Anda di halaman 1dari 7

A.

Pengertian Asosiasi

Kartini Kartono (2003), menjelaskan bahwa assosiasi adalah Pelaporan

segala sesuatu yang melintas dalam kesadaran tanpa pengendalian atau suatu teknik

yang digunakan dalam psikoanalisa yang memberi peluang bagi terapist untuk

menjelahahi ketidaksadaran atau pikiran bawah sadar pasien dengan meminta

mengeluarkan seluruh pernyataan pemikiran-pemikiran tanpa dibatasi atau disensor

dan yang timbul secara spontan. Sudarsono (1997), mengatakan bahwa assosiasi

didasarkan pada pemikiran bahwa setiap keadaan mental dapat diperinci menjadi

unsur-unsur yang sederhana. Seorang siswa disekolah sering menghadapi masalah

yang sangat komplek dan sulit untuk mengutarakannya, sehingga dengan metode

asosiasi ini masalah siswa yang komplek bisa di tulis dengan cara yang sederhana.

A. Asosiasi Bebas

Asosiasi bebas adalah teknik yang memberi kebebasan pada klien untuk

mengatakan apa saja perasaan, pemikiran dan renungan yang ada dalam pikiran

klien tanpa memandang baik buruknya atau logis tidaknya sehingga klien dapat

terbuka dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Metode

asosiasi adalah menghubungkan antara satu materi dengan materi yang lain,

walaupun terkadang tidak ada hubungannya. Pertama kali formula ini

disampaikan oleh Aristoteles 4 abad sebelum masehi. Proses asosiasi ini erat

kaitannya dengan pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya karena

hubungan asosiasi akan bersandar pada pengalaman, pengetahuan, atau


pemahaman yang dia miliki sebelumnya. Semakin sering individu

menggunakan asosiasi semakin kuat ingatan tentang asosiasi tersebut dan begitu

pula sebaliknya (Putra dan Issetyadi, 2010).

Teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi Teori belajar ini mulanya

dikembangkan oleh Thorndike, yang kemudian dikembangkan oleh Skinner. Teori

belajar ini bersifat mekanistis karena menggunakan latihan dan ulangan untuk

mempererat asosiasi antar stimulus (S) dan respons (R). Kebebasan berpikir kurang

dikembangkan. Teori ini ingin menjadikan proses belajar bersifat scientific atau

ilmiah dan membentuk kelakuan. Manusia secara sistematis dan terkontrol

Sehingga kelakuan manusia hanya dibatasi dengan pada hal-hal yang dapat diamati

(observable) saja. Teori asosiasi ini mementingkan produk, hasil belajar, dan

penguasaan pengetahuan. Hanya saja ilmu jiwa asosiasi ini berpendirian bahwa

keseluruhan itu terdiri atas penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya.

Ada tiga macam asosiasi yaitu:

1. Immediate Forward Association

Immediate forward association akan terjadi antara materi belajar yang

berdekatan di depannya (maju ke depan) sesuai di dalam daftar: A-B, B-C, C-D,

dan sebagainya.

2. Immediate Backward Association


Misalnnya terdapat satu daftar komposisi materi belajar: A-B-C-D-E-

F, immediate backward association akan terjadi antara materi belajar yang

berdekatan di belakangnya (mundur kebelakang) sesuai di dalam daftar: B-A, C-

B, dan sebagainya.

3. Remote Association

Misalnnya terdapat satu daftar komposisi materi belajar: A–B–C–D–E-F,

remote association akan terjadi diantara materi belajar yang tidak berdekatan dalam

asosiasi maju atau mundur (immediate forward dan backward association) sesuai

di dalam daftar: B-E atau D-A. Contoh: mahasiswa matakuliah psikologi

faal diminta untuk mengingat nama-nama duabelas syaraf. Syaraf- syaraf tersebut

telah dinamai secara berurutan sebagai berikut : olfactory, tic, oculomotor,

trochlear, trigeminal, abducens, facial, stato-acoustic, haryngeal, vagus, dan

accessory. Dari daftar nama-nama tersebut, dapat dipakai untuk menjelaskan tiga

macam asosiasi, misalnya: belajar "optic" mungkin sebagai syarat

untuk "olfactory" atau "oculomotor" (immediate backward dan forward

association) (Atkinson & Richard, 2011)

