Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN KELUARGA
DENGAN GOUT

A. KONSEP KEPERAWATAN KELUARGA


1. PENGERTIAN
Keluarga adalah perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat
oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota
keluarga selalu berinteraksi satu sama lain (Mubarak dkk, 2011, hal 67).
Menurut Friedman (1998), definisi keluarga adalah dua ataulebih
individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi
pegalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta mengidentifikasi
diri mereka sebagai bagian dari keluarga.
2. TIPE KELUARGA
Menurut Mubarak (2011 hal 70-71) keluarga dibagi beberapa tipe yaitu :
a. Secara Tradisional
Secara tradisional keluarga dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
1) Keluarga Inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang hanya terdiri
ayah, ibu dan anak ayang diperoleh dari keturunannya atau adopsi
atau keduanya.
2) Keluarga Besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambah
anggota keluarga lain yang masih mempunyai hebunhgan darah (
kakek-nenek, paman-bibi)
b. Secara Modern
Berkembangnya peran individu dan meningkatnya rasa individualisme
maka pengelompokkan tipe keluarga selain di atas adalah :
1) Tradisional Nuclear
Keluarga inti (ayah, ibu dan anak) tinggal dalam satu rumah
ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan,
satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.
2) Reconstituted Nuclear
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali
suami/istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-
anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari
perkawinan baru, satu/keduanya dapat bekerja di luar rumah.
3) Niddle Age/Aging Couple
Suami sebagai pencari uang, istri di rumah/kedua-duanya bekerja
di rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena
sekolah/perkawinan/ meniti karier.
4) Dyadic Nuclear
Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak yang
keduanya atau salah satu bekerja di luar rumah.
5) Single Parent
Satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian
pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal di rumah atau di luar
rumah.
6) Dual Carrier
Yaitu suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak.
7) Commuter Married
Suami istri atau keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada
jarak tertentu. Keduanya saling mencari pada waktu-waktu
tertentu.
8) Single Adult
Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya
keinginan untuk kawin.
9) Three Generation
Yaitu tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
10) Institusional
Yaitu anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu
panti-panti.
11) Comunal
Yaitu satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang
monogami dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam
penyediaan fasilitas.
12) Group Marriage
Yaitu satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunannya di
dalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin
dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
13) Unmaried Parent and Child
Yaitu ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anaknya
diadopsi.
14) Cohibing Couple
Yaitu dua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama tanpa
kawin.
15) Gay and Lesbian FamIly
Yaitu keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin
sama.
3. FUNGSI DAN TUGAS KELUARGA
a. Fungsi keluarga menurut friedmen (2010) sebagai berikut:
1) Fungsi afektif
Yaitu fungsi keluarga yang utama adalah untuk mengajarkan
segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarganya dalam
berhubungan dengan orang lain.
2) Fungsi sosialisasi
Adalah fungsi mengembangkan dan sebagai tempat melatih anak
untuk berkehidupan social sebelum meninggalkan rumah untuk
berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
3) Fungsi reproduksi
Adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga
kelangsungan keluarga.
4) Fungsi ekonomi.
Adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga
secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan
individu dalam meningkatkan penghasilan dalam rangka memenuhi
kebutuhan keluarga.
5) Fungsi pemeliharaan kesehatan
Yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota
keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi.
b. Tugas-tugas keluarga
Dalam sebuah keluarga ada beberapa tugas dasar didalamnya
terdapat delapan tugas pokok sebagai berikut :
a) Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
b) Memelihara sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
c) Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan
kedudukannya masing-masing.
d) Sosialisasi antar anggota keluarga.
e) Pengaturan jumlah anggota keluarga.
f) Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
g) Penetapan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih
luas.
h) Membangkitkan dorongan dan semangat anggota keluarga. Nasrul
effendy, 1998: 37. (dikutip dari Ilmu Keperawatan Komunitas).
