tertentu.

E. Kesenjangan ekonomi dan social


Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dengan
bermacam tingkat, pangkat, dan strata sosial. Kesenjangan ekonomi antara
5
masyarakat level atas dan bawah yang cukup lebar. Hal ini menjadi salah satu
sumber konflik dan mudah sekali tersulut di masyarakat. "Ada stagnasi
perkembangan ekonomi mikro karena kebijakan yang belum berpihak ke
masyarakat bawah. Anggaran negara itu belum sepenuhnya menetes ke masyarakat
level bawah seperti nelayan, petani, masyarakat pesisir, dan pedagang kecil.

2.3. Makna Keragaman dan Kesederajatan dalam Masyarakat


Masyarakat terbentuk dari individu yang terdiri atas berbagai latar belakang yang
tentu akan membentuk suatu masyarakat heterogen yan terdiri atas kelompok-kelompok
sosial yang beragam. Masyarakat Indonesia digolongkan sebagai masyarakat majemuk,
yaitu suatu masyarakat negara yang terdiri atas beberapa suku bangsa atau golongan
sosial yang dipersatukan oleh kekuatan nasional.
Kesederajatan terwujud dalam jaminan hak yan diberikan dalam berbagai sektor
kehidupan. Di Indonesia, kesederajatan termuat dalam UUD 1945 yang sudah
tercantum dengan jelas. Kesamaan derajat warga negara di dalam hukum dan di muka
pemerintah pada pasal 27 ayat 1 menetapkan bahwa “segala warga negara bersama-
sama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintah dan wajib menjunjung hukum dan
pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

2.4. Problematika Diskriminasi dalam Masyarakat yang Beragam


Diskriminasi adalah setiap tindakan yang melakukan pembedaan terhadap
seseorang atau sekelompok orang berdasarkan ras, agama, suku, etnis,
kelompok, golongan, status, kelas sosial ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik, usia,
orientasi seksual, pandangan ideologi, dan politik serta batas negara dan kebangsaan
seseorang.
Pasal 281 Ayat 2 UUD NKRI 1945 Telah menegaskan bahwa “ Setiap orang berhak
bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak
mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu
“. Sementara itu Pasal 3 UU No 30 Tahun 1999 tentang HAM Telah menegaskan
bahwa “Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat yang sama dan
sederajat”
Komunitas Internasional telah mengakui bahwa diskriminasi masih terjadi
diberbagai belahan dunia, dan prinsip non diskriminasi harus mengawali kesepakatan
antar bangsa untuk dapat hidup dalam kebebasan, keadilan, dan perdamaian.
6
A. Diskriminasi di antara Demokrasi dan Hak Asasi
Manusia memiliki seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan
manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya
yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum,
pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia, hal ini disebut Hak Asasi Manusia. Seperangkat kewajiban yang
apabila tidak dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi
manusia disebut sebagai Kewajiban Dasar Manusia. Diskriminasi adalah setiap
pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tidak didasarkan
pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, bahasa,
dan keyakinan politik.
B. Integrasi dan Disintegrasi
Integrasi yaitu proses penyatuan dan perpaduan berbagai macam unsur
masyarakat berbeda, menjadi satu kesatuan saling berhubungan organis dan “sama
kedudukannya”, sederajad atau sejajar. Makin komplek tingkat keberagamanya :
‘problem serius & rumit’ bagi proses integrasi.
Integrasi butuh “kerjasama & akomodasi”. Kerja bersama sama, saling pahami
dan terima kelebihan dan kekurangan setiap unsur masyarakat. Integrasi mutlak
butuh “konsensus nilai”, dijadikan ‘pedoman’ hidup bersama. Butuh “komitmen”
semua anggota masyarakat. Jauhi “prasangka negatif, egoisme, diskriminasi dan
dominasi”. Proses integrasi butuh kesadaran “esensi keberagaman, kesederajadan
kodrati & pengendalian diri”.
Perpecahan / disintegrasi : kehendak atau keinginan berpisah dan lepaskan diri
dari ikatan kesatuan. Ada berbagai macam alasan dan kepentingan : “perbedaan”.
Spirit “primordialisme, pluralisme, fanatisme, rasisme dan egoisme” – akar
fundamental perpecahan. Keinginan untuk “lebih baik dan unggul” dari yang lain :
‘potensi’ perpecahan & disintegrasi yang implikasinya sangat besar.
C. Bhinneka Tunggal Ika Upaya Mengatasi Keragaman Sosiokultura
Bangsa Indonesia mendasarkan pandangan hidupnya dalam bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara pada suatu asas kultural yang melekat pada bangsa itu
sendiri. Nilai-nilai kenegaraan itu terletak pada sila-sila Pancasila dan Bhinneka
Tunggal Ika.
D. Problematika Keragaman Kultural dalam Perkembangan Peradaban dan Hidup
Beradab
7
Keragaman kultural seringkali menyebabkan munculnya permasalahan-
permasalahan dan kesalahpahaman antarsuku tersebut. Contohnya konflik berbau
SARA dan konflik bersenjata di beberapa daerah, teror bom, dan lainnya.
E. Pengaruh Keragaman dan Globalisasi terhadap Pengembangan Kepribadian
Masyarakan
Keragaman dan globalisasi terhadap pengembangan kepribadian masyarakat
dapat menimbulkan pengaruh dalam kehidupan. Pengaruh tersebut dapat
mendatangkan hal posotif dan negatif. Pengaruh positifnya yaitu adanya IPTEKS
yang sangat berguna dalam globalisasi dunia, sedangkan pengaruh negatifnya
adalah kebudayaan luar yang masuk secara langsung atau dapat menggeser
kebudayaab asli.
F. Kesederajatan versus Diskriminasi
Kesederjatan artinya setiap orang sebagai anggota masyarakat mempunyai hak
dan kewajiban, baik terhadap masyarakat maupun pemerintah dan Negara.
Diskriminasi lebih menunjukan kepada suatu tindakan dalam kehidupan sehari-
hari. Diskriminasi dihubungkan dengan prasangka dan seolah-olah menyatu.
Seseorang yang mempunyai prasangka rasial biasanya bertindak diskriminansi
terhadap ras yg diprasangkainya
G. Diskriminasi sebagai Realitas yang Problematika
Dalam kehidupan bermasyarakat ada sesuatu yang dihargai yaitu kekayaan,
kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Hal itu merupakan awal
terbentuknya pelapisan sosial yang dapat menimbulkan diskrimisnasi sosial.
Mereka yang banyak memiliki sesuatu yang dihargai dianggap oleh masyarakat
sebagai orang yang menduduki lapisan atas, begitu pula sebaliknya.
H. Persaingan, Tekanan atau Intimidasi dan Ketidakberdayaan sebagai Faktor
Terjadinya Diskriminasi Sosial
Diskriminasi terjadi karena faktor persaingan. Diskriminasi karena faktor
tekanan atau intimidasi biasanya terjadi karena pihak yang lemah cenderung
menjadi pihak yang ditekan oleh pihak yang kuat. Dan karena merupakan pihak
yang tertekan, umumnya tidak berdaya sehingga tidak dapat melepaskan belenggu
diskriminasi tersebut dari kehidupan mereka.

