Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN


DIABETUS MELLITUS TYPE II

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik

Oleh:
Adinda Dwi Karnita 1511001
Farikha Nur Mulya Saputri 1511004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PATRIA HUSADA
BLITAR
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi didalam kehidupan
manusia. Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan tahapan-
tahapan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai dengan semakin
rentannya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit yang dapat menyebabkan
kematian misalnya pada sistem kardiovaskuler dan pembuluh darah, pernafasan,
pencernaan, endokrin dan lain sebagainya. Hal tersebut disebabkan seiring
meningkatnya usia sehingga terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan,
serta sistem organ. Pada usia lanjut terjadi perubahan anatomik-fisiologik dan dapat
timbul pula penyakit-penyakit pada sistem endokrin khususnya penyakit diabetes
mellitus. Perubahan tersebut pada umumnya berpengaruh pada kemunduran kesehatan
fisik dan psikis yang pada akhirnya akan berpengaruh pada ekonomi dan sosial lansia.
Sehingga secara umum akan berpengaruh pada activity of daily living (Fatmah, 2010).
Usia harapan hidup lansia di Indonesia semakin meningkat karena pengaruh status
kesehatan, status gizi, tingkat pendidikan, ilmu pengetahuan dan sosial ekonomi yang
semakin meningkat sehingga populasi lansia pun meningkat.
Penyakit DM sering terjadi pada kaum lanjut usia. Diantara individu yang berusia
>65 tahun, 8,6 % menderita DM tipe II. Angka ini mencakup 15 % populasi pada panti
lansia (Steele, 2008). Laporan statistik dari International Diabetik Federation
menyebutkan, bahwa sudah ada sekitar 230 juta orang pasien DM. Angka ini terus
bertambah hingga 3 % atau sekitar 7 juta orang tiap tahunnya. Dengan demikian, jumlah
pasien DM diperkirakan akan mencapai 350 juta orang pada tahun 2025 dan setengah
dari angka tersebut berada di Asia, terutama India, Cina, Pakistan, dan Indonesia
(Tandra, 2007).
Kasus Diabetes Mellitus (DM) sebanyak 28.858 kasus diderita usia 45-64 tahun,
yang terdiri 4.438 DMTI (Diabetes Mellitus Tergantung Insulin) atau DM tipe 1 dan
24.420 DMTTI (Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin) atau DM tipe 2.
Sedangkan usia >65 tahun terdapat 11.212 kasus DM, yang terdiri 3.820 DMTI
(Diabetes Mellitus Tergantung Insulin) atau DM tipe 1 dan 7.392 DMTTI (Diabetes
Mellitus Tidak Tergantung Insulin) atau DM tipe 2 (Profil Kesehatan Kota Semarang,
2010).
Diabetes melitus pada lanjut usia umumnya adalah diabetes tipe yang tidak
tergantung insulin (NIDDM). Prevalensi diabetes melitus makin meningkat pada lanjut
usia. Meningkatnya prevalensi diabetes melitus di beberapa negara berkembang akibat
peningkatan kemakmuran di negara yang bersangkutan dipengaruhi oleh banyak faktor
antara lain peningkatan pendapatan perkapita dan perubahan gaya hidup terutama di
kota besar menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit degeneratif.
Hasil pendataan yang dilakukan oleh penulis di puskesmas tanjung rejo desa percut
kecamatan deli serdang tahun 2015 terdapat jumlah usia lanjut > 45 tahun sebanyak 16
orang dan lansia yang menderita penyakit diabetes melitus diwilayah kerja puskesmas
tanjung rejo desa percut sejumlah 14 pasien.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Konsep medis lansia


2.1.1. Definisi lansia
Menua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses
menua merupakan proses sepanjang hidup yang hanya di mulai dari satu waktu tertentu,
tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menua merupakan proses alamiah, yang
berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua.
Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis, maupun psikologis. Memasuki usia tua
berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit
mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas,
penglihatan semakin memburuk, gerakan-gerakan lambat, dan postur tubuh yang tidak
proforsional (Nugroho, 2008).

2.1.2. Penyebab terjadinya penuaan pada lansia


Banyak faktor yang menyebabkan setiap orang menjadi tua melalui proses
penuaan. Pada dasarnya berbagai faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor
internal dan faktor eksternal. Beberapa faktor internal adalah radikal bebas, hormon
yang menurun kadarnya, proses glikosilasi, sistem kekebalan tubuh yang menurun dan
juga faktor genetik. Sedangkan faktor eksternal adalah gaya hidup yang tidak sehat, diet
yang tidak sehat, kebiasaan hidup yang salah, paparan polusi lingkungan dan sinar
ultraviolet, stres dan penyebab sosial lain seperti kemiskinan. Kedua faktor ini saling
terkait dan memainkan peran yang besar dalam penyebab proses penuaan (Uchil Nissa,
2014).

