Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Hipertensi merupakan tekanan darah sistolik sama dengan atau di atas

140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik diatas 90 mmHg. (WHO,

2013).

Hipertensi suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah

meningkat secara kronis. Hal ini dapat terjadi karena jantung berkerja lebih

keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi

tubuh. Kriteria hipertensi yang digunakan pada penetapan kasus merujuk

pada kriteria diagnosis Joint National Committee (JNC) VII tahun 2003,

yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan

darah diastolik ≥ 90 mmHg. (Kemenkes, 2013).

WHO dalam Azizah (2011) batasan lanjut usia di bagi menjadi 4

kelompok, yaitu usia pertengahan atau pra lansia (middle age) antara usia

45- 59 tahun, Lanjut usia (elderly) antara usia 60- 70 tahun, Lanjut usia tua

(old) usia 75- 90 tahun, Usia sangat tua (very old ) usia diatas 90 tahun.

Riset Kesehatan Dasar menunjukkan prevalensi penyakit tidak

menular di Indonesia mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan

Riskesdas 2013, antara lain Hipertensi. Hasil pengukuran tekanan darah,

hipertensi naik dari 25,8% menjadi 34,1% (Riskesdas, 2018).

Menurut Hurlock (2010) salah satu ciri pra usia lanjur adalah

mengalami periode kemunduran. Kemunduran yang terjadi seperti

1
2

mengalami perubahan fisik dan mental yang sudah berbeda dengan periode

sebelumnya. Kemunduran fisik dan mental yang terjadi secara bertahap dan

perlahan disebut dengan proses menjadi tua. Lansia merupakan usia yang

beresiko tinggi terhadap penyakit-penyakit degeneratif, yang sering dialami

oleh kebanyakan lansia, dimana organ atau jaringan terkait keadaannya

yang terus menurun. Penyakit ini terjadi karena adanya perubahan pada sel

tubuh yang akhirnya mempengaruhi fungsi organ secara menyeluruh.

Meliputi penyakit jantung, osteoporosis, diabetes tipe 2 dan hipertensi.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 penyakit terbanyak pada

lanjut usia adalah hipertensi dan stroke (Kemenkes, 2017). Penyakit tersebut

dapat meningkat dan menjadi masalah besar apabila kesehatan dan

kesejahteraan lansia tidak dikelola dengan baik.

Penyakit degeneratif yang banyak terjadi di masyarakat dan

mempunyai tingkat mortalitas yang cukup tinggi salah satunya adalah

hipertensi. Penyakit ini dikenal dengan tekanan darah tinggi dan sering

disebut sebagai “sillent killer” karena terjadi tanpa tanda dan gejala,

sehingga penderita tidak mengetahui jika dirinya terkena hipertensi, dari

hasil penelitian sebanyak 76,1 % tidak mengetahui jika dirinya terkena

hipertensi. Di Indonesia, prevalensi hipertensi yang didapatkan melalui

kuesioner terdiagnosa tenaga kesehatan sebesar 9,4%, yang terdiagnosis

tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5%, jadi ada 0,1%

yang minum obat sendiri. Hal ini menandakan masih ada kasus hipertensi
3

dimasyarakat yang belum terdiagnosis dan terjangkau pelayanan kesehatan.

( Kemenkes, 2013).

Faktor-faktor resiko pada hipertensi dibedakan menjadi 2 yaitu faktor

resiko yang bisa dikontrol dan yang tidak bisa dikontrol. Faktor resiko yang

tidak dapat dikontrol yaitu, keturunan, jenis kelamin dan umur, faktor yang

dapat dikontrol, kurangi asupan garam, obesitas, latihan fisik atau olahraga,

berhenti merokok dan tidak mengonsumsi alkohol. (Dalimartha, 2008)

Penatalaksanaan hipertensi dilakukan sebagai upaya pengurangan

resiko naiknya tekanan darah dan pengobatannya, dalam penatalaksanaan

hipertensi upaya yang dilakukan berupa upaya farmakologis (Obat-obatan).

Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita.

Pengobatan standar yang dianjurkan oleh komite dokter ahli hipertensi

(Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High

Blood Pressure, USA,1998 ) mengatakan bahwa obat diuretika, penyekat

beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai

obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan

penyakit lain yang ada pada penderita. (Padila, 2017)

Penatalaksanaan non farmakologis antara lain terdiri dari diet restriksi

garam secara moderat dari 10 gram/hari menjadi 5 gram/hari, diet rendah

asam lemak dan kolestrol, penurunan asupan etanol, diet tinggi kalium,

menghentikan merokok, latihan fisik dengan olah raga joging, bersepeda,

senam oalah raga yang dilakukan 3x seminggu dengan durasi 20-25 menit,
4

pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk menambah pengetahuan

penderita hipertensi tentang hipertensi. (Padila, 2017).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Netha Damayantie, Erna

Heryani & Muazir 2018) dengan judul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Prilaku Penatalaksanaan Hipertensi oleh Penderita Diwilayah Kerja

Puskesmas Sekernan Ilir Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2018” didapatkan

hasil, analisis bivariat menunjukan adanya hubungan antara persepsi sakit

(p-value = 0,001) dan dukungan keluarga (p-value= 0,015) dengan perilaku

penatalaksanaan hipertensi oleh penderita, dan tidak adanya hubungan

anatara akses pelayanan kesehatan (p value=0,605) dengan perilaku

penatalaksanaan hipertensi oleh penderita. Ada hubungan persepsi sakit

dengan perilaku penatalaksanaan hipertensi oleh penderita dan tidak ada

hubungan dengan perilaku penatalaksanaan hipertensi.

Penelitian yang dilakukan oleh (Agrina, Sunarti Swastika Rini & Riyan

Hairitama 2011) dengan judul “Kepatuhan Lansia Penderita Hipertensi

Dalam Pemenuhan Diet Hipertensi” di dapatkan hasil bahwa sebanyak 34

orang (56,7%) responden tidak patuh dalam pemenuhan diet hipertensi dan

sebanyak 26 orang (43,3%) yang patuh dalam pemenuhan diet hipertensi .

Hal ini yang menjadi penyebab semakin bertambahnya penderita hipertensi

dan kambuhnya penyakit hipertensi pada penderita hipertensi. Faktor

makanan (kepatuhan diet) merupakan hal yang penting untuk diperhatikan

pada penderita hipertensi. Penderita hipertensi sebaiknya patuh menjalankan

diet hipertensi agar dapat mencegah terjadinya komplikasi yang lebih lanjut.
5

Didapatkan dari hasil pengumpulan data studi pendahuluan yang

diperoleh peneliti dari Puskesmas Mertoyudan I 69 Pra lansia menderita

Hipertensi. Rata-rata tekanan darah yang diperoleh pada penderita hipertensi

terendah 140/90 mmHg dan tertinggi 180/100 mmHg , itu fatal bagi lansia

karna bisa menyebabkan stroke, gagal jantung dan juga terjadi masalah pada

ginjal. Mereka juga mengeluh pusing, sakit dibagian belakang kepala, sulit

tidur, mereka cenderung lebih sensitif dan mudah marah, lansia penderita

hipertensi ini rata-rata sudah terkena hipertensi selama kurang lebih 1 tahun,

69 orang pra lansia yang terkena hipertensi ini sudah memperhatikan diet

hipertensi dengan menggurangi asupan garam dan lebih sering memakan

sayur-sayuran, rutin olahraga, berhenti merokok menghindari makanan yang

menggandung alkohol seperti tape dan mengonsumsi obat anti hipertensi.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan penelitian

tentang faktor-faktor yang berpengaruh pada penanganan hipertensi pada

pra lansia penderita hipertensi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, masalah yang diteliti adalah apa saja

gambaran penanganan hipertensi pada pra lansia penderita hipertensi di Desa

Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.