8
2.5. Manusia Beradab dalam Keragaman
A. Keragaman Budaya dan Peradaban
Menurut pendapat Prof. Sutan Takdir Alisyahbana, apabila perwujudan
budaya itu penekanannyapada akal, akan timbul peradaban yan berbeda, akal
biasanya selalu dihubungkan dengan peradaban bukan kebudayaan. Apabila
perwujudan budaya itu penekanannya pada tiga unsur akal, perasaan, dan
kehendak, akan timbul tingkat kebudayaan yan berbeda, akan timbul pernyataan
bahwan ada peradaban rendah karena diukur dengan faedah bagi manusia.

B. Faktor Penyebab Munculnya Keragaman Peradaban


1. Faktor Lingkungan
2. Faktor Filsafat dan Peradaban
3. Faktor Perekonomian

C. Sikap Manusia Beradab dalam Keragaman


Sebagai manusia beradab, sikap kita terhadap kebudayaan yang beragam
adalah mengikuti perkembangan kebudayaan di daerahnya dan apabila
kebudayaan itu tidak sesuai dengan kita, tidak boleh menganggap rendah
kebudayaan tersebut, walaupun kita tidak harus mengikutinya, tetapi kita wajib
menghormatinya. Usaha mengurangi atau menghilangkan prasangka dan
diskriminasi antara lain dengan cara :
 Untuk perbaikan kondisi sosial ekonomi
 Untuk perluasan kesempatan belajar
 Untuk sikap terbuka dan sikap lapang
 Untuk menghilangkan sikap etnosentrisme.

2.6. Pengaruh Keragaman terhadap Kehidupan Beragam, Bermasyarakat, Bernegara,


dan Kehidupan Global
Pengaruh keragaman diantaranya adalah:
1. Terjadinya segmentasi kedalam kelompok-kelompok yang seringkali memiliki
kebudayaan yang berbeda.
2. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi kedalam lembaga-lembaga yang bersifat
non komplemeter.

