Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN URINALISA DAN CAIRAN TUBUH

“PEMERIKSAAN BILIRUBIN (HARRISON), UROBILIN


(SCHLEZINGER) DAN UROBILINOGEN (EHRLICH) PADA URIN”

OLEH :
Desak Made Dwi Pitriawati (P07134018 105)
Kadek Dita Pradnya Paramita (P07134018 107)
I Gusti Ayu Redina Matua Dewi (P07134018 108)
Made Gita Candra Dewi (P07134018 110)
Koming Risa Sridevi Novitasari (P07134018 111)
Made Kembar Karmayasa (P07134018 112)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
2019
Pemeriksaan Billirubin Urine Cara Harrison

I. TUJUAN

Mahasiswa dapat memeriksa kadar bilirubin urin dari sampel urin

II. METODE

Metode Harrison

III. PRINSIP

Bilirubin dapat mereduksi feri klorida menjadi senyawa yang berwarna


hijau. Sebelumnya bilirubin diabsorpsikan pada endapan BaCl2 dalam
urine.

IV. DASAR TEORI

Bilirubin secara normal tidak terdapat dalam urine, namun dalam


jumlah yang sangat sedikit dapat berada dalam urine, tanpa terdeteksi
melalui pemeriksaan rutin. Bilirubin terbentuk dari penguraian
hemoglobin dan ditranspor menuju hati, Bilirubinuria mengindikasikan
kerusakan hati atau obstruksi empedu dan kadarnya yang besar ditandai
dengan warna kuning.
Prinsip pemeriksaan Bilirubin dengan metode Harrison ialah
bilirubin dalam urin diendapkan oleh larutan barium chlorida 10%,
kemudian akan dioksidasi oleh ferri chlorida dalam suasana asam akan
menghasilkan biliverdin berwarna hijau. Kepekaan
tes horizon terhadap bilirubin dalam urin yaitu 0.005-0.1 mg/dl. Untuk
pemeriksaan ini diambil sampel urine sebanyak 3ml dan ditambahkan
larutan BaCl2 10% sebanyak 3ml kemudian dihomegankan dan disaring.
Fungsi BaCl210 % pada pemeriksaan horizon adalah untuk
memekatkan bilirubin dalam kertas saring setelah dilakukan presipitasi
phosphate dengan BaCl210% di mana bilirubin melekat pada presipitat
tersebut. Hasil filtrate disimpan untuk pemeriksaan urobilin. Dan residu
pada kertas saring ditetesi dengan reagen Fouchet 1-2 tetes lalu diamati.
Fungsi reagen fouchet pada pemeriksaan horizon, untuk
mengoksidasi bilirubin menjadi biliverdin. Hasil yang diperoleh pada
pratikum yaitu ada perubahan warna menjadi agak kehijauan yang berarti
sampel ada kandung bilirubin.

Syarat dari pemeriksaan bilirubin yaitu :


- Urin segar, karena bilirubin belum teroksidasi menjadi biliverdin ,
sehingga menyebabkan hasil pemeriksaan bilirubin menjadi (-) palsu
- Botol penampung urin coklat, karena untuk menghindari pengaruh
sinar/oksidasi, sehingga bilirubin belum teroksidasi menjadi biliverdin

Penyebab (+) palsu pemeriksaan horizon :


- Konsentrasi urobilin tinggi
- obat-obatan (acriflavin dan pyridium)

Penyebab (-) palsu pemeriksaan horizon :


- Urin lama , bilirubin sudah teroksidasi menjadi biliverdin , sehingga
hasil menjadi (-) palsu
- Kertas saring belum kering, bilirubin tidak dapat bereaksi dengan
fouchet, maka bilirubin tidak dapat teroksidasi menjadi biliverdin,
sehingga terjadi (-) palsu
- Pengaruh cahaya / sinar, disebabkan botol penampung urin tidak
gelap, maka bilirubin akan teroksidasi menjadi biliverdin sehingga
menyebabkan hasil (-) palsu

V. ALAT & BAHAN


 Tabung reaksi
 Kertas saring
 Pipet Pasteur
 BaCl2 10%
 Reagen Fouchet, dengan komposisi :
Trichloro acetic acid (TCA) 25g
Aquadest ad 100 ml
Larutan feri klorida 10 ml
(10 g FeCl3 dalam 100 ml aquadest)

