Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN

MINILOKA KARYA
PRAKTIK KEPERAWATAN GERONTIK
PANTI JOMPO BENDELONJE

Disusun Oleh :

Mahasiswa Semester 8
Keperawatan Gerontik

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PATRIA HUSADA BLITAR
2019

i
LEMBAR PENGESAHAN

Telah disetujui Laporan Miniloka Karya Praktik Keperawatan Gerontik di Panti


Jompo Bendelonje yang dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2019.

Pembimbing Institusi,

Ns. Ning Arti Wulandari, M.Kep


NIK. 180906030

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Segala Puji bagi Allah SWT. yang telah melimpahkan


rahmat serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan Miniloka
Karya Praktik Keperawatan Gerontik di Panti Jompo Bendelonje.
Laporan ini disusun sebagai syarat dalam menyelesaikan tugas Mata
Kuliah Keperawatan Gerontik STIKes Patria Husada Blitar di Panti Jompo
Bedelonje. Dalam penyusunan laporan ini kami mendapatkan bimbingan serta
motifasi dari berbagai pihak oleh karena itu pada kesempatan ini kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada :
1. Ketua STIkes Patria Husda Blitar Basar Purwoto, S.Sos., M.Si
2. Kepala Panti Jompo Ibu Hj.Handayah

i
3. Ns. Ning Arti Wulandari, M.Kep., selaku penanggung jawab keperawatan
gerontik STIKes Patria Husada Blitar.
4. Seluruh Karyawan Panti Jompo Bendelonje yang telah membantu
terselesaikannya proposal ini.
5. Dan teman-teman mahasiswa STIKes Patria Husada Blitar.
Kami menyadari bahwa dalam laporan ini masih terdapat kekurangan baik
isi maupun kalimat. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kami mahasiswa
Program Studi Pendidikan Ners STIKes Patria Husada Blitar pada khususnya.

Blitar, Maret 2019


Penyusun,

Mahasiswa Praktik Gerontik

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL
LEMBAR PENGESAHAN.......................................................................................
i
KATA PENGANTAR.................................................................................................
ii
DAFTAR ISI..............................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................
1
1.1 LATAR BELAKANG
......................................................................................................................
1
1.2 TUJUAN
......................................................................................................................
2
1.2.1 Tujuan Umum
...............................................................................................................
2
1.2.2 Tujuan Khusus
...............................................................................................................
2
1.3 MANFAAT
......................................................................................................................
2

ii
BAB II TINJAUAN TEORI....................................................................................
4..................................................................................................................................
2.1 PENGERTIAN
......................................................................................................................
4
2.2 KONSEP LANSIA
......................................................................................................................
5
2.3 KEPERAWATAN KOMUNITAS LANSIA
......................................................................................................................
11
BAB III PROFIL PANTI JOMBO BENDELONJE BLITAR.............................
19
3.1 DATA UMUM
......................................................................................................................
19
3.2 DATA INTI
......................................................................................................................
19
BAB IV ANALISA DATA PENGKAJIAN.............................................................
22
4.1 MAN
......................................................................................................................
22
4.2 MATERIAL
......................................................................................................................
24
4.3 METHOD
......................................................................................................................
28
4.4 MONEY
......................................................................................................................
29
4.5 MARKETING
......................................................................................................................
29
BAB V PRIORITAS MASALAH...........................................................................
40
5.1 ANALISA DATA
......................................................................................................................
40
5.2 MASALAH KEPERAWATAN
......................................................................................................................
40
BAB VI PLAN OF ACTION...................................................................................
42
6.1 PLAN OF ACTION
..........................................................................................................................
42
6.2 RENCANA KEGIATAN

iii
..........................................................................................................................
42
BAB VII IMPLEMENTASI DAN EVALUASI.....................................................
46
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
55

iv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghlangnya secara perlahan-lahan
kemapuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan
yang diderita (Constantinides, 1994 dalam Nugroho. W, 2000). Dengan kata lain, proses
menua merupakan tahap lanjut dari suatu kehidupan yang ditandai dengan menurunnya
kemampuan tubuh untuk beradaptasi terhadap stres atau pengaruh lingkungan, dimulai
dari kemunduran secara fisik maupun psikis (kejiwaan), atau yang lazim dikatakan
adalah keuzuran.
Pada perkembangan sekarang ini, pendapat tersebut mulai tergeser dengan suatu
pengertian bahwa masa tua merupakan suatu hal yang wajar dan tetap dapat menjalani
sisa hidupnya dengan tenang, aman, sejahtera dan berguna bagi lingkungannya. Secara
global, bila ditinjau dari aspek peradaban umat manusia, maka terdapat konsep transisi
kependudukan yang oleh berbagai pakar, termasuk para pakar gerontologi (Comfort
1964 dan Myers 1984) menggambarkan pertumbuhan jumlah lansia akibat penurunan
pada angka morbiditas (S. Tamher & Noorkasiani, 2011).
Berkenaan dengan hal tersebut, berbagai upaya telah dilaksanakan oleh instansi
pemerintah, para profesional kesehatan, serta bekerja sama dengan pihak swasta dan
masyarakat untuk mengurangi angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas)
lansia. Salah satu wujud upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan
lansia adalah dengan disahkannya UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia
(tambahan lembaran negara Nomor 3796) sebagai pengganti UU No. 4 Tahun 1965
tentang Pemberian Bantuan bagi Orang Jompo (R. Siti Maryam, dkk., 2012).
Sehingga dirasa perlu adanya sumbangsih dari lapis masyarakat, maupun
mahasiswa kesehatan untuk membantu upaya pemerintah dalam mensejahterakan lansia.
Dalam rangka praktik klinik keperwatan Gerontik Mahasiswa STIKes Patria Husada
Blitar ingin menetapkan konsep asuhan keperawatan tentang lansia secara langsung di
Panti Jompo Bendelonje Blitar.

1.2 Tujuan Kegiatan


1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan kelompok lanjut usia
dalam kehidupan Panti secara profesional dengan menggunakan pendekatan
proses keperawatan secara komprehensif.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian pada lansia.
2. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan lansia.
3. Mampu menyusun rencana asuhan keperawatan.
4. Melakukan tindakan keperwatan pada lansia.
5. Mampu melaksanakan evaluasi terhadap keberhasilan tindakan yang
diberikan.

1.3 Manfaat Kegiatan


1.3.1 Bagi Mahasiswa
Dapat menerapkan konsep teori tentang asuhan keperawatan kelompok
gerontik yang tinggal di Panti Jompo Bendelonje Blitar.
1.3.2 Bagi Lansia
1. Lansia mendapatkan pelayanan keperawatan secara komperhensif.
2. Lansia dapat mengenal masalah kesehatannya.
3. Lansia dapat menjelaskan tentang kesehatan secara sederhana.
1.3.3 Bagi Panti Jompo Bedelonje Blitar
1. Dapat mengembangkan model asuhan keperawatan pada lansia.
2. Mendapatkan masukan tentang masalah kesehatan pada lansia serta alternatif
pemecahannya.
1.3.4 Bagi Instansi Pendidikan
Tercapainya tujuan pembelajaran asuhan keperawatan gerontik pada lansia
di lingkungan panti.
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Panti Jompo Bendelonje Blitar


2.1.1 Pengertian Panti Jompo Bendelonje Blitar
Panti Jompo Bendelonje Blitar adalah pelayanan yang disediakan untuk
manula sebagai tempat tinggal alternatif dengan kebutuhan khusus yang memberikan
pelayanan dan perawatan serta berbagai aktivitas yang dapat dimanfaatkan manula
untuk mengatasi kemunduran fisik dan mental secara bersama-sama dalam komunitas.

2.1.2 Sistem Pelayanan


Sistem Pelayanan di Panti Jompo Bendelonje Blitar diberikan dalam bentuk
Pelayanan sosial. Bentuk pelayanan meliputi :
1. Pemenuhan kebutuhan fisik
Pelayanan kesehatan meliputi penyediaan tenaga dokter atau perawat, penyediaan
menu makan tambahan sesuai dengan kalori yang dibutuhkan, pakaian, sarana dan
prasarana hidup sehari hari (peralatan mandi, tidur, sholat, dll).
2. Pemenuhan kebutuhan mental
Kebutuhan mental spiritual adalah kebutuhan yang diberikan kepada lansia yang
dapat memberikan semangat dan dorongan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya
menumbuhkan rasa percaya diri bahwa lansia tetap dibutuhkan oleh
keluarga/masyarakat, memberikan semangat bahwa potensi yang ada dalam dirinya
dapat digunakan oleh orang lain.

