Anda di halaman 1dari 6

BAB II

PEMBAHASAN

1.1 Konsep Komunikasi pada Pasien Gangguan Mental


Menurut American Psychiatric Association (APA, 1994), gangguan mental adalah
gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang tampak secara klinis yang terjadi
pada seseorang dari berhubungan dengan keadaan distres (gejala yang menyakitkan)
atau ketidakmampuan (gangguan pada satu area atau lebih dari fungsi-fungsi penting)
yang meningkatkan risiko terhadap kematian, nyeri, ketidakmampuan atau kehilangan
kebebasan yang penting, dan tidak jarang respon tersebut dapat diterima pada kondisi
tertentu.

Menurut Townsend (1996) mental illness adalah respon maladaptive terhadap


stresor dari lingkungan dalam/luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan, dan tingkah
laku yang tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu fungsi
sosial, kerja, dan fisik individu.

Konsep Gangguan Jiwa dari PPDGJ II yang merujuk ke DSM-III adalah sindrom
atau pola perilaku, atau psikologi seseorang, yang secara klinik cukup bermakna, dan
yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distres) atau hendaya
(impairment/disability) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia
(Maslim, 2002).

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar,


bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Purwanto,1994).
Teknik komunikasi terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan yang
terapeutik dimana terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran
dengan maksud untuk mempengaruhi orang lain (Stuart & sundeen,1995).
Adapun tujuan komunikasi terapeutik adalah:
1. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan
pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila
pasien percaya pada hal yang diperlukan;
2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif
dan mempertahankan kekuatan egonya;
3. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.
Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan mengajarkan kerja
sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Perawat
berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta
mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan (Purwanto, 1994).
Prinsip-prinsip komunikasi adalah:
1. Klien harus merupakan fokus utama dari interaksi
2. Tingkah laku professional mengatur hubungan terapeutik
3. Membuka diri dapat digunakan hanya pada saat membuka diri
mempunyai tujuan terapeutik
4. Hubungan sosial dengan klien harus dihindari
5. Kerahasiaan klien harus dijaga
6. Kompetensi intelektual harus dikaji untuk menentukan pemahaman
7. Implementasi intervensi berdasarkan teori
8. Memelihara interaksi yang tidak menilai, dan hindari membuat
penilaian tentang tingkah laku klien dan memberi nasihat
9. Beri petunjuk klien untuk menginterprestasikan kembali
pengalamannya secara rasional
10. Telusuri interaksi verbal klien melalui statemen klarifikasi dan hindari
perubahan subyek/topik jika perubahan isi topik tidak merupakan
sesuatu yang sangat menarik klien.
Berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah teknik
khusus, ada beberapa hal yang membedakan berkomunikasi antara orang gangguan
jiwa dengan gangguan akibat penyakit fisik. Perbedaannya adalah :

1. Penderita gangguan jiwa cenderung mengalami gangguan konsep diri,


penderita gangguan penyakit fisik masih memiliki konsep diri yang
wajar (kecuali pasien dengan perubahan fisik, ex : pasien dengan
penyakit kulit, pasien amputasi, pasien pentakit terminal dll).
2. Penderita gangguan jiwa cenderung asyik dengan dirinya sendiri
sedangkan penderita penyakit fisik membutuhkan support dari orang
lain.
3. Penderita gangguan jiwa cenderung sehat secara fisik, penderita
penyakit fisik bisa saja jiwanya sehat tetapi bisa juga ikut terganggu.

Komunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah dasar


pengetahuan tentang ilmu komunikasi yang benar, ide yang mereka lontarkan
terkadang melompat, fokus terhadap topik bisa saja rendah, kemampuan menciptakan
dan mengolah kata – kata bisa saja kacau balau.

