Anda di halaman 1dari 16

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penyiapan Lahan

Tanaman kelapa sawit sering di tanam berbagai kondisi areal sesuai

dengan ketersediaan lahan yang akan dibuka menjadi lahan kelapa sawit.

Persiapan lahan merupakan kegiatan yang sangat dan harus di laksanakan

berdasarkan jadwal kegiatan yang sudah ditetapkan. Mengingat areal kebun

kelapa sawit yang cukup luas,pembukaan lahan dapat di lakukan sekaligus atau

secara bertahap. Namun, yang terpenting adalah keadaan kebun sudah siap

dipanen dan dapat memasok buah yang akan diolah ketika pabrik sudah siap

berproduksi.

1. Pembukaan Lahan Tanpa Bakar

Pembukaan lahan dengan menggunakan teknik tanpa bakar ini telah di

lakukan pada beberapa perkebunan kelapa sawit, baik untuk pembukaan areal

baru maupun, untuk peremajaan kelapa sawit, sebagai di laporkan oleh Chee dan

Chiu (1997), Majid (1997) dan Purba et al. (1997) alasan utama penggunaan

teknik tanpa bakar lahan adalah sistem ini dapat di (a) mempertahankan kesuburan

tanah, (b) mempertahankan struktur tanah, (c) menjamin pengembalian unsur

hara, (d) mencegar erosi permukaan tanah dan (e) membantu pelestarian

lingkungan.

Upaya mencari alternatif pengganti teknik pembukaan lahan dengan cara

bakar dilakukan baik pada tingkat nasional maupun internasional, karena dampak

penerapan.Teknik bakar bersifat global dan tidak mengenal batas teritorial,

4
apalagi terjadi dalam skala luas. Salah satu alternatif adalah teknik tanpa bakar,

dengan berbagai variasinya. Van noordwijk et al. (1995) mengusulkan teknik

salsh-and-mulch, dimana vegetasi yang di tebang tidak di bakar, namun di tumpuk

dan di biarkan terdekomposisi secara alami dan berfungsi sebagai mulsa. Usul

yang hampir mirip di kemukakan oleh Menteri Transmigrasi dan Pemukiman,

yaitu teknik cutting-chipping-decomposition (CCD) process.

Penerapan teknik tanpa bakar dalam pembukaan lahan hutan untuk berbagi

tujuan mengandung dua kegiatan utama, yaitu penebangan, dan penumpukan,

penerbangan bisa di lakukan secara normal secara manual atau secara mekanis

tergantung kondisi tegakkan pada lahan yang akan di buka. Sedangkan penutupan

sangat mengandalkan cara mekanis.

Majid (1991) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan efektifitas dan

efisiensi pembukaan lahan, diperlukan persiapan pendahuluan untuk pelaksanaan

penebangan dan pemupukan, yang meliputi, (a) pengukuran luas areal yang akan

di buka, (b) pengukuran setiap blok, (c) pengukuran jarak tanam, (d) pembuatan

jarak masuk, (e) pembuatan onservasi air. Hal ini penting dilakukan agar

pemupukan dilakukan secara tepat.

Produktivitas penebangan secara manual yang menggunakan chainsaw

sangat rendah, yaitu hanya 0,25 ha per HOK, sehingga untuk membuka areal

seluas 1000 ha diperlukan 4000 HOK. Sedangkan produktivitas secara mekanis

yang menggunakan buldozer unutk penebangan dan pencabutan berkisar antara

3ha – 6ha per HOK, yang sangat tergantung pada tingkat keterampilan operator

5
dan komisi kerja (Majid,1997). Selain penggunakan bulldozer, pembukaan lahan

tanpa bakar juga umum menggunakan excavator dan traktor.

Penumpukan secara mekanis bertujuan untuk memastikan agar pencabutan

tunggul dapat dilaksanakan lebih cepat dan lebih sempurna dibandingkam cara

manual, Apabila pencabutan tunggu tidak sempurna, maka tunas akan cepat

muncul dari tunggul-tunggul tersebut. Cara mekanis tersebut memberikan

keuntungan tambahan karena volume bahan organik meningkat (Majid, 1997).