2.2 Konsep Lansia


2.2.1 Definisi Lansia
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu
suatu periode dimana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang
lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat.
Secara biologis lansia adalah proses penuaan secara terus menerus, yang
ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap
serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian.

2.2.2 Batasan Lansia


Barbara Newman dan Philip Newman membagi masa lansia ke dalam 2
periode, yaitu masa dewasa akhir (later adulthood) (usia 60 sampai 75 tahun) dan
usia yang sangat tua (very old age) (usia 75 tahun sampai meninggal dunia).
Sementara batasan usia lansia menurut WHO meliputi lanjut usia (elderly),
antara 60 sampai 74 tahun; lanjut usia tua (old), antara 75 sampai 90 tahun; usia
sangat tua (very old), diatas 90 tahun. Pemerintah Indonesia dalam hal ini
Departemen Sosial membagi lansia ke dalam 2 kategori yaitu usia lanjut potensial
dan usia lanjut non potensial. Usia lanjut potensial adalah usia lanjut yang memiliki
potensi dan dapat membantu dirinya sendiri bahkan membantu sesamanya.
Sedangkan usia lanjut non potensial adalah usia lanjut yang tidak memperoleh
penghasilan dan tidak dapat mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhannya sendiri.
2.2.3 Proses Menua
Proses menua (aging) adalah suatu keadaan alami selalu berjalan dengan
disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling
berinteraksi. Hal tersebut berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum
maupun kesehatan jiwa. Secara individu, pada usia diatas 55 tahun terjadi proses
menua secara alamiah.
Menua didefinisikan sebagai perubahan progresif pada organisme yang telah
mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya
kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan adanya
penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling berinteraksi satu sama
lain. Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui
tiga tahap yaitu, kelemahan (impairment), keterbatasan fungsional (functional
limitations), ketidakmampuan (disability) dan keterhambatan (handicap) yang akan
dialami bersamaan dengan proses kemunduran.
Proses menua dapat terjadi secara fisiologis maupun patologis. Apabila
seseorang mengalami proses menua secara fisiologis maka proses menua terjadi
secara alamiah atau sesuai dengan kronologis usianya (penuaan primer). Proses
menua seseorang yang lebih banyak dipengaruhi faktor eksogen, misalnya
lingkungan, sosial budaya dan gaya hidup disebut mengalami proses menua secara
patologis (penuaan sekunder) (Fatimah, 2008).

2.2.4 Kebutuhan Hidup Lansia


Secara lebih detail, kebutuhan lansia terbagi atas:
1. Kebutuhan fisik meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan.
2. Kebutuhan psikis yaitu kebutuhan untuk dihargai, dihormati dan mendapatkan
perhatian lebih dari sekelilingnya.
3. Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Kebutuhan ekonomi, meskipun tidak potensial lansia juga mempunyai kebutuhan.
4. Secara ekonomi sehingga harus terdapat sumber pendanaan dari luar, sementara
untuk lansia yang potensial membutuhkan adanya tambahan keterampilan, bantuan
modal dan penguatan kelembagaan.
5. Kebutuhan spiritual.

2.2.5 Perubahan Pada Lansia


1. Perubahan Fisik
a. Sel: jumlahnya lebih sedikit tetapi ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan
intra dan extraseluler.
b. Persarafan: cepatnya menurun hubungan persarafan, lambat dalam respon waktu
untuk beraksi, mengecilnya saraf panca indra sistem pendengaran, presbiaskusis,
antrofi membran timpani terjadinya pengumpulan serum karna meningkatnya
keratin.
c. Sitem penglihatan: Spnkter pupil timbul sclerosis dan hilangnya respon terhadap
shinaps kornea lebih berbentuk speris, lensa keru, meningkatnya ambang
pengamatan shinaps hilangnya daya akomodasi menurunya lapang pandang.
d. Sistem kardiovaskuler: Katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan
jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun setelah berumur 20 tahun
sehingga menyebabkan menurunnya kontraksi dan volume, kehilangan elastisitas
pembuluh darah tekanan darah meningkat.
e. Sistem respirasi: Otot-otot pernapasan menjadi kaku sehingga menyebabkan
menurunya aktivitas silia. Paru kehilanga elastisitasnya sehingga kapasitas residu
meningkat nafas berat. Kedalaman pernafasan menurun.
f. Sistem gastrointestinal: kehilangan gigi, sehingga menyebabkan gizi buruk, indra
pengecap menurun karna adanya iritasi selaput lendir dan antropik indra
pengecap sampai 80%, kemudian hilangnya sensitifitas saraf pengecap untuk rasa
manis dan asin.
g. Sistem genitorinaria: ginjal mengecil dan nefron menjadi atrofi sehingga aliran
darah keginjal menurun sampai 50%, GFR menurun sampai 50%. Nilai ambang
ginjal terhadap glukosa menjadi meningkat. Vesika urinary, otot-ototnya menjadi
lemah, kapasitasnya menurun mencapai 200cc sehingga vesika urinary sulit
diturunkan pada pria usia lansia yang akan berakibat retensi urine. Pembesaran
prostat, 75% dialami oleh pria diatas 55 tahun. Pada vulva terjadi atropi sedang
vagina terjadi selaput lender kering, elaastisitas jaringan menurun, sekresi
berkurang dan menjadi alkali.
h. Sistem endokrin: pada sistem endokrin hampir semua produksi hormon menurun,
sedangkan fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah, aktifitas tiroid
menurun sehingga menurunkan basal metabolism rate (BMR). Produksi sel
kelamin seperti; progesterone, estrogen dan testoreron.
i. Sistem intergumen: pada kulit menjadi keriput akibat kehilangan jaringan lemak,
kulit kepala dan rambut menipis menjadi kelabu, sedangkan rambut dalam
telinga dan hidung menebal. Kuku menjadi keras dan rapuh.
j. Sistem muskuloskoletal: tulang kehilangan densitasnya makin rapuh dan
menjadi kifosis, tinggi badan menjadi berkurang yang disebut discusine
vertebralis menipis, tendon mengerut dan atropi serabut erabit otot, sehingga
lansia menjadi lambat bergerak.
2. Perubahan mental adalah:
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah:
1) Perubahan fisik, khusus organ perasa
2) Kesehatan umum
3) Tingkat pendidikan
4) Keturunan
5) Lingkungan
b. Kenangan (memori) ada 2 yaitu:
1) Kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu.
2) Kenangan jangka pendek : 0-10 menit, kenangan buruk
c. Intelegentia quote:
1) Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal
2) Berkurangnya penampilan, presepsi dan penampilan psikomotor terjadi
perubahan pada daya membayangkan karena tekanan-tekanan dari faktor
waktu.
3. Perubahan psikososial
a. Pensiun: nilai seorang diukur oleh produktifitasnya, identitas dikaitkan
dengan peranan dalam pekerjaan .
b. Merasakan atau sadar akan kematian.
c. Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak
lebih sempit.
2.2.6 Masalah-masalah yang terjadi pada lanjut usia
1. Masalah gizi
a. Gizi berlebihan
Kebiasaan makan banayak pada waktu muda menyebabkan berat badan
berlebihan, apalagi lanjut usia penggunaaan kalori berkurang karena
berkurangnya aktifitas fisik. Kebiasaan makan tersebut sukar diubah walaupun
disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus
berbagai penyakit misalnya penyakit jantung, diabetes militus, penyempitan
pembuluh darah dan tekanan darah tinggi.
b. Gizi kurang
Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah sosial ekonomi dan juga karena
gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan
menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan
kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat
diperbaiki, akibat rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun
kemungkinan akan mudah kena infeksi pada orang-orang tubuh yang vital.
c. Kekurangan vitamin
Bila konsumsi buah dan sayur-sayuran kurang, apabila ditambahkan dengan
kekurangan protein dalam makanan, akibat nafsu makan berkurang, penglihataan
berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, lesu dan tidak semangat.
2. Resiko cedera (jatuh)
Jatuh akan menyebabkan cedera jaringan lunak bahkaan fraktur pangkal paha atau
pergelangan tangan. Keadaan tersebut menyebabkan nyeri dan immobilisasi dengan
segala akibatnya. Banyak faktor risiko yang dapat diidentifikasi serta tak sedikit hal-
hal dapat dimodifikasi agar jatuh tak terjadi/tak terulang.
a. Faktor risiko internal
Gangguan penglihatan, gangguan adaptasi gelap, infeksi telinga, obat golongan
aminoglikossida, vertigo, perkapuran vertebra cervukal, ganguan aliran darah
otak, atritis, lemah otot tungkai, hipotensi postural, pneumoni, penyakit sistemik
(ISK, gagal jantung, dehidrasi, diabetes mellitus, hipoglikemi).
b. Faktor risiko eksternal
Turun tangga, benda-benda yang harus dilangkahi, lantai licin, kain atau celana
terlalu panjang, tali sepatu, tempat tidur terlalu tinggi atau terlalu rendah, kursi
roda tidak terkunci, penerangan kurang, tempat kaki kursi roda, WC jauh dari
kamar, WC terlalu rendah.
c. Tindakan
1) Identifikasi faktor risiko
2) Perhatikan kelainan caraa berjalan/duduk
3) Romberg test
4) Uji keseimbangan sederhana
5) Berkuranngnya kebar langkah
6) Modifikasi faktor risiko internal
d. Delirium
Salah satu karakteristik lansia geriatrik adalah tanda gejala penyakit tidak khas
sesuai dengan organ/sistem organ yang sakit. Seringkali suatu penyakit sistemik
dimunculkan dalam bentuk gangguan kesadaran walaupun sistem saraf pusat
tidak terganggu. Walaupun demikian penyakit susunan saraf pusat juga tetap
dapat muncul dalam bentuk gangguan kesadaran. Dengan demikian maka perlu
ditingkatkan kewaspadaan untuk mendeteksi sedini mungkin kelainan-kelainan
sistemik yang dapat mendasari delirium agar penyakit tidak berkembang menjadi
berat.
Penyebab: Stroke, tumor otak, pneumonia, ISK, dehidrasi, diare,
hiper/hipoglikemia, hipoksia dan putus obat.
Gejala: Kurang perhatian, gelisah, gangguan pola tidur, murung, perubaahaan
kesadaran, disorientasi, halusinasi, sulit konsentrasi, sangaat mudah lupa,
hipoaktif, piperaktif.
Sikap:
1) Sakit kepala/pusing dikaji dengan cermat
2) Perhatikan keluhan penglihataan
3) Atasi batuk pilek dan meriang secepatnya
Rencana tindaklanjut: Identifikasi dan konsul lebih lanjut bila ada keluhan
berkemih, nafsu makan berkurang, muntah berak, mual, berkeringat dingin,
pingsan sesaat.
e. Imobilisasi
Imobilisasi atau berbaring terus ditempat tidur dapat menimbulkan atrofi otot,
decubitus dan malnutrisi serta pneumonia, Faktor risiko: Osteoartritis fraktur,
DC, stroke, demensia, vertigo, PPOK, hipotiroidi, gangguan penglihatan,
hipotensi postural, anemia, lemah otot, keterbatasan ruang lingkup gerak sendi,
dan sesak nafas.
f. Hipertensi
Dari banyak penelitian epidemiologi didapatkan bahwa dengan meningkatnya
umur dan tekanan darah tinggi. Hipertensi menjadi masalah pada lanjut usia
karena sering ditemukan dan menjadi faktor utama stroke, payah jantung dan
penyakit jantung koroner. Lebih dari separuh kematian diatas usia 60 tahun
disebkan oleh penyakit jantung dan serebro vaskuler. Secara nyata kematian
karena CVD, morbiditas penyakit kardiovaskuler menurun dengan pengobatan
hipertensi. Hipertensi pada lanjut usia dibedakan atas:
1) Hipertensi pada tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan
atau tekanan diastolik sama atau lebih dari 90 mmHg.
2) Hipertensi sistolik terisolasi: tekanan sistolik lebih besar dari 190 mmHg dan
tekanan diastolic lebih rendah dari 90 mmHg