2.1.3. Perubahan lansia pada sistem endokrin


Sekitar 50% lansia menunjukka intoleransi glukosa, dengan kadar gula puasa
yang normal. Penyebab dari terjadinya intoleransi glukosa ini adalah faktor diet,
obesitas, kurangnya olahraga, dan penuaan. Frekuensi hipertiroid pada lansia yaitu
sebanyak 25%, sekitar 75% dari jumlah tersebut mempunyai gejala, dan sebagian
menunjukkan “apatheic thyrotoxicosis”.
Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem endokrin
akibat proses menua:
1. Kadar glukosa darah meningkat. Implikasi dari hal ini adalah glukosa
darah puasa 140 mg/dL dianggap normal.
2. Ambang batas ginjal untuk glukosa meningkat. Implikasi dari hal ini
adalah kadar glukosa darah 2 jam PP 140-200 mg/dL dianggap normal.
3. Residu urin di dalam kandung kemih meningkat. Implikasi dari hal ini
adalah pemantauan glukosa urin tidak dapat diandalkan.
4. Kelenjar tiroad menjadi lebih kecil, produksi T3 dan T4 sedikit menurun,
dan waktu paruh T3 dan T4 meningkat. Implikasi dari hal ini adalah
serum T3 dan T4 tetap stabil.

2.1.4. Patofisiologi penyakit diabetes akibat penuaan


Diabetes mellitus adalah “suatu gangguan metabolik yang melibatkan berbagai
sistem fisiologi, yang paling kritis adalah melibatkan metabolisme glukosa.” Fungsi
vaskular, renal, neurologis dan penglihatan pada orang yang mengalami diabetes dapat
terganggu dengan proses penyakit ini, walaupun perubahan-perubahan ini terjadi pada
jaringan yang tidak memerlukan insulin untuk berfungsi (Stanley, Mickey, 2006).
Beberapa kondisi dapat menjadi predisposisi bagi seseorang untuk mengalami
diabetes, walaupun terdapat dua tipe yang dominan. Diabetes mellitus tergantung
insulin (Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)), atau diabetes tipe I, terjadi bila
seseorang tidak mampu untuk memproduksi insulin endigen yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan tubuh. Tipe diabetes ini terutama dialami oleh orang yang lebih
muda. Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (Non-Insulin Dependent Diabetes
Mellitus (NIDDM)) atau diabetes tipe II, adalah bentuk yang paling sering pada
penyakit ini. Antara 85-90 % orang dengan diabetes memiliki tipe NIDDM, yang lebih
dekat dihubungkan dengan obesitas daripada dengan ketidakmampuan untuk
memproduksi insulin (Stanley, Mickey, 2006).
NIDDM, bentuk penyakit yang paling sering diantara lansia, adalah ancaman
serius terhadap kesehatan karena beberapa alasan. Pertama, komplikasi kronis yang
dialami dalam hubungannya dengan fungsi penglihatan, sirkulasi, neurologis, dan
perkemihan dapat lebih menambah beban pada sistem tubuh yang telah mengalami
penurunan akibat penuaan. Kedua, sindrom hiperglikemia hipeosmolar nonketotik,
suatu komplikasi diabetes yang dapat mengancam jiwa meliputi hiperglikemia,
peningkatan osmolalitas serum, dan dehidras, yang terjadi lebih sering di antara lansia
(Stanley, Mickey, 2006).

2.1.5. Karakteristik penyakit diabetes mellitus pada lansia


Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik
peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau keduanya. Glukosa dibentuk di hati dari makanan yang
dikonsumsi dan secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Insulin
merupakan suatu hormon yang diproduksi pankreas yang berfungsi mengendalikan
kadar glukosa dalam darah dengan mengatur produksi dan penyimpanannya (American
Diabetes Assosiation, 2004 dalam Smeltzer&Bare, 2008).
Secara klinis terdapat dua tipe DM yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1
disebabkan karena kurangnya insulin secara absolut akibat proses autoimun sedangkan
DM tipe 2 merupakan kasus terbanyak (90-95% dari seluruh kasus diabetes) yang
umumnya mempunyai latar belakang kelainan diawali dengan resistensi insulin
(American Council on Exercise, 2001; Smeltzer&Bare, 2008). DM tipe 2 berlangsung
lambat dan progresif, sehingga tidak terdeteksi karena gejala yang dialami pasien sering
bersifat ringan seperti kelelahan, iritabilitas, poliuria,polidipsi dan luka yang lama
sembuh (Smeltzer&Bare, 2008).

2.1.6. Pencegahan
1. Pencegahan primer
Pendidikan tentang kebutuhan diet mungkin diperlukan. Suatu perencanaan
makanan yang terdiri dari 10% lemak, 15% protein, dan 75% karbohidrat kompleks
direkomendasikan untuk mencegah diabetes. Kandungan rendah lemak dalam diet ini
tidak hanya mencegah arterosklerosis, tetapi juga meningkatkan aktivitas reseptor
insulin (Stanley, Mickey, 2006).
Latihan juga diperlukan untuk membantu mencegah diabetes. Berjalan atau
berenang, dua aktivitas dengan dampak rendah, merupakan permulaan yang sanga baik
untuk para pemula.
2. Pencegahan sekunder
a. Penapisan
Kadar gula darah harus diperiksa secara rutin sebagai komponen dari
penapisan, tetapi hasil yang negatif dalam gejala ringan yang lain tidak dapat
dianggap sebagai suatu kesimpulan. Tes toleransi glukosa oral pada umumnya
dianggap lebih sensitif dan merupakan indikator yang dapat diandalkan
daripada kadar glukosa darah puasa dan harus dilakukan untuk menentukan
diagnosis dan perawatan awal NIDDM (Stanley, Mickey, 2006).

