Anda di halaman 1dari 29

Laporan Praktikum Mikrobiologi Farmasi

Dasar-Dasar Teknik Mikrobiologi

Nama : Melisa Suyandi


NIM : 20180311137
Sesi : 06
Kelompok : (05) 1. Melisa Suyandi
2. Pika Ayu Fitria
3. Ika Lutfi Ayu Lestary
4. Nurmadina
5. Giri Arif Maulana

Program Studi Farmasi


Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Esa Unggul
Jakarta, 2019
Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-
Nya yang telah diberikan, sehingga saya bisa menyelesaikan Laporan Praktikum Mikrobiologi
Farmasi ini yang berjudul “Dasar-Dasar Teknik Mikrobiologi”. Adapun tujuan dibuatnya laporan
ini adalah sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Paktikum Mikrobiologi Farmasi dan
sebagai evaluasi praktikum serta menjadi acuan penilaian mahasiswa dalam melakukan
praktikum ini.

Tersusunnya laporan ini tentu bukan karena buah kerja keras saya semata, melainkan juga
atas bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada
Ibu Inherni Marti Abna M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Praktikum Mikrobiologi
Farmasi dan kepada teman-teman anggota kelompok 5 serta teman-teman sesi 6.

Saya sangat menyadari bahwa laporan ini masihlah jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, saya selaku penulis lapran ini menerima dengan terbuka semua kritik dan saran yang
membangun agar laporan ini bisa tersusun lebih baik lagi. Saya berharap semoga laporan ini
bermanfaat untuk kita semua.

Jakarta, 20 Oktober 2019

Penulis
A. Tujuan Praktikum

1. Mempelajari teknik-teknik isolasi dan penanaman mikroba.

2. Mempelajari cara-cara pemindahan mikroba secara aseptis.

3. Mempelajari teknik pulasan jamur

4. Mengenal bermacam-macam mikroba di alam.

B. Landasan Teori

Teknik isolasi dilakukan dengan berbagai cara yaitu melakukan pengenceran


berseri dilanjutkan dengan membiakkan pada media yang sesuai yaitu metode cawan
tuang (poured plate) atau cawan gores (streak plate) dan teknik untuk menghitung jumlah
sel mikrobia yang telah diisolasi dengan menggunakan perhitungan angka lempeng total
sedangkan penyimpanan mikroorganisme sering menggunakan teknik agar slants
(Colome, 2001).

Isolasi mikroorganisme adalah proses pengambilan mikroorganisme


dari lingkungannya untuk kemudian ditumbuhkan dalam suatumedium di laboratorium.
Proses isolasi ini menjadi penting dalam mempelajari identifikasi mikrobia, uji morfologi,
fisiologi, dan serologi. Sedangkan pengujian sifat-sifat tersebut di alam terbuka sangat
tidak mungkin untuk dilakukan. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu
jenis mikroba dengan mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam
mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, sel-sel
mikroba akan membentuk koloni sel yang tetap pada tempatnya (Pelczar, 1986)

Prinsip kerja isolasi bakteri cukup sederhana yakni dengan menginokulasikan


sejumlah kecil bakteri pada suatu medium tertentu yang dapat menyusung kehidupan
bakteria. Sejumlah kecil bakteri ini didapat dari bermacam-macam tempat tergantung dari
tujuan inokulasi. Dalam kajian mikrobiologi yang berhubungan dengan sumber bakteri
adalah mikrobia tanah, air, makanan dan udara (Talaro, 1999).

Tujuan dari pemindahan biakan untuk menguasai teknik pemindahan biakan


bakteri dari satu wadah ke wadah lain secara aseptik, sehingga hanya biakan murni yang
diharapkan yang tumbuh. Hal ini sangat penting dalam tahap awal pekerjaan isolasi
mikroba terutama yang berasal dari stok kultur (bukan dari substrat). Kegagalan dalam hal
pemindahan biakan dapat menyebabkan kontaminasi dari pertumbuhan mikroba yang
tidak diharapkan. Beberapa cara atau metode yang dikenal untuk memperoleh biakan
murni dari suatu biakan campuran. Dua diantaranya yang paling sering digunakan adalah
metode cawan gores dan metode cawan tuang. Metode tersebut didasarkan pada prinsip
pengenceran dengan maksud untuk memperoleh spesies individu, dengan anggapan
bahwa setiap koloni dapat terpisah dari satu jenis sel yang dapat diamati (Dwidjoseputro,
1990).