VI. Cara Kerja

1. Ambil 3 ml urine dan campur dengan larutan BaCl2 10% dengan


volume yang sama banyak
2. Saring
3. Filtratnya disimpan untuk percobaan urobilin
4. Residunya yang berada pada kertas saring kemudian ditetesi dengan
reagen Fouchet 1-2 tetes dan perhatikan perubahan warna yang terjadi

VII. Interpretasi Hasil

1. Negatif : tidak terjadi perubahan warna atau agak coklat


2. Positif : terbentuk warna hijau yang makin lama makin jelas

VIII. HASIL

Sebelum Sesudah Interpretasi Hasil


(-) negatif Tidak
Mengandung
Bilirubin
IX. PEMBAHASAN

Bilirubin adalah pigmen alami dari dalam urine yang menghasilkan


warna kuning. Ketika urin kental,urobilin dapat membuat tampilan warna
oranye. Kemerahaan yang intensitasinya bervariasi dengan derajat oksidasi
dan kadang-kadang menyebabkan kencing terlihat merah atau berdarah.
Banyak test urin (Urinalisis)yang memantau jumlah urobilin dalam urin
karena merupahkan zat penting dalam metabolisme/produksi urin. Tingkat
Bilirubin dapat memberikan wawasan tentang efektivitas fungsi saluran
kemih. Urobilinogen adalah larut dalam air dan transparan produk
yang merupakan produk dengan pengurangan bilirubin dilakukan oleh
interstinal bakteri.Hal ini dibentuk oleh pemecahaan hemoglobin.
Sementara setengah dari urobilinogen beredar ke hati.Setengah lain
diekskresikan melalui feses sebagai urobili . Ketika pernah ada kerusakan
hati,kelebihaan itu akan dibuang keluar melalui ginjal.Nilai rujukan
Dewasa dan anak-anak uji keton negatif(kurang dari 15Mg/dl) ( Rizka
laka.dkk,2016). Bilirubin terdiri dari sebuah rantai terbuka dari empat pirol
-seperti cincin ( tetrapyrrole ). Dalam heme , sebaliknya, keempat cincin
yang terhubung ke sebuah cincin yang lebih besar, yang disebut
porfirincincin.Bilirubin adalah sangat mirip dengan pigmen phycobilin
digunakan oleh ganggang tertentu untuk menangkap energi cahaya, dan
untuk pigmen fitokrom digunakan oleh tanaman untuk
merasakan cahaya.Semua ini mengandung rantai terbuka empat cincin
pyrrolic. Seperti ini pigmen lainnya, beberapa ganda obligasi di bilirubin
isomerize ketika terkena cahaya. Ini digunakan dalam fototerapi dari bayi
kuning:. E, Z-isomer bilirubin yang terbentuk setelah terpapar cahaya
lebih larut daripada, Z unilluminated Z-isomer, sebagai kemungkinan
ikatan hidrogen intramolekul akan dihapus Hal ini memungkinkan
ekskresi bilirubin tak terkonjugasi dalam empedu. Bilirubin dibuat oleh
aktivitas reduktase biliverdin pada biliverdin , pigmen empedu hijau
tetrapyrrolic yang juga merupakan produk katabolisme heme.Bilirubin,
ketika teroksidasi, beralih menjadi biliverdin sekali lagi. Siklus ini, selain
demonstrasi aktivitas antioksidan ampuh bilirubin, telah menyebabkan
hipotesis bahwa peran utama fisiologis bilirubin adalah sebagai
antioksidan seluler.

Pertama-tama yang kami lakukan adalah melakukan pemeriksaan


makroskopis terhadap sampel urine,hasil yang didapatkan yaitu :

-Warna : Kuning Jernih

- Bau : tidak berbau

-Kekeruhan : tidak terdapat kekeruhan

- Bekuan : tidak terdapat bekuan

Selanjutnya yang dilakukan sesuai Prosedur kerja, Memasukan 3 ml urine


yang terlebih dahulu di kocok,dan dimasukan ke dalam tabung reaksi lalu
ditambahkan 5 ml Bacl2 10% dicampur dan disaring. Kertas saring berisi
presipitat dan diangkat,dibuka lipatannya dan diletakkan di atas petri/gelas
arloji. Diteteskan 1-2 tetes reagen Fouchet,diatas kertas saring. Diamati
adanya bilirubin yang ditandai dengan warna hijau pada kertas saring
tersebut. Pada praktikum pemeriksaan Bilirubin Metode Harisson
menggunakan sampel dari rumah sakit sanglah disaptkan hasil bahwa
urine yang telah dicampur dengan Bacl2 10% residu yang dihasilkan ketika
penambahan 2 tetes reagen fouchet tidak terjadi perubahan warna sehinga
sampel urine negatif atau tidak mengandung bilirubin.