b. Nutrisi
Perawat yang membantu lansia dalam merencanakan makan dapat mengambil
kesempatan untuk memberikan pendidikan kepada klien tentang prinsip umum
nutrisi yang baik. Perawat dapat mengajarkan klien tentang membaca label
untuk menghindari asupan sehari-hari, memilih sumber-sumber makanan
rendah kolesterol, dan memasukkan serat yang adekuat dalam diet mereka
(Stanley, Mickey, 2006).

c. Olahraga
Untuk lansia dengan NIDDM, olahraga dapat secara langsung meningkatkan
fungsi fisiologis dengan mengurangi kadar glukosa darah, meningkatkan
stamina dan kesejahteraan emosional, dan meningkatkan sirkulasi. Walaupun
berenang dan berjalan cepat telah dinyatakan sebagai pilihan yang sangat baik
untuk lansia dengan NIDDM, tipe aktivitas lainnya juga sama-sama
bermanfaat. Khususnya, aerobik yang menawarkan manfaat paling banyak.
Seseorang dengan NIDDM harus melakukan latihan minimal satu kali setiap 3
hari (Stanley, Mickey, 2006).

d. Pengobatan
Bila intervensi sebelumnya tidak berhasil dalam memodifikasi kadar gula
darah dan gejala-gejala, terapi agens oral dan insulin akan diperlukan untuk
menambah suplai dari tubuh (Stanley, Mickey, 2006).
2.2.Konsep keperawatan gerontik
2.2.1. Pengkajian
Tujuan :
1. Menentukan kemampuan klien untuk memelihara diri sendiri.
2. Melengkapi dasar – dasar rencana perawatan individu.
3. Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien.
4. Memberi waktu kepada klien untuk menjawab.

2.2.2. Wawancara
a. Pandangan lanjut usia tentang kesehatan.
b. Kegiatan yang mampu di lakukan lanjut usia.
c. Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri.
d. Kekuatan fisik lanjut usia : otot, sendi, penglihatan, dan pndengaran.
e. Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, BAB/BAK.
f. Kebiasaan gerak badan / olahraga /senam lanjut usia.
g. Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan.
h. Kebiasaan lanjut usia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan dalam minum
obat.
i. Masalah-masalah seksual yang telah di rasakan.

2.2.3. Pemeriksaan fisik


a. Pemeriksanaan di lakukan dengan cara inspeksi, palpilasi, perkusi, dan
auskultasi untuk mengetahui perubahan sistem tubuh.
b. Pendekatan yang di gunakan dalam pemeriksanaan fisik,yaitu : Head to toe.

2.2.4. Psikologis
a. Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan.
b. Apakah dirinya merasa di butuhkan atau tidak.
c. Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan.
d. Bagaimana mengatasi stress yang di alami.
e. Apakah mudah dalam menyesuaikan diri.
f. Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan.
g. Apakah harapan pada saat ini dan akan datang.
h. Perlu di kaji juga mengenai fungsi kognitif: daya ingat, proses pikir, alam
perasaan, orientasi, dan kemampuan dalam penyelesaikan masalah.

2.2.5. Sosial ekonomi


a. Darimana sumber keuangan lanjut usia
b. Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang.
c. Dengan siapa dia tinggal.
d. Kegiatan organisasi apa yang di ikuti lanjut usia.
e. Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya.
f. Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
g. Siapa saja yang bisa mengunjungi.
h. Seberapa besar ketergantungannya.
i. Apakah dapat menyalurkan hoby atau keinginannya dengan fasilitas yang ada.

2.2.6. Spiritual
a. Apakah secara teratur malakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya.
b. Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan,
misalnya pengajian dan penyantunan anak yatim atau fakir miskin.
c. Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalah apakah dengan berdoa.
d. Apakah lanjut usia terlihat tabah dan tawakal.