Pergerakan alat berat selama penumpukan menyebabkan gangguan pada

tanah, sehingga erosi permukaaaan tanah pada daerah bergelombang hingga curah

yang bersifat sementara sebelum tanaman kacangan oenutup tanah tumbuh oleh

karena itu, untuk pembukaan lahan, Majid (1997) mengusulkan beberapa

perbaikan, yaitu (a) meletakan tumpukan tambahan, (b) menggali parit, (c)

membuat plok areal dengan tumpukan kayu – kayuan yang arahnya tegak lurus

terhadap kemiringan lereng, dan ditempatkan di setiap 30 m.

Pohon – pohon yang telah ditumbangkan tersebut, selain bisa di tumpuk,

juga bisa dicecah sehingga menjadi lebih kecil (chip) agar lebih cepat

terdekomposisi. Pembukaan lahan secara mekanis dilakukan pada areal hutan

dan konversi yang di tumbukan oleh pohon – pohon besar. Pembukaan lahan

secara mekanis ini terdiri dari bebrapa pekerjaan sebagai berikut : babad

pendahuluan, yaitu membabad dan memotong pohon – kecil atau semak – semak

yang tumbuh di bawah pohon besar, menumbang, memotong pohon – pohon

besar yang berdiameter di atas 10 cm dengan menggunakan gergaji mesin atau

kapak, merencek, memotong – motong cabang – cabang dan ranting – ranting

6
kayu yang sudah tumbuh unutk memudahkan perumpukan, merumpuk, yaitu

mengumpulkan dan menumpuk hasil tebangan dan rencekan biasanya memanjang

arah utara – selatan agar dapat sinar matahari secukupnya dan cepat kering, dan

membakar, yaitu membakar rumpukan agar area bersih dari bahan – bahan yang

tidak di perlukan.

2. Pembukaan Lahan Secara Manual Dan Mekanis

Menurut A.U Lubis, (2008). Pembukaan areal hutan dapat dilakukan

dengan cara: kombinasi manual dan mekanis. Tahapan jenis pekerjaan dari kedua

cara tersebut meliputi :

a. Membabat Rintisan

Pekerjaan babat ppendahuluan di lakukan mendahului pengimasan. Semak

belukar dan pohon kecil yang diameter hingga 10 cm yang tumbuh di bawah

pohon di babat dan di potong, sehingga merupakan jalan dalam areal untuk

memudahkan pekerjaan selanjutnya. Pekerjaan ini membutuhkan 5 – 6 orang/ha.

b. Mengimas

Pengimasan adalah pemotongan semak dan pohon kayu yang berdiameter

<10 cm. dengan mengunakan parang atau kampak untuk mempermudahkan

penumbangan pohon kayu besar.

c. Menumbang Pohon

Pohon kayu yang berdiameter > 10 cm di tebang dengan mengunakan

kapak atau gergaji rantai (chain saw). Tinggi tunggul pohon yang di tumbang

disesuaikan dengan diameter batang. Waktu yang terbaik buat penebangan adalah

7
2 – 3 bulan pada bulan kering. Sebulan pekerjaan ini di mulai, agar kayu besar

yang berguna dikeluarkan dan izin dari kehutanan sudah ada.

Pekerjaan penebangan tidak perlu menuggu pengimasan selesai dan dapat

di laksanakan jika sebagian dari arela telah diimas, biasanya dilaksanakan oleh

tim yang terdiri atas dari orang dengan kelengkapan chain saw dan kapak. Dimana

tiap tim biasanya dapat di laksanakan 0,5 ha/hari. Arah penumbangan harus

mengikuti arah yang sudah di tentukan dan tidak boleh melintang sungai dan

jalan. Penumbangan pohon juga dapat dilakukan secara mekanis dengan

menggunakan bulldozer.

