Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS (PSORIASIS)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal
Bedah l

Dosen Pengampu : Ns. Suherman, M.Kep


Disusun Oleh :
1. Kuniahasmita (171440111)
2. Nabila Amelia (171440114)
3. Nirwana (171440116)
4. Shella Oktavia ( 171440125)
5. Sherli (171440126)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES RI PANGKALPINANG
TAHUN 2018
KONSEP TEORI PSORIASIS
A. Pengertian
Psoriasis adalah penyakit kulit kronik dan meradang yang
diidentifikasikan sejak tahun 1841 namun kemunculannya telah diketahui
beberapa abad sebelumnya. Psoriasis ditandai oleh percepatan pertukaran sel-
sel epidermis sehingga terjadi proliferasi abnormal epidermis dan dermis. Kulit
menunjukka kemerahan, disertai plak bersisik yang gembung yang dapat
menutupi permukaan tubuh. Psoriasis sangat dipengaruhi oleh faktor genetis
dan prevalensinya beragam berdasarkan suku dan orang kaukasia lebih sering
terkena dibandingkan orang Afrika pedalaman. Kualitas hidup pasien yang
menderita penyakit ini, baik dalam derajat moderat atau berat menunjukka
gangguan yang ekstream. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang
menunjukan bahwa tingkat kualitas hidup penderita menurun pada pasien
emfisema dan gagal jantung. Psoriasis biasanya dialami oleh individu berusia
sekitar 20 tahunan namun bisa juga lebih muda. (Corwin Elizabeth J. 2009)
Psoriasis adalah penyakit inflamasi kulit kronik yang umum dijumpai,
bersifat rekuren dan melibatkan beberapa faktor misalnya; genetic, sistem
imunitas, lingkungan serta hormona. Psoriasis ditandai dengan plak eritematosa
yang terbatas tegas dengan skuma berlapis berwarna keputihan. Penyakit ini
umumnya mengenai daerah ekstensor ekstremitas terutama siku dan lutut, kulit
kepala, lumbosakral, bokong dan genetalia. (Corwin Elizabeth J. 2009)
Psoriasis atau papulasquamosa merupakan gangguan kulit yang
ditandai oleh percepatan pertukaran sel-sel epidermis sehingga terjadi
proliferasi abnormal epidermis dan dermis, seperti plaque, bercak, atau
bersisik.( Puspasari Schlastica F.A. 2018)
B. Etiologi
Walaupun digambarkan sebagai penyakit proliferasi epitel jinak, pada
kenyataannya psoriasis disebabkan oleh gangguan otoimun. Limfosit T
diaktifkan dalam berespons terhadap rangsangan tak dikenal terkait dengan sel
Langerhans kulit. Pengaktifan sel T menyebabkan pembentukan sitokinin pro-
inflamatori termasuk faktor nekrosis tumor alfa, dan faktor pertumbuhan yang
merangsang proliferasi sel abnormal dan pergantiannya. Waktu pertukaran
normal sel epidermis adalah sekitar 28-30 hari. Pada psoriasis, epidermis di
bagian yang terkena diganti setiap 3-4 hari. Pertukaran sel yang cepat ini
menyebabkan peningkatan derajat metabolism dan peningkatan aliran darah
menimbulkan eritema. Pertukaran dan proliferasi yang cepat tersebut
menyebabkan terbentuknya sel – sel yang kurang matang. Trauma ringan pada
kulit dapat menimbulkan peradangan berlebihan sehingga epidermis menebal
dan terbentuklah plak. ( Elizabeth J. Corwin, 2009)
C. Patofisiologi
Patogenesis terjadinya psioriasis, diperkirakan karena :
1. Terjadi peningkatan ”tumover” epidermis atau kecepatan pembentukannya
dimana pada kulit normal memerlukan waktu 26-28 hari, pada psioriasis
hanya 3-4 hari sehingga gambaran klinik tampak adanya skauma dimana
hiperkeratotik. Disamping itu pematangan sel-sel epidermis tidak sempurna
2. Adanya faktor keturunan ditandai dengan perjalanan penyakit yang kronik
dimana terdapat penyembuhan dan kekambuhan spontan serta predileksi
lesinya pada tempat-tempat tertentu.
