Anda di halaman 1dari 24

NASIONALISME

Paham Nasionalisme di Eropa pada Abad-19

Paham nasionalisme berkembang dari Eropa dan sejak abad ke-19 menyebar ke
berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Secara etimologis nasionalisme
berasal dari bahasa Inggris, yaitu nation yang artinya bangsa. Di Eropa paham
nasionalisme dipicu oleh berbagai peristiwa, seperti terjadinya Revolusi Prancis,
Revolusi Industri di Inggris, dan juga Revolusi Amerika. Beberapa tokoh seperti Hans
Kohn, Lothrop Stoddard, dan Otto Bouer memberikan definisi tentang nasionalisme.
Hans Kohn menyebutkan bahwa nasionalisme merupakan suatu paham yang
menempatkan kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara dan
bangsa. Lothrop Stoddard memandang nasionalisme sebagai suatu kepercayaan
yang hidup dalam hati rakyat yang berkumpul menjadi suatu bangsa. Otto Bouer
mengartikan paham nasionalisme muncul dikarenakan adanya persamaan sikap dan
tingkah laku dalam memperjuangkan nasib yang sama, misal akibat adanya
persamaan penderitaan dan kesengsaraan sebagai bangsa yang terjajah. Dari
pendapat-pendapat di atas, secara garis besar nasionalisme diartikan sebagai suatu
paham atau kesadaran rasa kebangsaan sebagai bangsa yang didasarkan atas
adanya rasa cinta kepada tanah air dalam mencapai, mempertahankan,
mengabadikan identitas, dan integrasi kekuatan bangsanya. Paham nasionalisme
yang berkembang di Eropa tersebut pada perkembangan selanjutnya memberikan
pengaruh terhadap tumbuh kembangnya nasionalisme di kawasan Asia-Afrika,
khususnya di Indonesia. Paham nasionalisme di kawasan AsiaAfrika secara objektif
didorong oleh berbagai faktor, di antaranya persamaan keturunan, bahasa, budaya,
kesatuan politik, adat istiadat, tradisi, agama, dan lain-lain. Konsep nasionalisme
semakin berkembang dan menjadi wacana yang banyak mendapat perhatian,
diperdebatkan dan dianut oleh berbagai negara di dunia setelah berlangsungnya
Perang Dunia I. Negara-negara yang pertama menganut paham nasionalisme adalah
Inggris, Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Masing-masing negara tersebut
menyadari akan pentingnya semangat kebangsaan dengan didasarkan pada:

a. Keinginan untuk dapat bersatu dengan semangat kesetiakawanan yang tinggi


b. Adanya persamaan nasib;
c. Perasaan bersatu antara manusia dengan tempat tinggalnya.

Perkembangan nasionalisme Eropa berlangsung ketika terjadi pergantian tatanan


kehidupan masyarakat, yaitu dari masyarakat feodal menuju masyarakat industri.
Perubahan dan pergantian tersebut diawali dengan terjadinya Revolusi Industri di
Inggris.Revolusi Industri ini pada akhirnya membawa masyarakat pada system
kehidupan kapitalis dan liberalis
Pengertian Nasionalisme

Secara etimologi asal kata Nasionalisme berasal dari kata latin natio yang berarti
kelahiran, dan suku. dalam perkembanganya kemudian dikembangkan menjadi nation
(bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda) yang artinya adalah bangsa. Dalam pengertian
antropologis dan sosiologis, Bangsa adalah suatu persekutuan hidup yang berdiri
sendiri dan masing-masing anggota persekutuan hidup merasa satu kesatuan ras,
bahasa, agama, sejarah dan adat-istiadat. Sedangkan dalam pengertian politik adalah
masyarakat dalam suatu daerah yang sama, dan mereka tunduk pada kedaulatan
negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi keluar dan kedalam. Untuk membentuk
sebuah bangsa,orang-orangnya merasa diri untuk Bersatu dan harus mauh bersatu.
Keinginan untuk bersatu itu bisa disebabkan oleh persamaan latar belakang sejarah,
kebudayan, tradisi, dan kepentingan. misalkan bangsa Indonesia yang tauh benar
bahwa dimasa kejayaanya dibawah pimpinan kerajaan Sriwijaya, Majapahit dan
Mataram dan merasakan penjajahan.

Nasonalisme sebetulnya produk lain dari revolusi prancis. Istilah nasionalisme


sebetulnya sudah ada sejak jaman kuno. Saat terjadi revolusi prancis, beberapa tokoh
kemudian menggabungkan pengertian nasionalisme yang lebih tua ini dengan sebuah
gagasan tentang bangsa. Sejak saat itulah berkembang gagasan tentang bangsa dan
nasionalisme. Akan tetapi gagasan nasionalisme cenderung tidak realistis bahwa
ketika kita berbicara bangsa, bukan saja meliputih faktor budaya dll., yang dimiliki
namun tempat atau wilayah juga sebagai tempat perkumpulan dan menetap yang
kemudian disebut tanah air adalah hal mutlak yang harus diwujudkan sebagaimana
yang dilakukan oleh bangsa Israel.

Dalam konteks bangsa indonesia, beberapa bangsa yang mendiami pulau-pulau


mengikatkan diri pada sebuah bangsa besar bernama indonesia. Kesadaran untuk
menjadi satu negara bangsa (nation) inilah yang melatarblakangi munculnya
nasionalisme. Jadi Nasionalisme adalah suatu paham kesadaran untuk hidup
bersama sebagai suatu bangsa karena adanya kebersamaan kepentingan, rasa
senasib sepenanggungan dalam menghadapi masa lalu dan masa kini serta
kesamaan pandangan, harapan dan tujuan dalam merumuskan cita-cita masa depan
bangsa. Untuk mewujudkan kesadaran tersebut dibutuhkan semangat patriot dan
perikemanusiaan yang tinggi, serta demokratisasi dan kebebasan berfikir sehingga
akan mampu menumbuhkan semangat persatuan dalam masyarakat pluralis. Ketika
negara-negara eropa dengan paham politik imprealisme telah melakukan
kolonialisme kemudian mengakibatkan Penderitaan yang dasyat membuat
bangsabangsa dan sala satunya bangsa indonesia bersatu dan berpegang pada
sebuah ideologi pendobrak yakni nasionalisme dan gagasan persatuan nasional pun
mulai tersebar luas hingga menyebar ke seluruh negara bangsa yang di jajah pada
saat itu
Nasionalisme Secara Umum

Apa itu nasionalisme? Pengertian Nasionalisme adalah paham kebangsaan dari


masyarakat suatu negara yang memiliki kesadaran dan semangat cinta tanah air dan
bangsa yang ditunjukkan melalui sikap dan tingkah laku individu atau masyarakat.
Arti nasionalisme dapat juga didefinisikan sebagai pemahaman dari masyarakat suatu
bangsa yang mempunyai keselarasan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-
cita dan tujuan sehingga timbul rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari
internal maupun eksternal.
Beberapa contoh sikap dan perilaku nasionalisme adalah:

 Mematuhi aturan yang berlaku


 Mematuhi hukum negara
 Melestarikan budaya Indonesia
 Menciptakan dan mencintai produk dalam negeri
 Bersedia melakukan aksi nyata membela, mempertahankan, dan memajukan
negara
 Dan lain-lain.
Pengertian Nasionalisme Menurut Para Ahli

1. Otto Bauar
Menurut Otto Bauar pengertian nasionalisme adalah suatu persatuan perangai
atau karakter yang timbul karena perasaan senasib.
2. Ernest Renan
Menurut Ernest Renan pengertian nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu
dan bernegara.
3. Hans Kohn
Menurut Hans Kohn, Nasionalisme secara fundamental timbul dari adanya
National Counciousness. Dengan perkataan lain nasionalisme adalah formalisasi
(bentuk) dan rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara
sendiri. Dan kesadaran nasional inilah yang membentuk nation dalam arti politik,
yaitu negara nasional.
4. L. Stoddard
Menurut L. Stoddard nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh
sebagian besar masyarakat di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan
sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa.
5. Smith
Menurut Smith, definisi nasionalisme adalah suatu gerakan ideologis yang
digunakan untuk meraih dan memelihara otonomi, kohesi, dan individualitas.
Gerakan ini dilakukan oleh satu kelompok sosial tertentu yang diakui oleh
beberapa anggotanya guna membentuk atau menentukan satu bangsa atau yang
berupa potensi saja.
Teori dan Tokoh Nasionalisme