2.2.7. Diagnosa keperawatan


1. Aspek fisik atau biologis
a. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
b. Gangguan pola tidur
c. Inkontinensia urin fungsional
d. Gangguan proses berpikir
e. Kelemahan mobilitas fisik
f. Kelelahan
g. Risiko kerusakan integritas kulit.
h. Kerusakan memori
2. Aspek psikososial
a. Koping tidak efektif
b. Isolasi social
c. Gangguan harga diri
d. Cemas
e. Resiko kesendirian.
2.2.8. Intervensi keperawatan
No
Diagnosa keperawatan NOC NIC
.
Aspek fisik atau biologis
1. Ketidakseimbangan Status nutrisi Manajemen
nutrisi : kurang dari 1. Asupan nutrisi tidak ketidakteraturan makan
kebutuhan tubuh bermasalah (eating disorder
2. Asupan makanan dan management)
cairan tidak 1. Kolaborasi dengan
bermasalah anggota tim kesehatan
3. Energy tdak untuk memuat
bermasalah perencanaan
4. Berat badan ideal perawatan jika sesuai.
2. Diskusikan dengan
tim dan pasien untuk
membuat target berat
badann, jika berat
badan pasien tdak
sesuia dengan usia
dan bentuk tubuh.
3. Diskusikan dengan
ahli gizi untuk
menentukan asupan
kalori setiap hari
supaya mencapai dan
atau mempertahankan
berat badan sesuai
target.
4. Ajarkan dan kuatkan
konsep nutrisi yang
baik pada pasien
5. Kembangkan
hubungan suportif
dengna pasien.
6. Dorong pasien untuk
memonitor diri sendiri
terhadap asupan
makanan dan
kenaikan atau
pemeliharaan berat
badan.
7. Gunakan teknik
modifikasi tingkah
laku untuk
meningkatkan berat
badan dan untuk
menimimalkan berat
badan.
8. Berikan pujian atas
peningkatan berat
badan dan tingkah
laku yang mendukung
peningkatan berat
badan.
2. Gangguan pola tidur 1. Mengatur jumlah jam Peningkatan tidur
tidurnya 1. Tetapkan pola
2. Tidur secara rutin kegiatan dan tidur
3. Miningkatkan pola pasien.
tidur 2. Monitor pola tidur
4. Meningkatkan kualitas pasien dan jumlah
tidur jam tidurnya.
5. Tidak ada gangguan 3. Jelaskan pentingnya
tidur tidur selama sakit dan
stress fisik.
4. Bantu pasien untuk
menghilangkan situasi
stress sebelum jam
tidurnya.
3. Inkontinensia urin 1. Kontinensia urin Perawatan inkontinensia
fungsional 2. Merespon dengan urin
cepat keinginan buang 1. Monitor eliminasi
air kecil (BAK) urin.
3. Mampu mencapai 2. Bantu klien
toilet dan mengembangkan
mengeluarkan urin sensasi keinginan
secara tepat waktu BAK.
4. Mengosongkan bladder 3. Modifikasi baju dan
dengan lengkap lingkungan untuk
5. Mampu memprediksi memudahkan klien ke
pengeluaran urin toilet.
4. Instruksikan pasien
untuk mengonsumsi
air minum sebanyak
1500 cc/hari.
4. Gangguan proses berpikir 1. Mengingat dengan Latihan daya ingat
segera informasi yang 1. Diskusi dengan pasien
tepat dan keluarga beberapa
2. Mengingat inormasi masalah ingatan.
yang baru saja 2. Rangsang ingatan
disampaikan dengan mengulang
3. Mengingat informasi pemikiran pasien
yang sudah lalu kemarin dengan
cepat.
3. Mengenangkan
tentang pengalaman
di masalalu dengan
pasien.
5. Kelemahan mobilitas Level mobilitas (mobility Latihan dengan terapi
fisik level) gerakan (exercise
1. Memposisikan therapy ambulation)
penampilan tubuh 1. Kosultasi kepada
2. Ambulasi : berjalan pemberi terapi fisik
3. Menggerakan otot mengenai rencana
4. Menyambung gerakan yang sesuai
gerakan/mengkolabora dengan kebutuhan.
sikan gerakan 2. Dorong untuk
bergerak secara bebas
namun masih dalam
batas yang aman.
3. Gunakan alat bantu
untuk bergerak, jika
tidak kuat untuk
berdiri (mudah
goyah/tidak kokoh).

6. Kelelahan Activity tolerance Energy management


1. Memonitor usaha 1. Monitor intake nutrisi
bernapas dalam respon untuk memastikan
aktivitas sumber energi yang
2. Melaporkan aktivitas adekuat.
harian 2. Tentukan
3. Memonitor ECG dalam keterbatasan fisik
batas normal pasien.
4. Memonitor warna kulit 3. Tentukan penyebab
kelelahan.
4. Bantu pasien untuk
jadwal istirahat.
7. Risiko kerusakan Kontrol risiko (risk Penjagaan terhadap kulit
integritas kulit control) (skin surveillance)
1. Kontrol perubahan 1. Monitor area kulit
status kesehatan yang terlihat
2. Gunakan support kemerahan dan
system pribadi untuk adanya kerusakan.
mengontrol risiko 2. Monitor kulit yang
3. Mengenal perubahan sering mendapat
status kesehatan tekanan dan gesekan.
4. Monitor factor risiko 3. Monitor warna kulit.
yang berasal dari 4. Monitor suhu kulit.
lingkungan 5. Periksa pakaian, jika
pakaian terlihat terlalu
ketat.

8. Kerusakan memori Orientasi kognitif Pelatihan memori


1. Mengenal diri sendiri (memory training)
2. Mengenal orang atau 1. Stimulasi memory
hal penting dengan mengulangi
3. Mengenal tempatnya pembicaraan secara
sekarang jelas di akhir
4. Mengenal hari, bulan, pertemuan dengan
dan tahun dengan pasien.
benar 2. Mengenang
pengalaman masa lalu
dengan pasien.
3. Menyediakan gambar
untuk mengenal
ingatannya kembali.
4. Monitor perilaku
pasien selama terapi.
Aspek psikososial
1. Koping tidak efektif Koping (coping) Koping enhancement
1. Mengidentifikasi pola 1. Dorong aktifitas
koping efektif social dan komunitas
2. Mengedentifikasi pola 2. Dorong pasien untuk
koping yang tidak mengembangkan
efektif hubungan.
3. Melaporkan penurunan 3. Dorong berhubungan
stress dengan seseorang
4. Memverbalkan control yang memiliki tujuan
perasaan dan ketertarikan yang
5. Memodifikasi gaya sama.
hidup yang dibutuhkan 4. Dukung pasein untuk
6. Beradaptasi dengan menguunakan
perubahan mekanisme
perkembangan pertahanan yang
7. Menggunakan sesuai.
dukungan social yang 5. Kenalkan pasien
tersedia kepada seseorang
8. Melaporkan yang mempunyai latar
peningkatan belakang pengalaman
kenyamanan psikologis yang sama.