c. Tugas keluarga dalam bidang kesehatan
Menurut Friedman (2010) sesuai dengan Fungsi Pemeliharaan
Kesehatan, keluarga mempunyai Tugas-tugas dalam bidang kesehatan
yang perlu dipahami dan dilakukan, yaitu :
1) Mengenal masalah kesehatan setiap anggota keluarganya.
2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi
keluarga.
3) Memberikan perawatan bagi anggotanya yang sakit atau yang
tidak mampu membantu dirinya sendiri karena kecacatan atau
usianya yang terlalu muda.
4) Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan
kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
5) Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan
lembaga kesehatan dengan memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan yang ada.
4. STRUKTUR KELUARGA
Struktur keluarga terdiri dari : pola dan proses komunikasi, strukrur peran,
struktur kekuatan dan struktur nilai dan norma. Dan Friedman, (dikutip
dari mubarak dkk, 2011, hal 69-70) menggambarkan sebagai berikut :
a. Struktur komunikasi
Komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila : jujur,
terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai dan ada hirarki kekuatan
b. Struktur peran
Yang dimaksud struktur peran adalah serangkaian perilaku yang
diharapkan sesuai posisi sosial yang diberikan. Jadi pada struktur peran
bisa bersifat formal atau informal.
c. Struktur kekuatan
Yang dimaksud adalah kemampuan dari individu untuk mengontrol
atau mempengaruhi atau merubah perilaku orang lain : legitimate
power (hak), referent power (ditiru), expert power (keahlian), reward
power (hadiah), coercive power (paksa) dan affective power.
d. Struktur nilai dan norma
Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota
keluarga dalam budaya tertentu, sedangkan norma adalah pola perilaku
yang diterima pada lingkungan sosil tertentu berarti disini adalah
lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar keluarga.
5. KELUARGA SEJAHTERAN
a. Definisi
Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk atas dasar
perkawinan yang syah mampu memnuhi kebutuhan hidup spiritual dan
material yang layak.Tahapan dari keluarga sejahtera menurut (mubarak
dkk, 2011, hal 80-82) adalah sebagai berikut :
1) Keluarga pra sejahtera.
Yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kenutuhan dasarnya
secara minimal, yaitu kebutuhan pengajaran agama, pangan,
sandang, papan, dan kesehatan, atau keluarga yang belum dapat
memenuhi salah satu atau lebih indicator keluarga sejahtera tahap
I.
2) Keluarga sejahtera tahap I
Yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memnuhi kebutuhan
dasarnya minimal tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial
psikologinya, yaitu kebutuhan pendidikan, keluarga berencana
(KB), interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan
tempat tinggal, dan trasnportasi.
3) Keluarga sejahtera tahap II
Adalah keluarga-keluarga yang disamping telah dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya secara minimal serta telah dapat memenuhi
kebutuhan sosial psikologinya, tetapi belum dapat memenuhi
kebutuhan pengembangannya, seperti kebutuhan untuk menabung
dan memperoleh informasi.
4) Keluarga sejahtera tahap III
Yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh
kebutuhan dasar, sosial psikologis dan pengembangan keluarganya,
tetapi belum dapat memberikan sumbangan (kontribusi) yang
maksimal terhadap masyarakat secara teratur (dalam waktu
tertentu) dalam bentuk : material dan kuangan untuk sosial
kemasyarakatan, dan juga berperan aktif dalam kegiatan
kemasyarakatan.
5) Keluarga sejahtera tahap III Plus.
Yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh
kebutuhan dasar, sosial psikologis dan pengembangannya telah
terpenuhi serta memiliki keperdulian sosial yang tinggi pada
masyarakat. (mubarak dkk, 2011, hal 80-82).
6. KELUARGA SEBAGAI SUATU SISTEM
a. Definisi system
Kumpulan dari beberapa bagian fungsional yang saling berhubungan
dan tergantung satu dengan yang lain dalam waktu tertentu untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Alasan keluraga disebut sistem
(mubarak dkk, 2011, hal 82-83) sebagai berikut :
1) Keluarga mempunyai subsistem yaitu : anggota, fungsi, peran,
aturan, budaya dan lainnya yang dipelajari dan dipertahankan
dalam kehidupan keluarga.
2) Terdapat saling berhubungan dan ketergantungan antar subsistem.
3) Merupakan unit (bagian) terkecil dari masyarakat yang dapat
mempengaruhi supra sistemnya.Seperti pada umunya suatu sistem,
keluarga juga mempunyai komponen-komponen sistem.
7. PERKEMBANGAN KELUARGA
Perkembangan keluarga adalah proses perubahan yang terjadi pada sistem
keluarga meliputi: perubahan pola interaksi dan hubungan antara
anggotanya disepanjang waktu. Berikut adalah tahap perkembangan
menurut (mubarak dkk, 2011, hal 86-92) :
a. Tahap I Pasangan baru atau keluarga baru (Beginning Family)
Keluarga baru dimulai pada saat masing-masing individu yaitu suami
dan isteri membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan
meninggalkan keluarga masing-masing, dalam arti secara psikologis
keluarga tersebut sudah memiliki keluarga baru. Tugas perkembangan
pada tahap ini :
1) Membina hubungan intim dan kepuasan bersama.
2) Menetapkan tujuan bersama.
3) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok
sosial.
4) Merencankan anak-KB.
5) Menyesuaikan diri dengan kehamilan dan mempersiapkan diri
untuk menjadi orang tua.
b. Tahap II. Keluarga “Child-Bearing” (Kelahiran anak pertama)
Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai
kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30
bulan (3,2 tahun). Kelahiran bayi pertama memberi perubahan yang
besar dalam keluarga, sehingga pasangan harus beradaptasi dengan
perannya untuk memenui kebutuhan bayi. Tugas perkembangan :
1) Persiapan menjadi orang tua.
2) Membagi peran dan tanggung jawab.
3) Menata ruang untuk anak atau mengembangkan suasana rumah
yang menyenangkan.
4) Mempersiapkan biaya atau dana Child Bearing.
5) Memfasilitasi role learning anggota keluarga.
6) Bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bayi sampai balita.
c. Tahap III. Keluarga dengan Anak Pra Sekolah (Families With
Preschool)
Tahap ini dimulai saat kelahiran anak berusia 2,5 tahun dan berakhir
saat anak berusia 5 tahun. Tugas perkembangan keluarga:
1) Memnuhi kebutuhan anggota keluarga seperti : kebutuhan tempat
tinggal, privasi dan rasa aman.
2) Membantu anak untuk bersosialisasi.
3) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan
anak yang lain juga harus terpenuhi.
4) Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam maupun
diluar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar).
5) Pembagian waktu individu, pasangan dan anak (tahap paling
repot).
6) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
7) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak.
d. Tahap IV. Keluarga dengan Anak Usia Sekolah (Families With School
Children). Tahap ini dimulai pada saat anak yang tertua memasuki
sekolah pada usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun. Tugas
perkembangan keluarga :
1) Memberikan perhatian tentang kegiatan sosial anak, pendidikan,
semnagat belajar.
2) Tetap mempertahankan hubungan keluarga yang harmonis dalam
perkawinan.
3) Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual.
4) Menyediakan aktifitas untuk anak.
5) Menyesuaikan pada aktifitas komuniti dengan mengkutsertakan
anak.
e. Tahap V. Keluarga dengan Anak Remaja (Families With Teenagers).
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan
biasanya berakhir sampai pada usia 19/20 tahun, yaitu pada saat anak
meninggalkan rumah orang tuanya. Tugas perkembangan keluarga :
1) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab
mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa dan menigkat
otonominya.
2) Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.
3) Mempetahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua,
hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.
4) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang
keluarga.
f. Tahap VI. Keluarga dengan Anak Dewasa atau pelepasan (Launching
Center Families).
Tahap ini dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah.
Lamanya tahap ini tergantung dari jumlah anak dalam keluarga atau
jika anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua.
Tugas perkembangan keluarga :
1) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
2) Mempertahankan keintiman pasangan.
3) Membantu orang tua suami atau isteri yang sedang sakit dan
memasuki masa tua.
4) Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima
kepergian anaknya.
5) Menata kembali fasilitas dan sumber yang ada pada keluarga.
6) Berperan suami-isteri kakek-nenek.
7) Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh bagi
anak-anaknya.
g. Tahap VII. Keluarga Usia Pertengahan (Middle Age Families)
Tahapan ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah
dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Tugas
perkembangan keluarga :
1) Mempertahankan kesehatan.
2) Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam arti
mengolah minat sosial dan waktu santai.
3) Memulihkan hubungan antara generasi muda tua
4) Keakraban dengan pasangan.
5) Memelihara hubungan/kontak dengan anak dan keluarga.
6) Persiapan masa tua atau pensiun dan meningkatkan keakraban
pasangan.
h. Tahap VIII. Keluarga Lanjut usia
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini adalah dimulai pada saat
salah satu pasangan pensiun, berlanjut salah satu pasangan meninggal
sampai keduanya meninggal. Tugas perkembangan keluarga :
1) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
2) Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuaran
fisik dan pendapatan.
3) Mempertahankan keakraban suami-isteri dan saling merawat.
4) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
5) Melakukan file review.
6) Menerima kematian pasangan, kawan dan mempersiapkan
kematian.
B. KONSEP GOUT
1. DEFINISI