6

C. Orisinalitas Penelitian

No Nama, Tahun Judul Rancangan Variable Hasil


Penelitian Penelitian
1 Netha Faktor-Faktor Penelitian Variabel Jumlah sampel 68
Damayantie,E Yang deskriptif independen orang
rna Heryani Mempengaruhi kuantitatif Persepsi sakit dan Ada hubungan
& Muazir Penanganan dengan dukungan keluarga persepsi sakit
2018 Hipertensi Pada pendekatan Variabel dengan perilaku
Lansia Penderita desain dependen penatalaksanaan
Hipertensi penelitian Prilaku hipertensi oleh
cross penatalaksanaaan penderita dan
sectional hipertensi tidak ada
hubungan dengan
perilaku
penatalaksanaan
hipertensi
2 Agrina1, Kepatuhan Penelitian Variabel Jumlah sampel 32
Sunarti Lansia Penderita deskriptif independen orang.
Swastika Rini Hipertensi kuantitatif Dukungan hasil bahwa sebanyak
& Riyan Dalam dengan keluarga 34 orang (56,7%)
Hairitama Pemenuhan Diet pendekatan Variabel responden tidak patuh
2011 Hipertensi desain dependen dalam pemenuhan
penelitian Kepatuhan berobat diet hipertensi dan
cross sebanyak 26 orang
sectional (43,3%) yang patuh
dalam pemenuhan
diet hipertensi

Perbedaan penelitian ini akan meneliti semua penatalaksanaan

hipertensi yang meliputi terapi obat dan terapi non obat.


7

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran penanganan hipertensi pada pra lansia

di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang tahun

2019.

2. Tujuan Khusus

a) Mengetahui gambaran tentang penanganan hipertensi dengan terapi

obat dengan obat anti hipertensi di Desa Danurejo Kecamatan

Mertoyudan Kabupaten Magelang.

b) Mengetahui gambaran tentang penanganan hipertensi terapi tanpa

obat dengan diet di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan

Kabupaen Magelang.

c) Mengetahui gambaran tentang penanganan hipertensi terapi tanpa

obat dengan berhenti merokok di Desa Danurejo Kecamatan

Mertoyudan Kabupaen Magelang.

d) Mengetahui gambaran tentang penanganan hipertensi dengan terapi

tanpa obat dengan latihan fisik olahraga, jogging, bersepeda dan

berenang di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten

Magelang.
8

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a) Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu

pengetahuan bagi pembaca mengenai gambaran penatalaksanaan

hipertensi pada pra lansia penderita hipertensi.

b) Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan

untuk penelitian selanjutnya, sehingga dapat membantu mengurangi

angka kejadian hipertensi pada pra lansia .

2. Manfaat peraktis

a) Bagi Institusi Kesehatan

Menambah pengetahuan untuk mengembangkan ilmu pada pasien

hipertensi.

b) Bagi Masyarakat

Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang penatalaksanaan

hipertensi.

c) Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan

pengalaman bagi peneliti sendiri


9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Lansia

1. Definisi lansia

a. Lanjut usia adalah sebagian dari proses tumbuh kembang. Manusia

tidak tiba-tiba menjadi tua,tetapi berkembang dari bayi, anak-anak,

dewasa dan akhirnya menjadi tua. Lansia merupakan proses alami yang

ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami

proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang

terakhir, dimasa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan

sosial secara bertahap (Azizah,2011)

b. Usia lanjut dapat dikatakan usia emas, karena tidak semua orang dapat

mencapai usia tersebut, maka orang yang berusia lanjut memerlukan

tindakan keperawatan, baik yang bersifat promotif maupun preventif,

agar ia dapat menikmati masa usia emas serta menjadi usia lanjut yang

berguna dan bahagia (Maryam, et al, 2008).

2. Pra Lansia

Who mengatakan bahwa pra lanjut usia atau usia pertengahan yaitu

kelompok usia 45-59 tahun. Pra lansia adalah usia tepat untuk

mempersiapkan diri menuju lanjut usia dan mengidentikan pra lanjut usia

sebagai kelompok masyarakat yang mudah terserang kemunduran fisik

dan mental,
10

3. Klasifikasi lanjut usia dalam beberapa literature :

a. Menurut WHO dalam Azizah (2011) batasan lanjut usia dibagi menjadi

4 kelompok, yaitu: Usia pertengahan (middle age) antara usia 45- 59

tahun, Lanjut usia (elderly) antara usia 60- 70 tahun, Lanjut usia tua

(old) usia 75- 90 tahun, Usia sangat tua (very old ) usia diatas 90 tahun.

b. Menurut Prof. Dr. Koesoemanto Setyonegoro : Usia dewasa muda

(usia 18/20-25 tahun), usia dewasa penuh (25-60/65 tahun), lanjut usia

(geriatric age) usia > 65/ 70 tahun terbagi atas : Young old (usia 70-75

), old ( usia 75-80 tahun ), very old (usia > 80tahun )

c. Maryam, et al. (2011) mengklasifikasikan lansia yaitu: Pra lansia

seseorang yang usia antara 45- 59 tahun, Lansia seseorang yang

berusia 60 tahun atau lebih, lansia resiko tinggi seseorang yang

berusia 70 tahun atau lebih atau yang berusia 60 tahun atau lebih

dengan masalah kesehatan.

4. Proses Menua

Proses menua merupakan proses yang pasti akan dilalui oleh

semua orang dari sejak lahir dan akan berlangsung terus-menerus secara

alamiah. Pada saat usia semakin tua maka ada perubahan fisik yang

ditandai dengan kulit menjadi keriput karena berkurangnya bantalan

lemak, pendengaran berkurang, rambut memutih, penglihatan memburuk,

gigi mulai ompong, tulang mulai keropos, nafsu makan berkurang,

aktifitas menjadi lambat, dan kondisi tubuh lainnya juga akan mengalami

kemunduran.
11

Sebenarnya tidak ada batasan yang menegaskan usia berapa

penampilan seseorang akan menurun. Pada setiap orang, fumgsi fisiologis

alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak maupun

saat menurunnya. Hal ini akan terjadi pada setiap individu, namun

umumnya fungsi tubuh seseorang mengalami puncak pada usia 20- 30

tahun. Setelah mencapai puncaknya maka alat tubuh akan berada pada

kondisi tetap utuh, hingga kemudian mengalami penurunan kondisi tubuh.

(Azizah, 2011)

5. Penyakit yang sering dijumpai pada lansia

Menurut (Azizah,2011), dikemukakan adanya empat penyakit yang

sangat erat hubunganya dengan proses menua yaitu :

a) Gangguan sirkulasi darah seperti : hipertensi,kelainan pembuluh

darah,gangguan pembuluh darah diotak dan ginjal.

b) Gangguan metabolisme hormonal seperti : dm, klimakterium dan ke

tidak seimbangan tiroid.

c) Gangguan pada persendian,seperti : osteoartritis, gout artritis, ataupun

penyakit kolagen lainya.

d) Berbagau macam neoplasma.

6. Perubahan sistem kardiovaskular pada lansia

Perubahan pada jantung terlihat dalam gambaran anatomis berupa :

bertambahnya jaringan kolagen, bertambahnya ukuran miokard,

berkurangnya jumlah miokard dan berkurangnya jumlah air jaringan.

Tebal bilik kiri dan kekakuan katup bertambah seiring dengan penebalan
12

seputum interventikular, ukuran rongga jantung juga membesar.