2. Isolasi social Lingkungan keluarga : Keterlibatan keluarga


internal (family (family involvement)
environment: interna) 1. Mengidentifikasikan
1. Berpatisipasi dalam kemampuan anggota
aktifitas bersama keluarga untuk
2. Berpatisipasi dalam terlibat dalam
tradisi keluarga perawatan pasien.
3. Menerima kunjungan 2. Menentukan sumber
dari teman dan anggota fisik, psikososial dan
keluarga besar pendidikan pemberi
4. Memberikan dukungan pelayanan kesehatan
satu sama lain yang utama.
5. Mengekspresikan 3. Mengidentifkasi
perasaan dan masalah deficit perawatan diri
kepada yang lain. pasien.
6. Mendorong anggota 4. Menentukan tinggat
keluarga untuk tidak ketergantungan pasien
ketergantungan terhadap keluarganya
7. Berpatisipasi dalam yang sesuai dengan
rekreasi dan acara umur atau
aktifitas komunitas penyakitnya.
8. Memecahkan masalah
3. Gangguan harga diri 1. Mengidentifikasi pola Peningkatan harga diri
koping terdahulu yang 1. Kuatkan rasa percaya
efektif dan pada saat diri terhadap
ini tidak mungkin lagi kemampuan pasien
digunakan akibat mengndalikan situasi.
penyakit dan 2. Menguatkan tenaga
penanganan pribadi dalam
(pemakaian alkohol mengenal dirinya.
dan obat-obatan; 3. Bantu pasien untuk
penggunaan tenaga memeriksa kembali
yang berlebihan) persepsi negative
2. Pasien dan keluarga tentang dirinya.
mengidentifikasi dan
mengungkapkan
perasaan dan reaksinya
terhadap penyakit dan
perubahan hidup yang
diperlukan
3. Mencari konseling
profesional, jika perlu,
untuk menghadapi
perubahan akibat
penyakitnya
4. Melaporkan kepuasan
dengan metode
ekspresi seksual
4. Cemas Anxiety control Anxiety reduction
1. Memonitor intensitas 1. Bantu pasien untuk
cemas menidentifikasi
2. Melaporkan tidur yang situasi percepatan
adekuat cemas.
3. Mengontrol respon 2. Dampingi pasien
cemas untuk
4. Merencanakan strategi mempromosikan
koping dalam situasi kenyamanan dan
stress mengurangi
ketakutan.
3. Identifikasi ketika
perubahan level
cemas.
4. Instuksikan pasien
dalam teknik
relaksasi.
5. Resiko kesendirian Family Coping Family support
1. Mendemontrasikan 1. Bantu pekembangan
fleksibelitas peran harapan yang realistis.
2. Mengatur masalah 2. Identifikasi alami
3. Menggunakan strategi dukungan spiritual
pengurangan stress bagi keluarga.
4. Menghadapi masalah 3. Berikan kepercayaan
dalam hubungan
dengan keluarga.
4. Dengarkan untuk
berhubungan dengan
keluarga, perasan dan
pertanyaan.
6. Gangguan citra tubuh 1. Merasa puas dengan Peningkatan citra tubuh
penampilan tubuhnya 1. Bantu pasien untuk
2. Merasa puas dengan mendiskusikan
fungsi anggota perubahan karena
badannya penyakit atau
3. Mendiskripsikan pembedahan.
bagian tubuh tambahan 2. Memutuskan apakah
perubahan fisik yang
baru saja diterima
dapat masuk dalam
citra tubuh pasien.
3. Memudahkan
hubungan dengan
individu lain yang
mempunyai penyakit
yang sama.
BAB 3
TINJAUAN KASUS

Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan gerontik ini dilaksanakan didusun X pada


tanggal 7-11 Desember 2015, yang mana penulis mengadakan kunjungan rumah sebanyak
15 kepala keluarga diobservasi dengan usia lansia 55-65 tahun keatas sebanyak 5 orang.
Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan gerontik penulis melakukan pelayanan kesehatan
hanya pada Ny.S, adapun langkah-langkah pembuatan asuhan keperawatan gerontik dapat
dijelaskan sebagai berikut:

3.1.Pengkajian
3.1.1. Pengumpulan data
1. Identitas
Ny.S berumur 60 tahun, jenis kelamin perempuan, sudah kawin, beragama islam, suku
jawa dan berkebangsaan Indonesia.

2. Riwayat pekerjaan dan status ekonomi


Tn.Z mengatakan semenjak sakit diabetes tidak bekerja lagi hanya Tn.Z menjaga
warung disamping rumahnya, pekerjaan sebelumnya Tn.Z sebagai nelayan dan menjual
ikan hasil tangkapannya ke pasar sedangkan Ny.S bekerja sebagai petani dan membantu
suaminya untuk bertani disawah. Pendapatan Ny.S tidak menentu dalam 1 bulan, yaitu ±
350.000/bulan. Dan anak satu-satunya terkadang mau memberi uang tambahan pada orang
tuanya.

