Anda di halaman 1dari 16

Dinamika Dan Tantangan Identitas Nasional

Disusun oleh:

Riansyah 01031181722009

Nisrina Mutia 01031181722010

Vika Oktarina 01031281722056

Zahratunnisa 01031281722070

Ruth Natalia 01031281722092

Tania Febiani 01031281722115

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Semester Gasal 2017-2018


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Setiap Negara yang merdeka dan berdaulat sudah dapat dipastikan


berupaya memiliki identitas nasional agar negara tersebut dapat dikenal oleh
negara-bangsa lain, dan dapat dibedakan dengan bangsa lain. Identitas
Nasional mampu menjaga eksistensi dan kelangsungan hidup negara-bangsa.
Negara-bangsa memiliki kewibawaan dan kehormatan sebagai bangsa yang
sejajar dengan bangsa lain serta akan menyatukan bangsa yang bersangkutan.

Eksistensi suatu bangsa pada era globalisasi ini mendapat tantangan yang
sangat kuat, terutama karena pengaruh kekuasaan internasional. Menurut
Berger dalam The Capitalis Revolution, era globalisasi dewasa ini ideologi
kapitalislah yang akan menguasai dunia. Kapitalisme telah mengubah
masyarakat satu per satu dan menjadi sistem internasional yang menentukan
nasib ekonomi sebagian besar bangsa-bangsa di dunia, dan secara tidak
langsung juga nasib sosial, politik, dan kebudayaan (Berger, 1988).

Situasi dan kondisi ini menghadapkan kita pada suatu keprihatinan dan
sekaligus juga mengundang kita untuk ikut bertanggung jawab atas mosaik
Indonesia yang retak bukan sebagai ukiran melainkan membelah dan meretas
jahitan busana tanah air, tercabik-cabik dalam kerusakan yang menghilangkan
keindahannya. Untaian kata-kata dalam pengantar sebagaimana tersebut
merupakan tamsilan bahwasannya Bangsa Indonesia yang dahulu dikenal
sebagai “het zachste volk ter aarde” dalam pergaulan antar bangsa, kini sedang
mengalami tidak saja krisis identitas melainkan juga krisis dalam berbagai
dimensi kehidupan yang melahirkan instabilitas yang berkepanjangan
semenjak reformasi digulirkan pada tahun 1998. (Koento W, 2005).

Kehalusan budi, sopan santun dalam sikap dan perbuatan, kerukunan,


toleransi dan solidaritas sosial, idealisme dan sebagainya telah hilang hanyut

1
dilanda oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang penuh paradoks.
Berbagai lembaga kocar-kacir semuanya dalam malfungsi dan disfungsi. Trust
atau kepercayaan antar sesama baik vertikal maupun horisontal telah lenyap
dalam kehidupan bermasyarakat. Identitas nasional kita dilecehkan dan
dipertanyakan eksistensinya.

Krisis multidimensi yang sedang melanda masyarakat kita menyadarkan


kita semua bahwa pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan
Identitas Nasional kita telah ditegaskan sebagai komitmen konstitusional
sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri negara kita dalam Pembukaan UUD
1945 yang intinya adalah memajukan kebudayaan Indonesia.Dengan demikian
secara konstitusional pengembangan kebudayaan untuk membina dan
mengembangkan Identitas Nasional kita telah diberi dasar dan arahnya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian identitas nasional secara etimologis dan terminologis ?


2. Apa unsur-unsur identitas nasional ?
3. Apa faktor-faktor pendukung kelahiran identitas nasional ?
4. Bagaimana fungsi dan urgensi identitas nasional ?
5. Bagaimana dinamika dan tantangan identitas nasional indonesia ?
6. Bagaimana solusi dari dinamika dan tantangan identitas nasional ?

