Anda di halaman 1dari 97

SKRIPSI

HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN PERSONAL HYGIENE


LANSIA DI WILAYAH RW 04 DESA GUMAYUN KECAMATAN
DUKUHWARU KABUPATEN TEGAL

Disusun Oleh

EVI WIDIASTUTI

C1015014

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

BHAKTI MANDALA HUSADA

2019

i
SKRIPSI
HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN PERSONAL HYGIENE
LANSIA DI WILAYAH RW 04 DESA GUMAYUN KECAMATAN
DUKUHWARU KABUPATEN TEGAL

Di susun oleh :

EVI WIDIASTUTI
C1015014

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN & NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BHAKTI MANDALA HUSADA
2019

ii
STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI PERNYATAAN
KEASLIAN
PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN
SKRIPSI

Saya yang bertandatangan di bawah ini :

Nama : Evi Widiastuti


Nim : C1015014

Dengan ini menyatakan bahwa dalam penelitian skripsi ini, saya :


1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan
mempertanggung jawabkan
2. Tidak melakukan plagiasi terhadap naskah karya orang lain
3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli
atau tanpa pemilik karya
4. Tidak melakukan memanipulasi dan pemalsuan data
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas
karya ini

Jika di kemudian hari ada tuntutan dari pihak atas karya saya, dan telah melalui
pembuktian yang dapat dipertanggung jawabkan, ternyata memang ditemukan
bukti bahwa saya telah melanggar pernyataan ini, maka saya siap dikenai sanksi
berdasarkan aturan yang berlaku di STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Slawi, Juli 2019


Menyatakan

Evi Widiastuti

iii
HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN PERSONAL HYGIENE
LANSIA DI WILAYAH RW 04 DESA GUMAYUN KECAMATAN
DUKUHWARU KABUPATEN TEGAL
Evi Widiastuti1), Dwi Budi P2), Arif Rakhman3)

1)
Mahasiswa Keperawatan, STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi 52416, Tegal,
Indonesia
2)3)
Dosen Ilmu Keperawatan STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi 52416, Tegal,
Indonesia

Email : eviwidiastuti97@gmail.com

Abstrak

Semakin bertambahnya usia akan semakin berkurang kemampuannya dalam


melakukan kebersihan diri, hal ini berarti lansia akan bergantung kepada keluarga
untuk memenuhi kebutuhan kebersihan diri. Keluarga memiliki peran yang sangat
penting terhadap pemenuhan kebutuhan kebersihan diri lansia. Tujuan penelitian
ini untuk mengetahui hubungan peran keluarga dengan personal hygiene lansia di
Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal. Jenis
penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan rancangan deskriptif
korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah
lansia yang tinggal bersama keluarga di RW 04 Desa Gumayun. Teknik sampling
pada penelitian ini menggunakan total sampling berjumlah 92 responden. Alat
penelitian kuesioner. Hasil penelitian menunjukan lansia di RW 04 Desa
Gumayun didominasi oleh lansia yang berjenis kelamin perempuan (54,3%), tidak
tamat sekolah (59,8%) dan yang tidak bekerja (64,1%), peran keluarga sebagian
besar dalam kategori kurang (46,7%), personal hygiene terpenuhi (56,6%).
Kesimpulan dari penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara peran
keluarga dengan personal hygiene lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun
Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal (p value 0,000 < 0,05). Diharapkan
keluarga lebih memperhatikan peran keluarga yang meliputi sebagai motivator,
educator dan fasilitator dalam memenuhi kebutuhan personal hygiene-nya.

Kata kunci : Peran keluarga, personal hygiene, lansia

iv
THE RELATIONSHIP OF FAMILY ROLE AND ELDERLY PERSONAL
HYGIENE AT GUMAYUN VILLAGE, DUKUHWARU DISTRICT,
TEGAL REGENCY
Evi Widiastuti1), Dwi Budi P2), Arif Rakhman3)
1)
Student of Nursing, STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi 52416, Tegal, Indonesia
2)3)
Lecturers of Nursing, STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi 52416, Tegal, Indonesia

Email : eviwidiastuti97@gmail.com

Abstract

The more age increases the less ability to do personal hygiene, this means that the
elderly will depend on their families to fulfill their personal hygiene needs. The
family has a very important role in fulfilling the elderly’s personal hygiene needs.
The research purpose was to find out the relationship of family role and elderly
personal hygiene at RW 04 Gumayun Village, Dukuhwaru District, Tegal
regency. The research type was a descriptive correlational study with cross
sectional approach. The population was elderly who lived with their families at
RW 04 Gumayun Village. The sampling technique used total sampling as 92
respondents. The research instrument was questionnaire. The research result
showed that the elderly people at RW 04 Gumayun Village were dominated by
the characteristics like the elderly were female (54.3%), their education did not
finish school (59.8%) and they did not work (64.1%). The family role was mostly
in “less” category (46.7%), and the personal hygiene was fulfilled (56.6%). The
conclusion was that there was a significant relationship between the family role
and the personal hygiene of the elderly at RW 04 Gumayun Village, Dukuhwaru
District, Tegal Regency (p value of 0.000 < 0.05). Families are expected to pay
more attention to the family role such as motivator, educator and facilitator in
fulfilling the personal hygiene needs.

Key words : Family role, personal hygiene, elderly

v
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat
dan Karunia-Nya sehingga peneliti masih diberikan nikmat sehat dan kesempatan
untuk dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungan Peran Keluarga
dengan Personal Hygiene Lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan
Dukuhwaru Kabupaten Tegal”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan
menyelesaikan tugas akhir Program Studi Sarjana Keperawatan dan Ners di
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Mandala Husada Slawi. Dalam
penyusunan skripsi ini peneliti menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-
pihak yang telah membantu dan memberi dukungan dalam penyelesaian skripsi
ini :
1. Dr. Risnanto, M.Kes selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti
Mandala Husada Slawi.
2. Dwi Budi Prastiani, M.Kep.Ns.Sp.Kep.Kom selaku Ketua Prodi Sarjana
Keperawatan dan Ners STIKes Bhamada Slawi serta selaku pembimbing I
yang telah banyak memberikan bimbingan, kritik, saran dan motivasi kepada
peneliti dalam penyusunan skripsi ini.
3. Arif Rakhman, S.Kep.Ns.,MAN selaku pembimbing II yang telah sabar
memberikan bimbingan, kritik dan saran secara mendetail mengenai
kekurangan dan kesalahan yang dilakukan peneliti selama proses penyusunan
skripsi.
4. Khodijah, S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku penguji yang telah banyak memberikan
saran serta masukan untuk penyusunan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Bhamada Slawi ,
yang telah membimbing dan mendidik peneliti selama melakukan kegiatan
perkuliahan dari semester satu hingga semester delapan
6. Kedua orang tua tercinta yang saya sayangi dan cintai Bapak Sugiri dan Ibu
Musiyam yang selalu memberikan semangat, do’a dan dukungan dalam
penyusunan skripsi ini .

vi
7. Kepada adik-adik saya tercinta Dimas Wahyu A, Triana Gardianti dan Diaj
Ayu Aryani yang selalu memberi dukungan pada saya
8. Kepada sahabat tercinta, teman seperjuangan masa sulit penyusunan skripsi,
Wilina Agustin, Pipit Fitriyani dan Tri Suci yang selalu memberi dukungan
dan selalu membantu ketika dalam kesusahan.
9. Tegal Hermawan dan Ayu Mei Aisyah terimakasih atas dukungannya.
10. Teman-teman seperjuangan, Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes
Bhamada Slawi angkatan tahun 2015 yaitu kelas 4A dan 4B yang saling
mendukung dalam melakukan penelitian.

Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan
baik dari teknik penulisan maupun dari segi materi, mengingat akan kemampuan
yang dimiliki oleh peneliti. Untuk kritik dan saran dari semua pihak sangat
peneliti harapkan demi penyempurnaan tugas ini. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi pembacanya, khususnya para mahasiswa yang akan melakukan
penelitian selanjutnya pada kajian yang sama. Peneliti berharap semoga Allah
SWT membalas amal dan jasa pada mereka yang telah membantu dalam
penulisan skripsi ini.

Tegal, Juli 2019

Peneliti

vii
DAFTAR ISI

Halaman
Cover ..............................................................................................................
Cover Dalam ..................................................................................................
Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ..................................................
ABSTRAK ......................................................................................................
ABSTRACT ....................................................................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ....................................................................................................
DAFTAR TABEL ............................................................................................
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN ..............................................................................
1.1 Latar Belakang Penelitian ............................................................... 1
1.2 Tujuan Penelitian ............................................................................ 4
1.3 Manfaat Penelitian ......................................................................... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Personal Hygiene .......................................................................... 6
2.2 Lansia ............................................................................................. 11
2.3 Peran Keluarga .............................................................................. 15
2.4 Kerangka Teori............................................................................... 19
2.5 Kerangka konsep ............................................................................ 20
2.6 Hipotesis ......................................................................................... 21

BAB 3 METODE PENELITIAN


3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian ..................................................... 22
3.2 Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data ................................ 22
3.3 Populasi dan Sampel ...................................................................... 26
3.4 Besar Sampel ................................................................................. 27
3.5 Tempat dan waktu penelitian ......................................................... 27

viii
3.6 Definisi operasional variabel penelitian dan skala pengukuran .... 28
3.7 Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data ................................... 29
3.8 Etika Penelitian .............................................................................. 31
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian ................................................................................. 33
4.2 Pembahasan ...................................................................................... 36
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ....................................................................................... 45
5.2 Saran ................................................................................................. 45
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 46
LAMPIRAN .....................................................................................................
Lampiran 1 (Lembar Informed Consent) ................................................
Lampiran 2 (Lembar Kuesioner A Identitas Responden) ......................
Lampiran 3 (Lembar Kuesioner B Peran Keluarga) ..............................
Lampiran 4 (Lembar Kuesioner C Personal Hygiene) ..........................
Lampiran 5 (Jadwal Penelitian) ..............................................................
Lampiran 6 (Lembar Hasil Penelitian) ...................................................
Lampiran 7 (Lembar Dokumentasi)
Lampiran 8 (Lembar Konsultasi)............................................................
Curriculum Vitae ....................................................................................

ix
DAFTAR TABEL

Tabel
Halaman

3.1 Indikator Pertanyaan Variabel....................................................................... 23


3.2 Definisi Operasional......................................................................................27
4.1 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Jenis Kelamin ..............................33
4.2 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Tingkat Pendidikan .....................33
4.3 Distribusi Frekuensi Lansia Karakteristik Responden Berdasarkan
Status Pekerjaan ............................................................................................34
4.4 Distribusi Frekuensi Peran Keluarga ............................................................ 34
4.5 Distribusi Frekuensi Personal Hygiene Lansia ............................................. 35
4.6 Hubungan Peran Keluarga dengan Personal Hygiene Lansia ...................... 35

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar
Halaman

2.1 Kerangka Teori........................................................................................... 19

2.2 Kerangka Konsep ....................................................................................... 20


DAFTAR SINGKATAN
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang usianya sudah lebih dari 60 tahun,
yang akan mengalami proses penuaan atau aging process, dimana merupakan
suatu proses menghilangnya secara perlahan – lahan kemampuan jaringan
untuk memperbaiki dan mempertahankan fungsi normalnya. Lansia yang
mengalami proses menua ditandai dengan berkurangnya sel-sel yang ada di
dalam tubuh dan tubuh juga akan mengalami penurunan fungsi organ tubuh
secara perlahan. Hal ini akan menimbulkan masalah baru pada lansia
(Bandiyah, 2009).

Data dari Kementrian Kesehatan RI tahun 2014, pertambahan prosentase


penduduk lansia di Indonesia dan dunia nampak adanya kecenderungan
peningkatan dibanding kelompok lainnya yang cukup pesat sejak tahun 2013
(8,9% di Indonesia dan 13,4% di dunia) hingga tahun 2050 (21,4 % di
Indonesia dan 25,3% di dunia dan 2100 (41% di Indonesia dan 35,1% di
dunia). Menurut WHO, tahun 2025 Indonesia akan mengalami peningkatan
penduduk lanjut usia sebesar 41,4% yang merupakan peningkatan tertinggi di
dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memperkirakan
bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia akan mencapai hingga kurang
lebih 60 juta jiwa pada tahun 2050 dan meletakan posisi Indonesia pada urutan
ke-4 setelah China, India, dan Amerika Serikat untuk jumlah penduduk lansia
terbanyak (Sudarsih & Sandika, 2016).

Lansia di Jawa Tengah jumlahnya mencapai 3,57 juta jiwa atau 10.81% dari
seluruh penduduk Provinsi Jawa Tengah, naik menjadi 3,98 juta jiwa atau
sebesar 11,79% pada tahun 2015. Sedangkan berdasarkan hasil Angka
Proyeksi Penduduk tahun 2016, jumlah lansia di Provinsi Jawa Tengah
meningkat menjadi 4.14 juta jiwa atau sebesar 12,18%. Bertambahnya jumlah
lansia di Jawa Tengah akan berdampak pada lansia, Masalah yang dialami
lansia yaitu tentang kebersihan diri (BPS Provinsi Jateng, 2016).

Masalah yang sering terjadi terutama pada lansia yang paling utama adalah
tentang kebersihan diri yang mencakup tentang kebersihan kepala seperti
rambut, kebersihan badan, memotong kuku secara rutin, kebersihan mulut,
dan bagian tubuh yang lainnya (Nugroho, 2015). Kebersihan diri dipengaruhi
oleh beberapa faktor dari pribadi, sosial dan budaya. Masalah kebersihan
sangat kurang diperhatikan oleh lansia karena penurunan fungsi tubuh yang
mungkin sudah tidak mampu ke kamar mandi, karena suatu penyakit tertentu
atau bisa karena beberapa lansia masih ada yang menganggap bahwa
kebersihan diri tidak penting padahal kurangnya menjaga kebersihan dapat
menyebabkan terjadinya penyakit dan dapat mempengaruhi kesehatan yang
lainnya. Selain itu yang berhubungan dengan kurangnya kebersihan diri
adalah gangguan rasa nyaman, kebutuhan dicintai, kebutuhan harga diri,
aktualisasi diri, gangguan interaksi sosial dan masalah-masalah yang lainnya
(Muko, 2014)

Hasil penelitian Chairil pada tahun 2017 dengan 59 responden lansia,


menunjukan bahwa lansia di UPT PSTW Khusnul Khotimah Pekanbaru
memiliki perilaku personal hygiene yang tidak baik yaitu terdapat 31 lansia
(53,5%) tidak melakukan perawatan gigi dan 41 lansia (69,5%) tidak
melakukan perawatan kebersihan kuku. Hal ini dipengaruhi oleh faktor
kebiasaan, faktor pendidikan lansia, dan usia lansia. Keluarga memiliki peran
yang sangat penting dalam upaya perawatan pada lansia yang diharapkan akan
dilakukan seseorang yang kemudian akan memberikan sifat kemandirian
dalam pemenuhan kebutuhan pada lansia. Apabila mengaitkan dukungan
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan Maslow bagi individu, maka keluarga
merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
Keluarga dipandang sebagai seseorang yang paling dekat yang dapat
memenuhi kebutuhan manusiawi terutama untuk kebutuhan bagi perawatan
dalam kehidupan sehari-hari (Isro’in & Andarmoyo, 2012).