1. Teknik Piringan Goresan (Streak plate method)

Medium agar dicairkan, didinginkan pada suhu 450C, dituang ke dalam


cawan petri steril (cawan gelas dengan garis tengah sekitar tiga inci) dan
dibiarkan sampai menjadi padat. Kemudian menginokulasi biakan dilakukan
dengan jarum ose pada permukaan atas agar yang penuh dengan biakan
campuran (misalnya specimen ludah atau bahan lain). Ada beberapa metode
penggoresan yang berbeda, namun kesemua metode bertujuan untuk
meletakkan sebagian besar organisme pada beberapa goresan pertama. Apabila
sebaran dilakukan dengan menggerakkan jarum ose bergantian dari satu
bagian ke bagian lain cawan petri, bakteri yang tertinggal pada jarum ose
semakin berkurang. Jika dilakukan secara sempurna, goresan akhir akan
meninggalkan bakteri individual cukup terpisah satu sama lain, sehingga
setelah mengalami pertumbuhan, koloni yang berasal dari bakteri individual
akan benar-benar terpisah satu sama lain. Kemudian koloni tunggal dapat
ditinggalkan kemedium steril, dan akan tumbuhlah biakan murni
(Hadioetomo, 1993).
Ada beberapa teknik goresan yang biasa dipakai yaitu:

a. Goresan Sinabung

Prosedur kerjanya adalah inokulum loop (ose) disentuhkan pada


koloni bakteri dan gores secara kontinyu sampai setengah permukaan
agar. Lalu petridish diputar 180o dan dilanjutkan goresan sampai habis.
Goresan sinambung umumnya digunakan bukan untuk mendapatkan
koloni tunggal, melainkan untuk peremajaan ke cawan atau medium
baru.

b. Goresan T

Prosedur kerjanya adalah petridish dibagi menjadi 3 bagian


menggunakan spidol dan daerah tersebut diinokulasi dengan streak zig-
zag. Ose dipanaskan dan didinginkan, lalu distreak zig-zag pada daerah
berikutnya.

c. Goresan Kuadran (Streak quadrant)

Hampir sama dengan goresan T, namun berpola goresan yang


berbeda yaitu dibagi empat. Daerah 1 merupakan goresan awal
sehingga masih mengandung banyak sel mikroorganisma. Goresan
selanjutnya dipotongkan atau disilangkan dari goresan pertama
sehingga jumlah semakin sedikit dan akhirnya terpisah-pisah menjadi
koloni tunggal.

2. Metode Tuang (pour-plate method)

Terdiri atas penginokulasian biakan campuran kedalam tabung uji yang


mengandung agar cair yang telah didinginkan pada suhu 45 0 C isinya diaduk
untuk memencarkan bakteri keseluruh medium. Campuran itu kemudian
ditungkan kedalam cawan petri steril dan dibiarkan padat pertumbuhan koloni
terjadi baik dalam medium tujuan pada kedua proses ialah untuk memisahkan
bakteri satu sama lain sehingga sel-sel itu akan tumbuh menjadi koloni-koloni
yang terpisah didalam medium yang padat. Kemudian dapat diambil sel-sel
dari satu koloni untuk mendapatkan biakan murni. Piringan kedua dalam
praktek sering digores kembali dengan organisme yang berasal dari koloni
yang diidolasi untuk menjamin bahwa hasil yang diperoleh adalah biakan
murni (Hadioetomo, 1993).

3. Teknik Sebar (spread plate)

Metode cawan sebar (spread plate) adalah suatu teknik di dalam


menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara menuangkan
stok kultur bakteri atau mengapuskannya di atas media agar yang telah
memadat. Bedanya dengan pour plate adalah, pencampuran stok kultur bakteri
dilakukan setelah media agar memadat sedangkan pour plate kultur
dicampurkan ketika media masih cair (belum memadat). Kelebihan teknik ini
adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada bagian
permukaan media agar (Hadioetomo, 1993).

4. Teknik Pengenceran (dilution method)


Suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran bermacam-
macam spesies diencerkan dalam suatu tabung yang tersendiri. Hasil
pengenceran ini kemudian diambil kira-kira 1 mL untuk diencerkan lebih
lanjut. Jika dari pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 mL untuk disebarkan
pada suatu medium padat, kemungkinan besar kita akan mendapatkan
beberapa koloni yang akan tumbuh dalam medium tersebut, akan tetapi
mungkin juga kita hanya akan memperoleh satu koloni saja. Hal yang
demikian ini dapat kita jadikan biakan murni. Jika kita belum yakin, bahwa
koloni tunggal yang kita peroleh tersebut merupakan koloni yang murni, maka
kita dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni ini sebagai
sampel

5. Teknik Micromanipulator
Mengambil satu bakteri dengan mikropipet yang ditempatkan dalam mikro
manupulator, kemudian ditempatkan dalam mikromanupulator. Kemudian
ditempatkan dalam medium encer untuk dibiakkan
Menurut Jutono (1980), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
mengisolasi bakteri, yaitu :