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahui pengertian identitas nasional secara etimologis dan


terminologis
2. Untuk mengetahui unsur-unsur identitas nasional
3. Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung kelahiran identitas nasional
4. Untuk mengetahui fungsi dan urgensi identitas nasional
5. Untuk mengetahui dinamika dan tantangan identitas nasional indonesia
6. Untuk mengetahui solusi dari dinamika dan tantangan identitas nasional

BAB II
PEMBAHASAN

2
2.1 PENGERTIAN IDENTITAS NASIONAL

Secara etimologis identitas nasional berasal dari dua kata yaitu


“identitas” dan “nasional”. Kata identitas berasal dari bahasa Inggris Identity
yang memiliki pengertian harafiah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang
melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain.
Dalam term antropologi identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan
sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok
sendiri, komunitas sendiri, atau negara sendiri. Mengacu pada pengertian ini
identitas tidak terbatas pada individu semata tetapi berlaku pula pada suatu
kelompok. Sedangkan kata nasional merupakan identitas yang melekat pada
kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan,
baik fisik seperti budaya, agama, dan bahasa maupun non fisik seperti
keinginan, cita-cita dan tujuan. Himpunan kelompok-kelompok inilah yang
kemudian disebut dengan istilah identitas bangsa atau identitas nasional yang
pada akhirnya melahirkan tindakan kelompok (colective action) yang
diwujudkan dalam bentuk organisasi atau pergerakan-pergerakan yang diberi
atribut-atribut nasional. Kata nasional sendiri tidak bisa dipisahkan dari
kemunculan konsep nasionalisme.

Secara terminologis istilah identitas nasional memiliki pengertian yang


berbeda-beda menurut pendapat beberapa ahli. Menurut Kaelan (2010: 43)
menyatakan bahwa identitas nasional adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu
bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain.
Berdasarkan pengertian yang demikian ini maka setiap bangsa di dunia ini akan
memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri serta
karakter dari bangsa tersebut.demikian pula hal ini sangat ditentukan oleh
bagaimana proses bangsa tersebut terbentuk secara historis. Berdasarkan
hakikat pengertian “identitas nasional” sebagaimana dijelaskan diatas maka
identitas nasional suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri suatu
bangsa atau lebih populer disebut sebagai kepribadian bangsa.

3
Menurut Koento Wibisono (2005) menyatakan bahwa Identitas Nasional
pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam aspek kehidupan suatu nation (bangsa) dengan ciri-ciri
khas, dan dengan ciri-ciri yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa
lain dalam hidup dan kehidupannya. Bila dilihat dalam konteks Indonesia maka
Identitas Nasional itu merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh
dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang
“dihimpun” dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan nasional
dengan acuan Pancasila dan roh “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai dasar dan
arah pengembangannya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hakikat
Identitas Nasional kita sebagai bangsa di dalam hidup dan kehidupan
berbangsa dan bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam
penataan kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam aturan perundang-
undangan atau hukum, sistem pemerintahan yang diharapkan, nilai-nilai etik
dan moral yang secara normatif diterapkan di dalam pergaulan baik dalam
tataran nasional maupun internasional dan lain sebagainya. Nilai-nilai budaya
yang tercermin di dalam Identitas Nasional tersebut bukanlah barang jadi yang
sudah selesai dalam kebekuan normatif dan dogmatis, melainkan sesuatu yang
“terbuka” yang cenderung terus-menerus bersemi karena hasrat menuju
kemajuan yang dimilki oleh masyarakat pendukungnya. Konsekuensi dan
implikasinya adalah bahwa Identitas Nasional adalah sesuatu yang terbuka
untuk ditafsir dengan diberi makna baru agar tetap relevan dan fungsional
dalam kondisi aktual yang berkembang dalam masyarakat.

Sedangkan menurut Tilaar (2007) menyatakan identitas nasional berkaitan


dengan pengertian bangsa. Menurutnya,bangsa adalah suatu keseluruhan
alamiah dari seseorang karena daripadanyalah seorang individu memperoleh
realitasnya. Artinya, seseorang tidak akan mempunyai arti bila terlepas dari
masyarakatnya. Dengan kata lain, seseorang akan mempunyai arti bila ada
dalam masyarakat. Dalam konteks hubungan antarbangsa, seseorang dapat

4
dibedakan karena nasionalitasnya sebab bangsa menjadi penciri yang
membedakan bangsa yang satu dengan bangsa lainnya.

2.2 UNSUR-UNSUR IDENTITAS NASIONAL

Identitas Nasional Indonesia merujuk pada suatu bangsa yang majemuk.


Kemajemukan itu merupakan gabungan dari unsur-unsur pembentuk identitas
yaitu suku bangsa, agama, kebudayaan dan bahasa.