Gout adalah gangguan yang menyebabkan kesalahan metabolisme purin


yang menimbulkan hipersemia (kadar asam urat serum > 7,0 mg /100ml). Ini
dapat mempengaruhi sendi (kaki). Secara khas, sendi metatarsafalangeal
pertama dari ibu jari kaki besar adalah sisi primer yang terlibat. Sendi lain
yang terlibat dapat meliputi lutut dan pergelangan kaki. (Rencana Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah, volume 2)
Gout dapat diartikan sebagai suatu penyakit dimana terjadi penumpukan
asam urat dalam tubuh secara berlebihan, peningkatan produksi, peningkatan
yang meningkat, atau peningkatan konsumsi makanan kaya purin (Sholeh,
2012).

2. ANATOMI FISIOLOGI

Sendi merupakan engsel yang membuat anggota bergerak dengan


baik, juga merupakan penghubung antara ruas tulang yang satu dengan
ruas tulang lainnya, sehingga kedua tulang ini dapat digerakkan sesuai
dengan jenis persendian yang diperantarainya.
Kirimi tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Kirim dibagi
menjadi tiga tipe, yaitu:
1) Sendi fibrosa sedangkan tidak ada lapisan kartilago, antara tulang
terkait dengan jaringan ikat fibrosa, dan dibagi menjadi dua subtipe
yaitu sutura dan sindemosis;
2) Sendi kartilaginosa dimana ujungnya dibungkus oleh kartilago hialin,
disokong oleh ligamen, sedikit pergerakan, dan dibagi menjadi
subtipe yaitu sinkondrosis dan simpisis; dan
3) Sendi sinovial. Sendi sinovial merupakan sendi yang dapat
diperbaiki, memiliki rongga sendi dan permukaan sendinya dirancang
oleh kartilago hialin. Kapsul sendi yang membungkus tendon-tendon
yang bergerak, tidak meluas tetapi bisa bergerak. Sinovium
menghasilkan cairan yang berwarna kekuningan, bening, tidak
membeku, dan mengandung lekosit. Asam hialuronidase bertanggung
jawab atas viskositas cairan sinovial dan disintesis oleh pembungkus
sinovial. Cairan sinovial memiliki fungsi sebagai sumber nutrisi bagi
rawan sendi. Jenis sendi sinovial:
1) Ginglimus: fleksi dan ekstensi, monoaxis;
2) Selaris: fleksi dan ekstensi, abd & add, biaxila;
3) Globoid: fleksi dan ekstensi, abd & add; rotasi sinkond multi
aksial;
4) Trochoid: rotasi, mono aksis;
5) Elipsoid: fleksi, ekstensi, fleksi lateral, sirkumfleksi, multi
sumbu. Secara fisiologis sendi yang dilumasi cairan sinovial
pada saat bergerak terjadi yang mengeluarkan cairan bergeser ke
tekanan yang lebih kecil. Sejalan dengan gerakan ke depan,
cairan bergeser mendahului beban kompres mengurangi cairan
kembali ke belakang. (Harga, 2005; Azizi, 2004).

Tulang rawan merupakan jaringan pengikat padat khusus yang


terdiri atas sel kondrosit, dan matriks. Matrriks tulang rawan terdiri atas
sabut-sabut protein yang dimasukkan di dalam bahan dasar amorf.
Berdasarkan atas komposisi matriksnya ada 3 macam tulang rawan, yaitu:
1) Tulang rawan hialin, yang ada di dinding saluran pernafasan dan
ujung-ujung persendian;
2) Tulang rawan elastis misalnya pada epiglotis, aurikulam dan tuba
auditiva; dan
3) Tulang rawan fibrosa yang ada pada anulus fibrosus, diskus
intervertebralis, simfisis pubis dan insersio tendo-tulang. Kartilago
membantu bagian tulang yang diangkat beban pada sendi sinovial.
Rawan sendi tersusun oleh kolagen tipe II dan proteoglikan yang
sangat hidrofilik sehingga memungkinkan rawan ini mampu menahan
kerusakan saat sendi menerima beban yang kuat. Perubahan susunan
kolagen dan pembentukan proteoglikan dapat terjadi setelah cedera
atau berubah usia (Wilson, 2005; Laboratorium histologi FK UNS,
2009)

Sebagian besar sendi kita adalah sendi sinovial. Permukaan tulang


yang bersendi diselamatkan oleh tulang rawan yang lunak dan licin.
Keseluruhan kantong sendi, dibentuk dari jaringan berserat yang disebut
kapsul. Jaringan ini memuat membran sinovial yang menghasilkan cairan
sinovial untuk “meminyaki” sendi. Bagian luar kapsul dipegang oleh
ligamen berserat yang melekat pada tulang, melekat kuat-kuat di tempat
dan penguatan gerakan yang dapat dilakukan.
Rawan sendi yang melapisi ujung-ujung harus memiliki fungsi
ganda untuk melindungi ujung tulang agar tidak aus dan memungkinkan
pergerakan sendi menjadi mulus / licin, serta sebagai penahan beban dan
peredam benturan. Agar rawan dilakukan dengan baik, maka diperlukan
matriks rawan yang baik pula.
Matriks terdiri dari 2 tipe makromolekul, yaitu:
1) Proteoglikan: yang memuat 10% berat kering rawan sendi,
mengandung 70-80% udara, hal inilah yang menyebabkan tahan
terhadap tekanan dan menambah rawan sendi elastis
2) Kolagen: komponen ini menambahkan 50% berat kering rawan sendi,
sangat tahan terhadap tarikan. Makin kearah ujung rawan sendi
makin tebal, jadi rawan sendi yang tebal kolagennya akan tahan
terhadap tarikan.