1. Sifat-sifat spesies mikrobia yang akan diisolasi

2. Tempat hidup atau asal mikrobia tersebut

3. Medium untuk pertumbuhannya yang sesuai

4. Cara menanam mikrobia tersebut

5. Cara inkubasi mikrobia tersebut


6. Cara menguji bahwa mikrobia yang diisolasi telah berupa biakan murni dan
sesuai dengan yang dimaksud

7. Cara memelihara agar mikrobia yang telah diisolasi tetap merupakan biakan
murni

Sebelum benar-benar dilakukan proses kultur mikroorganisme, pertama kali kita


harus mempertimbangkan bagaimana agar tidak terjadi kontaminasi. Mikroorganisme ada
dimana-mana, karena ukurannya sangat kecil mereka mudah lepas dalam udara dan
permukaan. Maka dari itu, kita harus mensterilisasikan medium kultur secepatnya setelah
preparasi untuk pemindahan mikroorganisme siap dikontaminasikan. Hal penting untuk
tindakan pencegahan sampai penanganan berikutnya medium kultur harus tetap steril.
Teknik yang digunakan dalam pencegahan kontaminasi hingga kultur manipulasi dan
media kultur steril disebut teknik aseptik. Keunggulannya yaitu keberhasilan dalam
laboratorium mikrobiologi, dan salah satu cara belajar dengan pendamping mikrobiologi.
Kontaminasi udara paling sering menjadi masalah karena udara selalu kontak dengan
partikel debu dan umumnya banyak kontaminasi mikroorganisme di dalamnya. ketika
wadah dibuka segeraa ditangani agar tidak terkontaminasi dengan udara sekitar. Trasfer
aseptik pada kultur dari salah satu medium ke medium yang lain harus lihai dengan loop
inokulasi atau jarum yang harus disterilkan oleh pembakaran pada nyala api. dalam
pertumbuhan kultur dibutuhkan tempat yang mudah dipindahkan ke permukaan datar,
dimana pertumbuhan suatu koloni berasal dari pertumbuhan dan pembelahan sel tunggal
(Cappucino, 1983).

Cara fiksasi yang paling banyak digunakan dalam pengecatan bakteri adalah
dengan membuat lapisan suspensi/pulasan bakteri di atas gelas benda, kemudian
dikeringanginkan dan dilalukan beberapa kali di atas nyala lampu spiritus (Jutono dkk.,
1972)
C. Cara Kerja

1. Teknik-teknik Isolasi atau Penanaman Mikroba


a. Spread PlateMethod (Cara Tebar/Sebar)
 Alat dan Bahan :
1. Spreader/batang bengkok/batang Drigalsky
2. Pipet volume, lampu Bunsen
3. Media NA dalam cawan petri
4. Kultur murni bakteri
5. Larutan pengencer (BPW atau NaCl fisiologis 0,9%)

 Prosedur Kerja :

1. Buatlah pengenceran 10-1 – 10-6 dari kultur murni bakteri dengan larutan
pengencer.

2. Ambil tabung reaksi yang mengandung kultur murni bakteri, buka dan
bakar leher tabung.

3. Pindahkan 0,1 ml kultur bakteri secara aseptis ke permukaan media NA


dalam cawan petri.

4. Bakar spreader yang sebelumnya telah dicelupkan dalam alkohol, biarkan


dingin.

5. Tebarkan/sebarkan kultur bakteri dengan spreader secara merata dan


biarkan sampai permukaan agar mengering (lihat Gambar 1).

6. Setelah permukaan agar mengering, selanjutnya inkubasikan secara


terbalik selama 24 jam pada suhu kamar dan amati pertumbuhannya.

7. Bandingkan pertumbuhan dari tiap-tiap pengenceran dan bandingkan


pertumbuhannya dengan hasil teknik spread plate pada percobaan 2
(sterilisasi secara filtrasi)
b. Pour PlateMethod (Cara Tabur)

 Alat dan Bahan :

1. Media NA dalam tabung reaksi (hasil percobaan 1)

2. Cawan petri steril

3. Kultur murni bakteri

4. Pipet volume, lampu bunsen

 Prosedur Kerja :

1. Dinginkan media NA dalam tabung reaksi sampai suhu ± 45-500C


(cirinya : terasa hangat di kulit/tidak “kemranyas”).

2. Buka tutup tabung yang mengandung kultur murni bakteri, dan bakar leher
botol.

3. Pindahkan 1 ml kultur murni bakteri ke dalam tabung reaksi yang


mengandung NA secara aseptis.

4. Bakar leher tabung di atas bunsen, dan tuangkan media NA yang telah
mengandung kultur murni bakteri ke dalam cawan petri.

5. Goyangkan perlahan-lahan untuk mencampur kultur bakteri dengan NA


sampai homogen.Penggoyangan petri jangan terlalu kuat. Pada saat
penuangan media, petri bisa diletakkan dalam radius maksimal 20 cm dari
sumber api (zona steril) (lihat Gambar 2).
6. Setelah agar memadat diinkubasi terbalik pada suhu kamar selama 24 jam.
Inkubasi terbalik dilakukan setelah agar memadat. Amati pertumbuhannya

c. Streak PlateMethod (Cara Gores )

 Alat dan Bahan :

1. Media NA dalam cawan petri

2. Kultur murni bakteri

3. Jarum ose

4. Lampu spirtus

 Prosedur Kerja :

1. Panaskan jarum ose hingga memijar di atas bunsen, kemudian dinginkan.


Gunakan ose yang telah dingin untuk menggores pada permukaan media
agar dalam cawan petri.