Keluarga mempunyai peran dalam menjaga kesehatan lansia. Keluarga


sebagai motivator dapat membantu dan memberi motivasi pada lansia yang
tujuannya agar lansia yang tidak mampu melakukan kebersihan diri dapat
melakukannya. Adanya bantuan keluarga, lansia bisa aktif dalam memenuhi
kebutuhan personal hygiene sendiri. Keluarga dapat membantu menyiapkan
air untuk mandi, memandikan lansia yang tidak mampu melakukan sendiri,
membantu dalam mebersihkan rambut, membantu memakaikan pakaian, dan
kebutuhan kebersihan diri lainnya. Keluarga sebagai orang terdekat
diharapkan mampu merawat dan membantu memberikan perawatan diri pada
lansia agar terhidar dari berbagai macam penyakit (Nugroho dalam
Widyaningsih, 2013).

Peran keluarga yang baik maka pemenuhan kebutuhan keluarga itu sendiri
akan baik. Sama dengan halnya dalam pemenuhan kebutuhan personal
hygiene lansia juga akan baik. Adanya pengaruh peran keluarga dalam
keikutsertaan yang dimiliki oleh lansia maka mereka mampu melakukan
kebutuhan personal hygiene. Namun apabila peran keluarganya rendah maka
mereka tidak akan memenuhi kebutuhan perawatan diri yang baik sehingga
dapat berakibat pada kesehatan. Peran keluarga dalam upaya pemenuhan
kebutuhan individu karena keluarga merupakan orang pertama yang paling
dekat dan dapat memenuhi kebutuhan lansia (Hidayat, 2009).

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Gumayun RW 04 RT 11 pada


tanggal 18 Maret 2019. Dengan melakukan wawancara pada 10 lansia
didapatkan data sebagian besar lansia dan keluarga kurang memperhatikan
kebersihan diri pada lansia. Mengenai peran keluarga tehadap pemenuhan
kebutuhan kebersihan diri, ada 4 lansia mengatakan keluarganya memenuhi
kebutuhan kebersihan diri lansia seperti kebersihan rambut, alat kelamin,
kuku, telinga dan hidung. Sedangkan 6 lansia mengatakan keluarganya kurang
memenuhi kebutuhan kebersihan diri seperti terdapatnya kutu pada rambut,
kuku yang panjang dan kotor, telinga yang kotor. Kondisi umum lansia yang
tinggal bersama keluarganya menunjukan keluarga mempunyai peranan
penting pada kehidupan orang lanjut usia. Desa Gumayun merupakan desa
yang cukup padat penduduk dan hampir setiap rumah terdapat lansia.

Hasil pengamatan peneliti, lansia di desa Gumayun banyak yang kurang


terawat kebersihannya. Masih banyak lansia yang kurang diperhatikan oleh
anggota keluarganya. Keluarga tidak perduli ketika lansia tidak mandi,
kebanyakan mempunyai kuku yang panjang dan kotor, rambutnya kotor,
kondisi gigi dan mulut yang kotor, rata-rata lansia menggunakan pakaian yang
seadanya dan kotor. Kurangnya perhatian tersebut akan berdampak pada
masalah kesehatan pada lansia. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti
tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai “Hubungan Peran Keluarga
dengan Personal Hygiene Lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun
Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal”.

1.2. Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan peran keluarga dengan personal
hygiene lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru
Kabupaten Tegal.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.2.2.1 Mengidentifikasi karakteristik lansia berdasarkan jenis kelamin,
pendidikan dan status pekerjaan lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun
Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal.
1.2.2.2 Mengidentifikasi peran keluarga dengan lansia di Wilayah RW 04 Desa
Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal.
1.2.2.3 Mengidentifikasi personal hygiene lansia di Wilayah RW 04 Desa
Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal.
1.2.2.4 Menganalisis hubungan peran keluarga dengan personal hygiene lansia di
Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal.
1.3 Manfaat Penelitian
1.3.1 Manfaat Keilmuan
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan pertimbangan dalam menciptakan
tenaga kerja keperawatan yang professional dan adanya kerja sama antara
institusi pendidikan dengan rumah sakit sebagai mitra pengembangan
dalam mempersiapkan perawat professional.
1.3.2 Manfaat Aplikatif
Penelitian ini diharapkan dapat sebagai bahan pertimbangan bagi
mahasiswa yang akan menghadapi praktek keluarga, gerontik dan
komunitas lansia.
1.3.3 Manfaat Metodologis
Penelitian ini diharapkan menjadi referensi baik secara teori maupun data
bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mengembangkan penelitian
tentang peran keluarga dan personal hygiene lansia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Personal Hygiene

2.1.1 Definisi Personal Hygiene


Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani, berasal dari kata personal yang
artinya perorangan, dan hygiene berarti sehat. Dapat diartikan bahwa kebersihan
perorangan atau personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara
kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan baik fisik maupun
psikisnya (Is’roin & Andarmoyo, 2012). Personal hygiene harus senantiasa
terpenuhi karena merupakan pencegahan primer yang spesifik untuk
meminimalkan pintu masuk mikroorganisme bakteri yang pada akhirnya
mencegah seseorang terkena penyakit (Nofrianda, 2014)

Menurut Saryono dan Widianti (2011), Personal hygiene merupakan perawatan


diri, dimana seseorang merawat fungsi-fungsi tertentu seperti perawatan kulit,
mandi, perawatan mulut, perawatan mata, hidung, telinga, perawatan rambut,
perawatan kaki dan kuku serta perawatan genetalia. Personal hygiene atau
kebersihan diri diperlukan untuk kenyamanan, keamanan, dan kesehatan
seseorang. Kebersihan diri merupakan langkah awal mewujudkan kesehatan diri,
dengan tubuh yang bersih meminimalkan resiko seseorang terkena penyakit
seperti penyakit kulit, infeksi, penyakit menular dan penyakit saluran cerna.

2.1.2 Tujuan Perawatan Personal Hygiene


Menurut Is’roin dan Andarmoyo (2012) tujuan perawatan personal hygiene
seperti meningkatkan derajat kesehatan seseorang, memelihara kesehatan diri
seseorang, memperbaiki personal hygiene yang kurang, pencegahan penyakit dan
meningkatkan percaya diri seseorang.
2.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene
Perilaku kebersihan diri dapat dipengaruhi oleh nilai serta kebiasaan yang dianut
individu, di samping faktor budaya, sosial, norma keluarga, tingkat pendidikan,
status ekonomi dan lain sebagainya. Adanya masalah pada kebersihan diri akan
berdampak pada kesehatan seseorang. Saat seseorang sakit salah satu
penyebabnya mungkin adalah kurangnya kebersihan diri. Ini harus menjadi
perhatian kita bersama, sebab kebersihan merupakan faktor penting dalam
mempertahankan derajat kesehatan individu (Muko, 2014)

Menurut Dr. Lyndon Saputra (2013), faktor-faktor yang mempengaruhi personal


hygiene:

2.1.3.1 Kebiasaan
Kebiasaan seseorang berpengaruh dalam kebersihan diri. Contohnya setiap
individu memiliki kebiasaan tersendiri kapan akan memotong rambut,
menggunting kuku, mencuci rambut dan bahkan kebiasaan tersendiri untuk mandi
dua kali sehari, satu kali sehari, atau tidak mandi. Kebiasaan juga berkaitan
dengan penggunaan produk – produk tertentu dalam melakukan perawatan diri,
misalnya menggunakan sabun padat atau cair.

2.1.3.2 Budaya
Kepercayaan kebudayan klien dan nilai pribadi mempengaruhi perawatan
hygiene. Orang dari latar budaya yang berbeda mengikuti praktik perawatan diri
yang berbeda.

2.1.3.3 Tingkat Pengetahauan


Pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan
mempengaruhi praktik hygiene. Klien harus termotivasi untuk memelihara
perawatan diri. Seringkali pembelajaran tentang penyakit mendorong klien untuk
meningkatkan hygiene.

2.1.3.4 Status Sosial Ekonomi


Sumber daya ekonomi seseorang dipengaruhi jenis dan tingkat praktik kebersihan
yang digunakan. Perawat harus menentukan apakah klien dapat menyediakan
bahan-bahan yang penting (deodoran, sampo, pasta gigi, dan kosmetik) yang
merupakan bagian dari kebiasaan sosial yang dipraktikan oleh kelompok sosial
klien.

2.1.3.5 Status Kesehatan serta Kondisi Fisik dan Mental


Lansia yang sedang sakit atau yang mempunyai keterbatasan fisik dan gangguan
mental akan terhambat kemampuannya untuk merawat diri secara mandiri seperti
memerlukan bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan personal hygiene.

2.1.4 Dampak Personal Hygiene


Menurut Isroin dan Andarmoyo (2012), dampak dari personal hygiene:
2.1.4.1 Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya
kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah :
gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata
dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.

2.1.4.2 Gangguan Psikososial


Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan
kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, aktualisasi diri
menurun, dan gangguan dalam interaksi sosial.

2.1.5 Macam-macam Personal Hygiene


Menurut Wartonah & Tarwotoh (2006) Macam-macam personal hygiene antara
lain :
2.1.5.1 Kebersihan Kulit
Fungsi kulit dan badan yaitu melindungi bagian tubuh atau jaringan dibawahnya
terhadap pukulan, untuk mencegah masuknya kuman penyakit, kedinginan dan
lain-lain. Sebagai panca indera peraba dan perasa, mengatur suhu tubuh,
mengeluarkan ampas atau zat yang tidak terpakai. Tempat memasukan obat secara
injeksi.

Keberihan kulit dan kerapian dalam berpakaian klien lanjut usia perlu tetap
dipertahankan agar penampilan mereka tetap segar, usaha membersihlan kulit
dapat dilakukan dengan cara mandi setiap hari secara teratur paling sedikit 2 kali
sehari. Manfaat mandi pada lansia seperti menghilangkan bau, menghilangkan
kotoran merangsang peredaran darah, memberi kesegaran pada tubuh.
Pengawasan yang perlu dilakukan selama perawatan kulit adalah memeriksa ada
tidaknya luka atau lecet, mengoleskan minyak pelembab kulit setiap selesai mandi
agar kulit tidak terlalu kering atau keriput, menggunakan air hangat untuk mandi
yang berguna untuk merangsang peredaran darah dan mencegah kedinginan.

Lanjut usia mempunyai potensi besar untuk terjadinya dekubitus, karena


perubahan kulit berkaitan dengan bertambahnya usia, antara lain: berkurangnya
jaringan lemak subkutan, berkurangnya jaringan kolagen dan elastisitas,
menurunnya efisiensi kolateral kapiler pada kulit sehingga kulit menjadi lebih
tipis dan rapuh, ada kecenderungan lanjut usia menngalami imobilisasi sehingga
berpotensi terjadi dekubitus. Dalam memelihara kebersihan kulit kebiasaan-
kebiasaan yang harus selalu diperhatikan adalah minimal mandi 2 kali dalam 1
hari, mandi memakai sabun dan menjaga kebersihan pakaian

2.1.5.2 Kebersihan Kepala dan Rambut


Tujuan membersihkan kepala adalah menghilangkan debu dan kotoran yang
melekat dirambut dan kulit kepala. Lansia yang masih aktif dapat mencuci
rambutnya sendiri, hal yang perlu diperhatikan misalnya: mencuci rambut
sekurang-kurangnya 2 kali seminggu, bila terdapat ketombe atau kutu rambut obat
dapat diberikan seperti peditox, untuk rambut yang kering biasanya diberi minyak
atau orang-aring atau lainnya. Untuk lansia yang sama sekali tidak bisa mencuci
rambutnya baik karena sakit atau kondisi fisiknya yang tidak memunginkan dapat
mencuci rambut ditempat tidur dengan bantuan salah satu keluarga atau perawat.
Bila lansia lebih sering atau banyak berbaring ditempat tidur, perawat harus lebih
sering memperhatikan kebersihan rambut, mengingat posisi tidur sering membuat
rambut kusut, kering dan gatal.

Yang harus diperhatikan saat mencuci rambut di tempat tidur adalah bila sisa
sabun, sampo harus bersih agar tidak dapat menimbulkan rasa gatal atau alergi
akibat ketombe. Letakan handuk sebagai alas diatas bantal kemudian sisir rambut
dengan hati-hati. Miringkan kepala agar rambut mudah dijalin terutama bagi yang
berambut panjang.

2.1.5.3 Kebersihan Mulut dan Gigi


Kebersihan mulut dan gigi pada lansia harus tetap dijaga dengan menyikat gigi
dan berkumur secara teratur meskipun sudah ompong. Bagi yang masih aktif dan
masih mempunyai gigi yang lengkap, lansia dapat menyikat giginya sendiri
sekurang-kurangnya 2 kali sehari pada saat bangun pagi dan malam sebelum tidur,
menggunakan pasta gigi setiap sikat gigi dan mengganti sikat gigi 3 bulan sekali.
Bagi lansia yang menggunakan gigi palsu (prostese) dapat dirawat sebagai
berikut: gigi palsu dilepas, dikeluarkan dari mulut dengan menggunakan kain
kassa atau sapu tangan yang bersih. Bila mengalami kesulitan dapat dibantu oleh
keluarga atau perawat. Kemudian, gigi palsu disikat perlahan di bawah air
mengalir sampai bersih. Pada waktu tidur gigi palsu tidak dipakai dan di rendam
dalam air panas dan dijemur. Bagi yang sudah tidak mempunyai gigi atau tidak
memakai gigi palsu setiap kali habis makan harus berkumur-kumur untuk
mengeluarkan sisa makanan yang melekat diantara gigi. Bagi yang masih
mempunyai gigitetapi karena kondisinya lemah atau lumpuh, usaha
membersihkan gigi dan mulut dapat dilakukan dengan bantuan keluarga atau
perawat

2.1.5.3 Kebersihan Mata, Telinga dan Hidung


Hal yang diperhatikan dalam kebersihan mata seperti tidak mengucek mata
dengan keras jika terasa gatal atau perih gunakan tetes mata. Membersihkan
secara teratur, dan tidak mengorek-ngorek telinga dengan beda tajam. Kebersihan
hidung secara teratur dan jangan mengorek hidung terlalu dalam dan jangan
menggunakan benda tajam.