Disamping itu juga mengandung mineral, udara, dan zat organik


lain seperti enzim.
3. ETIOLOGI
Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya deposit /
penimbunan kristal asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering
terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan
Kelainan metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi asam urat
yang kurang dari ginjal.
Beberapa factor lain yang mendukung, seperti :
1) Faktor genetik seperti gangguan metabolisme purin yang
menyebabkan asam urat berlebihan (hiperuricemia), retensi asam
urat, atau keduanya.
2) Penyebab sekunder yaitu akibat obesitas, diabetes mellitus,
hipertensi, gangguan ginjal yang akan menyebabkan:
a. Pemecahan asam yang dapat menyebabkan hiperuricemia.
b. Karena penggunaan obat-obatan yang menurunkan ekskresi asam
urat seperti: aspirin, diuretic, levodopa, diazoksid, asam
nikotinat, aseta zolamid dan etambutol.
4. PATHOFISIOLOGI
Adanya gangguan metabolisme purin dan ekskresi asam urat yang
kurang dari ginjal menyebabkan peningkatan asam urat yang berlebihan
dalam darah, selanjutnya asam urat yang terkumpul dalam darah
membentuk kristal asam urat yang mana kristal asam urat (kristal asam
urat) merupakan produk akhir purin yang bermanfaat dan dipertanyakan
atau menumpuk di sendi dan jaringan pengikat sebagai hasil dari konsumsi
purin yang lebih banyak atau yang tidak normal, kemudian menumpuk di
dalam tubuh, kemudian menimbulkan iritasi lokal pada sendi dan
menimbulkan respons inflamasi.
Pohon Masalah

Adanya gangguan metabolisme purin

Akumulasi asam urat yang berlebihan dalam darah

Kristal asam urat menumpuk dalam tubuh

Gout Kurang Informasi

Menimbulkan iritasi lokal pada sendi

Kurang
Menimbulkan respon inflamasi Pengetahuan

Nyeri

Hambatan Mobilitas Fisik

Suratun, 2008

5. MANIFESTASI KLINIS
1) Nyeri tulang sendi
2) Kemerahan dan bengkak pada tulang sendi
3) Tofi pada ibu jari, mata kaki dan pinna telinga
4) Peningkatan suhu tubuh.
Gangguan akut :
1) Nyeri hebat
2) Bengkak dan berlangsung cepat pada sendi yang terserang
3) Sakit kepala
4) Demam
Gangguan kronis :
1) Serangan akut
2) Hiperurisemia yang tidak diobati
3) Terdapat nyeri dan pegal
4) Pembengkakan sendi membentuk noduler yang disebut tofi
(penumpukan monosodium urat dalam jaringan)
6. PENATALAKSANAAN MEDIK
Tujuan untuk mengakhiri serangan akut secepat mungkin, mencegah
serangan berulang, dan pencegahan komplikasi.
1) Pengobatan serangan akut dengan Colchicine 0,6 mg (pemberian
oral), Colchicine 1,0-3,0 mg (dalam NaCl intravena), phenilbutazone,
Indomethacin.
2) Sendi diistirahatkan (imobilisasi pasien)
3) Kompres dingin
4) Diet rendah purin
5) Terapi farmakologi (Analgesic dan antipiretik)
6) Colchicines (oral/IV) tiap 8 jam sekali untuk mencegah fagositosis
dari Kristal asam urat oleh netrofil sampai nyeri berkurang.
7) Nonsteroid, obat-obatan anti inflamasi (NSAID) untuk nyeri dan
inflamasi.
8) Allopurinol untuk menekan atau mengontrol tingkat asam urat dan
untuk mencegah serangan.
9) Uricosuric (Probenecid dan Sulfinpyrazone) untuk meningkatkan
ekskresi asam urat dan menghambat akumulasi asam urat (jumlahnya
dibatasi pada pasien dengan gagal ginjal).
10) Terapi pencegahan dengan meningkatkan ekskresi asam urat
menggunakan probenezid 0,5 g/hari atau sulfinpyrazone (Anturane)
pada pasien yang tidak tahan terhadap benemid atau menurunkan
pembentukan asam urat dengan Allopurinol 100 mg 2 kali/hari.
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat, yang menunjukkan
inflamasi
2) SDP meningkat (leukositosis)
3) Ditemukan kadar asam urat yang tinggi di dalam darah
4) Pada pemeriksaan terhadap contoh cairan sendi di bawah mikroskop
khusus akan tampak kristal urat yang berbentuk seperti jamur
5) Pemeriksaan sinar X dari daerah yang terkena untuk menunjukkan
masa tefoseus dan destruksi tulang dan perubahan sendi
8. ASKEP Secara TEORI
1) Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan
keperawatan, agar diperoleh data pengkajian yang akurat dan sesuai
dengan keadaan keluarga. Data yang diperoleh dari pengkajian :
a. Berkaitan dengan keluarga
a) Data demografi dan sosiokultural
b) Data lingkungan
c) Struktur dan fungsi keluarga
d) Stress dan koping keluarga yang digunakan keluarga
e) Perkembangan keluarga
b. Berkaitan dengan individu sebagai anggota keluarga
a) Fisik
b) Mental
c) Emosi
d) Sosio
e) Spiritual