3. Lingkungan tempat tinggal kebersihan dan kerapihan


Rumah Tn.Z merupakan rumah milik pribadi dengan ukuran kurang lebih 100 m2.
Termasuk rumah permanent, berdinding tembok lantainya dari semen. Mempunyai 1 ruang
tamu, 2 kamar tidur, 1 ruang makan, 1 dapur , 1 kamar mandi dan WC. Saat dilakukan
pengkajian ventilasi rumah sudah mencukupi 10% dari total bangunan dan lingkungannya
tampak kurang bersih, banyak lawa-lawa diventilasi dan jendela.
Penerangan dalam ruangan dirumah Tn.Z kurang terang pada siang hari dikarenakan
jendela rumah jarang dibuka sehingga sirkulasi dalam ruangan tidak nyaman, keadaan
kamar tidur kurang rapi, dapur terlihat berantakan karena alat-alat dapur tidak disusun
dengan rapi, kamar mandi tampak kotor dan berlumut.
Keluarga memperoleh air minum dari sumur pompa yang ada dirumahnya. Kualitas
air jernih dan tidak berbau. Keluarga selalu memasak air sumur sampai
mendidih.Persediaan air mencukupi kebutuhan keluarga, apabila pompa rusak keluarga
berusaha untuk membeli air minum.
Keluarga mempunyai jamban sendiri, pembuangan tinja melalui septik tank.
Kebiasaan keluarga Tn.Z memelihara jamban tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga
jamban menjadi tumpukan sampah, tidak terpelihara dan berbau.
Keluarga memiliki tempat pembuangan sampah dan biasanya keluarga membakar
sampah dibelakang rumahnya. Pengolahan air limbah keluarga kurang baik, dibuang ke
selokan dan tersumbat akibat sampah yang dibuang sembarangan.
Lingkungan rumah Ny.S tampak bersih, pekarangan tidak dimanfaatkan secara
maksimal hanya ada beberapa tanaman saja.

4. Riwayat kesehatan
a. Status kesehatan saat ini
Keadaan Ny.S saat ini kurang membaik. Klien mengeluh dengan penyakitnya, klien
mengatakan menderita penyakit diabetes, ada luka pada ibu jari kaki sebelah kanan
berwarna merah sekitar 2 cm dan tidak sembuh sejak 3 bulan yang lalu. Luka sudah
diobati, namun belum bisa sembuh sampai sekarang. Ny.S merasa banyak minum tapi juga
banyak kencing walaupun pada dasarnya Ny.S juga udah sering minum banyak. Klien
tampak lemas, sering ngantuk, berat badan menurun dari 75 kg menjadi 60 kg, mukosa
mulut dan bibir klien kering, pandangan kabur dan klien cemas dengan kondisinya saat ini.
Keluarga mengatakan Ny.S dibawa berobat ke puskesmas namun penyakitnya tidak bisa
sembuh karena jarang kontrol ke puskesmas.

b. Riwayat kesehatan masa lalu


Tn.Z mengatakan tidak ada penyakit masa lalu dan tidak ada alergi terhadap makanan,
obat-obatan dan tidak pernah anggota keluarga yang mengalami kecelakaan. Ny.S
mengatakan jika ada anggota keluarga yang sakit, Ny.S hanya meminum obat yang ada
diwarungnya dan jika tidak sembuh juga Ny.S berusaha membawa berobat ke klinik
maupun puskesmas. Keluarga juga mengatakan tidak pernah dirawat dirumah sakit.
5. Pola fungsional
a. Persepsi kesehatan dan pola manajemen kesehatan
Keluarga mengatakan selalu menjaga kesehatannya dengan makan teratur. Klien tidak
ada riwayat merokok maupun minum-minuman keras. Jika anggota keluarga sakit,
keluarga meminum obat yang ada diwarungnya maupun obat yang telah diresepkan oleh
dokter.

b. Nutrisi metabolik
Kebiasaan keluarga untuk makan dan minum setiap anggota keluarga tidak sama.
Ny.S mempunyai kebiasaan makan tidak tentu kadang 2x atau bisa lebih, suka makan-
makanan yang manis dan kadang tidak tentu berapa kali dalam sehari namun untuk minum
klien lebih senang minum teh yang kental dan manis. Klien mengatakan setelah
mengetahui menderita diabetes, klien mengurangi makan-makanan yang manis. Klien
mengatakan setiap makan hanya menghabiskan ½ porsi karena takut gula darah semakin
naik. Sedangkan Tn.Z dan anaknya makan seadanya 3x sehari, kebiasaan minum
tergantung aktivitas, ketika aktivitasnya berat minumnya bisa lebih dari 2 liter perhari,
ketika aktivitasnya biasa hanya minum 4-5 gelas berupa air putih dan air teh.

c. Eliminasi
Ny. S biasa BAB 1x/hari, BAK tergantung banyaknya air yang Tn.Z minum kalau
minumnya banyak BAK bisa lebih dari 3x. Ny.S banyak minum sehingga di sering kali
kencing terkadang sampai 10 kali sedangkan untuk BAB biasanya 1 kali sehari.

d. Aktivitas pola latihan rutinitas


Keluarga mengatakan mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari, keramas sekali 2 hari,
dan ganti pakaian tiap kali selesai mandi.
Kegiatan yang biasa dilakukan Ny.S dan Tn.Z adalah jalan-jalan disekitar rumah
sambil berbincang-bincang dengan tetangga dekat rumah mereka. Tn.Z mengatakan
kadang-kadang kakinya kesemutan.