2. Ambil 1 ose kultur murni bakteri dan goreskan pada permukaan media agar
dimulai pada satu ujung. Perhatikan teknik penggoresan! (lihat Gambar 3,
4, 5, 6). Ose disentuhkan pada permukaan media agar dalam cawan petri,
sewaktu menggores ose dibiarkan meluncur di atas permukaan agar.

3. Setiap kali menggoreskan ose untuk kuadran berikutnya, pijarkan ose


terlebih dahulu dan biarkan dingin.
4. Inkubasikan secara terbalik pada suhu kamar selama 24 jam dan amati
pertumbuhannya.

2. Teknik - Teknik Pemindahan Kultur Mikroba (Kultur Murni)

 Alat dan Bahan :

1. Media NA miring dalam tabung reaksi (hasil percobaan 1)

2. Media NA tegak dalam tabung reaksi (hasil percobaan 1)

3. Media nutrien cair atau NB dalam tabung reaksi (hasil percobaan 1)

4. Jarum ose

5. Jarum inokulasi

6. Kultur murni bakteri

7. Lampu spirtus
8. Vortex mixer

 ProsedurKerja :

1. Siapkan media NA dan NB hasil percobaan 1 (media NA miring, media NA


tegak dan media NB/cair). Pemindahan kultur mikroba dilakukan satu persatu
untuk masing-masing media.

2. Longgarkankan tutup dari masing-masing tabung reaksi yang berisi media


(jangan di lepaskan!).

3. Pegang tabung reaksi yang mengandung kultur murni bakteri di tangan kiri.

4. Pegang jarum ose pada tangan kanan dan bakar di atas nyala lampu bunsen
hingga kawat memijar.Perhatian : pemanasan jarum ose dilakukan dari
pangkal ke ujung sampai memijar, sebelum digunakan kawat didinginkan
beberapa saat!

5. Pegang ose menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, gunakan jari kelingking
untuk membuka tutup tabung reaksi (tutup tabung reaksi tetap dipegang
seperti posisi semula).

6. Bakar mulut tabung reaksi, masukkan jarum ose dan ambil 1 ose biakan
bakteri.

7. Bakar kembali mulut tabung reaksi dan tutup tabung reaksi kembali.

8. Ambillah tabung reaksi yang akan diinokulasi dengan tangan kiri, dengan cara
yang sama buka tutup tabung reaksi, dan bakar mulut tabung reaksi.

9. Inokulasikan biakan bakteri pada tabung reaksi inokulasi dengan cara goresan
zigzag pada permukaan NA miring.

10. Bakar mulut tabung reaksi dan tutup tabung reaksi kembali, kemudian bakar
ose.

11. Beri label : tanggal percobaan, nama bakteri, teknik pemindahan dan nama
kelompok.
12. Lakukan dengan cara yang sama untuk media nutrien cair/NB menggunakan
jarum ose dan media agar tegak secara tusukan tegak lurus menggunakan
jarum inokulasi.

13. Inkubasikan selama 24 jam pada suhu kamar dan amati pertumbuhannya.

3. Teknik-Teknik Pembuatan Pulasan Jamur

 Alat dan Bahan :

1. Gelas benda

2. Jarum ose

3. Lampu Bunsen

4. Label preparat

5. Aquades steril

6. Kultur murni bakteri

7. Penjepit gelas benda

 Prosedur Kerja :

1. Labellah gelas benda yang kering dan bersih. Sterilkan jarum ose
dengan memijarkannya pada nyala bunsen dan dinginkan.

2. Jika kultur dalam bentuk cair (suspensi), ambillah 1 ose penuh dan letakkan di
tengah-tengah gelas benda dan ratakan seluas ± 1 cm2

3. Jika kultur dalam medium padat, ambillah dengan jarum ose satu bagian kecil
kultur dan letakkan di tengah gelas benda yang sebelumnya telah diberi
aquadest steril dan ratakan

4. Biarkan kering dengan mengangin-anginkan gelas benda

5. Fiksasi pulasan jamur dengan melewatkan di atas nyala bunsen (hati-hati,


jangan sampai terlalu kering/gosong).
D. Pertanyaan

1. Jelaskan prinsip dasar dan tujuan teknik isolasi mikroba secara streak plate, pour plate
dan spread plate!

2. Apa yang dimaksud dengan kultur murni/biakan murni ?

3. Bagaimana teknik penggoresan yang benar pada teknik isolasi secara streak plate agar
supaya didapatkan koloni bakteri terpisah ?

4. Mengapa pada waktu inkubasi cawan petri harus diletakkan terbalik ?


E. Hasil

1. Hasil Data Pengamatan untuk Pour plate, Spread plate dan Streak plate.

No Gambar Keterangan
1. Pemipetan sampel air got dengan
menggunakan pipet volume sebanyak 1
mL.