 Ernest Renan
Unsur utama dalam nasionalisme adalah le desir de’etre ensemble (kemauan
untuk bersatu). Kemauan bersama ini disebut nasionalisme yaitu suatu paham
yang memberi ilham kepada sebagian besar penduduk bahwa nation state adalah
cita-cita dan merupakan bentuk organisasi politik yang sah, sedangkan bangsa
merupakan sumber semua tenaga kebudayaan dan kesejahteraan ekonomi.
 Otto Bauer
Nasionalisme adalah suatu persatuan perangai atau karakter yang timbul dari
adanya national consiousnis atau kesadaran nasional berbangsa dan bernegara
sendiri.
 Mahatma Ghandi
India untuk menghadapi Inggris membentuk organisasi kebangsaan dengan nama
”All India National Congres”. Tokohnya, Mahatma Gandhi, Pandit Jawaharlal
Nehru, B.G. Tilak, dsb. Akan tetapi tokoh pergerakan yang paling tersohor dan
salah satu tokoh nasioanalisme yang paling terpopuler adalah nasionalisme
adalah Mahatma Gandhi yang memiliki konsepsi dasar perjuangan:
 Ahimsa (dilarang membunuh) yaitu gerakan anti peperangan.
 Hartal, merupakan gerakan dalam bentuk asli tanpa berbuat apapun walaupun
mereka masuk kantor atau pabrik.
 Satyagraha, merupakan gerakan rakyat India untuk tidak bekerja sama dengan
pemerintah kolonial Inggris.
 Swadesi, merupakan gerakan rakyat India untuk memakai barang-barang
buatan negeri sendiri. (Selain itu adanya pendidikan Santiniketan oleh
Rabindranath Tagore).
 Sun Yat Sen
Gerakan ini dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, yang mengadakan pembaharuan
dalam segala sektor kehidupan bangsa Cina. Dia menentang kekuasaan Dinasti
Mandsyu. Dasar gerakan San Min Chu:
 Republik Cina adalah suatu negara nasional Cina
 Pemerintah Cina disusun atas dasar demokrasi (kedaulatan berada di tanggan
rakyat)
 Pemerintah Cina mengutamakan kesejahteraan sosial bagi rakyatnya. Apa
yang dilakukan oleh Dr. Sun Yat Sen sangat besar pengaruhnya terhadap
pergerakan rakyat Indonesia. Terlebih lagi setelah terbentuknya Republik
Nasionalis Cina (1911).
 Mustafa Kemal Pasha
Dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha menuntut pembaharuan dan modernisasi di
segala sektor kehidupan masyarakatnya. Ia ingin agar dapat menumbangkan
Khilafah (Negeri Islam) dengan faham racun (nasionalisme dan sekulerisme).
Mustafa Kemal merupakan agen Inggris (Negeri Penjajah). Gerakan Turki Muda
ini banyak mempengaruhi munculnya pergerakan nasional di Indonesia.
 Arabi Pasha
Dipimpin oleh Arabi Pasha (1881-1882) dengan tujuan menentang kekuasaan
bangsa Eropa terutama Inggris atas negeri Mesir. Adanya pandangan modern
dari Mesir yang dikemukakan oleh Muhammad Abduh mempengaruhi berdirinya
organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia seperti Muhammaddiyah.Intinya
dengan gerakan kebangsaan dari berbagai negara tersebut mendorong negara-
negara lain termasuk Indonesia untuk melakukan hal yang sama yaitu melawan
penjajahan dan kolonialisme di negaranya.
 Bung Karno
Nasionalisme itu yalah suatu iktikad; suatu keinsyafan rakyat, bahwa rakyat itu ada
satu golongan, satu "bangsa" lanjut bung karno nasionalisme bukan saling
mengecualikan akan tetapi saling bersahabat karna kemanusiaan adalah satu.
Tujuan Nasionalisme

Sikap nasionalisme di suatu negara memiliki tujuan tertentu. Berikut ini adalah
beberapa tujuan nasionalisme:

 Menumbuhkan dan meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa.
 Membangun hubungan yang rukun dan harmonis antar individu dan masyarakat.
 Membangun dan mempererat tali persaudaraan antar sesama anggota
masyarakat.
 Berupaya untuk menghilangkan ekstrimisme atau tuntutan berlebihan dari warga
negara kepada pemerintah.
 Menumbuhkan semangata rela berkorban bagi tanah air dan bangsa.
 Menjaga tanah air dan bangsa dari serangan musuh, baik dari luar maupun dari
dalam negeri.
Ciri-Ciri Nasionalisme

Nasionalisme dapat kita kenali dari karakteristiknya. Menurut Drs. Sudiyo, ciri-ciri
nasionalisme adalah sebagai berikut:

 Adanya persatuan dan kesatuan bangsa.


 Adanya organisasi modern yang sifatnya nasional.
 Perjuangan yang dilakukan sifatnya nasional.
 Nasionalisme bertujuan untuk kemerdekaan dan mendirikan suatu negara
merdeka dimana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat.
 Nasionalisme lebih mengutamakan pikiran, sehingga pendidikan memiliki peranan
penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Semangat nasionalisme juga tertuang dalam Pancasila, yaitu pada sila ke-3 Pancasila
yang bunyinya “Persatuan Indonesia” denga ciri-ciri:

 Rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.


 Rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.
 Bangga memiliki tanah air dan bangsa Indonesia.
 Memposisikan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan
golongan.

Nasionalisme dan Negara Bangsa


Hubungan negara dan warga negara sangat kuat, tidak dapat dilepaskan dari paham
nasionalisme. Kewarganegaraan merupakan konsekuensi dari paham nasionalisme.
Dengan terbentuknya negara bangsa atau negara modern maka yang paling penting
adalah siapa-siapa yang menjadi warga negara dan negara bangsa tersebut.
Nasionalisme memiliki banyak arti, tergantung dari penekanan dan sudut pandang
yang dipakai. Nasionalisme dapat diartikan kesadaran diri suatu bangsa.
Nasionalisme berkaitan dengan gagasan dan sentimen tentang identitas nasional
bersamaan dengan identitas seperti agama, suku, kelas, gender dan lain-lain.
Nasionalisme juga merupakan gerakan untuk meraih dan memelihara otonomi kohesi
dan individualitas bagi suatu kelompok.
Nasionalisme terbagi menjadi 5 jenis yaitu:
1. Nasionalisme humaniter
2. Nasionalisme yacobin
3. Nasionalisme tradisional
4. Nasionalisme liberal
5. Nasionalisme integral

Konsep nasionalisme dapat dikatakan sebagai suatu konsep yang meletakkan


kesetiaan tertinggi seseorang pada suatu negara tertentu. Konsep nasionalisme
berasal dari peradaban purba Yunani dan Ibrani Purba. Yang kemudian diubah
pandangannya oleh kaum kosmopolitan dengan pendapat tidak ada bangsa yang ada
warga dunia. Dengan munculnya Rennaissance dan reformasi maka nasionalisme
kemudian tumbuh dan berkembang dan akhirnya lahirlah bangsa-bangsa modern.
Revolusi Prancis pada tahun 1789 mengakibatkan perombakan total pada berbagai
bidang politik, negara memiliki peranan yang sangat penting memahami pendidikan
agar terbentuk generasi muda nasionalis. Revolusi ini digerakkan oleh bangsawan
nasionalis.
Indonesia dapat dicirikan sebagai satu negara modern didasari dengan semangat
kebangsaan atau nasionalisme yaitu masyarakat untuk membangun masa depan
bersama negara walaupun berbeda-beda suku, agama, ras, etnik, budayadan
golongan. Nasionalisme lahir pada abad 20 dengan adanya organisasi Boedi Oetomo
yang menghasilkan ketetapan Sumpah Pemuda pada tanggal 20 Oktober 1928.
Tetapi pada saat itu belum dilandasi dengan nasionalisme. Akar nasionalisme muncul
setelah para pemuda belajar di Belanda atau belajar dari pemerintah jajahanyang
memunculkan nasionalisme modern karena melampaui batas-batas etnis.
Untuk membentuk negara lebih sulit daripada membentuk pemerintahan khususnya
bangsa yang majemuk seperti Indonesia. Agar terbentuk negara modern harus
memiliki wawasan kenegaraan dan dasar-dasar kultur Politik Nasional yang bersifat
abstrak dan lembaga-lembaga negara yang bersifat konkrit untuk mewujudkan
kepentingan rakyat. Perlu adanya integrasi nasional yang solid.
Dalam merancang lembaga-lembaga negara Indonesia bersumber dari :
1. Esensi kultur politik tradisional yang dianut masyarakat Indonesia yang sifatnya
majemuk
2. Faham atau institusi kenegaraan modern yang dianut pemimpin pergerakan
kemerdekaan Indonesia.