Adapun tujuan pengkajian menurut Suprijno (2004) yang


berkaitan dengan tugas keluarga dibidang kesehatan, yaitu :
a) Mengetahui kemampuan keluarga untuk mengenal masalah
kesehatan. Hal ini perlu dikaji adalah sejauh mana keluarga
mengetahui fakta dari masalah kesehatan, meliputi pengertian, tanda
dan gejala, faktor penyebab dan faktor yang mempengaruhi serta
persepsi keluarga terhadap masalah kesehatan terutama yang dialami
anggota keluarga.
b) Mengetahui kemamupuan keluarga dalam mengambil keputusan
mengenai tindakan kesehatan yang tepat, perlu dikaji tentang :
a. Kemampuan keluarga memahami sifat dan luasnya masalah
b. Apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga ?
c. Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang
dialami ?
d. Apakah keluarga merasa takut terhadap akibat dari masalah
kesehatan yang dialami anggota keluarga ?
e. Apakah keluarga mempunyai sikap yang tidak mendukung
(negative) terhadap upaya kesehatan yang dapat dilakukan pada
anggota keluarga ?
f. Apakah keluarga mempunyai kemampuan untuk menjangkau
fasilitas pelayanan kesehatan ?
g. Apakah keluarga mempunyai kepercayaan terhadap tenaga
kesehatan?
h. Apakah keluarga telah memperoleh informasi tentang kesehatan
yang tepat untuk melakukan tindakan dalam rangka mengatasi
masalah kesehatan ?
c) Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga merawat
anggota keluarga yang sakit, perlu dikaji tentang :
a. Pengetahuan keluarga tentang penyakit yang dialami anggota
keluarga (sifat, penyebaran, komplikasi, kemungkinan setelah
tindakan dan cara perawatannya)
b. Pemahaman keluarga tentang perawatan yang perlu dilakukan
anggota keluarga
c. Pengetahuan keluarga tentang peralatan, cara dan fasilitas untuk
merawat anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan
d. Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki keluarga
(anggota keluarga yang mampu dan dapat bertanggung jawab,
sumber keuangan/financial, fasilitas fisik, dukungan psikososial)
e. Bagaimana sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit
atau membutuhkan bantuan kesehatan
d) Untuk mengetahui kemampuan keluarga memelihara memodifikasi
lingkungan rumah yang sehat, perlu dikaji tentang :
a. Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki oleh
keluarga disekitar lingkungan rumah
b. Kemampuan keluarga melihat keuntungan dan manfaat
pemeliharaan lingkungan
c. Pengetahuan keluarga dan sikap keluarga terhadap sanitasi
lingkungan yang higenis sesuai syarat kesehatan
d. Pengetahuan keluarga tetang upaya pencegahan penyakit yang
dapat dilakukan oleh keluarga
e. Kebersamaan anggota keluaga untuk meningkatkan dan
memelihara lingkungan rumah yang menunjang kesehatan
keluarga
e) Untuk mengetahui kemampuan keluarga menggunakan fasilitas
pelayanan kesehatan di masyarakat, perlu dikaji tentang :
a. Pengetahuan keluarga tentang keberadaan fasilitas pelayanan
kesehatan yang dapat dijangkau keluarga
b. Pemahaman keluarga tentang keuntungan yang dapat diperoleh
dari fasilitas kesehatan
c. Tingkat kepercayaan keluarga terhadap fasilitas dan petugas
kesehatan melayani
d. Apakah keluarga mempunyai pengalaman yang kurang
menyenangkan tentang fasilitas dan petugas kesehatan yang
melayani?
e. Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan dan bila
tidak dapat apakah penyebabnya ?
2) Diagnosa Keperawatan
Dari pengkajian asuhan keperawatan keluarga di atas maka
diagnosa keperawatan keluarga yang mungkin muncul pada kasus
asam urat adalah:
a. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah asam urat yang
terjadi pada keluarga berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala penyakit
asam urat.
b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat
untuk mengatasi penyakit asam urat berhubungan dengan
keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya
masalah asam urat
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan
asam urat berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga
tentang cara pencegahan dan perawatan asam urat
d. Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi
lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit asam urat
berhubungan dengan kurangnya pemahaman keluarga tentang
pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus asam urat.
e. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan guna perawatan dan pengobatan asam urat
berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat terhadap
pelayanan atau petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan
keluarga tentang pentingnya segera datang ke tempat pelayanan
kesehatan untuk pengobatan penyakit asam urat.
Menentukan Diagnosa Keperawatan :
Sebelum menentukan diagnosa keperawatan tentu harus
menyusun prioritas masalah dengan menggunakan proses
skoring seperti pada tabel 2.1 berikut : Proses skoring
menggunakan skala yang telah dirumuskan oleh Balion dan
Maglaya, 1978.
Table: skala prioritas masalah keluarga