3. Perubahan-perubahan biokimia yang terjadi pada psioriasis meliputi :
a. Peningkatan replikasi DNA.
b. Berubahnya kadar siklik nukleotida.
c. Kelainan prostaglandin dan prekursornya.
d. Berubahnya metabolism karbohidrat.
Normalnya sel kulit akan matur pada 28-30 hari dan kemudian terlepas
dari permukaan kulit. Pada penderita psioriasis, sel kulit akan matur dan
menuju permukaan kulit pada 3-4 hari, sehingga akan menonjol dan
menimbulkan bentukan peninggian kumpulan plak berwarna kemerahan.
Warna kemerahan tersebut berasal dari peningkatakan suplai darah untuk
nutrisi bagi sel kulit yang bersangkutan. Bentukan berwarna putih seperti
tetesan lilin (atau sisik putih) merupakan campuran sel kulit yang mati. Bila
dilakukan kerokan pada permukaan psioriasis, maka akan timbul gejala
koebner phenomenon. Terdapat banyak tipe dari psioriasis, misalnya plaque,
gluttate, pustular, inverse, dan erythrodermic psioriasis. Umumnya prioriasis
akan timbul pada kulit kepala,siku bagian luar,lutut,maupun daerah penekanan
lainnya. Tetapi psioriasis dapat pula berkembang didaerah lain, termasuk pada
kuku , telapak tangan, genitalia, wajah ,dll.
Pemeriksaan histopalogi pada biopsi kulit penderita psioriasis
menunjukkan adanya penebalan epidermis dan stratum korneum dan pelebaran
pembuluh-pembuluh darah dermis bagian atas. Jumlah sel-sel basal yang
bermitosis jelas meningkat. Sel-sel yang membelah dengan cepat itu bergerak
dengan cepat kebagian permukaan epidermis yang menebal. Proliferasi dan
migrasi sel-sel epidermis ini agaknya antara lain disebabkan oleh kadar
nukleotida siklik yang abnormal. Terutama adenosine monofosfat (AMP) siklik
dan guanosin monofosfat (GMP) siklik. Prostaglandin dan poliamin juga
abnormal pada penyakit ini. Peranan setiap kelainan tersebut dan
mempengaruhi pembentukan plak psoriatic belum dapat dimengerti secara
jelas.
D. Manifestasi Klinis
Psoriasis merupakan penyakit inflamatorik kronik dengan manifestasi
klinis pada kulit dan kuku. Lesi kulit biasa nya merupakan plak eritematosa
oval, berbatas tegas, meninggi, dengan skuama berwarna keperakan, hasil
proliferasi epidermis maturasi premature dan kornifikasi inkomplet keratinosit
dengan retensi nuklei di stratum korneum (parakeratosis).
Meskipun terdapat beberapa predileksi khas seperti pada siku, lutut,
serta sakrum, lesi dapat di temukan di seluruh tubuh.
E. Penanganan Medis (Mayer Brenna, dkk. 2016)
1. Terapi sinar ultraviolet B (UVB) atau cahaya matahari untuk memperlambat
produksi sel yang cepat agar eriteme terjadi hanya terjadi sampai titik
minimal.
2. Preparat ter atau pengolesan ter batubara global (crude coal tar ) pada daerah
lesi selama sekitar 15 menit seblum disinar dengan UVB atau setelah
diolesi, lesi tersebuut dibiarkan selama semalaman dan baru dibersihkan
keesokan hari.
3. Tingkatkan penyinaran Usb secara bertahap (penanganan di klinik rawat
jalan atau day treatment menghindari perawatan rumah sakit yang lama dan
memperpanjang waktu remisi).
4. Kream dan salep preparat steroid yang dioleskan dua kali sehari
pengolesann sebaiknya dilakukan sebelum mandi untuk memudahkan
absorvasi dan penggunaan occlusive dressing untuk mengendalikan gejala
proriasis.