Dari faham dan institusi kenegaraan modern disepakati bahwa paham negara yang
berdasarkan hukum, bentuk negara yang republik, kedaulatan rakyat atau demokrasi,
pemilihan umum, sistem pemerintahan presidensiil, pengawasan oleh dewan
perwakilan rakyat, otonomi daerahdan jaminan hak warga negara dan penduduk.
Dengan kesepakatan tersebut maka terbentuklah negara Indonesia.
 Nasionalisme dibedakan menjadi lima jenis, yaitu nasionalisme humaniter,
nasionalisme jacobin, nasionalisme tradisional, nasionalisme liberal, dan
nasionalisme integral.
 Nasionalisme humaniter adalah nasionalisme yang mendasarkan pandangannya
bahwa setiap bangsa berhak memperjuangkan kesejahteraan bangsanya
berdasarkan caranya sendiri.
 Nasionalisme jacobin adalah nasionalisme yang demokratis, tetapi doktriner dan
fanatic terhadap bangsa lain.
 Nasionalisme tradisional adalah nasionalisme yang menekankan keunikan setiap
bangsa dan mempertahankan tradisi dan sejarahnya. Nasionalisme liberal adalah
nasionalisme yang menekankan pentingnya dunia berpegang pada prinsip dimana
setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri.
 Nasionalisme integral adalah nasionalisme yang menekankan kepentingan
nasional ada di atas kepentingan individu, berdasarkan prinsip tersebut semua
warga negara harus sepenuhnya setia kepada negara.

Bentuk Nasionalisme

1. Nasionalisme Kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil)


Merupakan bentuk nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari
penyertaan aktif rakyatnya, kehendak rakyat, atau perwakilan politik.
2. Nasionalisme Etnis
Adalah sejenis semangat kebangsaan dimana negara memperoleh kebenaran politik
dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat.
3. Nasionalisme Romantik/Organik/Identitas
Dimana negara memperoleh kebenaran politik secara semula jadi (organik) hasil dari
bangsa atau ras; menurut semangat romantisme.
4. Nasionalisme Budaya
Bentuk nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya
bersama dan bukannya “sifat keturunan” seperti warna kulit, ras dan sebagainya.
5. Nasionalisme Kenegaraan
Variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalisme
etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi keutamaan mengatasi hak
universal dan kebebasan.
6. Nasionalisme Agama
Bentuk nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan
agama.
Prinsip Nasionalisme

Semangat nasionalisme dalam negara kebangsaan dijiwai oleh lima prinsip


nasionalisme, yakni:

1) kesatuan (unity), dalam wilayah teritorial, bangsa, bahasa, ideologi, dan doktrin
kenegaraan, sistem politik atau pemerintahan, sistem perekonomian, sistem
pertahanan keamanan, dan policy kebudayan;
2) kebebasan (liberty, freedom, independence), dalam beragama, berbicara dan
berpendapat lisan dan tertulis, berkelompok dan berorganisasi;
3) kesamaan (equality), dalam kedudukan hukum, hak dan kewajiban;
4) kepribadian (personality) dan identitas (identity), yaitu memiliki harga diri (self
estreem), rasa bangga (pride) dan rasa sayang (depotion) terhadap kepribadian
dan identitas bangsanya yang tumbuh dari dan sesuai dengan sejarah dan
kebudayaannya;
5) prestasi (achievement), yaitu cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan (welfare)
serta kebesaran dan kemanusiaan (the greatnees adn the glorification) dari
bangsanya

Sejarah Nasionalisme Dunia

 Pada akhir abad ke-18 sampai dengan awal abad ke-19, nasionalisme muncul
sebagai ide baru di Benua Eropa dan Amerika. Kemunculan ide ini dilanjutkan
dengan proses integrase kerajaan-kerajaan serta pembentukan negara nasional.
 Pada awal abad ke-20 nasionalisme tumbuh di Asia. Sebagian besar sebagai
reaksi perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme.
 Ide nasionalisme pada bangsa Amerika didorong oleh semangat kebebasan dan
persamaan melawan sistem kekuasaan yang menindas dan diskriminatif terhadap
ras tertentu.
 Nasionalisme bangsa Amerika ini berhasil menciptakan negara nasional pertama
di dunia pada tahun 1776.
 Ide nasionalisme di Benua Eropa yang menonjol adalah nasionalisme di Prancis
dan Jerman.
 Nasionalisme pada bangsa Prancis erat kaitannya dengan gerakan revolusi
Prancis.
 Ide nasionalisme di Prancis berhasil mengganti sistem kerajaan dengan sistem
demokrasi atau kedaulatan rakyat.
 Nasionalisme pada bangsa Jerman lebih dekat dengan nasionalisme yang
berkembang menjadi chauvinisme. Hal ini karena bangsa Jerman merasa sebagai
bangsa yang paling unggul di dunia melebihi ras bangsa lain.
 Nasionalisme bangsa Jerman ini yang diikuti dengan gerakan untuk menguasai
dan menghapuskan ras bangsa tertentu kemudian menjadi pemicu perang dunia
II.
Nasionalisme di Indonesia
 Tiga titik sejarah penting pertumbuhan dan perkembangan nasionalisme di
Indonesia adalah Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, dan Proklamasi
Kemerdekaan
 Kebangkitan Nasional yang ditandai dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo
pada tahun 1908, merupakan titik lahirnya ide atau gagasan tentang nasionalisme
Indonesia
 Sumpah Pemuda tahun 1928 merupakan ikrar atau perjanjian untuk mewujudkan
nasionalisme dalam ikatan satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa
persatuan.
 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 adalah sebuah pernyataan
nasionalisme sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, dan bersatu dalam wadah
negara nasional yang bernama Republik Indonesia.
Tantangan nasionalisme di NKRI dapat dibagi menjadi beberapa periode waktu
sebagai berikut:

Faktor Pendorong Nasionalisme Di Indonesia


Nasionalisme di dorong oleh sejarah internal dan eksternal
Eksternal

a. Pada tahun 1905 Jepang menang atas Rusia dalam peperangan, sehingga
menaikkan rasa percaya diri bahwa bangsa berwarna mampu mengalahkan
bangsa kulit putih
b. Terbentuknya negara-negara baru yang merupakan hasil dari munculnya
nasionalisme di daerah Asia dan Afrika
c. Beberapa prinsip Woodrow Wilson yang terdapat dalam Wilson 14 points. Semua
hal tersebut dapat diserap oleh kaum terpelajar Indonesia saat menuntut ilmu di
luar negeri.

Internal

a. Kejayaan bangsa Indonesia sebelum kedatangan bangsa barat di bawah kerajaan


Sriwijaya, Mataram dan Majapahit.
b. Penderitaan rakyat akibat politik Drainage (pengerukaan kekayaan)
c. Adanya Diskriminasi rasial.
d. Munculnya golongan terpelajar pada awal abad ke-20 ketika di terapkan politik etis
oleh kolonial.