Kriteria Skor Bobot Jumlah


a) Sifat masalah
Skala :
(1) Tidak/kurang sehat 3
1 ?
(2) Ancaman kesehatan 2
(3) krisis 1

b) kemungkinan masalah dapat


diubah
skala :
Dengan mudah ?
Sebagian 2 2
Tidak dapat 1
0

c) c) Potensi masalah
Skala :
a) Tinggi 2 ?
b) Cukup 1 1
c) Rendah 0
d)Menonjolnya masalah untuk
diubah
Skala :
a) Masalah berat harus 3
diatasi 1 ?
b) Masalah yang tidak perlu
harus diatasi 2
c) Masalah tidak dirasakan 1
Sumber : bailon dan magiaya 2012

Keterangan :
1. Tentukan skor untuk setiap kriteria.
2. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot.
Skor
× Bobot
Angka Tertinggi
3. Jumlah skor untuk semua kriteria.
4. Skor tertinggi adalah 5, dan sama untuk seluruh bobot.
3) Perencanaan (intervensi Keperawatan)
Perencanaan yang dapat dilakukan pada Asuhan Keperawatan
keluarga dengan asam urat ini adalah sebagai berikut (Mubarak,
2012) :
1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah asam urat yang
terjadi pada keluarga berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala penyakit
asam urat.
Sasaran: Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat
mengenal dan mengerti tentang penyakit asam urat.
Tujuan: Keluarga mengenal masalah penyakit asam urat
setelah dua kali kunjungan rumah
Kriteria: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang
penyakit asam urat
Standar: Keluarga dapat menjelaskan pengertian, penyebab,
tanda dan gejala penyakit asam urat, serta pencegahan dan
pengobatan penyakit asam urat secara lisan.
Intervensi :
a. Jelaskan arti penyakit asam urat
b. Diskusikan tanda-tanda dan penyebab penyakit asam urat
c. Tanyakan kembali apa yang telah didiskusikan
2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat
untuk mengatasi penyakit asam urat berhubungan dengan
keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya
masalah asam urat.
Sasaran: Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat
mengetahui akibat lebih lanjut dari penyakit asam urat
Tujuan: Keluarga dapat mengambil keputusan untuk
merawat anggota keluarga dengan asam urat setelah tiga kali
kunjungan rumah
Krteria: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan dan dapat
mengambil tindakan yang tepat dalam merawat anggota keluarga
yang sakit
Standar: Keluarga dapat menjelaskan dengan benar
bagaimana akibat asam urat dan dapat mengambil keputusan
yang tepat
Intervensi :
a. Diskusikan tentang penyakit asam urat
b. Tanyakan bagaimana keputusan keluarga untuk merawat
anggota keluarga yang menderita asam urat
3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan
asam urat berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga
tentang cara pencegahan dan perawatan asam urat
Sasaran: Setelah tindakan keperawatan keluarga mampu
merawat anggota keluarga yang menderita asam urat
Tujuan: Keluarga dapat melakukan perawatan yang tepat
terhadap anggota keluarga yang menderita asam urat setelah tiga
kali kunjungan rumah
Kriteria: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan cara
pencegahan dan perawatan penyakit asam urat
Standar: Keluarga dapat melakukan perawatan anggota
keluarga yang menderita asam urat
Intervensi :
a. Jelaskan pada keluarga cara-cara pencegahan penyakit asam
urat
b. Jelaskan pada keluarga tentang manfaat ventilasi rumah
yang baik khususnya untuk anggota keluarga yang menderita
asam urat
4. Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi
lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit asam urat
berhubungan dengan kurangnya pemahaman keluarga tentang
pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus asam urat
Sasaran: setelah tindakan keperawatan keluarga mengerti
tentang pengaruh lingkungan terhadap penyakit asam urat
Tujuan: Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang
dapat menunjang penyembuhan dan pencegahan setelah tiga kali
kunjungan rumah
Kriteria: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang
pengaruh lingkungan terhadap proses penyakit asam urat
Standar: Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang
dapat mempengaruhi penyakit asam urat
Intervensi :
a. Ajarkan cara memodifikasi lingkungan untuk mencegah dan
mengatasi penyakit asam urat misalnya :
a) Jaga kebersihan lingkungan rumah agar bebas dari
resiko tertular kepada orang lain
b) Gunakan alat pencegah tertular kepada oranglain
misalnya masker
c) Motivasi keluarga untuk melakukan apa yang telah
dijelaskan
5. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan guna perawatan dan pengobatan asam urat
berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat terhadap
pelayanan atau petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan
keluarga tentang pentingnya segera datang ke tempat pelayanan
