Anda di halaman 1dari 14

1

TEORI AKUNTANSI
“PENDAPATAN”

OLEH KELOMPOK 1
JACKI LEO SANDRI (1610531009)
WIRASETYA RAVANELLI (1610532010)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ANDALAS
2019
PENDAPATAN

A. Pengertian Pendapatan
Menurut PSAK No. 23 paragraf 6, pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat
ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode bila arus
masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi
penanam modal.

Menurut SFAC No.6, pendapatan adalah arus masuk atau penambahan lainnya pada
aktiva suatu satuan usaha atau penyelesaian kewajiban-kewajibanya (atau kombinasi
keduanya) dari pengiriman atau produksi barang, pemberian jasa, atau kegiatan lain
yang merupakan kegiatan utama atau pusat dari satuan usaha yang berkesinambungan.

Menurut FASB yang dikutip oleh harahap (1999:58) definisi pendapatan adalah arus
masuk atau peningkatan nilai asset dari suatu entity atau penyelesaian kewajiban dari
entity atau gabungan dari penyerahan/ produksi barang, pemberian jasa atas pelaksana
kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan utama perusahaan yang sedang berjalan.

Melihat definisi tersebut, maka pendapatan akan diakui dalam laporan laba rugi kalau
kenaikan manfaat ekonomi pada masa depan yang berkaitan dengan peningkatan aktiva
atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti bahwa
pengakuan pendapatan terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan aktiva atau
penurunan kewajiban (misalnya kenaikan bersih aktiva yang timbul dari penjualan
barang atau jasa atau penurunan kewajiban yang timbul dari pembebasan pinjaman).

Menurut SFAC No 6, Gains adalah peningkatan dalam ekuitas (aset bersih) dari
transaksi sampingan atau insidental suatu entitas dan dari semua transaksi dan kejadian
lain yang mempengaruhi entitas selain yang diakibatkan dari pendapatan atau investasi
oleh pemilik.

Terdapat dua kata yang sering disebut dalam definisi yaitu ekuitas dan entitas. Ekuitas
adalah modal yang diinvestasikan dalam suatu usaha (ekuitas dalam akuntansi

2
merupakan penambahan dari profit selama tahun berjalan dengan modal mula-mula).
Dalil entitas menganggap bahwa setiap perusahaan adalah suatu unit akuntansi yang
terpisah dan berbeda dari pemiliknya dan dari perusahaan-perusahaan lainnya

Menurut buku Suwardjono, pendapatan adalah:


1. Aliran masuk atau kenaikan asset
2. Kegiatan yang merepresentasi operasi utama atau sentral yang menerus
3. Pelunasan, penurunan, atau pengurangan kewajiban
4. Suatu entitas
5. Produk perusahaan
6. Pertukaran produk
7. Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa bentuk (sales, fees,
interests, dividends, royalties, and rents)
8. Mengakibatkan kenaikan ekuitas

B. Karakteristik Pendapatan:
1. Kenaikan Aset
Pendapatan ada atau timbul apabila terjadi transaksi atau kejadian yang
menaikkan asset atau menimbulkan aliran masuk asset yaitu jumlah rupiah kotor
(gross) Tidak ada batasan bahwa asset harus berupa kas atau alat likuid yang
lain. Akan tetapi, tidak semua kenaikan asset dapat menimbulkan pendapatan.
FASB dan IAI (IASC) menyatakan hal yang sama bahwa pendapatan diukur
dengan jumlah rupiah dari penjualan. Paton dan Littleton menyebutkan 5
transaksi atau kejadian yang membuat asset bertambah. Maka dari itu, merujuk
kegiatan yang disebutkan Paton dan Littleton, hanya kegiatan point 5 yang
masuk dalam kategori sumber pendapatan yaitu penyediaan dan/atau penyerahan
produk (barang dan jasa).

Pendapatan sebagai kenaikan asset merupakan pedefinisian dengan


konsep aliran masuk (inflow concept of revenue). Konsep ini mempunyai

3
kelemahan karena pendapatan dianggap baru ada setelah transaksi penjualan
terjadi. Dengan kata lain, pendapatan timbul karena peristiwa atau transaksi pada
saat tertentu dan bukan karena proses selama suatu periode.

