Anda di halaman 1dari 55

Gelombang VX

Angkatan 44

RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR


PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) DI RSUD SULTAN SULAIMAN
KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

DISUSUN

Oleh:
Dwi Suci Puspitasari, S.Kep, Ners
Penata Muda / III-a
NIP. 198909092019032021

LEMBAGA PENJAMIN MUTU PENDIDIKAN


SUMATERA UTARA BEKERJA SAMA DENGAN
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
PROVINSI SUMATERA UTARA
2019
LEMBAR PERSETUJUAN
RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS
DI RSUD SULTAN SULAIMAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

NAMA : Dwi Suci Puspitasari, S.Kep, Ners


NIP : 198909092019032021
PANGKAT/GOLONGAN : Penata Muda /III-a
JABATAN : Perawat Ahli Pertama
INSTANSI : RSUD Sultan Sulaiman
GELOMBANG/ANGKATAN : Gelombang VX/ Angkatan 44
KELOMPOK :2
Telah diseminarkan pada hari Jumat tanggal 8 November dihadapan Penguji,
Pembimbing (Coach) dan Mentor di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan
Sumatera Utara.

Medan, 8 November 2019


Coach, Penguji, Mentor
,

Drs. H. M. Mahfud Hamdi, M.AP Ah Naswir, S.Kep


NIP. NIP. NIP. 198411272011012002

Mengetahui
An. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Provinsi Sumatera Utara
Plh. Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Manajerial

PARLUHUTAN SIRAIT, SH, MSP


PEMBINA IV/a
NIP. 19620928 199603 1 002
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyusun Laporan Rancangan Aktualisasi
Nilai-nilai Dasar Pegawai Negeri Sipil sampai selesai. Pembuatan laporan ini
merupakan salah satu agenda dalam program pelatihan dasar calon Pegawai
Negeri Sipil tahun 2019 di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP).
Penulis menyadari proses penyusunan laporan rancangan aktualisasi ini tidak
akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak, dengan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih dengan tulus dan ikhlas kepada semua pihak yang
terlibat dalam pembuatan laporan rancangan aktualisasi ini :
1. Kepada Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengembangan Sumber
Daya manusia (BPSDM) dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)
Sumatera Utara sebagai penyelenggara latsar CPNS.
2. Bapak Drs. H. M. Mahfud Hamdi, M. AP sebagai coach dalam penyusunan
Rancangan Aktualisasi ini.
3. Bapak Ahmad Sopian Lubis, S.Sos sebagai penguji dalam dalam penyusunan
Rancangan Aktualisasi ini.
4. Bapak Naswir, S.Kep sebagai mentor dalam penyusunan Rancangan
Aktualisasi ini.
5. Seluruh Widyaiswara pelatihan dasar CPNS yang telah memberikan banyak
kesempatan pada penulis untuk belajar.
6. Rekan-rekan peserta Latsar Golongan III, angkatan 44, 45, 46, 47 dan 48.
7. Kedua orang tua yang selalu mendoakan penulis selama melewati proses
pendidikan Latsar.
Demikian laporan ini dibuat, semoga bermanfaat. Kritik, saran serta
masukan diharapkan demi kesempurnaan laporan ini

Medan, 8 November 2019


Penulis,

Dwi Suci Puspitasari

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i

DAFTAR ISI ..................................................................................................................... ii

DAFTAR TABEL ........................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1


1.2 Deskripsi Organisasi ................................................................................. 4
1.3 Permasalahan .......................................................................................... 15
1.4 Tujuan dan Manfaat ................................................................................ 18
BAB 2 IDENTIFIKASI DAN ANALISIS MASALAH ........................................... 17

2.1 Identifikasi Isu ............................................................................................. 17


2.2 Analisis Isu dan Dampaknya ....................................................................... 18
2.3 Penetapan Isu ............................................................................................... 20
2.4 Penetapan Gagasan Kegiatan ...................................................................... 21
2.5 Role Model .................................................................................................. 22
BAB 3 RANCANGAN AKTUALISASI DAN NILAI-NILAI DASAR PNS ...... 24

3.1 Nilai- nilai Dasar Profesi ASN .................................................................... 24


3.2 Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI ............................................... 30
3.3 Rancangan aktualisasi ............................................................................ 36
BAB 4 .............................................................................................................................. 47

PENUTUP ....................................................................................................................... 47

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 48

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Analisis Penilaian Isu dengan Metode A-P-K-L

Tabel 2. Analisis Isu Dengan Metode U-S-G

Tabel 3. Isu, Penyebab, dan Gagasan Kegiatan

Tabel 4. Rancangan Aktualisasi

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permasalahan dalam tata kelola pemerintahan di Indonesia saat ini
semakin banyak ditemukan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor,
baik berasal dari sumber daya manusia, lingkungan, maupun sistem.
Permasalahan dalam pemerintahan menyebabkan menurunnya kepercayaan
masyarakat terhadap sistem pemerintahan yang ada. Seiring dengan
kemajuan informasi dan teknologi membuat masyarakat semakin berpikir
kritis dan menuntut adanya perubahan dalam penyelenggaran pemerintahan.
Masyarakat menaruh harapan besar di area reformasi ini. Mereka
menginginkan terwujudnya sistem pemerintahan yang baik (good and clean
governance) serta pelayanan publik yang berkualitas dan professional.
Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah pekerjaan bagi Pegawai Negeri Sipil
dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kontrak kerja yang bertugas pada
instansi pemerintah. Menurut UU No. 5 tahun 2014 Pegawai Negeri Sipil
adalah warga negara Indonesia yang mempunyai syarat tertentu untuk
diangkat menjadi Pegawai ASN. Pengangkatan tersebut dilakukan untuk
menduduki jabatan pemerintahan yang dilakukan oleh pejabat pembina
kepegawaian. Pegawai Negeri Sipil menunaikan kebijakan publik yang diatur
oleh pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Pegawai Negeri Sipil harus memberikan pelayanan
publik yang berkualitas dan professional guna mempererat persatuan dan
kesatuan NKRI.
Dalam UU Nomor 5 Tahun 2014 juga sudah dinyatakan bahwa ASN
yang lazimnya disebut sebagai birokrasi bukan hanya merujuk kepada kriteria
pekerjaan tetapi merujuk kepada sebuah profesi pelayanan publik. ASN juga
aktif sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas
umum pemerintahan dan pembangunan nasional dengan cara
mengimplementasikan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional,
bersih dari kasus korupsi, kolusi dan nepotisme, serta bebas dari campur

1
tangan politik.
Untuk mewujudkan hal tersebut maka Pemerintah melalui Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 2014 dan Peraturan LAN No 25 Tahun 2017
mewajibkan Pendidikan dan Pelatihan ( Diklat ) terintegrasi bagi Calon
Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama satu tahun masa percobaan. Diklat
Prajabatan bermaksud untuk membentuk PNS yang profesional, yaitu PNS
yang wataknya dibentuk oleh nilai-nilai dasar profesi PNS, sehingga mampu
menunaikan tugas dan perannya secara profesional menjadi pelayan
masyarakat. Sesuai dengan Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara
Nomor 21 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Dasar
CPNS Golongan III, peserta Diklat memperoleh materi tentang nilai-nilai
dasar profesi PNS, yaitu ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika publik,
Komitmen mutu dan Anti korupsi) serta materi peran dan kedudukan PNS
yang terdiri dari Manajemen ASN, Pelayanan Publik, dan Whole of
Government.
Melalui proses Diklat, CPNS mendapatkan penjelasan, pendalaman,
penghayatan, dan penguasaan nilai-nilai dasar tersebut. Penerapan nilai-nilai
inilah yang membutuhkan rangkaian proses perencanaan yang dimulai
dengan pendataaan tugas pokok (sasaran kerja pegawai) di satuan/unit kerja,
penetapan masalah dan pemecahan isu untuk kemudian merujuk penerapan
nilai-nilai dasar dalam kegiatan tersebut. Proses ini lah yang disebut
aktualisasi atau habituasi selama di unit kerja rumah sakit.
Rumah sakit merupakan sarana kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, gawat darurat dan tindakan medik yang
dilakukan dalam 24 jam. Rumah sakit harus mampu meningkatkan pelayanan
kesehatan yang lebih bermutu agar terwujudnya derajat kesehatan masyarakat
yang setingi-tingginya serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara
paripurna. Untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dan untuk
meningkatkan keselamatan pasien, manajemen rumah sakit harus memiliki
sistem yang mampu mengidentifikasi dan melakukan intervensi tanda-tanda
awal penurunan kondisi pasien. Dimana upayanya di fokuskan pada

2
penentuan awal tanda penurunan kondisi pasien secara objektif berdasarkan
indikator klinis dan resikonya.
Kejadian henti jantung merupakan kondisi akhir terburuk dari semua
penyakit. Kejadian henti jantung di dalam rumah sakit perlu diberikan
perhatian khusus karena berkaitan dengan penyebab mortalitas, juga
berkaitan dengan sistem deteksi dini penurunan kondisi pasien dan respon
rumah sakit dalam menghadapi kejadian henti jantung pada pasien yang
sedang dirawat. Sebagian besar kasus henti jantung di rumah sakit
sebenarnya dapat diperkirakan sebelumnya. Keadaan ini dapat diperkirakan
melalui penuruanan kondisi pasien yang digambarkan dengan gangguan
parameter tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, dan
kesadaran. Penurunan kondisi pasien sering tidak diobservasi dengan baik
sehingga berakhir pada henti jantung dan juga kematian. Kejadian gangguan
tanda vital tersebut sering sekali tidak disadari oleh tim perawat.
Tantangan dalam mencegah henti jantung terletak pada kemampuan
penyedia layanan kesehatan mengidentifikasi tanda-tanda awal perburukan
klinis dan intervensi yang akan dilakukan. Early warning system (EWS)
merupakan salah satu alat atau sistem skoring menggunakan karakteristik
pasien yang dapat medeteksi perburukan klinis pada pasien di ruang rawat
inap. Early warning system (EWS) dapat digunakan untuk menentukan
tingkat keparahan penyakit yang menggabungkan parameter klinis menjadi
skor tunggal. Pasien dengan skor lebih besar dari ambang batas di identifikasi
dan dirujuk ke tingkat perawatan yang lebih tinggi. Selain itu, sesuai dengan
kebijakan standar nasional akreditasi rumah sakit early warning system
(EWS) merupakan salah satu elemen dalam Pelayanan Asuhan Pasien (PAP)
yang harus di terapkan dan di dokumentasikan pada rekam medis pasien di
rumah sakit. Dimana early warning system (EWS) harus diterapkan untuk
meningkatkan mutu pelayan rumah sakit.
Dari pengalaman penulis diatas ditemukannya kurang optimalnya
pengisian formulir early warning system (EWS) oleh perawat ruang rawat
inap di rumah sakit. Hal ini terlihat dari tidak terdapatnya formulir early
warning system (EWS) yang diisi oleh perawat saat melakukan

3
pendokumentasian di rekam medis pasien. Hal ini disebabkan perawat yang
tidak bekerja di daerah pelayanan kritis/ intensif kurang mempunyai
pengetahuan dan pelatihan yang cukup untuk melakukan asesmen serta
mengetahui pasien yang akan masuk dalam kondisi kritis. Padahal, banyak
pasien di luar daerah pelayanan kritis mengalami keadaan kritis selama
dirawat inap. Perawat kurang memiliki pengetahuan tentang pelaksanaan
serta pengisian formulir early warning system (EWS) di ruang rawat inap.
Oleh karena itu melalui rancangan aktualisasi yang dibuat berdasarkan
masalah yang ada di rumah sakit ini diharapkan dalam memberikan
pelayanan kepada pasien, rumah sakit harus lebih mengutamakan
keselamatan pasien serta bisa meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap
pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Sulaiman.