Pada praktikum pemeriksaan billirubin urine cara harrison harus


menggunakan urine sampel segar yang kurang dari 4 jam, hal ini
dikarenakan bilirubin akan teroksidasi jika terlalu lama dan apalagi
terpapar oleh cahaya.
X. KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini yaitu pemeriksaan bilirubin pada urin


dengan sampel klinis, tidak ditemukan perubahan warna menjadi hijau
pada residu saat ditetesi reagen fourchet hal tersebut menunjukan bahwa
pemeriksaan bilirubin pada urin dengan cara harrison negatif (tidak
mengandung bilirubin) .

Pemeriksaan Urobilin Urine Cara Schlezinger

I. TUJUAN

Mahasiswa dapat memeriksa urobilin pada sampel urin

II. METODE

Metode Schlezinger

III. PRINSIP

Urobilin + Zinc Acetat dalam alkohol  fluoresensi warna hijau

IV. DASAR TEORI

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan urobilin dengan metode


Schlezinger. Urobilin adalah pigmen alami dalam urin yang menghasilkan
warna kuning. Ketika urin kental, urobilin dapat membuat tampilan warna
oranye-kemerahan yang intensitasnya bervariasi dengan derajat oksidasi,
dan kadang-kadang menyebabkan kencing terlihat merah atau berdarah.
Banyak tes urin (urinalisis) yang memantau jumlah urobilin dalam urin
karena merupakan zat penting dalam metabolisme/ produksi urin. Tingkat
urobilin dapat memberikan wawasan tentang efektivitas fungsi saluran
kemih.
Prinsip pemeriksaan urobilin ini adalah Iodium akan mengoksidasi
urobilinogen menjadi urobilin dengan zink yang akan membentuk ikatan
kompleks yang akan berpendar hijau. Filtrate dari pemeriksaan bilirubin
metode Harrison diambil sebanyak 3ml lalu ditambahkan reagen
Schlezinger sebanyak 3 ml kemudian ditetesi dengan 1-2 tetes ammonia
dan dikocok lalu di saring sampai jernih. Dari hasil pengamatan dapat
dilihat fluoresensi berwarna hijau, dimana hal ini mengindikasikan adanya
urobilin dalam sampel yang diperiksa.
Pada pemeriksaan terhadap urobilin sengaja ditambahkan sedikit yodium
sebagai larutan lugol (jodium 1 g; kaliumjodida 2 g; aguadest 300 ml)
untuk menjalankan oksidasi itu.

V. ALAT DAN BAHAN

 Tabung reaksi
 Kertas saring
 Reagen Schlezinger yang terdiri dari:

Suspensi jenuh zinc acetat dalam alkohol (Reagen Schlezinger)

Ammonia liquidum Tinctura iodii sipirit 1%

VI. CARA KERJA

1. Ambil filtrat dari reaksi Harrison sebanyak 3 ml


2. Tambahkan reagen Schlezinger dalam jumlah yang sama
3. Kemudian tetesi dengan 1-2 tetes ammonia
4. Kocok, lalu saring sampai jernih
5. Filtrat yang diperoleh amati dengan sinar tidak langsung dalam kotak
urobilin

VII. INTERPRETASI
Positif (+) : fluoresensi berwarna hijau

CATATAN

 Urobilin setelah dioksidasi akan menajdi urobilin sehingga juga akan


memberikan reaksi positif. Oleh karena itu setelah ditetesi iodium
seringkali akan tampak lebih jelas warna hijaunya.
 Untuk pemeriksaan urobilinogen tes hendaknya segera dikerjakan,
paling tidak 30 menit setelah sampling. Garam-garam empedu sering
akan mengganggu reaksi ini. Dengan penambahan BaCl2 maka akan
terjadi endapan yang mengabsorpsi garam ini
 Forfobilinogen juga memberikan reaksi positif Tambahkan 2 ml
khloroform lalu kocok. Bila warna merah pindah dibagian bawah
khloroform berarti urobilinogen. Tetapi bila tetap dibagian atas berarti
forfobilinogen.