d. Merencek

Dari pohon yang telah di tumbang, cabang dan ranting yang relatief kecil

di potong dan d cincang (direncek), dan batang dan cabang besar dipotong dalam

ukurannya 2 – 3 (dimerun), untuk kemudian ditebar merata dalam rumpukan.

e. Membuat pancang jalur rumpukan

Jalur rumpukan di pancang pada jarak 50 atau 100 m arah utara selatan

sejajar dengan jalur tanam.

f. Merumpuk

Batang, cabang, rating yang telah di potong di kumpulkan mengikuti jalur

rumpukan yang telah di buat dengan cara mekanis.

g. Membersihkan jalur tanaman

Jalur tanam dipancang menurut jarak antar barisan tanaman (gawangan)

pada jarak 1meter di kiri kanan jalur tanaman dibersihkan dari potongan-potongan

kayu hasil rencekan. Jarak waktu antar mengimas, menumbang, merumpuk hasil

8
tebangan, dekomposisikan awal dan menanam sepadat mungkin dilakukan pada

tahun yang sama.

Pembukaan hutan secara mekanis dilakukan pada areal yang memiliki

topografi datar hingga berombak (lereng 0 – 8 %). Umumnya menumbang pohon

dilakukan dengan traktor/tree dozer atau sputter. Sistem ini diadopsi untuk

menumbangkan sebanyak mungkin pohon kayu. Pohon yang besar maupun yang

kecil di tumbang dengan traktor atau ditebang dengab gergaji rantai.

Penumbangan dimulai dari pinggir ke tengah berbentuk spiral. Pohon di

tumbangkan ke arah luar agar tidak menghalangi jalur traktor.

B. Konservasi Tanah dan Air

Salah satu dampak pembukaan lahan hutan, baik dengan dan tanpa bakar

adalah meningkatnya potensi erosi dan menurunnya infiltrasi air ke dalam tanah

dengan besaran yang berbeda di antara kedua teknik tersebut, Oleh karena itu,

penggunaan teknik konservasi tanah dan air yang tepat akan sangat membantu.

Pengendalian bisa dilakukan dengan membuat teras, tergantung kondisi

dan kemiringan lahan, misal 50 – 100, (b) teras ganda untuk areal yang

kemiringan antara 100 – 200, dan teras individu untuk areal yang kemiringan

lerengnya di atas 200 (Majid, 1997). Penumpukan batang kayu tegak lurus

terhadap kemiringan lereng pada teknik tanpa bakar akan sangat membantu

mengurangi laju erosi dan akan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah.

Drainase juga harus diperhatikan pada pembukaan lahan, Hal ini dilakukan

dengan cara pembukaan parit drainase. Jenis drainase yaitu :

9
1. Out let : Saluran utama yang mengalirkan air dari dalam ke luar kebun.

Lebar (> 3 m)

2. Primer : Penumpungan utama dari parit

Sekunder dan kaki bukit. Lebar 1,5 – 3 m, dalam > 1,2

3. Sekunder : Parit pertama yang menanmpung dan pengalirkan air dari

permukaan ke lapangan. Lebar 1 - 1,5 m, dalam 0,6 – 0,2

Drainase bertujuan untuk menurunkan permukaan air tananh, sehingga

menyediakan ruang yang baik bagi perakaran tanaman. Penanaman tanaman

kacangan penutup tanah (legume cover crop/LCC) akan memberikan keuntungan

untuk mempercepat dekomposisi sisa tumbuhan dan mengurangi erosi.

Berdasarkan percobaan Majid (1997) diketahui bahwa sistem penanaman

tanaman kacangan penutup tanah dengan pemapatan (merapatkan tanaman

kacangan penutup tanah ke tumpukan sisa–sisa tumbuhan) lebih menguntungkan.

Jenis yang digunakan dalam percobaan tersebut adalah mucuna brachteata yang

dapat mempercepat proses deko posisi sisa–sisa tumbuhan di dalam tumpukan.