1.2 Deskripsi Organisasi


1.2.1 Profil Organisasi
RSUD Sultan Sulaiman adalah rumah sakit milik PEMKAB
Serdang Bedagai. Rumah Sakit ini terletak di Ibu kota Kabupaten,
dalam wilayah kerja Kecamatan Sei Rampah. Jarak RSUD Sultan
Sulaiman ke Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara (Medan) berkisar ± 62
Km. Secara geografis Kabupaten Serdang Bedagai terletak dijalur
Lintas Sumatera. RSUD Sultan Sulaiman ini terletak di areal tanah
seluas 20.200 m2 dengan luas bangunan 6.386 m2, yang terdiri dari 23
sarana gedung.
Secara administratif, RSUD Sultan Sulaiman Kecamatan Sei
Rampah dikelilingin oleh 16 wilayah Kelurahan dengan batas-batas
wilayah administratif kecamatan Sei Rampah:
 Sebelah Utara berbatasan dengan Tanah Raja
 Sebelah Selatan berbatasan dengan desa Simpang Empat
 Sebelah Timur Berbatasan dengan desa Sei Rejo
 Sebelah Barat berbatasan dengan desa Firdaus Estate
RSUD Sultan Sulaiman dengan kemampuan pelayanan kelas C
ini didirikan pada tahun 2006 yang merupakan peningkatan dari

4
puskesmas rawat inap Sei Rampah yang diresmikan oleh Menteri
Kesehatan RI pada tanggal 06 Januari 2007 dan ditetapkan sebagai
rumah sakit umum kelas C berdasarkan Kepmenkes RI No.
001/Menkes/SK/I/2008 tanggal 02 januari 2008 dan izin operasional
berdasarkan Kemenkes RI No.HK.07.06/III/01/2008 tanggal 02 Januari
2008. Hal tesebut secara regulasi memberikan dukungan untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat di kabupaten Serdang
Bedagai.
Sejak mulai beroprasinya RSUD Sultan Sulaiman berbagai upaya
telah dilakukan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat melalui penyediaan kesehatan kepada masyarakat melalalui
penyediaan sumber daya manusia (SDM) secara kuantitas dan
peningkatan kapasitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan dan
melakukan pembenahan secara manajemen serta penyediaan peralatan
medis dan non-medis guna memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan
di RSUD Sultan Sulaiman. RSUD Sultan Sulaiman merupakan Salah
satu unit terdepan dalam pelayanan kesehatan tingkat lanjutan yang
berfungsi memberikan pelayanan pengobatan, promosi kesehatan,
pencegahan dan upaya rehabilitasi. Dalam rangka pemberian pelayanan
kesehatan tersebut secara utuh maka sangat didukung oleh ketersediaan
fasilitas medis dan non medis, ketersediaan sumberdaya manusia dan
system manajemen mutu yang terpadu dan terintegrasi dengan upaya
pelayanan kesehatan.
RSUD Sultan Sulaiman merupakan rumah sakit milik Pemerintah
Kabupaten Serdang Bedagai yang mempunyai wilayah kerja 17
Kecamatan dan 243 desa, dengan jumlah penduduk sebesar 599.151
jiwa dengan luas wilayah 1.900,22 km2. Secara geografis Kabupaten
Serdang Bedagai terletak dijalur lintas sumatera sehingga daerah
Serdang Bedagai termasuk daerah rawan kecelakaan, dan hal ini
menjadi peluang untuk perawatan dan tindakan medis bagi korban
kecelakaan lalu lintas. Selain itu Kabupaten Serdang Bedagai juga
termasuk daerah rawan bencana dan hal ini memerlukan eksistensi

5
RSUD Sultan Sulaiman sebagai sarana penyedia pelayanan kesehatan
bagi korban bencana alam.
Akses ke RSUD Sultan Sulaiman sangat lancar karena terdapat
jalur angkutan Kota yang melewati Rumah Sakit sehingga angkutan
umum yang tersedia cukup banyak, disamping itu di mulut jalan arah
dari Barat menuju RS terdapat Pasar yang senantiasa lancar karena
mrupakan jalan lintas Sumatera yang padat dengan keceepatan yang
tinggi, hal tersebut sangat menguntungkan bagi RSUD Sultan
Sulaiman.

1.2.2 Visi, Misi, Tupoksi Organisasi


a. Visi
“ Menjadi Rumah Sakit Umum Yang Unggul Ramah dan
Profesional ”

b. Misi
Dalam rangka mewujudkan Visi tersebut, maka Misi RSUD Sultan
Sulaiman adalah sebagai berikut :
1. Menjaga dan Meningkatkan citra diri sebagai lembaga
pemerintah dalam mewujudkan pelayanan Rumah Sakit
Rujukan yang bertanggung jawab, menjunjung tinggi kode etik,
menghormati tatanan yang berlaku pada masyarakat, serta
berupaya memaksimalkan derajat kesehatan masyarakat.
2. Memuaskan pelanggan dengan memberikan pelayanan
kesehatan dan perawatan paripurna (kuratif, promotif dan
preventif)
3. Memberdayakan, banggakan, sejahterakan karyawan.
Melaksanakan pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan
seluruh karyawan untuk mencapai prestasi kerja terbaik dengan
menjalankan perintah nilai-nilai kode etik yang berlaku di
rumah sakit.

6
c. Tupoksi Organisasi
Tupoksi organisasi perawat ahli pertama :
1. Melakukan pengkajian keperawatan lanjutan individu
Tahapan :
a. Mengumpulkan data pasien secara subjektif dan objektif
b. Menganalisa data keluahan dan data pemeriksaan pasien
c. Mendokumentasikan pelayanan yang telah diberikan pada
lembar rekam medis pasien
2. Memberikan konsultasi data pengkajian keperawatan
dasar/lanjut
Tahapan :
a. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien
b. Menjelaskan hal-hal yang terkait dengan hasil pengkajian
yang didapat
c. Mendokumentasikan pelayanan yang telah diberikan pada
lembar rekam medis pasien
3. Merumuskan diagnosa keperawatan individu
Tahapan :
a. Menganalisa data keluahan dan data pemeriksaan pasien
b. Merumuskan diagnosa keperawatan individu
c. Mendokumentasikan pelayanan yang telah diberikan pada
lembar rekam medis pasien
4. Membuat prioritas diagnosa keperawatan
Tahapan :
a. Menganalisa data keluahan dan data pemeriksaan pasien
b. Merumuskan diagnosa keperawatan individu
c. Mendokumentasikan pelayanan yang telah diberikan pada
lembar rekam medis pasien
5. Merumuskan tujuan keperawatan pada individu
Tahapan :
a. Menganalisa data keluahan dan data pemeriksaan pasien

7
b. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan diberikan pada
individu
c. Mendokumentasikan pelayanan yang telah diberikan pada
lembar rekam medis pasien
6. Merumuskan tujuan kereperawatan pada keluarga
Tahapan :
a. Menganalisa data keluahan dan data pemeriksaan kelaurga
b. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan diberikan pada
keluarga
c. Mendokumentasikan pelayanan yang telah diberikan pada
lembar rekam medis pasien
7. Merumuskan tindakan keperawatan pada individu
Tahapan :
a. Menganalisa data keluahan dan data pemeriksaan pasien
b. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan diberikan pada
individu
c. Mendokumentasikan pelayanan yang telah diberikan pada
lembar rekam medis pasien
8. Merumuskan tindakan keperawatan pada keluarga
Tahapan :
a. Menganalisa data keluhan dan data pemeriksaan pasien
b. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan diberikan pada
individu
c. Mendokumentasikan pelayanan yang telah diberikan pada
lembar rekam medis pasien
9. Melakukan stimulasi tumbuh kembang pada individu
Tahapan :
a. Menjalin rasa saling percaya kepada pasien
b. Melatih pasien dalam melakukan gerak aktif
c. Mendokumentasikan pelayanan yang telah diberikan pada
lembar rekam medis pasien

8
10. Memfasilitasi adaptasi dalam hospitalisasi individu
Tahapan :
a. Menjalin rasa saling percaya kepada pasien
b. Mempelajari reaksi pasien terhadap stresor yang dihadapi
c. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk belajar
tentang penyakit, prosedur, penyembuhan, terapi, dan
perawatan pasien
d. Mefasilitasi pasiien untuk tetap menjaga sosialisasinya
dengan sesama pasien yang ada
11. Melakukan pendidikan kesehatan pada individu pasien
Tahapan :
a. Menjalin rasa saling percaya kepada pasien
b. Menyiapkan materi dan media penyuluhan
c. Menjelaskan meteri penyuluhan dengan menggunakan
bahasa yang mudah dipahami
d. Memberi kesempatan kepada pasien untuk bertanya
e. Melakukan evaluasi terhadap penyuluhan
12. Mengajarkan teknik kontrol infeksi pada keluarga dengan
penyakit menular
Tahapan :
a. Mengajarkan keluarga untuk melakukan cuci tangan yang
benar
b. Menjelaskan kepada keluarga untuk menggunakan APD
selama berada di lingkungan rumah sakit
13. Manajemen inkontinensia urine
Tahapan :
a. Menyarankan pasien untuk mengurangi kafein ,
menyusuaikan kadar cairan yang di konsumsi pasien
b. Menyarankan pasien untuk menyusuaikan berat badan
penderita menjadi ideal
c. Mengajarkan klien untuk teknik menahan buang air kecil