2. Sampel air got yang telah di ambil


kemudian di masukkan ke dalam tabung
reaksi berisi aquades untuk diencerkan
dan dihomogenkan dengan
menggunakan vortex (Pengenceran 10-
1
).
3. Sampel yang telah di vortex kemudian
di ambil 1 mL untuk mendapatkan
pengeceran 10-2, lakukan langkah yang
sama sekali lagi untuk mendapatkan
hasil pengenceran 10-3

4. Tuangkan medium NA (Natrium Agar)


kedalam cawan petri. Diamkan hingga
dingin dan mengeras.
5. Masukkan sampel air got pengenceran
10-3 kedalam cawan petri berisi medium
NA, ratakan dengan menggunakan
spreader. (Spread plate method)

6. Untuk metode Pour Plate dimasukkan


terleih dahulu sampel air got
pengenceran 10-3 kedalam cawan petri.

7. Dimasukkan medium NA ke dalam


cawan petri hingga setengah cawan petri
tunggu hingga dingin dan mengeras.

8. Timbang jagung benyek sekitar 1 gram


(1,1806 gr). Kemudian haluskan dengan
menggunakan lumpang dan alu hingga
halus tambahkan aquades.

9. Dimasukkan kedalam tabung reaksi


berisi aquades kemudian di vortex untuk
menghomogenkan jagung dan aquades
(pengenceran 10-1). Lakukan cara
pengenceran yang sama hingga
mendapatkan hasil pengenceran 10-3.
10. Spread plate method jamur jagung pada
medium PDA.

11. Pour plate method jamur jagung pada


medium PDA.

12. Menghitng jumlah koloni jamur dengan


menggunakan alat colony counter

13. Kultur jamur di cawan petri

14. Pengambilan koloni jamur dengan


menggunakan jarum ose
15. Menaruh koloni jamur pada agar miring
(Steak plate method).

2. Hasil data pengamatan fiksasi jamur dan pengamatan mikroskop.

No. Gambar Keterangan


1. Pengambilan kultur murni jamur
dengan menggunakan jarum ose
dan ditaruh di kaca preparat berisi
aquades.

2. Pengambilan kultur murni jamur


kemudian ditaruh dikaca preparat
beriisi methylene blue

3. Pengambilan kultur murni jamur


dan kemudian akan di fiksasi.
4. Setelah fiksasi di tambahkan
methylene blue.

5. Preparat kultur murni jamur.

6. Pengamatan kultur murni jamur


yang diberi aquades

7. Pengamatan kultur murni


methylene blue yang telah di fiksasi

8. Pengamatan methylene blue


F. Pembahasan

Pada praktikum dasar-dasar mikrobiologi dilakukan beberapa teknik yang


dilakukan, diantaranya yaitu teknik-teknik isolasi dan penanaman mikroba, teknik-
teknik pemindahan kultur mikroba (kultur murni), teknik-teknik pembuatan
pulasan jamur. Sampel yang digunakan oleh kelompok kami adalah air got dan jamur
yang bonyok, seharusnya sampel yang kami gunakan adalah jagung yang berjamur
dibagian bonggolnya tetapi karena kurang lamanya penyimpanan, hanya didapatkan
jagung yang bonyok. Media yang digunakan adalah media NA untuk sampel air got dan
media PDA untuk sampel jagung bonyok.

Sebelum sampel di isolasi dan ditanam, sampel harus diencerkan terlebih dahulu
dengan aquadest sebanyak 6x, tetapi dalam percobaan ini hanya dilakukan sebanyak 3x,
hal ini dilakukan karena waktu praktikum yang tidak memncukupi. Pengenceran ini
dilakukan dengan cara mengambil 1mL dari masing-masing sampel yaitu sampel air got
dan jagung bonyok, untuk sampel air got, karena berbentuk cairan maka langsung
diambil, sedangkan untuk sampel jagung bonyok, karena sampel berbentuk padatan, maka
sampel dihaluskan/digerus terlebih dahulu didalam mortir dengan stamper yang sudah
disterilkan dengan cara menuangkan alkohol kedalam mortir lalu masukan korek api kayu
kedalamnya kemudian korek api kayu langsung diangkat dengan menggunakan pinset
agar korek api kayu tersebut tidak mengotori mortir, kemudian setelah sampel jagung
bonyok dalam mortir, sampel jagung bonyok dimasukan kedalam tabung reaksi berisi
aquadest, kemudian baru di pipet 1mL, setelah masing-masing 1mL sampel diambil
dengan cara di pipet, selanjutnya 1mL sampel dilarutkan kedalam tabung reaksi 1 yang
aquadest 9mL, lalu dihomogenkan dengan vortex mixer, pengenceran ini disebut
pengenceran 10-1, kemudian untuk membuat pengenceran 10-2 , dilakukan cara yang sama
tetapi diambil 1mL sampel dari pengenceran pertama (10-1), begitu pula untuk membuat
pengenceran 10-3 , yang 1 mL sampel tersebut diambil dari pengenceran kedua (10-2).
Pengenceran ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh sampel yang tidak pekat
akan mikroba sehingga pada saat isolasi dan penanaman didapatkan jumlah mikroba
terbaik agar dapat dihitung, sebab jika tidak diencerkan dahulu, akan mengakibatkan
koloni miktoba yang bertumpuk dan sulit dihitung. Hasil pengenceran ini disebut
susepensi mikroba.
1. Teknik-teknik isolasi dan penanaman mikroba