2.1.5.4 Kebersihan Tangan, Kaki dan Kuku


Kuku yang panjang mudah menyebabkan berkumpulnuya kotoran, bahkan
penyakit. Oleh karena itu pada lansia harus selalu secara teratur memotong
kukunya. Bagi yang tidak mampu melakukan sendiri, sebaikna perawat atau
keluarga memotongnya dan jangan terlalu pendek karena akan terasa sakit.
2.1.5.5 Mencuci Tangan
Mencuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan
dan pengontrolan infeksi. Cuci tangan sesering mungkin, karena dengan memcuci
tangan akan mencegah penyebaran kuman dan virus yang dapat menyebabkan
penyakit terutama ketika setelah menggunakan kamar kecil, setelah memegang
hewan peliharaan, sebelum atau sesudah melakukan aktifitas tertentu, sebelum
selama dan sesudah makan, ketika batuk dan bersin ketika berada di dekat orang
yang sedang sakit.

2.2 Lanjut Usia (lansia)


2.2.1 Definisi Lansia
Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas, lansia adalah
periode mencapai kemunduran fisik sejalan dengan waktu dan merupakan
kelompok usia yang mengalami penurunan personal hygiene karena di pengaruhi
oleh faktor usia, lansia merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang
ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stress
lingkungan (Efendi dkk, 2009)

Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk


mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stress fisiologis. Kegagalan ini
berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan
kepekaan secara individual. World Health Organitation (WHO) atau badan
kesehatan dunia menetapkan usia 60 tahun keatas sebagai usia yang menunjukan
proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lansia.
Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan
segera dan terintegrasi (Akhmadi, 2010).

2.2.2 Batasan Lanjut Usia

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi


4 kelompok yaitu:

2.2.2.1 Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 49 tahun
2.2.2.2 Lanjut usia (elderly), antara 60 sampai 74 tahun
2.2.2.3 Lanjut usia tua (old), antara 60-75 dan 90 tahun
2.2.2.4 Usia sangat tua diatas 90 tahun

2.2.3 Perubahan - Perubahan yang Terjadi pada Lansia


Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara degenerative
yangakan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri manusia, tidak hanya
perubahan fisik, tetapi juga kognitif, perasaan, sosial dan seksual (Azizah, 2011).

2.2.3.1 Perubahan Fisik


Perubahan fisik pada lansia meliputi perubahan sistem indra, sistem intergumen,
sistem muskuloskeletal, kartilago, tulang, otot, dan sendi. Pada sistem indra
pendengaran akan mengalami prebiakusis. Hilangnya kemampuan pendengaran
pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada tinggi, suara
yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-katanya dan hamper 50% terjadi pada usia
diatas 60 tahun. Perubahan sistem intergumen pada lansia, kulit akan mengalami
stropi, kendur, tidak elastis, kering dan berkerut. Kulit akan kekurangan cairan
sehingga menjadi tipis dan berbercak. Perubahan pada system musculoskeletal
pada lansia antara lain yaitu jaringan penghubung (kolagen dan elastin). Kolagen
sebagai pendukung utama kulit, tendon, tulang, kartilago dan jaringan pengikat
mengalami perubahan bentangan yang tidak teratur. Perubahan kartilago pada
lansia, kartilago pada persendian lunak mengalami granulasi dan akhirnya
permukaan sendi menjadi rata, kemudian kemampuan kartilago untuk regenerasi
berkurang dan kartilago menjadi rentan terhadap gesekan. Perubahan tulang pada
lansia, berkurangnya kepadatan tulang setelah di observasi adalah bagian dari
penuaan fisiologi akan mengakibatkan osteoporosis lebih lanjut dapat
menyebabkan nyeri. Perubahan otot pada lansia yaitu penurunan jumlah serabut
otot, peningkatan jaringan penghubung dan jaringan lemak pada otot
mengakibatkan efek negative. Perubahan sendi pada lansia yaitu jaringan ikat
sekitar sendi seperti tendon, ligament dan fasia mengalami penuaan elastis.
2.2.3.2 Perubahan Kardiovaskuler dan Respirasi
Perubahan sistem kardiovaskuler dan respirasi mencakup sistem kardiovaskular,
sistem respirasi, pencernaan dan metabolisme, sistem perkemihan, sistem saraf
dan sistem reproduksi. Perubahan pada sistem kardiovaskuler massa jantung akan
bertambah, vertikel kiri mengalami hipertropi dan kemampuan peregangan
jantung berkurang karena perubahan pada jaringan ikat dan penumpukan lipofusin
dan klasifikasi SA nude dan jaringan konduksi berubah menjadi jaringan ikat.
Perubahan sistem respirasi pada penuaan terjadi perubahan jaringan ikat paru,
kapasitas total paru tetap, tetapi volume cadangan paru bertambah untuk
mengompensasi kenaikan ruang paru, udara yang ke paru berkurang.

Perubahan pencernaan dan metabolisme yang terjadi pada sistem pencernaan,


seperti kehilangan gigi, indra pengecap menurun, rasa lapar menurun, liver makin
mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.
Perubahan sistem perkemihan terjadi perubahan yang signifikan. Banyak fungsi
yang mengalami kemunduran seperti laju filtrasi, ekskresi dan reabsorpsi oleh
ginjal. Perubahan sistem saraf pada lansia mengalami anatomi dan antropi yang
progresif pada serabut saraf lansia. Lansia mengalami penurunan koordinasi dan
kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Perubahan sistem reproduksi
lansia ditandai dengan menciutnya ovarium dan uterus. Terjadi atropi payudara.
Pada laki-laki testis masih bisa memproduksi sperma, meskipun adanya
penurunan secara bersangsur-angsur.

2.2.3.3 Perubahan Kognitif


Perubahan kognitif lansia meliputi memory (daya ingat), IQ (intellegent
quocient), kemampuan belajar (learning), kemampuan pemahaman
(comprehension), pemecahan masalah (problem solving), pengambilan keputusan
(decission making), kebijaksanaan (wisdom), kinerja (performance) dan motivasi.

2.2.4 Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia


Proses menua di dalam perjalanan hidup manusia merupakan suatu hal yang wajar
yang akan dialami semua orang yang dikaruniai umur panjang. Hanya cepat
lambatnya proses tersebut tergantung pada masing-masing individu yang
bersangkutan. Menurut Setiabhudi, (2012), permasalahan yang berkaitan dengan
lansia antara lain:

2.2.4.1 Secara individu, pengaruh proses menua dapat menimbulkan


berbagai masalah baik secara fisik, biologi, mental, maupun sosial ekonomis.
Semakin lanjut usia seseorang, ia akan mengalami lemunduran terutama di bidang
kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan pada peranan-peranan
sosialnya. Hal ini juga mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam hal
mencakupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantungan
yang memerlukan bantuan orang lain.
2.2.4.2 Lanjut usia tidak hanya ditandai dengan kemunduran fisik. Konsisi
lanjut usia dapat pula berpengaruh terhadap kondisi mental. Semakin lanjut
seseorang, kesibukan sosialnya juga akan semakin berkuranga. Hal itu akan dapat
mengakibatkan berkurangnya integrasi dengan lingkungannya. Hal ini dapat
memberikan dampak pada kebehagiaan seseorang.
2.2.4.3 Pada usia mereka yang telah lanjut, sebagian dari para lanjut usia
tersebut masih mempunyai kemampuan untuk bekerja. Permasalahan yang
mungkin timbul adalah bagaimana memfungsikan tenaga dan kemampuan mereka
tersebut di dalam situasi keterbatasan kesempatan kerja.
2.2.4.4 Masih ada sebagian dari lanjut usia yang mengalami keadaan
terlantar. Selain tidak mempunyai bekal hidup dan pekerjaan atau penghasilan ,
mereka juga tidak mempunyai keluarga atau sebatang kara.
2.2.4.5 Dalam masyarakat tradisional, biasanya lanjut usia dihargai dan
dihormati sehingga mereka masih dapat berperan yang berguna bagi masyarakat.
Akan tetapi, dalam masyarakat industri ada kecenderungan mereka kurang
dihargai sehingga mereka terisolasi dari kehidupan masyarakat.
2.2.4.6 Karena kondisinya, lanjut usia memerlukan tempat tinggal atau
fasilitas perumahan yang khusus.
2.3 Peran Keluarga
2.3.1 Definisi Peran Keluarga
Peran merupakan suatu perilaku interpersonal, sifat dan kegiatan yang
berhubungan dengan individu dalam posisi dan dalam satuan tertentu. Setiap
anggota dalam keluarga akan memiliki peran masing-masing. Ayah berperan
sebagai kepala rumah tangga, pencari nafkah, pendidik, dan pemberi rasa aman
terhadap seluruh anggota keluarga. Ibu sebagai pengurus rumah tangga, pengasuk
anak, pendidik, pelindung keluarga. Selain itu sebagai anggota masyarakat anak
berperan sebagai perilaku psikososial sesuai dengan perkembangan fisik, mental,
sosial dan spiritual. Peran keluarga adalah seperangkat perilaku antar sifat pribadi,
sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu.
Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari
keluarga (Setiadi dalam Zamzari, 2014).

Peran anggota keluarga dijalankan untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga


melalui peran formal maupun peran informal. Peran formal yang akan dijalankan
oleh keluarga tercapainya keseimbangan dalam keluarga. Peran informal adalah
peran sebagai pemberi dorongan, peran dalam mempertahankan keharmonisan,
peran untuk kompromi, peran untuk memulai atau menkontribusi dalam
menghadapi suatu masalah, peran sebagai pelopor, kekuatan keluarga menunjukan
kemampuan dalam sistem keluarga untuk dapat mengubah perilaku setiap anggota
keluarga. Keluarga adalah bagian dari masyarakat yang perannya penting dalam
membentuk kebudayaan yang sehat. Keluarga dijadikan sebagai unit pelayanan
karena masalah kesehatan pada keluarga akan saling berkaitan dan akan saling
mempengaruhi pada sesama anggota keluarga atau masyarakat sekitarnya.
Menurut Friedman et al (2010), mengklarifikasikan peran keluarga menjadi 2,
yaitu peran formal dan peran informal.

2.3.1.1 Peran Formal


Peran formal berkaitan dengan posisi formal keluarga, bersifat homogen. Peran
formal yang standar dalam keluarga, antara lain : pencari nafkah, ibu rumah
tangga, pengasuh anak, sopir, tukang renovasi rumah, tukang masak, dan lain –ika
dalam keluarga hanya dapat sedikit orang untuk memenuhi peran tersebut, maka
anggota keluarga berkesempatan untuk memerankan beberapa peran dalam waktu
yang berbeda.

2.2.6.2 Peran Informal


Peran-peran informal (peran tertutup) biasanya bersiat implisit, tidak tampak ke
permukaan dan dimainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan emosional atau
untuk menjaga keseimbangan keluarga.

Keluarga mempunyai sarana peran utama dalam pemeliharaan kesehatan seluruh


anggota keluarga (Friedman, 1998). Adapun peran keluarga sebagai motivator,
edukator dan fasilitator.

Peran keluarga sebagai motivator adalah keluarga sebagai penggerak tingkah laku
atau dukungan kearah suatu tujuan dengan didasari adanya suatu kebutuhan
anggota keluarga yang sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya untuk
memenuhi personal hygiene. Dukungan atau motivasi yang diberi dalam hal ini
adalah kelurga yang memberi dukungan dalam bentuk mengaja kebersihan diri
seperti rutin mandi 2 kali sehari, mendengarkan keluh kesah lansia dalam
pemenuhan kebersihan diri dan memberi semangat kepada lansia untuk selalu
memperhatikan dan melakukan kebersihan diri dengan baik.

Peran keluarga sebagai edukator merupakan upaya keluarga dalam memberikan


pendidikan kepada anggota keluarga yang personal hygienenya kurang terpenuhi.
Untuk itu agar keluarga dapat menjadi sumber yang efektif, maka pengetahuan
keluarga khususnya dalam bagaimana peran keluarga dalam pemenuhan personal
hygiene dalam kegiatan sehari-hari. Keluarga sebagai pendidik atau sebagai
pengajar dalam hal ini adalah mengajarkan semua tentang kebersihan diri seperti
mengajarkan mandi, menggosok gigi, mengganti baju, mencuci tangan dan
membersihkan mata hidung dan telinga secara rutin setiap hari.

Peran keluarga sebagai fasilitator ialah keluarga sebagai sarana yang dibutuhkan
keluarga dalam memenuhi kebutuhan untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan
program tersebut. Oleh karena itu, diharapkan keluarga selalu menyiapkan diri
untuk membawa anggota keluarga yang personal hyguene nya kurang untuk
memfasilitasi nya dengan peralatan mandi, sabun, sikat, pasta gigi, shampoo dan
lain-lain. Keluarga mempunyai sarana peran utama dalam pemeliharaan keseharan
seluruh anggota keluarga dan bukan individu sendiri mengusahakan tercapainya
tingkat kesehatan yang diinginkan.

2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi peran keluarga


Faktor-faktor yang mempengaruhi peran keluarga menurut Yuditama, 2015):
2.3.2.1 Pendidikan
Dengan jenjang pendidikan anggota keluarga bisa terlihat pengetahuannya
misalnya anggota keluarga yang pendidikannya rendah seperti hanya lulusan
sekolah dasar pengetahuan keluarga tentang personal hygiene kurang sedangkan
untuk yang lulusan tingkatnya lebih tinggi akan lebih luas wawasannya dan
pengetahuannya dalam personal hygiene.

2.3.2.2 Pekerjaan
Dalam segi pekerjaan, keluarga yang bekerja setiap hari dari pagi sampai sore
akan kurang memperhatikan kebersihan anggota keluarga yang lainnya.
Sedangkan untuk keluarga yang tidak bekerja dapat memperhatikan personal
hygiene pada anggota keluarga yang lainnya.

2.3.2.3 Penghasilan Per Bulan


Penghasilan per bulan pada keluarga yang kurang tidak cukup untuk memfasilitasi
pemenuhan personal hygiene pada lansia, namun jika penghasilannya cukup
bahkan lebih akan dapat dengan mudah memfasilitasi pemenuhan personal
hygiene.