Penerapan politik inilah peluang bagi bangsa indonesia secara strategi, sehingga
kemudian dimanfaatkan oleh para pendiri bangsa indonesia untuk mengenyam
pendidikan yang selama ini telah dieksploitasi oleh Belanda. Ketika sudah banyak
pribumi yang mengenyam pendidikan lanjut kemudian mulai lah merumuskan format
perlawanan yang baru, sala satunya adalah pembentukan organisasi-organisasi
kepemudaan.
Organisasi gerakan modern

Budi Utomo (BU, 20 Mei 1908)


Gagasan pertama pembentukan Budi Utomo berasal dari dr. Wahidin Sudirohusodo,
seorang dokter Jawa dari Surakarta. Ia menginginkan adanya tenaga-tenaga muda
yang terdidik secara Barat, namun pada umumnya pemuda-pemuda tersebut tidak
sanggup membiayai dirinya sendiri. Sehubungan dengan itu perlu dikumpulkan
beasiswa (study fond) untuk membiayai mereka.
Pada tahun 1908 dr. Wahidin bertemu dengan Sutomo, pelajar Stovia. Dokter Wahidin
mengemukakan gagasannya pada pelajar-pelajar Stovia dan para pelajar tersebut
menyambutnya dengan baik. Secara kebetulan para pelajar Stovia juga memerlukan
adanya suatu wadah yang dapat menampung kegiatan dan kehidupan budaya
mereka pada umumnya. Sehubungan dengan itu pada tanggal 20 Mei 1908 diadakan
rapat di satu kelas di Stovia. Rapat tersebut berhasil membentuk sebuah organisasi
bernama Budi Utomo dengan Sutomo ditunjuk sebagai ketuanya.
Pada awalnya tujuan Budi Utomo adalah menjamin kemajuan kehidupan sebagai
bangsa yang terhormat. Kemajuan ini dapat dicapai dengan mengusahakan
perbaikan pendidikan, pengajaran, kebudayaan, pertanian, peternakan, dan
perdagangan. Namun sejalan dengan berkembangnya waktu tujuan dan kegiatan
Budi Utomo pun mengalami perkembangan.
Pada tahun 1914 Budi Utomo mengusulkan dibentuknya Komite Pertahanan Hindia
(Comite Indie Weerbaar). Budi Utomo menganggap perlunya milisi bumiputra untuk
mempertahankan Indonesia dari serangan luar akibat Perang Dunia Pertama (PD I,
1914 – 1918). Namun, usulan itu tidak dikabulkan dan justru pemerintah Belanda lebih
mengutamakan pembentukan Dewan Rakyat Hindia (Volksraad). Selanjutnya ketika
Volksraad (Dewan Rakyat) didirikan, Budi Utomo aktif dalam lembaga tersebut. Pada
tahun 1932 pemahaman kebangsaan Budi Utomo makin berkembang maka pada
tahun itu pula mereka mencantumkan cita-cita Indonesia merdeka dalam tujuan
organisasi.

Serikat Islam (SI, Agustus 1911)


Berbeda dengan Budi Utomo yang mula-mula hanya mengangkat derajat para priyayi
khususnya di Jawa, maka organisasi Serikat Islam mempunyai sasaran anggotanya
yang mencakup seluruh rakyat jelata yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Pada
tahun 1909 R.M. Tirtoadisuryo mendirikan perseroan dalam bentuk koperasi bernama
Sarekat Dagang Islam (SDI). Perseroan dagang ini bertujuan untuk menghilangkan
monopoli pedagang Cina yang menjual bahan dan obat untuk membatik. Persaingan
pedagang batik Bumiputra melalui SDI dengan pedagang Cina juga nampak di
Surakarta. Oleh karena itu Tirtoadisuryo mendorong seorang pedagang batik yang
berhasil di Surakarta, Haji Samanhudi untuk mendirikan Serikat Dagang Islam.
Setahun setelah berdiri, Serikat Dagang Islam tumbuh dengan cepat menjadi
organisasi raksasa. Sekitar akhir bulan Agustus 1911, nama Serikat Dagang Islam
diganti menjadi Serikat Islam (SI). Hal ini dilakukan karena adanya perubahan dasar
perkumpulan, yaitu mencapai kemajuan rakyat yang nyata dengan jalan
persaudaraan, persatuan dan tolong-menolong di antara kaum muslimin. Anggota SI
segera meluas ke seluruh Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Sebagian besar
anggotanya adalah rakyat jelata. Serikat Islam ini dapat membaca keinginan rakyat,
dengan membantu perbaikan upah kerja, sewa tanah dan perbaikan sosial kaum tani.
Perkembangan yang cepat ini terlihat pada tahun 1917 dengan jumlah anggota
mencapai 450.000 orang yang tersebar pada 84 cabang.
Meningkatnya anggota Serikat Islam secepat ini, membuat pemerintah Hindia
Belanda menaruh curiga. Gubernur Jenderal Idenburg berusaha menghambat
pertumbuhannya. Kebijakan yang diambil antara lain dengan cuma memberikan izin
sebagai badan hukum pada tingkat lokal. Sebaliknya pada tingkat pusat tidak
diberikan izin sebab dianggap membahayakan, jumlah anggota yang terlalu besar
diperkirakan akan dapat melawan pemerintah.
Dalam kongres tahunannya pada tahun 1916, H.O.S Cokroaminoto mengusulkan
kepada pemerintah untuk membentuk Komite Pertahanan Hindia. Hal itu
menunjukkan bahwa kesadaran politik bangsa Indonesia mulai meningkat. Dalam
kongres itu diputuskan pula adanya satu bangsa yang menyatukan seluruh bangsa
Indonesia.
Sementara itu orang-orang sosialis yang tergabung dalam de Indische Sociaal
Democratische Vereeniging (ISDV) seperti Semaun, Darsono, dan lain-lain mencoba
mempengaruhi SI. Sejak itu SI mulai bergeser ke kiri (sosialis). Melihat perkembangan
SI itu, pimpinan SI yang lain kemudian menjalankan disiplin partai melalui kongres SI
bulan Oktober 1921 di Surabaya. Selanjutnya SI pecah menjadi SI “putih” di bawah
Cokroaminoto dan SI “merah” di bawah Semaun dan Darsono. Dalam Perkembangan
SI “merah” ini bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang telah berdiri
sejak 23 Mei 1920.
Dalam kongres Serikat Islam di Madiun pada tahun 1923 nama Serikat Islam diganti
menjadi Partai Serikat Islam (PSI). Partai ini bersifat nonkooperasi yaitu tidak mau
bekerjasama dengan pemerintah tetapi menginginkan adanya wakil dalam Dewan
Rakyat (Volksraad).

Muhammadiyah (18 November 1912)


Pada tanggal 18 November 1912 Muhammadiyah didirikan oleh Kyai Haji Ahmad
Dahlan di Yogyakarta. Organisasi Muhammadiyah bergerak di bidang pendidikan,
sosial dan budaya. Muhammadiyah bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam dalam
pelaksanaan hidup sehari-hari agar sesuai dengan Al-Qur‟an dan Hadits.
Muhammadiyah berusaha memberantas semus jenis perbuatan yang tidak sesuai
dengan al-Qur‟an dan hadits. Di samping itu, Muhammadiyah juga giat memerangi
penyakit TBC (Taklid, Bid’ah dan Churafat) yang menghinggapi masyarakat
khususnya di Jawa.
Praktik Churafat atau lebih dikenal dengan praktik-praktik amalan ibadah yang salah
menurut Islam, karena mendekati takhayul, perilaku syirik (menyekutukan Tuhan)
yang banyak terjadi di lingkungan Kerajaan Mataram Yogyakarta dan sekitarnya
seperti: percaya kepada kekuatan keris, tombak, peristiwa gerhana bulan dianggap
sebagai Buta Ijo sedang memakan bulan, dan bahkan ada yang percaya kepada Nyi
Roro Kidul. Hal itu barangkali alasan yang dapat menjawab pertanyaan mengapa
Muhammadiyah lahir di kota Yogyakarta.
Untuk mencapai tujuannya Muhammadiyah melakukan berbagai usaha seperti:
mendirikan sekolah-sekolah, mendirikan rumah sakit, mendirikan panti asuhan,
mendirikan rumah anak yatim piatu dan lain-lain.
Di bidang pendidikan Muhammadiyah mendirikan dan mengelola sekolah-sekolah
dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi. Di sekolah-sekolah
Muhammadiyah selain diajarkan agama juga diajarkan pelajaran umum yang
mengacu pada kaidah-kaidah modern. Pendidikan mengenal sistem kurikulum kelas
atau tingkatan, sebagaimana dilakukan sekolah model Barat.
Dalam perkumpulan Muhammadiyah terdapat bagian wanita yang disebut Aisyiah,
bagian khusus anak gadis disebut Nasyiatul Aisiyah, dan kepanduan yang disebut,
Hizbul Wathan.