Dalam mengisolasi dan menanam (menumbuhkan) mikroba dilakukan 3


cara, yaitu spread plate method (cara tebar/sebar), pour plate method (cara
tabur), dan streak plate method (cara gores).

a. Spread plate method (cara tebar/sebar)

Pada metode ini, baik sampel air got dan sampel jagung bonyok,
dilakukan dengan cara menuangkan media NA dan PDA yang yang
telah dicairkan dan telah didinginkan dengan suhu +/- 450C-500C
kedalam cawan petri sampai setengah cawan petri lalu dibiarkan
memadat, selanjutnya ambil (dengan pipet) 1mL sampel dalam
pengenceran 10-3, kemudian teteskan ke atas permukaan media NA
yang sudah padat, lalu panaskan spreader yang telah dicelupkan alkohol
dan biarkan dingin, kemudian sebarkan 1mL sampel dalam cawan petri
dengan spreader sampai merata, dibiarkan mengering, setelah
mengering, celah yang terdapat antara tutup dan badan cawan petri di
tutup dengan kertas parafin, agar tidak terkontaminasi oleh udara
sekitar tempat penyimpanan. Untuk sampel air got di inkubasikan
dalam inkubator dengan suhu +/- 370C selama 24 jam, setelah itu
diamati dan dihitung jumlah koloninya, pada saat penghitungan kami
medapat hasil sebanyak 216 koloni, sedangkan sampel jagung bonyok
di simpan dalam ruangan laboratorium dengan suhu ruang +/- 25 0C
selama 48 jam. Pada sampel jagung bonyok yang disimpan selama 48
jam dan diamati lalu dihitung jumlah koloninya kami mendapat >300
koloni. Sampel jagung bonyok diamati dan dihitung selam 48 jam
karena pada saat 24 jam belum terdapat koloni yang dapat diamati..
Tujuan sampel disimpan dalam kurun waktu tersebut adalah agar
mikroba mendapatkan lingkungan yang optimal untuk berkembang
biak/bertumbuh. Semua sampel dalam cawan petri tersebut di simpan
dalam keadaan cawan petrinya terbalik Tujuan metode ini adalah
mendapatkan koloni tunggal dengan teknik penanaman dan penyebaran
suspensi mikroba pada permukaan medium. Semua langkah dilakukan
secara aseptis yaitu dengan melakukan semua langkah didekat lampu
spirtus dengan jarak maksimal yaitu 20cm dari lampu spirtus, dan
untuk penuangan, semua leher wadah dan tutup wadah harus
dipanaskan terlebih dahulu, untuk tutup wadah tidak boleh diletakan di
meja dan harus tetap di pegang, cara aseptis ini bertujuan agar kultur
yang didapatkan tidak terkontaminasi oleh mikroba dib sekitar tempat
pengerjaan.

b. Pour plate method (cara tabur)

Pada metode ini, baik sampel air got maupun sampel jagung
bonyok dilakukan dengan cara meneteskan 1mL sampel dalam
pengenceran 10-3 dengan pipet kedalam cawan petri, kemudian media
NA dan PDA yang telah dicairkan dan telah didinginkan dengan suhu
+/- 450C-500C dituang kedalam cawan petri sampai setengah cawan
petri lalu di homogenkan, selanjutnya dibiarkan memadat dan dibiarkan
mengering, setelah mengering, celah yang terdapat antara tutup dan
badan cawan petri di tutup dengan kertas parafin, untuk sampel air got
di inkubasikan dalam inkubator dengan suhu +/- 370C selama 24 jam,
setelah itu diamati dan dihitung jumlah koloninya, pada saat
penghitungan kami medapat hasil sebanyak 250 koloni, sedangkan
sampel jagung bonyok di simpan dalam ruangan laboratorium dengan
suhu ruang +/- 250C selama 48 jam. Pada sampel jagung bonyok yang
disimpan selama 48 jam dan diamati lalu dihitung jumlah koloninya
kami mendapat >300 koloni. Sampel jagung bonyok diamati dan
dihitung selam 48 jam karena pada saat 24 jam belum terdapat koloni
yang dapat diamati. Semua langkah dilakukan secara aseptis. Media
yang dituangkan kedalam cawan petri harus selalu dalam keadaan cair
dan tidak boleh ada yan memadat dan menggumpal. Hal ini bertujuan
agar suspensi bakteri tumbuh merata dalam media. Semua sampel
dalam cawan petri tersebut di simpan dalam keadaan cawan petrinya
terbalik yang bertujuan agar menghindari terjadinya penguapan air
yang terkandung didalam media sehingga tidak ada embun terbentuk
karena jika ada embun dan jatuh mengenai media akan menyebabkan
media mencair, kemudian untuk membantu pertumbuhan
mikroorganisme, meratakan panas secara menyeluruh membantu dalam
penghitungan koloni serta memudahkan kita untuk melakukan
identifikasi. Sebelum disimpan suspensi mikroba dalam cawan petri
harus dibiarkan mengering agar pada saat cawan petri di balik untuk
disimpan, tidak ada suspensi mikroba yang jatuh ke tutup cawan petri
sehingga menjadi tidak tumbuh. Tujuan metode ini adalah agar suspensi
mikroba dapat tercampur merata dengan medium.