Cekaman kekeringan yang sanggat tinggi pada musim kemarau

Menyebabkan tingkat kehilangan air melalui evaporasi juga tinggi. Oleh karena

itu usaha usaha untuk mengurangi tingkat evaporasi perlu di lakukan, Cara paling

sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian mulsa berbahan murah

dan bersifat insitu, misalnya dengan memnggunakan sisa tanaman atau hijauan

Legume Cover Crop (LCC).

10
C. Persiapan Tanam

Jenis – jenis pekerjaan utama dalam proses penanaman adalah : (a)

pembukaan larikan tanaman atau penempatan pancang, atau air tanam, (b)

penanaman tanaman penutup tanah kacangan, dan (c) penanaman kelapa sawit.

1. Pemancangan

Pada tahap pertama di buat rancangan larikan (barisan) tanaman serta

pancang sebagai titik tanam, di mana titik tanam kelapa sawit akan di tanam.

Pengajiran atau memancang adalah menempatkan tempat – tempat yang akan di

tanam bibit kelapa sawit. Letak ajir (pancang) harus tepat, sehingga terbentuk

barisan ajir yang lurus di lihat dari segala arah, dan kelak setiap individu tanaman

pun akan lurus terutur serta memperoleh tempat tumbuh yang sama luasnya.

Dalam keadaan yang demikian, tanaman mempunyai peluang untuk tumbuh dan

berkembang dalam kondisi yang tidak berbeda.

Sistem jarak tanaman yang digunakan umumnya adalah segitiga sama sisi

dengan jarak 9 m X 9 m X 9 m. Dengan sistem segitiga sama sisi ini, jarak utara

– selatan tanaman adalah 7,82 m dan jarak antara setiap tanaman adalah 9 m.

Populasi (kekerapatan) tanaman per ha adalah 143 pohon. Penanaman kelapa

sawit dapat juga menggunakan jarak tanam 9,5 m X 9,5 m X 9,5 m dengan jarak

tegak lurus (U-S) 8,2 dan populasi 128 pohon per hektar. Untuk mencapai

ketepatan pengajiran, pekerjaan pengajuran harus dilaksanakan oleh pekerjaan

yang terlatih.

11
2. Pembuatan Lubang Tanam

Lubang tanam harus dibuat seminggu sebelum sebelum penanaman agar

tanah yang digali dan lubang tanam mengalami pengaruh iklim sehingga terjadi

perbaikan tanah secara fisika ataupun Kimia dan dapat di lakukan pemeriksa

lubang baik ukuran maupun jumlah per hektarnya. Lubang tanam bertujuaan

untuk menyediakan ruang bagi perakasaran yang baik bagi tanaman pada fase

awal pertumbuhan di lapangan (H.P.Permadi, 2000)

Gambar 1. Lubang Tanam Standart 60 x 60 60 cm

Pembuatan lubang yang di lakukan pada saat tanam atau hanya 1 - 2 hari

sebelum tanam tidak dianjurkan. Lubang tanam kelapa sawit biasanya di buat

dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm, tetapi ada juga yang hanya berukuran 50

cm x 40 cm x 40 cm pada saat menggali. Tanah atas di taruh di sebelah dan tanah

bawah di taruh di sebelah selatan lubang, Ajir di tancapkan di samping lubang dan

bila lubang telah selesai di buat, ajir di tancapkan kembali ke tengah – tengah

lubang. Apabila tanaman akan di tanam menurut garis tinggi (kontur) atau di buat

teras melingkari bukit, letak lubang tanaman harus berada paling dekat 1,5 m dari

12
sisi lereng. Untuk penanaman kelapa sawit yang melingkari bukit, biasan nya di

buat teras – teras terlebih dahulu, baik teras individual mampun teras kolektif.

3. Ada 2 teknik pembuatan lubang tanam :

a. Manual

Peralatan yang diperlukan untuk membuat lubang tanam berupa cangkul,

alat pengukur/tongkat (mal/patron) dengan ukuran 60 cm dan 90 cm, dan post

hole digger. Teknis pengerjaan lubang tanam secara manual dilakukan dengan

tata urutan sebagai berikut.