Indische Partij (IP, 1912)


Organisasi yang sejak berdirinya sudah bersikap radikal adalah Indische Partij.
Organisasi ini dibentuk pada tanggal 25 Desember 1912 di kalangan orang-orang Indo
di Indonesia yang dipimpin oleh Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (dr.
Danudirja Setiabudi). Cita-citanya adalah agar orang-orang yang menetap di Hindia
Belanda (Indonesia) dapat duduk dalam pemerintahan. Adapun semboyan IP adalah
Indie Voor de Indier (Hindia bagi orang-orang yang berdiam di Hindia).
Dalam menjalankan propagandanya ke Jawa Tengah, E.F.E Douwes Dekker bertemu
dengan Cipto Mangunkusumo yang telah meninggalkan Budi Utomo. Cipto
Mangunkusumo terkenal dalam Budi Utomo dengan pandangan-pandangannya yang
radikal, segera terpikat pada ide Douwes Dekker. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar
Dewantara) dan Abdul Muis yang berada di Bandung juga tertarik pada ide Douwes
Dekker tersebut. Dengan dukungan tokoh-tokoh tersebut, Indische Partij berkembang
menjadi 30 cabang dengan 7.300 orang anggota, sebagian besar terdiri atas orang-
orang Indo-Belanda.
Indische Partij berjasa memunculkan konsep Indie voor de Indier yang sesungguhnya
lebih luas dari konsep “Jawa Raya” dari Budi Utomo. Dibandingkan dengan Budi
Utomo, Indische Partij telah mencakup suku-suku bangsa lain di nusantara. Budi
utomo dalam perkembangannya terpengaruh juga oleh cita-cita nasionalisme yang
lebih luas. Hal ini dialami juga oleh organisasi-organisasi lain yang keanggotaannya
terdiri atas suku-suku bangsa tertentu, seperti Serikat Ambon, Serikat Minahasa,
Kaum Betawi, Partai Tionghoa Indonesia, Serikat Selebes, dan Partai Arab-Indonesia.
Cita-cita persatuan ini kemudian berkembang menjadi nasionalisme yang kokoh, hal
ini menjadi pokok.
Masa akhir Indische Partij terjadi setelah Suwardi Suryaningrat dan Cipto
Mangunkusumo ditangkap. Pemerintah Belanda menganggap Indische Partij
mengganggu serta mengancam ketertiban umum. Oleh karena itu, para pemimpinnya
ditangkap dan dibuang. dr. E.F.E. Douwes Dekker atau dr. Danudirja Setiabudi
dibuang ke Kupang (NTT), dr. Cipto Mangunkusumo dibuang ke Bandanaira di
Kepulauan Maluku, dan Raden Mas Suwardi Suryaningrat dibuang ke Pulau Bangka.
Akhirnya kedua tokoh tersebut meminta dibuang ke negeri Belanda. Demikian juga
Douwes Dekker dibuang ke Belanda dari tahun 1913 sampai dengan 1918.
Pada saat pemerintah Hindia Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan negeri
Belanda dari Belgia, tokoh yang disebut terakhir ini juga menulis sebuah artikel
berjudul “Als Ik de Netherlander was” (seandainya aku seorang Belanda) yang
berisikan kritikan pedas terhadap pemerintah. Kelak karena permohonan ketiga tokoh
itu sendiri, akhirnya mereka dibuang ke negeri Belanda.

Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia)


Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia adalah organisasi pelajar dan
mahasiswa Hindia di Negeri Belanda yang berdiri pada tahun 1908. Indische
Vereeniging berdiri atas prakarsa Soetan Kasajangan Soripada dan R.M. Noto
Soeroto yang tujuan utamanya ialah mengadakan pesta dansa-dansa dan pidato-
pidato. Sejak Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar
Dewantara) masuk, pada 1913, mulailah mereka memikirkan mengenai masa depan
Indonesia. Mereka mulai menyadari betapa pentingnya organisasi tersebut bagi
bangsa Indonesia. Semenjak itulah vereeninging ini memasuki kancah politik. Waktu
itu pula vereeniging menerbitkan sebuah buletin yang diberi nama Hindia Poetera,
tetapi isinya sama sekali tidak memuat tulisan-tulisan bernada politik.
Semula, gagasan nama Indonesisch (Indonesia) diperkenalkan sebagai pengganti
indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu,
inlander (pribumi) diganti dengan indonesiër (orang Indonesia
Pada September 1922, saat pergantian ketua antara Dr. Soetomo dan Herman
Kartawisastra organisasi ini berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Saat
itu istilah "Indonesier" dan kata sifat "Indonesich" sudah tenar digunakan oleh para
pemrakarsa Politik Etis. Para anggota Indonesische juga memutuskan untuk
menerbitkan kembali majalah Hindia Poetra dengan Mohammad Hatta sebagai
pengasuhnya. Majalah ini terbit dwibulanan, dengan 16 halaman dan biaya langganan
seharga 2,5 gulden setahun. Penerbitan kembali Hindia Poetra ini menjadi sarana
untuk menyebarkan ide-ide antikolonial. Dalam 2 edisi pertama, Hatta
menyumbangkan tulisan kritik mengenai praktik sewa tanah industri gula Hindia
Belanda yang merugikan petani.[2]
Saat Iwa Koesoemasoemantri menjadi ketua pada 1923, Indonesische mulai
menyebarkan ide non-kooperasi yang mempunyai arti berjuang demi kemerdekaan
tanpa bekerjasama dengan Belanda. Tahun 1924, saat M. Nazir Datuk Pamoentjak
menjadi ketua, nama majalah Hindia Poetra berubah menjadi Indonesia Merdeka.
Tahun 1925 saat Soekiman Wirjosandjojo nama organisasi ini resmi berubah menjadi
Perhimpunan Indonesia (PI).
Hatta menjadi Voorzitter (Ketua) PI terlama yaitu sejak awal tahun 1926 hingga 1930,
sebelumnya setiap ketua hanya menjabat selama setahun. Perhimpunan Indonesia
kemudian menggalakkan secara terencana propaganda tentang Perhimpunan
Indonesia ke luar negeri Belanda.
Tokoh-tokoh lain yang menjadi anggota organisasi ini antara lain: Achmad Farhan ar-
rosyid, Soekiman Wirjosandjojo, Arnold Mononutu, '''Soedibjo Wirjowerdojo''', Prof Mr
Sunario Sastrowardoyo, Sastromoeljono, Abdul Madjid, Sutan Sjahrir, Sutomo, Ali
Abdurabbih, Wreksodiningrat, dll.

Partai Nasionalisme Indonesia


Kesadaran atas segala penindasan kemudian melahirkan pembentukan stady clap
sebagai cikal bakal pembentukan Partai Nasioanalisme Indonesia (PNI) yang didirikan
oleh bung Karno pada tahun 1927 dan bung karno pula sebagai ketuanya.

Upaya menggalang persatuan


1. Pembentukan permufakatan Perhimpunan Politik Kebngsaan Indonesia (PPPKI)
yang terdiri dari Muhammadiah, Jong Islamiche, sarekat ambon, madura.
2. gerakan pemuda kedaerahan pertama di indonesia adalah Trikoro Darmo berdiri
tanggal 7 Maret 1915 oleh pemuda-pemuda jawa dengan tokoh satiman,
kadarman, sumardi, jaksodipuro.
3. Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia pada tahun 1926.
Kongres Pemuda Indonesia (Sumpah Pemuda)

Sesuai dengan namanya sumpah pemuda dirancang oleh para pemuda. Hal tersebut
mereka lakukan karena sadar bahwa untuk membangun Bangsa Indonesia yang
majemuk harus dibarengi dengan semangat nasionalisme. Proses lahirnya sumpah
pemuda pun juga terjadi atas hasil kerja sama antar pemuda.