2.3 Keperawataan Komunitaas Lansia


2.3.1 Definisi
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayan profesianal sebagai bagian integral
pelayanan kesehatan berbentuk pelayanan biologi, psikologi, sosial dan spiritual secara
komprehensif, ditunjukan pada individu keluarga dan masyarakat baik sehat maupun
sakit mencakup siklus hidup manusia (Riyadi, 2007).
Menurut WHO, lansia adalah orang yang memiliki usia diatas 60 tahun
(Nugroho, 2006). Keperawatan Kesehatan Komunitas lansia adalah pelayanan
keperawatan professional yang ditunjukan kepada masyarakat khususnya lansia
dengan penekanan pada kelompok risiko tinggi, upaya pencapaian derajat kesehatan
yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan, dengan
menjamin agar pelayanan kesehatan yang di butuhkan dapat di jangkau, dan
melibatkan klien sebagai mitra dalam merencanakan perencanaan pelaksanaan dan
evaluasi pelayanan/keperawatan (Efendi, 2010).
Srategi pelaksanaan keperawatan komunitas yang dapat digunakan dalam
perawatan kesehatan masyarakat adalah:
1. Pendidikan kesehatan
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang di lakukan dengan
cara menggambarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak
saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran
yang ada hubungannya dengan kesehatan.
Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan di dalam
bidang kesehatan (Mubarak, 2005).
2. Proses kelompok (Grup proses)
Bidang tugas perawat komunitas tidak terlepas dari kelompok masyarakat
klien termasuk sub-sub sistem yamg terdapat di dalamnya, yaitu: indvidu,
keluarga, dan kelompok khusus. Perawat spesialis dalam melakukan upaya
peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat
menggunakan alternatif model perorganisasian masyarakat yaitu: perencanaan
sosial, arti sosial atau pengembangan masyarakat. Berkaitan dengan
pengembangan kesehatan yang relafan, makan penulis mencoba menggunakan
pendekatan pengorganisasian masyarakat dengan model pengembangan
masyarakat/comunity defelopment (Palestin, 2007).
3. Kerjasama atau Kemitraan (Partnership)
Kemitraan adalah hubungan kerjasama antara dua pihak atau lebih,
berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau memberikan
manfaat. Partisipasi klien atau masyarakat di konseptualisasikan sebagai
peningkatan inisiatif diri terhadap segala kegiatan yang memiliki konstribusi pada
peningkatan kesehatan dan kesejateraan. Kemitraan antara perawat komunitas dan
pihak-pihak terkait dengan masyarakat digambarkan dalam bentuk garis hubung
antara komponen-komponen yang ada. Hal ini memberikan pengertian perlunya
upaya kolaborasi dalam mengkombinasikan keahlian masing-masing yang
dibutuhkan untuk mengembangkan strategi peningkatan kesehatan masyarakat.
4. Pemberdayaan (Empowermen)
Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara kesederhana sebagai proses
pemberian kekuatan atau dorongan sehinga membentuk interksi transformatif
kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan, keberdayaan, kekuatan ide baru,
dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengatahuan baru.