2.3.2.4 Pengetahuan
Dalam hal ini jika anggota keluarga pengetahuannya rendah maka dapat menjaga
dan memenuhi kebersihan diri lansia. Anggota keluarga yang kurang pengetahuan
akan bersikap lebih cuek terhadap pemenuhan personal hygiene pada anggota
keluarga.
2.3.2.5 Informasi
Keluarga yang hidup di wilayah perkotaan akan lebih mudah mendapat informasi
dengan kemajuan jaman yang pesat, namun untuk keluarga yang bertempat
tinggal di pelosok desa tidak mendapat informasi tentang personal hygiene yang
lebih luas karena keterbatasan akses yang masuk ke wilayah terpencil atau
pedesaan.
2.4 Kerangka Teori
Kerangka teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan
variable yang diteliti. (Sugiyono, 2010). Berdasarkan tinjauan pustaka, kemudian dikaitkan dengan masalah penelitian maka
kerangka penelitian sebagai berikut:
Faktor – faktor yang mempengaruhi
peran keluarga
1. Pendidikan
2. Pekerjaan
3. Penghasilan per bulan
4. Pengetahuan
5. Informasi

Perubahan – perubahan Macam – macam personal hygiene :


Peran keluarga
yang terjadi pada lansia 1. Kebersihan kulit dan badan
Lansia 1. Fisik 2. Kebersihan kepala dan rambut 1. Motivator
2. Kardiovaskuler dan 3. Kebersihan mulut dan gigi 2. Edukator
respirasi 4. Kebersihan kuku 3. Fasilitator
3. Kognitif 5. Kebersihan mata, telinga dan hidung

Faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene :


1. Kebiasaan
2. Budaya
3. Tingkat Pengetahuan
4. Status Sosial Ekonomi
5. Status Kesehatan serta Kondisi Fisik dan Mental
Gambar 2.1 Kerangka Teori Kerangka teori ini disusun berdasarkan tinjauan pustaka yang bersumber dari (Friedman, 2010),
Yuditama (2015), Mubarok, dkk (2007), Wartonah & Tarwotoh (2006).
2.5 Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah abstraksi dari suatu realitas agar dapat dikomunikasikan
dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar variabel. kerangka
konsep akan membantu peneliti menghubungkan hasil penemuan dengan teori
(Nursalam, 2008). Kerangka konsep dari penelitian ini adalah:

Peran keluarga Personal hygiene lansia

Variabel Independen
Variabel Dependen

Variabel antara :

1. Jenis kelamin
2. Pendidikan
3. Status pekerjaan

Gambar 2.2 Kerangka konsep

Keterangan :
: Berhubungan
: Diteliti
: Tidak diteliti
2.6 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap tujuan penelitian yang
diturunkan dari kerangka pemikiran yang telah dibuat. Oleh karena itu, hipotesis
harus mempunyai landasan teori, bukan sekedar suatu dugaan yang tidak
mempunyai landasan ilmiah melainkan lebih dekat dengan suatu kesimpulan.
(Notoatmojo, 2010).

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ho : Tidak ada hubungan peran keluarga dengan personal hygiene


lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten
Tegal.

Ha : Ada hubungan peran keluarga dengan personal hygiene lansia di


Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian


Jenis penelitian ini yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif.
Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif korelasi untuk
mengetahui hubungan peran keluarga dengan personal hygiene lansia di Desa
Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal dengan variabel bebas yaitu
peran keluarga dan variabel terikat yaitu personal hygiene lansia. Pendekatan
yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan cross sectional dimana
dalam penelitian ini menekankan waktu pengukuran atau observasi data variabel
independen dan dependen dilakukan hanya satu kali atau satu saat.

3.2 Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data


3.2.1 Alat Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner.
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner dengan pengisian
check list dan menggunakan skala guttman. Kuesioner A berisi tentang identitas
responden berupa jenis kelamin, pendidikan, dan status pekerjaan responden.
Kuesioner B dan C dimodifikasi dari Ningsih (2017). Kuesioner B berisi tentang
peran keluarga sebagai Motivator, Educator dan Fasilitator terdapat 18
pertanyaan 14 positif dan 4 negatif. Pertanyaan positif dengan jawaban “Ya”
mendapat skor 1 dan jawaban “Tidak” mendapat skor 0 sedangkan pada
pertanyaan negatif jawaban “Ya” mendapat skor 0 dan jawaban “Tidak” mendapat
skor 1. Kuesioner C berisi tentang personal hygiene lansia terdapat 17 pertanyaan
meliputi kebersihan kulit dan badan, kebersihan kepala dan rambut, kebersihan
mulut dan gigi, kebersihan kuku, kebersihan mata telinga dan hidung terdapat 16
item pertanyaan dengan jawaban “Ya” mendapat skor 1 dan jawaban “Tidak”
mendapat skor 0.
Tabel 3.1 Kisi-kisi Pertanyaan Kuesioner Peran Keluarga dan Personal Hygiene

Variable Aspek Nomor Nomor Jumlah


pertanyaan pertanyaan
soal
positif negatif
Peran Motivator 1,2,3,4 5 5
keluarga
Edukator 6,7,8,9,10 11,12 7
Fasilitator 13,14,15,16, 18 6
17
Total soal 18

Personal Kebersihan kulit 1,2,3,4,5,6,7 - 17


hygiene dan badan, ,8,9,10,11,
lansia Kebersihan kepala 12,13, 14,
dan rambut,
15,16,17
Kebersihan mata,
telinga dan hidung,
Kebersihan mulut
dan gigi
Kebersihan tangan,
kaki dan kuku,
Mencuci tangan
Total soal 17

3.2.1.1 Uji Validitas


Kuesioner penelitian ini menggunakan kuesioner yang peneliti ambil dari
penelitian Ningsih tahun 2017 namun demikian dimodifikasi, ditambah dan
dikurangi sehingga dilakukan uji validitas. Pengujian kuesioner yaitu dengan uji
korelasi antara skor nilai atau tiap – tiap pertanyaan dengan skor total kuesioner
tersebut. Menurut Notoatmodjo (2005), teknik korelasi yang dipakai adalah
product moment. Kuesioner tersebut dikatakan valid jika r hitung ≥ r tabel. Dalam
penelitian ini instrumen yang akan diuji adalah kuesioner peran keluarga dan
personal hygiene.

Rumus Pearson Product Moment :

𝑁 ( ∑ 𝑥𝑦 ) − ( ∑ 𝑥 . ∑ 𝑦)
𝑅=
√{𝑁 ∑ 𝑥 2 − (∑ 𝑥)²} {𝑁 ∑ 𝑦²) − ∑ 𝑦)²}

Keterangan :
R = Koefisien korelasi Product Moment
X = Nilai dari item
Y = Nilai dari total item
N = Banyaknya anggota sampel
Item pertanyaan dalam kuesioner dikatakan valid apabila nilai Rxy > nilai
rujukan, maka pertanyaan dapat dipakai. Jika Rxy < nilai rujukan berarti soal
tidak valid, maka pertanyaan tidak dapat dipakai (Arikunto, 2006)

Hasil uji validitas di Desa Lebaksiu pada tanggal 28 Juni 2019 pada 20 responden
dengan 20 pertanyaan peran keluarga dan 20 pertanyaan personal hygiene. Uji
validitas pada kuesioner peran keluarga setelah dihitung didalam komputer
didapatkan 18 item pertanyaan valid dengan r hitung terkecil 0,011 dan nilai r
terbesar 0,844 terdapat 2 pertanyaan tidak valid kemudian dihilangkan dengan r
hitung 0,089 dan 0,011. Uji validitas personal hygiene dengan 20 pertanyaan
setelah dihitung didalam komputer didapatkan 17 item yang valid dengan nilai r
hitung 0,088 dan r hitung terbesar 0,782 terdapat 3 pertanyaan yang tidak valid
lalu dihilangkan dengan r hitung 0,351, 0,398 dan 0,276.

3.2.1.2 Uji Reliabilitas


Uji reliabilitas akan dilakukan. Hasil uji reliabilitas dikatakan reliabel jika nilai
koefisien cronbach’s alpha > 0,60. Jawaban instrumen yang sudah dapat
dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.
Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka beberapa kali
diambil, akan tetap sama. Reliabilitas artinya dapat dipercaya, jadi dapat
diandalkan.

Hasil uji reliabilitas kuesioner peran keluarga pada 20 responden di Desa


Lebaksiu didapatkan nilai koefisien cronbach’s alpha 0,880. Pada uji reliabilitas
personal hygiene didapatkan nilai koefisien cronbach’s alpha 0,838 yang berarti
lebih besar dari 0,60 artinya bahwa instrumen tersebut adalah reliabel atau dapat
dipercaya dan dijadikan sebagai instrumen penelitian.

3.2.2 Cara Pengumpulan Data


Cara pengumpulan data yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan data dari
responden dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan
dan tahap akhir pelaksanaan. Tahap persiapan dilakukan setelah peneliti
melakukan penyusunan proposal dan sidang proposal. Peneliti mendapatkan surat
izin penelitian dari Ketua STIKes Bhamada Slawi kemudian peneliti mengajukan
permohonan ijin penelitian ke kantor Kesatuan Kebangsaan Politik dan
Perlindungan Masyarakat (KESBANGPOL & LINMAS) dan mengajukan surat
pengantar kepada Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah dan Penelitian
Pengembangan (BAPPEDA & LITBANG) Kabupaten Tegal. Setelah
mendapatkan surat ijin penelitian tersebut kemudian peneliti mengajukan surat
penelitian kepada Puskesmas Dukuhwaru sebagai pelayanan kesehatan dasar yang
terdapat di wilayah desa Dukuhwaru guna mendapatkan data yang valid tentang
responden yang akan diteliti dan terahir mengirimkan surat penelitian ke Kantor
Balai Desa Gumayun sebagai tempat penelitian akan dilakukan.

Tahap selanjutnya peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas untuk


memastikan bahwa instrumen atau alat penelitian pada penelitian ini layak dan
terpercaya untuk benar-benar dapat mengukur apa yang diukur. Untuk uji
validitas dan reliabilitas dilakukan dengan 20 responden di desa Lebaksiu karena
responden mempunyai karakteristik yang sama.

Setelah alat pengukuran valid, selanjutnya peneliti memulai penelitiannya dengan


melakukan kunjungan rumah (door to door) tiap responden oleh peneliti dari
jumlah lansia yang tinggal bersama keluarga dan termasuk pada kriteria insklusi
dan ekslusi. Pada hari pertama kunjungan pada RT 10, hari kedua kunjungan
pada RT 11 dan hari ketiga dan keempat kunjungan di RT 12.
Tahapan awal peneliti melakukan penelitian dibantu oleh 5 teman yang sudah
diberikan pelatihan dalam pengisian kuesioner. Kunjungan pertama peneliti akan
melakukan bina hubungan saling percaya yaitu dengan memperkenalkan diri,
menyampaikan maksud dan tujuan untuk penelitian serta meminta
menandatangani lembar persetujuan sebagai responden. Selanjutnya peneliti akan
menjelaskan tentang kuesioner dan tata cara pengisiannya. Kuesioner A berisi
identitas responden berupa jenis kelamin, pendidikan responden dan status
pekerjaan saat ini, kuesioner B berisi tentang peran keluarga dan kuesioner C
berisi tentang personal hygiene lansia. Kemudian peneliti memberikan
kesempatan kepada responden untuk mengisi lembar kuesioner selama 10 menit.
Hari pertama di RT 10 mendapat 23 responden, hari kedua di RT 11 mendapat 26
responden, hari ketiga di RT 12 mendapat 24 responden dan hari keempat
mendapat 19 responden. penelitian mulai jam 08.00 pagi hingga jam 11.00 lalu
istrirahat mulai kembali jam 13.00 sampai jam 16.00.

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Populasi
Jumlah penduduk lansia di Desa Gumayun RW 04 adalah 123 lansia tersebar di 3
RT yaitu RT 10 sebanyak 41 lansia, RT 11 sebanyak 30 lansia dan RT 12
sebanyak 52 lansia.

3.3.2 Sampel
Teknik sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh atau total
sampling, yaitu teknik penentuan sampel bilamana semua anggota populasi
digunakan menjadi sampel (Arikunto, 2006). Sampel yang diambil dalam
penelitian ini lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.

3.4 Besar Sampel


kriteria sampel yang akan diambil masuk dalam kriteria insklusi, dan sampel yang
tidak diambil masuk dalam kriteria ekslusi.
3.4.1 Kriteria inklusi
Kriteria insklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dar suatu populasi
target dan jangkauan yang akan diteliti (Nursalam, 2008). Kriteria insklusi dalam
penelitian ini adalah:

3.4.1.1 Lansia yang berusia > 60 tahun


3.4.1.2 Lansia yang tinggal satu rumah dengan keluarga
3.4.1.3 Lansia yang dapat berkomunikasi dengan baik
3.4.1.4 Lansia yang bersedia menjadi responden penelitian

3.4.2 Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang


memenuhi kriteria eksklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam, 2008).
Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:

3.4.2.1 Lansia yang mempunyai keterbatasan fisik


3.4.2.2 Lansia yang sedang sakit
3.4.2.3 Lansia yang mengalami dimensia (pikun)

Sampel yang masuk dalam kriteria inklusi dan ekslusi dalam penelitian ini sebesar
92 responden.

3.5 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Desa Gumayun RW 04 Kecamatan Dukuhwaru
Kabupaten Tegal pada bulan Juni sampai dengan Juli 2019.