e. Pola istirahat dan tidur


Tn.Z jarang sekali tidur siang, karena tiap hari pergi kesawah. Tidur siang jamnya
tidak tentu dan tidur malam dari pukul 22.00 sampai dengan 04.30 WIB atau ketika adzan
subuh setelah itu tidak tidur lagi sedangkan Ny. S jarang tidur siang atau hampir tidak
pernah tidur siang, untuk malam biasanya tidur diatas pukul 21.00 sampai dengan 05.00
WIB dan setelah itu tidak tidur lagi.

f. Pola kognitif-persepsi
Ny.S mengatakan mata sebelah kiri tidak bisa melihat dengan jelas, pangangan kabur
terutama menjelang malam hari. Klien mengatakan apabila keluar ruangan atau jalan-jalan
di sekitar rumah harus memegang dinding terlebih dahulu sebagai sokongan. Klien tampak
berjalan sambil memegang dinding atau pakai tongkat. Klien tampak tidak tahu dan tidak
melihat dengan jelas pada saat seseorang datang kerumah dan menanyakan kepada perawat
siapa yang datang. Klien mengatakan tidak tahu komplikasi dari diabetes mellitus,
penyebab dan perawatan diabetes terutama pada luka yang ada dijari kaki sebelah
kanannya.

g. Persepsi diri-pola konsepsi diri


Ny. S beranggapan bahwa ia mampu membiayai kebutuhan hidup. Ny. S masih tetap
semangat meskipun sudah tua dan suami tak dapat bekerja lagi. Ny.S mengatakan
tetangga-tetangganya sangat baik kepada mereka dan mau saling membantu dengan
sesama.

h. Pola peran-hubungan
Tn. Z mengatakan perannya sebagai ayah dan suami dikeluarga sangat penting dan
berharga meskipun istri saat ini sedang mengalami penyakit diabetes. Dan Ny. S sebagai
istri hanya bisa membantu untuk menjaga warung dirumah dan mendapat penghasilan
secukupnya, sedangkan An.A yang berperan sebagai anak dan bekerja mengajar anak SMP
dan mau membantu kedua orang tuanya untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

i. Sexualitas
Ny.S mempunyai 1 orang anak yang sudah dewasa dan belum menikah. Ny.S sudah
tidak pernah melakukan hubungan seksual lagi karena menderita penyakit diabetes.
j. Koping-pola toleransi stress
Tn.Z mengatakan jika ada kesulitan dalam keluarga, masih mampu untuk
mengatasinya dengan cara bermusyawarah dengan anggota keluarga dirumah.

k. Nilai keyakinan
Ny.S menganut agama Islam dan percaya terhadap agam yang dianutnya. Ny.S
mengatakan selalu berdoa kepada Tuhan jika keluarga ada masalah.

6. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : compos mentis
b. TTV :
- TD : 130/80 mmhg
- T/P : 36,2o C/82 x/i
- RR : 20 x/i
c. BB/TB : 60 kg/155 cm
d. Kepala :
- Rambut : pendek, lurus dan hitam dan mulai memutih
- Mata : konjungtiva tidak anemis dan sklera tidak ikterik
- Telinga : bersih, tidak ada serumen
- Mulut : kotor dan terdapat karang gigi
- Gigi : tidak lengkap, sudah ada yang berlubang dan ompong
- Bibir : tampak lembab
- Dada : simetris dan tidak ada pembengkakan
- Abdomen : simetris, tidak terdapat nyeri tekan
- Kulit : berwarna sawo matang, dan tidak pucat
- Ekstremitas : simetris, dan kekuatan otot baik.

3.1.2. Analisa data

No. Sign sympton Etiologi Problem


1. Ds : Gangguan Kerusakan
- Klien mengatakan ada luka metabolisme integritas kulit
pada ibu jari kaki sebelah
kanan yang tidak sembuh
sejak 3 bulan yang lalu. Luka
sudah diobati, namun sampai
sekarang luka tersebut tidak
sembuh-sembuh.
- Klien mengatakan setelah
mengetahui menderita
diabetes, klien mengurangi
makan-makanan yang manis.
- Klien mengatakan setiap
makan hanya menghabiskan ½
porsi karena takut gula darah
semakin naik.

Do :
- Ditemukan adanya luka pada
ibu jari kaki sebelah kanan
berwarna merah sekitar 2 cm.
- Klien tampak lemas dan sering
ngantuk.
- Berat badan klien menurun
dari 75 kg menjadi 60 kg.
- Mukosa mulut dan bibir klien
kering.
2. Ds : Penurunan Resiko terjadi
- Klien mengatakan mata ketajaman cedera
sebelah kiri tidak bisa melihat penglihatan
dengan jelas, pandangan kabur
terutama menjelang malam
hari.
- Klien mengatakan apabila
keluar ruangan atau jalan-jalan
di sekitar rumah harus
memegang dinding terlebih
dahulu sebagai sokongan.