5. Suntikan steroid intralesi untuk plak yang kecil dan membandel.
6. Salep anthralin (Anthra-Derm) atau campuran pasta untuk plak yang
berbatas jelas (salep ini tidak dioleskan pada daerah kulit yang sehat karena
akan menimbulkan cedera dan noda pada kulit normal , salep vaselin
(petroleum jelly) dioleskan dahulu pada sekitar lesi sebelum kita
mengoleskan salep anthralin.
7. Kombinasi salep anthralin dan steroid (anthralin dioleskan pada malam hari
sedangkan steroid pada siang hari).
8. Salep kalsipotrien (DOVONEX) yang merupakan analog vitamin D (paling
baik jika salep ini di pakai bergantian dengan salep streroid).
9. Terapi Geockerman (mengombinasikan mandi rendam dengan larutan ter
dan terapi UVB) untuk membantu mencapai remisi serta membersihkan
kulit dalam waktu tiga hingga lima minggu (psoriasis kronis yang berat).
10. Teknik ingram (variasi rejimen goeckerman) dengan menggunakan salep
anthralin (Anthra-Derm) ketimbang preparat ter.
11. Terapi psoralen (ekstrak tanaman yang mempercepat eksfoliasi) dengan
penyinaran UVA (ultraviolet A) bertintensitas tinggi (terapi psoralen plus
UVA(PUVA).
12. Sitotoksin,yang biasanya metotreksat (mexate) (terapi pilihan terakhir
untuk psoriasis yang resisten).
13. Asitretin (soriatane),yang meerupakan senyawa retinoid (psoriasis luas ).
14. Sikloporin (neural),yang merupakan imunosupresan (Pada kasus resisten).
15. Antihistamin dosis rendah,mandi rendah dengan havermut (oatmed
baths),emolien,dan kompres basah terbuka untuk membantu mengurangi
pruritus.
16. Aspirin dan pemanasan setempat un tuk membantu mengurangi nyeri pada
atritis psoriatic obat obat NSAID pada kasus yang berat.
17. Keramas ter yang dikuti dengan pengolesan lotion steroid (psoriasis kulit
kepala).
18. Untuk psoriasis kuku,tidak terrdapat terapi topical yang efektif
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PSORIASIS
A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan Data
a. Identitas
1) Identitas Klien: Nama, Umur, Jenis Kelamin, Agama, Pendidikan,
Pekerjaan, Tanggal Masuk Rumah Sakit, dan lain-lain yang di anggap
perlu.
2) Identitas Penanggung Jawab: Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan,
Hubungan dengan Klien, Alamat.
b. Keluhan Utama
Kulit mengelupas dan kemerahan pada seluruh permukaantubu (berisik)
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan semenjak ke rumah saudara yang berada di daratan
tinggi, kulitnyamenjadi mengelupas dan bersisik.
d. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien belum pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu klien mengidap psoriasis juga saat umur yang sama.
2. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi Kesehatan
1) Adanya riwayat infeksi sebelumnya.
2) Pengobatan sebelumnya tidak berhasil.
3) Riwayat mengonsumsi obat-obatan tertentu, misalnya vitamin dan
jamu.
4) Adakah konsultasi rutin ke Dokter.
5) Hygiene personal yang kurang sehat, tinggal berdesak-desakan.
b. Pola Nutrisi Metabolik
1) Pola makan sehari-hari: jumlah makanan, watu makan, beberapa kali
sehari makan.
2) Kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu: berminyak, pedas.
3) Jenis makanan yang disukai.
4) Nafsu makan menurun.
5) Muntah-muntah.
6) Penurunan berat badan.
7) Turgor kulit buruk, kering, bersisik, pecah-pecah, benjolan.
8) Perubahan warna kulit, terdapat bercak-bercak, gatal-gatal, rasa
terbakar atau perih.
c. Pola Eliminasi
1) Sering berkeringat.
2) Tanyakan pola berkemih dan bowel.
d. Pola Aktivitas dan Latihan
1) Pemenuhan sehari-hari terganggu.