3.6 Definisi Operasional, Variabel Penelitian dan Skala Pengukuran


Definisi operasional bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau
pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan
instrumen (alat ukur).
Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian Dan Skala Pengukuran

Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala


operasional
Ukur
Variabel Perhatian yang Kuesioner Peran keluarga : Ordinal
independe: diberikan keluarga
Peran kepada lansia 1. Peran keluarga
keluarga berdasarkan baik, jika hasil
pendapat lansia prosentase 76-
yang meliputi 100%
perhatian dalam 2. Peran keluarga
bentuk motivator, cukup, jika hasil
edukator dan prosentase 60-75%
fasilitator untuk 3. peran keluarga
memenuhi kurang, jika hasil
prosentase ≤59%
(Setiadi, 2007)

Variabel Kemampuan lansia Kuesioner Personal hygiene Nominal


dependen : dalam melakukan lansia :
kebersihan diri 1. Personal hygiene
Personal
(personal hygiene) lansia terpenuhi
hygiene
seperti melakukan 50-100%
lansia
perawatan kulit, 2. Personal hygiene
perawatan kepala lansia tidak
dan rambut, terpenuhi ≤50%
perawatan
kebersihan mata,
telinga dan hidung,
kebersihan mulut
dan gigi,
kebersihan tangan,
kaki dan kuku,
mencuci tangan

Variabel Tanda biologis Kuesioner 1. Laki-laki Nominal


antara : yang membedakan 2. Perempuan
Jenis manusia
kelamin berdasarkan
kelompok

Pendidikan Jenjang pendidikan Kuesioner 0. Tidak tamat Ordinal


formal terakhir
yang pernah sekolah
ditempuh oleh
responden 1. Pendidikan dasar
(SD, SMP)
2. Pendidikan
menengah (SMA)
3.Pendidikan tinggi
(D1, D2, D3, DIV,
Strata 1)
Status Nominal
Pekerjaan yang di 1. Bekerja
Pekerjaan lakukan responden Kuesioner 2. Tidak bekerja
saat ini

3.7 Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data


3.7.1 Teknik Pengolahan Data
Menurut Notoatmodjo (2010), cara pengolahan data dalam penelitian ini
menggunakan komputer yang meliputi editing, koding dan tabulating data.

3.7.1.1 Editing
Peneliti melakukan editing untuk memeriksa kembali apakah pengisian hasil
pengisian kuesioner sudah lengkap, proses editing dilakukan dengan cara
memeriksa kelengkapan jawaban responden.

3.7.1.2 Coding
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan peng
“kodean” atau “coding”. Yakni mengubah data berebntuk kalimat atau huruf
menjadi data angka atau bilangan. Koding atau pemberian kode inisangat berguna
dalam memasukan data (data entry). Untuk variabel peran keluarga cukup diberi
dengan kategori baik diberi kode 1, peran keluarga cukup diberi kode 2, dan peran
keluarga kurang diberi kode 3. Pada variabel personal hygiene lansia dengan
kategori kebutuhan personal hygiene terpenuhi diberi kode 1 dan kebutuhan
personal hygiene tidak terpenuhi diberi kode 2. Pada variabel antara untuk jenis
kelamin laki-laki diberi kode 1 dan perempuan diberi kode 2. Pendidikan tidak
tamat sekolah diberi kode 0, pendidikan dasar (SD, SMP) diberi kode 1,
pendidikan menengah (SMA) diberi kode 2 dan pendidikan tinggi (D1, D2, D3,
DIV, Strata 1) diberi kode 3. Status pekerjaan yang tidak bekerja diberi kode 1
yang bekerja diberi kode 2.

3.7.1.3 Memasukan data (data entry) at au processing


Data, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk
“kode” (angka atau huruf) dimasukan kedalam program atau software komputer.
Salah satu paket program yang paling sering digunakan untuk “entri data”
penelitian data saja.

3.7.1.4 Pembersihan data (Cleaning)


Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukan,
perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan
kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya kemudian dilakukan pembentulan atau
koreksi. Proses ini disebut pembersihan data (data cleaning)

3.7.2 Analisis Data


Analisis data suatu penelitian, biasanya melalui prosedur bertahap antara lain :
3.7.2.1 Analisis univariat
Analisis univariat dalam penelitian ini meliputi variabel dependen yaitu personal
hygiene lansia. Sedangkan variabel independen yaitu peran keluarga. Pada
penelitian ini merupakan data yang berbentuk kategorik sehingga digunakan
rumus statistik deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi dan prosentase
(Notoatmodjo, 2005).

3.7.2.2 Analisis bivariat


Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas
yaitu peran keluarga dan variabel terikat yaitu personal hygiene lansia. Karena
dalam penelitian ini menguhubungkan 2 variabel berskala ordinal dan nominal
yang termasuk data non parametik maka analisa yang digunakan adalah uji chi
square.

Pengambilan keputusan berdasarkan kriteria penelitian dengan nilai kemaknaan


5% (0,05), adalah jika diperoleh x² hitung ≥ x² tabel atau p value< nilai α = 0,05
berarti ada hubungan atau Ho ditolak dan Ha diterima, jika diperoleh x² hitung ≤
x² tabel atau p value> nilai α = 0,05 berarti tidak ada hubungan atau Ho diterima
dan Ha ditolak

3.8 Etika Penelitian


Melaksanakan sebuah penelitian ada empat prinsip yang harus dipegang
(Notoatmodjo, 2010), yakni :

3.8.1 Menghormati harkat dan martabat manusia (Respect for human dignty)
Penelitian perlu mempertimbangkan hak-hak subjek penelitian untuk
mendapatkan informasi tentang tujuan melakukan penelitian tersebut. Penelitian
juga memberikan kebebasan kepada subjek penelitian untuk mendapatkan
informasi atau tidak memberikan informasi (berpartisipasi). Sebagai ungkapan,
peneliti menghormati harkat dan mertabat subjek penelitian. Sebelum melakukan
penelitian, peneliti meminta ijin terlebih dahulu dengan lansia untuk melakukan
penelitian untuk menjadi responden.

3.8.2 Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek penelitian (respect for privacy
and confidentiality)

Setiap orang mempunyai hak-hak termasuk privasi dan kebiasaan individu dalam
memberikan informasi. Setiap orang berhak untuk tidak memberikan apa yang
diketahuinya kepada orang lain. Oleh karena itu, peneliti tidak boleh
menyampaikan informasi mengenai identitas dan kerahasiaan indentitas subjek.
Peneliti tidak memberikan nama responden pada lembar alat ukur, hanya
menuliskan kode atau inisial pada lembar pengumpulan data.

3.8.3 Keadilan dan inklusivitas atau keterbukaan (respect for justice an


inclusiveness)

Prinsip keterbukaan dan adil perlu dijaga oleh peneliti dengan kejujuran,
keterbukaan, dan kehati-hatian. Untuk itu, lingkungan peneliti perlu dikondisikan
sehingga memenuhi prinsip keterbukaan, yakni dengan menjelaskan prosedur
penelitian. Prinsip keadilan ini menjamin bahwa semua subjek peneltian
memperoleh perlakuan dan keuntungan yang sama, tanpa membedakan gender,
agama, etnis, dan sebagainya. Dalam penelitian ini peneliti harus bersikap adil
pada seluruh responden.

3.8.4 Memperhitungkan manfaat kerugian yang ditimbulkan (balancing harms


and benefits)

Sebuah penelitian hendaknya memperoleh manfaat semaksimal mungkin bagi


masyarakat pada umumnya, dan subjek penelitian pada khususnya. Penelitian
hendaknya berusaha meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subjek.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


4.1.1 Karakteristik Lansia Berdasarkan Jenis Kelamin, Pendidikan dan
Status Pekerjaan Lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan
Dukuhwaru Kabupaten Tegal
4.1.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Karakteristik lansia berdasarkan jenis kelamin di Wilayah RW 04 Desa Gumayun
Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal, dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Jenis Kelamin di Wilayah RW


04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal

No Jenis Kelamin n Prosentase (%)


1 Laki – laki 42 45,7
2 Perempuan 50 54,3
Jumlah 92 100,0

Tabel 4.1 Menunjukan bahwa lansia yang tinggal di Gumayun RW 04 didominasi


oleh lansia dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 50 responden (54,3%).
Jumlah lansia perempuan lebih tinggi dari jumlah lansia laki-laki.

4.1.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan


Karakteristik lansia berdasarkan tingkat pendidikan di Wilayah RW 04 Desa
Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal, dapat dilihat pada tabel 4.2
berikut :
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Status Pekerjaan di Wilayah
RT 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal.

No Pendidikan n Prosentase (%)


1 Tidak tamat sekolah 55 59,8
2 Pendidikan Dasar (SD/SMP) 33 35,9
3 Pendidikan Menengah (SMA) 4 4,3
Jumlah 92 100,0

Tabel 4.2 Menunjukan bahwa lansia yang tinggal di Gumayun RW 04 didominasi


oleh lansia yang tingkat pendidikannya tidak tamat sekolah yaitu sebanyak 55
responden (59,8%).

4.1.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Pekerjaan


Karakteristik lansia berdasarkan status pekerjaan di Wilayah RW 04 Desa
Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal, dapat dilihat pada tabel 4.3
berikut :

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Status Pekerjaan di Wilayah


RW 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal

No Status Pekerjaan n Prosentase (%)


1 Bekerja 33 35,9
2 Tidak Bekerja 59 64,1
Jumlah 92 100,0

Tabel 4.3 Menunjukan bahwa status pekerjaan lansia di Gumayun RW 04


didominasi oleh lansia yang tidak bekerja yaitu sebanyak 59 responden (64,1%).

4.1.2 Peran Keluarga dengan Lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun


Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal

Hasil penelitian tentang peran keluarga dapat dilihat dari tabel 4.4 berikut ini :
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Peran Keluarga di Wilayah RW
04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal

Peran Keluarga n Prosentase (%)


Baik 26 28,3
Cukup 23 25,0
Kurang 43 46,7
Total 92 100,0

Tabel 4.4 Menunjukan bahwa peran keluarga pada lansia di RW 04 Gumayun


didominasi oleh lansia dengan kategori kurang sebanyak 43 responden (46,7%).
Hal ini berarti bahwa keluarga lansia kurang memperhatian, memberi dukungan
dan memfasilitasi lansia dalam hal kebersihan diri lansia.

4.1.3 Personal Hygiene Lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan


Dukuhwaru Kabupaten Tegal

Hasil penelitian tentang personal hygiene dapat dilihat dari tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Personal Hygiene Lansia di Wilayah RW


04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal

Peran Keluarga n Prosentase (%)


Personal Hygiene Terpenuhi 52 56,6
Personal Hygiene Tidak Terpenuhi 40 43,5
Total 92 100,0

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukan bahwa lansia yang tinggal di RW 04 Gumayun


didominasi oleh lansia yang personal hygiene nya terpenuhi. Dalam hal ini
berarti lansia mampu melakukan kebersihan diri dengan baik.
4.1.4 Hubungan Peran Keluarga dengan Personal Hygiene Lansia di Wilayah
RW 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal

Untuk mengetahui hubungan peran keluarga dengan personal hygiene lansia dapat
dilihat pada tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.6 Hubungan Peran Keluarga dengan Personal Hygiene Lansia di


Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten
Tegal

Personal hygiene lansia


Total
Peran Terpenuhi Tidak terpenuhi
Keluarga
n % n % % X² p value
n
Baik 25 48% 1 2,5% 26 28,2%
Cukup 22 42,3% 1 2,5% 23 25% 66.215a 0,000
Kurang 5 9,6% 38 73% 43 46,8%
Total 52 9,99% 40 78% 92 100.0

Hasil analisis tabel 4.1.6 menyatakan hubungan antara peran keluarga dengan
personal hygiene lansia diperoleh bahwa peran keluarga yang kurang sebanyak 38
responden dengan personal hygiene tidak terpenuhi sedangkan personal hygiene
yang terpenuhi ada 5 responden. Hasil uji korelasi Chi Square diperoleh nilai p
value 0,000 < 0,05 yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak berarti ada hubungan
antara peran keluarga dengan personal hygiene lansia di Wilayah RW 04 Desa
Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Karakteristik Lansia Berdasarkan Jenis Kelamin, Pendidikan dan
Status Pekerjaan Lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan
Dukuhwaru Kabupaten Tegal
4.2.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Karakteristik lansia berdasarkan jenis kelamin menunjukan bahwa sebagian besar
responden dengan jenis kelamin perempuan (54,3%), hal ini didukung dengan
secara demografi bahwa penduduk di Wilayah RW 04 Desa Gumayun adalah
sebagian besar perempuan. Lansia yang berjenis kelamin perempuan lebih senang
merawat diri dan lebih memperhatikan kebersihannya.

Menurut Notoatmodjo (2013), kebersihan diri lansia cukup berhubungan dengan


beberapa faktor seperti jenis kelamin, usia, pendidikan dan pekerjaan. Jenis
kelamin berhubungan dengan kebiasaan lansia seperti laki – laki tidak terlalu
patuh melakukan kebersihan diri mandi hanya satu kali dalam sehari, tidak terlalu
mementingkan kebersihan badan, mandi hanya sebentar, membersihkan mata
hidung dan telinga sangat jarang dilakukan.

Hasil ini setara dengan penelitian yang dilakukan oleh Chairil (2017), dimana
jumlah jumlah responden perempuan lebih banyak yaitu (50,8%) dibanding laki –
laki. Jumlah lansia perempuan lebih banyak dibanding dengan laki – laki yang
hanya 8,88 juta atau (7,76%) dari seluruh penduduk laki-laki. Hal ini disebabkan
karena usia harapan hidup lansia perempuan lebih tinggi dibandingkan lansia laki
– laki. Perempuan disebut lebih kuat dikarenakan perempuan lebih kuat dalam
kandungan, perempuan penuh perhitungan, lebih kuat dalan menghadapi penyakit
jantung, lebih kuat sifat sosialnya dan perempuan lebih menjaga kesehatannya.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Jacob Orlando Pereira, dkk
(2018), dimana jumlah responden laki – laki lebih banyak dibanding dengan
responden yang berjenis kelamin perempuan yaitu 21 orang (55%). Lansia yang
tinggal bersama keluarganya dan yang termasuk kriteria insklusi mayoritas
berjenis kelamin laki – laki. Orang yang merawat lansia sebagian besar adalah
pasangannya, karena kebanyakan perempuan tidak pergi mencari nafkah.

Peneliti berpendapat bahwa jenis kelamin sangat mempengaruhi tindakan lansia


dalam perilaku kebersihan diri, bahwa rata-rata perempuan lebih menjaga
kebersihan diri dan selalu memperhatikan penampilannya meskipun sudah
memasuki lanjut usia, berbeda dengan laki – laki lebih menyukai hal – hal yang
sederhana dan simpel seperti menggunakan pakaian seadanya, telinga mata dan
hidung yang jarang dibersihkan, mandi hanya satu kali dalam sehari, jarang
menggosok gigi dan jarang keramas.