Perubahan yang terjadi pada lansia meliputi : katup jantung menebal dan

kaku, kemampuan memompa darah menurun (menurunnya kontraksi dan

volume), elastisitas pembuluh darah menurun, serta meningkatnya

resistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat

(Maryam,et al, 2011)

B. Hipertensi

1. Definisi hipertensi

a. Hipertensi dikenal sebagai tekanan darah tinggi ,adalah suatu

kondisi dimana pembuluh darah terus meningkat. Semakin tinggi

tekanan pembuluh darah semakin sulit jantung berkerja untuk

memompa darah (WHO 2013)

b. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami

peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan

peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian

(mortalitas). Tekanan darah 140/90 mmHg didasarkan pada dua fase

dalam setiap denyut jantung yaitu fase sistolik 140 dan fase diastolik 90

menunjukan fase darah yang kembali ke jantung. ( Triyanto, 2014).

c. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140

mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali

pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup

istirahat (Kemenkes ,2014)


13

d. Hipertensi adalah suatu kondiri medis saat seseorang mengalami

peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan resiko

kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas). Penyakit ini

dikategorikan sebagai the silent disease karena penderita tidak

mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan

tekanan darahnya. (Susilo, 2011)

e. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami

peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan

peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian

(mortalitas). ( Dalimartha, 2008)

Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa

hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah dimana keadaan seseorang

mengalami tekanan darah melebihi normal dengan peningkatan

sistolik lebih dari 140 mmHg dan peningkatan diastolik lebih dari

90mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit

dalam keadaan cukup istirahat.

2. Klasifikasi hipertensi

Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah

Klasifikasi tekanan darah pada dewasa (Triyanto, 2014)

Kategori Tekanan darah Tekanan darah


sistolik diastolik
Normal < 130 mmHg < 85 mmHg
Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
Stadium 1 ( Hipertensi 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Ringan)
Stadium 2 ( Hipertensi 160-179 mmHg 100-109 mmHg
Sedang )
14

Stadium 3 ( Hipertensi 180-209 mmHg 110-119 mmHg


Berat)
Stadium 4 ( Hipertensi ≥210 mmHg ≥120 mmHg
Maligna)

3. Patofisiologi

Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui

beberapa cara yaitu jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan

lebih banyak cairan pada setiap detiknya arteri besar kehilangan

kelenturannya dan menjadi kaku sehingga mereka tidak dapat

mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut.

Darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk bmelalui pembuluh

yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan.

Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah

menebal dan kaku karena arterioskalierosis.

Tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokontriksi,

yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut

karena perangsangan saraf atas hormon di dalam darah. Bertambahnya

cairan dalam sirkulasi dapat meningkatkan tekanan darah. Hal ini

terjadi karena terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu

membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah

dalam tubuh menjadi meningkat sehingga tekanan darah akan

meningkat. ( Triyanto, 2014 )

4. Manifestasi klinis
15

Manifestasi klinis penderita hipertensi bertahun-tahun menurut (Crowin

(2000) dalam Triyanto, 2014) yaitu :

a. Sakit kepala saat terjaga,kadang mual dan muntah akibat

peningkatan teknan darah intrakranium

b. Penglihatan kabur akibat kerusakan hipertensif pada retina.

c. Cara berjalan yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf

pusat

d. Nokturia yang disebabkan peningkatan aliran darah ginjal dan

filtrasi gomelurus

e. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan

darah

5. Komplikasi Hipertensi

Beberapa penyakit yang timbul sebagai akibat hipertensi adalah sebagai

berikut :

a) Stroke dapat terjadi akibat perdarahan tekanan darah tinggi diotak,

atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang

terpajan tekanan darah tinggi. Stroke bisa terjadi pada hipertensi

kronik.

b) Infark Miokard dapat terjadi apabila arteri koroner mengalami

arteroklerosis atau apabila terbentuk trombus yang menghambat

aliran darah yang melalui pembuluh darah tersebut, sehingga

miokardium tidak mendapatkan suplai oksigen cukup. Keebutuhan


16

oksigen miokardium yang tidak terpenuhi menyebabkan terjadinya

iskemia jantung, yang pada akhirnya dapat menjadi infark.

c) Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan

darah tinggi pada kapiler-kepiler ginjal, glomelurus. Dengan

rusaknya glomelurus, darah akan mengalir keunit-unit fungsional

ginjal, nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksia

dan kematian. Dengan rusaknya membran glomerolus, protein akan

keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma kurng,

menyebabkan edema yang sering dijumpai pada hipertensi kronik.

(Triyanto, 2014)

6. Faktor resiko hipertensi

a. Faktor yang tidak dapat terkontrol

1) Faktor keturunan

Kasus hipertensi essensial 70-80% diturunkan oleh

orangtuanya. Apabila riwayat hipertensi didapat pada kedua

orangtua maka dugaan hipertensi esensial lebih besar ataupun pada

kembar monozigot (satu telur) dan salah satunya menderita

hipertensi maka orang tersebut kemungkinan besar menderita

hipertensi.

2) Jenis kelamin

Hipertensi lebih mudah menyerang kaum laki-laki dari pada

perempuan. Hal itu kemungkinan karena laki-laki banyak memiliki


17

faktor pendorong terjadinya hipertensi, seperti setres, kelelahan,

dan makan tidak terkontrol.

3) Umur

Tekanan darah normal sebenarnya itu bervariasi pada masing-

masing individu, tergantung dari usia dan kegiatannya sehari-hari.

Penyakit hipertensi paling dominan terjadi pada kelompok umur

31-55 tahun, dikarenakan seiring bertambahnya usia. Dengan

bertambahnya usia, tekanan darah akan cenderung meningkat.

Penyakit hipertensi umumnya berkembang saat seseorang

mencapai umur paruh baya, yakni cenderung meningkat khususnya

yang berusia lebih dari 40 tahun bahkan pada usia lebih dari 60

tahun ke atas. Pada umumnya, hipertensi menyerang pria pada usia

di atas 31 tahun, sedangkan pada wanita terjadi setelah usia 45

tahun (menopause).

b. Faktor Yang Dapat Terkontrol

1) Konsumsi garam berlebihan

Garam mempunyai sifat menahan air.konsumsi garam

yang berlebihan dengan sendirinya akan menaikan tekanan

darah, sebaiknya hindari garam yang berlebihan atau makanan

asin.

2) Kegemukan

Kegemukan ciri khas dari populasi hipertensi,namun

belum dijelaskan antara obesitas dan hipertensi esensial, tetapi


18

penyelidikan membuktikan bahwa daya pompa jantung dan

sikulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi

lebih tinggi dibandingkan dengan penderita hipertensi dengan

berat badan normal.

3) Kurang oalahraga

Olahraga isotonik, seperti bersepeda, jogging, dan aerobik

yang teratur dapat memperlancar peredaran darah sehingga dapat

menurunkan tekanan darah. Orang yang kurang aktif berolahraga

pada umumnya cenderung mengalami kegemukan. Olahraga juga

dapat mengurangi atau mencegah obesitas serta mengurangi

asupan garam ke dalam tubuh. Garam akan keluar dari dalam

tubuh bersama keringat

4) Merokok dan konsumsi alkohol

Hipertensi juga dirangsang oleh adanya nikotin dalam batang

rokok yang dihisap seseorang. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa nikotin dapat meningkatkan penggumpalan darah dalam

pembuluh darah. Selain itu, nikotin juga dapat menyebabkan

terjadinya pengapuran pada dinding pembuluh darah. Efek dari

konsumsi alkohol juga merangsang hipertensi karena adanya

peningkatan sintesis katekholamin yang dalam jumlah besar

memicu naiknya tekanan darah.( Dalimartha, 2008)

7. Penatalaksanaan hipertensi
19

Menurut Padila (2017) penanganan hipertensi dapat dilakukan

melalui 2 cara yaitu terapi dengan obat dan terapi tanpa obat sebagai

berikut :

a. Farmakologi

Selain cara pengobatan non farmakologis, penatalaksanaan utama

hipertesi adalah dengan obat. Keputusan untuk memulai

memberikan obat anti hipertensi berdasarkan beberapa faktor

seperti derajat peninggian tekanan darah, dan terdapatnya

manifestasi klinis penyakit kardiovaskuler atau faktor resiko lain.