 Lubang tanaman telah dipersiapkan 1 (satu) bulan sebelum tanam.

 Pancang tidak boleh diangkat sebelum diberi tanda untuk pembuatan

lubang tanam (90 x 90) cm diatas permukaan tanah sehingga pancang tepat berada

di tengah-tengah pola tersebut.

 Ukuran lubang tanam adalah (90 cm x 90 cm x 60 cm).

 Tanah hasil galian dipisahkan antara top soil dan sub soil. Top soil

diletakkan di sebelah selatan dan sub soil di sebelah utara secara teratur dan

seragam. Setelah lubang tanam selesai, pancang kembali ke posisi semula

 Dinding lubang tanam harus tegak lurus dan tidak boleh berbentuk lain.

 Norma prestasi melubang yaitu15 – 20 lubang/HK

b. Mekanis

Pembuatan lubang tanam secara mekanis dapat kita lakukan dengan cara

menggunakan mesin pembuat lubang (Hole Digger). Ada beberapa tipe hole

digger yang dapat kita gunakan untuk membuat lubang tanam secara mekanis.

Hole digger adalah merupakan mesin bor yang merancang khusus untuk

13
pelubangan tanaman ulang (replanting) pada sektor skala besar, mesin ini di

gerekkan oleh traktor ban/jonder (whell tractor) yang mempunyai rpm PTO 540

rpm dan kecepatan boran 180 rpm. Hole digger merupakan peralatan yang sangat

ekonomis jika di pandang dari nilai investasi dan capaian kinerja yang dihasilkan,

terutama untuk proyek besar dalam tanaman ulang jika dibandingkan dengan

melobang tanam yang memakai tenaga manual (manusia).

3. Menanam

Kegiatan menanam terdiri dari kegiatan mempersiapkan bibit di

pembibitan utama, pengangkutan bibit ke lapangan, menaruh bibit di setiap

lubang, persiapan lubang, menanam bibit pada lubang, dan pemeriksaan areal

yang sudah di tanami. Pada keadaan tertentu sepertinya penyisipan, penanaman di

daerah rawan babi, tikus,Oryctes, atau karna keterlambatan persiapan lapangan,

dan sebagainya bibit yang berumur lebih tua, yaitu 15 - 18 bulan dapat juga di

gunakan. Dalam keadaan normal tidak dianjurkan mengignat bibit tersebut akan

mengalami stress yang agak lama karena banyak nya akar yang di potong sewaktu

di bongkar dari pembibitan dan persentase kematikan bibit akan tinggi terlebih

apabila penanaman tidak di lakukan pada musim hujan.

Bibit ini memanjang sehingga perlu di pangkas atau di songkong dengan

kayu agar tidak mudah tumbang atau miring tertiup anging. Karena ukurannya

sudah besar maka pengangkutan dari tepi ke dalam lebih sulit sehingga tidak

jarang pengangkut bibit sengaja merusak polibegnya dan membuang sebagian

tanah pada akarnya. Di pembibitan sendiri pemeliharaannya sulit karena sudah

14
rapat, sukar dimasuki untuk penyiangan, pemupukan dan seleksi. A.U.Lubis

(2008).

D. Hole Digger

Hole digger adalah merupakan mesin bor yang merancang khusus untuk

pelubangan tanaman pada sektor skala besar.

Bagian-bagian Hole Digger :

1. Gear Bok Assembly

Komponen reduction gear yang digunakan adalah Replacement part for

MIT.CANTER AD-123 CROWN WHEEL & PINION (6 x 37) SH – Gear Set.

Untuk as pinion gear (gigi penggerak) kesemua bahannya adalah orisinil dari

pembelian 1seat gear tersebut. Sedangkan rumah gear dibuat dari plate ketebalan

10 mm yang bagian dalam nya dilumasi dengan oli. Bagian depan rumah gear

dibuat dari plate yang dapat dibongkar pasang (agar mudah dilakukan

pemeriksaan kerusakan) yang diikat dengan 16 baut pengikat dan dilapisin dengan

packing gabus agar oli tidak merembas bocor.