1) Suku Bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif
(ada sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis
kelamin. Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok
etnis dengan tidak kurang 300 dialek bahasa.

2) Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-


agama yang tumbuh dan berkembang di nusantara adalah agama Islam,
Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu
pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi negara namun
sejak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi
negara dihapuskan.

3) Kebudayaan, adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang


isinya adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang
secara kolektif digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk
menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan
sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan
dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.

4) Bahasa: merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain. Bahasa


dipahami sebagai sistem perlambang yang secara arbiter dibentuk atas
unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan yang digunakan sebagai sarana
berinteraksi antar manusia.

Dari unsur-unsur Identitas Nasional tersebut diatas dapat dirumuskan


pembagiannya menjadi 3 bagian sebagai berikut :

5
1). Identitas Fundamental; yaitu Pancasila yang merupakan Falsafah
Bangsa, Dasar Negara, dan Ideologi Negara.

2) Identitas Instrumental yang berisi UUD 1945 dan Tata Perundangannya,


Bahasa Indonesia, Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan
“Indonesia Raya”.

3) Identitas Alamiah yang meliputi Negara Kepulauan (archipelago) dan


pluralisme dalam suku, bahasa, budaya dan agama serta kepercayaan
(agama).

2.3 FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG KELAHIRAN IDENTITAS


NASIONAL

Faktor yang mendukung kelahiran identitas nasional bangsa Indonesia


meliputi (1) faktor objektif, yaitu faktor geografis, ekologis, dan demografis,
(2) faktor subjektif, yaitu faktor historis, sosial, politik, dan kebudayaan yang
dimiliki bangsa Indonesia (Suryo, 2002). Kondisi geografis-ekologis yang
membentuk Indonesia sebagai wilayah kepulauan yang beriklim tropis dan
terletak di persimpangan jalan komunikasi antar wilayah dunia di Asia
Tenggara, ikut mempengaruhi perkembangan kehidupan demografis,
ekonomis, sosial, dan kultural bangsa Indonesia. Selain itu faktor historis yang
dimiliki Indonesia ikut mempengaruhi proses pembentukan masyarakat dan
bangsa Indonesia beserta identitasnya, melalui interaksi berbagai faktor yang
ada di dalamnya.

Sedangkan Robert De Ventos mengemukakan bahwa teori munculnya


identitas nasional suatu bangsa sebagai hasil interaksi historis antara empat
faktor penting, yaitu faktor primer, faktor pendorong, faktor penarik, dan faktor
reaktif. Faktor pertama, mencakup etnisitas, teritorial, bahasa, agama, dan yang
sejenisnya. Bagi bangsa Indonesia yang tersusun dari berbagai etnis, bahasa,
agama, wilayah, serta bahasa daerah, merupakan suatu kesatuan meskipun
berbeda-beda dengan kekhasan masing-masing. Hal inilah yang dikenal
dengan Bhineka Tunggal Ika. Faktor kedua, meliputi pembangunan

6
komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan bersenjata modern dan
pembangunan lainnya dalam kehidupan Negara. Dalam hubungan ini bagi
suatu bangsa kemajuan ilmu pengetahuandan teknologi serta pembangunan
negara dan bangsanya merupakan suatu identitas nasional yang bersifat
dinamis. Faktor ketiga, mencakup kodifikasi bahasa dalam gramatika yang
resmi, tumbuhnya birokrasi, dan pemantapan sistem pendidikan nasional. Bagi
bangsa Indonesia unsur bahasa telah merupakan bahasa persatuan dan kesatuan
nasional, sehingga bahasa Indonesia telah merupakan bahasa resmi negara dan
bangsa Indonesia. Faktor keempat, meliputi penindasan, dominasi, dan
pencarian identitas alternatif melalui memori kolektif rakyat. Penderitaan dan
kesengsaraan hidup serta semangat bersama dalam memperjuangkan
kemerdekaan merupakan faktor yang sangat strategis dalam membentuk
memori kolektif rakyat.