(Triyanto, 2014). Tujuan dari pemberian obat hipertensi tidak

hanya untuk menurunkan tekanan darah melainkan untuk

mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar

penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya

perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang

dianjurkan oleh komite dokter ahli hipertensi (Joint National

Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High

Blood Pressure, USA,1998 ) mengatakan bahwa obat diuretika,

penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat

digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan

keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.

(Padila,2017)

Terapi farmakologis dilakukan dengan pemberian obat-obatan

seperti :
20

1) Golongan diuretik

Diuretik thizide obat pertama yang diberikan untuk obat

hipertensi. Diuretik membantu ginjal membuang garam dan

air, yang akan mengurangi volume cairan diseluruh tubuh

sehingga menurunkan tekanan darah. Diuretik juga

menyebabkan pelebaran pembuluh darah. Diuretik

menyebabkan hilangnya kalium melalui air kemih.biasanya

diberikan kepada lanjut usia,obesitas dan penderita gagal

jantung. Contoh :furosemid, spironolakton, hidroklorotiazid

dan klorrtalidon. (Triyanto, 2014).

2) Penghambat adrenergik

Merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfa-blocker,

beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol,yang menghambat

efek sistem saraf simpatis. Sistem saraf simpatis adalah sistem

saraf yang akan memberikan respon terhadap stres,dengan cara

meningkatkan tekanan darah.biasanya diberikan pada

penderita hipertensi usia muda,yg mengalami serangan jantung

dan denyut jantung cepat. Contoh : Terazosin, Doxazosin.

(Triyanto, 2014)

3) ACE-inhibitor

Angiotensin converting enzyme inhibilator menyebabkan

penurunan tekanan darah dengan cara melebarkan arteri.


21

Biasanya diberikan kepada penderita muda dan gagal jantung.

Contoh : Captropil,enalapril,lisinopril dan benazepril.

4) Angiotensin-II-bloker

Menyebabkan penurunan tekanan darah dengan

mekanisme yang sama dengan ACE-inhibitor. (Triyanto,

2014)

5) Antagonis kalsium

Mekanisme kerjanya adalah mengurangi influks kalsium

kedalam sel-sel otot di pembuluh darah. Contoh : Tablet

Amlodipine, nifedipine, felodipine, diltiazem dan Verapamil.

(Rilantono, 2012).

6) Vasodilator

Mekanisme kerja adalah vasodilatasi langsung terhadap

arteriol melalui peningkatan cAMP intraselular. Contoh :

Hidralazine,Minoxidil. (Rilantono, 2012).

7) Kedaruratan hipertensi

Memerlukan obat tekanan darah yang segera ,beberapa

obat bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat dan

sebagian besar diberikan secara intravena : diazoxide,

nitroprusside dan labetalol. (Triyanto, 2014)

b. Non Farmakologi
22

Terapi ini digunakan sebagai tindakan untuk penderita hipertensi

ringan dan sebagai tindakan suportif pada penderita hipertensi sedang

dan bera. Terapi ini meliputi :

1) Diet Hipertensi

Untuk menjaga dan mengatasi hipertensi dengan diet, penderita

harus mengontrol dan mengatur pola makan sehari-hari yang baik

dan seimbang. Ada 4 macam diet yang dianjurkan yaitu diet

rendah garam, diet rendah asam lemak dan kolesterol, penurunan

asupan etanol (alkohol ) dan diet tinggi kalium.

Diet yang dianjurkan untuk hipertensi yaitu :

a) Diet rendah garam

Tujuan diet rendah garam adalah untuk membantu

menghilangkan retensi (penahanan) air dalam tubuh sehingga

dapat menurunkan tekanan darah. Dengan diet rendah garam

dari 10 gram/hari menjadi 5 gram/hari (1 sdt), menghindari

makanan yang diolah menggunakan garam dapur seperti, telur

asin, ikan asin, margarin, kecap, sarden, sosis dan corned beef,

hindari juga penggunaaan penyedap rasa atau menambah

kelezatan makanan. (Dalimartha, 2008).

b) Diet rendah asam lemak jenuh dan kolesterol

Diet ini bertujuan untuk menurunkan kadar kolesterol

darah dan menurunkan berat badan bagi penderita yang

kegemukan, hindari makanan yang mengandung lemak jenuh


23

seperti margarin, mentega, goreng-gorengan, daging sapi, babi,

kambing, kerbau, keju, dan susu (Sutomo, 2009). Dan juga

yang mengandung kolestrol seperti, kuning telur, hati, limpa,

dan jenis jeroan lainya serta sea food,minyak kelapa dan

kelapa (santan). (Dalimartha, 2008)

c) Penurunan asupan etanol ( Alkohol )

Mengurangi asupan alkohol yang dapat meningkatkan

tekanan darah, wanita sebaiknya membatasi konsumsi alkohol

tidak lebih dari 14 unit perminggu dan laki-laki tidak melebihi

21 unit perhari, dan juga tidak mengonsumsi makanan yang

mengandung alkohol seperti tape, durian dan nanas,

menghindari konsumsi alkohol bisa menurunkan 2-4 mmHg (

Triyanto, 2014 )

d) Diet tinggi kalium

Meningkatkan konsumsi buah dan sayur yang

mengandung banyak kalium dapat menurunkan tekanan darah,

buah dan sayur yang tinggi kalium seperti, blimbing

mengandung mg, semangka mengandung kalium 112 mg,

melon mengandung kalium 15 mg, pisang mengandung kalium

358 mg, tomat mengandung kalium 237 mg (Aini, 2015)

2) Penghentian rokok
24

Penghentian merokok pada penderita hipertensi penting

untuk mengurangi risiko beberapa penyakit yang dapat dipicu

oleh hipertensi, seperti stroke dan serangan jantung

(Dalimarta,2008)

3) Latihan fisik / olah raga

Latihan fisik / olah raga yang teratur dan terarah yang

dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang

mempunyai empat prinsip yaitu :

1. Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari,

jogging, bersepeda, senam, berenang, dan lain- lain.

2. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit dalam zona

latihan

3. Frekuensi latihan sebaiknya 3 x dalam per minggu dan paling

baik apababila dilakukan 5 x per minggu.

4. Olahraga yang cocok untuk lansia yaitu 10 menit berjalan kaki

di lakukan 2 kali sehari, dan membersihkan rumah melakukan

aktivitas dirumah, melakukan olahraga secara teratur dapat

menurunkan tekanan darah sistolik 4-8 mmHg. (Triyanto,

2014)
25

C. Kerangka Teori Penelitian

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Klasifikasi usia lanjut menurut WHO Penatalaksanaan hipertensi :


: 1. Farmakologi
a. Golongan Diuretik
1. Middle age (usia b. Penghambat adrenergik
pertengahan) : 45- 59 tahun c. ACE- inhibitor
2. Elderly age (lanjut usia) : 60 d. Angiotensin-II-bloker
e. Antagonis kalsium
– 74 tahun
f. Vasodilator
3. Old ( lanjut usia tua ) : 75 – g. Kedaruratan hipertensi
90 tahun 2. Non farmakologi
4. Very old ( usia sangat tua ) : a. Diet hipertensi
> 90 tahun 1) Diet rendah garam
2) Diet rendah asam
Penyakit yang sering dijumpai pada lemak jenuh dan
lansia: kolestrol
3) Penurunan asupan
1. Gangguan sirkulasi darah etanol
seperti : Hipertensi 4) Diet tinggi kalium
2. Gangguan metabolisme b. Latihan fisik / olah raga
3. Gangguan pada persendian c. Penghentian merokok
4. Berbagai macm neoplasma.