4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan


Karakteristik lansia berdasarkan tingkat pendidikan sebagian besar responden
berpendidikan tidak tamat sekolah yaitu 55 responden (59,8%), rendahnya
pendidikan dikarenakan zaman dahulu masih menganggap bahwa pendidikan
tidak penting dan kebutuhan pendidikan masih kurang, dimana pada saat itu anak
– anak membantu orang tua dalam segi materi ataupun dijodohkan oleh orang
tua. Selain itu masih berfikiran bahwa perempuan tidak wajib untuk menempuh
pendidikan yang tinggi. Hal ini sangat berdampak pada kemampuan responden
dalam menerima informasi – informasi yang baru tentang kesehatan lansia. Hasil
ini sebanding dengan hasil observasi peneliti, dimana pendidikan lansia yang
masih rendah, masih banyak penduduk lansia yang tidak atau sama sekali belum
pernah sekolah dan tidak tamat sekolah. Penduduk lansia yang berpendidikan
dasar sebanyak (35,9%)

Personal hygiene pada lansia menurut Chairil & Hardiana (2011), dapat
dipengaruhi oleh pendidikan lansia, karena pendidikan merupakan hal penting
yang mendasari perilaku seseorang termasuk dalam kebersihan diri, semakin
tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik pula pengetahuannya.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk dalam membentuk tindakan seseorang. Perilaku yang didasari oleh
pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan (Notoadmodjo, 2010).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ari (2018), menunjukan bahwa 19


responden memiliki pendidikan lulus SD yaitu (59%) hal ini menunjukan bahwa
lansia sangat kurang pendidikannya hal tersebut akan mengakibatkan kurangnya
pengetahuan lansia dalam memenuhi kebersihan diri, bahkan di wilayah Jawa
Tengah bahwa lansia pada umumnya memiliki pendidikan yang rendah.
Peneliti berpendapat berdasarkan hal tersebut peneliti menyimpulkan bahwa
pendidikan responden rata-rata tidak tamat sekolah dasar atau pendidikan rendah,
padahal pendidikan berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan dimana
pendidikan berpengaruh langsung terhadap pengetahuan individu. Lansia yang
semakin tinggi tingkat pendidikannya maka akan semakin tinggi pula tingkat
pengetahuannya dan akan mengerti hal – hal yang baik dan buruk terhadap
dirinya, hal ini dikarenakan wawasan pengetahuan akan menambah kemampuan
lansia dalam melakukan kebersihan diri.

4.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Pekerjaan


Karakteristik lansia yang bekerja di wilayah RW 04 Desa Gumayun menunjukan
bahwa sebagian besar responden yang tidak bekerja sebesar (64,1%), hal ini
menunjukan bahwa lanjut usia sudah membatasi aktifitas bekerja karena sudah
terbatas kemampuan dan bukan usia produktif lagi. Lansia yang tidak bekerja
biasanya untuk memenuhi kebutuhan seperti makan, minum, dan kebutuhan
lainnya dibantu anak maupun saudara yang tinggal bersama dalam satu rumah
dengan lansia. Hal ini sesuai dengan hasil observasi bahwa banyak lansia yang
hanya dirumah menikmati masa tuanya mengisi hari-harinya hanya melakukan hal
yang ringan saja.

Menurut Pudjiastuti (2004), bahwa pada lanjut usia akan mengalami kemunduran
fisik yang dapat mengakibatkan kemampuan mobilitas maupun perawatan diri.
Kemampuan mobilitas meliputi penurunan kemamuan untuk bekerja, berpindah,
jalan atau melakukan aktivitas lainnya. Kemunduran kemampuan perawatan diri
atau kebersihan diri meliputi penurunan kemampuan aktivitas makan, mandi,
berpakaian, bak atau bab, merawat rambut, gigi, kumis dan kuku.

Hasil ini sebanding dengan penelitian yang dilakukan Puspitasari (2014), jenis
pekerjaan lansia yang terbesar adalah tidak bekerja dan kebersihan dirinya tidak
terpenuhi, lansia yang tidak bekerja atau yang hanya dirumah saja sebesar 63,3%,
hasil penelitian menunjukan jika status pekerjaan berpengaruh pada lansia dalam
menjaga kebersihan diri.
Dari hasil penelitian tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa lansia yang
bekerja akan memperhatikan kebersihan dirinya. Pola hidup lansia akan lebih
mandiri dalam merawat kebersihan diri kecuali untuk lansia yang sudah tidak
mampu melakukan kebersihan diri sendiri. Lansia yang bekerja lebih
mementingkan kebersihan diri dan penampilannya karena kemungkinan akan
bertemu orang banyak, lansia yang tidak bekerja lebih acuh terhadap kebersihan
dirinya karena kesehariannya hanya dirumah dan cenderung lebih senang
membersihkan rumahnya.

4.2.3 Peran Keluarga dengan Lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun


Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal

Hasil penelitian menunjukan bahwa peran keluarga pada lansia di Wilayah RW 04


Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal adalah termasuk dalam
kategori kurang yaitu sebanyak 43 responden. Hasil sebagian besar keluarga tidak
mengingatkan lansia untuk mandi 2 kali dalam sehari, keluarga tidak
mendengarkan keluh kesah lansia seputar kebersihan diri, keluarga cenderung
mementingkan diri sendiri, keluarga tidak mengajarkan untuk membersihkan
mata, hidung dan telinga, keluarga tidak pernah mengingatkan lansia untuk sikat
gigi secara teratur dengan baik dan benar dan sebagian besar lansia masih
mencuci baju sendiri dan membeli perlengkapan kebersihan sendiri. Hal ini
berarti bahwa responden kurang mendapatkan perhatian dari keluarga berupa
dukungan, didikan dan fasilitas yang diperlukan lansia dalam memenuhi
kebersihan diri, sebagian besar disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya
keluarga yang sibuk bekerja sehingga peran keluarga pada lansia kurang dalam
memenuhi personal hygiene. Lansia yang tinggal bersama dengan keluarga yang
mempunyai peran keluarga baik sebanyak 26 responden (28,3%), keluarga sangat
memperhatikan lansia dan selalu mengingatkan hal-hal yang berkaitan dengan
kebersihan diri. Keluarga mengajarkan membersihkan diri yang baik dan benar,
keluarga juga memberikan fasilitas – fasilitas untuk menunjang kebutuhan lansia
dalam membersihkan diri seperti alat mandi, pakaian bersih, peralatan kerapian,
alat kebersihan diri seperti gunting kuku dan lain-lain.
Peran keluarga adalah tingkah laku yang diharapkan oleh seseorang dalam
konteks keluarga. Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku
interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubunga dengan individu dalam posisi dan
situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan pola
perilaku dari keluarga, kelompok, dan masyarakat (Setiadi, 2008). Peran keluarga
dalam pemenuhan kebutuhan lansia sangatlah penting dalam kehidupan lansia
sehari-hari, terutama peran keluarga sebagai motivator, edukator dan fasilitator.
Lansia yang mendapatkan peran keluarga yang cukup tersebut berarti masih
kurang dalam mendapatkan peranan keluarga dalam kehidupannya.

Hal ini sebanding dengan penelitian yang dilakukan Sri Sistari W (2017), bahwa
sebanyak 28 responden (70%) termasuk dalam kategori peran keluarga yang
kurang. Kebanyakan lansia yang tinggal bersama keluarga adalah dengan anaknya
dan kebanyakan bersama anak yang berjenis kelamin laki – laki, karena
kebanyakan yang berjenis kelamin laki – laki tidak tidak memperhatikan peran
keluarga dan kurang mengasuh lansia secara optimal.

Berdasarkan penelitian tersebut dapat dilihat bahwa rata – rata keluarga lansia
tidak memperhatikan terkait kebersihan diri lansia. Kemampuan kognitif lansia
akan menurun seiring bertambahnya usia, sehingga terkadang lupa hal – hal
tentang kebersihan diri. Peneliti berpendapat bahwa keluarga sangat berperan
penting dalam kebersihan diri lansia. Pekerjaan anggota keluarga yang merawat
lansia merupakan kesibukan yang harus dilakukan utama untuk menunjang
kehidupan dan kesejahteraan keluarga, sehingga keluarga yang sibuk bekerja
maka peran keluarga kurang dalam memenuhi kebersihan diri.

4.2.4 Personal Hygiene Lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan


Dukuhwaru Kabupaten Tegal

Hasil penelitian menunjukan bahwa personal hygiene lansia sebagian besar


terpenuhi dengan 52 responden (56,6%), artinya responden sudah mampu
memenuhi kebutuhan kebersihan diri dengan baik seperti mandi, mengganti baju,
kebersihan mulut dan gigi, kebersihan seluruh badan Hal ini karena adanya peran
keluarga yang baik dan membantu lansia dalam melakukan personal hygiene.
Sebanyak 40 responden personal hygiene nya tidak terpenuhi, hal ini dikarenakan
tidak adanya peran keluarga yang baik dan membantu lansia dalam melakukan
personal hygiene, kebanyakan lansia tidak keramas 2 kali dalam seminggu lansia
keramas 1 kali dalam 1 minggu, lansia tidak pernah potong rambut secara rutin 3
bulan sekali, lansia tidak membersihkan rambut jika terdapat kutu dan ketombe,
lansia membersihkan mata, hidung dan telinga hanya saat kotor saja, kebanyakan
lansia tidak mengganti sikat gigi secara rutin hanya seadanya saja, lansia tidak
mencuci tangan setelah melakukan aktivitas ataupun setelah memegang hewan
peliharaan.

Kebersihan diri merupakan perawatan diri sendiri sebagai upaya menjaga


kesehatan fisik ataupun psikologis yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti
budaya, kondisi fisik, psikologis dan keuangan. Kemampuan lansia dalam
melakukan pemenuhan perawatan diri sangat dipengaruhi oleh aktivitas sehari-
harinya perawatan hygiene total dimulai dari mandi dan membersihkan diri lansia
dari kotoran dan kuman. Mandi yang baik menggunakan sabun dan menggosok
pada seluruh anggota tubuh. Lansia perlu mandi minimal 2 kali sehari pada pagi
atau sore hari. Lansia dengan personal hygiene yang baik akan lebih dapat di
terima di masyarakat dibandingkan dengan personal hygiene kurang baik.
Kebutuhan akan personal hygiene harus menjadi prioritas utama bagi lansia,
karena dengan personal hygiene yang baik maka lansia akan memiliki resiko yang
rendah untuk mengalami penyakit infeksi (Gateway, 2013).

Hasil ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ningsih (2017) pada
40 responden di Posyandu Desa Tegalarum Puskesmas Bendo Kabupaten
Magetan menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki personal hygiene
yang tidak terpenuhi yaitu 75%, karena tidak adanya peran keluarga yang baik dan
membantu lansia dalam melakukan personal hygiene.

Peneliti berasumsi bahwa usia lansia 60 tahun keatas akan mengalami


kemunduran baik kemunduran fisik maupun psikologis yang akan berdampak
pada pemenuhan kebutuhan kebersihan diri. Kemunduran fisik seperti
melemahnya kemampuan lansia dalam membersihkan diri seperti terbatasnya
gerak lansia yang sedang bed rest total. Psikologis lansia juga akan terganggu
seiring bertambahnya usia hal ini dapat mempengaruhi kemampuan dalam
melakukan kebersihan diri

4.2.5 Hubungan Peran Keluarga Dengan Personal Hygiene Lansia di


Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal

Hasil uji korelasi chi square menunjukan bahwa p value = 0,000 < α = 0,05
artinya Ha diterima dengan demikian ada hubungan peran keluarga dengan
personal hygiene lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan
Dukuhwaru Kabupaten Tegal. Hal ini menunjukan bahwa lansia yang mempunyai
peran keluarga yang baik berdampak pada terpenuhnya personal hygiene pada
lansia seperti keluarga yang memperhatikan lansia maka personal hygienenya
terpenuhi. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan bahwa, peran
keluarga kurang dengan dengan personal hygiene tidak terpenuhi pada lansia.
Lansia yang peran keluarganya cukup cenderung personal hygienenya baik,
sedangkan lansia yang peran keluarganya baik personal hygiene nya juga akan
baik. Hal ini konsisten dengan teori yang dikemukakan oleh Hidayat (2009).
Namun tidak semua lansia yang mendapatkan peran keluarga yang baik dapat
memenuhi kebutuhan personal hygienenya (2,5%). Hal ini di karenakan banyak
faktor yang mempengaruhi personal hygiene lansia diantaranya kurangnya
informasi. Pada kondisi kurangnya informasi tentang kesehatan lansia cenderung
kurang memperhatikan personal hygienenya meskipun keluarga sudah berperan
dengan baik.

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena ikatan tertentu
untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta
mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga. Peran keluarga adalah
seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan
pribadi dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam kelurga didasari
oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga. Peran keluarga disini meliputi peran
keluarga sebagai motivator, edukator dan fasilitator. Menurut Irianto (2007),
faktor – faktor yang mempengaruhi mempengaruhi perilaku pemenuhan personal
hygiene pada lansia terdiri dari berdasarkan usia, jenis kelamin dan tingkat
pendidikan. Dari hasil uji univariat dan bivariat dapat diketahui bahwa semakin
baik pengetahuan lansia maka akan semakin baik pula perilakunya dan semakin
baik sikap lansia maka akan semakin baik pula perilaku yang akan di dapatkan.

Hasil penelitian ini relevan dengan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Widiastuti (2009) tentang peran keluarga dalam merawat anggota keluarga yang
sakit menderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Wirobrajan Yogyakarta,
hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian besar responden mempunyai peran
keluarga yang cukup baik (75,69%). Hasil ini sama dengan penelitian yang
dilakukan Zamzari (2013), tentang hubungan peran keluarga dengan pemenuhan
kebutuhan personal hygiene lansia di Dusun Jagonalan Lor Kasihan Bantul, hasil
penelitisn menyatakan bahwa nilai signifikasi sevesar 0,04 yan lebih kecil dari
5% (0,004 < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima berarti
ada hubungan peran keluarga dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene
lansia di Dusun Jagonalan Lor Kasihan Bantul.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti berpendapat bahwa lansia dengan


peran keluarga baik dapat berpengaruh juga dengan personal hygiene lansia. jika
peran keluarga baik maka personal hygiene lansia juga akan baik. Adanya
pengaruh peran keluarga dalam keikutsertaan yang dimiliki oleh lansia maka
mereka mampu melakukan kebutuhan personal hygiene meskipun terkadang perlu
ada bantuan dari orang lain. Begitu pula sebaliknya, apabila lansia peran keluarga
kurang mereka tidak akan memenuhi kebutuhan personal hygiene sehingga dapat
berakibat pada dampak fisik maupun psikologis.Tingkat pendidikan yang tinggi
memang mempengaruhi kemampuan lansia dalam menjaga kebersihan diri,
namun apabila kemampuan lansia sudah berkurang peran keluargalah yang sangat
menentukan kebersihan diri lansia. Keluarga yang peduli terhadap maka akan
memperhatikan kebutuhan lansia tersebut, terutama kebersihan dirinya. Sehingga
pada akhirnya seluruh aspek tersebut termasuk peran keluarga sangat penting agar
kebersihan lansia terjaga.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.1.1 Lansia yang tinggal bersama dengan keluarga di Desa Gumayun didominasi
lansia dengan jenis kelamin perempuan, dengan tingkat
pendidikan tidak tamat sekolah, dan kebanyakan lansia yang tidak bekerja.