Keempat faktor tersebut pada dasarnya tercakup dalam proses


pembentukan identitas nasional bangsa Indonesia, yang telah berkembang dari
masa sebelum bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan dari bangsa lain.
Pencarian identitas nasional bangsa Indonesia pada dasarnya melekat erat
dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk membangun bangsa dan negara
dengan konsep nama Indonesia. Bangsa dan negara Indonesia ini dibangun dari
unsur-unsur masyarakat lama dan dibangun menjadi satu kesatuan bangsa dan
negara dengan prinsip nasionalisme modern. Oleh karena itu, pembentukan
identitas nasional Indonesia melekat erat dengan unsur-unsur lainnya seperti
sosial, ekonomi, budaya, etnis, agama, serta geografis, yang saling berkaitan
dan terbentuk melalui suatu proses yang sangat panjang.

2.4 FUNGSI DAN URGENSI IDENTITAS NASIONAL

7
Identitas nasional itu penting, sebagaimana telah dijelaskan bahwa sebuah
negara dapat diibaratkan seorang individu manusia. Salah satu tujuan Tuhan
menciptakan manusia adalah agar manusia saling mengenal. Agar individu
manusia dapat mengenal atau dikenali oleh individu lain, manusia perlu
memiliki ciri atau identitas.

Selanjutnya, kita akan mengaitkan identitas diri individu dengan konteks


negara atau bangsa. Identitas nasional itu penting bagi sebuah negara agar
bangsa kita dikenal oleh bangsa lain. Apabila kita sudah dikenal oleh bangsa
lain maka kita dapat melanjutkan perjuangan untuk mampu eksis sebagai
bangsa sesuai dengan fitrahnya. Identitas nasional bagi sebuah negara-bangsa
sangat penting bagi kelangsungan hidup negara-bangsa tersebut. Tidak
mungkin negara dapat hidup sendiri sehingga dapat eksis. Setiap negara seperti
halnya individu manusia tidak dapat hidup menyendiri. Setiap negara memiliki
keterbatasan sehingga perlu bantuan/pertolongan negara atau bangsa lain.
Demikian pula bagi indonesia, kita perlu memiliki identitas agar dikenal oleh
bangsa lain untuk saling memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, identitas
nasional sangat penting untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan nasional
negara-bangsa Indonesia.

Identitas nasional penting bagi kewibawaan negara dan bangsa Indonesia.


Dengan adanya identitas maka akan tumbuh rasa hormat dan saling
menghargai antar negara-bangsa. Dalam berhubungan antarnegara tecipta
hubungan yang sederajat/sejajar, karena masing-masing mengakui bahwa
setiap negara berdaulat tidak boleh melampaui kedaulatan negara lain. Istilah
ini dalam hukum internasional dikenal dengan asas “Par imparem non habet
imperium” yang artinya bahwa negara berdaulat tidak dapat melaksanakan
yurisdiksiterhadap negara berdaulat lainnya.

2.5 DINAMIKA DAN TANTANGAN IDENTITAS NASIONAL INDONESIA

8
Banyak sejumlah kasus dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari
mengenai dinamika kehidupan dan tantangan terkait identitas nasional yang
pernah kita lihat sebagai berikut :

1. Pancasila belum menjadi sikap dan perilaku sehari-hari ( membuang


sampah sembarangan, tidak disiplin)
2. Lunturnya nilai-nilai luhur dalam praktik kehidupan berbangsa dan
bernegara
( kesantunan, kepedulian)
3. Rasa nasionalisme dan patriotisme yang luntur dan memudar ( menghargai
dan mencintai buaya asing )
4. Lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasa indonesia.
5. Lebih mengapresiasi lagu-lagu asing daripada mengapresiasi lagu nasional
atau lagu daerah sendiri.
6. Lunturnya semangat nasionalisme dalam menjunjung nama bangsa dan
negara.

Kita harus mampu menghadapi segenap tantangan dan hambatan dalam


kehidupan guna dapat memelihara stabilitas nasional. Tantangan dan masalah
yang dihadapi terkait dengan Pancasila telah banyak mendapat tanggapan dan
analisis sejumlah pakar. Seperti Azyumardi Azra ( Tilaar,2007), menyatakan
bahwa saat ini Pancasila sulit dan dimarginalkan di dalam semua kehidupan
masyarakat indonesia karena: 1) Pancasila dijadikan sebagai kendaraan politik;
2) adanya liberalismepolitik; dan 3) lahirnya desentralisasi atau otonomi daerah
menurut Tilaar (2007)