(Azizah, 2011., Dalimartha, 2008., Padila, 2017)

Keterangan

Diteliti

Tidak diteliti
26

D. Kerangka konsep

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

Penanganan hipertensi :

a. Farmakologi
Hipertensi Pra Lansia Obat anti hipertensi
b. Non farmakologi
1. Diet hipertensi
2. Latihan fisik / olah raga
3. Penghentian merokok

E. Hipotesis penelitian

Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pertanyaan penelitian

(Notoatmojo,2018).

H1 : Ada gambaran penanganan hipertensi pra lansia.


27

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain survei analitik dengan

pendekatan cross sectional, yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan

observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Point time

approach) artinya, setiap subjek penelitian hanya di observasi sekali saja

dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek

pada saat pemeriksaan (Notoatmodjo, 2010).

B. Tempat dan Waktu

Waktu Penelitian : Januari – Juni 2019

Tempat Penelitian : Desa Danurejo Mertoyudan Magelang

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian (Notoadmojo,

2018). Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh pra lansia yang

menderita hipertensi di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan

Kabupaten Magelang. Desa Danurejo mempunyai 11 dusun dan 2 Rw

yang yaitu dusun karang daleman, bandungsari, japunan, mungkidan,

telukan, brontokan, sabrangan, cebongan lor, candran, pranan, brajan,

pondok rejo asri Rw 12 dan Pondok Rejo Asri Rw 13. Berdasarkan data
28

yang diperoleh dari Puskesmas Mertoyudan I Terdapat Pra lansia umur

45-59 tahun terdapat 69 pra lansia yang terkena hipertensi.

2. Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian

jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Pengambilan sampel

pada penelitian ini menggunakan teknik Total Sampling, teknik ini dipilih

karena peneliti mengunakan semua sampel. (Nursalam, 2017).

a. Kriteria sampel

1. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi

oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel.

(Notoatmodjo, 2018)

Kriteria inklusi dalam penelitian ini :

a) Pra lansia dengan umur 45-59 tahun.

b) Pra lansia penderita hipertensi dengan tekanan darah

≥ 140/ 90 mmHg.

c) Bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

2. Kriteria eksklusi

Kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat

diambil sebagai sampel. (Notoatmodjo, 2018).

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini:

a) Pra lansia yang berumur lebih dari 60 tahun.

b) Penderita hipertensi yang mengalami komplikasi, lumpuh, stroke.


29

D. Definisi Operasional

Adapun perumusan definisi operasional dalam penelitian adalah

penanganan hipertensi ini akan diuraikan dibawah ini penanganan

hipertensi ada 2 yaitu penanganan farmakologi dan non farmakologi :

a. Penanganan farmakologi meliputi :

Penangganan dengan obat anti hipertensi untuk menurunkan

tekanan darah dan mencegah terjadinya komplikasi yang dimaksudkan

rutin berobat, meminum obat anti hipertensi secara rutin. Diukur

menggunakan kuesioner yang berjumlah 3 pertanyaan dengan kriteria

jawaban Ya skore 1 dan tidak skore 0 diukur dengan skala nominal.

Skore tertinggi 3, skore terendah 0

b. Penanganan non farmakologi meliputi :

1. Diet hipertensi yang dimaksudkan Mengurangi asupan garam,

mengurangi makanan kolestrol dan lemak jenuh, diet tinggi kalium,

dan menggurangi asupan etanol. Diukur menggunakan kuesioner

yang berjumlah 7 pertanyaan dengan kriteria jawaban Ya skore 1

dan tidak skore 0 diukur dengan skala nominal. Skore tertinggi 7

skore terrendah 0.

2. Penghentian merokok, berhenti merokok dapat mencegah penyakit

kardiovaskular pada penderita hipertensi. Diukur menggunakan

kuesioner yang berjumlah 1 pertanyaan dengan kriteria jawaban Ya

skore 0 dan tidak skore 1 diukur dengan skala nominal. Skore

tertinggi 1 skore terendah 0.


30

3. Latihan fisik yang dimaksudkan aktivitas yang melibatkan kegiatan

fisik yang dilakukan responden secara rutin, frekuensi, durasi, agar

dapat memberikan kebugaran jasmani yang dilakukan sehari-hari,

yang diukur menggunakan kuesioner dengan jumlah pertanyaan

sebanyak 3 pertanyaan dengan kriteria jawaban Ya skore 1 dan

Tidak skore 0 diukur dengan skala nominal.skore tertinggi 3 skore

terendah 0 (Sugiyono, 2016)

Interpretasi : diukur menggunakan 14 pertanyaan yang tertera di

kuesioner, kemudian responden menjawab pertanyaan dengan

alternatif jawaban Ya diberi skore 1 dan tidak diberi sekore 0, pada

pertanyaan unfavorable ada 2 pertanyaan dan jika jawaban Ya skore

0 dan Tidak skore 1.

E. Teknik Pengumpulan Data

1. Metode pengumpulaan data

a. Mengajukan surat permohonan izin penelitian di Kecamatan

Mertoyudan dan Desa Danurejo.

b. Mencari data populasi lansia hipertensi di Desa Danurejo.

c. Melakukan seleksi terhadap sampel sesuai dengan kriteria inklusi

yaitu lansia yang berumur 45-59 tahun yang menderita hipertensi.

d. Pengambilan data dibantu oleh Enumerator, yang memiliki latar

belakang S1 Keperawatan atau Mahasiswa S1 keperawatan.

e. Sebelum penelitian dilakukan, peneliti menjelaskan tentang tujuan

penelitian dan pengisian kuesioner kepada responden.


31

f. Setelah memahami tujuan penelitian, responden yang setuju

diminta menandatangani surat pernyataan kesediaan menjadi

responden.

g. Pengambilan data dilakukan dengan mengunjungi rumah

responden satu persatu (door to door). Kemudian responden dibagi

kuesioner dan diminta mempelajari terlebih dahulu, bila ada

pertanyaan yang tidak jelas, diberikan kesempatan untuk bertanya.

h. Mempersilahkan responden untuk mengisi kuesioner sesuai dengan

petunjuk. Jika responden tidak bisa memahami Bahasa Indonesia

maka peneliti akan membacakan menggunakan Bahasa Jawa,

namun responden tetap mengisi kuesioner itu sendiri.

i. Kuesioner yang sudah di isi dikembalikan kepada peneliti.

j. Melakukan analisis data yang sudah terkumpul dengan komputer

2. Alat pengumpulan data

1. Intervensi

Penelitian ini menggunakan intervensi sebagai pengkajian

mencari hasil dari instrumen kuesioner yang diberikan kepada

responden, untuk mengukur gambaran penanganan hipertensi.

2. Instrumen

Instrumen penelitian adalah alat pengumpul data yang disusun

dengan hajat untuk memperoleh data yang sesuai baik data kualitatif

maupun data kuantitatif (Nursalam, 2017). Kuesioner dalam penelitian

ini dibuat sendiri oleh peneliti sesuai dengan teori penanganan


32

hipertensi dan diuji validitas oleh expert judgment, diartikan sebagai

daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik dan responden

memberikan jawaban sesuai pemahaman. Kuesioner penanganan

hipertensi terdapat 14 pertanyaan.

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Penanganan Hipertensi

Pertanyaan No. Soal


Favorable dan
Unfavorable
Pengobatan dengan obat 1 dan 2 Favorable
Melakukan penggobatan, meminum
3 Unfavorable
obat anti hipertensi rutin atau tidak.

