Anda di halaman 1dari 1

LATAR BELAKANG

Stunting adalah masalah gizi utama yang masih banyak terjadi di Indonesia. Stunting
sangat berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat kerena sangat berhubungan
dengan pertumubuhan dan perkembangan kemampuan anak. Masalah gizi yaitu ststus gizi
yang kurang dan buruk, dimana gizi kurang adalah kondisi kekurangan gizi akibat jumlah
makro dan mikro tidak memadai dan dapat menyebabkan prevalensi anak pendak sangat
tinggi yang mempengaruhi satu dari tiga anak balita sebagai proporsi masalah kesehatan
menurut kriteria Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Proporsi anak pendek pada penduduk
miskin sebesar 40% sedangkan penduduk kaya sebesar 33%

Stunting pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat dari
kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan
gizi kronis terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Jika pada periode
tersebut kurang gizi dampaknya akan sangat signifikan pada kejadian anak pendek. Di
Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini
adalah masih tingginya anak balita pendek (stunting). Untuk balita stunting (Tinggi Badan
per Umur) dari hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, prevelensi stunting di Indonesia
mencapai 37,2%. Pemantauan status gizi tahun 2016, mencapai 27,5% sedangkan batasan
WHO < 20%. Hal ini berarti pertumbuhan yang tidak maksimal dialami oleh sekitar 8,9 juta
anak Indonesia, atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Lebih dari 1/3 anak berusia
di bawah 5 tahun di Indonesia tingginya berada di bawah rata-rata (Buku Saku Desa Dalam
Penanganan Stunting, 2017).