2.3.2 Tujuan Keperawatan Komunitas Lansia


Sebagai akhir tujuan pelayanan kesehatan diharapkan masyarakat mampu
secara mandiri menjaga dan meningkatkan status kesehatan masyarakat (Mubarak,
2005). Namun, secara terperinci berikut adalah tujuan keperawatan komunitas lansia:
1. Mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan
2. Menjamin agar pelayanan kesehatan yang dibutuhkan tetap terjangkau
3. Melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan pelaksanaan dan evaluasi
pelayanan kesehatan
4. Optimalisasi kualitas hidup lansia dengan hipertensi di suatu komunitas dengan
menekan angka kesakitan dan mengurangi gejalanya

2.3.3 Ruang Lingkup Keperawatan Komunitas Lansia


Ruang lingkup pelayanan kesehatan komunitas pada lansia adalah individu,
keluarga, kelompok khusus dan masyarakat baik yang sehat maupun sakit dengan
ruang lingkup kegiatan adalah upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan
resosialitatif dengan penekanan pada upaya preventif.
2.3.4 Metode Pendekatan
Dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat yang ditunjukan kepada
individu, keluaraga, kelompok, khusus secara keseluruhan, pendekatan yang
digunakan oleh perawat adalah pendekatan pemecahan (problem salving approach),
yang dituangkan dalam proses keperawatan dengan memanfaatkan pendekatan
epidemilogi yang dikaitkan dengan upaya kesehatan (PHC).
Bila pendekatan dilakukan terhadap keluarga binaan disebut family approach,
tetapi bila pembinaan keluarga berdasarkan atas seleksi kasus yang dating ke
puskesmas yang dinilai memerlukan tindak lanjut disebut dengan casa approhch, dan
bila pendekatan tersebut dilakukan terhadap masyarakat daerah binaan melalui survei
mawas diri dengan melibatkan partisipasi masyarakat disebut dengan comunnity
approach.

2.3.5 Metodelogi
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat, metodologi
yang digunakan adalah proses keperawatan sebagai pendekatan ilmiah didalam bidang
keperawatan melaluli tahap-tahap sebagai berikut:
1. Pengkajian
Dalam mengkaji kesehatan masyarakat baik tingkat individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat.
2. Pengumpulan data
Adalah untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi dengan
mengunakan instrumen pengumpulan data dalam menghimpun informasi.
Pengkajian yang diperlukan adalah inti komunitas beserta faktor lingkunganya.
Elemen pengkajian komunitas menurut Anderson dan MC. Forlance (1958), terdiri
dari inti komunitas meliputi: demografi, populasi, nilai-nilai keyakinan dan riwayat
individu termasuk riwayat kesehatan. Sedangkan faktor lingkungan adalah:
lingkungan fisik, pendidikan, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan,
pelayanan kesehatan dan sosial, komunikasi, ekonomi, dan rekreasi. Hal-hal ini
perlu dikaji untuk menetapkan tindakan yang sesuai dan efektif dalam langkah-
langkah selanjutnya.
3. Analisa data
Dilaksanakan berdasarkan data yang telah diperoleh dan disusun dalaam suatu
format yang sistemis. Dalam menganalisi data memerlukan pemikiran kritis. Data
terkumpul kemudian dianalisis seberapa besar faktor stressor yang mengancam dan
seberapa berat reaksi yang timbul dikomunitas. Selanjutnya dirumuskan masalah
atau diagnosa keperawatan. Menurut Mueke ( 1987), yang terdiri dari:
a. Masalah sehat sakit
b. Karakteristik populasi
c. Karakteristik lingkungan
4. Merumuskan masalah keperawatan atau kesehatan dan diagnose keperawatan
kesehatan masyarakat diberbagai tingkat sesuai dengan tingkatan prioritas.
Diagnosa keperawatan yang dirumuskan dapat aktual, ancaman atau resiko
(wellness). Menetapkan masalah keperawatan kesehatan masyarakat berdasarkan:
a. Masalah yang ditetapkan dari data umum
b. Masalah yang dianalisa dari hasil kesenjangan pelayanan kesehatan
Menetapkan skala prioritas dilakukan untuk menentukan tindakan yang lebih
dahulu ditanggulangi karena di anggap dapat mengancam kehidupan masyarakat
secara keseluruhan dengan mempertimbangkan pada:
1) Masalah spesifik yang mempengaruhi kesehatan masyarakat
2) Kebijakan nasional dari wilayah setempat
3) Kemampuan dan sumber daya masyarakat
4) Keterlibatn, partisipasi dan peran serta masyarakat.
Kriteria skala prioritas :
1) Perhatian masyarakat, yang meliputi: pengetahuan, sikap, keterlibatan emosi
masyarakat terhadap masalah kesehatan yang dihadapi dan ungersinya segera
ditanggulangi.
2) Prevelensi menunjukan jumlah kasus ditemukan pada suatu kurun waktu
tertentu.
3) Besarnya masalah adalah seberapa jauh masalah tersebut dapat menimbulkan
gangguan terhadap kesehatan masyarakat.
4) Kemugkinan masalah untuk dapat dikelola dengan mempertimbangkan
alternatif dengan cara-cara pengelolaan masalah yang menyangkut masalah
biaya, sumber daya, sarana yang tersedia, dan kesulitan yang mungkin timbul
(Nasrul Effendi, 1995).

5. Format pengkajian A (Mueke): seleksi atau penapisan diagnose komunitas


Keterangan: Skor: 0-5
Diagnosa Keperawatan Komunitas

Jumlah Skor
Kriteria Penapisan
Potensi untuk pendidikan kesehatan

Tersedia sumber dana

Tersedia sumber fasilitas


Interes komunikasi

Tersedia sumber tempat


Resiko parah

Tersedia sumber waktu


Sesuai dengan peran perawat komunitas

Tersedia SDM
Resiko terjadi

Kemungkinan diatasi

Relevan dengan program


6. Format B. (Stanhope dan Lancaster 1998): Prioritas masalah Stanhope dan Lanchester.
NO Bobot kriteria Masalah Bobot 1- 10 Rasional Makna masalah
1- 10 CXM
1 Kesadaran lansia
terhadap maslah
2 Motifasi lansia
untuk mengatasi
masalah
3 Kemampuan
perawat untuk
mengatasi masalah
4 Fasilitas yang
tersedia untuk
mengatasi
5 Bertanya akibat
jika masih tetap
6 Cepat masalah
teratasi

7. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
a. Menetapkan tujuan dan sasaran pelayanan
b. Menetapkan rencana kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan dan keperawatan
c. Menetapkan kriteria keberhasilan dan rencana tindakan yang dilakukan
8. Pelaksanaan
Pada tahap ini rencana yang telah disusun dilaksanakan dengan melibatkan individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat sepenuhnya dalam mengatasi masalah kesehatan dan
keperawatan dan di hadapi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan
keperawatan kesehatan masyarakat:
a. Keterpaduan antara: biaya, tenaga, waktu, lokasi, sarana dan prasarana dengan
pelayanan kesehatan maupu sektor lainnya.
b. Keterlibatkan petugas kesehatan, kader dengan tokoh masyarakat dalam rangka ahli
peran.
c. Tindakan keperawatan yang dilakukan di catat dan didokomentasikan.
d. Adanya pelaksanaan system rujukan baik medis maupun rujukan kesehatan
9. Evaluasi atau penilaian
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan,
keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan atau proses dengan pedoman
atau rencana atau proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan
membandingkan tingkat kemandirian masyarakat dalam perilaku kehidupan sehari-hari
dan tingkat kemajuan kesehatan masyarakat komunitas dengan tujuan yang telah
ditetapkan atau telah di rumuskan sebelumnya. Kegiatan yang dilakukan menurut Nasrul
Effendy, 1998
a. Membandingkan hasil tindakan yang dilakukan dengan tujuan yang telah ditetapkan
b. Menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian sampai dengan
pelaksanaan
c. Hasil penilaiaan keperawatan digunakan sebagai bahan perencanaan selanjutnyaa
apabila masalah belum teratasi. Perlu dipahami bersama oleh perawat kesehatan
masyarakat bahwa evalusi dilakukan dengan melihat respon komunikasi terhadap
program kesehatan. Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah masukan (input), pelaksanaan
(procces) dan hasil akhir (output). Adapun dalam evaluasi difokuskan dalam:
1) Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan pelaksanaan
2) Perkembangan atau kemajuan proses
3) Efisiensi biaya (cost efficiency)
4) Efektivitas kerja
5) Dampak: apakah status kesehatan meningkat/menurun, dalam jangka waktu yang
telah ditentukan.
Kegunaan evaluasi:
1) Menentukan perkembangan keperawataan kesehataan masyarakat yang diberikan
2) Menilai hasil guna, daya guna dan produktivitas asuhan keperawatan dan sebagai
umpan balik untuk memperbaiki atau menyusun rencana baru dalam proses
keperawatan
3) Menilai asuhan keperawatan dan sebagai umpan balik untuk memperbaiki atau
menyusun rencana baru dalam proses keperawataan
Hasil evaluasi:
Terhadap tiga kemungkinan dalam evaluasi, yaitu:
1) Tujuan tercapai apabila ada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat telah
menuju keluargaan kemajuan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
2) Tujuan tercapai sebagian apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga
perlu dicari penyebab serta bagaimana memperbaikinya atau mengatasinya.
3) Tujuan tidak tercapai apabila individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tidak
menunjukan perubahan bahkan timbul masalah baru, dalam hal ini perlu dikaji
secara mendalam apakah terdapat masalah dalam data, analisis, diagnose.
BAB 3
PROFIL PANTI JOMPO BEDELONJE BLITAR