2) Kelemahan umum, malaise.
3) Toleransi terhadap aktivitas rendah.
4) Mudah berkeringat saat melkukan aktivitas ringan.
5) perubahan pola napas saat melakukan aktivitas.
e. Pola Tidur dan Istirahat
1) Kesulitan tidur pada maam hari karena stress.
2) Mimpi buruk.
f. Pola Persepsi Kognitif
1) Perubahan dalam konsentrasi dan daya ingat.
2) Pengetahuan akan penyakitnya.
g. Pola Persepsi dan Konsep Diri
1) Perasaan tidak percaya diri atau minder.
2) Perasaan terisolir.
h. Pola Hubungan dengan Sesama
1) Hidup sendiri atau berkeluarga.
2) Frekusnsi interaksi berkurang.
3) Perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.
i. Pola Reproduksi Seksualitas
1) Gangguan pemenuhan kebutuhan biologis dengan pasangan.
2) Pengguanaan obat KB mempengaruhi hormon.
j. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress
1) Emosi tidak stabil.
2) Ansietas, takut akan penyakitnya.
3) Disorientasi, gelisah.
k. Pola Sistem Kepercayaan
1) Perubahan dalam diri klien dalam melakukan ibadah.
2) Agama yang dianut.
3. Pemeriksaan Fisik
Saat inpeksi pada beberapa tempat lesi ditemukan adanya perubahan
struktur kulit. Tampak adanya macula dan papil eritematosa jika terkumpul
akan membentuk lesi yang lebar pada daerah predileksi, dapat ditemukan
ruang dan keropeng/skuama yang berlapis-lapis seperti lili atau mika
berwarna putih perak berbentuk bulat atau lonjong. Pada palpasi teraba
skuama yang kasar, tebal, dan berlapis-lapis.
4. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan histipatologi untuk menentukan kepastian diagnosis dari
psoriasis dapat ditemukan:
a. Pemanjangan dan pembesaran papil dermis.
b. Penipisan sampai hilangnya stratum granulosum.
c. Peningkatan mitosis pada stratum basalis.
d. Edema dermis disertai infiltrasi limfosit dan monosit.
B. Diagnosa
1. kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan imunitas.
2. gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan penampilan.
3. ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan sekunder.
4. gangguan konsep diri berhubungan dengan krisis percaya diri.
C. Rencana
No. Diagnosis NOC NIC
1. Kerusakan Tissue integrity: skin and 1. Kaji keadaan kulit
integritas kulit mucouss membranes 2. Kaji keadaan umum
b/d perubahan Kriteria hasil: dan observasi TTV
imunitas 1. Area terbebas dari 3. Kaji perubahan
infeksi lanjut warna kulit
2. Kulit bersih, 4. Pertahankan agar
kering, lembab darah yang terinfeksi
tetap bersih dan
kering
5. Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian obat-
obatan
2. Gangguan 1. Body image 1. Kaji ulang
gambaran diri b/d 2. Self esteem perubahan biologis
perubahan Kriteria hasil: dan fisiologis
penampilan 1. Klien menyatakan 2. Gunakan sentuhan
peningkatan sebagai toleransi
kenyamanan 3. Dukung jenis koping
psikologis dan yang disukai ketika
fisiologis mekanisme adaptif
2. Dapat menjelaskan digunakan
pola koping yang 4. Anjurkan untuk
efektif dan tidak mengekspresikan
efektif perasaannya
3. Mengidentifikasi 5. Anjurkan untuk
respon kopingnya menggunakan
sendiri mekanisme koping
yang normal
6. Anjurkan klien
untuk mencari
stressor dan
menghadapi rasa
takut
3. Ansietas b/d Kriteria hasil: 1. Kaji tingkat ansietas
perubahan status 1. Klien tampak rileks dan diskusikan
kesehatan 2. Klien penyebab
sekunder mendemonstrasika 2. Kaji ulang keadaan
n/menunjukkan umum klien dan
kemampuan TTV
mengatasi masalah 3. Berikan waktu klien
dan menggunakan untuk
sumber-sumber mengungkapkan
secara efektif masalahnya dan
3. Tanda-tanda vital dorong ekspresi
normal yang bebas misalnya
4. Klien melaporkan marah, takut, ragu
ansietas berkurang 4. Jelaskan semua
sampai tingkat prosedur dan
dapat diatasi pengobatan
5. Diskusikan perilaku
koping alternatif dan
teknik pemecahan
masalah
4. Gangguan konsep Kriteria hasil: 1. Kaji perubahan
diri b/d krisis 1. Dapat berinteraksi perilaku klien seperti
percaya diri seperti biasa menutup diri, malu
2. Rasa percaya diri berhadapan dengan
timbul kembali orang lain
2. Bersikap realistis
dan positif selama
pengobatan
3. Beri harapan dan
parameter situasi
individu
4. Berikan penguatan
positif terhadap
kemampuan
5. Dorong interaksi
keluarga
D. Evaluasi
1. mencapai pengetahuan dan pemahaman terhadap proses penyakit serta
tercapainya:
a. mendeskripsikan psoriasis dan terapi yang dideskripsikan.