9
14. Menajemen inkontinensia faecal
Tahapan :
a. Menyarankan pasien untuk merubah pola makan dengan
banyak mengkonsumsi makanan yang tinggi serat serta
memperbanyak konsumsi cairan
b. Menyarankan pasien untuk tidak mengejan saat buang air
besar
c. Menyarankan pasien agar menggunakan pakaian dalam
berbahan katun sehingga tidak mudah terjadi iritasi
15. Melakukan upaya pasien tidur
Tahapan :
a. Menciptakan lingkungan yang nyaman
b. Membantu kebiasaan klien sebelum tidur misalnya dengan
mendengarkan music
c. Menganjurkan klien untuk memakan makanan yang
mengandung tinggi protein dan menghindari banyak
minum sebelum tidur
d. Menghindari rangsangan mental yang tidak menyenangkan
sebelum tidur
16. Melakukan relaksasi psikologis
Tahapan :
a. Mengajarkan pasien untuk relaksasi pernapasan
b. Menyarankan klien untuk tarik napas selama 3 hitungan , ,lalu
tahan selama 5 hingga 10 detik kemudian hembuskan udara tadi
melalui mulut secra perlahan
17. Melakukan tata kelola keperawatan perlindungan terhadap pasien
dengan resiko trauma
Tahapan :
a. Memperkirakan cedera yang mungkin terjadi dari mekanisme
traumanya
b. Menentukan prioritas evakuasi berasarkan ancaman yang
mungkin terjadi

10
c. Menjaga jalan naps terbuka disertai proteksi servical
d. Atasi syok dengan pencegahan hipotermia dan pembidaian
fraktur
e. Menjaga stabilisasi spinal secara manual sampai pasien dapat
diimobilisasi
18. Melakukan manajemen febrile neuropati
Tahapan :
a. Menyarankan pasien untuk melakukan olah raga ringan secara
teratur
b. Mengajari pasien metode untuk mengontrol nyeri saraf
c. Menyarankan pasien untuk membatasi konsumsi kafein dan
alkohol agar bisa tidur lebih nyenyak
19. Melakukan komunikasi terapeutik dalam pemberian asuhan
keperawatan
Tahapan :
a. Menjalin rasa saling percaya kepada pasien
b. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima
c. Harus memahami, menghayati nilai yang dianut oleh pasien
d. Menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki
motivasi untuk mengubah dirinya
e. Memahami arti empati sebagai tindakan yang terapeutik
f. Kejujuran
g. Menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas
berkembang tanpa rasa takut
20. Memfasiltasi pasien dalampemenuhan kebutuhan spiritual
Tahapan :
a. Memberi kesempatan untuk bisa beribadah sesuai keyakinan
b. Menciptakan suasana lingkungan yang nyaman dan aman
21. Melakukan pendampingan pada pasien menjelang ajal (dying care)
Tahapan:
a. Memahami apa yang dialami klien dengan kondisi terminal
b. Mempertimbangkan kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial unik

11
c. Lebih toleran dan rela meluangkan waktu lebih banyak
d. Mendengarkan pasien mengekspresikan duka citanya
22. Memantau pemberian elektrolit konsentrasi tinggi
Tahapan :
a. Memantau elektrolit yang diberikan
b. Mencatat semua hasil pemantauan di rekam medis
23. Melakukan resusitasi bayi baru lahir
Tahapan :
a. Jaga bayi tetap hangat
b. Atur posisi bayi
c. Isap lender
d. Keringkan dan rangsang bayi
e. Atur posisi kepala bayi
f. Penilaian bayi
24. Memberikan perawatan pada pasien menjelang ajal sampai
meniggal
Tahapan :
a. Memahami apa yang dialami klien dengan kondisi terminal
b. Mempertimbangkan kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial unik
c. Lebih toleran dan rela meluangkan waktu lebih banyak
d. Mendengarkan pasien mengekspresikan duka citanya
25. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada individu
Tahapan :
a. Membaca kembali diagnosa keperawatan
b. Mengidentifikasi tolak ukur keberhasilan yang akan digunakan
untuk mengukur tingkat keberhasilan atau tingkat pencapaian
tujuan
c. Mengumpulkan data atau mengkaji ulang pencapaian hasil
d. Mengevaluasi pencapaian tujuan
26. Memodifikasi rencana asuhan keperawatan
Tahapan :
a. Tetapkan tujuan sesuai dengan diagnosis baru tersebut

12
b. Kaji kembali intervensi keperawatan yang telah diberikan
dengan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut
c. Identifikasi faktor- faktor yang dapat mendukung dan
menghambat pencapaian tujuan
d. Catat waktu (tanggal, jam) untuk revalusi kembali
e. Laksanakan intervansi sesuai dengan rencana modifikasi
f. Semua data tersebut dicatat dalam format dokumentasi yang
telah ditetapkan

1.2.3 Struktur Organisasi

DIREKTUR

Komite Komite Satuan Pengawas Interen


SMF

BIDANG PERENCANAAN DAN BIDANG PELAYANAN BAGIAN TATA


PENGEMBANGAN MEDIS DAN USAHA
KEPERAWATAN

SEKSI PENYUSUNAN SEKSI PELAYANAN MEDIS SUB BAGIAN


PROGRAM
UMUM

SEKSI KEPERAWATAN SUB BAGIAN


SEKSI PENDIDIKAN DAN
KEPEGAWAIAN
PELATIHAN

SEKSI BINA ASUHAN SUB BAGIAN


SEKSI MONITORING KEUANGAN
MUTU DAN
DAN EVALUASI
KETENAGAAN

Instalasi KJF Instalasi KJF Instalasi KJF

13
1.2.4 Nilai Organisasi
1. Pro Rakyat
Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Kementerian
Kesehatan selalu mendahulukan kepentingan rakyat dan harus
menghasilkan yang terbaik untuk rakyat. Diperolehnya derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah
satu hak asasi manusia tanpa membedakan suku, golongan, agama
dan status sosial ekonomi.
2. Inklusif
Semua program pembangunan kesehatan harus melibatkan semua
pihak, karena pembangunan kesehatan tidak mungkin hanya
dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan saja. Dengan demikian,
seluruh komponen masyarakat harus berpartisipasi aktif, yang
meliputi lintas sektor, organisasi profesi, organisasi masyarakat
pengusaha, masyarakat madani dan masyarakat akar rumput.
3. Responsif
Program kesehatan harus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
rakyat, serta tanggap dalam mengatasi permasalahan di daerah,
situasi kondisi setempat, sosial budaya dan kondisi geografis.
Faktor-faktor ini menjadi dasar dalam mengatasi permasalahan
kesehatan yang berbeda-beda, sehingga diperlukan penangnganan
yang berbeda pula.
4. Efektif
Program kesehatan harus mencapai hasil yang signifikan sesuai
target yang telah ditetapkan dan bersifat efisien.
5. Bersih
Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus bebas dari korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN), transparan, dan akuntabel.

14
1.3 Permasalahan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama bekerja di Rumah Sakit
Umum Daerah Sultan Sulaiman Serdang Bedagai terdapat beberapa masalah
yang ditemukan, antara lain:
1. Belum optimalnya pemberian edukasi dan informasi pada pasien baru di
RSUD Sultan Sulaiman.
Edukasi orientasi pada pasien dan/atau keluarga pasien merupakan suatu
hal yang penting dilakukan karena merupakan salah satu hak dari pasien
dan keluarga. Adapun aktor yang berperan dalam pemberian edukasi pada
pasien dan keluarga adalah petugas admnistrasi dan perawat. Khususnya
saat edukasi orientasi pasien baru masuk di ruangan rawat inap.
Berdasarkan hasil pengamatan penulis selama di ruangan, penerapan
edukasi oleh perawat sudah cukup baik. Akan tetapi ada beberapa faktor
yang mengakibatkan kurang optimalnya penyampaian informasi terkat
orientasi di ruangan rawat. Faktor tersebut antara lain kondisi emosional
penerima informasi (seperti keluarga atau kolega yang mengantar pasien)
kurang stabil (cemas, sedih, bingung dengan kondisi pasien) dan
minimnya media informasi yang dapat dibawa dan dibaca oleh keluarga.
Pemberian informasi yang tidak optimal mengakibatkan perawat harus
melakukan pengulangan pemberian edukasi dan informasi yang sama,
sehingga menyebabkan ketidakefektifan waktu pelayanan. Hal ini juga
mengakibatkan minimnya informasi yang didapat oleh keluarga pasien.
Pemberian informasi dan edukasi adalah salah satu cerminan kualitas
pelayanan yang dapat diberikan oleh perawat di ruangan. Jika hal ini tidak
dapat terlaksana dengan maksimal, maka mutu pelayanan juga akan
rendah dan pasien serta keluarga kurang puas dengan pelayanan yang
diberikan rumah sakit.

2. Kurang optimalnya Pelaksanaan hand hygiene dengan handrub untuk


mengurangi infeksi di ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman.
Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka
kesakitan dan kematian di dunia. Salah satu jenis infeksi adalah infeksi
nosokomial (INOS). Saat ini, angka INOS telah dijadikan salah satu tolok

15
ukur mutu pelayanan rumah sakit. Infeksi nosokomial merupakan masalah
besar yang dihadapi rumah sakit dan dapat disebarkan melalui kontak
tangan. Hand Hygiene merupakan salah satu cara yang paling sederhana
dan efektif untuk mencegah infeksi nosokomial. Hand hygienen adalah
mencuci tangan dengan menggunakan antiseptik pencuci tangan. Perilaku
hand hygiene perawat merupakan salah satu faktor yang mempunyai
pengaruh besar terhadap kesehatan perawat dan pasien dalam mencegah
terjadinya infeksi nosokomial. Kepatuhan petugas kesehatan dalam
melakukan kegiatan hand hygiene dapat menurunkan angka INOS.
Berdasarkan hasil pengamatan penulis selama di ruangan, masih banyak
perawat yang kurang melakukan kepatuhan hand haygiene dengan
handrub saat sebelum melakukan tindakan medis, saat sebelum kontak
dengan pasien amaupun setelah kontak dengan pasien dan setelah
melakukan tindakan medis pada pasien. Hal ini bisa mengakibatkan
meningkatnya kejadian nosokomial di rumah sakit yang dapat
membahayakan pasien maupun perawat.

