Anda di halaman 1dari 3

1.

Makna denotatif

Makna denotatif adalah makna sebenarnya atau makna yang memang sesuai dengan
pengertian yang dikandung oleh kata tersebut. Kata makan artinya memasukkan sesuatu ke
dalam mulut , dikunyah, dan ditelan. Arti kata makan tersebut adalah makna denotatif. Makna
denotatif disebut juga makna umum.

Contoh kata denotatif :

 Zakiyan memiliki seekor sapi perah (sapi perah: sapi yang diambil air susunya)
 Ibu Andi pergi dini hari tadi ke rumah nenek (dini: pagi sekali)
 Tangan Reno terbakar, ketika bermain api (bermain api: melakukan permainan dengan
api)
 Adik duduk di kursi empuk yang terbuat dari busa (kursi empuk: kursi yang nyaman
diduduki)
 Diana menanam bunga dihalaman depan rumahnya (menanam: kegiatan menaruh bibit,
benih, setek, atau sebagainya di dalam tanah supaya tumbuh)
 Suasana hari ini terasa sangat panas (panas: keadaan pada suhu tinggi)
 Arman sedang duduk di kursi goyang
 Neny sedang menggulung tikar (tikar: anyaman yang biasamya digunakan untuk tempat
duduk)
 Warga Menteng berhasil menangkap pencuri kambing bandot milik andi (menangkap:
memegang pencuri dan tidak melepaskan)
 Ayam itu tenggelam di sungai (tenggelam: masuk terbenam ke dalam air)
 Makanan ini terasa pahit di mulut (pahit: rasa tidak sedap seperti rasa empedu)
 Soimah jangan lari lagi (lari: menggerakkan kaki dengan cepat)

2. Makna konotatif

Makna konotatif adalah bukan makna sebenarnya. Dengan kata lain, makna kias atau
makna tambahan. Contoh kata putih bisa bermakna suci atau tulus tapi juga dapat bermakna
menyerah atau polos.

Contoh kata konotatif :

 Suhu politik di Indonesia semakin memanas (memanas: suasana tegang atau penuh
ketegangan)
 Hati Zahra hancur ketika adiknya sakit parah (hancur: sangat sedih)
 Aku bisa menangkap perkataanmu sayang (menangkap: mengerti)
 Emosi Anggi meluap ketika adiknya dipukuli (meluap: menjadi-jadi)
 Sebaiknya jangan telalu dini menghakimi orang lain (dini: cepat)
 Fendy masih hijau dalam pekerjaan ini (hijau: belum berpengalaman)
 Pengalaman pahit yang aku rasakan, menjadi penyemangat kesuksesanku. (pahit: tidak
menyenangkan hati)
 Pemilihan kepala desa tadi pagi berjalan panas (panas: suasana tegang)
 Jangan pernah lari dari masalah (lari: menghindar atau tidak mau menghadapi )
 Zahra semakin gerah dengan sikap Robert (gerah: terusik/tidak nyaman)
 Karena besar kepala, Robert dijauhi teman-temannya (besar kepala:sombong) Meskipun
Johan belum berhasil, johan tidak gigit jari (gigit jari: kecewa)
 Kamu itu jangan seperti air di atas daun talas (tidak tepat pendirian)
 Aku tenggelam di dalam lamunan (tenggelam: asyik)
 Zakia merupakan anak emas dalam keluarganya (emas: yang paling disayang)
 Setiap permasalahan sebaiknya diselesaikan dengan hati dingin (hati dingin: sabar) Saya
sangat mengenal Fitri, dia ringan tangan dan baik (ringan tangan: rajin/suka menolong)
 Para tikus kantor seharusnya tidak dihukum terlalu ringan (tikus kantor: koruptor)

3. Makna Emotif

Kosakata emotif merupakan kosakata yang berhubungan dengan emosi dan perasaan dan
bisa membuat orang tersulut emosi kala mendengar atau membacanya. Adapun emosi yang
ditimbulkan oleh kosakata emotif biasanya adalah emosi yang posisif, seperti senang ataupun
termotivasi. Kosakata emotif sendiri bisa ditemukan di dalam contoh pidato, contoh kalimat
seruan, atau dalam percakapan sehari-hari. Selain itu, kosakata emotif sendiri terkadang
mengandung makna konotatif dan contohnya, di mana kosakata emotif yang diungkapkan
maknanya belum tentu sama dengan makna yang sebenarnya.

Contoh kata emotif :

 Kamulah bidadari tak bersayap yang selama ini aku cari.


 Oleh karena itu, wahai hadirin sekalian, kita mesti turun tangan dalam mencegah tindak
kejahatan yang akhir-akhir ini telah meresahkan seluruh warga kampung kita.
 Ayolah bung, janganlah kau terus bermasam muka seperti itu!
 Mari kita didik anak-anak kita supaya tidak terjebak ke dalam arus pergaulan bebas.
 Oleh karena itu, kita mesti lebih kritis terhadap pemberitaan media agar kita tidak
termakan oleh berita palsu.
 senyumanmu begitu manis semanis madu.
 Gantungkanlah cita-cita kalian setinggi angkasa.
 Tuntutlah ilmu hingga ke ujung dunia.
 Raihlah cita-citamu dan dobraklah pintu kemustahilan.
 Engkau adalah tulang rusukku yang aku cari selama ini.
 Berusahalah hingga titik darah penghabisan!
 Kau adalah belahan jiwa yang aku cari sedari dulu.
 Cintaku ini suci, sesuci bayi yang baru terlahir ke dunia.
 Kau adalah harta karun paling berharga di dalam hidupku.
 Kau adalah tempat aku pulang, saat tak ada lagi tempat bagiku untuk singgah.
 Mari, kita rajut kembali jalinan asmara yang dulu sempat terputus.
 Mari kita mulai hari ini dengan segumpal semangat dan harapan.

Anda mungkin juga menyukai