2. Operasi Utama Berlanjut


Kegiatan operasi diwujudkan dalam bentuk memproduksi dan mengirim
berbagai barang kepada pelanggan atau menyerahkan atau melaksanakan
berbagai jasa. Pengertian operasi utama dalam hal ini lebih dikaitkan dengan
tujuan utama perusahaan yaitu menghasilkan produk atau jasa untuk
mendatangkan laba. Dengan demikian, yang disebut pendapatan adalah kenaikan
asset yang berkaitan dengan operasi utama ini dan bukan dengan investasi dan
pendanaan. Sehingga laba yang berasal dari kegiatan investasi dapat dikatakan
sebagai untung (gains) karena merupakan jumlah neto dan bukan merupakan
kegiaan operasi. Namun, berbeda apabila suatu perusahaan bergerak dibidang
jual beli surat berharga, maka laba jual beli surat berharga tersebut dapat
dikatakan pendapatan operasi pokok sedangkan bunga dan dividendnya
merupakan pendapatan tambahan.

3. Penurunan Kewajiban
Pengiriman barang atau pelaksanaan jasa akan mengurangi kewajiban
yang menimbulkan pendapatan. Kejadian pengiriman barang mengubah
kewajiban menjadi pendapatan. Jadi alih-alih kenaikan asset, pendapatan dapat
didefinisikan sebagai penurunan kewajiban. Timbulnya pendapatan yang berasal
dari turunnya kewajiban banyak dipicu oleh penyesuaian akhir tahun. Asas
akrual juga menimbulkan kenaikan asset yang dapat didefinisikan sebagai
pendapatan, misalnya piutang pendapatan bunga, piutang dividend dan
semacamnya.

4. Suatu Entitas

4
Pendapatan didefinisi sebagai kenaikan asset bukannya kenaikan ekuitas
bersih meskipun kenaikan asset tersebut akhirnya berpengaruh terhadap kenaikan
ekuitas bersih. Telah disebutkan, dengan konsep kesatuan usaha, ekuitas secara
konseptual adalah utang perusahaan kepada pemilik. Oleh karena itu, naiknya
asset karena pendapatan akan mengakibatkan naiknya ekuitas. Jadi, naiknya
ekuitas merupakan konsekuensi dan bukan sumber pendapatan sehingga
pendapatan tidak dapat didefinisikan sebagai kenaikan ekuitas.

5. Produk Perusahaan
Pendapatan adalah produk perusahaan yang meliputi jasa yang dihasilkan
perusahaan. Disini, pendapatan didefinisi secara fisis bukan moneter. Produk
fisis yang dihasilkan oleh kegiatan usaha itulah yang merupakan pendapatan.
Pengertian semacam ini sesuai dengan konsep upaya dan capaian (effort and
accomplishment) yaitu pendapatan merupakan capaian dari upaya produktif
perusahaan. Produk merupakan capaian dari tiap kegiatan produktif. Dengan
pengertian ini, pendapatan terbentuk pada saat produk terbentuk bahkan selama
proses produksi tanpa harus menunggu kejadian atau saat penyerahan produk
kepada pelanggan. Misalnya, hal ini tidak menghalangi pengakuan pendapatan
sebelum barang diserahkan saat perusahaan kontruksi menggunakan metode
persentase penyelesaian (percentage of completion).

6. Pertukaran
Paton dan Litteleton memasukkan kata pertukaran (exchange) dalam
definisinya karena pendapatan akhirnya harus dinyatakan dalam satuan moneter
untuk dicatat dalam sistem pembukuan. Satuan moneter yang paling objektif
adalah jika jumlah rupiah tersebut merupakan hasil transaksi atau pertukaran
antara pihak independen.

7. Berbagai Bentuk dan Nama

5
Pendapatan adalah konsep yang bersifat generik dan mencakupi semua
pos dengan berbagai bentuk dan nama apapun. Pendapatan untuk perusahaan
perdagangan, misalnya, disebut dengan penjualan. Misalnya bagi perusahaan
jasa, pendapatan dapat disebut sebagai pendapatan sewa, pendapatan jasa
angkutan, pendapatan bunga, dan sebagainya.