VIII. HASIL

Sebelum Sesudah Intepretasi Hasil


(-) negatif Tidak
Mengandung
Urobilin

IX. PEMBAHASAN

Urobilin adalah pigmen alami dalam urin yang menghasilkan warna


kuning. Ketika urin kental, urobilin dapat membuat tampilan warna
oranye-kemerahan yang intensitasnya bervariasi dengan derajat oksidasi,
dan kadang-kadang menyebabkan kencing terlihat merah atau berdarah.
Banyak tes urin (urinalisis) yang memantau jumlah urobilin dalam urin
karena merupakan zat penting dalam metabolisme/ produksi urin. Tingkat
urobilin dapat memberikan wawasan tentang efektivitas fungsi saluran
kemih (Rizki, 2019). Pada praktikum kali ini kami melaksanakan
pemeriksaan urobilin dengan metode Schlezinger dimana sesuai dengan
prinsip diatas yaitu urobilin + zinc asetat dalam alkohol akan
menghasilkan floresensi berwarna hijau. (Shanti, 2016).
Sampel yang kami gunakan adalah hasil filtrat dari pemeriksaan
Bilirubin metode harrison karena tujuannya adalah untuk menggunakan /
mencari sample urine yang dimana tidak mengandung bilirubin karena
Jika sampel urine yang akan diuji urobilinnya ini memiliki bilirubin dalam
urine maka akan mengganggu pemeriksaan karena menyebabkan
flouresensi merah muda. Oleh karena itu bila ada bilirubin maka harus
dikeluarkan dengan CaCl2 dan Na2CO3. Menurut schlezinger karena
urobilin akan diabsorbsi oleh endapan yang terjadi karena BaCl2 (dari
reagen faucehet), oleh karena itu dalam reagen faucehet BaCL2 diganti
dengan CaCl2 sehingga pemeriksaan billirubin menurut harrison dan
pemeriksaan urobillin menurut schlezinger dapat dirangkap: filtrat untuk
pemeriksaan schlezinger dan endapan untuk pemeriksaan bilirubin
(Rinawidhi, 2016).
Pada percobaan pemeriksaan urobilin pada urine mula-mula dipipet
filtrate dari reaksi Harrison sebanyak 3 mL dan dimasukkan ke dalam
tabung reaksi ditambah 3 mL reagen Schlezinger kemudian diaduk atau
dikocok homogen. Penambahan reagen Schlezinger berfungsi agar urobilin
bereaksi dengan reagen Schlezinger dan membetuk fluoresensi warna
hijau. Setalah dilakukan penambahan reagen SChleznger dan ditambahkan
2 tetes ammonia, sampel urine berubah warna menjadi keruh. Saat sampel
disaring dengan kertas saring, diperoleh filtrate yang jernih (Rinawidhi,
2016).
Setelah didapat filtrat yang jernih, dilihat flouresensi filtrat dengan
background yang gelap ( hitam ). Hasil positif jika terdapat flouresensi
yang kehijauan, dan negatif jika tidak ada flouresensi hijau. Untuk
mempertegas fluoresensi hijau pada urine, perlu ditambahkan lugol. Dalam
hal ini, didapat hasil positif (+) karena terbentuk fluoresensi hijau pada
urine. Dalam keadaan normal, selalu terdapat flourescensi hijau yang amat
ringan (Rinawidhi, 2016)
Pada praktikum yang kami laksanakan didapatkan hasil negatif dimana
tidak terdapatnya floresensi berwarna hijau sehingga menyebabkan hasil
NEGATIF. Kesalahan yang dilakukan disini adalah kami tidak
menambahkan lugol untuk menegaskan hasil yang telah kami dapatkan.
Pada keadaan normalnya urobilin memang terdapat pada urine sehat
karena mengingat bahwa urobilin merupakan pigmen alami dalam urin
yang menghasilkan warna kuning.
Dari pemeriksaan ini ada beberapa faktor – faktor yang dapat
mempengaruhi hasil antara lainnya :