5.1.2 Peran keluarga kepada lansia di Desa Gumayun sebagian besar dalam
kategori kurang.

5.1.3 Personal hygiene lansia yang tinggal bersama keluarga di Desa Gumayun
didominasi personal hygiene terpenuhi.

5.1.4 Ada hubungan yang signifikan antara peran keluarga dengan personal
hygiene lansia di Wilayah RW 04 Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru
Kabupaten Tegal.

5.2 Saran
5.2.1 Sebaiknya keluarga memberi peran keluarga pada lansia dengan baik dan
keluarga diharapkan selalu membantu lansia dalam memenuhi kebutuhan
kebersihan diri agar kebersihan diri (personal hygiene) lansia selalu terjaga
sehingga tidak mudah terkena penyakit.

5.2.2 Peran keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi personal
hygiene lansia dan diharapkan dapat melanjutkan penelitian agar lebih dalam lagi
mengenai faktor lain yang mempengaruhi personal hygiene lansia.

5.2.3 Peneliti selanjutnya sebaiknya memilih sampel lansia yang bisa baca tulis
agar lebih mudah dalam lansia mengisi kuesioner, pada saat penelitian hindari
waktu – waktu saar lansia sedang beristirahat sehingga tidak memakan waktu
untuk kembali ke rumah lansia tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Akhmadi. (2010). Masalah Lanjut Usia. Diakses pada 9 Maret 2019


http://www.damandari.or.id.

Arikunto. (2006). Manajemen penelitian. Jakarta : Rhineka Cipta.

Azizah. (2011). Keperawatan lanjut usia. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Badan Pusat Statistik. (2018). Statistik penduduk lanjut usia 2018. Hasil survey
sosial ekonomi nasional. Jakarta: Badan Pusat Statistik

Bandiyah, S. (2010). Lanjut usia dan keperawatan gerontik. Jakarta: Nuha


Medika.

Chairil, Hardiana. (2017). Gambaran perilaku personal hygiene pada lansia di


UPT PSWT Khusnul Khotimah Pekanbaru, Jurnal
Photon, 1 (8), 29-36.

Darmojo. (2004). Buku ajar geriatri (ilmu kesehatan lansia). Jakarta : FKUI.

Dion, Yohannes & Yasinta Bentan. (2013). Asuhan keperawatan keluarga


Konsep
dan praktek. Yogyakarta: Nuha Medika.

Efendi, Ferry & Makhfudli. (2009). Keperawatan kesehatan komunitas: teori dan
praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Ester, Jelita. (2017). Hubungan peran keluarga dengan tingkat kemandirian


personal hygiene anak tunagrahita di SLB Negeri Binjai
Diakses pada 9 Maret 2019. http://repository.usu.ac.id.

Farina, Intan. (2009). Faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku pemenuhan


personal hygiene pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Unit Budi
Luhur Bantul Yogyakarta. Diakses pada 24 Juli 2019.
http://digilib.unisayogya.ac.id.
Friedman, Marilyn M. (1998). Keperawatan keluarga teori dan praktik. Jakarta :
Buku Kedokteran EGC.

Hidayat. (2009). Pengantar konsep dasar keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Irianto. (2007). Kebutuhan dasar manusia. Jakarta: Salemba Medika.

Isro’in & Andarmoyo. (2012). Personal hygiene : konsep, proses dan aplikasi
dalam praktik keperawatan, edisi pertama. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Kementrian kesehatan RI. (2014). Pusat data dan informasi. Jakarta Selatan.

Koyongian, AS, Rina Kundre & Jill Lolon. (2015). Hubungan peran keluarga
dengan kepatuhan berobat pasien hipertensi di Desa Batu
Kecamatan Likupang Selatan Kabupaten Minahasa Utara. E-Journal
Keperawatan (eKp), 3 (3), 1-7.

Kusnin, Rahayu Maryani. (2015). Hubungan antara personal hygiene dan


pemakaian alat pelindung diri dengan kejadian penyakit kulit pada
pemulung di TPA Tanjung Rejo Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus.
Diakses pada tanggal 24 Juli 2019. http://lib.unnes.ac.id.

Muhith, Abdul & Sandu Siyoto. (2016). Pendidikan keperawatan gerontik.


Yogyakarta : CV Andi Offset.

Muko. (2014). Perbedaan personal hygiene pada lansia di Pangi Sosial Tresna
Werdha Ilomata dan Beringin Provinsi Gorontalo. Jurnal KIM Fakultas
Ilmu Kesehatan, 1 (2).

Nadirawati. (2018). Buku ajar asuhan keperawatan keluarga teori dan aplikasi
praktik. Bandung : Refika Aditama.

Ningsih, Sri Sistari Wahyu. (2017). Hubungan peran keluarga dengan personal
hygiene pada lansia di Posyandu Desa Tegalarum Puskesmas
Bendo Kabupaten Magetan. Diakses pada 28 Februari 2019.
http://repository.stikes-bhm.ac.id.

Nugroho, W. (2008). Keperawatan gerontik & geriatrik, edisi 3. Jakarta : EGC.


Nursalam. (2008). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu
keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Nofrianda, M. (2014). Pengetahuan dan sikap lansia dalam melakukan personal


hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia. Diakses pada 21 Maret
2019. http://repository.usu.ac.id

Notoatmodjo, S. (2005). Metode penelitian kesehatan pengambilan sampel.


Jakarta: Rhineka Cipta

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka


Cipta.

Perirea, JO. Nia Lukita A. Ragil Catur AW. (2018). Gambaran perilaku personal
hygiene pada lansia di Desa Suwaru Kecamatan Pagelaran Kabupaten
Malang. Nursing News, 3 (3), 776-784.

Potter & Perry. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan keperawatan,


konsep,
proses dan praktek. Edisi empat. Jakarta : EGC.

Pudjiastuti. (2004). Buku ajar geriatri (ilmu kesehatan usia lanjut). Jakarta:
FKUI.

Ramadhan, Kadar & Iin Sabrina. (2016). Hubungan personal hygiene dengan
citra tubuh pada lansia di Desa Sepe Kecamatan Lage
Kabupaten Poso. Jurnal Kesehatan Prima, 2(10), 1735-1748.

RI, Kemenkes. (2013). Gambaran kesehatan lanjut usia di indonesia. Jakarta :


Buletin Lansia Bakti Husada.

Saputra, Lyndon. (2014). Pengantar kebutuhan dasar manusia. Jakarta: Binarupa


Aksara

Saryono & Widianti, AT (2011). Kebutuhan dasar manusia (KDM). Yogyakarta:


Nuha Medika.
Setiabhudi, T. (2012). Menuju bahagia di usia lanjut. Jakarta: Pusat Kajian
Masalah Lanjut Usia.

Setiadi. (2008). Konsep dan proses keperawatan keluarga. Yogyakarta: Graha


Ilmu Sugiono

Sudarsih, S & Sandika, D.R (2016). Hubungan antara dukungan keluarga dengan
kemandirian lansia dalam pemenuhan personal hygiene. Jurnal Penelitian
Kesehatan. 2(14).

Wartonah, Tarwotoh (2006). Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan.


Jakarta : Salemba Medika.

Widiastuti, Retno. (2009). Peran keluarga dalam merawat anggota keluarga yang
menderita tuberkulosis paru di Wilayah Kerja Puskesmas Wirobrajan
Yogyakarta. Diakses pada 19 Juli 2019 http://digilib.unisayogya.ac.id

Widyaningsih, Retno. (2013). Perilaku kebersihan diri pada lansia di Desa


Karangpahitan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo. Universitas
Muhammadiyah Ponorogo.

Yuditama, (2015). Peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan personal hygiene


pada lansia di Dusun Sidomulyo Desa Balong Kecamatan Balong
Kabupaten Ponorogo. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Tahun 2015

Yuhono, (2017). Gambaran Peran Keluarga Dalam Merawat Lansia Dengan


Ketergantungan Di Desa Pabelan diakses pada
tanggal 24 Juli 2019. eprints.ums.ac.id.

Yuni, Natalia Erlina. (2015). Buku saku personal hygiene. Yogyakarta : Nuha
Medika.

Zamzami, MM, Tjutju R, Yuyun Sarinengsih. (2012). Pengaruh penyuluhan


kesehatan personal hygiene terhadap pengetahuan personal hygiene pada
lansia di Panti Tresnawerda Kabupaten Cianjur. Bhakti Kencana Medika,2
(4).

Zamzari, (2014). Hubungan Peran Keluarga Dengan Pemenuhan Kebutuhan


Perawatan Diri Pada Lanjut Usia Di Dusun Sidomulyo Desa
Balong Kecamatan Kabupaten Ponorogo. Skripsi. STIKES Aisyiyah
Yogyakarta Tahun 2014.

Lampiran 1

STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI LEMBAR


PERSETUJUAN
PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN PENELITIAN

LEMBAR PERSETUJUAN PENELITIAN


(INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
No. Responden :
Nama :
Umur :
Setelah mendapat penjelasan dari peneliti tentang tujuan, manfaat, resiko dan
prosedur penelitian ini, saya menyatakan bersedia ikut dalam penelitian tentang
“Hubungan Peran Keluarga Dengan Personal Hygiene Lansia di Wilayah Rw 04
Desa Gumayun Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal” Apabila sewaktu-
waktu saya mengundurkan diri dari penelitian ini, kepada saya tidak dituntut
apapun.
Demikianlah surat persetujuan bersedia berpartisipasi penelitian ini saya buat
untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Slawi,.............................2019
(…………………………….)

Lampiran 2

STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI


KUESIONER A
PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN

KUESIONER A
IDENTITAS RESPONDEN

1. Jenis Kelamin :

Laki-laki Perempuan

2. Pendidikan terakhir :

Tidak Tamat Sekolah

Pendidikan Dasar (SD dan SMP)

Pendidikan menengah (SMA)

Pendidikan tinggi (D1, D2,D3,DIV, S1)

3. Status Pekerjaan : Bekerja


Tidak Bekerja

Lampiran 3

STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI


KUESIONER B
PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN

KUESIONER B
Isilah data dibawah ini dengan memberikan tanda check list (√) pada kolom yang
menurut Anda anggap tepat.

PERAN KELUARGA

No Pertanyaan Ya Tidak *Skor

1 Apakah keluarga mengingatkan saya untuk


mandi 2 kali sehari ?
2 Apakah keluarga mendorong saya untuk
menjaga kebersihan diri ?
3 Apakah keluarga mendengarkan segala
kesulitan saya dalam memenuhi kebersihan
diri ?
4 Apakah keluarga peduli dengan masalah
kebersihan diri saya ?
5 Apakah keluarga saya lebih mementingkan
diri sendiri ?
6 Apakah keluarga menganjurkan saya untuk
mandi secara mandiri ?
7 Apakah keluarga memberikan pendidikan
tentang pentingnya kebersihan diri kepada
saya ?
8 Apakah keluarga mendidik saya dalem
meningkatkan kebersihan diri ?
9 Apakah keluarga membantu saya dalam
meningkatkan pengetahuan tentang
kebersihan diri ?
10 Apakah keluarga membantu saya dalam
meningkatkan kebersihan merawat diri ?
11 Apakah keluarga tidak peduli pada
pengetahuan kebersihan diri saya ?
12 Apakah keluarga tidak memberikan informasi
tentang kebersihan diri pada saya ?
13 Apakah keluarga menyediakan air bersih
untuk kebersihan diri (mandi, cuci tangan,
cebok, dll) ?
14 Apakah keluarga menyediakan peralatan
mandi pada saya. Misalnya sabun, shampoo,
sikat gigi, pasta gigi ?
15 Apakah keluarga menyediakan pakaian bersih
untuk saya ?
16 Apakah keluarga menyediakan alat potong
kuku dan cutton bad (alat pembersih telinga)
pada saya ?
17 Apakah keluarga menyediakan alat kerapian
(sisir, kaca, dll) pada saya ?
18 Apakah keluarga menyuruh saya untuk
membeli perlengkapan kebersihan sendiri ?

Nb : *) Diisi oleh peneliti


Lampiran 4

STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI


KUESIONER C
PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN

KUESIONER C
Isilah data dibawah ini dengan memberikan tanda check list (√) pada kolom yang
menurut Anda anggap tepat.