3. Kurang optimalnya pelaksanaan early warning system (EWS) di ruang


rawat inap RSUD Sultan Sulaiman.
Perawat yang tidak bekerja di daerah pelayanan kritis/ intensif kurang
mempunyai pengetahuan dan pelatihan yang cukup untuk melakukan
asesmen serta mengetahui pasien yang akan masuk dalam kondisi kritis.
Padahal, banyak pasien di luar daerah pelayanan kritis mengalami
keadaan kritis selama dirawat inap. Sering kali pasien memperlihatkan
tanda bahaya dini (contoh, tanda-tanda vital yang memburuk dan
perubahan kecil status neurologisnya) sebelum mengalami penurunan
kondisi klinis yang meluas sehingga mengalami kejadian yang tidak
diharapkan. Ada kriteria fisiologis yang dapat membantu perawat untuk
mengenali sedini-dininya pasien yang kondisinya memburuk. Sebagian
besar pasien yang mengalami gagal jantung atau gagal paru sebelumnya
memperlihatkan tanda-tanda fisiologis di luar kisaran normal yang
merupakan indikasi keadaan pasien memburuk. Hal ini dapat diketahui
dengan early warning system (EWS). Penerapan early warning system

16
(EWS) membuat perawat mampu mengidentifikasi keadaan pasien
memburuk sedini-dininya dan bila perlu mencari bantuan perawat yang
kompeten. Dengan demikian, hasil asuhan akan lebih baik. Jika EWS
tidak diterapkan dengan baik, maka akan sering terjadi kegawat daruratan
henti jantung (Code Blue) yang dapat mengancam nyawa pasien.
Sehingga apabil kejadian mortalitas meningkat maka mutu pelayanan
rumah sakit akan menurun. Pasien akan kurang puas dan kurang percaya
dengan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit

4. Belum optimalnya pemenuhan kebersihan diri pada pasien tirah baring di


ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman.
Kebersihan diri yang menyeluruh dimulai dari dari kebersihan rambut
hingga kaki harus benar-benar dipantau pada pasien tirah baring. Pasien
bisa saja mengalami infeksi karena kebersihan diri yang buruk.
Ketidakmampuan pasien memenuhi kebersihan diri secara mandiri
mengharuskan perawat untuk bisa membantu secara optimal. Berdasarkan
hasil pengamatan penulis selama di ruangan, penerapan pemenuhan
bantuan kebersihan diri untuk pasien di ruang rawat inap sudah cukup
baik, tetapi pemenuhan kebutuhan kebersihan rambut masih kurang
optimal karena kurang tersedianya alat. Sehingga tidak semua pasien tirah
baring bisa dipenuhi kebersihan dirinya. Hal ini bisa mengakibatkan
timbulnya rasa ketidakpuasan oleh pasien dan keluarga akan pelayanan
yang diberikan.

5. Kurang optimalnya pendokumentasian pemberian terapi dan tindakan


keperawatan pada pasien rawat inap di RSUD Sultan Sulaiman.
Pendokumentasian merupakan faktor penting dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien. Pendokumentasian yang lengkap mengenai
pelayanan dan tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien akan
memudahkan perawat dalam menyelesaikan masalah yang dialami pasien.
Dengan dilakukannya pendokumentasian maka akan mencegah terjadinya
kelalaian dalam pemantauan pasien. Selain itu, pendokumentasian dapat
di jadikan sebagai aspek legal bila terjadi masalah yang berhubungan

17
dengan profesi keperawatan. Dokumentasi tersebut dapat dipergunakan
sebagai barang bukti di pengadilan. Maka untuk itu apabila perawat tidak
melakukan pendokumentasian secara jelas dan benar jika suatu saat ada
tuntutan dari pasien perawat tidak dapat mempertanggung jawabkan
tindakan yang telah dilakukannya. Pendokumentasian dapat dijadikan
sebagai dasar hukum tindakan keperawatan yang sudah dilakukan. Salah
tugas dan tanggung jawab itu adalah melakukan pendokumentasian
dengan baik dan benar.

1.4 Tujuan dan Manfaat


1.4.1 Tujuan
a. Tujuan Umum
Penulis mampu melaksanakan aktualisasi dengan
mengiternalisasikan perilaku bela Negara, nilai-nilai dasar ASN,
pengetahuan tentang kedudukan dan peran ASN dalam NKRI serta
menganalisa dampak ke dalam program kerja dan kegiatan di unit
kerja
b. Tujuan Khusus
1. Penulis mampu mengaktualisasikan sikap perilaku bela negara
di unit kerja
2. Penulis mampu mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS
(Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu,
Anti Korupsi)
3. Penulis mampu mengaktualisasi kedudukan peran PNS dalam
kerangka NKRI (Manajemen ASN, Pelayanan Publik dan Whole
of Government)
4. Penulis mampu menganalisa dampak apabila kompetensi sikap
perilaku bela negara, nilai-nilai dasar PNS, dan kedudukan serta
peran PNS dalam kerangka NKRI tidak diaplikasikan
5. Penulis mampu mencegah kerugian dalam pelayanan asuhan
keperawatan yaitu menurunkan terjadinya kejadian codeblue
yang dapat mengancam dan membahayakan nyawa pasien

18
1.4.2 Manfaat
a. Bagi peserta
1. Penulis mampu mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ASN
yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen
Mutu, Anti korupsi, Manajemen ASN, Pelayanan Publik, dan
Whole of Government sebagai seorang ASN serta
menganalisis dampak ke dalam program dan kegiatan di unit
kerja rumah sakit.
2. Penulis mampu menganalisa isu-isu aktual dan mencari solusi
dari permasalahan yang ada.
3. Penulis mampu melaksanakan kegiatan aktualisasi sesuai isu
atau permasalahan yang ada di Rumah Sakit sehingga
membentuk PNS berprofesional dan berkarakter.

b. Bagi organisasi
Organisasi memiliki ASN yang berkarakter dan mampu bekerja
dengan profesional dengan menerapkan sikap perilaku bela
negara, nilai-nilai dasar PNS serta memahami kedudukan dan
peran PNS dalam NKRI.

19
BAB II
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS MASALAH

2.1 Identifikasi Isu


Isu adalah sebuah masalah yang belum terpecahkan yang siap diambil
keputusannya. Isu mempresentasikan suatu kesenjangan antara praktik
organisasi dengan harapan-harapan para stakeholder. Berdasarkan definisi
tersebut, isu merupakan suatu hal yang terjadi baik di dalam maupun di luar
organisasi yang apabila tidak ditangani secara baik akan memberikan efek
negatif terhadap organisasi bahkan dapat berlanjut pada tahap krisis.
Dalam menyelesaikan permasalahan ditempat kerja, tahap pertama yang
dilakukan adalah mengidentifikasi isu. Pengertian menurut Regester dan
Larkin bahwa sebuah isu mempresentasikan suasana kesenjangan antara
praktek koorporat dengan harapan-harapan para stakeholder. Dengan kata
lain, sebuah isu yang timbul ke permukaan adalah suatu kondisi atau
peristiwa baik di dalam maupun diluar organisasi, yang jika dibiarkan akan
menjadi efek yang signifikan pada fungsi dan kinerja organisasi tersebut di
masa datang. Isu bisa meliputi masalah, perubahan, peristiwa, situasi,
kebijakan, atau nilai yang tengah berlangsung dalam kehidupan
bermasyarakat.
Berkaitan dengan rancangan aktualisasi ini, sumber isu yang diangkat
berasal dari tugas kreatifitas oleh penulis melalui persetujuan coach dan
mentor. Pada tahapan ini penulis membuat rancangan aktualisasi ini diawali
dengan mengidentifikasi isu yang ditemukan pada masa orientasi di Ruang
Rawat Inap RSUD Sultan Sulaiman, yang identifikasi masalahnya
dilaksanakan berdasarkan isu dalam Manajemen ASN, Pelayanan Publik dan
Whole Of Goverment (WoG). Adapun isu di Ruang Rawat Inap RSUD Sultan
Sulaiman yang penulis temui selama 3 (tiga) bulan masa masa orientasi
adalah :
1. Belum optimalnya pemberian edukasi dan informasi pada pasien baru dan
keluarga di ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman. (Pelayanan Publik)

17
2. Kurang optimalnya pelaksanaan hand hygiene menggunakan handrub
untuk mengurangi resiko infeksi di ruang rawat inap RSUD Sultan
Sulaiman. (Manajemen ASN)
3. Kurang optimalnya pelaksanaan early warning system (EWS) oleh
perawat di ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman. (Manajemen ASN)
4. Belum optimalnya pemenuhan kebersihan diri pada pasien tirah baring di
ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman. (Pelayanan Publik)
5. Kurang optimalnya pendokumentasian pemberian terapi dan tindakan
keperawatan pada pasien di ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman.
(Manajemen ASN)

2.2 Analisis Isu dan Penetapan Isu Terpilih


Metode pertama yang dipakai adalah APKL. Aktual adalah isu tersebut
benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat.
Problematik merupakan isu yang sangat kompleks sehingga perlu dicarikan
solusinya. Kekhalayakan artinya isu tersebut menyangkut hidup orang
banyak. Layak ditujukan kepada isu yang masuk akal dan realistis serta
relevan untuk dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya. Secara lengkap
analisis penilaian kualitas isu dengan metode APKL tersebut dapat dilihat
pada tabel dibawah ini :
Tabel 1. Analisis Penilaian Isu dengan A-P-K-L
Kriteria APKL
No. Identifikasi Isu
A P K L
1. Belum optimalnya pemberian edukasi dan
informasi pada pasien baru dan keluarga
√ √ √ √
di ruang rawat inap RSUD Sultan
Sulaiman
2. Kurang optimalnya pelaksanaan hand
hygiene dengan handrub untuk
mengurangi resiko infeksi di ruang rawat √ √ √ √
inap RSUD Sultan Sulaiman