2.1 Komunikasi Teraupetik pada Pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada Pasien


Gangguan Mental

2.1.1 Prinsip –prinsip komunikasi terapeutik pada klien gangguan mental


Pada klien dengan masalah gannguan jiwa memerlukan teknik yang berbeda
dengan klien yang memiliki masalh kesehatan fisik. Karakteristik yang dimiliki
oleh perawat dalam melakukan interaksi dengan klien gangguan jiwa adalah :
1. Tidak menghakimi (nonjudgmental approach)
Salah satu karakteristik caring dari perawt adalah tidak menghakimi klien.
Namun pada beberapa kondisi tindakan menghakimi juga diperlukan, seperti
ketika menetapkan diagnosa keperawatan dan memnentukan rencana tindakan
keperawtan pada klien. Pendekatan tidak menghakimi maksudnya adalah kita
tidak melaakukan tindakan kasar atau tindakan yang didasarkan atas
keputusan yang berdasarkan kesimpulan sepihak kepada klien baik secara
verbal maupun non verbal. Misalnya “ anda tampak kesal, saya akan
melakukan teknik relaksasi untuk menghilangkan rasa kesal anda”. Dalam
komunikasi tersebut, klien tidak diberi kesempatan mengungkapkan
perasaannya. Keputusan yang diambil perawat hanya berdasarkan hasil
pengamatan yang dangkal.
Cara yang dapat dilakukan agar perawat tidak terjebak pada tindakan
menghakimi adalah dengan meningkatkan kesadaran diri perawat, dan
memberikan kesemptan pada klien sebagai orang yang mampu diberikan
tanggung jawab, memberikan kesempatan klien mengambil keputusan.
2. Menerima (acceptance)
Sikap menerima merupakan karakteristik lain dari perawat yang caring.
Penerimaan adalah menegaskan klien sebagaimana adanya dan mengakui
bahwa klien memliki hak untuk mengekspresikan emosi dan pikirannya.
Perawat yang memiliki sifat menerima terlihat dari sikap menghargai pikiran
dan perasaan klien dan membantu mereka untuk memahami diri sendiri.
3. Hangat (warmth)
sikap hangat terlihat perhatian pada klien dan mengungkapkan kesenangan
dalam merawat klien. Dapat diungkapkan secara nonverbal, sikap positif, nada
yang ramah, dan senyum yang hangat. Mencondongkan badan ke depan dan
mempertahan kan kontak mata, sentuhan fisik, menerima, dan tidak membuat
rasa takut klien.
4. Empati
Sikap paling utama dalam menunjukkan caring. Berarti memahami pikiran dan
perasaan klien dan ikut merasakan perasaannya tapi tidak ikut terlarut
didalamnya. Dalam mencapai empati ada 2 proses yang dilewati yaitu
memahami dan validasi. Langkah pertama memahami perasaan klien melalui
observasi. Kedua memvalidasi perasaan klien dengan memfasilitasi hubungan
terapeutik dan membantu klien memahami dirinya sendiri.
5. Keaslian (authenticity)
Menjadi perawat yang caring hars memiliki pribadi yang tulus dan menjadi
diri sendiri dalam menjalin hubungan dengan klien. Ketika kita komitmen
dengan klien, maka kita harus bersikap profesional. Maksudnya adalah
berperan sebagai tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan
dengan tujuan untuk menyembuhkan klien.
6. Kongruensi(congruency)
Kesesuaian antara komunikasi verbal dan nonverbal meupakan indikasi dari
kongruensi. Kongruensi dibutuhkan untuk menumbuhkan hubungan saling
percaya antara perawat dan klien.
7. Sabar (patience)
Untuk membina hubungan terapeutik sikap sabr diperlukan. Agr dapat
meningkatkan kemandirian klien. Sabar artinya memberikan klien ruang
untukmengungkapkan perasaannya, berfikir, mengambil keputusan, dan
memberikan kesempatan untuk membuat perencanaan sesuai keinginan dan
kebutuhannya.
8. Hormat (respect)
Menghargai klien merupakan karakteristik lain dari perawat caring. Sikap
hormat termasuk pertimbangan untuk klien, komitmen melindungi mereka
dari bahaya lain dan percaya terhadap kemampuan mereka dalam
menyelesaikan masalah atasu melakukan perawatan secara mandiri.
9. Dapat dipercaya (trustworthiness)
Karakter ini mengawali karakter lain dari caring, dengan kemampuan
interpersonal yang baik, dapat membantu perawat mengotrol emosinal klien ,
dan membantu membangun hbungan Sling percaya dengan klien. Karakter ini
harus ditunjukkan dalam berbagai proses keperawatan.ketika kita percaya oleh
klien maka kita menjadi tempat bergantung dan bertanggung jawab. Untuk
membangun kepercayaan lain, sikap yang harus dibangun adalah komitmen
terhadap waktu, menjaga janji, dan konsisten terhadap sikap.
10. Terbuka (self - disclosure)
Hubungan saling percaya dapat terbina ketika perawat bersikap terbuka. Untuk
menumbuhkan sikap terbuka pada klien dapat dilakukan dengan mendengar
klien percay dengan apa yang mereka lakukan, tidak menghakimi.
11. Humor
Humor merupakan karakteristik yang penting dalam membina hubungan
terapeutik dengan klien. Humor dapat menciptakan hubungan yang hangat
dengan klien, menghilangkan rasa takut dan khawatir klien terhadap perawat.

Teknik komunikasi terapeutik pada klien gangguan mental


Ada beberapa tekhnik yang dapat dilakukan :
1. Pdaa klien halusinasi, perbanyak aktivitas komunikasi, baik mwminta
klien berkomunikasi dengna klien lain ataupun dengan perawat
2. Pada klien harga diri rendah, harus banyak diberikan reinfoecement positif
3. Pada klien menarik diri, sering libatkan klien dalam aktivitas atau kegiatan
yang bersama sama
4. Pada klien dengna perilaku kekerasan, reduksi kemarahan klien dengan
terapi farmakologi, setelah tenang baru dapat diajak untuk berkomunikasi
Ada beberapa komponen yang harus deiperhatikan dalam berkomunikasi
dengan klien gangguan mental :
1. Support system. Dukungan dari keluarga atau orang lain.
2. Mekanisme koping. Cara seseorang berespon terhadap stressor
3. Harga diri. Pandangan individu terhadap dirinya
4. Ideal diri. Bagaimana cara seseorang melihat dirinya dan bagaimana dia
seharusnya
5. Gambaran diri. Apakah klien menerima dirinya seutuhnya beserta
kelebihan dan kekurangannya
6. Tumbuh kembang. Trauma masa lalu akan mempengaruhi kesabaran jiwa
masa sekarang
7. Pola asuh. Kesalhan dalam mengasuh anak dapat mempengaruhi
psikologis anak
8. Genetika. Gangguan jiwa dapat diturunkan secara genetik , bahkan pada
saudara kembar.
9. Lingkungan. Lingkungan yang buruk merupakan salah satu pemicu
munculnya gangguan jiwa
10. Penyalahgunaan zat. Memicu terjadi depresi susunan saraf pusat,
perubahan oada neurotransmitter.
11. Perawatan diri. Perawatan diri yang buruk dapat memicu muncul perasaan
minder
12. Kesehatan fisik. Gangguan pada sistem saraf dapat merubah fungsi
neurologis.