3.1 DATA UMUM


Nama : Panti Jompo Bendelonje Talun Blitar
Alamat : Kendalrejo, Dukuh Kendalrejo 2/12 Talun Blitar
Telp : 085-133-535-210
Kode Pos : 66183

3.2 DATA INTI


3.2.1 Sejarah Berdirinya Panti Jompo Bedelonje Blitar
Panti Jompo Bendelonje Blitar merupakan penyantunan Sosial bagi lanjut usia
terlantar. Kapasitas tampung lansia berjumlah 26 orang. Panti Jompo Bendelonje Blitar
berdiri sejak tahun 2011.
Struktur Organisasi di Panti Jompo Bedelonje Blitar, sebagai berikut :
1. Kepala Panti jompo
2. Ketenagaan
BAB 4
ANALISA DATA DAN PENGKAJIAN

4.1. MAN
4.1.1 Ketenagaan
Di Panti Jompo Bendelonje Blitar terdapat 11 karyawan, dan 26 lansia.
4.1.2 Kualitas Tenaga

No Nama Jabatan Pendidikan


1 Mbah Handayah Pemilik panti SMA
2 Sutikah Pekerja Sosial SD
3 Riska Pekerja Sosial SMP
4 Siti Wiyanti Pekerja Sosial D3
5 Titin Pekerja Sosial D3
6 Sri Pekerja Sosial SMA
7 Rokmah Pekerja Sosial SMP
8 Kolip Pekerja Sosial SD
9 Pak Din Pekerja Sosial+ Sopir SMP
4.2. Fasilitas
1. Bangunan perumahan
Bangunan di Panti Jompo Bedelonje Blitar merupakan bangunan permanen
dengan dinding tembok, dan sebagian triplek, lantai keramik, atap esbes
ventilasi dan pencahayaan yang cukup terdiri dari:
a. Asrama : 8 ruang
b. Dapur : 2 ruang
c. Ruang pertemuan : 1 ruang
d. Gudang : 3 ruang
e. Kamar mandi + WC: 4 ruang
f. Mushola : 1 ruang
g. Aula : 1 ruang
2. Luas lahan seluas 100 ru, luas perkamar 3x4 m
a. Bentuk bangunan: rumah
b. Tipe rumah yang dihuni: permanen
c. Atap rumah: atapnya terbuat dari esbes
d. Dinding: tembok penuh dengan pembatas antar kamar sebagian papan
kayu
e. Jenis lantai: keramik.
f. Sistem ventilasi ruangan: setiap ruangan sudah terdapat ventilasi yang
cukup memadai, cahaya matahari dapat langsung masuk ke ruangan.
g. Pencahayaan ruangan: lampu penerangan yang digunakan sudah cukup
terang.
h. Kebersihan ruangan: cukup bersih
i. Pengaturan ruangan dan perabotan: dalam ruangan perabotan yang ada
sudah tertata dengan rapi.
j. Pekarangan dan pemanfaatan pekarangan disekitarnya: pekarangan
disekitar ditanami tanaman bunga, dan buah.
k. Peternakan: ada peternakan ayam dan burung
l. Perkebunan: Pohon Duku dan Pohon Manggis
m. Sarana olahraga: -
n. Halaman: ditanami dengan tumbuhan
o. Ruang tamu asrama: ada dengan kondisi yang baik dan bersih
p. Sarana hiburan: -
q. Tempat ibadah: terdapat 1 mushola
4.2.1. Sarana Perumahan
Panti Jompo Bendelonje Blitar memiliki konstruksi bangunan permanen
yang terdiri dari ruang gudang, ruang asrama, ruang mushola, ruang dapur dan
peralatan khusus. Setiap ruang mempunyai lantai keramik, baik yang bertekstur
livin maupun yang kasar, memiliki ventilasi yang baik, pencahayaan yang cukup
dan kebersihan lingkungan yang cukup, dan nyaman.
4.2.2. Pekarangan
Panti Jompo Bendelonje Blitar memiliki pekarangan yang cukup luas.
Kondisi pekarangan Panti Jompo Bendelonje Blitar cukup bersih dan terawat,.
Selain itu, pekarangan ditanami tumbuhan hijau, bunga.
4.2.3. Transportasi, keamanan, dan keselamatan
Panti Jompo Bedelonje Blitar sarana transportasi berupa satu mobil dinas
untuk keperluan anggota panti.
Sarana Sumber Air Bersih
Sumber air yang digunakan Panti Jompo Bendelonje Blitar yaitu sumur.
4.2.4. Sarana Pembuangan Sampah
Panti Jompo Bendelonje Blitar untuk pengelolaan sampah yaitu di bakar di
halaman belakang panti.
4.2.5. Sarana Pembuangan Kotoran Manusia
Pembuangan kotoran manusia dibuang ke septitank, karena di Panti Jompo
Bedelonje Blitar tersedia kamar mandi yang tersedia dengan WC.
4.2.6. Sarana Mandi
Untuk kamar mandi terdiri dari 6 kamar mandi
No Sarana Mandi Jumlah
1 Kamar mandi dan wc 3
2 Kamar mandi 2
3 WC ( tanpa bak ) 1
Jumlah 6

4.3. METHOD
4.3.1. Pemeriksaan Kesehatan
Panti Jompo Bendelonje Blitar tidak ada pemeriksaan kesehatan secara
rutin. Pemeriksaan dilakukan apabila pihak Panti tidak bisa menangani penyakit
pada lansia yang mengalami, apabila ada lansia yang sakit maka pihak panti
jompo akan mendatangkan bidan atai mantri.
4.3.2. Rekreasi
Sarana rekreasi yang ada di Panti Jompo Bedelonje Blitar menyediakan
televisi sebagai hiburan untuk beberapa kamar lansia, di di Panti Jompo Bedelonje
tidak ada mengadakan rekreasi atau jalan-jalan bagi lansia.
4.3.3. Tata Tertib Klien
1. Klien wajib mentaati semua peraturan yang berlaku di Panti Jompo Bedelonje
Blitar
2. Klien/penghuni yang sehat wajib menjaga kebersihan dan keindahan asrama
dan lingkungan sekitar.
3. Untuk menciptakan kenyamanan di asrama klien/penghuni wajib menjaga
kerukunan kebersamaan dan ketertiban

4.3.4. Komunikasi
Sarana komunikasi yang digunakan adalah yaitu secara langsung.
Komunikasi secara langsung dengan setiap hari bertatap muka yang difasilitasi
oleh petugas panti sehingga tidak akan menjadi masalah yang berkepanjangan.
Kounikasi antar petugas dan lansia terjalin pada waktu pagi hari.
Komunikasi antar penghuni terjalin akrab tetapi diantara lansia masih terdapat
anggota yang tidak saling mengenal anggota kelompok yang lain dan masih ada
yang saling mengejek satu sama lain.
4.4. MONEY
1. Pendanaan
Sumber dana di di Panti Jompo Bendelonje Blitar bersumber dari pribadi
pemilik panti jompo.
2. Pengeluaran
Pengeluaran dipergunakan unttuk keperluan kebutuhan lansia, menggaji
pegawai dan pemeliharaan sarana di Panti Jompo Bendelonje Blitar.
4.5. MARKETING
1. Syarat-syarat masuk di Panti Jompo Bedelonje Blitar
Tidak ada syarat-syarat khusus untuk masuk di Panti Jompo Bendelonje Blitar
2. Proses Keluar
Proses terminasi klien di Panti Jompo Bendelonje Blitar adalah sebagai berikut:
a. Meninggal dunia
b. Kembali kepada keluarga
4.6. DATA DEMOGRAFI LANSIA
4.6.1. Distribusi frekuensi penghuni berdasarkan jenis kelamin
No Jenis kelamin Jumlah Presentase
1 Perempuan 26 96,2%
2 Laki-laki 1 3,8%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan jenis kelamin di di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar jumlah lansia adalah
perempuan sebanyak 26 orang lansia (96,2%) dari 27 jumlah lansia secara
keseluruhan.
4.6.2. Distribusi frekuensi penghuni berdasarkan umur (menurut WHO)
No Usia Jumlah Presentase
1 45-59 tahun 1 3,8%
2 60-74 tahun 6 22%
3 75-90 tahun 11 40,8%
4 >90 1 3,8%
5 Tidak Terkaji 8 29,6%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan umur (menurut WHO) di di Panti Jompo Bedelonje
Blitar