c. Streak plate method (cara gores)

Dalam percobaan yang kami lakukan, metode ini dilakukan untuk


mendapatkan kultur murni, sehingga akan dibahas dalam teknik-teknik
pemindahan kultur mikroba (kultur murni). Tujuan metode ini adalah
untuk memisahkan mikroba secara individual dan agar mikroba benar-
benar terpisah dari koloni lain sehingga di dapat diidentifikasi lebih
mudah.

2. Teknik-teknik pemindahan kultur mikroba (kultur murni)

Pada percobaan teknik ini, baik sampel air got maupun sampel jagung
bonyok, kami melakukannya dengan metode gores atau streak plate method,
hal ini dikarenakan tujuan dari metode tersebut yaitu untuk mendapatkan
mikroba yang tepisah dari koloni yang lain. Teknik ini dilakukan dengan
menggunakan media NA dan PDAmiring dengan cara, koloni yang terpisah
dari koloni yang lain didalam cawan petri diambil dengan menggunakan jarum
ose yang sudah dicelupkan kedalam alkohol lalu di bakar diatas lampu spirtus
hingga membara dari dalam (dekat gagang) samapi ujung jarum ose sebanyak
2x, sebelum mengambil koloni mikroba, jarum ose yang masih panas tersebut
di tempelkan pada medium (bukan di koloni yang ingin diambil) sampai
terdengar suara “cess”, koloni diambil sebanyak 2 ose lalu di goreskan
kedalam media NA dan PDAmiring secara zig-zag, kedua sampel yang telah
digoreskan kemudian dibiarkan mengering dan disimpan dalam ruang
laboratorium dengan suhu ruangan +/- 250C selama 24 jam, lalu diamati
pertumbuhannya dan di buat pulasan untuk diamati dan diidentifikasi di
mikroskop. Agar didapatkan koloni yang terpisah maka penggoresan harus
sempurna, yaitu dengan cara dioleskan berulang kali pada garis dan bentuk
yang sama pada saat pertama kali menggores, penggoresan akan sempurna jika
dilakukan oleh orang yang sudah terbiasa dan profesional, pada saat
penggoresan pun tidak boleh sampai merusak media dan dilakukan dengan
pelan. Semua langkah dilakukan secara aseptis mengingat percobaan ini
dilakukan untuk mendapat kultur murni. Kultur murni adalah kultur yang sel-
sel mikrobanya berasal dari suatu sel tunggal, berarti mikroba yang tumbuh
dari mikroba yang telah diisolasi.

3. Teknik-teknik pembuatan pulasan jamur

Pada percobaan kami, hanya dilakukan pulasan untuk sampel jagung


bonyok, teknik ini dibuat 5 pulasan yang terdiri dari 1 pulasan yang dibuat
dengan meneteskan 1 tetes aquadest kea tas permukaan objek glass kemudian
suspensi diambil dari media PDA miring dengan menggunakan ose sebanyak 1
ose, lalu di campurkan dengan aquadest yang ada pada objek glas sampai
merata, kemudian di panaskan di atas lampu spirtus dan tutup dengan cover
glass. 2 pulasan yang dibuat dengan meneteskan 1 tetes methylene blue ke atas
permukaan objek glass kemudian suspensi diambil dari media PDA miring
dengan menggunakan ose sebanyak 1 ose lalu di campurkan dengan methylene
blue yang ada pada objek glas sampai merata, kemudian tutup dengan cover
glass. Serta, 2 pulasan yang dibuat dengan meneteskan 1 tetes aquadest keatas
permukaan objek glass kemudian suspensi diambil dari media PDA miring
dengan menggunakan ose sebanyak 1 ose lalu di campurkan dengan aquadest
yang ada pada objek glas sampai merata, kemudian di panaskan (difiksasi) di
atas lampu spirtus sampai mengering, selanjutnya teteskan 1 tetes methylene
blue ke atas permukaan objek glass dan tutup dengan cover glass.