C. Pembentukan Pendapatan
Pembentukan pendapatan merupakan suatu konsep yang berkaitan dengan
masalah kapan dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul dan menjadi ada.
Pendekatan ini dilandasi oleh konsep dasar upaya dan hasil capaian serta kontiuitas
usaha. Biaya dan operasi perusahaan merepresentasikan upaya. Pendapatan dan produk
merepresentasikan capaian.
Pendekatan ini juga dilandasi oleh konsep homogenesitas kos yaitu bahwa semua
tahap kegiatan atau unsur di dalamnya (direpresentasikan) mempunyai kedudukan atau
arti penting yang sama dalam menghasilkan pendapatan (Paton dan Littleton 1970: 67
dalam Suwardjono, 2005 : 364). Implikasi dari konsep ini adalah semua tahap kegiatan
memberi sumbangan dalam penciptaan pendapatan yang secara proporsional sama
dengan besarnya kos. Jadi, begitu kos suatu objek biaya terjadi, pendapatan dapat
dianggap terbentuk sehingga laba juga terbentuk.

D. Realisasi Pendapatan
Menurut konsep ini, pendapatan baru dikatakan terjadi atau terbentuk pada saat
terjadi kesepakatan atau kontrak dengan pihak independen untuk membayar produk baik
produk telah selesai dan diserahkan atau belum dibuat sama sekali. Pendapatan
sebenarnya terjadi akibat transaksi tertentu yaitu transaksi penjualan atau kontrak
sehingga sebelum transaksi atau kontrak tersebut terjadi pendapatan belum terjadi atau
terbentuk.
Konsep realisasi lebih berkaitan dengan masalah pengukuran pendapatan secara
objektif dan lebih bersifat kriteria pengakuan daripada bersifat makna pendapatan.

6
Konsep realisasi atau pendekatan transaksi lebih menekankan kejadian yang dapat
menandai pengakuan pendapatan yaitu :
1. Kejadian perubahan produk menjadi potensi jasa lain melalui proses penjualan
yang sah atau semacamnya (misalnya kontrak penjualan)
2. Penguatan atau validasi transaksi penjualan tersebut dengan diperolehnya aset
lancar.
Dari kedua kejadian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proses realisasi merupakan
konfirmasi proses penghimpunan dana.

E. Sumber-Sumber Pendapatan

Soemarso SR mengatakan pendapatan dalam perusahaan dapat diklasifikasikan sebagai


pendapatan operasi dan non operasi. Pendapatan operasi adalah pendapatan yang
diperoleh dari aktivitas utama perusahaan. Sedangkan, pendapatan non operasi adalah
pendapatan yang diperoleh bukan dari kegiatan utama perusahaan.

F. Penilaian Pendapatan

Standar Akuntansi memberikan pedoman dasar penilaian yang dapat digunakan untuk
menentukan berapa rupiah yang diperhitungkan dan dicatat pertama kali dalam suatu
transaksi atau berapa jumlah rupiah yang harus diletakkan pada suatu akun dalam
laporan keuangan.

Ada empat dasar dalam penilaian pendapatan antara lain sebagai berikut:

1. Biaya Historis (historical cost) : Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara
kas) yang dibayar ssebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh
aktiva tersebut pada saat perolehan.

2. Biaya Kini (current cost): aktiva dinilai dalam wujud kas (atau setara kas) yang
seharusnya dibayar bila aktiva yang sama atau setara yang diperoleh sekarang.

3. Nilai realisasi atau penyelesaian (realization/settlement value) : Aktiva dinyatakan


dalam jumlah kas (atau setara kas) yang sama atau setara aktiva yang sekarang dengan
menjual aktiva dalam pelepasan normal (orderly disposal).

7
4. Nilai sekarang (present value) : Aktiva dinyatakan sebesar kas masuk bersih dimasa
depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan
hasil dalam pelaksanaan usaha normal.