1. Reaksi positif palsu

 Pengaruh obat : fenazopiridin (Pyridium), sulfonamide, fenotiazin,


asetazolamid (Diamox), kaskara, metenamin mandelat
(Mandelamine), prokain, natrium bikarbonat, pemakaian pengawet
formaldehid.
 Makanan kaya karbohidrat dapat meninggikan kadar urobilinogen,
oleh karena itu pemeriksaan urobilinogen dianjurkan dilakukan 4 jam
setelah makan.
 Urine yang bersifat basa kuat dapat meningkatkan kadar
urobilinogen; urine yang dibiarkan setengah jam atau lebih lama akan
menjadi basa.

2. Reaksi negatif palsu

 Pemberian antibiotika oral atau obat lain (ammonium klorida, vitamin


C) yang mempengaruhi flora usus yang menyebabkan urobilinogen
tidak atau kurang terbentuk dalam usus, sehingga ekskresi dalam
urine juga berkurang.
 Paparan sinar matahari langsung dapat mengoksidasi urobilinogen
menjadi urobilin.
 Urine yang bersifat asam kuat (Rinawidhi, 2016)

Jika ada fluoresensi sebelum ditambahkan reagen schlezinger,


mungkin hal itu disebabkan oleh zat – zat yang mempunyai daya
fluoresensi. Diantaranya zat – zat itu yang sering didapat ialah Riboflavin
atau B-complex dsb. Fluoresensi yang disebabkan oleh Riblofavin dapat
dikenal dengan percobaan dengan metode Naumann. Berlainan dari test
terhadap urobilinogen, pada test ini tidak dapat dipakai cara
semikuantitatif untuk menilai hasilnya, meskipun dari kerasnya
fluoresensi dapat juga diduga konsentrasi urobilin. Maka dari itu hasil
percobaan ini hanya dinilai dengan dengan negatif (-), positif (+), dan
positif 2 (++) (Gandosoebrata, 2017).

X. KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini yaitu pemeriksaan urobilin dengan metode


schelzinger dengan menggunakan sampel klinis, saat diamati
menggunakan sinar tidak langsung, warna bayangan saat dipantulkan tidak
berwarna hijau (fluoresensi tidak hijau). Jadi dari hasil tersebut urobilin
pada sampel klinis adalah negatif (-).

Pemeriksaan Urobilinogen Urine Cara Ehrlich

I. TUJUAN

Mahasiswa dapat memeriksa urobilinogen pada sampel urin

II. METODE

Metode Ehrlich
III. PRINSIP

Urobilinogen + paradimethyl aminobenzaldehyde dalam HCl  warna


merah

IV. DASAR TEORI

Terakhir dilakukan pemeriksaan urobilinogen dengan metode


Ehrlich. Prinsip pemeriksaan ini adalah urobilinogen dalam urine bereaksi
dengan reagen Ehrlich (paradimethylaminobenzaldehyde, serta HCl 50%)
akan membentuk warna jingga – merah. Sampel urine diambil sebanyak
5ml lalu ditambahkan kedalamnya 10-12 tetes reagen ehrlich dikocok dan
ditunggu selama 5 menit. Hasil pengamatannya, larutan berubah menjadi
warna merah yang berarti sampel positif mengandung urobilinogen
Urine yang terlalu alkalis menunjukkan kadar urobilinogen yang lebih
tinggi, sedangkan urine yang terlalu asam menunjukkan kadar
urobilinogen yang lebih rendah dari seharusnya. Kadar nitrit yang tinggi
juga menyebabkan hasil negative palsu.
Urobilinogen sering didapat dalam urine karena urobilinogen merupakan
suatu zat hasil perombakan hemoglobin yang digunakan untuk memberi
warna urine. Kadar eksresi urobilinogen normal dalam urine adalah 1-
4mg/24jam. Jika didapati kadar urobilinogen lebih dari kadar normal,
maka kemungkinan terdapat kerusakan hati atau berlebihnya Hb yang
dirombak oleh hati. Sejumlah besar urobilinogen berkurang di faeses,
sejumlah besar kembali ke hati melalui aliran darah; di sini urobilinogen
diproses ulang menjadi empedu, dan kira-kira sejumlah 1% diekskresikan
oleh ginjal ke dalam urin. mencapai kadar puncak antara jam 14.00 –
16.00, oleh karena itu dianjurkan pengambilan sampel dilakukan pada
jam-jam tersebut.
Urobilinogen meninggi dijumpai pada : destruksi hemoglobin
berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia hemolitik oleh sebab apapun),
kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis hepar,
keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi
usus, mononukleosis infeksiosa, anemia sel sabit. Hasil positif juga dapat
diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat disebabkan oleh
kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah
kecil urobilinogen.

Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif,


kanker pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang
dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare
yang berat.

Catatan:

- Urobilinogen setelah dioksidasi akan menjadi urobilin sehingga juga


akan memberikanreaksi positif. Oleh karena itu setelah ditetesi iodium
sering kali akan tampak lebih jelas warna hijaunya
- Untuk pemeriksaan urobilinogen tes hendaknya segera dikerjakan
paling tidak 30 menit setelah sampling
- Garam-garam empedu sering akan mengganggu reaksi ini. Dengan
penambhan BaCl2 maka akan terjadi endapan yang mengarbsopsikan
garam ini
- Forfobilinogen juga memberikan reaksi positif.
Tambahkan 2 ml chloroform lalu kocok bila warna merah pindah dibagian
bawah chloroform berarti urobilinogen. Tetapi bila tetap dibagian
atasberarti forfobilinogen

V. ALAT Dan BAHAN

 Tabung reaksi
 Reagen Ehrlich (paradimethyl aminobenzaldehyde 2% dalam HCL
50%)

VI. CARA KERJA

1. Ambil sebanyak 5 ml urine, masukkan ke dalam sebuah tabung reaksi

2. Tambahkan ke dalamnya 10-12 tetes reagen Ehrlich

3. Kocok, tunggu selama 5 menit

VII. INTERPRETASI

(+) : terbentuk warna merah

VIII. HASIL

Sebelum Sesudah Interpretasi Hasil


(+) positif Mengandung
Urobilinogen

IX. PEMBAHASAN

Urobilinogen adalah larut dalam air dan transparan produk yang


merupakan produk dengan pengurangan bilirubin dilakukan oleh
interstinal bakteri . Hal ini dibentuk oleh pemecahan hemoglobin.
Sementara setengah dari Urobilinogen beredar kembali ke hati, setengah
lainnya diekskresikan melalui feses sebagai urobilin. Ketika pernah ada
kerusakan hati, kelebihan itu akan dibuang keluar melalui ginjal. Ini siklus
ini dikenal sebagai Urobilinogen enterohepatik siklus . Ada dapat berbagai
faktor yang dapat menghambat ini siklus . Salah satu alasan menjadi
gangguan lebih dari hemoglobin (hemolisis) karena malfungsi hati
berbagai seperti hepatitis, sirosis. Ketika ini terjadi, Urobilinogen lebih
diproduksi dan diekskresikan dalam urin. Pada saat seseorang menderita
penyakit kuning, itu didiagnosa oleh warna kulit yang sedikit kuning dan
warna kuning dari urin.Namun bila ada obstruksi pada saluran empedu, hal
itu akan menyebabkan penurunan jumlah Urobilinogen dan ada lebih
sedikit urobilin dalam urin. Lebih rendah jumlah urobilin Sof dapat
disebabkan oleh hilangnya flora bakteri usus yang berperan dalam sintesa
produk HTI.Untuk mendeteksi jenis kerusakan di hati, tes Urobilinogen
dilakukan dengan mengukur kadar uribilinogendalam urin.

Syarat sampel untuk pemeriksaan urobilinogen adalah urin


segar karena urobilinogen dapat dioksidasi oleh udara, terutama jika
terkena sinar matahari, menjadi urobilin yang tidak dapat bereaksi
dengan reagen Ehrlich.
Empedu, yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin terkonjugasi
mencapai area duodenum, tempat bakteri usus mengubah bilirubin
menjadi urobilinogen. Sejumlah besar urobilinogen berkurang di faeses,
sejumlah besar kembali ke hati melalui aliran darah; di sini urobilinogen
diproses ulang menjadi empedu, dan kira-kira sejumlah 1% diekskresikan
oleh ginjal ke dalam urin.Ekskresi urobilinogen ke dalam urine kira-kira 1-
4 mg/24jam. Ekskresi mencapai kadar puncak antara jam 14.00 – 16.00,
oleh karena itu dianjurkan pengambilan sampel dilakukan pada jam-jam
tersebut ( Kimia Klinik,2013).