18
3. Kurang optimalnya pelaksanaan early
warning system (EWS) di ruang rawat √ √ √ √
inap RSUD Sultan Sulaiman
4. Belum optimalnya pemenuhan kebersihan
diri pada pasien tirh baring di rawat inap √ √ √ √
RSUD Sultan Sulaiman
5. Kurang optimalnya pendokumentasian
pemberian terapi dan tindakan
√ √ √ √
keperawatan pada pasien rawat inap di
RSUD Sultan Sulaiman

Setelah dilakukan analisis berdasarkan metode APKL, isu tersebut akan


dianalisis dengan menggunakan metode USG untuk memilih prioritas isu
yang akan dicarikan solusinya. Urgency adalah seberapa mendesak isu
tersebut untuk harus segera dibahas, dianalisa dan ditindaklanjuti. Seriousness
adalah seberapa serius isu tersebut harus dibahas, dianalisa dan
ditindaklanjuti. Growth adalah seberapa besar kemungkinan memburuknya
isu tersebut jika tidak ditangani segera. Secara lengkap analisis penilaian
kualitas isu dengan metode USG dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2. Analisis Isu dengan metode U-S-G
No. Isu U S G Total Prioritas
1. Belum optimalnya pemberian
edukasi dan informasi pada pasien
4 4 3 11 4
baru dan keluarga di ruang rawat
inap RSUD Sultan Sulaiman
2. Kurang optimalnya pelaksanaan
hand hygiene dengan handrub
untuk mengurangi resiko infeksi di 5 4 5 14 2
ruang rawat inap RSUD Sultan
Sulaiman
3. Kurang optimalnya pelaksanaan
5 5 5 15 1
early warning system (EWS) di

19
ruang rawat inap RSUD Sultan
Sulaiman
4. Kurang optimalnya pemenuhan
kebersihan diri pada psien tirah
3 3 3 9 4
baring di ruang rawat inap RSUD
Sultan Sulaiman
5. Kurang optimalnya
pendokumentasian pemberain
terapi dan tindakan keperawatan di 4 4 4 12 3
ruang rawat inap RSUD Sultan
Sulaiman
Skala USG : 1-5 (Skala Likert)
5: Sangat besar
4: Besar
3: Sedang
2: Kecil
1: Sangat kecil
Jadi dari analisis USG diatas dapat dilihat bahwa isu yang menjadi
prioritas adalah “Kurang optimalnya pelaksanaan early warnig system (EWS)
di ruang rawat inap RSUD Sulatan Sulaiman”. Jadi jika isu ini tidak
diselesaikan maka akan dapat timbul dampak.

2.3 Analisi Dampak Isu Terpilih


Dari hasil analisis isu diatas dapat dilihat bahwa masalah prioritas di
RSUD Sultan Sulaiman adalah “ Kurang Optimalnya pelaksanaan early
warning system (EWS) di ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman”. Bila
masalah ini tidak segera dituntaskan maka di khawatirkan akan timbul
masalah sering terjadi kegawat daruratan henti jantung (Code Blue) yang
dapat mengancam nyawa pasien. Apabila kejadian mortalitas meningkat
maka mutu pelayanan rumah sakit akan menurun. Pasien akan kurang puas
dan kurang percaya dengan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit.
Sehingga dibutuhkan penerapan early warning system (EWS) yang akan

20
membuat perawat mampu mengidentifikasi keadaan pasien memburuk sedini-
dininya dan bila perlu mencari bantuan perawat yang kompeten atau dirujuk
ke tingkat perawatan yang lebih tinggi (ICU).

2.4 Penetapan Gagasan Kegiatan


Melihat dampak yang akan terjadi dari masalah tersebut diatas maka
perlu dilakukan tindak lanjut agar masalah ini dapat diselesaikan. Maka
ditemukan beberapa solusi/ gagasan yang diharapkan dapat membawa
peubahan kea rah yang lebih baik. Gagasan pemecahan isu dapat dilihat pada
tabel bawah ini:

Tabel 3. Isu, Penyebab, dan Gagasan Kegiatan


Isu Penyebab Terjadinya Isu Gagasan Kegiatan
Kurang 1. Kurangnya tingkat 1. Melakukan pembuatan
optimalnya pengetahuan perawat formulir early warning
pelaksanaan tentang pengisian formulir system (EWS) dengan early
early warning early warning warning skoring yang
system (EWS) system(EWS) mudah dipahami
di ruang rawat 2. Formulir pengisian early 2. Melakukan pembuatan
inap RSUD warning system (EWS) kuesioner untuk mengetahui
Sultan yang kurang jelas dan sulit pengetahuan perawat
Sulaiman dipahami tentang early warning
3. Tidak adanya panduan systen (EWS)
dalam pengisian formulir 3. Melakukan sosialisasi
early warning system tetang cara pengisian
(EWS) formulir early warning
4. Kurangnya pengetahuan system (EWS) kepada staf
dan kemampuan perawat perawat di ruang rawat inap
untuk melakukan asesmen 4. Membuat panduan cara
serta mengetahui pasien pengisian formulir early
yang akan masuk dalam warning system (EWS)
kondisi kritis untuk ruang rawat inap

21
5. Monitoring pengisian 5. Mengusulkan pembuatan
formulir early warning rancangan Standar Prosedur
system (EWS) masih Operasional early warning
kurang efisien system (EWS)
6. Pelaksanaan pengisian
formulir early warning system
(EWS) dengan early warning
skoring sesuai Standar
Prosedur Operasional oleh tim
perawat
7. Observasi pelaksanaan
pengisian formulir early
warning system (EWS)

2.5 Role Model


Nama : Naswir S.Kep
Tempat/ Tanggal Lahir : Sibolga/ 27 Februari 1967
NIP : 196702271993031003
Jabatan : Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan

Alasan saya menjadikan beliau sebagai role model adalah saya melihat
beliau adalah sosok yang bertangung jawab sebagai seorang pemimpin.
Beliau mampu menggerakkan perawat untuk melakukan tupoksi. Terlebih
saat ini Rumah Sakit sedang dalam proses menuju akreditasi membutuhkan
sosok pemimpin yang mampu untuk memberikan semangat dalam
meningkatkan asuhan keperawatan dalam criteria penilaian akreditasi. Saya
berharap beliau selalu diberikan kesehatan dan mampu untuk membawa
perubahan kearah yag lebih baikdi Rumah Sakit Umum Daerah Sultan
Sulaiman.

22
BAB III
RANCANGAN AKTUALISASI DAN
NILAI-NILAI DASAR PNS

3.1 Nilai- nilai Dasar Profesi ASN


Penyelenggaraan Pelatihan Dasar ini bertujuan sebagai penguatan nilai-
nilai dasar profesi ASN yang merupakan nilai-nilai yang harus ditanamkan
oleh seluruh ASN, meliputi Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu dan Anti Korupsi (ANEKA). Berikut nilai-nilai dasar
profesi ASN, yang meliputi Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu dan Anti Korupsi.

3.1.1 Akuntabilitas
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok
atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi
amanahnya. Amanah seorang PNS adalah menjamin terwujudnya nilai-
nilai publik berikut :
a. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi
konflik kepentingan, antara kepentingan publik dengan
kepentingan sektor, kelompok, dan pribadi;
b. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan
mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis;
c. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik;
d. Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat
diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan.
Selain itu, akuntabilitas juga memiliki aspek-aspek yang
mencangkup beberapa hal antara lain :
a. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is a
relationship)
b. Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is results
oriented)
c. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability

24
requires reporting)
d. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (Accountability is
meaningless without consequences)
e. Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability improves
performance)
Menurut Widita (2015) dalam menciptakan lingkungan kerja
yang akuntabel, ada beberapa indikator dari nilai-nilai dasar
akuntabilitas yang harus diperhatikan, yaitu :
a. Kepemimpinan : Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke
bawah dimana pimpinan memainkan peranan yang penting dalam
menciptakan lingkungannya.
b. Transparansi : Keterbukaan atas semua tindakan dankebijakan yang
dilakukan oleh individu maupun kelompok/instansi.
c. Integritas : adalah adalah konsistensi dan keteguhan yang tak
tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan
keyakinan.
d. Tanggung Jawab : adalah kesadaran manusia akantingkah laku atau
perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja.
Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan
kesadaran akan kewajiban.
e. Keadilan : adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai
sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang.
f. Kepercayaan : Rasa keadilan akan membawa pada sebuah
kepercayaan. Kepercayaan ini yang akan melahirkan akuntabilitas.
g. Keseimbangan : Untuk mencapai akuntabilitas dalam
lingkungankerja, maka diperlukan keseimbangan antara
akuntabilitas dan kewenangan, serta harapan dan kapasitas.
h. Kejelasan : Pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab harus
memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan
hasil yang diharapkan.
i. Konsistensi : adalah sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan
sesuatu sampai pada tercapai tujuan akhir.

