Anda di halaman 1dari 11

Bladder Training

Untuk menyelesaikan tugas mandiri blok sistem urin

Disusun Oleh :

ETTI HANDAYANI (C1015010)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI

2017
A. DEFINISI BLADDER TRAINING

Bladder training adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi kandung
kencing yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal neurogenik
(Potter dan Perry, 2005). Bladder training digunakan untuk mencegah atau mengurangi buang
air kecil yang sering atau mendesak dan inkontinensia urin (tidak bisa menahan pengeluaran
urin).

Bladder training adalah suatu terapi yang sering digunakan, terutama pada pasien yang
baru saja terlepas dari kateter urin, namun bisa juga dilakukan oleh semua orang untuk lebih
melatih kekuatan otot sfingter eksterna dalam menahan pengeluran urin. Bladder training
merupakan terapi yang sangat sederhana dan tidak memiliki efek samping. Latihan ini juga
dapat dikombinasikan dengan terapi pengobatan lain. Penelitian menunjukkan adanya
peningakatan 50% pasien dengan inkontinensia urin yang menggunakan bladder training.

Terdapat tiga macam metode bladder training, yaitu kegel exercises (latihan pengencangan
atau penguatan otot-otot dasar panggul), Delay urination (menunda berkemih), dan scheduled
bathroom trips (jadwal berkemih) Suhariyanto (2008). Latihan kegel (kegel exercises)
merupakan aktifitas fisik yang tersusun dalam suatu program yang dilakukan secara
berulang-ulang guna meningkatkan kebugaran tubuh. Latihan kegel dapat meningkatkan
mobilitas kandung kemih dan bermanfaat dalam menurunkan gangguan pemenuhan
kebutuhan eliminasi urin. Latihan otot dasar panggul dapat membantu memperkuat otot dasar
panggul untuk memperkuat penutupan uretra dan secara refleks menghambat kontraksi
kandung kemih. (Kane, 1996 dalam Nursalam 2006).

Bladder training dapat dilakukan dengan latihan menahan kencing (menunda untuk
berkemih). Pada pasien yang terpasang kateter, Bladder training dapat dilakukan dengan
mengklem aliran urin ke urin bag (Hariyati, 2000). Bladder training dilakukan sebelum
kateterisasi diberhentikan. Tindakan ini dapat dilakukan dengan menjepit kateter urin dengan
klem kemudian jepitannya dilepas setiap beberapa jam sekali. Kateter di klem selama 20
menit dan kemudian dilepas. Tindakan menjepit kateter ini memungkinkan kandung kemih
terisi urin dan otot destrusor berkontraksi sedangkan pelepasan klem memungkinkan kandung
kemih untuk mengosongkan isinya. (Smeltzer, 2001).
B. TUJUAN BLADDER TRAINING

Tujuan dari bladder training adalah untuk melatih kandung kemih dan mengembalikan
pola normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran air kemih
(potter&perry, 2005). Terapi ini bertujuan memperpanjang interval berkemih yang normal
dengan berbagai teknik distraksi atau teknik relaksasi sehingga frekuensi berkemih dapat
berkurang, hanya 6-7 kali per hari atau 3-4 jam sekali. Melalui latihan, penderita diharapkan
dapat menahan sensasi berkemih. Latihan ini dilakukan pada pasien anak pasca bedah yang di
pasang kateter (Suharyanto, 2008).

1. Mengembalikan fungsi kandung kencing yang mengalami gangguan ke keadaan


normal atau ke fungsi optimal neurogenik (Potter dan Perry, 2005).
2. Memperpanjang interval berkemih yang normal dengan berbagai teknik distraksi atau
teknik relaksasi.
3. Dapat menahan sensasi berkemih.
4. Untuk mengurangi gejala dari:
- Frekuensi urin: mengeluarkan urin lebih dari 6-7 kali per hari.
- Nokturia: sering kencing di malam hari.
- Inkontinensia urge.
5. Mengembalikan tonus otot dari kandung kemih yang sementara waktu tidak ada
karena pemasangan kateter.
6. Mempersiapkan klien sebelum pelepasan kateter yang terpasang lama
7. Melatih klie untuk melakukan BAK secara mandiri
8. Mempersiapkan pelepasan kateter yang sdah terpasang lama
9. Mengembalikan tonus otot dari kandung kemih yang sementara waktu tidak ada
karena pemasangan kateter
10. Klien dapat mengontrol berkemih
11. Klien dapat mengontrol buang air besar
12. Menghindari kelembapan dan iritasi pada kulit lansia
13. Menghindari isolasi social bagi klien