Diet hipertensi 4,5,6,7,8,9,10 Favorable


1. Diet rendah garam,
konsumsi garam berapa
gram
2. Diet rendah kolestrol
3. Diet tinggi kalium
4. Penurunan asupan etanol
Penghentian merokok 11 Unfavorable
Merokok
Aktifitas fisik 12,13,14 Favorable
Melakukan aktifitas fisik/olahraga,
berapa menit, dan berapa x dalam
seminggu.

3. Uji Validitas

Uji validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukan tingkat

kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Instrumen yang valid

mempunyai validitas tinggi, sedangkan instrumen yang kurang valid

mempunyai validitas rendah (Arikunto,2013).

Pada penelitian ini menggunakan kuesioner penanganan hipertensi,

kuesioner ini sudah diuji validitas oleh expert judgment yang berlatar
33

belakang S2 keperawatan, Bapak Dwi Ari Murti,MN dan bapak

Bapak Bambang Sarwono,S.Kep.M.Kes(Epid) terdiri dari 14

pertanyaan.

F. Pengolahan Data

Langkah pengolahan data dilakukan sebagai berikut :

a. Editing, peneliti memeriksa kelengkapan data kuesioner yang

diberikan oleh responden. Apabila terjadi kesalahan data atau kurang

lengkap, dan tidak mungkin dilakukan wawancara ulang maka

kuesioner tersebut dikeluarkan (dropout).

b. Coding, peneliti memberikan kode tertentu pada jawaban responden.

c. Entry data, peneliti memasukan hasil berdasarkan kode dan

kelompok jawaban ke dalam komputer untuk diolah.

d. Cleaning, proses pengecekan data yang sudah dimasukkan untuk

diperiksa sehingga mencegah kesalahan dan kurang lengkapnya

dalam mengisi data. Jika ada kesalahan maka akan dilakukan

perbaikan data agar data dapat dilakukan proses analisis.

G. Analisa Data

a. Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan karakteristik

variabel yang digunakan. Variabel yang akan dianalisis adalah

gambaran penanganan hipertensi yaitu, non farmakologi meliputi diet

rendah garam, diet rendah asam lemak jenuh dan koelsterol, penurunan
34

asupan etanol, diet tinggi kalium, latihan fisik / olah raga, penghentian

merokok dan farmakologi dengan obat.

H. Etika Penelitian

Etika penelitian atau etik merupakan semua prinsip yang harus

dipatuhi dan dipakai agar pelaksanaan suatu kegiatan oleh seseorang atau

profesi dapat berjalan secara benar (the right conduct), atau sebuah filosofi

yang mendasari prinsip tersebut (Komisi Etik, 2014).

1) Informed consent (persetujuan dari pihak responden)

Lembar persetujuan diberikan pada responden lansia hipertensi di

Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. Sebagai

perwujudan hak-hak responden harus didahulukan ini, maka sebelum

dilakukan pengambilan data atau wawancara kepada responden

terlebih dulu dimintakan persetujuannya. Apabila responden tidak

bersedia diwawancarai atau memberikan informasi adalah hak mereka,

dan tidak dilanjutkan pengambilan data atau wawancaranya

(Notoatmojo, 2018).

2) Privacy Responden

Privasi adalah hak setiap orang. Semua orang mempunyai hak

untuk memperoleh privasi atau kebebasan pribadinya. Peneliti atau

pewawancara akan menyita waktunya untuk diwawancarai jelas

merampas privasi orang atau responden tersebut (Notoatmojo, 2018).

3) Kerahasiaan
35

Informasi yang akan diberikan oleh responden adalah miliknya

sendiri. Tetapi karena diperlukan dan diberikan kepada peneliti atau

pewawancara, maka kerahasiaan informan tersebut perlu dijamin oleh

peneliti. Apabila informasi tersebut kemudian diberikan kepada

peneliti dan kemudian diolahnya maka bentuknya bukan informasi

individual dari per orang dengan nama tertentu, tetapi dalam bentuk

agregat atau kelompok responden. Oleh sebab itu realisasi hak

responden untuk merahasiakan informasi dari masing-masing

responden maka nama responden pun tidak perlu dicantumkan, cukup

dengan kode-kode tertentu saja (Notoatmojo, 2018)

4) Jaminan keamanan dan keselamatan

Apabila informasi yang diberikan itu membawa dampak terhadap

keamanan atau keselamatan bagi dirinya atau keluarganya maka

peneliti harus bertanggung jawab terhadap akibat tersebut

(Notoatmojo, 2018).
36

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten

Magelang dilakukan satu kali dengan observasi menggunakan alat kuesioner

penanganan hipertensi berjumlah 14 soal yang sudah di uji validitas oleh expert

judgment , pengambilan data diambil pada bulan Juni 2019. Sampel dalam

penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik total sampling dan mendapat

responden yang memiliki penyakit hipertensi yang masuk dalam kriteria inklusi

sebanyak 69 responden.

a. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia Di Desa


Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.

Usia Frekuensi Persentase (%)


45 11 15.9
46 6 8.7
47 1 1.4
48 4 5.8
49 5 7.2
50 7 10.1
51 2 2.9
52 5 7.2
53 5 7.2
54 3 4.3
55 5 7.2
56 2 2.9
57 6 8.7
58 2 2.9
59 5 7.2
Total 69 100.0
37

Tabel 4.1 menunjukan bahwa sebagian besar (15,9%) responden berumur 45


tahun sejumlah 11 orang.

b. Karakteristik Responden Berdasarkan Berobat Ke Pelayanan Kesehatan

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan berobat ke


pelayanan kesehatan Di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan
Kabupaten Magelang.

Berobat kepelayanan
kesehatan Frekuensi Persentase (%)
TIDAK 27 39.1
YA 42 60.9
Total 69 100.0
Tabel 4.2 menunjukan bahwa lebih dari setengah (60,9%) responden
berobat ke pelayanan kesehatan sejumlah 42 orang.

c. Karakteristik Responden Berdasarkan Rutin Meminum Obat Anti


Hipertensi.
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi responden berdasarkan rutin meminum
obat anti hipertensi Di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten
Magelang.

Rutin meminum obat anti


hipertensi Frekuensi Persentase (%)
TIDAK 62 89.9
YA 7 10.1
Total 69 100.0
Tabel 4.3 menunjukan bahwa hampir semua (89,9%) responden tidak
meminum obat anti hipertensi secara rutin sejumlah 62 orang.
d. Karakteristik responden berdasarkan membeli obat diwarung
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan membeli obat
diwarung Di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten
Magelang.

Membeli obat
diwarung Frekuensi Persentase (%)
YA 21 30.4
TIDAK 48 69.6
Total 69 100.0
Tabel 4.4 menunjukan bahwa sebagian besar responden (69,6%) tidaak
membeli obat diwarung sejumlah 48 orang.
38

e. Karakteristik Responden Berdasarkan Menggunakan Garam 1 Sdt.


Tabel 4.5 Distribusi frekuensi responden berdasarkan menggunakan
garam 1 sdt Di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten
Magelang.

Menggunakan garam
1 sdt Frekuensi Persentase (%)
TIDAK 17 24.6
YA 52 75.4
Total 69 100.0
Tabel 4.5 menunjukan bahwa sebagian besar responden (75,4%)
menggunakan 1 sdt setiap memasak sejumlah 52 orang.

f. Karakteristik Responden Berdasarkan Membatasi Asupan Makanan


Menggunakan Garam Dapur.
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi responden berdasarkan membatasi asupan
makanan menggunakan garam dapur Di Desa Danurejo Kecamatan
Mertoyudan Kabupaten Magelang.