25
3.1.2 Nasionalisme
Nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan
manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan
pada nilai-nilai Pancasila. Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh
setiap pegawai ASN. Nilai-nilai yang senantiasa berorientasi pada
kepentingan publik (kepublikan) menjadi nilai dasar yang harus
dimiliki oleh setiap pegawai ASN.
Adapun nilai-nilai dasar yang terkandung dalam nasionalisme
adalah :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Melibatkan nilai-nilai moral universal agama-agama yang ada.
Pancasila bermaksud menjadikan nilai-nilai moral Ketuhanan
sebagai landasan pengelolaan kehidupan dalam konteks
masyarakat yang majemuk, tanpa menjadikan salah satu agama
tertentu mendikte negara.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Berbagai tindakan dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-
nilai kemanusiaan tidak sepatutnya mewarnai kebijakan dan
perilaku aparatur negara.
3. Persatuan Indonesia
Kemajemukan dan keanekaragaman budaya, suku, etnis, agama
sebagai limpahan karunia. Menjunjung tinggi persaudaraan,
perdamaian, dan keadilan antar umat manusia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan Perwakilan. Peran wakil rakyat, pemerintah
sebagai pelayan publik dan kaum terpelajar pada umumnya bisa
saling menopang dan mengisi agar terciptanya warga negar dan
pemerintahan yang baik secara bersamaan.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ditentukan oleh integritas dan mutu penyelenggara Negara,
disertai dukungan rasa tanggungjawab dan rasa kemanusiaan yang

26
terpancar dari setiap warga.
Fungsi nasionalisme bagi ASN adalah :
a. ASN Sebagai Pelaksana Kebijakan Publik
Berkewajiban melaksanakan kebijakan publik, berorientasi pada
kepentingan publik, dan berintegrasi tinggi sehingga memiliki
karakter kepublikan yang kuat dan mampu mengaktulisasikannya
dalam setiap langkah-langkah pelaksanaan kebijakan public
b. ASN Sebagai Pelayan Publik
Profesional serta berintegritas tinggi dengan membuat standar
pelayanan pelayanan minimum yang harus dipenuhin oleh
penyelenggara maupun pelaksana pelayanan publik serta
mengutamakan kepuasan pelanggan atau konsumen, yang dalam
hal ini adalah masyarakat.
c. ASN Sebagai Perekat dan Pemersatu Bangsa
Berpegang teguh pada prinsip adil dan netral akan menciptakan
kondisi yang aman, damai, dan tenteram dilingkungan kerjanya
dan dimasyarakatnya.

3.1.3 Etika Publik


Etika publik merupakan refleksi tentang standar/norma yang
menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan
untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan
tanggung jawab pelayanan publik. Ada tiga fokus utama dalam
pelayanan publik, yakni:
1. Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan.
2. Sisi dimensi reflektif, Etika Publik berfungsi sebagai bantuan
dalam menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat
evaluasi.
3. Modalitas Etika, menjembatani antara norma moral dan tindakan
faktual.

27
Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam Undang-
Undang ASN, yakni sebagai berikut:
a. memegang teguh nilai-nilai ideologi Negara, Pancasila
b. Setia dan mempertahankan Undang- Undang dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia 1945
c. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak
d. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian
e. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif
f. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur
g. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada public
h. Memiliki kemampuan dalam kebijakan dan program pemerintah
i. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat,
tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun
j. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi
k. Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama
l. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai
m. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan
n. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir

3.1.4 Komitmen Mutu


Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk,
jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang sesuai atau bahkan
melebihi harapan konsumen atau pengguna. Berdasarkan pendapat di
atas dapat disimpulkan bahwa mutu mencerminkan nilai keunggulan
produk/jasa yang diberikan kepada pelanggan(customer) sesuai
dengan kebutuhan dan keinginannya, dan bahkan melampaui
harapannya. Mutu merupakan salah satu standar yang menjadi dasar
untuk mengukur pencapaian hasil kerja. Mutu juga dapat dijadikan
sebagai alat pembeda atau pembanding dengan produk/jasa sejenis

28
lainnya, yang dihasilkan oleh lembaga lain sebagai pesaing
(competitors).
Aspek Komitmen Mutu
1) Efektifitas
Efektifitas organisasi berarti sejauh mana organisasi dapat
mencapai tujuan yang ditetapkan, atau berhasil mencapai apapun
yang coba dikerjakannya serta memberikan barang atau jasa yang
dihargai oleh pelanggan. Merujuk dari definisi di atas, dapat
disimpulkan bahwa karakteristik utama yang dapat dijadikan dasar
untuk mengukur tingkat efektifitas adalah ketercapaian target
yang telah direncanakan, baik dilihat dari capaian jumlah maupun
mutu hasil kerja, sehingga dapat memberi kepuasan, sedangkan
tingkat efisiensi diukur dari penghematan biaya, waktu, tenaga,
dan pikiran dalam menyelesaikan kegiatan.
2) Efisien
Efisiensi sebagai jumlah sumber daya yang digunakan untuk
mencapai tujuan organisasional. Efisiensi organisasi ditentukan
oleh berapa banyak bahan baku, uang, dan manusia yang
dibutuhkan untuk menghasilkan jumlah keluaran tertentu.
Efisiensi dapat dihitung sebagai jumlah sumber daya yang
digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa.Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa efisiensi diukur dari
ketepatan realisasi penggunaan sumber daya dan bagaimana
pekerjaan dilaksanakan, sehingga dapat diketahui ada atau tidak
adanya pemborosan sumber daya, penyalahgunaan alokasi,
penyimpangan prosedur, dan mekanisme yang ke luar alur.
3) Inovasi
Inovasi muncul karena adanya dorongan kebutuhan
organisasi/perusahaan untuk beradaptasi dengan tuntutan
perubahan yang terjadi di sekitarnya. Munculnya ide/gagasan
baru, kreativitas, dan inovasi dilator belakangi oleh semangat
belajar yang tidak pernah pudar, yang dijalani dalam proses

29
pembelajaran secara berkelanjutan. Demikian juga di lingkungan
lembaga pemerintahan, aparatur dapat mengembangkan daya
imajinasi dan kreativitasnya, untuk melahirkan terobosan-
terobosan baru dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi
layanan, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan.

3.1.5 Anti Korupsi


Korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara
(perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang
lain. Dampak korupsi tidak hanya sekedar menimbulkan kerugian
keuangan negara namun dapat menimbulkan kerusakan kehidupan
yang tidak hanya bersifat jangka pendek tetapi dapat pula bersifat
jangka panjang.
Kesadaran diri anti korupsi yang dibangun melalui pendekatan
spiritual, dengan selalu ingat akan tujuan keberadaannya sebagai
manusia dimuka bumi dan selalu ingat bahwa seluruh ruang dan
waktu kehidupannya harus dipertanggungjawabkan, dapat menjadi
benteng yang kuat untuk antikorupsi.
Nilai-nilai yang terkandung dalam aspek anti korupsi antara lain
kejujuran, kepedulian, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras,
kesederhanaan, berani dan adil.

3.2 Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI


3.2.1 Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan
Pegawai ASN yang professional, memiliki nilai dasar, etika profesi,
bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan
nepotisme. Manajemen ASN lebih menekankan kepada pengaturan
profesi pegawai sehingga diharapkan agar selalu tersedia sumber daya
aparatur sipil Negara yang unggul selaras dengan perkembangan jaman.
Negara yang unggul selaras dengan perkembangan jaman.

30
1. Kedudukan ASN
Kedudukan atau status jabatan PNS dalam system birokrasi
selama ini dianggap belum sempurna untuk menciptakan birokrasi
yang professional. Untuk dapat membangun profesionalitas
birokrasi, maka konsep yang dibangun dalam UU ASN tersebut
harus jelas. Berikut beberapa konsep yang ada dalam UU No. 5
Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.
Berdasarkan jenisnya, Pegawai ASN terdiri atas:1) Pegawai
Negeri Sipil (PNS); dan2) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian
Kerja (PPPK). PNS merupakan warga negara Indonesia yang
memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara
tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan
pemerintahan, memiliki nomor induk pegawai secara nasional.
Sedangkan PPPK adalah warga Negara Indonesia yang
memenuhi syarat tertentu, yang diangkat oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan
kebutuhan Instansi Pemerintah untuk jangka waktu tertentu dalam
rangka melaksanakan tugas pemerintahan.
Dengan kehadiran PPPK tersebut dalam manajemen ASN,
menegaskan bahwa tidak semua pegawai yang bekerja untuk
pemerintah harus berstatus PNS, namun dapat berstatus sebagai
pegawai kontrak dengan jangka waktu tertentu. Hal ini bertujuan
untuk menciptakan budaya kerja baru menumbuhkan suasana
kompetensi di kalangan birokrasi yang berbasis pada kinerja.
Pegawai ASN berkedudukan sebagai aparatur negara yang
menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi
pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua
golongan dan partai politik. Pegawai ASN dilarang menjadi
anggota dan/atau pengurus partai politik. Selain untuk menjauhkan
birokrasi dari pengaruh partai politik, hal ini dimaksudkan untuk
menjamin keutuhan, kekompakan dan persatuan ASN, serta dapat
memusatkan segala perhatian, pikiran, dan tenaga pada tugas yang

31
dibebankan kepadanya. Oleh karena itu dalam pembinaan karier
pegawai ASN, khususnya di daerah dilakukan oleh pejabat
berwenang yaitu pejabat karier tertinggi.
Kedudukan ASN berada di pusat, daerah, dan luar negeri.
Namun demikian pegawai ASN merupakan satu kesatuan.
Kesatuan bagi ASN ini sangat penting, mengingat dengan adanya
desentralisasi dan otonomi daerah, sering terjadi adanya isu putra
daerah yang hampir terjadi dimana-mana sehingga perkembangan
birokrasi menjadi stagnan di daerah-daerah. Kondisi tersebut
merupakan ancaman bagi kesatuan bangsa.
2. Peran ASN
Untuk menjalankan kedudukannya tersebut, maka Pegawai
ASN berfungsi sebagai berikut:
a. Pelaksana kebijakan publik;
b. Pelayan publik; dan
c. Perekat dan pemersatu bangsa
Selanjutnya Pegawai ASN bertugas:
a. Melaksanakan kebijakan yang dibuat oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan,
b. Memberikan pelayanan publik yang professional dan
berkualitas, dan
c. Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Selanjutnya peran dari Pegawai ASN: perencana, pelaksana,
dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan
pelayanan publik yang professional, bebas dari intervensi politik,
serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk melaksanakan
kebijakan yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk itu ASN

32
harus mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat luas
dalam menjalankan fungsi dan tugasnya tersebut. Harus
mengutamakan pelayanan yang berorientasi pada kepentingan
publik.
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk memberikan
pelayanan publik yang professional dan berkualitas. Pelayanan
publik merupakan kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
pelayanan sesuai peraturan perundang-undangan bagi setiap
warganegara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan
administratif yang diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan
publik dengan tujuan kepuasan pelanggan. Oleh karena itu ASN
dituntut untuk professional dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk mempererat
persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ASN
senantiasa dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 1945,
Negara dan Pemerintah. ASN senantiasa menjunjung tinggi
martabat ASN serta senantiasa mengutamakan kepentingan Negara
daripada kepentingan diri sendiri, seseorang dan golongan. Dalam
UU ASN disebutkan bahwa dalam penyelenggaraan dan kebijakan
manajemen ASN, salah satu diantaranya asas persatuan dan
kesatuan. ASN harus senantiasa mengutamakan dan mementingkan
persatuan dan kesatuan bangsa (kepentingan bangsa dan negara di
atas segalanya).

