Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK TRANSMISI

PENGENALAN LINE CODE

Rosdiana Nursita H NIM 171344027


Nama Partner : Naufal Adriel NIM 171344022
Nisa Nur Rizka NIM 171344023
Nisrina Athaya NIM 171344024

Tanggal Percobaan : Senin, 4 November 2019


Penyerahan Laporan : Senin, 11 November 2019

Ir. Elisma, M.Sc.

Hepi Ludiyati, Amd., ST., MT

Rifa Hanifatunnisa, SST,. MT

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


D4 – Teknik Telekomunikasi 3NK
Teknik Elektro
2019
A. TUJUAN

1. Membentuk pola-pola (kode-kode saluran atau line codes) atau memformat sinyal dalam
sistem pengirim PCM sebagai transmisi data antara lain sinyal NRZ, RZ, AMI,
HDB-2 dan HDB-3
2. Memahami proses pembentukan kode-kode saluran serta tujuan pembentukan kode-kode
tersebut.
3. Mengoperasikan peralatan pattern generator HP 3780A terutama untuk pengetesan
sistem komunikasi data.

B. LANDASAN TEORI

Line coding merupakan proses konversi data digital menjadi sinyal digital. Line coding juga
merupakan metoda untuk merubah simbol dari sumber ke dalam bentuk lain untuk ditransmisikan
dan dapat merubah pesan-pesan digital ke dalam deretan simbol baru yang disebut dengan proses
encoding. Line coding memiliki tujuan yaitu:

 Merekayasa spektrum sinyal digital agar sesuai dengan medium transmisi yang akan
digunakan.
 Dapat dimanfaatkan untuk proses sinkronisasi antara pengirim dan penerima (sistem tidak
memerlukan jalur terpisah untuk clock).
 Dapat digunakan untuk menghilangkan komponen DC sinyal (sinyal denganfrekuensi 0)
Komponen DC tidak mengandung informasi apapun tetapimenghamburkan daya pancar.
 Line coding dapat digunakan untuk menaikkan data rate.
 Beberapa teknik line coding dapat digunakan untuk pendeteksian kesalahan.

Berdasarkan level sinyal yang digunakan, Line Coding dapat dikatagorikan sbb.:

 Unipolar : menggunakan level +v, 0


 Polar (antipodal) : menggunakan level +v, -v
 Bipolar (pseudoternary): menggunakan level +v, 0, -v
UNIPOLAR

Contoh pengkodean saluran jenis unipolar tunggal digambarkan sebagai berikut.

POLAR

Jenis pengkodean polar menggunakan 2 (dua) buah level tegangan yaitu –V dan +V (tegangan
positif dan negatif) untuk menyatakan data biner dengan nilai 0 dan 1.

NRZ-L (Non-Return to Zero Low)

Level +V digunakan untuk menyatakan data biner 0, sedangkan level tegangan –V digunakan
untuk menyatakan data biner 1.

NRZ-I (Non-Return to Zero Inverted)

Representasi level –V atau +V menyatakan adanya perubahan data biner dari menuju logika 1.
Artinya, setiap ada perubahan urutan data biner dari 0 ke 1 atau 1 ke 1, maka level tegangan akan
berubah dari sebelumnya. Misalkan level sebelumnya +V maka perubahan bit 0 ke 1 atau 1 ke 1
menyebabkan levelnya menjadi –V dan sebaliknya jika level sebelumnya –V maka perubahan
data biner dari 0 ke 1 atau 1 ke 1 menyebabkan levelnya berubah menjadi +V. Perubahan data
dari 0 ke 0 dan 1 ke 0 tidak akan menyebabkan perubahan level tegangan.
RZ (Return to Zero )

Pengkodean saluran jenis Return to Zero (RZ) menggunakan level –V dan +V dengan transisi di
pertengahan bit data biner. Data biner 0 dinyatakan dengan transisi dari level –V menuju 0V,
sedangkan data biner 1 dinyatakan dengan transisi dari level +V menuju 0V. Contoh pengkodean
saluran jenis RZ ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Manchester

Pengkodean Manchester menggunakan level –V dan +V dengan transisi ditengah-tengah bit data
biner. Data biner 0 dinyatakan dengan transisi level tegangan dari +V menuju –V, sedangkan data
biner 1 dinyatakan dengan transisi level tegangan dari –V menuju +V.
Differential Manchester

Pengkodean Differential Manchester merupakan modifikasi pengkodean Manchester, dimana


letak transisi level tegangan dari –V menuju +V atau sebaliknya yaitu +V menuju –V dipengaruhi
oleh data biner. Data biner 0 ditandai dengan transisi level tegangan terletak diawal interval data
bit, sedangkan data biner 1 ditandai dengan transisi level tegangan terletak ditengah interval bit
dari data.