Dari tabel diatas menunjukan bahwa sebagian besar jumlah lansia adalah
kelompok umur 75-90 tahun yaitu sebanyak 11 orang lansia (40,8%).
4.6.3. Distribusi frekuensi penghuni berdasarkan Agama
No Agama Jumlah Presentase
1 Islam 27 100%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan Agama di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah lansia yang paling banyak
adalah beragam Islam yaitu sebanyak 27 orang lansia (100%) dari 27 jumlah
lansia secara keseluruhan.

4.6.4. Distribusi Frekuensi Penghuni Berdasarkan Status perkawinan


No Status Jumlah Presentase
1 Janda 25 92,6%
2 Menikah 2 7,4%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan status di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah lansia yang paling banyak
adalah status janda dengan jumlah 25 orang lansia (92,6%).
4.6.5. Distribusi Frekuensi Penghuni Berdasarkan Riwayat Pendidikan
No Status Jumlah Presentase
1 TK 1 3,8%
2 SD 4 14,9%
3 SMP 3 11%
4 SMK 1 3,8%
5 Tidak Sekolah 6 22%
6 Tidak Terkaji 12 44%
Total 27 100%
Tabel lansia berdasarkan pendidikan di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel diatas diketahui bahwa jumlah responden yang paling banyak
adalah tidak sekolah yaitu sebanyak 6 orang lansia (22%) dan tidak terkaji yatu
sebanyak 12 orang lansia (44%)
4.6.6. Distribusi Frekuensi Penghuni Berdasarkan Riwayat Pekerjaan
No Pekerjaan Jumlah Presentase
1 Petani 6 22%
2 Buruh 6 22%
3 IRT 3 11%
4 Tukang Batu 1 3,8%
5 Kebun 1 3,8%
6 Pedagang 2 7,4%
7 PRT 1 3,8%
8 Tidak bekerja 6 22%
9 Tidak terkaji 1 3,8%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan riwayat pekerjaan di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel diatas diketahui bahwa jumlah lansia yang paling banyak adalah
bekerja sebagai petani yaitu sebanyak 6 orang lansia (22%), buruh yaitu sebanyak
6 orang lansia (22%), tidak bekerja sebanyak 6 orang (22%)

4.6.7. Distribusi Frekuensi Penghuni Berdasarkan status Keluhan


1. Pegal Linu
Status Jumlah Presentase
Pegal linu 14 51,9%
Tidak Pegal linu 13 48,1%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan status keluhan pegal linu di Panti Jompo Bedelonje
Blitar
Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah lansia yang memiliki
keluhan pegal linu sebanyak 14 lansia (51,9%) dari jumlah 27 keseluruhan lansia.
2. Pusing
Status Jumlah Presentase
Pusing 3 11%
Tidak Pusing 24 89%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan status keluhan pusing di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah lansia ya ng memiliki


keluhan pusing sebanyak 3 orang lansia (11%) dari 27 lansia.
3. Hipertensi
Status Jumlah Presentase
Hipertensi 6 22%
Hipotensi - -
Normal 21 78%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan status hipertensi di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah lansia yang memiliki
tekanan darah tinggi berjumlah 6 lansia (22%) dan Tekanan darah normal
sebanyak 21 lansia (78%) lansia.

4. Gatal-gatal

Status Jumlah Presentase


Gatal-gatal 6 22%
Tidak gatal-gatal 21 78%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan status keluhan gatal-gatal di Panti Jompo Bedelonje
Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah lansia yang memiliki
keluhan gatal-gatal berjumlah 6 lansia (22%) dari 27 lansia.
5. Gangguan pendengaran
Status Jumlah Presentase
Tuli 2 8%
Tidak Tuli 24 92%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan status gangguan pendengaran/tuli di Panti Jompo
Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah lansia yang memiliki
gangguan pendengaran/tuli berjumlah 2 lansia (8%) dari 26 lansia.
6. Gangguan penglihatan
Status Jumlah Presentase
Normal 6 22%
Buta 1 4%
Rabun 20 74%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan status gangguan penglihatan/buta di Panti Jompo
Bedelonje Blitar

Dari gambar di atas dapat di ketahui bahwa jumlah lansia yang memiliki
gangguan penglihatan/buta berjumlah 1 lansia (4%) dari 27 lansia.
7. Tidak bisa berkomunikasi
Status Jumlah Presentase
Ya 2 7,4%
Tidak 25 92,6%
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan status keluhan batuk di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah lansia yang memiliki
keluhan tidak bisa berkomunikasi berjumlah 2 lansia (7,4%) dari 27 lansia.

4.6.8. Distribusi Frekuensi Lansia berdasarkan Depresi


No Status Jumlah Presentase
1 Tidak Depresi 7 26%
2 Depresi Ringan 18 66,6%
3 Depresi Sedang 2 7,4%
4 Depresi Berat - -
5 Tidak Terkaji - -
Total 27 100%
Tabel Lansia berdasarkan depresi Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas di ketahui bahwa jumlah lansia yang paling banyak
adalah depresi ringan yaitu sebanyak 18 orang lansia (66,6%) dari 27 lansia.
4.6.8.1. Distribusi Frekuensi Penghuni Berdasarkan MMSE
No Status Jumlah Presentase
1 Baik 7 28%
2 Gangguan kognitif ringan 4 16%
3 Gangguan kognitif berat 15 56%
4 Tidak Terkaji - -
Total 27 100%
Tabel lansia berdasarkan MMSE Pre dan Post di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah responden berdasarkan


MMSE yang paling banyak adalah gangguan kognitif berat sebanyak 15 orang
lansia (56%) dari 26 lansia.
4.6.8.2. Distribusi Frekuensi Penghuni Berdasarkan SPMSQ
No Status Jumlah Presentase
1 Normal 12 44,5%
2 Kerusakan intelektual ringan 3 11%
3 Kerusakan intelektual sedang 5 18,5%
4 Kerusakan intelektual berat 7 26%
5 Tidak Terkaji - -
Total 27 100%
Tabel lansia berdasarkan SPMSQ di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah responden berdasarkan


SPMSQ yang paling banyak adalah kerusakan intelektual berat sebanyak 7 orang
lansia (28%) dari 26 lansia.

4.6.8.3. Distribusi Frekuensi penghuni berdasarkan Apgar Keluarga


No Status Jumlah Presentase
1 Disfungsi normal 7 26%
2 Disfungsi keluarga sedang 4 15%
3 Disfungsi keluarga ringan 13 48%
4 Tidak Terkaji 3 11%
Total 27 100%
Tabel lansia berdasarkan Apgar keluarga di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah responden yang paling
banyak adalah disfungsi keluarga ringan sebanyak 13 orang lansia (48%) dari 27
jumlah lansia secara keseluruhan.
4.6.8.4. Distribusi Frekuensi penghuni berdasarkan indeks barthel
No Status Jumlah Presentase
1 Mandiri 9 33,3%
2 Ketergantungan ringan 9 33,3%
3 Ketergantungan tinggi 7 26%
4 Ketergantungan total 2 7,4%
Total 27 100%
Tabel lansia berdasarkan indeks barthel di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah responden yang paling
banyak adalah ketergantungan total sebanyak 2 orang lansia (7,4%) dari 27 lansia.