Semangat nasionalisme tersebut akan bisa tumbuh dan berkembang dengan baik
dengan adanya sumpah pemuda. Oleh karena itu penting bagi kita para generasi
penerus bangsa untuk menghayati makna dibalik peristiwa bersejarah ini. Untuk simak
artikel dibawah ini yang akan mengupas tuntas sejarah dan isi sumpah pemuda.

Apa Itu Sumpah Pemuda?

Sumpah pemuda adalah suatu sumpah dari pemuda pemudi yang menjadi bukti nyata
bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh sebab itu
sudah sepatutnya semua rakyat Indonesia memperingati peristiwa 28 Oktober
sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia.

Momentum lahirnya bangsa Indonesia itu merupakan hasil dari perjuangan panjang
rakyat Indonesia selama ratusan tahun. Sebuah perjuangan melawan penindasan di
bawah kekuasaan kaum penjajah pada era itu. Akibat kondisi yang demikian itu
akhirnya memunculkan semangat para pemuda.

Sebuah tekad untuk membulatkan tekad demi menjunjung tinggi harkat dan martabat
hidup rakyat asli Indonesia. Keinginan kuat inilah yang menjadi komitmen perjuangan
rakyat Indonesia sehingga sukses meraih kemerdekaannya 17 tahun kemudian,
tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Peristiwa Menjelang Sumpah Pemuda

Perjuangan rakyat Indonesia menghadapi para penjajah ini, bisa diklasifikasikan


menjadi dua yakni sebelum tahun 1908 dan setelah tahun 1908. Perjuangan sebelum
tahun 1908 selalu bisa digagalkan oleh penjajah. Karena pada saat itu perjuangan
masih bersifat kedaerahan dan berbentuk perlawanan fisik dengan senjata seadanya.

Karena kegagalan demi kegagalan yang terjadi itulah sehingga mendorong para
pejuang untuk mengubah taktik perjuangan melalui organisasi sosial politik. Akhirnya
pada permulaan tahun 1908 mulai bermunculan berbagai organisasi pergerakan
nasional seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, dan PNI.

Semenjak itu arah perjuangan bangsa Indonesia semakin terlihat baik dan tegas
dalam mewujudkan persatuan nasional.

Nama Indonesia pertama kali dipakai oleh Perhimpunan Indonesia di tahun 1908.
Perhimpunan Indonesia merupakan sebuah organisasi yang diinisiasi oleh pelajar-
pelajar Indonesia yang belajar di negeri Belanda. Perhimpunan ini ketika dibentuk
bernama Indische vereeniging.

Kemudian di tahun 1922 dirubah menjadi indonesische vereeniging. Namun di tahun


yang sama namanya berganti menjadi Perhimpunan Indonesia. Pahlawan-pahlawan
Indonesia seperti Ki Hajar Dewantara, Budi Utomo dan Dr. Muhammad Hatta ikut
memperkenalkan istilah Indonesia untuk menandingi nama Hindia Belanda yang
digunakan oleh pemerintahan kolonialisme pada era itu.
Kongres Pemuda 1

Terlaksananya Kongres Pemuda 1 tidak lepas dari peran Perhimpunan Indonesia dan
pelajar Indonesia PPPI yang peresmiannya baru dilakukan di tahun 1926. Anggota
dari organisasi-organisasi tersebut ialah pelajar-pelajar yang berasal dari sekolah
tinggi yang ada di Jakarta dan di Bandung.

Tokoh-tokoh PPPI antara lain ialah Sugondo Djojopuspito, Sigit, Abdul Syukur,
Gularso, Sumitro, Samijono, Hendromartono, Subari, dan yang lainnya. Organisasi
PPPI di Indonesia biasa memperoleh kiriman majalah Indonesia Merdeka dari
Perhimpunan Indonesia yang berada di negeri Belanda.

Selain itu menjadi Indonesia merdeka terbitan PPPI di negeri Belanda. PPPI sendiri
juga membuat majalah Indonesia Raya dimana Abu Hanifah yang menjadi pimpinan
redaksinya. Dari gagasan-gagasan yang dikeluarrkan oleh PPPI sudah
mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan.

Hal ini seperti yang terdapat pada Perhimpunan Indonesia yang ditunjukkan dengan
keinginan pemuda-pemuda di Bandung yang berharap supaya rakyat Indonesia mulai
melepaskan sifat-sifat kedaerahan. Selain itu keinginan ini juga terjadi atas dorongan
yang dilakukan oleh Mr. Sartono dan Mr. Sunario.

Kemudian terbetnuk organisasi bernama Jong Indonesia yang berubah nama menjadi
Pemuda Indonesia pada tanggal 20 Februari 1927. Tokoh yang pernah menjadi
pemimpin dari organisasi ini diantaranya adalah Sugiono, Moeljadi, Soepangkat,
Soekasmo, Soelasmi, Abdul Gani, Kotjo Sungkono, dan Agus Prawiranata.

Sedangkan yang menjadi ketua saat pertama kali adalah Sugiono. Meskipun
termasuk sebagai sebuah organisasi pergerakan politik, akan tetapi organisasi ini
tidak langsung terjun ke dunia politik ketika baru dibentuk. Sehingga terjadi
perdebatan selama beberapa tahun untuk menentukan bentuk persatuan yang
diharapkan.

Hasil Kongres Pemuda 1

Hingga akhirnya pada tanggal 30 April 1926 sampai 2 Mei 1926 diadakan Kongres
Pemuda 1 di Jakarta. Tujuan dari diadakannya Kongres Pemuda 1 adalah untuk
menciptakan sebuah badan sentral organisasi pemuda yang menjadikan bahasa
Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa sehari-hari bagi rakyat Indonesia.

Terdapat beberapa poin peting yang menjadi hasil dari diadakannya Kongres Pemuda
1, yaitu:

1. Mengakui dan menerima cita-cita untuk mewujudkan persatuan Indonesia


(meskipun dalam hal ini masih belum jelas).
2. Adanya upaya untuk menghilangkan pandangan adat, sifat kedaerahan yang
kolot, dan sebagainya.

Kongres Pemuda 2

Di tanggal 27 sampai 28 Oktober 1928 diselenggarakan Kongres Pemuda 2 dengan


Soegondo Djojopoespito dari PPPI sebagai pimpinan acara. Pada Kongres Pemuda
2 inilah didapatkan hasil yang penting yakni Sumpah Pemuda. Dalam acara inilah lagu
Indonesia Raya yang dibuat oleh Wage Rudolf Supratman ditetapkan sebagai lagu
negara.

Menjelang Kongres Pemuda Kedua

Semenjak Kongres Pemuda tahun 1926 Pertama telah diinisiasi sebuah badan untuk
mempersatukan berbagai organisasi pergerakan pemuda. Dalam rangka
menindaklanjuti hasil Kongres yang pertama, diselenggarakan sebuah pertemuan.
Akan tetapi pada pertemuan tersebut belum didapatkan hasil yang baik.

Oleh karena itu organisasi Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI)


mengusulkan diadakan Kongres Pemuda 2. PPPI merupakan organisasi yang
beranggotakan para pelajar dari Hindia Belanda. Kemudian di tanggal 3 Mei dan 12
Agustus 1928 diselenggarakan pertemuan sebagai persiapan Kongres Kedua.

Dalam acara persiapan tanggal 12 Agustus 1928 itu dihadiri oleh seluruh utusan dari
setiap organisasi pemuda. Selain itu, juga dihasilkan sebuah kesepakatan untuk
mengadakan acara Kongres Pemuda Kedua pada bulan Oktober 1928 yang
panitianya diambil satu dari setiap organisasi.

Dalam susunan panitia itu juga tidak ada perwakilan organisasi yang mendapat dua
jabatan sekaligus. Berikut susunan panitia penyelenggara acara Kongres Pemuda 2.