Do :
- Klien tampak tidak tahu dan
tidak melihat dengan jelas
pada saat seseorang datang
kerumah dan menanyakan
kepada perawat siapa yang
datang.
- Klien tampak berjalan sambil
memegang dinding atau pakai
tongkat.
- Penerangan dalam ruangan
dirumah Tn. Z kurang terang
pada siang hari dikarenakan
jendela rumah jarang dibuka.
3. Ds : Ketidakmampuan Kurang
- Klien mengatakan mata keluarga pengetahuan
sebelah kiri tidak bisa melihat merawat anggota mengenai
dengan jelas, pandangan kabur keluarga yang penyakit
terutama menjelang malam sakit diabetes mellitus
hari.
- Klien mengatakan tidak tahu
komplikasi dari diabetes
mellitus, penyebab dan
perawatan diabetes terutama
pada luka yang ada dijari kaki
sebelah kanannya.

Do :
- Terdapat luka pada ibu jari
kaki sebelah kanan berwarna
merah sekitar 2 cm dan tidak
sembuh sejak 3 bulan yang
lalu. Luka sudah diobati,
namun belum bisa sembuh
sampai sekarang.
- Klien tampak cemas dengan
kondisinya.
3.2. Diagnosa keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit
2. Resiko terjadi cedera
3. Kurangnya pengetahuan

3.3.Intervensi keperawatan

No. Diagnosa keperawatan NOC NIC


1. Kerusakan integritas - Mukosa mulut dan 1. Kaji pengetahuan
kulit bibir tidak kering. klien mengenai
- Berat badan dalam adanya faktor resiko
batas normal. yang dapat
menyebabkan
kerusakan kulit.
2. Pantau warna, suhu,
dan kelembapan kulit
pada klien.
3. Identifikasi makanan
yang disenangi oleh
klien.
4. Libatkan keluarga
dalam perencanaan
makan sesuai
indikasi.
5. Kolaborasi
melakukan
pemeriksaan gula
darah.
2. Resiko terjadi cedera - Klien terbebas dari 1. Ajarkan kepada
cedera keluarga untuk
- Klien mampu menyediakan
menjelaskan cara lingkungan yang
untuk mencegah aman untuk pasien.
cedera 2. Identifikasi kebutuhan
- Klien mampu keamanan pasien,
menjelaskan manfaat sesuai dengan kondisi
senam mata fisik dan fungsi
- Klien mampu kognitif pasien dan
mendemonstrasikan riwayat penyakit
senam mata terdahulu pasien.
3. Ajarkan kepada
keluarga dan klien
untuk menghindarkan
lingkungan yang
berbahaya (misalnya
memindahkan
perabotan berbahaya,
kebersihan lantai
rumah dan kamar
mandi).
4. Ajarkan kepada
keluarga untuk
memberikan
penerangan yang
cukup di dalam
rumah.
5. Jelaskan manfaat
senam mata.
6. Ajarkan gerakan
senam mata
3. Kurang pengetahuan - Klien dapat 1. Jelaskan pada klien
mengenai penyakit menyebutkan penyebab diabetes
diabetes mellitus penyebab diabetes mellitus.
berhubungan mellitus. 2. Jelaskan pada klien
- Klien dapat tanda dan gejala
menyebutkan tanda diabetes mellitus
dan gejala diabetes 3. Jelaskan pada klien
mellitus. komplikasi diabetes
- Klien dapat mellitus yang dapat
menyebutkan terjadi.
komplikasi diabetes 4. Jelaskan pada
mellitus. keluarga cara
- Keluarga dapat perawatan pada
merawat anggota diabetes mellitus.
keluarga yang sakit
diabetes mellitus.
BAB 4
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Setelah dilakukan tahap-tahap pembuatan asuhan keperawatan pada lansia, penulis
mampu :
a. Melakukan pengkajian terhadap gerontik khususnya pada Ny.S dengan
gangguan diabetes melitus.
b. Menegakkan diagnosa keperawatan pada gerontik khususnya pada Ny.S dengan
gangguan diabetes melitus.
c. Menyusun rencana keperawatan pada gerontik khususnya pada Ny. S dengan
gangguan diabetes melitus.
d. Mengimplementasikan rencana keperawatan yang sudah disusun pada gerontik
khususnya pada Ny.S dengan gangguan diabetes melitus.
e. Mengevaluasi tindakan keperawatan pada gerontik khususnya pada Ny. S
dengan gangguan diabetes melitus.

4.2. Saran
1. Semoga dengan dibuatnya asuhan keperawatan ini, mahasiswa dapat
mempergunakannya dalam menambah wawasan tentang asuhan keperawatan pada
gerontik.
2. Bagi mahasiswa diharapkan untuk memperdalam pengetahuan dalam menerapkan
asuhan keperawatan gerontik secara efektif dan efisien baik teoritis maupun di
dalam kasus.
3. Bagi Ny.S selaku sebagai klien agar dapat mengontrol penyakitnya seperti
mengurangi makanan yang banyak mengandung gula serta tidak melakukan
aktivitas yang berlebihan.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Dinkes Kota Semarang. 2010. Profil Kesehatan Kota Semarang. Semarang : Dinkes
Kota Semarang.

Fatmah. 2010. Gizi Usia Lanjut. Erlangga : Jakarta.

NANDA, 2005/2006, Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, Alih Bahasa Budi


Santosa, Prima Medika, NANDA.

Stanley, Mickey dan Patricia Gauntlett Beare. (2006). Buku Ajar Keperawatan
Gerontik, Edisi 2., Jakarta: EGC.

Tandra. (2007). Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.