9
3. Kurang mengembangkan konsesus diantara para anggota masyarakat tentang nilai-
nilai sosial yang bersifat dasar.
4. Secara relatif sering kali terjadi konflik diantara kelompok yang satu dengan yang
lainnya.
5. Secara relatif intergrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan
didalam bidang ekonomi.
6. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain.
Jika keterbukaan dan kedewasaan sikap dikesampingkan, besar kemungkinan
tercipta masalah-masalah yang menggoyahkan persatuan dan kesatuan bangsa seperti :
a. Disharmonisasi, adalah tidak adanya penyesuaian atas keragaman antara manusia
dengan dunia lingkungannya.
b. Perilaku diskriminatif terhadap etnis atau kelompok masyarakat tertentu akan
memunculkan masalah yang lain, yaitu kesenjangan dalam berbagai bidang yang
tentu saja tidak menguntungkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
c. Eksklusivisme, rasialis, bersumber dari superioritas diri, alasannya dapat
bermacam-macam, antara lain keyakinan bahwa secara kodrati ras/sukunya
kelompoknya lebih tinggi dari ras/suku/kelompok lain.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperkecil masalah yang
diakibatkan oleh pengaruh negative dari keragaman, yaitu :
a. Semangat Religius
b. Semangat Nasionalisme
c. Semangat Fluralisme
d. Dialog antar umat beragama
e. Membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi hubungan
antar agama, media, masa, dan harmonisasinya.

2.7. Struktur Masyarakat Indonesia


Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yaitu :
1. Horizontal
Ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan
perbedaan suku-bangsa, perbedaan agama, adat serta perbedaan-perbedaan
kedaerahan. Perbedaan suku-bangsa, agama, adat dan kedaerahan sering kali
disebut sebagai ciri masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk. Istilah
masyarakat majemuk (plural societies) ini diperkenalkan oleh J.S. Furnivall untuk
10
menggambarkan masyarakat Indonesia pada zaman Hindia-Belanda. Plural
societies yaitu suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup
sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain dalam kesatuan politik.
Masyarakat Indonesia zaman Hindia Belanda tersebut adalah tipe masyarakat tropis
dimana mereka yang berkuasa dan mereka yang dikuasai memiliki perbedaan ras.

2. Vertikal
Struktur masyarakat Indonesia ditandai adanya perbedaan-perbedaan vertikal
antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup dalam.Ditandai oleh adanya
polarisasi social berdasarkan kekuatan ekonomi dan politik. Struktur masyarakat
terpolarisasi menjadi sebagian besar orang yang secara ekonomi dan politik lemah
yang menempati lapisan bawah dan sebagian kecil orang yang secara ekonomi dan
politik kuat yang menempati lapisan atas.
Di bidang ekonomi, ada 2 sektor yaitu : sector ekonomi modern yang secara
komersial lebih bersifat canggih, banyak bersentuhan dengan lalu lintas
perdagangan internasional, profit oriented dan sector ekonomi tradisional yang
bersifat konservatif, kurang mampu mengusahakan pertumbuhan, tidak profit
oriented.Struktur masyarakat dalam bidang politik ditandai adanya gap yaitu antara
sejumlah kecil orang yang memegang kekuasaan dengan sejumlah besar orang yang
tidak memilki kekuasaan
Seperti kita tahu bahwa di Indonesia banyak sekali suku, budaya, ras, agama,
tentu saja sering terjadi perubahan sosial yang menyebabakan konflik, padahal
tujuan adanya perbedaan yaitu agar terjadi keselarasan dan kesederajatan, namun
tetap saja konflik itu terjadi tanpa bisa dihindari. Factor-faktor pendorong yang
menyebabkan terjadinya perubahan social ada 2 macam, yaitu yang berasal dari luar
masyarakat dan dari dalam diri itu sendiri.
1. Factor yang berasal dari luar masyarakat
A. Akulturasi.
Akulturasi atau cultural contact berarti suatu kebudayaan tertentu yang
dihadapkan dengan unsure-unsur kebudayaan asing yang sedemikian rupa
sehingga lambat laun unsure-unsur kebudayaan asing tersebut melebur atau
menyatu kedalam kebudayaan sendiri, tetapi tidak menyebabkan hilangnya
kepribadian