Olahan garam Frekuensi Persentase (%)


YA 69 100.0

Tabel 4.6 menunjukan bahwa semua responden (100%) sudah membatasi


asupan makanan yang menggunakan garam dapur sejumlah 69 orang.

g. Karakteristik Responden Berdasarkan Membatasi Asupan Santan Dan


Minyak Kelapa.
Tabel 4.7 Distribusi frekuensi responden berdasarkan membatasi asupan
santan dan minyak kelapa Di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan
Kabupaten Magelang.

Membatasi santan dan


minyak kelapa Frekuensi Persentase (%)
TIDAK 13 18.8
YA 56 81.2
Total 69 100.0
Tabel 4.7 menunjukan bahwa hampir semua responden (81.2%) sudah
membatasi asupan santan dan minyak kelapa sejumlah 56 orang.
h. Karakteristik Responden Berdasarkan Membatasi Jeroan
39

Tabel 4.8 Distribusi frekuensi responden berdasarkan membatasi jeroan


Di Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.

Membatasi jeroan Frekuensi Persentase(%)


TIDAK 1 1.4
YA 68 98.6
Total 69 100.0
Tabel 4.8 menunjukan bahwa hampir semua responden (96.6%) sudah
membatasi asupan santan dan minyak kelapa sejumlah 68 orang.

i. Karakteristik Responden Berdasarkan Mengonsumsi Buah Dan Sayur.


Tabel 4.9 Distribusi frekuensi responden berdasarkan mengonsumsi buah
dan sayur Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.

Mengonsumsi
buah dan sayur Frekuensi Persentase (%)
YA 69 100.0
Tabel 4.9 menunjukan bahwa semua responden (100%) sudah
mengonsumsi buah dan sayur sejumlah 69 orang.

j. Karakteristik Responden Berdasarkan Tidak Mengonsumsi Minuman Atau


Makanan Yang Mengandung Alkohol.
Tabel 4.10 Distribusi frekuensi responden berdasarkan tidak
mengonsumsi minuman atau makanan yang mengandung alkohol Desa
Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.

Tidak
mengonsumsi
alkohol Frekuensi Persentase (%)
YA 69 100.0
Tabel 4.10 menunjukan bahwa semua responden (100%) tidak
mengonsumsi minuman atau makanan yang mengandung alkohol
sejumlah 69 orang.

k. Karakteristik Responden Berdasarkan Mengurangi Minuman Yang


Mengandung Alkohol.
Tabel 4.11 Distribusi frekuensi responden berdasarkan mengurangi
minuman yang mengandung alkohol Desa Danurejo Kecamatan
Mertoyudan Kabupaten Magelang.
40

Mengurangi
minuman yang
mengandung alkohol Frekuensi Presentase (%)
YA 69 100.0
Tabel 4.11 menunjukan bahwa semua responden (100%) sudah
mengurangi minuman yang mengandung alkohol sejumlah 69 orang.

l. Karakteristik Responden Berdasarkan Merokok


Tabel 4.12 Distribusi frekuensi responden berdasarkan merokok Desa
Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.

Merokok Frekuensi Persentase (%)


YA 12 17.4
TIDAK 57 82.6
Total 69 100.0
Tabel 4.12 menunjukan bahwa hampir semua (82.6%) responden tidak
merokok sejumlah 57 orang.
m. Karakteristik Responden Berdasarkan Aktifitas Fisik Jalan-Jalan
Tabel 4.13 Distribusi frekuensi responden berdasarkan aktifitas fisik
jalan-jalan Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang

Aktifitas fisik jalan-


jalan Frekuensi Persentase (%)
YA 69 100.0
Tabel 4.13 menunjukan bahwa semua responden (100%) sudah melakukan
aktifitas fisik sejumlah 69 orang.
n. Karakteristik Responden Berdasarkan Aktifitas Fisik Sudah 3x/Minggu
Tabel 4.14 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Aktifitas Fisik
Sudah 3x/Minggu Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten
Magelang

Aktifitas fisik
3x/minggu Frekuensi Persentase (%)
YA 69 100.0
Tabel 4.14 menunjukan bahwa semua responden (100%) sudah melakukan
aktifitas fisik 3x/minggu sejumlah 69 orang.
o. Karakteristik Responden Berdasarkan Aktifitas Fisik Sudah > 20 Menit.
Tabel 4.15 Distribusi frekuensi responden berdasarkan aktifitas fisik
sudah > 20 menit Desa Danurejo Kecamatan Mertoyudan Kabupaten
Magelang
41

Aktifitas fisik >20


menit Frekuensi Persentase (%)
YA 69 100.0
Tabel 4.15 menunjukan bahwa semua responden (100%) sudah melakukan
aktifitas fisik >20 menit sejumlah 69 orang.
42

BAB V

PEMBAHASAN

1. Gambaran Farmakologi Dengan Obat

Hasil penelitian dari 69 responden dengan menggunakan kuesioner

penanganan hipertensi pada tabel 4.2 menunjukan bahwa lebih dari setengah

(60,9%) responden berobat ke pelayanan kesehatan sejumlah 42 orang., pada

Tabel 4.3 menunjukan bahwa hampir semua (89,9%) responden tidak

meminum obat anti hipertensi secara rutin sejumlah 62 orang.dan pada Tabel

4.4 menunjukan bahwa sebagian besar responden (69,6%) tidaak membeli

obat diwarung sejumlah 48 orang. Hal ini di dukung dari penelitian

(Nikko,dkk 2017) ketidakpatuhan pengobatan baik pasien yang tidak kontrol,

pasien yang tidak rutin minum obat atau dosis obat yang tidak adekuat

berperan dalam tingginya angka kegagalan terapi hipertensi. Dari penelitian

ini faktor yang menyebabkan ketidak patuhan adalah faktor pendidikan.

Rendahnya ketidakpatuhan baik dalam pengobatan ataupun kontrol ketenaga

kesehatan memiliki peran dalam kegagalan penanganan hipertensi.

Diperlukan edukasi ke masyarakat mengenai pentingnya kepatuhan

pengobatan serta diperbaikinya beberapa faktor yang menyebabkan tidak

kepatuhan berobat. Pemilihan pengobatan yang tepat dan dukungan sosial

baik dari keluarga dan masyarakat juga diperlukan untuk meningkatkan

kepatuhan berobat.
43

2. Gambaran Non Farmakologi Diet Hipertensi

Dari 69 responden dalam menangani hipertensi sudah banyak yang

mematuhi diet hipertensi, mereka sudah mengetahui diet hipertensi dan

makanan apa saja yang perlu di kurangi dan dikonsumsi pada Tabel 4.5

menunjukan bahwa sebagian besar responden (75,4%) menggunakan 1 sdt

setiap memasak sejumlah 52 orang, Tabel 4.6 menunjukan bahwa semua

responden (100%) sudah membatasi asupan makanan yang menggunakan

garam dapur sejumlah 69 orang, Tabel 4.7 menunjukan bahwa hampir

semua responden (81.2%) sudah membatasi asupan santan dan minyak

kelapa sejumlah 56 orang, Tabel 4.8 menunjukan bahwa hampir semua

responden (96.6%) sudah membatasi asupan santan dan minyak kelapa

sejumlah 68 orang, Tabel 4.9 menunjukan bahwa semua responden

(100%) sudah mengonsumsi buah dan sayur sejumlah 69 orang, Tabel

4.10 menunjukan bahwa semua responden (100%) tidak mengonsumsi

minuman atau makanan yang mengandung alkohol sejumlah 69 orang,

Tabel 4.11 menunjukan bahwa semua responden (100%) sudah

mengurangi minuman yang mengandung alkohol sejumlah 69 orang. Hal

ini sesuai dengan teori (Dalimartha, 2008) diet hipertensi terdiri dari 4

macam yaitu rendah garam, rendah asam lemak dan kolesterol, penurunan

asupan etanol (alkohol ) dan tinggi kalium. Diet rendah garam adalah

untuk membantu menghilangkan retensi (penahanan) air dalam tubuh

sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Dengan diet rendah garam dari