Pengukuran Pendapatan
Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem akuntansi
sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statement keuangan.Secara konseptual
pendapatan hanya dapat diakui kalau memenuhi kualitas keterukuran (measurability)
dan keterandalan (reliability).
Ikatan Akuntan Indonesia (2002:23) memberikan ketentuan mengenai pengukuran
pendapatan yang dinyatakan dalam Standar Akuntansi Keuangan yang isinya sebagai
berikut:
“Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang dapat diterima, jumlah
pendapatan yang imbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan antra
perusahaan pembeli atau pemakai perusahaan tersebut. Jumlah tersebut, dapat diukur
denga nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi
jumlah diskon dagang dan rabat volume yang diperbolehkan perusahaan”.

G. Pengakuan Pendapatan
Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem
akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statemen keuangan. Pendapatan
sebagai produk perusahaan tidak mengisyaratkan berapa jumlahnya dan kapan harus
dicatat tetapi lebih mengisyaratkan bahwa pendapatan memang ada atau terwujud,
definisi tersebut lebih difokuskan pada eksistensi pendapatan. Secara konseptual
pendapatan hanya dapat diakui kalau memenuhi kualitas keterukuran (measurability),
dan keterandalan (reliability). Ikatan Akuntan Indonesia dalam Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 menjelaslan kapan suatu pendapatan diakui adalah
sebagai berikut:
1. Pendapatan dari transaksi penjualan produk diakui pasa saat tanggal penjualan,
biasanya merupakan tanggal penyerahan produk kepada pelanggan.
8
2. Pendapatan atas jasa yang diberikan oleh perusahaan jasa diakui pada saat jasa
tersebut telah dilakukan dapat dibuat fakturnya.

3. Imbalan yang diperoleh atas penggunaan aktiva sumber-sumber ekonomi


perusahaan oleh pihak lain, seperti pendapata bunga, dan royalty diakui sejalan dengan
berlakunya waktu atau pada saat digunakan aktiva yan bersangkutan.

4. Pendapatan dari penjualan aktiva diluar barang dagangan seperti penjualan aktiva
tetap atau surat berharga diakui pada saat tangal penjualan.

H. Kriteria Pengakuan Pendapatan


Pendapatan baru dapat diakui setelah suatu produk selesai diproduksi dan
penjualan benar-benar telah terjadi yang ditandai dengan penyerahan barang. Dengan
kata lain, pendapatan belum dapat dikatakan ada dan diakui sebelum ada penjualan yang
nyata. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa pengakuan suatu jumlah rupiah dalam
akuntansi harus didasarkan pada konsep dasar keterukuran dan reliabilitas; jumlah
rupiah harus cukup pasti dan ditentukan secara objektif oleh pihak independen.
Sebaliknya, terjadinya kontrak penjualan belum cukup untuk mengakui
pendapatan sebelum barang atau jasa sudah cukup selesai dikerjakan walaupun jumlah
rupiah pendapatan telah terealisasi karena belum ada upaya yang membentuk
pendapatan. Atas dasar konsep kesatuan usaha, tidak ada pendapatan tanpa upaya. Tanpa
upaya yang cukup pendapatan belum dapat diakui. FASB mengajukan dua kriteria
pengakuan pendapatan (dan untung) yang keduanya harus dipenuhi yaitu (SFAC No. 5,
prg. 83):
1. Terealisasi atau cukup pasti terealisasi
Pendapatan dikatakan terealisasi bilamana produk telah terjual atau ditukarkan
dengan kas atau klaim atas kas. Dan dikatakan cukup pasti terealisasi bilamana aset
berkaitan yang diterima atau ditahan mudah dikonversi menjadi kas atau klaim atas kas
yang cukup pasti jumlahnya.
2. Terbentuk atau terhak