11
B. Difusi
Difusi ialah penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat
ketempat lain. Sedikit demi sedikit, hal ini berlangsung berkaitan dengan
terjadinya perpindahan atau penyebaran manusia dari satu tempat ke tempat
lain.
C. Penetrasi
Penetrasi adalah masuknya unsur-unsur masuknya kebudayaan asing
secara paksa, sehingga merusak kebudayaan bangsa yang di datangi
penetrasi tersebut, dinamakanPenetration Violent, misalnya ketika bangsa
Spanyol dan Portugis datamg ke Amerika Latin sehingga kebudayaan maya
dan inka menjadi musnah. Selain itu masih ada jenis penetrasi lain yaitu
masuknya unsur kebudayaan asing dengan tidak sengaja dan tanpa paksaan
dalam kebudayaan setempat sehingga saling mempengaruhi, penetrasi
semacam ini disebut Penetration Pasifique, seperti masuknya agama dan
kebudayaan Hindu, Budha, Islam kedalam kebudayaan Indonesia
D. Invasi
Invasi yaitu masuknya unsur-unsur kebudayaan asing kedalam
kebudayaan setempat dengan peperangan (Penaklukan) bangsa asing
terhadap bangsa lain, penaklukan itu pada umumnya dilanjutkan dengan
penjajahan, selama masa penjajahan itulah terjadi pemaksaan masuknya
unsur-unsur asing kedalam kebudayaan bangsa-bangsa terjajah.
E. Asimilasi
Asimilasi kebalikan dari penetrasi. Asimilasi adalah proses
penyesuaian seseorang atau kelompok orang asing terhadap kebudayaan
setempat.
F. Hibridisasi
Hibridisasi adalah perubahan kebudayaan yang disebabkan oleh
perkawinan campuran antara orang asing dengan penduduk setempat.
Hibridisasi umumnya bersifat individu, walaupun tidak menutup
kemungkinan perubahan akibat perkawinan campuran meluas hingga ke
lingkungan masyarakat sekelilingnya, akibat hibridisasi ialah munculnya
kebudayaan baru, yaitu setengah kebudayaan asing dan setengah
kebudayaan setempat

12
G. Milenarisasi
Milenarisasi merupakan salah satu bentuk gerakan kebangkitan, yang
berusaha mengangkat golongan masyarakat bawah yang tertindas dan telah
lama menderita dalam kedudukan sosial yang rendah dan memiliki ideologi
sub kultural yang baru.

2. Perubahan yang Terjadi karena Pengaruh dari Dalam


A. Sistem Pendidikan yang Maju
 Inovasi adalah pembauran unsur teknologi dan ekonomi dari kebudayaan
 Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa
alat walaupun ide baru yang diciptakan oleh seseorang atau sekelomok
orang dalam suatu masyarakat. Namun, adapula pendapat lain
menyatakan bahwa discovery adalah penemuan sesuatu yang
sebelumnya telah ada.
 Invention adalah pendapatan atau perolehan hal-hal baru yang dilakukan
melalui usaha yang sungguh-sungguh walaupun melalui trial and error.
 Enkulturasi atau pembudayaan ialah suatu proses manusia mempelajari
dan menyesuaikan alam fikiran serta sikapnya dengan sistem norma (
meliputi norma susila, adat, hukum dan agama) yang hidup dalam
masyarakat.
B. Menghargai hasil karya orang lain
C. Adanya keterbukaan di dalam masyarakat
D. Adanya toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang
(deviation)
E. Penduduk yang heterogen

13
BAB III
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari penulisan makalah ini saya dapat menyimpulkan bahwa perubahan dinamis dan
arus globalisasi yang tinggi menyebabkan masyarakat kita sebagai bangsa indonesia
yang memiliki banyak dan beragam kebudayaan kurang memiliki kesadaran akan
pentingnya peranan budaya lokal kita ini dalam memperkokoh ketahanan budaya
bangsa. padahal sesungguhnya budaya lokal yang kita miliki ini dapat menjadikan kita
lebih bernilai dibandingkan bangsa lain karena betapa berharganya nilai – nilai budaya
lokal yang ada di negara ini

4.2 Saran
Untuk itu seharusnya kita bisa lebih tanggap dan peduli lagi terhadap semua
kebudayaan yang ada di indonesia ini. Selain itu kita harus memahami arti kebudayaan
serta menjadikan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia sebagai sumber
kekuatan untuk ketahanan budaya bangsa.Agar budaya kita tetap terjaga dan tidak
diambil oleh bangsa lain. Karena kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai
harganya itu dan tidak pula dimiliki oleh bangsa-bangsa asing. Oleh sebab itu, sebagai
generasi muda, yang merupakan pewaris budaya bangsa, hendaknya memelihara seni
budaya kita demi masa depan anak cucu.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://www.slideshare.net/aalfinn/manusiakeragaman-dan-kesederajatan diakses 20 April


2015

http://www.academia.edu/9479666/MANUSIA_KERAGAMAN_DAN_KESEDERAJATAN
diakses 20 April 2015

Ketut Gunawan1dan Yohanes Rante. 2011. Jurnal Mitra Ekonomi dan Manajemen Bisnis.
Universitas Panji Sakti Singaraja-Bali Vol.2, No. 2, hal 2087-1090

Sembiring, Dermawan, dkk. 2015. Ilmu Sosian Dan Budaya Dasar. Medan : percetakan
UNIMED

Setiadi, Elly M. dkk. 2005. Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar. Jakarta: Prenada Media Gro

15