1. Pimpinan, Sugondo Djojopuspito dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia


2. Wakil pimpinan, R. M. Joko Marsaid dai Jong Java
3. Sekretaris, Moh. Yamin dari Jong Soematranen Bond
4. Keuangan, Amir Sjarifudin dari Jong Bataks Bond
5. Asisten 1, Johan Moh. Cai dari Jong Islamieten Bond
6. Asisten 2, R. Katjasoengkanan dari Pemoeda Indonesia
7. Asisten 3, R. C. I. Sendok dari Jong Celebes
8. Asisten 4, Johannes Leimena dari Jong Ambon
9. Asisten 5, Moh. Rochjani S. dari Pemoeda Kaoem Betawi

Acara Kongres Pemuda 2

Penyelenggaraan Kongres Pemuda Dua ini dilakukan di tiga tempat yang berbeda
dan terdiri dari tiga pertemuan.
Pertemuan 1

Pertemuan 1 diadakan Sabtu 27 Oktober 1928, lokasi Gedung Katholieke


Jongenlingen Bond disingkat KJB di Waterlooplein hari ini namanya Lapangan
Banteng. Pada pidato penyambutan oleh Sugondo Djojopuspito sebagai pimpinan
panitia, berkeinginan supaya acara ini bisa meningkatkan semangat persatuan di hati
pemuda-pemuda.

Ia menyatakan bahwa persatuan indonesia bisa ditingkatkan melalui 5 hal, yaitu


sejarah, bahasa, hukum, budaya, pendidikan, dan tekad.

Pertemuan 2

Pertemuan 2 diadakan Minggu 28 Oktober 1928, lokasi Gedung Oost-Java Bioscoop.


dalam pertemuan ini didiskusikan mengenai problem seputar pendidikan.
Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro menyampaikan opini tentang
keharusan setiap anak memperoleh pendidikan kebangsaan.

Selain itu, juga harus berimbang antara pendidikan di rumah dan sekolah serta
pendidikan harus bersifat demokrasi.

Pertemuan 3

Pertemuan 3 merupakan acara penutupan, lokasi Gedung Indonesische Clubgebouw


yang berada di Jalan Kramat Raya No 106. Pada acara penutupan ini Sunario
memaparkan bahwa selain gerakan kepanduan, sifat kenasionalan (nasionalisme)
dan demokrasi adalah sesuatu yang penting.

Ramelan menjelaskan bahwa gerakan kepanduan tidak dapat terlepas dari


pergerakan nasional. Dimana gerakan kepanduan dapat berguna sebagai sarana
pendidikan sejak dini untuk mengajari kedisiplinan dan kemandirian kepada anak-
anak, merupakan hal yang diperlukan dalam perjuangan.

Pada akhir acara pra-penutup dimainkan lagu Indonesia Raya buatan Wage Rudolf
Supratman dengan iringan biola dan tanpa syair berdasarkan usulan Sugondo pada
Supratman. Para hadirin pun menyambut dengan senang lagu Indonesia Raya.
Sebagai penutup disampaikan kesimpulan keputusan kongres yang disebut Sumpah
Pemuda.

NASIONALISME INDONESIA MENURUT BUNG KARNO


Satu hal yang juga penting adalah bahwa nasionalisme Indonesia tidaklah sama
dengan nasionalisme yang lahir dan berkembang di Eropa. Dalam salah satu
artikelnya yang berjudul ‘Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme’ (1926), Soekarno
menguraikan karakter dari nasionalisme Eropa:
“Nasionalisme Eropa ialah suatu nasionalisme yang bersifat menyerang, suatu
nasionalisme yang mengejar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan
yang untung atau rugi, dan nasionalisme semacam itu akhirnya pastilah binasa,

Sedangkan nasionalisme indonesia menurut bung karno mengatakan bahwa


nasionalisme yang berperikemanusiaan yang tidak menginginkan l’éxploitation de la
nation par la nation (penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lain) maupun
l’éxploitation de l’homme par l’homme (penindasan manusia terhadap manusia lain).
Dengan demikian maka watak dari nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme
yang chauvinistis, melainkan nasionalisme yang berperikemanusiaan, nasionalisme
yang menginginkan terwujudnya kesejahteraan.

Integrasi Nasional

Integrasi Nasional adalah suatu upaya untuk mempersatukan atau menggabungkan


berbagai perbedaan pada kelompok budaya atau kelompok sosial di dalam satu
wilayah sehingga membentuk suatu kesatuan yang harmonis di dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Dengan kata lain, integrasi nasional adalah hasrat dan kesadaran untuk bersatu
sebagai satu bangsa yakni bangsa Indonesia. Integrasi bangsa dapat dilihat secara
politis dan secara antropologis.

 Pengertian Integrasi Nasional secara Politis adalah proses penyatuan


berbagai kelompok budaya dan sosial di dalam kesatuan wilayah nasional yang
kemudian membentuk identitas nasional.
 Pengertian Integrasi Nasional secara Antropologis adalah proses
penyesuaian berbagai unsur-unsur kebudayaan yang berbeda sehingga terjadi
keseresaian fungsi dalam kehidupan bermasyarakat.

Berbagai keanekaragaman yang ada di Indonesia sudah seharusnya dipelihara dan


dijaga oleh seluruh elemen masyarakat. Jangan menjadikan perbedaan sebagai
pertentangan karena perbedaan dan keanekaragaman tersebut merupakan kekayaan
dan kelebihan yang dimiliki oleh Indonesia.

Faktor Pendorong Integrasi Nasional

Berikut ini adalah beberapa faktor pendorong terjadinya national integration:

1. Adanya faktor sejarah sehingga timbul rasa senasib dan seperjuangan.


2. Semua kalangan masyarakat Indonesia memiliki keinginan untuk bersatu, seperti
yang tertuang pada Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.
3. Timbulnya rasa cinta tanah air yang ditunjukkan pada masa perjuangan merebut
kemerdekaan, hingga mengisi kemerdekaan.
4. Adanya rasa rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara seperti yang
ditunjukkan oleh para pahlawan yang gugur selama masa perjuangan
kemerdekaan.
5. Konsensus nasional di dalam perwujudan Proklamasi Kemerdekaan, Pancasila
serta UUD 1945, bendera Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan
bahasa kesatuan bahasa Indonesia.

Faktor Penghambat Integrasi Nasional

Berikut ini adalah beberapa faktor penghambat national integration:

1. Keanekaragaman budaya, bahasa daerah, agama, ras, dan berbagai perbedaan


lainnya menjadi faktor penghambat proses national integration.
2. Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat luas dan terdiri dari
ribuan kepulauan dan dikelilingi lautan yang luas juga menjadi penghambat
integrasi bangsa.
3. Ketimbangan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah telah menimbulkan
rasa tidak puas. Masih banyaknya konflik berunsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan
Antar-golongan), gerakan separatisme dan kedaerahaan, domenstrasi, juga
menjadi faktor penghambat integrasi.
4. Paham etnossentrisme yang masih dimiliki oleh beberapa suku sehingga
menonjolan kelebihan daerahnya dan meremehkan budaya suku bangsa yang
lain.

Syarat Integrasi Nasional

Berikut ini adalah beberapa syarat integrasi bangsa:

1. Adanya kesadaran anggota masyarakat bahwa dibutuhkan hubungan satu


dengan yang lain agar dapat memenuhi kebutuhan mereka.
2. Anggota masyarakat sepakat tentang norma dan nilai sosial yang dijadikan
pedoman dalam bermasyarakat.
3. Adanya norma dan nilai sosial yang berlaku sebagai aturan dan pedoman
dalam proses integrasi masyarakat.

Jenis Integrasi Nasional

Mengacu pada penjelasan definisi integrasi bangsa di atas, adapun beberapa jenis
integrasi nasional adalah sebagai berikut:

1. Integrasi Asimilasi; merupakan penggabungan dua atau lebih kebudayaan


yang menghilangkan ciri khas kebudayaan aslinya yang diterima oleh
masyarakat.
2. Integrasi Akulturasi; merupakan penggabungan dua atau lebih kebudayaan
tanpa menghilangkan ciri khas kebudayaan asli di suatu lingkungan.
3. Integrasi Normatif; terjadi karna keberadaan norma-norma yang berlaku dan
mempersatukan masyarakat sehingga integrasi lebih mudah terbentuk.
4. Integrasi Instrumental; terjadi dan tampak secara nyata sebagai akibat
adanya keseragaman antar individu dalam lingkungan masyarakat, misalnya
keseragaman pakaian.
5. Integrasi Ideologis; terjadi dan tampak secara nyata karena adanya ikatan
spiritual/ ideologis yang kuat tanpa adanya paksaan.
6. Integrasi Fungsional; terjadi karena adanya berbagai fungsi tertentu dari
semua pihak di dalam masyarakat.
7. Integrasi Koersif; terjadi karena adanya pengaruh dari penguasa dan bersifat
paksaan.