Setelah teknik pulasan dilakukan, maka semua pulasan diamati dan diidentifikasi
dengan menggunakan mikroskop, ketika pulasan diamati, yang kami temui adalah jamur
dari golongan khamir/ragi/yeast, hal ini dikarenakan kelompok kami menggunakan
jagung yang bonyok dan bukan jagung yang berjamur pada bonggolnya.
Pada pulasan yang tidak dipanaskan/difiksasi sel-sel nya bergerak tetapi pada
pulasan yang tidak dipanaskan/difiksasi sel-sel dari ragi tersebut diam dan lebih mudah
diamati, yang menandakan bahwa sel nya telah mati.

Sel dari ragi yang kami lihat dalam mikroskop berbentu silinder, ragi biasanya
tumbuh pada bahan yang konsentrasi gula nya tinggi, karena jagung mempunyai
konsentrasi gula yang cukup tinggi maka ini hal ini lah yang menyebabkan ragi tumbuh
pada jagung.

Ragi memiliki sifat fakultatif dimana ragi dapat tumbuh dan berkembang baik
dengan oksigen atau tanpa oksigen. Ragi/yeast merupakan mikroorganisme bersel tunggal
dan termasuk dalam jamur kelas Ascomycetes.

Jamur yang harusnya kami temui adalah jamur yang ada pada bonggol jagung
yang berwana kehijauan, jamur tersebut adalah jamus sparofit, yaitu Aspergillus Flavus
yang tidak memiliki hifa dan tidak bersekat.
G. Kesimpulan

Dari percobaan dasar-dasar teknik mikrobiologi dapat disimpulkan bahwa :

a. Dalam mengisolasi dan menanam mikroba harus diperhatikan faktor nutrisi media
yang digunakan dan memperhatikan cara penanaman yang tepat dan benar.

b. Dalam teknik penanaman mikroba harus dilakukan dengan cara yang benar dan
sempurna agar tidak terjadi kesalahan fatal

c. Dalam memindahkan mikroba harus dilakukan secara aseptis agar tidak


terkontaminasi oleh mikroba lain

d. Dalam pembuatan pulasan perlu dilakukan fiksasi agar pulasan mudah diamati.
H. Jawaban Pertanyaan

1. Prinsip dasar dan tujuan teknik isolasi mikroba

a. Spread plate method (cara tebar/sebar)

Prinsip : menyebarkan suspensi mikroba di atas permukaan media

Tujuan : untuk mendapatkan koloni tunggal dengan teknik penanaman dan


penyebaran suspensi mikroba pada permukaan medium.

b. Pour plate method (cara tabur)

Prinsip : mencampur suspensi mikroba dengan media

Tujuan : agar suspensi mikroba dapat tercampur merata dengan media.

c. Streak plate method (cara gores).

Prinsip : menggoreskan suspensi mikroba secara zig-zag diatas permukaan


media.

Tujuan : untuk memisahkan mikroba secara individual dan agar mikroba benar-
benar terpisah dari koloni lain sehingga di dapat diidentifikasi lebih mudah.

2. Kultur murni/biakan mikroba adalah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari suatu
sel tunggal, berarti mikroba yang tumbuh dari mikroba yang telah diisolasi.

3. Teknik yang benar pada teknik isolasi secara streak plate method (cara gores) agar
didapatkan koloni bakteri yang terpisah adalah dengan cara dioleskan berulang kali
pada garis dan bentuk yang sama pada saat pertama kali menggores, penggoresan
akan sempurna jika dilakukan oleh orang yang sudah terbiasa dan profesional, pada
saat penggoresan, tidak boleh sampai merusak media dan dilakukan dengan pelan.

4. Saat di inkubasi dalam cawan petri harus diletakan terbalik agar menghindari
terjadinya penguapan air yang terkandung didalam media sehingga tidak ada embun
terbentuk karena jika ada embun dan jatuh mengenai media akan menyebabkan media
mencair, kemudian untuk membantu pertumbuhan mikroorganisme, meratakan panas
secara menyeluruh membantu dalam penghitungan koloni serta memudahkan kita
untuk melakukan identifikasi.
Daftar Pustaka

Cappucino. 1983. “Isolasi Menggunakan Actinase E dab EDTA” Studi Tentang Chitin
Cangkang Udang (Penaeus merguiensis) 1. Agritech 10

Colome,JS. Et al. 2001. “Laboratory Exercises in Microbiology”. West Publishing


Company. New York.

Dwidjoseputro D. 1994. “Dasar-Dasar Mikrobiologi”. Jakarta : Djambatan

Hadioetomo. Ratna Siri. 1993. “Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek”. Jakarta: P.T.
Gramedia Pustaka Utama

Jutono. 1972. “Dasar-dasar Mikrobiologi Umum”. Departemen Mikrobiologi Fakultas


Pertanian UGM. Yogyakarta

Pelczar, M. J., Chan. E. C. S. 1986. “Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid I”. Jakarta : UI


Press

Talaro K.P. and A. Talaro, 1999. “Foundation in Microbiology Third Edition”. McGraw
Hill Company. Boston, p.61.

Anda mungkin juga menyukai