3.2.2 Pelayanan Publik


Pelayanan publik adalah sebagai bentuk pelayanan umum yang
dilaksanakan oleh instansi pemerintahan di pusat dan daerah, dan
dilingkungan BUMN/BUMD dalam barang dan atau jasa, baik dalam
pemenuhan kebutuhan masyarakat. Berbagai literatur administrasi
publik menyebut bahwa prinsip pelayanan publik yang baik untuk
mewujudkan pelayanan prima adalah:

33
1. Partisipatif
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang dibutuhkan
masyarakat, pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasilnya.
2. Transparan
Pemerintah harus menyediakan akses bagi warga negara untuk
mengetahui segala hal yang terkait dengan pelayanan publik yang
diselenggarakan tersebut. Masyarakat juga harus diberi akses yang
sebesar-besarnya untuk mempertanyakan dan menyampaikan
pengaduan apabila mereka merasa tidak puas dengan pelayanan
publik yang diselenggarakan oleh pemerintah.
3. Responsif
Dalam penyelenggaraan pelayanan publik pemerintah wajib
mendengar dan memenuhi tuntutan kebutuhan warga negaranya.
4. Tidak diskriminatif
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah tidak
boleh dibedakan anatara satu warga negara dengan warga negara
yang lain aras dasar perbedaan identitas warga negara.
5. Mudah dan murah
Prinsip mudah, artinya berbagai persyaratan yang dibutuhkan
tersebut masuk akal dan mudah untuk dipenuhi. Murah dalam arti
biaya yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mendapatkan
layanan tersebut terjangkau oleh seluruh warga negara. Hal ini
perlu ditekankan karena palayanan publik yang diselenggarakan
oleh pemerintah tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan
melainkan untuk memenuhi mandat konstitusi.
6. Efektif dan efisien
Penyelenggaraan pelayan publik harus mampu mewujudkan tujuan-
tujuan yang hendak dicapainya (untuk melaksanakan mandat
konstitusi dan mencapai tujuan-tujuan strategis negara dalam
jangka waktu panjang) dab cara mewujudkan tujuan tersebut
dilakukan dengan prosedur yang sederhana, tenaga kerja yang

34
sedikit, dan biaya yang murah.
7. Aksesibel
Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah harus
dapat dijangkau oleh warga negara yang membutuhkan dalam arti
fisik (dekat, terjangkau dengan kendaraan publik, mudah dilihat,
mudah ditemukan dan lain-lain)serta dapat dijangkau dalam arti
non fisik yang terkait dengan biaya dan persayaratan yang harus
dipenuhi oleh masyarakat untuk mendapatkan layanan tersebut.
8. Akuntabel
Penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan dengan menggunakan
fasilitas dan sumber daya manusia yang dibiayai oleh warga negara
melalui pajak yang mereka bayar. Oleh karena itu semua bentuk
penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat dipertanggung
jawabkan secara terbuka kepada masyarakat.
9. Berkeadilan
Penyelenggaraan pelayanna publik yang dilakukan oleh pemerintah
bertujuan untuk melindungi warga negara dari praktik buruk yang
dilakukan oleh warga negara yang lain. Oleh karena itu
penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat dijadikan sebagai
alat melindungi kelompok rentan dan mampu menhadirkan rasa
keadilan bagi kelompok lemah kerika berhadapan dengan
kelompok yang kuat.

3.2.3 Whole of Government (WoG)


Sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintah yang
menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintah dari keseluruhan
sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai
tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan
publik. Oleh karenanya WoG juga dikenal sebagai pendekatan
interagency, yaitu pendekatan yang melibatkan sejumlah kelembagaan
terkait dengan urusan-urusan yang relevan. Adapun nilai-nilai dasar
yang terkandung dalam WoG adalah :

35
1. Kerjasama
2. Koordinasi
3. Kolaborasi
4. Terintegrasi atau terpadu
5. Tujuan bersama
6. Lintas sector
7. Komunikasi
8. Terkait dengan pelayanan public
9. Pengembangan kebijakan.

3.3 Rancangan aktualisasi


a. Unit kerja : OPD RSUD Sultan Sulaiman
b. Identifikasi isu :
1. Belum optimalnya pemberian edukasi dan informasi pada pasien baru
dan keluarga di ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman.
2. Kurang optimalnya pelaksanaan hand hygiene menggunakan handrub
untuk mengurangi resiko infeksi di ruang rawat inap RSUD Sultan
Sulaiman.
3. Kurang optimalnya pelaksanaan early warning system (EWS) oleh
perawat di ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman.
4. Belum optimalnya pemenuhan kebersihan diri pada pasien tirah
baring di ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman.
5. Kurang optimalnya pendokumentasian pemberian terapi dan tindakan
keperawatan pada pasien di ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman.
c. Isu yang diangkat :
Kurang optimalnya pelaksanaan early warning system (EWS) oleh
perawat di ruang rawat inap RSUD Sultan Sulaiman.
d. Gagasan Pemecah isu :
1. Melakukan pembuatan formulir early warning system (EWS) dengan
early warning skoring yang mudah dipahami.
2. Melakukan pembuatan kuesioner untuk mengetahui pengetahuan
perawat tentang early warning systen (EWS)

36
3. Melakukan sosialisasi tetang cara pengisian formulir early warning
system (EWS) kepada staf perawat di ruang rawat inap.
4. Membuat panduan cara pengisian formulir early warning system
(EWS) untuk ruang rawat inap.
5. Mengusulkan pembuatan rancangan Standar Prosedur Operasional
early warning system (EWS).
6. Pelaksanaan pengisian formulir early warning system (EWS) dengan early
warning skoring sesuai Standar Prosedur Operasional oleh tim perawat.
7. Observasi pelaksanaan pengisian formulir early warning system (EWS)

37
38

Tabel 4. Rancangan Aktualisasi

No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Mata Kontribusi Penguatan Nilai
Pelatihan Terhadap Visi-Misi Organisasi
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
1. Melakukan 1. Meminta izin kepada Adanya formulir Membuat janji dengan Misi nomor 1, 2 Kegiatan ini erat
pembuatan formulir kepala seksi keperawatan early warning pimpinan untuk melakukan 1. Menjaga dan kaitannya dengan
early warning system dan memberikan usulan system (EWS) yang pertemuan. Saya akan Meningkatkan nilai organisasi pro
(EWS) dengan early sekaligus meminta telah di revisi dan memberikan citra diri rakyat, responsif
warning skoring yang arahan dan persetujuan setujui oleh usulan, meminta arahan sebagai dan efektif
mudah dipahami. untuk merevisi formulir pimpinan dan persetujuan kepada lembaga
early warning system atasan dengan pemerintah
(EWS) menyampaikan inisiatif dalam
gagasan yang inovatif mewujudkan
2. Mendesain formulir dengan jelas, sopan dan pelayanan
early wrning system santun sehingga dapat Rumah Sakit
(EWS) yang akan dibuat menciptakan Rujukan yang
komunikasi yang baik bertanggung
3. Melakukan konsultasi (Etika Publik). jawab,
hasil rancangan formulir menjunjung
early warning system Mencari bahan dan tinggi kode etik,
(EWS) kepada pimpinan. membuat desain formulir menghormati
yang akan diberikan dengan tatanan yang
4. Mencetak formulir early tanggung jawab, inovatif, berlaku pada
warning system (EWS) cermat, teliti dan ringkas masyarakat,
yang sudah dibuat (Akuntabilitas dan serta berupaya
Komitemen mutu) memaksimalkan
5. Membagikan formulir drajat kesehatan
early warning system Melakukan konsultasi dengan masyarakat.
(EWS) yang sudah pimpinan tepat waktu dan

38
39

disetujui ke ruangan disiplin (akuntabilitas), 2. Memuaskan


rawat inap berkonsultasi dengan bahasa pelanggan
Indonesia yang sopan dan dengan
6. Melakukan dokumentasi ramah (nasionalisme, etika memberikan
publik). pelayanan
kesehatan dan
Mendokumentasikan perawatan
seluruh kegiatan dengan paripurna
jelas dan jujur (Anti (kuratif,
Korupsi). promotif dan
preventif)
2. Melakukan 1. Meminta izin kepada Adanya Kuesioner Membuat janji dengan Misi nomor 3 Kegiatan ini erat
pembuatan kuesioner kepala seksi keperawatan tentang early pimpinan. Saya akan Menjaga dan kaitannya dengan
untuk mengetahui dan memberikan usulan warning system memberikan Meningkatkan citra nilai organisasi
pengetahuan perawat sekaligus meminta (EWS) yang diisi usulan, meminta arahan diri sebagai efektif
tentang early warning arahan dan persetujuan oleh 50 orang dan persetujuan kepada lembaga
systen (EWS) untuk membuat perawat atasan dengan pemerintah dalam
kuesioner tentang early menyampaikan inisiatif mewujudkan
warning system (EWS) gagasan yang inovatif pelayanan Rumah
dengan jelas, sopan dan Sakit Rujukan yang
2. Mendesain rancangan santun sehingga dapat bertanggung jawab,
kuesioner menciptakan menjunjung tinggi
komunikasi yang baik kode etik,
3. Melakukan konsultasi (Etika Publik). menghormati
hasil rancangan formulir tatanan yang
early warning system Membuat kuesioner dengan berlaku pada
(EWS) kepada pimpinan. tanggung jawab dan inovatif masyarakat, serta
(Akuntabilitas dan berupaya
4. Membagikan kuesioner Komitemen mutu) memaksimalkan
kepada perawat ruangan drajat kesehatan

39
40

rawat inap Melakukan konsultasi dengan masyarakat.


pimpinan tepat waktu dan
disiplin (akuntabilitas),
berkonsultasi dengan bahasa
Indonesia yang sopan dan
ramah (nasionalisme, etika
publik).

Melakukan koordinasi
dengan kepala ruangan
rawat inap untuk melakukan
pengian kuesioner
dengan sopan (Etika
Publik).