4.6.8.5. Distribusi Frekuensi penghuni berdasarkan kemampuan berkemih


No Status Jumlah Presentase
1 Mampu 16 59%
2 Tidak mampu 8 30%
3 Tidak Terkaji 3 11%
Total 27 100%
Tabel lansia berdasarkan kemampuan berkemih di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah responden yang paling
banyak adalah mampu berkemih sebanyak 16 orang lansia (59%) dari 27 lansia.
4.6.8.6. Distribusi Frekuensi penghuni berdasarkan berg balance scale
No Status Jumlah Presentase
1 Keseimbangan rendah 8 30%
2 Keseimbangan sedang 14 52%
3 Keseimbangan tinggi 2 8%
4 Tidak Terkaji 3 10%
Total 27 100%
Tabel lansia berdasarkan berg balance scale di Panti Jompo Bedelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah responden yang paling
banyak adalah keseimbangan sedang sebanyak 14 orang lansia (52%) dari 27
lansia.

4.6.8.7. Distribusi Frekuensi penghuni berdasarkan Morse Fall Scale


No Status Jumlah Presentase
1 Resiko Jatuh 18 70%
2 Normal 8 30%
Total 27 100%
Tabel lansia berdasarkan Morse Fall scale di Panti Jompo Bendelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah lansia yang resiko
terjatuh yaitu berjumlah 18 orang lansia (70%) dari 27 lansia.
4.6.8.8. Distribusi Frekuensi penghuni berdasarkan Branden Scale
Status Jumlah Presentase
Resiko dekubitus 2 7,4%
Tidak dekubitus 25 92,6%
Total 27 100%

Tabel lansia berdasarkan Branden scale di Panti Jompo Bendelonje Blitar

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa jumlah lansia yang resiko
dekubitus berjumlah 2 lansia (7,4%) dari 27 lansia.

BAB 5
PRIORITAS MASALAH

5.1 ANALISA DATA


No Data subjektif Data objektif Masalah kesehatan
1 Sebagian besar dari  Jumlah lanjut usia 27 Defisiensi Kesehatan
jumlah lansia yang orang Komunitas
 Jenis penyakit yang
ada di di Panti Jompo
diderita antara lain pegal
Bedelonje Blitar
mengalami berbagai linu 51,9%, pusing 11%,
keluhan. hipertensi 22%, gatal-gatal
22%, gangguan
penglihatan buta 4%,
gangguan penglihatan
rabun 74%, gangguan
pendengaran tuli 8%,
dekubitus 7,4%, resiko
jatuh 70%
 Lebih dari 50% lansia
mengalami gangguan
depresi ringan
 Kurang tersedianya
program untuk
mensejahterakan bagi
lansia
2 Lansia mengatakan  Sebagian besar waktu Gaya hidup monoton
aktivitas dipanti hanya lansia dihabiskan didalam
istirahat dan aktivitas ruangan
 Kuranya ada program
lainnya hanya
olahraga dipanti
pengajian setiap hari
 Tidak tersedianya sarana
selasa
dan prasarana untuk
melakukan aktivitas

5.2 MASALAH KEPERAWATAN


1. Defisiensi kesehatan komunitas
2. Gaya hidup monoton
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC
1. Gaya hidup monoton Prevensi Primer : Prevensi Primer :
Pengetahuan : Perilaku Kesehatan Pengajaran : Peresepan Latihan
indikator a. Monitor keterbatasan fisik dan psikologis
a. Strategi mengelola stress
pasien
b. Pola tidur-bangun normal
b. Informasikan mengenai tujuan dan manfaat dari
c. Layanan peningkatan kesehatan
d. Layanan perlindungan kesehatan latihan yang diresepkan
c. Intruksikan mengenai bagaimana melakukan
latihan yang diresepkan
d. Informasikan mengenai bagaimana
mempertahankan latihan rutin setiap hari
e. Informasikan pasien mengenai aktivitas yang
sesuai dengan kondisi fisiknya
f. Intruksikan pasien mengenai bagaimana
melakukan peregangan sebelum dan sesudah
melakukan latihan
g. Observasi pasien dalam melakukan latihan
yang diresepkan
h. Bantu pasien dalam mengatur waktu berselang
antara latihan dan istirahat
Prevensi sekunder : Prevensi sekunder :
Perilaku Patuh: Aktivitas yang Disarankan Peningkatan latihan
Indicator a. Hargai keyakinan individu terkait latihan fisik
a. Mengidentifikasi manfaat yang diharapkan b. Pertimbangkan motivasi individu untuk
dari aktivitas fisik memulai atau melanjutkan program latihan
b. Menggunakan strategi untuk mengalokasikan c. Gali hambatan untuk melakukan latihan
d. Dukung individu untuk memulai atau
waktu untuk aktivitas fisik
c. Menggunakan strategi untuk meningkatkan melanjutkan latihan
e. Informasikan individu mengenai manfaat
daya tahan tubuh
d. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik sehari hari kesehatan dari fisiologis latihan
f. Instruksikan individu terkait frekuensi, durasi
dan intensitas program latihan
g. Monitor respon individu terhadap program
latihan
h. Sediakan umpan balik positif atas usaha yang
dilakukan individu
Prevensi tersier : Prevensi tersier : Terapi aktivitas
Partisipasi dalam latihan
a. Pertimbangkan kemampuan klien dalam
indikator
berpatipasi melalui aktivitas spesifik
a. Merencanakan latihan yang tepat dengan
b. Pertimbangkan komitmen klien untuk
tenaga kesehatan sebelum memulai latihan
meningkatkan frekuensi dan jarak aktivitas
secara konsisten c. Bantu klien untuk memilih aktivitas dan
b. Menentukan target denyut jantung
pencapaian tujuan melalui aktivitas yang
berdasarkan status kesehatan secara
konsisten dengan kemampuan fisik, fisiologis
konsisten
dan sosial
c. Menyeimbangkan aktivitas sehari-hari
d. Identifikasi strategi untuk meningkatkan
dengan olahraga secara konsisten
partisipasi terkait dengan aktivitas yang
d. Memantau denyut jantung secara konsisten
e. Memantau frekuensi pernafasan secara diinginkan
e. Berikan aktivitas untuk meningkatkan perhatian
konsisten
f. Memantau perkembangan secara konsisten dan berkonsultasi dengan terapi rekreasional
g. Ikut serta dalam latihan untuk meningkatkan
(mengenai hal ini)
kekuatan secara konsisten f. Bantu dengan aktivitas fisik secara teratur
h. Ikut serta dalam latihan untuk
(misal; ambulasi, transfer/berpindah, berputar
mempertahankan fleksibilitas secara
dan kebersihan diri ), sesuai dengan kebutuhan
konsisten g. Ciptakan lingkungan yang aman untuk dapat
i. Ikut serta dalam latihan untuk
melakukan pergerakan otot secarra berskala
mempertahankan keseimbangan secara
sesuai dengan indikasi
konsisten h. Berikan pujian positif karena kesediaannya
2. Defisiensi kesehatan komunitas Prevensi primer : Prevensi Primer :
Pengetahuan : Promosi Kesehatan Pendidikan Kesehatan
indikator a. Tentukan pengetahuan kesehatan dan gaya
a. Perilaku yang meningkatkan kesehatan
hidup perilaku saat ini
b. Strategi mengelola stress
b. Rumuskan tujuan dalam program pendidikan
c. Perilaku untuk mencegah cedera yang tidak
kesehatan
disengaja
c. Hindari penggunaan teknik menakut-nakuti
d. Latihan rutin yang efektif
sebagai strategi untuk memotivasi orang untuk
mengubah perilaku kesehatan atau haya hidup
d. Kembangkan materi pendidikan tertulis yang
tersedia dan sesuaikan dengan pasien
e. Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk
menolak perilaku yang tidak sehat atau
beresiko daripada memberikan saran untuk
menghindari atau mengubah perilaku
f. Tekankan pentingnya pola makan yang sehat,
tidur, berolahraga, dan lain-lain bagi pasien
yang meneladanai nilai dan perilaku
Prevensi sekunder : Prevensi sekunder :
Perilaku Patuh (Bersifat aktif) Manajemen Perilaku
Indicator a. Atur batasan bersama pasien
a. Menggunakan strategi untuk mengeliminasi b. Tingkatkan aktifitas fisik dengan cara yang
perilaku tak sehat tepat
b. Menggunakan strategi untuk mengoptimalkan c. Hindari proyeksi dari gambaran yang dirasakan
kesehatan mengancam pasien
c. Melakukan aktivitas hidup harian sesuai d. Turunkan motivasi perilaku pasif-agresif
e. Berikan penghargaan apabila pasien dapat
dengan energy dan toleransi
mengontrol diri
Prevensi tersier : Prevensi tersier :
Dukungan sosial Peningkatan sistem dukungan
Indikator
a. Identifikasi respon psikologis terhadap situasi
a. Kemampuan untuk menghubungi orang lain
dan ketersediaan sistem dukungan
untuk meminta bantuan dengan sepenuhnya b. Tentukan kecukupan dari jaringan sosial yang
b. Bantuan yang ditawarkan oleh orang lain
ada
dengan sepenuhnya c. Tentukan hambatan terhadap sistem dukungan
c. Waktu yang disediakan oleh orang lain dengan
yang tidak terpakai dan kurang dimanfaatkan
sepenuhnya d. Anjurkan hubungan dengan orang-orang yang
d. Usaha yang disediakan oleh orang lain dengan
memiliki minat dan tujuan yang sama
sepenuhnya e. Identifikasi kekuatan dan kelemahan sumber
e. Informasi yang disediakan oleh orang lain
daya masyarakat dan advokasi terkait
dengan sepenuhnya
perubahan jika diperlukan
f. Orang-orang yang dapat membantu sesuai
f. Sediakan layanan dengan sikap perduli dan
kebutuhan dengan sepenuhnya
dukungan
g. Jaringan sosial yang membantu dengan
g. Identifikasi sumber daya yang tersedia terkait
sepenuhnya
dengan dukungan pemberi perawatan