BIPOLAR

Pengkodean bipolar yaitu pengkodean dengan menggunakan 3 (tiga) buah level tegangan yaitu
–V, 0V, dan +V untuk menyatakan data biner.

Bipolar-AMI

Pengkodean Bipolar-AMI menggunakan level tegangan 0V untuk menyatakan data biner 0,


sedangkan data biner 1 dinyatakan dengan level tegangan –V dan +V secara bergantian.
Bipolar 8 Zeros Substitution

 Bipolar dengan 8 Zeros Substitution


 Berdasarkan bipolar-AMI
 Apabila terdapat 8 level tegangan nol berurutan, maka kedelapan level tegangan tersebut
disubstitusi oleh level tegangan 000VB0VB

 Keterangan :

o V = Valid bipolar signal


o B = Bipolar violation

High Density Bipolar 3 Zeros

 Berdasarkan bipolar-AMI
 Jika jumlah sinyal tidak nol setelah substitusi terakhir adalah ganjil, maka substitusi
dilakukan dengan menggunakan level tegangan 000V.
 Jika jumlah sinyal tidak nol setelah substitusi terakhir adalah genap, maka substitusi
dilakukan dengan menggunakan level tegangan B00V.

C. PERALATAN DAN KOMPONEN

1. Pattern Generator 3780A : 1 buah

2. Osiloskop : 1 buah

3. BNC to BNC : 4 buah


4. Frequency Counter : 1 buah
5. Konektor T : 1 buah

D. LANGKAH PERCOBAAN

1. Menghubungkan clock O/P dan data O/P dari bagian pemancar Pattern Generator ke
osiloskop dua kanal seperti gambar 7.
2. Memilih frekuensi clock yang dibangkitkan oleh Pattern Generator. Dalam percobaan ini
digunakan frekuensi f1.
3. Menempatkan switch Pattern Generator ke NORM.
4. Mengamati bentuk sinyal pada osiloskop untuk OUTPUT FORMAT Line Code NRZ, RZ,
AMI, HDB-2 dan HDB-3 untuk masing-masing WORD PCM 0000, 1010, 1100 dan 1111.
5. Menggambar hasil pengamatan pada tabel.
6. Mengulangi langkah 4 untuk masing-masing WORD dan jenis Line Code dengan
penambahan bit 0 pada bit terakhir WORD, dengan jumlah bit 0 1, 2 dan 3 buah. (catatan :
untuk menambahkan bit 0 pada bit terakhir dari WORD, set ZERO ADD sesuai jumlah bit 0
yang akan ditambahkan).