kesehatan untuk pengobatan penyakit asam urat.
Sasaran: setelah tindakan keperawatan keluarga dapat
menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan
Tujuan: Keluarga dapat menggunakan tempat pelayanan
kesehatan yang tepat untuk mengatasi penyakit asam urat setelah
dua kali kunjungan rumah
Kriteria: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan ke mana
mereka harus meminta pertolongan untuk perawatan dan
pengobatan penyakit asam urat
Standar: Keluarga dapat menggunakan fasilitas pelayanan
secara tepat
Intervensi :
a. Jelaskan kepada keluarga ke mana mereka dapat meminta
pertolongan untuk perawatan dan pengobatan asam urat
4) Pelaksanaan Rencana Keperawatan/Implementasi
Menurut Mubarak (2012), tahapan dimana perawat mendapatkan
kesempatan untuk membangkitkan minat keluarga dalam
mengadakan perbaikan ke arah perilaku hidup sehat.
Implementasi yang dilakukan pada asuhan keperawatan keluarga
dengan asam urat, yaitu :
a. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah asam urat yang
terjadi pada keluarga berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala penyakit
asam urat:
a) Menjelaskan arti penyakit asam urat
b) Mendiskusikan tanda-tanda dan penyebab penyakit asam
urat
c) Menanyakan kembali apa yang telah didiskusikan
b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat
untuk mengatasi penyakit asam urat berhubungan dengan
keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya
masalah asam urat
a) Mendiskusikan tentang penyakit asam urat
b) Menanyakan bagaimana keputusan keluarga untuk merawat
anggota keluarga yang menderita asam urat
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan
asam urat berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga
tentang cara pencegahan dan perawatan asam urat:
a) Menjelaskan pada keluarga cara-cara pencegahan penyakit
asam urat
b) Menjelaskan pada keluarga tentang manfaat ventilasi rumah
yang baik khususnya untuk anggota keluarga yang menderita
asam urat
d. Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi
lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit asam urat
berhubungan dengan kurangnya pemahaman keluarga tentang
pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus asam urat:
a) Mengajarkan cara memodifikasi lingkungan untuk
mencegah dan mengatasi penyakit asam urat misalnya :
1. Menjaga kebersihan lingkungan rumah agar bebas dari
resiko tertular kepada orang lain.
2. Menggunakan alat pencegah tertular kepada oranglain
misalnya masker
3. Motivasi keluarga untuk melakukan apa yang telah
dijelaskan
e. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan guna perawatan dan pengobatan asam urat
berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat terhadap
pelayanan atau petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan
keluarga tentang pentingnya segera datang ke tempat pelayanan
kesehatan untuk pengobatan penyakit asam urat:
a) Menjelaskan kepada keluarga ke mana mereka dapat
meminta pertolongan untuk perawatan dan pengobatan asam
urat.
5) Melaksanakan Evaluasi
Sesuai dengan rencana tindakan yang diberikan, tahap penilaian
dilakukan untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/belum berhasil
maka perlu disusun rencana baru yang sesuai (Mubarak, 2012).
Evaluasi yang diharapkan pada asuhan keperawatan keluarga
dengan asam urat adalah :
a. Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit asam
urat
b. Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat anggota
keluarga dengan asam urat Keluarga dapat melakukan perawatan
yang tepat terhadap anggota keluarga yang menderita asam urat
c. Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang
penyembuhan dan pencegahan
d. Keluarga dapat menggunakan tempat pelayanan kesehatan untuk
mengatasi penyakit asam urat.
C. DAFTAR PUSTAKA
Sudiharto (2007), Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan
Keperawatan Transkultural, Jakarta: EGC
Lukman, Ningsih, Nurna. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jilid 1. Jakarta : Salemba Medika.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Aajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan
Muskuloskeletal. Cet.1. Jakarta : EGC.
Price, Sylvia.A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Ed.6 ; Cet.1; Jil.II. Jakarta : EGC.
Carpenito, J, Lynda, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 2, Jakarta :
Balai Penerbit FKUI
Effendy Nasrul. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat.,
Jakarta: EGC.
Friedman., M. Marilyn. 1998. Keperawatan Keluarga Teori & Praktek. Alih
Bahasa Ina Debora R.L, Jakarta : EGC.
Hidayat Alimul Azis.A. 2004. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.