b. Mengutarakan dengan kata-kata bahwa trauma, infeksi, dan stress
emosional merupakan faktor pemicu.
c. Mempertahankan pengendalian penyakit dengan terapi yang tepat.
d. Memperagakan pengguanaan penyakit dengan terapi topikal yang benar.
2. Mencapai kulit yang lebih halus ada pengendalian lesi:
a. Tidak ada lesi baru yang timbul.
b. Mempertahankan kulit agar selalu terlumasi
c. Lunak.
3. Mengembangkan kesadaran untuk penerimaan diri:
a. Mengidentifikasi orang yang bisa diajak untuk membicarakan perasaan
dan keprihatinan.
b. Mengekspresikan optimis mengenai hasil akhir terapi.
4. Tidak mengalami atritis psoriatik
a. Tidak mengalami gangguan rasa nyaman pada sendi.
b. Lesi kulit dapat dikendalikan tanpa perluasan penyakit.
E. Kasus
Penderita perempuan, 40 tahun dikeluhkan timbul bercak kemerahan pada
seluruh badan sejak satu tahun yang lalu, awalnya muncul bercak kemerahan
itu muncul di tungkai bawah kemudian bercak tersebut menyebar keseluruh
badan, terasa gatal dan bertambah jika penderita makan telur ayam. Riwayat
penyakit yang sama dalam keluarga, tidak ada. Riwayat pengobatan dapat
dibawa ke puskesmas dan sekarang rutin kontrol di poliklinik kulit dan kelamin
RSUD Singaraja.
Pemeriksaan fisik :
Status present : dalam batas normal
Status general : dalam batas normal
Status Dermatologi :
1. Lokasi : tungkai atas kanan dan kiri
Effloresensi : Makula hipopigmentasi batas tegas bentuk bulat
sampai lonjong dengan diameter 0,5-1,5 cm
2. Lokasi : badan dan punggung
Effloresensi : macula hipopogmentasi batas tegas bentuk bulat
sampai lonjong dengan diameter 0,5-1,5 cm terdapat skuama kasar
berwarna putih diatasnya
Effloresensi : palak eritema batas tegas bentuk bulat sampai lonjong
dengan ukueran 1 x 2 cm yang terdapat skuama putih kasar
diatasnya
3. Lokasi : tungkai bawah kanan dan kiri
Effloresensi : macula hipopigmentasi batas tegas dengan bentuk
geografika dengan ukuran 15 x 8 cm, terdapat skuama kasar
berwarna putih diatasnya dan terdapat ikhenfikasi di pinggirnya.