7. Menggambar hasil pengamatan dari langkah pada tabel.


E. HASIL PRAKTIKUM

Tabel 1.a

POSISI SWITCH WORD 0000


Output
Gambar Sinyal
format

Clock

NRZ

RZ

AMI

HDB-2

HBD-3
Tabel 1.b

POSISI SWITCH WORD 1000


Output
Gambar Sinyal
format

Clock

NRZ

RZ

AMI

HDB-2

HDB-3
Tabel 1.c

POSISI SWITCH WORD 1010


Output
Gambar Sinyal
format

Clock

NRZ

RZ

AMI

HDB-2

HDB-3
Tabel 1.d

POSISI SWITCH WORD 1100


Output
Gambar Sinyal
format

Clock

NRZ

RZ

AMI

HDB-2

HDB-3
Tabel 1.e
POSISI SWITCH WORD 1111
Output
Gambar Sinyal
format

Clock

NRZ

RZ

AMI

HDB-2

HDB-3
Tabel 2.a

POSISI SWITCH WORD 11000011


Output
Gambar Sinyal
format

Clock

NRZ

RZ

AMI

HDB-2

HDB-3
Tabel 2.c

POSISI SWITCH WORD 100000001


Output
Gambar Sinyal
format

Clock

NRZ

RZ

AMI

HDB-2

HDB-3
Tabel 2.d

POSISI SWITCH WORD 100010001


Output
Gambar Sinyal
format

Clock

NRZ

RZ

AMI

HDB-2

HDB-3

F. ANALISA

Dalam praktikum ini pola line code NRZ dan RZ memiliki sinyal unipolar
yaitu sinyal hanya memiliki 1 polaritas saja yaitu “1” dan “0”. kemudian pola line
code AMI, HDB-2 dan HDB-3 memiliki sinyal bipolar yaitu sinyal yang memiliki 2
polaritas yaitu “+Volt” dan “–Volt”.
Ketika data WORD 0000, sinyal NRZ, RZ dan AMI hanya 0 saja atau garis
lurus. Ini dikarenakan data yang di berikan pun adalah 0. Lain halnya pada HDB-2
dan HDB-3, pada HDB-2 data 0000 akan menjadi 0 dan akan +1 atau -1 ketika telah
melewati nilai 0 tiga kali terturut turut. Sedangkan pada HDB-3 data 0 akan menjadi 0
namun akan menjadi +1 dan -1 ketika telah melewati nilai 0 selama 4 kali berturut
turut.

Pada data WORD 1000, ketika data 1 sinyal NRZ akan menampilkan 1 dalam
1 periode clocknya namun sinyal RZ akan menampilkan 1 dalam setengah periode
clock. Dan ketika data 0 pada NRZ dan RZ akan tetap menampilkan 0. Begitu pula
pada AMI seperti RZ hanya saja memiliki 2 polarisasi sehingga ketika data 1 maka
akan menjadi +1 ketika diberikannya data 1 kembali akan menjadi -1. Pada HDB-2
akan +1 atau -1 ketika telah melewati nilai 0 tiga kali terturut turut. Dan pada HDB-3
menampilkan sinyal seperti sinyal AMI karena HDB-3 akan menampilkan +1 dan -1
ketika diberikannya data 0 sebanyak 4 kali berturut turut.

Setelah diberikannya data WORD 1010, ketika data 1 sinyal NRZ akan
menampilkan 1 dalam 1 periode clocknya namun sinyal RZ akan menampilkan 1
dalan setengah periode clock. Dan ketika data 0 pada NRZ dan RZ akan tetap
menampilkan 0. Begitu pula pada AMI seperti RZ hanya saja memiliki 2 polarisasi
sehingga ketika data 1 maka akan menjadi +1 ketika diberikannya data 1 kembali
akan menjadi -1. HDB2 dan HDB3 akan sama seperti sinyal AMI kerena HDB2 akan
+1 atau -1 ketika telah melewati nilai 0 tiga kali terturut turut. Dan HDB3 akan
menampilkan +1 dan -1 ketika diberikannya data 0 sebanyak 4 kali berturut turut.

Setelah diberikannya data WORD 1100, ketika data 1 sinyal NRZ akan
menampilkan 1 dalam 1 periode clocknya namun sinyal RZ akan menampilkan 1
dalan setengah periode clock. Dan ketika data 0 pada NRZ dan RZ akan tetap
menampilkan 0. Begitu pula pada AMI seperti RZ hanya saja memiliki 2 polarisasi
sehingga ketika data 1 maka akan menjadi +1 ketika diberikannya data 1 kembali
akan menjadi -1. HDB2 dan HDB3 akan sama seperti sinyal AMI kerena HDB2 akan
+1 atau -1 ketika telah melewati nilai 0 tiga kali terturut turut. Dan HDB3 akan
menampilkan +1 dan -1 ketika diberikannya data 0 sebanyak 4 kali berturut turut.
Karena data yang diberikan memiliki 0 sebanyak 2 kali maka sinyal HDB2 dan HDB
3 akan sama seperti sinyal AMI.
Setelah diberikannya data WORD 1111, ketika data 1 sinyal NRZ akan
menampilkan 1 dalam 1 periode clocknya sehingga pada osciloscope akan
menampilkan garis lurus saja. Pada sinyal RZ akan menampilkan 1 dalam setengah
periode clock. Begitu pula pada AMI seperti RZ hanya saja memiliki 2 polarisasi
sehingga ketika data 1 maka akan menjadi +1 ketika diberikannya data 1 kembali
akan menjadi -1. HDB2 dan HDB3 akan sama seperti sinyal AMI kerena HDB2 akan
+1 atau -1 ketika telah melewati nilai 0 tiga kali terturut turut. Dan HDB3 akan
menampilkan +1 dan -1 ketika diberikannya data 0 sebanyak 4 kali berturut turut.
Karena data yang diberikan tidak memiliki 0 maka sinyal HDB2 dan HDB3 akan
sama seperti sinyal AMI.