9
Pendapatan dikatakan dapat terbentuk bila mana perusahaan telah melakukan
secara substansial kegiatan yang harus dilakukan untuk dapat menghaki manfaat atau
nilai yang melekat pada pendapatan. Walaupun kedua kriteria harus dipenuhi, bobot
pentingnya untuk suatu kegiatan tertentu dapat berbeda artinya dalam keadaan tertentu
penghimpunan menjadi lebih kritis daripada realisasi dan sebaliknya.
Terbentuknya pendapatan, tidak selalu harus mendahului realisasi pendapatan,
dapat terjadi pendapatan sebelum realisasi terbentuk. Kam (1990) mengemukakan
kriteria pengakuan secara teknis. Pendapatan baru dapat diakui kalau dipenuhi syarat-
syarat berikut :
1. Keterukuran nilai asset (measurability of asset value)
2. Adanya suatu transaksi (existence of a transaction)
3. Proses perhimpunan secara substansial telah selesai
Syarat (1) dan (2) telah dicakupi dalam kriteria dari FASB. Agar dapat dikatakan
terealisasi pendapatan memang harus diukur secara objektif dan hal tersebut pada
umunya dapat dicapai setelah adanya transaksi penjualan atau kontrak. Syarat (1)
berkaitan dengan masalah apakah aliran masuk asset harus bersifat likuid dan bila
pendapatan dalam bentuk piutang apakah ketertagihan (collectability) cukup pasti
sehingga jumlah rupiah pendapatn yang dicatat benar merefleksi jumalh rupiah yang
akhirnya diterima. Dengan demikian pengukkuran pendapatan sangat andal. Syarat (3)
tidak berbeda dengan kriteria b dari FASB.

I. Saat Pengakuan Pendapatan


Masalah kapan suatu pendapatan dapat diakui berkaitan dengan saat (timing)
pengakuan pendapatan itu sendiri. Ada beberapa gagasan mengenai hal ini :
1 Pada Saat Kontrak Penjualan

Dapat terjadi ketika perusahaan telah menandatangani kontrak perusahaan dan


bahkan sudah menerima kas untuk seluruh nilai kontrak tetapi perusahaan belum mulai
memproduksi barang. Pendapatan sudah terealisasi tetapi belum terbentuk karena hanya
satu kriteria yang terpenuhi dan tidak dapat diakui sebagai pendapatan. Sementara itu,
pembayaran dimuka harus diakui sebagai kewajiban sampai barang atau jasa diserahkan
10
kepada pembeli, biasanya dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Pada umumnya,
perlakuan semacam ini berlaku untuk perusahaan yang memproduksi barang konsumsi
dan jarak antara penandatangan kontrak dan penyerahan barang cukup pendek (kurang
dari satu tahun).
2 Selama proses produksi secara bertahap
Biasanya produk yang memerlukan waktu yang cukup lama (misalnya industri
konstruksi bangunan) diperlakukan sebagai projek dan dilaksankan atas dasar kontrak
sehingga pendapatan terealisasi untuk seluruh periode kontrak tetapi mungkin belum
cukup terbentuk pada akhir tiap periode akuntansi. Dalam hal ini, pengakuan pendapatan
dapat dilakukan secara bertahap (per periode akuntansi) sejalan dengan kemajuan proses
produksi atau sekaligus pada saat projek selesai dilakukan. Yang pertama disebut
metode persentase penyelesaian, sedangkan yang terakhir disebut metode kontrak
selesai.
3 Pada saat produk selesai
Pengakuan pendapatan atas dasar saat produk selesai diproduksi dapat dianggap
layak untuk industri ekstraktif (pertambangan) termasuk pertanian. Bahan dasar hasil
produksi biasanya memiliki harga yang sudah pasti. Kondisi ini memungkinkan untuk
menaksir dengan cukup tepat nilai jual yang dapat direalisasi suatu sediaan barang jadi
pada tanggal tertentu, sehingga kedua kriteria pengakuan dianggap dapat terpenuhi.
Kalau sudah ada kontrak penjualan sebelumnya, tidak ada masalah dengan
pengakuan pendapatan pada saat produksi selesai karena pendapatan sudah terealisasi
dan pada saat produk selesai pendapatan secara subtansial sudah terbentuk. Pengakuan
ini setara dengan metode kontrak-selesai Namun bila belum ada kontrak penjualan
sebelumnya hanya kriteria terbentuk yang terpenuhi. Dan hal seperti ini keberatan untuk
dikatakan sebagai pendapatan.
4. Pada saat penjualan
Pengakuan ini merupakan dasar yang paling umum karena pada saat penjualan
kriteria penghimpunan dan realisasi telah terpenuhi. Kriteria terealisasi telah terpenuhi
karena telah ada kesepakatan pihak lain untuk membayar jumlah rupiah pendapatan
secara objektif. Dengan demikian, saat penjualan merupakan saat yang kritis dalam
11
operasi perusahaan. Transaksi penjualan mengakibatkan masuknya aset baru ke dalam
perusahaan (kas atau piutang).
Kendati saat penjualan menjadi standar umum pengakuan pendapatan, terdapat
beberapa hal yang sering diajukan sebagai keberatan terhadap dasar tersebut. Hal
pertama yaitu berkaitan dengan kepastian pengukuran pendapatan akibat kos purna jual
dan masalah kedua adalah adanya kemungkinan retur barang. Akhirnya kemungkinan
akan ada piutang tak tertagih, sehingga piutang tidak dapat dijadikan bukti terealisasinya
pendapatan.
Dalam PSAK No. 23, IAI menetapkan bahwa pengakuan pendapatan atas dasar
kemajuan pelaksanaan merupakan ketentuan utama sedangkan kaidah lain merupakan
pengecualian dari kaidah ini. IAI mengeksplisitkan asumsi atau kondisi yang melandasi
keterterapan pengakuan atas dasar kemajuan pelaksanaan yaitu:
a) Jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal.
b) Besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut
akan diperoleh perusahaan.
c) Tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal neraca dapat diukur
dengan andal.
d) Biaya yang terjadi untuk transaksi tersebut dan biaya untuk menyelesaikan
transaksi tersebut dapat diukur dengan andal.