Disadari bahwa rendahnya pemahaman dan menurunnya kesadaran warga


negara dalam bersikap dan berperilaku menggunakan nilai-nilai pancasila
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya pada era reformasi
bagaikan berada dalam tahap disintegrasi karena tidak ada nilai-nilai yang
menjadi pegangan bersama. Oleh karena itu perlu adanya pendukungdalam
meningkatkan kesadaran terhadap nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan

9
pegangan dalam bermasyarakat. Memahami dan mengerti nilai-nilai pancasila
sejak dini dalam kehidupan sekolah sangat membantu dalam meningkatkan
kesadaran dalam mewujudkan nilai-nilai pancasila. Kita perlu memahami
secara penuh bahwa pancasila sebagai pedoman hidup bangsa sehingga kita
dapat merasa berkewajiban dalam melaksanakannya.

Tantangan terkait memudarnya rasa nasionalisme dan patriotisme perlu


mendapat perhatian. Bangsa indonesia perlu mengupayakan strategi untuk
mengalihkan kecintaan terhadap bangsa asing agar dapat berubah menjadi
bangsa sendiri. Hal tersebut perlu adanya upaya dari generasi baru untuk
mendorong bangsa indonesia untuk membuat prestasi yang tidak dapat dibuat
oleh bangsa lain. Mendorong masyarakat kita untuk bangga menggunakan
produk bangsa sendiri.

Semua unsur formal identitas nasional, baik langsung maupun secara tidak
langsung diterapkan, perlu dipahami, diamalkan dan diperlakukan sesuai
dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Permasalahannya terletak
pada sejauh mana masyarakat kita memahami dan menyadari dirinya sebagai
warga negara yang baik yang beridentitas sebagai warga negara indonesia
dengan pancasila sebagai pedomannya. Oleh karena itu, warga negara yang
baik akan berupaya belajar secara berkelanjutan untuk menjadi warga negara
yang baik dan cerdas.

2.6 SOLUSI DARI DINAMIKA DAN TANTANGAN IDENTITAS


NASIONAL

Dalam rangka pemberdayaan Identitas Nasional, perlu ditempuh melalui


revitalisasi Pancasila. Revitalisasi sebagai manifesatsi Identitas Nasional
mengandung makna bahwa Pancasila harus kita letakkan dalam keutuhannya
dengan Pembukaan, dieksplorasikan dimensi-dimensi yang melekat padanya,
yang meliputi:

1. Realitas: dalam arti bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya


dikonsentrasikan sebagai cerminan kondisi objektif yang tumbuh dan

10
berkembang dalam masyarakat kampus utamanya, suatu rangkaian nilai-
nilai yang bersifat sein im sollen dan das sollen im sein.
2. Idealitas: dalam arti bahwa idealisme yang terkandung di dalamnya
bukanlah sekedar utopi tanpa makna, melainkan di objektivasikan sebagai
“kata kerja” untuk membangkitkan gairah dan optimisme para warga
masyarakat guna melihat hari depan secara prospektif, menuju hari esok
yang lebih baik, melalui seminar atau gerakan dengan tema “Revitalisasi
Pancasila”.
3. Fleksibilitas: dalam arti bahwa Pancasila bukanlah barang jadi yang sudah
selesai dan “tertutup”menjadi sesuatu yang sakral, melainkan terbuka bagi
tafsir-tafsir baru untuk memenuhi kebutuhan jaman yang terus-menerus
berkembang. Dengan demikian tanpa kehilangan nilai hakikinya Pancasila
menjadi tetap aktual, relevan serta fungsional sebagai tiang-tiang
penyangga bagi kehidupan bangsa dan negara dengan jiwa dan semangat
“Bhinneka Tunggal Ika”, sebagaimana dikembangkan di Pusat Studi
Pancasila (di UGM), Laboratorium Pancasila (di Universitas Negeri
Malang).

Melalui revitalisasi Pancasila sebagai wujud pemberdayaan Identitas


Nasional inilah, maka Identitas Nasional dalam alur rasional-akademik tidak
saja segi tekstual melainkan juga segi konstekstualnya dieksplorasikan sebagai
referensi kritik sosial terhadap berbagai penyimpangan yang melanda
masyarakat kita dewasa ini. Untuk membentuk jati diri maka nilai-nilai yang
ada tersebut harus digali dulu misalnya nilai-nilai agama yang datang dari
Tuhan dan nilai-nilai yang lain misalnya gotong royong, persatuan kesatuan,
saling menghargai menghormati, yang hal ini sangat berarti dalam memperkuat
rasa nasionalisme bangsa. Dengan saling mengerti antara satu dengan yang lain
maka secara langsung akan memperlihatkan jati diri bangsa kita yang akhirnya
mewujudkan identitas nasional kita.