10 gram/hari menjadi 5 gram/hari (1 sdt), menurunkan kadar kolesterol


44

darah dan menurunkan berat badan bagi penderita yang kegemukan,

hindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan juga yang

mengandung kolestrol. Mengurangi asupan alkohol yang dapat

meningkatkan tekanan darah, wanita sebaiknya membatasi konsumsi

alkohol tidak lebih dari 14 unit perminggu dan laki-laki tidak melebihi 21

unit perhari, dan juga tidak mengonsumsi makanan yang mengandung

alkohol seperti tape, durian dan nanas, menghindari konsumsi alkohol bisa

menurunkan 2-4 mmHg, (Triyanto, 2014). Meningkatkan konsumsi buah

dan sayur yang mengandung banyak kalium dapat menurunkan tekanan

darah, buah dan sayur yang tinggi kalium (Dalimartha, 2008). Hal ini

didukung dengan penelitian (Rista, dkk, 2017) Pola makan perlu diatur

baik frekuensi makan, jenis makanan yang dimakan, jika tidak maka akan

menjadi penyakit hipertensi pada tubuh manusia. Makan makanan yang

bergizi sangat baik untuk tubuh agar terhindar dari penyakit hipertensi.

Seseorang yang makan teratur pun masih bisa terkena hipertensi sehingga

seseorang tidak cukup hanya makan dengan teratur tapi juga harus

memilih jenis-jenis makanan yang akan dikonsumsi.

3. Non Farmakologi Penghentian Merokok

Hasil penelitian dari 69 responden Tabel 4.12 menunjukan bahwa

hampir semua (82.6%) responden tidak merokok sejumlah 57 orang dalam

menangani hipertensi sudah banyak yang mengetahui kalau rokok tidak baik

untuk kesehatan dan banyak responden yang tidak merokok. Penghentian

merokok pada penderita hipertensi penting untuk mengurangi risiko beberapa


45

penyakit yang dapat dipicu oleh hipertensi, seperti stroke dan serangan jantung

(Dalimarta,2008). Tembakau mengandung nikotin yang memperkuat kerja

jantung dan menciutkan arteri kecil hingga sirkulasi darah berkurang dan

tekanan darah meningkat. Berhenti merokok merupakan gaya hidup yang

paling kuat untuk mencegah kardiovaskular pada penderita hipertensi. Rokok

sangat bahaya karna dapat meningkatkan tekanan darah. Hal ini di dukung

dalam penelitian (Septian, dkk 2015) didapatkan bahwa tipe-tipe prilaku

merokok yang paling banyak karna zat adiktif dan kebiasaan. Mereka

menggunakan rokok sama sekali bukan karna untuk mengendalikan perasaan

mereka, tetapi karna kebiasaan rutin merokok dan kenikmatan setelah makan

akan bertambah setelah merokok.

4. Non Farmakologi Aktivitas Fisik

Dari 69 responden Tabel 4.13 menunjukan bahwa semua responden

(100%) sudah melakukan aktifitas fisik sejumlah 69 orang, Tabel 4.14

menunjukan bahwa semua responden (100%) sudah melakukan aktifitas

fisik 3x/minggu sejumlah 69 orang, dan Tabel 4.15 menunjukan bahwa

semua responden (100%) sudah melakukan aktifitas fisik >20 menit

sejumlah 69 orang mereka sudah setiap hari melakukan aktivitas fisik

seperti membereskan rumah, jalan-jalan dll, melakukan aktivitas fisik/Olah

raga secara teratur dapat menurunkan tekanan darah sistolik 4-8 mmHg

(Triyanto, 2014). Aktivitas fisik yang teratur dapat membantu efisiensi

jantung secara keseluruhan. Kurangnya aktivitas fisik membuat organ

tubuh dan pasokan darah maupun oksigen menjadi tersendat sehingga


46

meningkatkan tekanan darah. Dengan melakukan aktivitas fisik secara

rutin sehingga dapat menurunkan atau menstabilkan tekanan darah. Hal ini

didukung dengan penelitian (Khomarun,dkk,2014), yaitu dalam penelitian

didapatkan hasil bahwa terdapat perubahan tekanan darah yang signifikan

dalam perubahan penurunan tekanan darah sistolik setelah dilakukan

intervensi jalan pagi sebanyak 40 kali dalam waktu 8 minggu.


47

A. Keterbatasan Dan Kesulitan Penelitian

1. Keterbatasan penelitian

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah tidak memasukan variabel

lainnya, penelitian ini sebagai penelitian penndahuluan dalam mencari

gambaran penanganan hipertensi.

2. Kesulitan penelitian

a. Kesulitan yang dialami menggumpulkan responden dalam satu

tempat, jadi harus (door to door).

b. Ada responden yang tidak bisa membaca dan menulis jadi peneliti

membacakan semua soal kuesioner yang diberikan.

c. Ada responden yang ketika dikunjungi tidak ada dirumah jadi

menggulang menjadi 2 kali.


48

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan maka

dapat ditarik kesimpulan :

1. Gambaran penanganan hipertensi dengan terapi obat dari 69 responden,

42 responden berobat ke pelayanan kesehatan, tetapi masih banyak

responden yang tidak meminum obat anti hipertensi secara rutin sejumlah

62, dan 48 orang tidak suka membeli obat di warung.

2. Gambaran penanganan hipertensi dengan terapi tanpa obat dengan diet

hipertensi, dari 69 responden dalam menanggani hipertensi sudah banyak

yang mematuhi diet hipertensi, mereka sudah mengetahui diet hipertensi

dan makanan apa saja yang perlu di kurangi dan dikonsumsi responden

sudah menggunakan 1 sdt setiap memasak sejumlah 52 responden, sudah

membatasi asupan makanan yang menggunakan garam dapur sejumlah 69

responden, sudah membatasi asupan santan dan minyak kelapa sejumlah

56 responden, sudah membatasi asupan santan dan minyak kelapa

sejumlah 68 responden, sudah mengonsumsi buah dan sayur sejumlah 69

responden, tidak mengonsumsi minuman atau makanan yang

mengandung alkohol sejumlah 69 responden, sudah mengurangi minuman

yang mengandung alkohol sejumlah 69 responden.


49

3. Gambaran penanganan hipertensi dengan terapi tanpa obat penghentian

merokok sudah banyak yang mengetahui kalau rokok tidak baik untuk

kesehatan dan banyak responden yang tidak merokok dari 69 responden

hampir semua responden tidak merokok sejumlah 57 .

4. Gambaran penanganan hipertensi dengan terapi tanpa obat aktivitas fisik

dari 69 responden mereka semua sudah setiap hari melakukan aktivitas

fisik dengan membereskan rumah dan jalan-jalan.

B. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, saran yang dapat

peneliti berikan adalah sebagai berikut :

1. Bagi pelayanan kesehatan

Memberikan promosi kesehatan kepada masyarakat agar lebih sadar untuk

rutin memeriksakan kesehatan terkait hipertensi ke pelayanan kesehatan

dan rutin untuk meminum obat hipertensi.

2. Bagi masyarakat

Lebih menyadari akan pentingnya kesehatan rutin memeriksakan

kesehatan, rutin minum obat, lebih mematuhi diet hipertensi.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Penelitian ini bisa untuk acuan penelitian selanjutnya, bisa dikembangkan

lagi dengan menggunakan hubungan antara faktor-faktor pentalaksanaan

hipertensi dengan jenis kelamin, keturunan, dan obesitas tidak hanya

gambaran dan dapat dilakukan pada kelompok usia yang lain.


50