Sedangkan plate bawah (tempat keluarnya as crown wheel) ditutupi

dengan oil seal ukuran 62-85-13 mm. Agar menjamin oli tidak merembas bocor,

oil seal dapat ditambah lagi pada sisi bagian dalam plate (dipasang double).

Batok orisinil dari Replacement part for MIT. CANTER AD-123 CROWN

WHEEL & PINION (6 x 73) SH – Gear Set yang di kaitkan dengan 12 baut

pengikat di pasang timbul (keluar) dari kotak rumah gear yang di lapisi juga

dengan packing gabus agar oli tidak merembes bocor. Platte atas dibuat lubang

tempat pengisian oli, yang dapat dibuat dari baut dengan ukuran seperlunya.

15
Gambar 2. Gear Box Assembly

2. Universal Drive Shaft

Shaft (poros) pengerak ini dinamakan merupakan penyaluran tenaga PTO

(power take off) pada whell traktor. Dinamankan universal karena harus memiliki

persyaratan: Posisi as dapat membentuk sudut yang selalu berubah – ubah sesuai

dengan hidrolik dari tangan–tangan jonder ( hard lift rod adjusment).

Karena sudut as yang selalu berubah–ubah makan dibutuhkan panjang as

yang berbeda–beda pula. Disini kita menggunakan hubungan spline dan naaf

sehingga putaran as tidak akan pernah mengalami slip dan panjang as dapat

berubah–ubah. Kontruksi poros yang kokoh dan ringan. Disini kita menggunakan

pipa steam.

16
Gambar 3. Universal Shaft Drive

3. Stabiliser Bar

Stabiliser bar atau batang pensibel hole digger iini di buat dari pipa steam

ukuran1” ataupun 1 ¼” yang dilengkapi dengan stelan per sebagai penstabian

gerakan naik. Turunnya hole digger.posisi tarikan dan renggangan per dapat di

atur dengan membuat pilihan lobang pen posisi bosch dudukan penahan per.

Gambar 4. Stabiliser Bar

4. Gear Box Mounting

Gear box mounting berfungsi sebagai tempat sangkutan gear box, oleh

karena itu gear box mounting haruslah memiliki syarat utama yaitu kokoh (tahan

dari beban tarik). Bagian ini dibuat dari plate 12 mm dengan lebar bagian atas

120 mm agar konstruksi kokoh dan enak dipandang (memiliki nilai estetis).

17
Sedangkan hubungan dengan main frame digunakan mounting pen yang

berfungsi selain engsel penghubung juga berfungsi agar pegangan gear box tidak

melebar dan kaku.

Gambar 5. Gear Box Mounting

5. Main Frame

Main frame atau rangka dasar dibuat dari plate 1”pada bagian tangan

pengikat gear box mounting dan pengikat pangkal pada jonder. Sedangkan bagian

lainnya dibuat dari plate 12 mm yang dibentuk dengan las menjadi seperti balok.

Untuk penghubung pada stand dibuat pelapis plate 12 mm yang bagian dalamnya

dilapisi juga dengan pipa steam secukupnya agar rangka dasar dari main frame

tidak koyak.

Gambar 6. Main Frame

18
6. Stand

Stand atau tegakan hole digger adalah pengendali naik turunnya posisi

mata bor yang dikendaliki oleh tangan-tangan jonder (hard lift rod adjusment).

Bahagian ini dibuat dari plate 1”pada kaki bagian bawah dan plate 12 mm pada

lengan atas pengikat main frame dan stabiliser bar.

Gambar 7. Stand

Pada kaki bagian bawah dipasang pen pengikat ke tangan-tangan jonder

(hard lift rod adjusment) yang timbul kesisi luar. Agar lengan atas lebih kokoh

dan kaku dapat ditambah support (sokong) yang dilas antara lengan atas dan kaki

bagian bawah sepanjang tidak menganggu pen mounting.

19

Anda mungkin juga menyukai