PERSONAL HYGIENE LANSIA

No. Pertanyaan Ya Tidak *Skor

1 Saya mandi minimal 2 kali sehari

2 Saya mandi memakai sabun

3 Saya keramas minimal 2 kali dalam satu


minggu
4 Saya memotong rambut 3 bulan sekali

5 Saya membersihkan rambut dari kutu dan


ketombe
6 Saya membersihkan kotoran di daerah mata
setiap hari / saat mandi
7 Saya membersihkan rongga hidung setiap
hari / saat mandi
8 Saya membersihkan kotoran pada telinga
setiap hari / saat mandi
9 Saya menggosok gigi 2 kali dalam sehari
setiap pagi dan malam sebelum tidur
10 Saya menggunakan pasta gigi setiap
menggosok gigi
11 Saya mengganti sikat gigi 3 bulan sekali

12 Saya memotong kuku jika panjang

13 Saya mencuci tangan setelah menggunakan


kamar kecil / Wc
14 Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah
melakukan aktivitas tertentu (memasak,
bermain bersama cucu, dll)
15 Saya mencuci tangan setelah memegang
hewan peliharaan (ayam, kucing, anjing dll)
16 Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah
makan
17 Saya mencuci tangan dan kaki sebelum tidur

Nb : *) Diisi oleh peneliti


Lampiran 5
Jadwal Penelitian

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


DAN NERS STIKES BHAMADA SLAWI
JADWAL PENELITIAN

No Kegiatan Feb Maret April Mei Juni Juli Agustus

4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penentuan
Judul
Bimbingan Proposal
2 BAB 1
Pendahuluan
3 BAB 2
Tinjauan
Teori
4 BAB 3
Metodologi
Penelitian
5 Sidang
Proposal
6 Revisi
Proposal
7 Penelitian
Bimbingan Skripsi
8 BAB 4 Hasil
dan
Pembahasan
9 BAB 5
Simpulan dan
Saran
10 Sidang
Skripsi
11 Revisi Skripsi
12 Pengumpulan
Skripsi
Lampiran 6

STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI LEMBAR


SURAT IJIN
PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN PENELITIAN
Lampiran 6

STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI LEMBAR


HASIL
PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN PENELITIAN

Reliability

Peran keluarga 1

Case Processing Summary

N %
Cases Valid 20 100,0
Excludeda 0 0,0
Total 20 100,0

Reliability Statistics

Cronbach's N of
Alpha Items
,859 11

Item-Total Statistics

Scale Scale Cronbach's


Mean if Variance Corrected Alpha if
Item if Item Item-Total Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
item2 5,50 7,842 ,783 ,829
item4 5,85 8,029 ,599 ,843
item8 5,85 8,029 ,599 ,843
item9 5,95 8,261 ,557 ,847
item10 6,00 8,632 ,444 ,855
item11 5,65 7,503 ,810 ,825
item12 5,75 8,513 ,404 ,860
item14 5,85 8,661 ,363 ,863
item16 5,30 9,379 ,407 ,858
item17 5,50 7,842 ,783 ,829
item3 5,30 9,379 ,407 ,858
Peran keluarga 2

Case Processing Summary

N %
Cases Valid 20 100,0
Excludeda 0 0,0
Total 20 100,0
a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's N of
Alpha Items
,880 7

Item-Total Statistics

Scale Scale Cronbach's


Mean if Variance Alpha if
Item if Item Corrected Item-Total Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
item1 3,40 5,621 ,539 ,879
item7 3,55 5,208 ,725 ,855
item13 3,35 5,397 ,669 ,862
item15 3,40 5,095 ,798 ,845
item18 3,55 5,208 ,725 ,855
item19 3,35 5,397 ,669 ,862
item20 3,40 5,621 ,539 ,879
Personal hygiene 1

Case Processing Summary

N %
Cases Valid 20 100.0
Excludeda 0 0.0
Total 20 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's N of
Alpha Items
.672 8
Item-Total Statistics

Scale Scale Cronbach's


Mean if Variance Corrected Alpha if
Item if Item Item-Total Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
item2 2.65 3.082 .355 .654
item7 3.20 2.379 .502 .601
item9 3.40 2.779 .339 .647
item11 3.00 2.211 .634 .558
item12 2.80 2.589 .494 .609
item16 3.35 2.976 .155 .693
item17 3.30 2.537 .436 .622
item19 3.50 3.316 .000 .706
Personal hygiene 2

Case Processing Summary

N %
Cases Valid 20 100,0
Excludeda 0 0,0
Total 20 100,0
a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's N of
Alpha Items
,838 9
Item-Total Statistics

Scale Scale Cronbach's


Mean if Variance Alpha if
Item if Item Corrected Item-Total Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
item1 3,45 6,261 ,718 ,801
item4 3,40 6,779 ,499 ,827
item6 3,60 6,989 ,439 ,833
item8 3,40 6,884 ,456 ,832
item10 3,45 6,261 ,718 ,801
item13 3,70 7,379 ,327 ,843
item15 3,45 6,261 ,718 ,801
item18 3,80 7,116 ,571 ,822
item20 3,35 6,766 ,515 ,825
Frequencies

Jenis Kelamin Responden

Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Laki-laki 42 45,7 45,7 45,7
Perempuan 50 54,3 54,3 100,0
Total 92 100,0 100,0

Pendidikan Responden

Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Tidak Tamat Sekolah 55 59,8 59,8 59,8
Pendidikan Dasar (SD, SMP) 33 35,9 35,9 95,7
Pendidikan Menengah
4 4,3 4,3 100,0
(SMA)
Total 92 100,0 100,0

Pekerjaan Responden

Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Bekerja 33 35,9 35,9 35,9
Tidak Bekerja 59 64,1 64,1 100,0
Total 92 100,0 100,0

Peran Keluarga

Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Peran Keluarga Baik (Skor
76%-100%) 26 28,3 28,3 28,3

Peran Keluarga Cukup (Skor


60%-75%) 23 25,0 25,0 53,3

Peran Keluarga Kurang (


Skor <59%) 43 46,7 46,7 100,0

Total 92 100,0 100,0


Personal Hygiene

Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Personal Hygiene Terpenuhi
(Skor 50%-100%) 52 56,5 56,5 56,5

Personal Hygiene Tidak


Terpenuhi (Skor 50%) 40 43,5 43,5 100,0

Total 92 100,0 100,0

HASIL UJI BIVARIAT DENGAN CHIE SQUARE

Peran Keluarga * Personal Hygiene Crosstabulation

Count
Personal Hygiene

Personal Personal
Hygiene Hygiene
Terpenuhi Tidak
(Skor Terpenuhi
50%- (Skor
100%) 50%) Total
Peran Peran Keluarga Baik (Skor
Keluarga 76%-100%) 25 1 26
Peran Keluarga Cukup (Skor
60%-75%) 22 1 23
Peran Keluarga Kurang (
Skor <59%) 5 38 43
Total 52 40 92

Chi-Square Tests

Asymp.
Sig. (2-
Value df sided)
Pearson
Chi-Square 66.215a 2 ,000

Likelihood
Ratio 78,353 2 ,000
Linear-by-
Linear
Association 53,579 1 ,000

N of Valid
Cases 92

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 10.00.
Master tabel hasil penelitian

Jenis Kelamin Kode Pendidikan Kode Pekerjaan kode


Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Perempuan 2 dan SMP) 1 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Laki-laki 1 dan SMP) 1 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Perempuan 2 dan SMP) 1 Bekerja 1
Pendidikan dasar (SD
Laki-laki 1 dan SMP) 1 Bekerja 1
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Perempuan 2 dan SMP) 1 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Laki-laki 1 dan SMP) 1 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Perempuan 2 dan SMP) 1 Bekerja 1
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Perempuan 2 dan SMP) 1 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Laki-laki 1 dan SMP) 1 Bekerja 1
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Laki-laki 1 dan SMP) 1 Bekerja 1
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Perempuan 2 dan SMP) 1 Bekerja 1
Pendidikan dasar (SD
Perempuan 2 dan SMP) 1 Bekerja 1
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Laki-laki 1 dan SMP) 1 Bekerja 1
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan menengah Tidak
Laki-laki 1 (SMA) 2 bekerja 2
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Perempuan 2 dan SMP) 1 Bekerja 1
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan menengah
Laki-laki 1 (SMA) 2 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Perempuan 2 dan SMP) 1 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Perempuan 2 dan SMP) 1 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Laki-laki 1 dan SMP) 1 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Laki-laki 1 dan SMP) 1 Bekerja 1
Pendidikan dasar (SD
Laki-laki 1 dan SMP) 1 Bekerja 1
Pendidikan dasar (SD
Laki-laki 1 dan SMP) 1 Bekerja 1
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Laki-laki 1 dan SMP) 1 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Laki-laki 1 dan SMP) 1 Bekerja 1
Pendidikan menengah
Laki-laki 1 (SMA) 2 Bekerja 1
Pendidikan menengah
Perempuan 2 (SMA) 2 Bekerja 1
Pendidikan dasar (SD
Perempuan 2 dan SMP) 1 Bekerja 1
Pendidikan dasar (SD Tidak
Perempuan 2 dan SMP) 1 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Perempuan 2 dan SMP) 1 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Laki-laki 1 dan SMP) 1 bekerja 2
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Laki-laki 1 dan SMP) 1 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Perempuan 2 dan SMP) 1 bekerja 2
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD
Laki-laki 1 dan SMP) 1 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Perempuan 2 dan SMP) 1 bekerja 2
Tidak
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Perempuan 2 dan SMP) 1 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Laki-laki 1 dan SMP) 1 bekerja 2
Tidak
Perempuan 2 Tidak tamat sekolah 0 bekerja 2
Pendidikan dasar (SD Tidak
Perempuan 2 dan SMP) 1 bekerja 2
Laki-laki 1 Tidak tamat sekolah 0 Bekerja 1
Kuesioner peran keluarga

DATA KUESIONER
PERAN KELUARGA
skor
total
Q1 Q1 Q1 Q1 Q1 Q1 Q1 Q1 Skor dalam ko
Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 Q6 Q7 Q8 Q9 0 1 2 3 4 5 6 7 Q18 Total % de
1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 6 33,3% 3
0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 6 33,3% 3
1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 88,8% 1
0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 7 38,8% 3
1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 88,8% 1
1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 1 11 61,1% 2
0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 6 33,3% 3
0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 5 27,7% 3
1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 13 72,2% 2
1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 15 83,3% 1
0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 6 33,3% 3
1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 9 50% 3
1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 13 72,2% 2
1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 14 77,7% 1
1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 15 83,3% 1
1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 15 83,3% 1
1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 14 77,7% 1
0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 5 27,7% 3
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 12% 66,6% 2
1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 13 72,2% 2
1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 14 77,7% 1
1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 12 66,6% 2
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 3 16,6% 3
1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 15 83,3% 1
0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 11 61,1% 2
1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 9 50% 3
1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 13 72,2% 2
0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 11 61,1% 2
1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 13 72,2% 2
0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 5 27,7% 3
1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 14 94,4% 1
1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 88,8% 1
0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 4 22% 3
1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 14 77,7% 1
1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 7 38,8% 3
0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 8 44% 3
1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 14 77,8% 1
0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 6 33% 3
1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 14 77,7% 1
0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 7 38,8% 3
1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 4 22,2% 3
1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 13 72,2% 2
0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 4 22,2% 3
0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 7 38,8% 3
1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 6 33,3% 3
1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 11 61,1% 2
1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 12 66,6% 2
1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 15 83,3% 1
1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 10 55,5% 3
0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 9 50% 3
1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 12 66,6% 2
1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 16 88,8% 1
1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 15 83,3% 1
0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 7 38,8% 3
1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 11 61,1% 2
0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 8 44% 3
1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 13 72,2% 2
0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 5 27,7% 3
1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 13 72,2% 2
0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 7 38,8% 3
1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 5 27,7% 3
0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 5 27,7% 3
1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 15 83,3% 1
1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 14 77,7% 1
1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 14 77,7% 1
0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 12 66,6% 2
0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 15 83,3% 1
1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 14 77,7% 1
0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 3 16,6% 3
0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 6 33,3% 3
0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 4 22,2% 3
0 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 22,2% 3
0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 8 27,7% 3
0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 14 77,7% 1
1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 77,7% 1
0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 7 38,8% 3
1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 11 61,1% 3
0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 12 66,6% 2
0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 7 38,8% 3
1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 7 38,8% 3
1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 13 72,2% 2
1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 3 16,6 3
0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 4 22,2% 3
1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 16 88,8% 1
1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 7 50% 3
66,60
1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 12 % 2
0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 11 55,5% 3
1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 14 77,7% 1
1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 11 61,1% 2
1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 1 11 66,8% 2
0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 5 27,7% 3
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 2 11,1% 3
Personal Hygiene

DATA KUESIONER
PERSONAL
HYGIENE
skor
Skor total
Q1 Q1 Q1 Q1 Q1 Q1 Q1 Q1 Tota dalam
Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 Q6 Q7 Q8 Q9 0 1 2 3 4 5 6 7 l % kode
0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 4 23,50% 2
1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 0 0 0 0 6 35,20% 2
1 1 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 9 52,90% 1
1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 10 58,80% 1
1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 12 70,50% 1
1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 10 58,80% 1
0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 7 41,10% 2
0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 7 41,10% 2
0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 9 52% 1
1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 13 76,40% 1
0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 10 58,80% 1
1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 6 35,20% 2
1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 11 64,00% 1
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 16 94,10% 1
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 17 100% 1
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 16 94,10% 1
1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 15 76,40% 1
0 1 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 8 47,05% 2
0 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 70,50% 1
0 1 1 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 11 64% 1
1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 11 64% 1
1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 9 52,90% 1
1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 6 35,20% 2
0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 6 35,20% 2
1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 5 29,41% 2
0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 8 47,05% 2
1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 10 58,80% 1
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 12 70,50% 1
1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 13 76,40% 1
1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 6 35,20% 2
1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 10 58,80% 1
1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 9 52,90% 1
1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 11 64% 1
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 10 58,80% 1
1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 8 47,05% 2
1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 7 41,10% 2
1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 12 70,50% 1
1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 35,20% 2
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 12 70,50% 1
1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 35,20% 2
1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 41,10% 2
1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 12 70,50% 1
0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 29% 2
1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 5 29% 2
1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 0 6 35,20% 2
1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 12 70,50% 1
1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 12 70,50% 1
1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 13 76,40% 1
1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 29% 2
1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 47,50% 2
0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 14 82,30% 1
1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 11 64,70% 1
1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 9 52,90% 1
0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 8 47,05% 2
1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 10 58,80% 1
1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 8 47,05% 2
1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 70,50% 1
1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 6 35,20% 2
1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 10 58,80% 1
1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 8 47,05% 2
1 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 6 35,20% 2
1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 82,35% 1
1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 10 58,80% 1
1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 13 76,40% 1
1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 13 76,40% 1
0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 9 52,90% 1
0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 11 64% 1
1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 12 70,50% 1
1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 8 47,05% 2
1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 7 41,10% 2
0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 6 35,20% 2
1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 7 41,10% 2
1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 13 76,40% 1
1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 12 70,50% 1
1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 11 64,70% 1
1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 8 47,05% 2
0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 4 23,50% 2
1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 1 9 52,90% 1
0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 6 35,20% 2
1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 8 47,05% 2
1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 9 52,90% 1
1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 7 41,10% 2
0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 5 29,00% 2
1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 11 64,00% 1
1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 8 47,05% 2
0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 10 58,80% 1
0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 5 58,80% 2
1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 10 58,80% 1
1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 10 58,80% 1
1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 11 64% 1
1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 8 47,05% 2
1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 23,50% 2
Lampiran 7

STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI


LEMBAR
PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN DOKUMENTASI
Lampiran 8

STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI LEMBAR


PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN KONSULTASI
CURRICULUM VITAE

Nama : Evi Widiastuti


Tempat dan tanggal lahir : Pekalongan, 28 Januari 1997
Jenis kelamin : Perempuan
Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Jl. Prof Moh Yamin
No. 51 Pakembaran
Nama orang tua : 1. Sugiri
2. Musiam
Pekerjaan orang tua : 1. Wiraswasta
2. Wiraswasta
Riwayat pendidikan : 1. TK Miftahul Ulum Slawi
2. SDN Kudaile 05
3. SMP N 3 Slawi
4. SMA N 1
Dukuhwaru
5. STIKes
BHAMADA SLAWI
Hasil karya tulis / research :

HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN PERSONAL HYGIENE


LANSIA DI WILAYAH RW 04 DESA GUMAYUN KECAMATAN
DUKUHWARU KABUPATEN TEGAL