C. INDIKASI BLADDER TRAINING


1. Pasien yang mengalami retensi urin.
2. Pasien yang terpasang kateter dalam waktu yang lama sehingga fungsi sfingter
kandung kemih terganggu.
3. Pasien yang menderita inkontinensia urin (inkontinensia urin stres, inkontinensia urin
urge, atau kombinasi keduanya).
4. Klien post operasi pada daerah pelvik (Nababan, 2011).
5. Klien yang pemasangan kateter dengan cukup lama
6. Klien yang akan dilakukan pelepasan dower kateter
7. Klien yang mengalami inkontenesia urin
8. Klien post operasi
9. Orang yang mengalami masalah dalam hal perkemihan
10. Klien dengan kesulitan memulai atau menghentikan aliran urin.

D. KONTRA INDIKASI BLADDER TRAINING


1. Sistitis (infeksi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya
infeksi dari uretra) berat.
2. Pielonefritis (inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang disebabkan karena
adanya infeksi oleh bakteri).
3. Gangguan atau kelainan pada uretra.
4. Hidronefrosis (pembengkakan ginjal yang terjadi sebagai akibat akumulasi urin di
saluran kemih bagian atas).
5. Vesicourethral reflux.
6. Batu traktus urinarius (Maulida, 2011).
7. Gagal ginjal

E. PERAN PERAWAT DALAM BLADDER TRAINING


Peran Perawat (termasuk pengkajian yang dilakukan saat bladder training)
Saat melepas kateter urin, perawat mengobservasi mengkaji dengan teliti apakah ada
tanda-tanda infeksi atau cidera pada meatus uretra pasien. Perawat perlu melakukan
pengkajian dan pemantauan pola berkemih setelah selesai bladder training dan
pelepasan kateter urin. Perawat medikal bedah juga harus responsif terhadap keluhan
yang mungkin timbul setelah kateter urin dilepas. Pasien diminta untuk segera
melaporkan pada perawat atau dokter jika ada keluhan yang dirasakan pasien saat
berkemih (Bayhakki. dkk, 2008).

Pengkajian yang dilakukan antara lain:


 Pola berkemih
Info ini memungkinkan perawat merencanakan sebuah program yang sering
memakan waktu 2 minggu atau lebih untuk di pelajari
 Ada tidaknya ISK atau penyakit penyebab
Bila terdapat ISK atau penyakit yang lainnya maka harus diobati dalam waktu
yang sama (Bayyhaki, 2008).
 Kebutuhan klien akan baldder training
Pastikan bahwa pasien benar-benar membutuhkan bladder training

F. PROSEDUR BLADDER TRAINING

Prosedur kerja dalam melakukan bladder training, yaitu:

1. Mengucapkan salam.
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan.
3. Ciptakan lingkungan yang nyaman dengan menutup ruangan atau tirai ruangan
(ciptakan privasi bagi klien).
4. Pelaksanaan.
a. Klien masih menggunakan kateter.
Prosedur 1 jam:
- Cuci tangan.
- Klien diberi mium setiap 1 jam sebanyak 200 cc dari pukul 07.00-19.00.
Setiap kali klien diberi minum, kateter diklem.
- Kemudian, setiap jam kandung kemih dikosongkan mulai pukul 08.00-20.00
dengan cara klem kateter dibuka.
- Pada malam hari (setelah pukul 20.00) buka klem kateter dan klien boleh
minum tanpa ketentuan seperti pada siang hari.
- Prosedur terus diulang sampai berhasil.

Prosedur 2 jam:

- Cuci tangan.
- Klien diberi minum setiap 2 jam sebanyak 200 cc dari pukul 07.00- 19.00.
Setiap kali diberi minum, kateter diklem.
- Kemudian, setiap jam kandung kemih dikosongkan mulai pukul 08.00-21.00
dengan cara klem kateter dibuka.
- Pada malam hari (setelah pukul 21.00) buka klem kateter dan klien boleh
minum tanpa ketentuan seperti pada siang hari.
- Prosedur terus diulang sampai berhasil.
b. Pada klien yang tidak menggunakan kateter.
- Cuci tangan.
- Klien diberi minum setiap 1 jam sebanyak 200 cc dari pukul 07.00-19.00, lalu
kandung kemih dikosongkan.
- Kateter dilepas.
- Monitor pengeluaran urin klien setiap 8 jam selama 1-2 hari setelah pelepasan
kateter.
- Atur posisi yang nyaman untuk klien, bantu klien untuk konsentrasi BAK,
kemudian lakukan penekanan pada area kandung kemih dan lakukan
pengosongan kandung kemih setiap 2 jam secara urinal.
- Berikan minum terakhir pukul 19.00, selanjutnya klien tidak boleh diberi
minum sampai pukul 07.00 pagi untuk menghindari klien berkemih pada
malam hari.
- Beritahu klien bahwa pengosongan kandung kemih selanjutnya dijadwalkan
setiap 2 jam sekali, apabila ada rangsangan BAK sebelum 2 jam klien
diharuskan untuk menahannya.
- Buatlah sebuah jadwal bagi pasien untuk mencoba mengosongkan kandung
kemih secara urinal.
- Anjurkan klien untuk menggunakan Kegel exercise dan teknik pengosongan
kandung kemih.
5. Alat-alat dibereskan.
6. Akhiri interaksi dengan mengucapkan salam.
7. Dokumentasi (http://www.anvita.info).

Prosedur bladder training yang dapat dilakukan secara mandiri, yaitu :

1. Cobalah untuk buang air kecil pada waktu yang teratur. Mulailah dengan memilih
interval waktu (jumlah waktu), seperti satu jam.
2. Selama satu hari, pergilah ke kamr mandi setiap jam toileting yang telah dijadwalkan,
terlepas dari apakah toileting atau tidak. Hal ini untuk melatih kandung kemih
mematuhi jadwal yang telah dibuat. Jumlah urin yang dikeluarkan tidaklah penting.
3. Jika selama 4 hari metode per jam ini berhasil, maka tingkatkan interval toileting 15-
30 menit selama 4 hari berikutnya.
4. Jangan menambah interval waktu sampai interval waktu awal dipenuhi. Tingkatkan
interval waktu 15-30 menit sampai dapat menahan kencing selama 3-4 jam.
5. Buatlah jadwal khusus untuk toileting dan jangan melanggar jadwal tersebut.
6. Jika merasa ingin sekali toileting, maka cobalah tahan dan gunakan teknik relaksasi
(napas dalam). Jika terpaksa, maka diperbolehkan untuk toileting, namun tetap
mengikuti jadwal toileting yang dibuat sebelumnya
(http://www.womensbladderhealth.com/).

Cara untuk mengurangi urgensi:

1. Lakukan Kegel exercise selama 10 detik dan ulangi selama beberapa kali.
2. Beberapa macam teknik Kegel exercise yang dapat dilakukan:
a. Elevator
Bayangkan bahwa panggul Anda adalah lift. Ketika otot-otot rileks, Anda berada
di lantai dasar. Perlahan-lahan tarik otot Anda sampai lantai kedua, kemudian
berhenti. Kemudian tarik sekuat mungkin untuk mencapai lantai tiga, berhenti.
Kembali ke lantai dua, berhenti. Kemudian rileks sepenuhnya dan kembali ke
lantai dasar. Ambil napas dalam dan ulangi selama beberapa kali.
b. Teknik Cepat
Kontraksikan dan relaksasikan otot-otot pelvik secepat mungkin 5 kali secara
beraturan. Relaksasi 10 detik, kemudian ulangi.
c. Long Haul
Kontraksikan otot-otot pelvik sekuat yang klien bisa. Lakukan teknik ini 1
kali/hari untuk menghindari kelelahan otot.
3. Aktivitas mental juga dapat digunakan untuk menarik perhatian dari keinginan untuk
buang air kecil. Hal ini dapat digunakan sendiri atau bersama dengan latihan otot
panggul. Sebagai contoh, cobalah menghitung mundur dari seratus, melakukan latihan
pernapasan dalam, membaca puisi, atau menonton program televisi untuk
mengalihkan perhatian diri dari dorongan untuk berkemih
(http://www.womensbladderhealth.com/).

Cara untuk Mengoptimalkan Kerja Bladder Training


Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu mengoptimalkan
kerja dari bladder training, yaitu:

1. Batasi konsumsi kafein (kopi, teh, soda, dan cokelat) karena kafein bersifat diuretik
serta batasi atau hindari konsumsi alkohol.
2. Batasi atau hindari konsumsi makanan yang mengandung pemanis buatan yang dapat
membuat penyakit pada kandung kemih bertambah parah.
3. Jagalah IMT dalam batas normal (http://kemh.health.wa.gov.au/).
4. Jangan mengurangi dengan drastis intake cairan untuk menghindari toileting, minimal
intake cairan adalah 5-6 gelas per hari.
5. Minum hanya volume moderat cairan. Anjurkan klien untuk intake cairan minimum
(5-6 cangkir) non-kafein, non-karbonasi setiap hari. Pengurangi cairan setelah pukul
18:00 harus dilakukan apabila klien bangun lebih dari sekali di malam hari untuk
buang air kecil. Cara Jangan minum dalam jumlah banyak sekaligus (lebih dari 8-10
gelas) karena dapat membanjiri kandung kemih dan membuatnya lebih sulit untuk
menahan urin.
6. Kosongkan kandung kemih sebelum tidur. Hal ini bisa dilakukan dengan tidak minum
selama 2-3 jam sebelum tidur. Metode ini dilakukan untuk menghindari toileting pada
malam hari. Hal ini juga dapat membantu agar bisa toileting tepat waktu pada pagi
hari.
7. Selalu kosongkan kandung kemih secara komplit. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
memberikan kontraksi ektra pada akhir setiap kali berkemih.
8. Kosongkan kandung kemih sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual.
9. Konsumsi jus apel, anggur, dan cranberry satu sampai dua gelas sehari untuk
membantu meningkatkan kerja kandung kemih.

Schedule bathroom trips

1. Beritahu klien untuk memulai jadwal berkemih pada bangun tidur, setiap 2-3 jam
sepanjang siang dan sore hari sebelum tidur dan 4 jam sekali pada malam hari.
2. Beritahu klien minum yang banyak sekitar 30 menit sebelum waktu jadwal untuk
berkemih
3. Beritahu klien untuk menahan berkemih dan memberitahu perawat jika rangsangan
berkemihnya tidak dapat ditahan
4. Klien di suruh menunggu atau menahan berkemih dalam rentang waktu yang telah
ditentukan 2-3 jam sekali
5. 30 menit kemudian, tepat pada jadwal berkemih yang telah ditentukan, mintalah klien
untuk memulai berkemih dengan teknik latihan dasar panggul.

Kegel Exercise

1. Minta kllien untuk mengembil posisi duduk atau berdiri


2. Instruksikan klien untuk mengencangkan otot-otot di sekitar anus
3. Minta klien mengencangkan otot bagian posterior dan kemudian kontraksikan otot
anterior secara perlahan sampai hitungan ke empat
4. Kemudian minta klien untuk merelaksasikan otot secara keseluruhan
5. Ulangi latihan 4 jam sekali, saat bangun tidur sealam 3 bulan
6. Apabila memungkinkan, anjurkan Sit-Up yang dimodifikasi (lutut di tekuk) kepada
klien

Delay Urination

1. Instruksikan klien untuk berkonsentrasi pada otot panggul


2. Minta klien berupaya menghentikan aliran urine selama berkemih kemudian
memulainya kembali
3. Praktikan setiap kali berkemih
DAFTAR PUSTAKA

Johnson, Kimball. 2012. Bladder Training. Incontinence & Overactive Bladder Health.
Online (http://www.webmd.com/urinary-incontinence-oab/bladder-training-
techniques). Diakses tanggal 26 Mei 2015.

Maulida, Ana. 2011. Bladder Training.


Online(http://www.docstoc.com/docs/79963287/BLADDER-TRAINING---DOC#).
Diakses tanggal 26 Mei 2015.

Nababan, TJ. 2011. Pengaruh Bladder Retention Training terhadap Kemampuan Mandiri
Berkemih pada Anak di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Skripsi.
Online (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24523/7/Cover.pdf). Diakses
tanggal 26 Mei 2015.

Potter, Patricia A. dan Perry, Anne Griffin. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi 4. Jakarta: EGC.

Phisiotherapy Department. 2009. Bladder Training Information Sheet. Women and Newborn
Health Service. King Edward Memorial Hospital. Online
(http://kemh.health.wa.gov.au/brochures/consumers/wnhs0427.pdf). Diakses tanggal
26 Mei 2015 .

.2014. Bladder Training Protocol. Anvita Heatlh:


Actionable Health Inteligence. Online
(http://www.anvita.info/wiki/Bladder_Retraining_Protocol). Diakses tanggal 05 Juni
2014.

http://www.womensbladderhealth.com/pdf/bladdertraining.pdf

Bayhakki, dkk. 2008. Jurnal Keperawatan Indonesia: BLADDER TRAINING


MODIFIKASI CARA KOZIER PADA PASIEN PASCABEDAH ORTOPEDI
YANG TERPASANG KATETER URIN. Vol 12 No 1, Hal 7-13.