Mencetak kuesioner dengan


efektif
dan efisien (Komitmen
mutu)

3. Melakukan sosialisasi 1. Meminta izin kepada Terlaksananya Membuat janji dengan Dengan adanya Kegiatan ini erat
pengisian formulir kepala seksi keperawatan Sosialisasi pimpinan untuk melakukan kegiatan ini akan kaitannya dengan
early warning system dan saran tambahan pengisian formulir pertemuan. Dalam membuat berkontribusi pada nilai organisasi
(EWS) kepada staf kepada kepala seksi arly warning janji saya akan misi nomor 3yaitu efektif
perawat di ruang rwat system (EWS) menggunakan kata kata Memperdayakan,
inap. 2. Menyiapkan bahan kepada perawat di yang sopan (Etika Publik) banggakan,
sosialisasi ruang rawat inap sejahterakan
Menentukan karyawan.
3. Menetukan jadwal jadwal kegiatan Melaksanakan
kegiatan sosialisasi penyuluhan dengan pemberdayaan dan

40
41

penuh tanggung jawab peningkatan


4. Menyampaikan rencana (Akuntabilitas) kesejahteraan
kegiatan kepada kepala seluruh karyawan
ruangan dan perawat Membuat bahan sosialisasi untuk mencapai
pelaksana di ruang rawat dengan data yang sudah prestasi kerja
inap dikumpulkan dengan diskusi terbaik dengan
bersama mentor. Materi menjalankan
5. Memberikan sosialisasi dibuat dengan rapi, teliti perintah nilai-nilai
tentang pengisian dalam menyesuaikan data dan kode etik yang
formulir early warning serta semangat dalam berlaku di Rumah
system (EWS) kepada bekerja dan bertanggung Sakit
perawat di ruang rawt jawab dalam
inap menyelesaikanya
(Akuntabilitas,
6. Membuat daftar hadir Nasionalisme dan
peserta yang mengikuti Komitmen Mutu)
sosialisasi
Menyampaikan sosialisasi
7. Melakukan dokumentasi dengan bahasa yang sopan
dan mudah dimengerti serta
memberikan salam dan
seyuman sebelum memulai
sosialisasi. Saya akan hadir
15 menit sebelum sosialisasi
dimulai agar kegiatan dapat
berjalan secara efisien dan
tepat waktu. (Komitmen
mutu, etika publik dan
nasionalisme)

41
42

Mendokumentasikan
seluruh kegiatan dengan
jelas dan jujur (Anti
Korupsi)

Menggunakan daftar hadir


sebagai bukti untuk laporan
pertanggung jawaban
kegiatan (Akuntabilitas)

4. Membuat panduan 1. Mendesain rancangan Adanya panduan Saya akan mencari bahan Misi nomor 1,2 Kegiatan ini terkait
cara pengisian panduan early wrning early warning dan membuat desain 1. Menjaga dan dengan nilai
formulir early system (EWS) system (EWS) panduan dengan tanggung Meningkatkan organisasi efektif,
warning system jawab dan inovatif citra diri sebagai responsif dan
(EWS) di ruang rawat 2. Melakukan konsultasi (Akuntabilitas dan lembaga bersih
inap hasil rancangan formulir Komitemen mutu) pemerintah
early warning system dalam
(EWS) kepada pimpinan. Melakukan konsultasi mewujudkan
dengan pimpinan tepat pelayanan
3. Mencetak panduan early waktu dan disiplin Rumah Sakit
warning system (EWS) (akuntabilitas), Rujukan yang
berkonsultasi dengan bahasa bertanggung
4. Membagikan panduan Indonesia yang sopan dan jawab,
early warning system ramah (nasionalisme, etika menjunjung
(EWS) yang sudah publik) tinggi kode etik,
disetujui ke ruangan menghormati
rawat inap Saya akan mencetak tatanan yang
kuesioner dengan efektif berlaku pada
dan efisien (Komitmen masyarakat, serta
mutu) berupaya

42
43

memaksimalkan
drajat kesehatan
masyarakat.
2. Memuaskan
pelanggan
dengan
memberikan
pelayanan
kesehatan dan
perawatan
paripurna
(kuratif,promotif
dan preventif)
5. Mengusulkan 1. Merancang draft Standar Standar Prosedur Merancang draft dengan teliti Misi nomor 1 Kegiatan ini terkait
pembuatan SPO Prosedur Operasional Operasional dan cermat dengan Menjaga dan dengan nilai
(Standar Prosedur pengisian formulir serah pengisian formulir menggunakan sumber Meningkatkan citra organisasi efektif
Operasional) early terima dengan metode early warning system terpercaya (akuntabilitas), diri sebagai
warning system SBAR. (EWS) yang sudah menggunakan waktu yang ada lembaga
disetujui oleh dengan efektif dan efisien
(EWS). pemerintah dalam
pimpinan. (komitmen mutu).
2. Melakukan konsultasi mewujudkan
hasil rancangan Standar Melakukan konsultasi dengan pelayanan Rumah
Prosedur Operasional pimpinan tepat waktu dan Sakit Rujukan yang
pengisian formulir early disiplin (akuntabilitas), bertanggung jawab,
warning system (EWS) berkonsultasi dengan bahasa menjunjung tinggi
Indonesia yang sopan dan kode etik,
3. Menyampaikan Standar ramah (nasionalisme, etika menghormati
Prosedur Operasional publik). tatanan yang
early pengisian formulir berlaku pada
warning system (EWS) Menyampaikan penjelasan masyarakat, serta
tentang standar prosedur
kepada perawat ruangan berupaya
operasional dengan bahasa

43
44

dan membagikannya ke Indonesia yang sopan, memaksimalkan


ruang rawat inap berdiskusi secara terbuka drajat kesehatan
(etika publik), menggunakan masyarakat.
waktu dengan efektif dan
efisien (komitmen mutu)

5. Pelaksanaan pengisian 1. Menentukan pasien Formulir early Pendataan dilakukan dengan Misi nomor 1,2 Kegiatan ini erat
formulir early warning warning system benar dan jujur (akuntabilitas) 1. Menjaga dan kaitannya dengan
system (EWS) sesuai 2. Melihat tanda-tanda vital (EWS) yang di isi Meningkatkan nilai organisasi pro
Standar Prosedur pasien : Nadi, Pernafasan sesui dengan Standar Melaksanakan kegiatan dengan citra diri sebagai rakyat, responsif,
Operasional oleh Tekanan darah, dan suhu Prosedur tepat, cermat, efektif dan lembaga dan efektif
perawat di ruang rawat Operasional. efisien (komitmen mutu,
tubuh pasien serta tingkat pemerintah
inap akuntabel).
kesadaran dalam
mewujudkan
3. Melaksanakan pengisian pelayanan
formulir early warning Rumah Sakit
system (EWS) Rujukan yang
bertanggung
jawab,
menjunjung
tinggi kode etik,
menghormati
tatanan yang
berlaku pada
masyarakat, serta
berupaya
memaksimalkan
drajat kesehatan
masyarakat.

44
45

2. Memuaskan
pelanggan
dengan
memberikan
pelayanan
kesehatan dan
perawatan
paripurna
(kuratif,promotif
dan preventif)

6. Melakukan observasi 1. Melakukan observasi Adanya pengisian 1. Melakukan observasi Misi nomor 1,2 Kegiatan ini erat
pengisian formulir pengisian formulir erly formulir early dengan jujur, cermat, efektif 3. Menjaga dan kaitannya dengan
early warning system warning system (EWS). warning system dan efisien (akuntabilitas, Meningkatkan nilai organisasi pro
(EWS) di ruang rawat (EWS) sebagai komitmen mutu) citra diri sebagai rakyat, responsif,
inap. 2. Menyusun laporan hasil pendokumentasian lembaga dan efektif
observasi. di rekam medis Menyusun laporan dengan pemerintah
pasien didasari data yang aktual dalam
3. Melaporkan hasil dan bisa mewujudkan
observasi kegiatan kepada dipertanggungjawabkan pelayanan
atasan dan melakukan (akuntabilitas). Rumah Sakit
evaluasi pelaksanaan. Rujukan yang
Melakukan konsultasi dengan bertanggung
pimpinan sesuai waktu yang jawab,
disepakati (akuntabilitas), menjunjung
berkonsultasi dengan bahasa tinggi kode etik,
Indonesia yang sopan dan menghormati
ramah serta menerima arahan tatanan yang
dengan ikhlas (nasionalisme,
berlaku pada
etika publik).
masyarakat, serta

45
46

berupaya
memaksimalkan
drajat kesehatan
masyarakat.
4. Memuaskan
pelanggan
dengan
memberikan
pelayanan
kesehatan dan
perawatan
paripurna
(kuratif,promotif
dan preventif)

46
BAB IV
PENUTUP

Rancangan aktualisasi yang berlandaskan pada nilai-nilai dasar ASN ini


merupakan laporan yang harus dituntaskan sebelum melakukan aktualisasi di unit
kerja masing-masing. Dalam rancangan ini diterapkan nilai dasar bagi ASN dalam
melakukan tugasnya sebagai pelayan publik yang profesional.Untuk membentuk
perawat ahli pertama yang profesional yang mampu melaksanakan tugas dan
perannya sebagai pelayan masyarakat diperlukan pembentukan karakter yang
didasarkan pada nilai-nilai dasar ASN, yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika
publik, komitmen mutu, dan anti korupsi. Kegiatan aktualisasi ini direncanakan
akan dilaksanakan pada tanggal 11 November 2019 s.d 19 Desember 2019 di
RSUD Sultan Sulaiman dengan bimbingan dan arahan dari coach serta mentor.
Laporan hasil pelaksanaan kegiatan akan dipresentasikan pada tanggal 23
Desember 2019.

47
48

DAFTAR PUSTAKA

Republik Indonesia. 2014. Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur


Sipil Negara.

Peraturan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia.2018.Peraturan


Kepala LAN-RI Nomor12 Tahun 2018, tentang Pelatihan Dasar CPNS.

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2015. Aktualisasi: Modul


Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia.

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2015. Akuntabilitas: Modul


Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia.

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2015. Anti Korupsi: Modul


Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia.

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2015. Etika Publik: Modul


Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia.

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2015. Komitmen Mutu: Modul


Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia.

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2015. Nasionalisme: Modul


Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia.

Dewi, Laurentia.2017. Mebudayakan hand hygiene sebagai upaya mencegah dan


mengendalikan infeksi di rumah sakit . http://www-kompasiana.com/(11
juni 2017)

48