BAB 6
PLAN OF ACTION

NO. MASALAH RENCANA TUJUAN SASARAN HARI/TGL TEMPAT PJ


KEPERAWATAN
KEPERAWATAN
1 Defisiensi 1. Penkes tentang Setelah dilakukan tindakan Lansia di menyesuaika Menyesuaikan 1. Adinda
2. Ayunda
kesehatan penyakit pada care keperawatan selama 2 kali Panti Jompo n
3. bunga
komunitas giver kegiatan, diharapkan dapat Bedelonje 4. farikha
2. Pelatihan pada care 5. ilham
meningkatkan pengetahuan Blitar
6. indah
giver tentang:
kesehatan 7. Liliani
pencegahan dekubitus 8. Okky
9. Rina
, personal higiene
terkait gatal-gatal
pada lansia dan
mengenal/mengidenti
fikasi tanda-tanda
kematian pada lansia
3. Pelatihan Batra untuk
pencegahan keju
linu/rematik
4. Kerja bakti
membersihkan
lingkungan untuk
menghilangkan
jentik-jentik nyamuk

2 Gaya hidup Mengajarkan senam pada Setelah dilakukan tindakan Lansia di menyesuaika Menyesuaikan 1. Adinda
2. Ayunda
monoton lansia: keperawatan 2 kali kegiatan, Panti Jompo n
3. bunga
1. Senam Yoga
diharapkan dapat Bedelonje 4. farikha
2. Senam Otak
5. ilham
3. Senam Kegel meningkatkan kesehatan Blitar
6. indah
4. Senam Hipertensi
lansia 7. Liliani
5. Manajemen
8. Okky
berkemih 9. Rina
RENCANA KEGIATAN

NO RENCANA TUJUAN SASARAN HARI/TGL TEMPAT PJ


KEGIATAN
1. Life Review TUM : Semua Menyesuaika Panti 1. Adinda
Setelah diberikan terapi selama 30 menit, lansia 2. Ayunda
Terapi Lansia di n Jompo
3. bunga
mengerti dan mampu melakukan Terapi Life Reviw
Panti Jompo Bedelonje 4. farikha
TUK :
5. ilham
Bedelonje Blitar
1. Menjelaskan tentang pengertian Terapi Life Review 6. indah
2. Menjelaskan tentang tujuan Terapi Terapi Life Blitar 7. Liliani
8. Okky
Review
9. Rina
3. Menjelaskan tentang cara melakukan Terapi Terapi
Life Review
2. Terapi TUM : Semua menyesuaika Panti 1. Adinda
Setelah diberikan terapi selama 30 menit, lansia 2. Ayunda
Kognitif Lansia di n Jompo
3. bunga
mengerti dan mampu melakukan Tebak Orang
“Tebak Panti Jompo Bedelonje 4. farikha
TUK :
5. ilham
Orang” Bedelonje Blitar
1. Menjelaskan tentang pengertian Terapi Kognitif 6. indah
Blitar 7. Liliani
Tebak Orang
8. Okky
2. Menjelaskan tentang tujuan Terapi Kognitif Tebak
9. Rina
Orang 1.
3. Dapat melakukan Terapi Kognitif Tebak Orang
3. Brain Gym TUM : Semua rabu, 13 Panti 1. Adinda
Setelah diberikan terapi selama 30 menit, lansia 2. Ayunda
Lansia di Maret 2019. Jompo
3. bunga
mengerti dan mampu melakukan senam otak
Panti Jompo Bedelonje 4. farikha
TUK :
5. ilham
Bedelonje Blitar
1. Menjelaskan tentang pengertian senam otak 6. indah
2. Menjelaskan tentang tujuan Senam otak Blitar 7. Liliani
3. Menjelaskan tentang cara melakukan senam otak 8. Okky
9. Rina

4. Penyuluhan TUM : Semua Kamis, 14 Panti 1. Adinda


Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit dapat 2. Ayunda
tentang Lansia di Maret 2019. Jompo
3. bunga
mengerti dan memahami tentang pengetahuan kesehatan
Kesehatan Panti Jompo Bedelonje 4. farikha
pada lansia 5. ilham
Bedelonje Blitar
TUK : 6. indah
Blitar 7. Liliani
1. Menjelaskan tentang pengertian Penyakit Pegal Linu
8. Okky
dan Hipertensi, seman anti stroke,senam otak,senam 9. Rina
kegel
2. Menjelaskan tentang penyebab Penyakit Pegal Linu
dan Hipertensi
3. Menjelaskan tentang cara pengobatan Penyakit Pegal
Linu dan Hipertensi
4. Menjelaskan manajemen nyeri, senam anti stroke,
kegel, seman otak
5. Menjelaskan tentang cara pencegahan Penyakit Pegal
Linu dan Hipertensi
DAFTAR PUSTAKA

Mubarak, W. I, Santoso, B. A, Rozikoi, K, Patonah, S. (2006). Ilmu keperawatan


komunitas 2. Jakarta : Sagung Seto.
Mubarak, W. I . (2005) Pengantar keperawatan komunitas 1. Jakarta : Sagung
Seto.
Suliswati, Payopo T. A, Maruhawa, J, Sianturi, Y, Sumijatun. (2005). Konsep
keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta : EGC.
Widyawati, S.N. (2012). Konsep dasar keperawatan. Jakarta : Prestasi Pustaka.
Jhonson, R & Leni, R. (2010). Keperawatan Keluarga. Jogjakarta : Nuha Medika.
Mubarak, W, I, Santoso, B, A, Rosikin, K & Patonah, S. (2006). Buku Ajar Ilmu
Keperawatan Komunitas 2 Teori & Aplikasi Dalam Praktik Dengan
Pendekatan Asuhan Keperawatan Komunitas, Gerontik dan Keluarga.
Jogjakarta : Sagung Seto.
Setiadi. (2008). Konsep & proses Keperawatan Keluarga. Jogjakarta : Graha
Ilmu.
Sulistyo, A. (2012). Keperawatan Keluarga Konsep Teori dan Praktik
Keperawatan. Jogjakarta : Graha Ilmu.
Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi Dalam Praktik.
Jakarta : EGC.