Pertama-tama yang kami lakukan sesuai Prosedur kerja yaitu,


Ambil sebanyak 5ml urine, masukkan kedalam tabung reaksi kemudian
tambahkan kedalamnya 10-12tetes reagen Ehrlich lalu kocok tunggu
selama 5 menit lalu amati perubahan yang terjadi.
Pada praktikum yang kami lakukan yaitu pemeriksaan
urobilinogen metode ehrlich menggunakan sampel mahasiswa yaitu urine
awal berawarna kuning jernih setelah ditetesi raegen Ehrlich sebanyak 10-
12 tetes berwarna merah muda jernih sehingga sampel urine tersebut
positif yaitu terjadi perubahan warna.

X. KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini yaitu pemeriksaan urobilinogen dengan


metode erhlich, pada sampel atas nama rama, jenis kelamin laki-laki,
terjadi perubahan warna dari kuning jernih menjadi marna merah, dari hal
tersebut dapat dinyatakan urobilinogen pada sampel (+) positif.

DAFTAR PUSTAKA
Pradnya Dewi, Tari. 2017. PEMBAHASAN BILIRUBIN,
UROBLIN, DAN UROBILINOGEN. Jakarta. Diakses dari
https://kupdf.net/download/pembahasan-bilirubin-urobilin-
urobilinogen_5af62310e2b6f57f336a6ae8_pdf pada tanggal 03 September
2019 jam 19.22

R. Gandosoebrata. 2017. PENUNTUN LABORATORIUM


KLINIK. Dian Rakyat.

Rinawidhi. 2016. PEMBAHASAN BILIRUBIN, UROBILIN,


DAN UROBILINOGEN. Jakarta. Diakses dari
https://www.scribd.com/doc/314355744/Pembahasan-Bilirubin-Urobilin-
Urobiinogen pada tanggal 03 September 2019 jam 13.00

Rizki, Bobby. 2019. PEMERIKSAAN URINE ATAS INDIKASI


BILIRUBIN. Jakarta. Diakses dari
https://www.academia.edu/7109976/PEMERIKSAAN_URINE_ATAS_IN
DIKASI_BILIRUBIN pada tanggal 03 September 2019 jam 19.00

Santhi, Dharma. 2016.PENUNTUN PRAKTIKUMKIMIA


KLINIKURINALISIS DAN CAIRAN TUBUH. FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA. Diakses dari
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1
&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiJ4tj-
m__kAhXBXCsKHQS_AgwQFjAAegQIBRAC&url=https%3A%2F%2F
simdos.unud.ac.id%2Fuploads%2Ffile_pendidikan_1_dir%2F0632105965
68b957e068644c46324bae.pdf&usg=AOvVaw0j4ghsT1mdJPJpqSR1O5o
e Pada tanggal 03 September 2019 jam 18.55

https://mitsukoraynzz.wordpress.com/2012/06/10/pemeriksaan-
urine-atas-indikasi-bilirubin-pemeriksaan-urine-atas-indikasi-urobilin/

Baron, D.N, 1990, Patologi Klinik, Ed IV, Terj. Andrianto P dan


Gunakan J, Penerbit EGC, Jakarta.
Depkes, 1991, Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium
Puskesmas,Jakarta,Depkes

Guyton, A.C, 1983, Buku Teks Fisiologi Kedokteran, edisi V,


bagian 2, terjemahan Adji Dharma et al.,E.G.C., Jakarta.

Kimia Klinik. (2013). Urobilinogen urin. Hal : 27 – 28 . Jakarta :


DEPKES. ( https://www.infolabme.com )

Rizka laka.dkk (2016) Praktikum Kimia Klinik. Poltekkes


Kemenkes Kupang.

( https://caridokumen.com )

Gandasoebarta, Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat,


Jakasrta 1968.

( http://www.atlm-edu.id )

Anonim (2018) Penuntun Praktikum Kimi Klinik, Tim dosen


kimia farmasi UMI: Makassar

(https://www.academia.edu/38556462/Laporan_kimia_klinik_dasa
r_pemeriksaan_urine)

Anda mungkin juga menyukai