B. Asosiasi Thorndike.

Menurut Thorndike (Walgito, 2010) asosiasi antara sense of impression

impuls to action, disebutnya sebagai koneksi atau connection, yaitu usaha untuk

menggabungkan antara kejadian sensoris dengan perilaku. Thorndike


menitikberatkan pada aspek fungsional dari perilaku, yaitu bahwa proses mental

dan perilaku berkaitan dengan penyesuaian diri organisme terhadap

lingkungannya. Karena itu Thorndike diklasifikasikan sebagai behavioris yang

fungsional, berbeda dengan Pavlov sebagai behavioris yang asosiatif.

Dari eksperimennya Thorndike mengajukan adanya tiga macam hukum

yang sering dikenal dengan hukum primer dalam hal belajar, yaitu :

1. Hukum Kesiapan (The Law Of Readiness)

Menurut Thorndike belajar yang baik harus adanya kesiapan, maka hasil

belajarnya tidak akan baik. Secara praktis hal tersebut dapat dikemukakan bahwa :

a. Apabila pada organisme adanya kesiapan untuk melakukan sesuatu aktivitas dan

organisme itu dapat melaksanakan kesiapannya itu, maka organisme tersebut akan

mengalami kepuasan.

b. Apabila organisme mempunyai kesiapan untuk melakukan sesuatu aktivitas, tetapi

organisme itu tidak dapat melakukannya, maka organisme itu akan mengalami

kekecewaan atau frustasi.

c. Apabila organisme itu tidak mempunyai kesiapan untuk melakukan suatu aktivitas,

tetapi disuruh melakukannya, maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang

tidak memuaskan.

2. Hukum Latihan (The Law Exercise)

Mengenai hukum latihan oleh Thorndike dikemukakan adanya dua aspek,

yaitu

a. The Law Of Use


Yaitu hukum yang menyatakan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan

respon akan menjadi kuat apabila sering digunakan.

b. The Law Of Disuse.

Yaitu hukum yang menyatakan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan

respon akan menjadi lemah apabila tidak ada latihan.

3. Hukum Efek ( The Law Of Effect )

Mengenai hukum efek Thorndike berpendapat bahwa memperkuat atau

memperlemah hubungan antara stimulus dan respon tergantung pada bagaimana

hasil dari respon yang bersangkutan. Apabila sesuatu stimulus memberikan hasil

yang menyenangkan atau memuaskan, maka hubungan antara stimulus dan respon

itu akan menjadi kuat, demikian sebaliknya apabila hasil menunjukkan hal yang

tidak menyenangkan, maka hubungan antara stimulus dan respon melemah. Dengan

kata lain apabila sesuatu stimulus menimbulkan respon yang membawa reward

hubungan antara stimulus respon (S-R) menjadi kuat, demikian sebaliknya. Hukum

efek ini sebenarnya didasarkan pada hukum asosiasi lama, yaitu hukum frekuensi

dan hukum kontiguitas sebagai determinan kuat tidaknya hubungan antara stimulus

dan respon. Walaupun Thorndike menerima hukum frekuensi dan hukum

kontiguitas, namun Thorndike menambahkan bahwa konsekuensi dari respon itu

akan ikut berperan sebagai determinan kuat lemahnya asosiasi antara stimulus dan

respon (Walgito, 2010)..

Teori asosiasi menekankan pada arti respons yang diberikan oleh

organisme dan asosiasi atau hubungan antara responden stimuli. Mereka


menekankan peranan pengalaman sebelumnya dan penguatan ( reinforcement )

respons.

Menurut Thorndike, faktor- faktor yang mempengaruhi asosiasi antara

lain:

1. Adanya aktifitas atau kebiasaan yang sering dihadapi.

2. Adanya berbagai respon terhadap berbagai stimulus.

3. Adanya eliminasi terhadap berbagai respon yanag salah.

4. Pengalaman-pengalaman yang pernah dialami.

5. Konsentrasi.

6. Belajar.