Contoh Integrasi Nasional

Mengacu pada penjelasan di atas, berikut ini adalah beberapa contoh integrasi
nasional di Indonesia:

1. Pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta oleh Pemerintah


Indonesia pada tahun 1976. Di lokasi TMII tersebut terdapat rumah adat dan
aneka macam budaya dari seluruh provinsi Indonesia.
2. Sikap menghargai dan toleransi terhadap antar umaat beragama di Indonesia.
Hal ini terlihat dari sikap masyarakat Indonesia yang menghargai perbedaan
agama.
3. Sikap menghargai dan merasa memiliki kebudayaan yang berasal dari daerah
lain, bahkan mempelajari kebudayaan dari daerah yang berbeda.

Patriotisme

Patriotisme berasal dari kata patria, artinya tanah air. Kata patria berubah menjadi
patriot yang berarti seseorang yang mencintai tanah air. Seorang patriotic adalah
orang yang cinta pada tanah air dan rela berkorban untuk mempertahankan
negaranya. Patriotisme berarti paham tentang kecintaan pada tanah air.
Semangat patriotisme semangat untuk mencintai tanah air. Gerakan patriotisme
muncul setelah terbentuknya bangsa yang dilandasi nasionalisme. Pada dasarnya
patriotisme berbeda dengan nasionalisme, meskipun berdekatan dan umumnya
dianggap sama. Patriotisme lahir dari semangat nasionalisme dengan terbentuknya
negara.

Sikap patriotisme yang diwujudkan dalam semangat cinta tanah air dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut :

 Perbuatan rela berkorban untuk membela dan mempertahankan negara dan


bangsa
 Perbuatan untuk mengisi kelangsungan hidup negara dan bangsa.
Perbuatan membela dan mempertahankan negara diwujudkan delam bentuk
kesediaan berjuang untuk menahan dan mengatasi serangan atau ancaman bangsa
lain yang akan menghancurkan negara. Selain itu, ancaman negara lain, ancaman
dari kelompok bangsa sendiri, kegiatan yang dapat merugikan negara, dan ancaman
alam dapat mengakibatkan kerusakan dan kehancuran negara. Kelangsungan hidup
negara dapat diwujudkan dengan kesediaan bekerja sesuai dengan bidang dan
kapasitasnya dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa, serta
pencapaian tujuan negara.

Contoh Sikap Patriotisme

Sikap patriotisme dapat diwujudkan dalam banyak hal. Wujud sikap patriotisme antara
lain sebagai berikut:

 Mencintai dan menggunakan produk dalam negeri


Mencintai dan menggunakan produk-produk dalam negeri merupakan bagian dari
cinta tanah air. Dengan menggunakan produk dalam negeri berarti kita memberi
keuntungan kepada warga Indonesia sendiri. Baik pembuatnya ataupun
pedagangnya. Berarti juga memberi keuntungan kepada negara. Sebenarnya produk-
produk dalam negeri tak takkalah dengan produk luar negeri. Bahkan banyak produk-
produk asli buatan Indonesia yang ditiru orang luar negeri.

 Tidak merusak lingkungan hidup

Lingkungan hidup haruslah dijaga kelestariannya. Merusaknya berarti kita tidak


mencintai tanah air. Lingkungan hidup yang rusak akan merugikan manusia sendiri.

 Ikut serta memelihara fasilitas umum

Fasilitas umum merupakan sarana yang disediakan oleh pemerintah untuk kebutuhan
masyarakat. Contohnya adalah telepon umum, jembatan, halte, kereta api dan lain-
lainnya. Jika kita merusak fasilitas umum akan merugikan orang lain dan negara. Kita
sendiri juga tidak dapat menggunakannya lagi.

 Ikut serta dalam pembangunan bangsa

Negara kita harus terus membangun agar lebih maju dan kehidupan rakyatnya lebih
baik. Bila kita ingin mencintai tanah air, maka kita harus ikut serta dalam
pembangunan. Ikut serta dalam pembangunan bisa diwujudkan dengan taat
membayar pajak, menjadi pegawai yang baik, dan sebagainya.

 Mentaati peraturan yang ada


Peraturan dibuat agar masya-rakat tertib dan nyaman. Jika kita melanggar peraturan
akan merugikan diri kita sendiri. Bahkan orang lain dan negara juga akan dirugikan.
Berarti jika kita melanggar peraturan berarti kita tidak cinta tanah air.
 Melestarikan budaya bangsa

Budaya bangsa merupakan kekayaan bangsa. Menjaga keles-tarian budaya bangsa


berarti mencintai bangsa dan tanah air. Kita harus bangga memiliki budaya bangsa
yang beragam dan unik. Orang asing saja banyak yang mengagumi budaya bangsa
kita. Termasuk melestarikan budaya bangsa adalah berbahasa Indonesia dengan
baik dan benar.
Contoh Sifat dan jiwa nasionalisme dan patriotisme

 Pro-Patria dan Primus Patria, yaitu selalu berjiwa untuk tanah air dan
mendahulukan tanah air.
 Jiwa solidaritas atau kesetiakawanan dari semua lapisan masyarakat terhadap
perjuangan kemerdekaan.
 Jiwa toleransi atau tenggang rasa antar agama, suku, golongan, dan bangsa.
 Jiwa tanpa pamrih dan bertanggung jawab.
 Jiwa kestaria, kebebasan jiwa yang tidak mengandung balas dendam.
Contoh Semangat nasionalisme dan patriotisme
 Semangat menentang dominasi asing dalam segala bentuk
 Semangat pengorbanan seperti pengorbanan harta benda dan jiwa raga.
 Senmangat tahan derita dan tahan uji.
 Semangat kepahlawan
 Semangat persatuan dan kesatuan
 Percaya pada diri sendiri
Penerapan Nasionalisme dan Patriotisme dalam Kehidupan Bangsa dan Negara

 Contoh penerapan jiwa dan semangat nasionalisme serta patriotisme dalam


kehidupan berbangsa dan bernegara antara lain:
 Selalu berjiwa untuk tanah air dan mendahulukan kepentingan tanah air.
 Jiwa solidaritas dan kesetiakawanan dari semua lapisan mamsyarakat dalam
mempertahankan dan mengisi kemerdekaan melalui pembangunan.
 Jiwa toleransi dan tenggang rasa antar agama, suku, golongan, dan bangsa.
 Jiwa tanpa pamrih dan bertanggungjawab dalam mempertahankan serta megisi
kemerdekaan sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.
 Semangat menantang dominasi asing dalam segala bentuk perjanjian diantaranya
ekonomi, politik, sosial budaya, dan lain-lain.
 Semangat mengorbankan baik harta maupun jiwa demi mempertahankan
kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan.
 Semangat tahan uji dan tahan derita dalam mempertahankan serta mengisi
kemerdekaan agar tidak tertinggal oleh bangsa lain.
 Semangat persatuan dan kesatuan dalam mempertahankan dan mengisi
kemerdekaan.
 Semangat percaya diri sendiri dalam mepertahankan dan mengisi kemerdekaan
untuk mengejar bangsa lain yang lebih maju
Hubungan Antara Patriotisme Dengan Nasionalisme

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan


kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu
konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Patriotisme adalah sikap yang
berani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara.

Patriotisme berasal dari kata “patriot” dan “isme” yang berarti sifat kepahlawanan atau
jiwa pahlawan, atau “heroism” dan “patriotism” dalam bahasa Inggris. Pengorbanan
ini dapat berupa pengorbanan harta benda maupun jiwa raga. Antara nasionalisme
dan patriotisme mempunyai hubungan yang erat. Patriotisme lebih menekankan pada
cintanya terhadap tanah air tempat berpijak serta tempat hidup dan mencari
penghidupan, sedang nasionalisme lebih menekankan pada cintanya terhadap
bangsa. Jadi, jika seseorang memiliki nasionalisme, sikap patriot akan muncul dari
dalam dirinya. Sehingga, sikap nasionalisme akan menumbuhkan patriotisme pada
diri seseorang.