11
Sementara itu untuk mengembangkan jati diri bangsa dimulai dari nilai-
nilai yang harus dikembangkan yaitu nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, berani
mengambil resiko, harus bertanggung jawab terhadap apa yang boleh
dilakukan, adanya kesepakatan dan berbagai terhadap sesama. Untuk itu perlu
perjuangan dan ketekunan untuk menyatukan nilai, cipta, rasa dan karsa itu.
(Soemarno, Soedarsono).

12
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Secara etimologis identitas nasional berasal dari dua kata yaitu “identitas”
dan “nasional”. Kata identitas berasal dari bahasa Inggris Identity yang
memiliki pengertian harafiah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat
pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain.
Sedangkan kata nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok-
kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik
seperti budaya, agama, dan bahasa maupun non fisik seperti keinginan, cita-
cita dan tujuan. Secara terminologis istilah identitas nasional memiliki
pengertian yang berbeda-beda menurut pendapat beberapa ahli. Menurut
Kaelan (2010: 43) menyatakan bahwa identitas nasional adalah suatu ciri yang
dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut
dengan bangsa lain. unsur-unsur pembentuk identitas yaitu suku bangsa,
agama, kebudayaan dan bahasa.

Identitas nasional itu penting bagi sebuah negara agar bangsa kita dikenal
oleh bangsa lain. Apabila kita sudah dikenal oleh bangsa lain maka kita dapat
melanjutkan perjuangan untuk mampu eksis sebagai bangsa sesuai dengan
fitrahnya. Identitas nasional bagi sebuah negara-bangsa sangat penting bagi
kelangsungan hidup negara-bangsa tersebut. Identitas nasional penting bagi
kewibawaan negara dan bangsa Indonesia. Dengan adanya identitas maka akan
tumbuh rasa hormat dan saling menghargai antar negara-bangsa. Dalam
berhubungan antarnegara tecipta

Disadari bahwa rendahnya pemahaman dan menurunnya kesadaran warga


negara dalam bersikap dan berperilaku menggunakan nilai-nilai pancasila
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya pada era reformasi
bagaikan berada dalam tahap disintegrasi karena tidak ada nilai-nilai yang

13
menjadi pegangan bersama. Oleh karena itu perlu adanya pendukung dalam
meningkatkan kesadaran terhadap nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan
pegangan dalam bermasyarakat. Memahami dan mengerti nilai-nilai pancasila
sejak dini dalam kehidupan sekolah sangat membantu dalam meningkatkan
kesadaran dalam mewujudkan nilai-nilai pancasila. Kita perlu memahami
secara penuh bahwa pancasila sebagai pedoman hidup bangsa sehingga kita
dapat merasa berkewajiban dalam melaksanakannya.

3.2 SARAN

Sebagai masyarakat Indonesia kita harus bisa ikut serta dalam menjaga
dan melestarikan apa yang menjadi identitas negara Indonesia. Hal itu
dikarenakan identitas negara merupakan aset yang berharga yang menjadi
pembeda sekaligus tanda pengenal dengan bangsa lain. Jangan biarkan
bangsa lain mengklaim apa yang menjadi identitas negara kita. Dan apabila
hal itu terjadi maka sudah seharusnya pemerintah menindak lanjutinya secara
tegas demi kembalinya identitas negara.

14
DAFTAR PUSTAKA

Herdiawanto, H., & Hamdayama, J. (2010). Cerdas, Kritis, Dan Aktif


Berwarganegara. Jakarta: Erlangga.

Kaelan, & Zubaidi, A. (2010). Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta:


Paradigma.

Sumantri, A. (2014). Bab II Bagaimana Esensi dan Urgensi Identitas Nasional


Sebagai Salah Satu Determinan Pembangunan Bangsa dan Karakter. Dipetik
Desember 3, 2016, dari kuliahdaring.dikti.go.id

15

Anda mungkin juga menyukai