Pembahasan :
menurut kasus diatas dari anamnesis di dapatkan bahwa penderita
mengeluh timbul bercak-bercak kemerahan sejak setahun yang lalu, bercak
kemerahan itu agak meninggi dan diatasnya bercak-bercak kemerahan itu terdapat
skuama kasar yang berlapis-lapis berwarna putih, ini merupakan tanda khas dari
psoriasis, penderita juga merasa gatal pada bercak tersebut yang menimbulkan lesi
baru yang sama dengan sebelumnya. Penderita belum pernah mendapat
pengobatan untuk penyakit ini dan dikeluarganya tidak ada yang mengalami
penyakit yang sama. Penderita tidak memiliki riwayat alergi demikian juga
keluarganya. Lesi pada kulit yang bersifat kronik redisif, dimana pencentusnya
adalah stress psikologis, infeksi, tidak didasari oleh suatu kealainan genetic oleh
karena dikeluarga pasien tidak mengeluh kelainan yang sama, sehingga lebih
dihubungkan denagn adanya gangguan sistem imun.
Dari status dermatologinya didapatkan letak lesi yang menunjukkan
tempat predieksi psoriasis yaitu lutut, siku, tumgkai atas kanan dan kiri, serta
tungkai bawah kanan dan kiri. Dari effloresensi didapatkan macula
hipopigmentasi yang berbentuk bulat sampai lonjong dengan skuama halus
diatasnya yang menandakan lesi trsebut sudah mulai menyembuh serta terdapat
beberapa plak eritema dengan skuama kasar yang berwarna putih diatasnya yang
menandakan lesi tersebut masih aktif. Dari gambaran klinis diatas sangat
menunjang diagnosis kita kearah suatu psoriasis.
Tipe pada pasien ini merupakan psoriasis vulgaris. Jenis psoriasis ini
disebut pula tipe plak karena umumnya lesi yang muncul berbentuk plak. Jenis
inilah yang memiliki tempat predileksi di kulit kepala, diperbatasan kulit kepala
dengan muka, ekstremitas ekstensor, terutama siku dan lutut, serta di daerah
lumbosakral. Beberapa jenis psoriasis yang lain yaitu psoriasis gutata, pustulosa,
dan inversa.
Pengobatan medikamentosa pada pasien ini deberikan secara topikal dan
sistemik. Pengobatan topikal yang diberikan adalah preparat ter yaitu ter kayu (
oleum kadini 9% ) yang ditambahakan asam salisilat 3% asam benzoat6%,
bemamethason cream sebagai vehikulumnya digunakan vaseline, karena pnetrasi
obat ini paling baik dalam bentuk salep. Khasiat kombinasi ini adalah sebagai
antipruritus, keratoplastik, vasokonstriksi dan antiradang. Selain itu kombinasi
obat tersebut juga ditujukan untuk memperbesar efek antimitosis, oleh karena
psoriasis pembentukan epidermis ( trun over time ) lebih cepat hanya 3-4 hari
sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari. Pengobatan sistemik pada kasus ini
adalah antihistamin 3 x 1 selama 7 hari sebagai terapi simptomatik oleh karena
pasien mengeluh gatal. Apabila gatal berkurang, infeksi sekunder dapat dicegah
karena pasien tidak menggaruk daerah yan gatal. Selain pengobatan KIE kepada
pasien juga sangat penting. Prognosis psoriasis vulgaris pada pasien ini baik
walaupun tidak terjadi penyembuhan yang sempurna.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http://www.kalbemed.com/Portals/6/08_235Psoriasis.pdf diakses pada


tanggal 30 Oktober 2018
Anonim. 2013. https://www.scribd.com/document/143722038/Askep-Psoriasis
diakses pada tanggal 30 Oktober 2018
Corwin Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta:EGC
Mayer Brenna, dkk. 2016. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta:EGC
Puspasari Schlastica F.A. 2018. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Gangguan Sistem Integumen. Yogyakarta:Pustaka Baru Press
PalgunaI Made G, 2009.https://andikunud.files.wordpress.com/2010/08/psoriasis-
vulgaris.docx. Diakses pada tanggal 2 November 2018.
Mutiara H, Kurnia Fitri A. http://repository.lppm.unila.ac.id/5233/1/1568-2280-1-
PB.pdf. Diakses pada tanggal 2 November 2018.