Ketika diberikannya data WORD 11000011, 4 bit pertama di inputkan seperti


biasa namun karena terdapat bit 00 setelah bit 1100 makan di tambahkannya 0
sebanyak 2 kali menggunakan zero add, lalu deret akan kembali lagi ke “110000” dst.
ketika data 1 sinyal NRZ akan menampilkan 1 dalam 1 periode clocknya namun
sinyal RZ akan menampilkan 1 dalan setengah periode clock. Dan ketika data 0 pada
NRZ dan RZ akan tetap menampilkan 0. Begitu pula pada AMI seperti RZ hanya saja
memiliki 2 polarisasi sehingga ketika data 1 maka akan menjadi +1 ketika
diberikannya data 1 kembali akan menjadi -1. Pada HDB-2 akan +1 atau -1 ketika
telah melewati nilai 0 tiga kali terturut turut. Dan pada HDB-3 data 0 akan menjadi 0
namun akan menjadi +1 dan -1 ketika telah melewati nilai 0 selama 4 kali berturut
turut.

Pada data WORD 100000001, 4 bit pertama di inputkan seperti biasa namun
karena terdapat bit 0 sebanyak 4 kali setelah bit 1000 makan di tambahkannya 0
sebanyak 4 kali menggunakan zero add, lalu deret akan kembali lagi ke “1000” dst.
Pada data WORD 1000, ketika data 1 sinyal NRZ akan menampilkan 1 dalam 1
periode clocknya namun sinyal RZ akan menampilkan 1 dalam setengah periode
clock. Dan ketika data 0 pada NRZ dan RZ akan tetap menampilkan 0. Begitu pula
pada AMI seperti RZ hanya saja memiliki 2 polarisasi sehingga ketika data 1 maka
akan menjadi +1 ketika diberikannya data 1 kembali akan menjadi -1. Pada HDB-2
akan +1 atau -1 ketika telah melewati nilai 0 tiga kali terturut turut. Dan pada HDB-3
data 0 akan menjadi 0 namun akan menjadi +1 dan -1 ketika telah melewati nilai 0
selama 4 kali berturut turut.
Ketika diberikannya data WORD 100010001, data tersebut merupakan 1000
yang terus di ulang. Sehingga output yang di hasilkan akan sama dengan tabel 1b.
ketika data 1 sinyal NRZ akan menampilkan 1 dalam 1 periode clocknya namun
sinyal RZ akan menampilkan 1 dalam setengah periode clock. Dan ketika data 0 pada
NRZ dan RZ akan tetap menampilkan 0. Begitu pula pada AMI seperti RZ hanya saja
memiliki 2 polarisasi sehingga ketika data 1 maka akan menjadi +1 ketika
diberikannya data 1 kembali akan menjadi -1. Pada HDB-2 akan +1 atau -1 ketika
telah melewati nilai 0 tiga kali terturut turut. Dan pada HDB-3 menampilkan sinyal
seperti sinyal AMI karena HDB-3 akan menampilkan +1 dan -1 ketika diberikannya
data 0 sebanyak 4 kali berturut turut.

G. KESIMPULAN

Line coding merupakan sebuah proses yang akan mengubah sinyal informasi
yang dalam bentuk digital ke deretan simbol baru ketika dilakukannya proses
transmisi. Setiap pola dalam line coding mameliki fungsinya masing masing,
contohnya seperti clocking, mendeteksi kesalahan, meningkatkan bandwidth transmisi.
Berdasarkan level siyal Line coding memiliki 3 jenis yaitu unpolar, polar dan bipolar.
Unipolar adalah sinyal hanya memiliki level +Volt dan 0. Kemudian Polar memiliki
level +Volt dan -Volt. Sedangkan bipolar adalah sinyal yang menggunakan level yaitu
+Volt, 0 dan -Volt.