J. Pedoman Umum Pengakuan Pendapatan


FASB meringkas pedomam umum dalam SFAC No. 5 paragraf 84 sebagai
berikut:
1. Kriteria terbentuk dan terealisasi biasanya dipenuhi pada saat produk diserahkan
kepada konsumen.
2. Kalau kontrak penjualan atau penerimaan kas mendahului produksi atau
pengiriman barang, pendapatan dapat diakui pada saat terhak dan pengiriman.
3. Kalau produk dikontrak sebelum diproduksi, pendapatan dapat diakui secara
bertahap dengan metode persentase penyelesaian pada saat sudah terbentuk
asalkan dapat diukur secara andal.
12
4. Kalau jasa diberikan atau hak untuk menggunakan aset berlangsung secara terus-
menerus selama suatu periode dengan kontrak harga yang pasti, pendapatan
dapat diakui bersamaan dengan berjalannya waktu.
5. Kalau produk atau aset lain dapat segera terealisasi karena dapat dijual dengan
harga yang cukup pasti tanpa biaya tambahan berarti, pendapatan dan untung
rugi dapat diakui pada saat selesainya produksi atau pada saat harga aset tersebut
berubah.
6. Kalau produk, jasa atau aset lain ditukarkan dengan aset non moneter yang tidak
segera dapat dikonversi menjadi kas, pendapatan atau untung rugi dapat diakui
pada saat telah terhak atau transaksi telah selesai asalkan nilai wajar aset non
moneter yang dapat ditentukan dengan layak.
7. Kalau ketertagihan aset yang diterima untuk produk, jasa, atau aset lain
meragukan, pendapatan dapat diakui atas dasar kas yang terkumpul.
K. Pengungkapan Pendapatan

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 mengenai


pengungkapan pendapatan, perusahaan harus mengungkapkan sebagai berikut:

1. Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk pengakuan pendapatan termasuk metode


yang digunakan untuk menentukan tingkat penyelesaian transaksi penjualan jasa.

2. Jumlah setiap kategori signifikan dari pendapatan diakui selama periode tersebut
termasuk pendapatan dari:

a. Penjualan barang.
b. Penjualan jasa.
c. Bunga.
d. Dividen, dan
e. Royalty.

3. Jumlah pendapatan yang berasal dari pertukaran barang atau jasa yang tercakup
dalam setiap kategori signifikan dari pendapatan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Suwardjono, (1989), Teori Akuntansi, Penerbit BPFE Yogyakarta. Yogyakarta.

Ikatan Akuntan Indonesia, (2002), Standar Akuntansi Keuangan, Penerbit Salemba Empat,
Jakarta.

http://bellaimandashefira.blogspot.com/2016/05/teori-akuntansi-konsep-pendapatan.html

14